Evendi Prasetyo

Evendi Prasetyo

Share

"We must always remember that people power" ....I am a West Papua people and I am take care of human resorts in Grand Valley Dani-High Land of West Papua.

My vision is how the people to live better, to live without fear. "We must always remember that people do not fight for ideals or for the things on other people's minds. People fight for practical things: for peace for living better in peace and for their children's future. Liberty fraternity and equality continue to be empty words for people if they do not mean a real improvement in the conditions of their lives"

18/03/2026

Mating in Captivity: Unlocking Erotic Intelligence karya Esther Perel.

Buku Mating in Captivity: Unlocking Erotic Intelligence karya Esther Perel membahas tentang hubungan antara cinta, pernikahan, dan hasrat seksual—khususnya kenapa dalam hubungan jangka panjang, gairah sering menurun.

Secara inti, buku ini menjawab pertanyaan penting:
Mengapa pasangan yang saling mencintai justru bisa kehilangan gairah seksual?

Pokok-pokok pembahasan:

1. Konflik antara cinta dan hasrat.
Cinta butuh kedekatan, rasa aman, stabilitas. Hasrat (erotis) justru butuh jarak, misteri, kebebasan. Dalam pernikahan, dua hal ini sering bertabrakan.

2. Rutinitas membunuh gairah
Kehidupan sehari-hari (kerja, anak, tanggung jawab) membuat hubungan jadi terlalu “aman” dan kehilangan unsur kejutan.

3. Peran “jarak psikologis”
Kita lebih tertarik pada pasangan ketika kita melihat mereka sebagai individu yang mandiri dan tidak sepenuhnya kita miliki.

4. Erotic intelligence (kecerdasan erotis).
Kemampuan untuk menjaga ketertarikan, imajinasi, dan energi seksual dalam hubungan yang sudah lama. Ini bukan soal teknik, tapi soal cara berpikir dan melihat pasangan.

5. Fantasi dan kebebasan batin
Fantasi dianggap normal dan bagian dari kehidupan seksual yang sehat. Tidak selalu berarti ingin selingkuh, tetapi bagian dari dinamika psikologis

6. Kesetiaan vs keinginan
Buku ini juga membahas bagaimana orang tetap setia tetapi tetap memiliki dunia batin erotis sendiri

Inti pesan buku:

Hubungan yang sehat bukan hanya soal kedekatan, tapi juga kemampuan menjaga daya tarik dan “rasa ingin” terhadap pasangan.😎

19/01/2026

Praktik S*ksv4l Menj!j!kkan Keluarga Mountain Sisters Membuat Sepupu Mereka Terbelenggu di Ruang Bawah Tanah Sementara Suaminya

Di lembah-lembah terpencil dan liar Pegunungan Ozark, Missouri, pada tahun 1892, waktu seolah berhenti, atau mungkin tidak pernah tiba. Di lanskap lembah-lembah terisolasi dan hutan-hutan yang tak tertembus ini, di mana jarak antar rumah diukur dalam mil dan jarak antar jiwa dalam keheningan yang tak terjembatani, salah satu kisah tergelap dan paling mengganggu dalam sejarah Amerika terungkap. Di tengah jurang moral ini terdapat keluarga Barrow, sebuah garis keturunan yang memilih isolasi bukan hanya sebagai gaya hidup, tetapi juga sebagai dogma agama yang sarat dengan keg!l44n.

Properti Barrow, yang terletak lebih dari dua puluh mil dari kota Forsythe, tampaknya tidak berbeda dari pertanian lain di daerah tersebut. Sebuah bangunan kayu, lumbung yang miring, dan ruang bawah tanah yang digali di lereng bukit. Namun, reputasi sang kepala keluarga, Josiah Barrow, menyelimuti lembah seperti kabut ber*cun. Josiah adalah seorang pria dengan keyakinan agama yang kuat dan aneh; Ia memandang dunia luar sebagai sumber pencemaran dan percaya bahwa keluarganya adalah satu-satunya yang masih murni di mata Tuhan. Kedua putri kembarnya, Elizabeth dan Mave, adalah perwujudan fisik dari isolasi ini: mereka bergerak serempak, jarang berbicara, dan memandang dunia dari atas, seperti hantu yang terjebak dalam ritual abadi..........

15/01/2026

Di kamar mayat Rumah Sakit Sentosa Kota Naldern.
Arlo Antasari meletakkan kedua tangannya di dada jenazah seorang perempuan, melakukan gerakan memijat.
"Untung kamu belum benar-benar mati dan kebetulan bertemu aku yang hari ini memperoleh warisan ilmu. Kesadaranmu akan terbuka kembali!"
"Dari tiga jiwamu, sudah lenyap dua. Dari tujuh rohmu, sudah lenyap empat. Ini sama seperti aku sedang merebut orang dari tangan Dewa Kematian. Di dunia ini, selain aku, nggak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu!"
Arlo tampak berusia 20-an tahun, berwajah tegas dengan alis tebal dan mata besar. Kelihatannya dia adalah orang sangat andal. Namun, saat ini mulutnya komat-kamit, sementara kedua tangannya bekerja dengan cara yang tidak wajar, membuat suasana terasa menyeramkan.
Seiring gerakannya, jenazah perempuan itu tiba-tiba duduk tegak, lalu terbaring lagi. Dua perawat yang mengantar jenazah melihat pemandangan ini. Mereka langsung ketakutan setengah mati dan menjerit, lalu berlari keluar.
"Tolong!"
"Satpam ... Pak Ibrahim ... ada mayat bangkit di kamar jenazah!"
"Dokter Isyana, suamimu yang gila sedang menodai mayat!"
Arlo tidak peduli. Kedua tangannya bergerak cepat menekan titik akupunktur di kepala jenazah dengan teknik yang aneh. Kemudian, dia kembali menekan dada jenazah itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di pintu kamar mayat. Direktur rumah sakit, Ibrahim, datang bersama beberapa dokter dan satpam. Wajahnya tampak panik.
"Kurang ajar, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan dia!" teriak Ibrahim dengan marah.
Arlo menoleh, tetapi tangannya tak berhenti. "Aku sedang mengobatinya!"
Banyak dokter di rumah sakit yang mengenali pria ini. Arlo! Suami bodoh Isyana Hanafi, dokter tercantik di rumah sakit ini.
Orang-orang sering kali merasa kasihan pada Isyana. Bagaimana bisa seorang wanita cantik menikah dengan seorang pria yang sakit jiwa? Saat ini, rasa kasihan itu pun mencapai puncaknya.
Karena jenazah itu adalah putri tunggal Keluarga Soraya, Fellis. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di Kota Naldern. Pagi ini, Fellis tiba-tiba meninggal di rumah sakit. Keluarga Soraya sudah ingin mencari masalah dengan rumah sakit, sekarang jenazahnya malah dilecehkan. Bukankah ini akan membuat masalah jadi semakin besar?
Mata Isyana berkunang-kunang. Dia hampir pingsan. Si bodoh ini benar-benar membuat bencana besar hari ini!
Sejak menikah, Arlo yang sakit jiwa selalu dijaga orang tuanya. Hari ini, orang tuanya ada urusan mendadak sehingga menitipkan Arlo padanya di rumah sakit.
Baru saja ada pasien gawat darurat sehingga Isyana pun meninggalkan Arlo di pos perawat. Siapa sangka, dia malah masuk ke kamar mayat dan melakukan hal seperti ini.
"Berhenti sekarang juga!" pekik Ibrahim, lalu berusaha menarik Arlo.
Arlo mengerutkan kening, mendorong Ibrahim. "Kalau aku berhenti, dia benar-benar akan mati!"
Ibrahim terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. 'Bodoh! Gila! Sakit jiwa! Dia sungguh mengira dirinya dokter? Jelas-jelas hanya orang gila!'
Ibrahim menatap Isyana dengan galak. "Kenapa nggak suruh suamimu berhenti? Apa kamu benar-benar mau menunggu sampai Keluarga Soraya menuntut kita semua?"
Isyana tersadar, buru-buru berseru. "Arlo!"
Dia bergegas maju, hendak menyingkirkan tangan Arlo dari dada Fellis. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh dada Fellis, kulit kepalanya meremang, jantungnya berdebar. Dia merasakan denyut jantung putri Keluarga Soraya itu.
"Dia masih punya detak jantung!" Isyana memeriksa dengan teliti di area jantung, matanya melebar karena kaget.
Ibrahim tercengang, lalu segera menurunkan stetoskop dari lehernya. Setelah mendengar detak jantung itu, dia pun panik dan berteriak, "Cepat dorong dia kembali ke ruang gawat darurat untuk diselamatkan!"
"Aku belum selesai mengobatinya, kalian nggak boleh bawa dia pergi!" Arlo kembali menghalangi.
"Obati kepalamu!" Ibrahim sama sekali tidak percaya orang gila bisa mengobati. Dia hanya mengira ini adalah kesalahan diagnosis. Menganggap orang hidup sebagai mayat dan membawanya ke kamar mayat, ini jelas adalah kesalahan medis besar!
Sekelompok orang buru-buru mendorong Fellis pergi. Kini, tersisa Isyana dan Arlo.
"Kenapa kamu bisa sampai ke sini?" Isyana marah besar, hampir melampiaskan semua kekesalannya pada pria yang selalu membuatnya malu ini.
"Aku datang untuk mengobati orang itu!" Arlo tampak serius, membuat Isyana hampir pingsan saking kesalnya.
Isyana menggertakkan gigi, tetapi kemudian merasa dirinya terlalu keras. Apa gunanya marah pada orang gila? Bagaimanapun, salahnya juga karena dia tidak menjaga Arlo dengan baik.
Dia menarik napas panjang. "Sudahlah, kita lihat dulu kondisi Fellis. Setelah itu, aku akan izin cuti untuk mengantarmu p**ang."
Arlo berdeham. "Aku sudah sembuh. Aku bisa p**ang sendiri."
Mata Isyana membelalak, sulit percaya. "Kamu ... sembuh?"
Arlo mengangguk. "Barusan kepalaku tiba-tiba jernih, semua ingatanku kembali!"
"Kalau sudah sembuh, kenapa kamu malah ke kamar mayat?" Isyana curiga. Memang ada kemungkinan Arlo membaik karena terus minum obat.
"Sudah kubilang tiga kali, aku datang untuk mengobatinya!" jawab Arlo.
Wajah Isyana membeku. Dia merasa dirinya yang bodoh. Bagaimana bisa dia percaya kata-kata orang gila? Orang waras mana yang masuk kamar mayat untuk mengobati orang? Lagi p**a, sebelum sakit jiwa, Arlo juga bukan dokter.
Ketika berbicara, Arlo menatap Isyana. Cantik sekali! Wajah menawan, mata jernih berkilau penuh kecerdasan. Jas putih bahkan tak mampu menutupi tubuh indahnya. Kalau wanita secantik ini menjadi istrinya, rasanya tidak rugi juga.
Isyana hanya bisa menghela napas. Dia malas berdebat, jadi menarik Arlo menuju ruang gawat darurat.
Baru saja sampai di depan pintu, tampak Ibrahim yang keluar dengan wajah penuh senyuman dan memberi instruksi kepada perawat.
Namun, begitu melihat Isyana, senyuman itu langsung hilang. Dia memasang wajah tegas sebagai direktur, lalu berkata, "Kamu diberhentikan sementara!"
Isyana sontak mengernyit sambil menatap Ibrahim.
"Fellis salah didiagnosis. Karena dikira sudah meninggal, dia dibawa ke kamar mayat. Ini kesalahan medis besar! Harus ada yang bertanggung jawab! Dokter jaga pagi ini adalah kamu!" jelas Ibrahim.
Wajah Isyana merah padam karena marah. "Sejak Fellis masuk, yang menanganinya langsung adalah Bapak sendiri. Surat kematian juga Bapak yang keluarkan. Apa hubungannya denganku?"
Ibrahim mendengus, lalu menunjuk Arlo. "Kalau begitu, akan kuberi tahu Keluarga Soraya kalau dia menodai mayat Fellis!"
Isyana seketika memucat. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di kota, sementara Fellis adalah putri tunggal Rayanza Soraya yang sangat disayang. Arlo pasti akan dituntut akibat perbuatannya!
"Kamu tahu betul apa yang akan terjadi kalau Keluarga Soraya tahu Fellis dinodai!" kata Ibrahim dengan nada penuh ancaman.
"Fellis masih hidup, 'kan?" Isyana diam sejenak, lalu bertanya demikian.
"Tentu saja. Kalau nggak, menurutmu Arlo bisa keluar dari rumah sakit ini dengan selamat?"
Tubuh Isyana gemetar karena marah. Kali ini bukan hanya dia, bahkan Arlo pun benar-benar paham apa yang terjadi.
Fellis salah didiagnosis, lalu dikirim ke kamar mayat. Hal ini sudah diberitahukan kepada Keluarga Soraya, jadi tidak mungkin ditutupi. Harus ada kambing hitam! Isyana-lah yang dijadikan kambing hitamnya!
Sementara Ibrahim, si pelaku utama, justru akan menjadi pahlawan bagi Keluarga Soraya!
Arlo tertawa, bertepuk tangan. "Kalau nggak tahu malu itu adalah sebuah keterampilan dan ada lombanya, kamu pasti juara satu!"
Ibrahim melirik sinis, malas menanggapi. Dia adalah direktur, mana sudi peduli pada orang gila?
"Kamu yakin bisa menyelamatkan Fellis?" Arlo tersenyum meremehkan.
"Maksudmu apa?" Ibrahim menjadi kesal. Orang gila ini kok semakin lama semakin mirip orang waras?
Arlo mendengus. "Ya itu maksudku! Dengan kemampuanmu, mau menjadikan istriku kambing hitam? Masih terlalu jauh!"
Ibrahim marah besar, hendak mengamuk. Namun, tiba-tiba dari ruang gawat darurat terdengar keributan. Seorang perawat keluar dengan wajah panik.
"Pak Ibrahim, gawat! Kondisi Fellis kembali kritis ...."Begitu mendengar Fellis kembali kritis, Ibrahim langsung berlari masuk ke ruang gawat darurat.
Isyana menatap Arlo. Tadi dia mendengar ucapan Arlo yang tajam dan penuh logika saat membalas Ibrahim. Jelas, tak ada lagi kebodohan yang dulu.
"Kamu benar-benar sudah sembuh?"
Arlo mengangguk. "Ya! Waktu di pos perawat, tiba-tiba saja pikiranku jernih. Aku juga nggak tahu gimana bisa sembuh begitu saja!"
Ucapannya itu setengah benar, setengah bohong.
Tiga tahun lalu, dia secara tak sengaja memperoleh warisan Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dari seorang tabib sakti. Kitab itu mencakup semua keahlian sang tabib seumur hidupnya. Dari ilmu pengobatan, ilmu bela diri, ilmu ramalan wajah, ilmu nasib, hingga wawasan luas dari pengalaman berkeliling dunia.
Namun, begitu mendapatkan warisan itu, sebagian besar kesadarannya terkunci oleh pembatas warisan, memaksanya tenggelam dalam proses belajar. Dari luar, dia terlihat seperti orang bodoh dan gila.
Hingga hari ini, setelah Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dipelajarinya sampai tingkat ketiga, dia berhasil menembus pembatas itu. Kesadarannya kembali. Kebetulan, dia bertemu Fellis yang dibawa ke kamar mayat. Menyadari masih ada kesempatan untuk menyelamatkan, dia pun turun tangan.
Namun, semua itu tidak bisa dia ceritakan pada Isyana. Kalau diceritakan, bisa-bisa dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa.🌵💥🧩

04/01/2026

KUDETA DI ATAS GUNUNG EMAS: Tumbal Berdarah demi Kontrak Karya Nomor Satu

Jakarta, 1965. Kota itu membara. Darah tumpah di lubang buaya, mahasiswa turun ke jalan, dan inflasi mencekik leher rakyat. Sejarah resmi mencatat ini sebagai konflik ideologi: Komunis melawan Agamis, PKI melawan Angkatan Darat.

Namun, jika kita menggeser lensa dari Jakarta ke pedalaman Papua yang sunyi, kita akan menemukan motif yang jauh lebih dingin dan berkilau: Gunung Ertsberg.

Sementara para jenderal diculik dan Soekarno digerogoti kekuasaannya, di seberang samudra, para eksekutif Freeport Sulphur sedang menahan napas. Mereka tahu satu hal yang rakyat Indonesia tidak tahu: di Papua, tersimpan harta karun terbesar di muka bumi. Dan hanya ada satu penghalang untuk mengambilnya: Ir. Soekarno.

Babak I: Penemuan yang "Disembunyikan" (1936-1959)

Jauh sebelum 1965, seorang geolog Belanda, Jean-Jacques Dozy, menemukan sebuah gunung aneh di Papua pada 1936. Ia menamakannya Ertsberg (Gunung Bijih). Laporannya terkubur debu Perang Dunia II.
Dua dekade kemudian, Forbes Wilson, petinggi Freeport, menemukan kembali laporan itu. Ia melakukan ekspedisi rahasia dan terperangah. Itu bukan sekadar gunung batu. Itu adalah gunung tembaga, dan di bawahnya—meski saat itu belum sepenuhnya terungkap—tersimpan cadangan emas terbesar di dunia (Grasberg).
Wilson tahu, ini adalah "jackpot" korporasi abad ini.

Babak II: Tembok Bernama Soekarno

Hasrat Freeport menabrak tembok beton. Soekarno bukan pemimpin yang bisa disuap dengan recehan.
Visinya tentang Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) bukan sekadar jargon. Soekarno menolak mentah-mentah model investasi asing yang merugikan. Baginya, kekayaan alam adalah harga diri.
"Biarlah kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga insinyur-insinyur Indonesia sendiri mampu mengolahnya." — Soekarno.

Bagi Washington dan Wall Street, sikap ini bukan nasionalisme. Ini adalah ancaman. Soekarno menutup pintu bagi "pesta raya" kapitalisme global di Asia Tenggara. Maka, pintu itu harus didobrak paksa.

Babak III: Karpet Merah di Atas Darah (1965-1967)

Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah kebetulan yang terlalu presisi untuk disebut takdir.
* Oktober 1965: G30S meletus. Politik Indonesia kacau balau. Fokus Soekarno terpecah.
* Maret 1966: Supersemar keluar. Soekarno kehilangan kendali eksekutif. Soeharto naik panggung.
* Januari 1967: Di tengah transisi kekuasaan yang belum tuntas, pemerintahan baru dengan kilat mengesahkan UU Penanaman Modal Asing (PMA). Draf undang-undang ini sangat liberal, sebuah anomali bagi negara yang baru lepas dari kolonialisme.
Siapa yang diuntungkan?

Babak IV: Tanda Tangan Pertama

Hanya tiga bulan setelah UU PMA disahkan, pada April 1967, kontrak bersejarah itu terjadi.
Bukan kontrak pangan untuk rakyat yang kelaparan. Bukan kontrak tekstil.
Kontrak investasi asing pertama (Kontrak Karya Generasi I) yang ditandatangani oleh rezim Orde Baru adalah: Freeport Sulphur.

Saat Soekarno masih hidup dalam tahanan rumah, menatap langit-langit Wisma Yaso dengan hati remuk, Freeport sudah mulai membongkar tanah Papua. Mereka mendapat konsesi 30 tahun, kebebasan pajak, dan hak mengeruk gunung yang dijaga mati-matian oleh Soekarno.

KESIMPULAN: Harga Sebuah Tanda Tangan

Kejatuhan Soekarno seringkali dibingkai dalam narasi "Penyelamatan Pancasila". Namun, data ekonomi bercerita lain.
Kejatuhan Soekarno adalah "Grand Opening" bagi masuknya korporasi multinasional ke Indonesia. Papua adalah hadiah utamanya. Soekarno tidak tumbang hanya karena komunisme; ia tumbang karena ia berdiri di antara sebuah korporasi raksasa dan gunung emasnya.

Darah tahun 1965 adalah tinta merah yang dipakai untuk menulis kontrak Freeport 1967. Dan sampai hari ini, lubang raksasa di Papua adalah monumen bisu dari peralihan kekuasaan tersebut.

20/12/2025

BERPOLITIK, ATAS NAMA TUHAN

Oleh: Fachry Ali
(TEMPO, No. 42, Thn. III, 17 Desember 1983)

Andropov sakit, atau bahkan meninggal dunia, tidaklah penting. Yang menarik adalah doa para pendeta Kristen Ortodoks Uni Soviet yang meminta umur orang terkuat negara komunis itu diulur lebih lanjut. Suatu doa yang memerluka tarikan napas panjang.

Tapi di sinilah terletak masalahnya. Sejak dahulu kala—demikianlah Marx pernah berkata—agama dan pendeta selalu punya kecenderungan mengintegrasikan diri ke dalam struktur kekuasaan. Itu p**a sebabnya mereka tidak peka terhadap kesewenangan kekuasaan para raja, yang bagi Marx dianggap menindas rakyat.

Bahwa sikap teologi para pendeta ini tidak selalu berkenan di hati Paus adalah benar. Namun, toh Paus asal Polandia ini menyerang jantung Marxisme. “Kalau Anda menyerang Polandia, saya akan meninggalkan tahta Petrus untuk berjuang bersama orang-orang sebangsaku,” ujarnya dalam sepucuk surat kepada Breznev.

Banyak hal telah berubah, seperti juga banyak yang tidak. Bagi Marx tidaklah begitu penting – sebagian karena dia telah meninggal. Namun, generalisasi pandangan Marx, yang hanya melihat sejarah agama di Eropa, ada gunanya juga dipakai untuk melihat pergulatan agama dan politik dunia Islam. Gunanya, bukan karena banyak ditemukan kebenaran analisa Marx, melainkan justru karena berubah-ubahnya fungsi dan peran variabel yang sama; agama dan ulama di pelbagai negara dunia Islam.

Pembentukan kekuasaan politik, yang kemudian melahirkan kerajaan Arab Saudi, misalnya, bukanlah karena manip**asi agama oleh elite penguasa, melainkan justru ajaran moral.

Moral puritanisme ajaran Islam yang digerakkan Muhammad bin Abdul Wahab – yang kemudian dikenal dengan gerakan Wahabiah – menarik perhatian Ibnu Sa’ud, penguasa lokal Jazirah Arabia abad ke-18, untuk bergabung. Jadilah satu gerakan yang pengaruhnya saling menyilang. Suatu gerakan menegakkan moral agama, sekaligus menegakkan struktur kekuatan politik dan kekuasaan.

Sampai kini, sisa-sisa keturunan kelompok Wahabi yang kemudian membentuk kelas ulama masih tetap penting sebagai kekuatan penyeimbang kebijaksanaan pemerintah dalam memodenisasikan diri dan masyarakatnya.

Semacam NU, peranan Ulama Arab Saudi kemudian menjadi pemberi legitimasi spiritual terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan. Sedangkan kaum politisi dan birokrat berfungsi sebagai perencana dan pelaksana pembangunan dan pemerintahan sehari-hari. Dengan demikian, terjadilah dikotomi “syu’riah-tanfidziah” jika kita pakai analoginya dengan NU di Indonesia.

Tapi Islam Iran memberikan wajah lain. Agama adalah keseluruhan kehidupan. Revolusi Iran – yang menumbangkan mitos bahwa hanya kaum komunis yang mampu menggerakkan revolusi di abad ke-20 – meletakkan kaum ulama pada posisi strategis, baik dalam dunia politik maupun pemerintahan.

Sampai di sini, dikotomi “syu’riah-tanfidziah” tidak ditemukan. Masalah yang menarik adalah, mampukah corak keagamaan seperti itu nanti memelihara semangat kritisnya kali ini justru terhadap kekuasaan yang baru dibangunnya sendiri.

Di Mesir soalnya lain lagi. Dua kelompok paham keagamaan berdiri dalam dua pola yang ekstrem dan tidak bisa dipertemukan.

Kelompok pertama diwakili ulama Al-Azhar. Sepanjang sejarah, Al-Azhar memang tidak jemu-jemu mengeluarkan fatwa untuk selalu patuh kepada penguasa. Lembaga pendidikan tinggi agama yang didirikan Bani Fatimah tahun 972 ini selalu mengintegrasikan kepada kekuasaan elite yang bertahta. Tidak peduli dari mana dan siapa pun.

Dalam tahun 1798, ketika Mesir di bawah Prancis, ulama Al-Azhar berseru “Kita berlindung kepada Tuhan dari aneka ragam fitnah (fitan) dan kita mohonkan kepada-Nya untuk melenyapkan orang-orang yang menyebarkan kemurkaan di muka bumi serta merusakkan hubungan baik rakyat Mesir dengan tentara Prancis.” Ketika giliran Inggris yang berkuasa, ulama Al-Azhar pun berbuat yang sama. Juga waktu Sadat berkuasa dan berdamai dengan Israel.

Kelompok kedua tidak kalah hebatnya. Mulai dari tokoh dan kalangan revolusioner yang konseptual sampai pada kelompok revolusioner yang awut-awutan. Kelompok ini memberikan citra yang bertentangan dengan kaum ulama Al-Azhar, meskipun sama-sama menekankan utamanya al-asala (kemurnian ajaran Islam) dan menolak al-mabadi al-mustawrada (doktrin impor).

Bedanya, yang kedua meletakkan Islam sebagai blueprint untuk segala aspek kehidupan. Pandanngan keagamaannya mengenai politik dan kekuasaan tidak bias pada kehendak penguasa, seperti yang dilakukan kelompok pertama. Tesis mereka, sejauh pemerintah tidak menelurkan kebijaksanaan yang sesuai dengan corak keislamannya, konsep al-nizam al-jahili atau darl harb tetap relevan dikenakan untuk pemerintah.

Dari sinilah kita menyaksikan lahirnya kelompok al-Ihwan al-Muslimun. Suatu kelompok yang secara terus menerus berusaha mengguncangkan struktur kekuasaan di Mesir. Logika keislaman mereka membenarkan tindakan pengguncangan itu. Bahkan, sejauh yang dapat direkam dari pengadilan Sayyid Quthb tahun 1966—tokoh kedua setelah Hasan Al-Banna yang terbunuh tahun 1949—tindakan-tindakan kekerasan yang bagaimanapun bisa dibenarkan.

Ideologi radikalisme Islam inilah yang secara terus-menerus menjaga api gerakan al-Ihwal al-Muslimun. Hanya satu dasawarsa setelah Sayyid Qutbh, mucul p**a pada tokoh muda yang karismatis, Ahmad Shukri Mustafa. Berdasarkan ideologi radikal itu, ia mendirikan suatu kelompok baru, perwujudan lain dari Al-Ihawal al-Muslimun, yang tidak kalah ekslusifnya, al-Tafkir wal Hijra.

Di tangan merekalah, Anwar Sadat dibantai. Suatu pertumpahan darah yang dahsyat yang, sayangnya, tetap mengatasnamakan Tuhan. Persis yang dilakukan ulama al-Azhar, dalam bentuk yang sebaliknya.

Sumber: TEMPO, No. 42, Thn. III, 17 Desember 1983

02/11/2025

Langsung to the point: Martin Luther bukan milik semua Protestan.
Dia pendiri Lutheran, titik. Secara denominasi, ia pastor Katolik yang kemudian melahirkan Gereja Lutheran — bukan Calvinis, bukan Baptis, bukan Pentakosta, bukan Evangelikal Amerika abad 20, bukan charismatics Korean style. Ia tidak pernah membayangkan ada 45.000+ denominasi pecahan.

Namun… mengapa semua Protestan merasa berhak memakai namanya?

Jawabannya pahit, tapi jujur:
Luther adalah mitos pendiri.
Simbol “reformasi melawan Roma.”
Bahkan kelompok yang ajarannya sudah jauh dari Luther tetap mengutipnya, seperti cucu-cucu yang tidak kenal kakeknya tapi bangga dengan marga.

Luther itu alirannya apa, persisnya?

Lutheranisme. Dengan ciri:

Menjaga sakramen (ada Ekaristi dengan Real Presence—walau beda paham dari transubstansiasi)

Liturgi masih Katolik dalam banyak aspek

Struktur gereja tetap episkopal di beberapa negara

Bunda Maria? Luther menghormatinya sebagai Theotokos

Baptisan bayi? Wajib

Sukacita pada tradisi musik Katolik—Bach, misalnya, lahir dari tradisi Lutheran

Kalau Luther hidup hari ini dan masuk ke sebagian besar gereja Protestan modern, ia akan kaget:
“Ini gereja atau karaoke rohani? Sakramennya ke mana?”

Lalu kenapa Protestan lain juga pakai Luther?

Karena:

1. Semua butuh pahlawan sejarah agar gerakannya tidak terlihat seperti pemberontakan semalam.

2. Luther adalah trigger historis Reformasi, meskipun sebagian lebih mengamini Calvin ketimbang Luther.

3. Narasi “melawan Roma” menguntungkan secara identitas.

Ironisnya, banyak Protestan masa kini tidak lagi sepaham dengan Luther:

Luther percaya Maria tetap perawan → banyak Protestan menolaknya.

Luther percaya Ekaristi sungguh Tubuh Kristus → banyak Protestan menganggap simbol.

Luther tidak pernah mengajarkan kebebasan menafsir Alkitab sebebas-bebasnya → sekarang tiap minggu lahir denominasi baru.

Kesimp**an keras tapi jujur: Protestan memakai Luther untuk legitimasi sejarah, bukan untuk teologi utuhnya.

Jadi, kalau mau historis yang lurus:

Luther → Lutheran

Calvin → Reformed

Zwingli → Swiss Reformed yang anti-Ekaristi

Henry VIII → Anglikan

Knox → Presbyterian

Revivalis Amerika → Pentakosta & Evangelikal

Sejarah itu keras kepala. Ia tidak tunduk pada romantisme identitas. Luther berdiri di awal, bukan di akhir. Yang lainlah yang memecah diri dari pemecah diri — hingga semua lupa siapa duluan meninggalkan rumah.

Kalau hendak melangkah maju, kebenaran harus ditatap apa adanya. Luther bukan maskot universal. Ia bapak satu rumah, yang cucunya menyebar sampai lupa marga.

12/10/2025

7 LANGKAH MEMPERBAIKI KEUANGAN TANPA HARUS MENAMBAH PENGHASIALAN DULU

Banyak orang berpikir masalah keuangan bisa selesai hanya kalau penghasilan naik. Padahal, sering kali bukan jumlah uangnya yang jadi masalah, tapi cara kita memperlakukan uang itu sendiri.

Kenyataannya, seberapa besar pun penghasilanmu, tetap akan terasa kurang kalau kebiasaan dan pengelolaannya masih sama. Karena memperbaiki keuangan bukan soal menunggu rezeki datang lebih besar, tapi tentang bagaimana kamu mengatur apa yang sudah ada.

Berikut tujuh langkah yang bisa kamu mulai sekarang, bahkan tanpa menambah penghasilan sedikit pun.

1. Catat Semua Pengeluaran

Langkah pertama dan paling penting adalah menyadari ke mana saja uangmu pergi. Banyak orang merasa uangnya “hilang entah ke mana”, padahal hanya karena tidak pernah mencatatnya.

Mulailah menulis setiap pengeluaran, sekecil apa pun. Dengan begitu kamu bisa tahu pola borosmu, kebiasaan tak penting, dan hal-hal yang bisa dikurangi tanpa harus mengubah gaya hidup secara drastis.

2. Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Ini hal yang sederhana tapi sering diabaikan. Kadang kita membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena ingin merasa lebih baik, atau karena takut tertinggal dari tren.

Belajar menunda keinginan adalah bentuk kedewasaan finansial. Kamu tidak harus menolak kesenangan, tapi tahu kapan saatnya menahan diri. Dari kebiasaan kecil ini, kamu akan sadar betapa banyak uang bisa diselamatkan tanpa harus menambah penghasilan.

3. Batasi Pengeluaran Rutin yang Tak Terlacak

Coba perhatikan langganan digitalmu, jajan kopi, ongkir makanan, atau biaya kecil yang sering kamu anggap remeh. Kalau dijumlahkan, nilainya bisa setara dengan tabungan sebulan.

Mulailah menghapus yang tidak benar-benar kamu pakai, dan atur ulang prioritasmu. Kadang, menambah sisa uang setiap bulan bukan soal bekerja lebih keras, tapi soal memangkas pengeluaran yang tak disadari.

4. Buat Sistem Amplop atau Pembagian Uang

Begitu uang datang, segera bagi sesuai kebutuhan: untuk kebutuhan pokok, tabungan, transportasi, dan hiburan. Dengan sistem sederhana seperti ini, kamu tidak perlu bingung lagi ke mana uang pergi.

Sistem ini membantu otakmu disiplin. Kamu tahu mana uang yang boleh dipakai dan mana yang harus disimpan. Dan dari sinilah stabilitas finansial mulai terbentuk.

5. Lunasi Utang Kecil Sebisa Mungkin

Utang kecil sering terlihat sepele, tapi efek psikologisnya besar. Ia membuatmu merasa terikat dan sulit tenang. Maka, prioritaskan melunasi utang kecil satu per satu, mulai dari yang bunganya paling tinggi.

Setiap kali satu utang selesai, kamu akan merasa lebih ringan. Ketenangan finansial bukan datang dari jumlah saldo, tapi dari berkurangnya beban pikiran.

6. Disiplin Menabung Meski Sedikit

Banyak orang menunggu punya uang lebih dulu baru menabung. Padahal menabung bukan tentang jumlah, tapi tentang kebiasaan.

Sisihkan bahkan sepuluh ribu per hari. Bukan karena nilainya besar, tapi karena kamu sedang melatih diri untuk menghargai uang dan berpikir panjang. Dari kebiasaan kecil itulah fondasi kestabilan finansial terbentuk.

7. Belajar Bersyukur dan Hidup Efisien

Ketenangan finansial tidak datang dari kelimpahan, tapi dari rasa cukup. Saat kamu bisa bersyukur dan menikmati apa yang ada, kamu akan berhenti membandingkan hidupmu dengan orang lain.

Hidup efisien bukan berarti pelit, tapi tahu mana yang penting dan mana yang tidak. Dan saat kamu mulai hidup dengan kesadaran seperti ini, kamu akan menyadari bahwa memperbaiki keuangan tidak selalu butuh penghasilan besar. Yang kamu butuhkan hanyalah kebiasaan baru dan cara berpikir yang lebih dewasa.

__________
Kamu tidak perlu menunggu kaya untuk mulai tertib finansial. Justru keteraturan di masa penghasilan kecil itulah yang akan mempersiapkanmu menghadapi masa ketika rezeki datang lebih besar. Karena kalau kamu belum bisa mengelola yang sedikit.

28/09/2025

“Ikatan yang Tak Putus”

“Aneh ya,” gumam Nalaya sambil menatap hujan di balik kaca, “hubungan udah selesai, status udah berubah, bahkan doa pun berhenti, tapi ikatannya masih nempel. Kayak ada benang halus yang nggak kelihatan, tetap narik-narik hati.”

Asvara menaruh cangkir teh. “Itu trauma bond, La. Luka yang bukan cuma bikin rindu, tapi candu. Kamu nggak sekadar kangen dia. Kamu sakau dopamin dari perhatian kecilnya. Notif tengah malam, tatapan yang bikin degup kacau, atau sekadar ‘udah makan belum?’—itu candu yang sekarang hilang.”

Nalaya tersenyum getir. “Jadi ini bukan rindu, tapi sakau?”

“Ya. Otakmu kayak lagi nyari dosisnya. Dan yang lebih pahit, kamu sadar kan? Dalam perjalanan mencintai, kamu ninggalin sebagian dirimu. Hobimu yang kamu kubur, prinsip yang kamu longgarkan, mimpi yang kamu tunda. Jadi waktu dia pergi, bukan cuma dia yang hilang. Bagian dari dirimu juga ikut lenyap.”

Nalaya terdiam. “Jadi aku nangis bukan karena dia, tapi karena kehilangan diriku sendiri?”

Asvara menghela napas. “Psikologi nyebut ini insecure attachment. Neurosains bilang withdrawal dopamine. Tasawuf menyebut ta’alluq—keterikatan yang salah alamat. Apa pun istilahnya, intinya sama: kamu nyasar karena sandarin bahagia ke makhluk, bukan ke Sumber.”

“Terus… jalan p**angnya gimana?” suara Nalaya pelan.

“Bukan buru-buru cari pelarian. Bukan nutup kosongmu dengan wajah baru. Jalan p**angnya itu menjemput lagi potongan dirimu yang tercecer. Duduklah bareng sepi. Biarkan rindu ini cair jadi pelajaran.”

Nalaya menatap hujan, lalu tersenyum tipis. “Jadi move on itu bukan melupakan orang lain?”

Asvara menatapnya tenang. “Move on itu mengingat lagi siapa dirimu sebelum hilang dalam cinta yang salah arah.”

Hening. Benang halus itu perlahan terurai.

Nalaya menarik napas. “Kalau suatu saat aku nemuin diriku lagi, aku masih bisa percaya sama cinta?”

Asvara tersenyum samar. “Cinta nggak pernah salah. Yang salah cuma cara kita bergantung. Kalau nanti jatuh cinta lagi, biarlah itu jadi ruang tumbuh, bukan ruang hilang.”

Hujan makin deras, tapi hati Nalaya lebih ringan. Ia sadar: kehilangan ini bukan akhir, tapi undangan p**ang pada dirinya sendiri.

-AM

Want your school to be the top-listed School/college in Semarang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan Diponegoro Semarang
Semarang
JAWATENGAH