SHOFI

SHOFI

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SHOFI, Religious school, Demak/jateng, Semarang.

16/10/2023

*بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

_*Berusahalah agar diri kita memiliki hati yang lembut, lisan yang baik dan santun. Karena sifat indah itulah menjadi sebab mudah turunnya kasih dan sayang ALLAH SubhanahuWaTa'ala pada diri kita.*_

_*Ketika kita memiliki hati yang bersih, hati yang tenang, hati yang jauh dari su’udzhon kepada orang lain, hati yang tidak keras terhadap saudara yang ada didekatnya.*_

_*Selalu menjaga perasaan dan harga diri saudara kita saat berbicara kepada mereka. Maka ‎inilah yang akan mengundang turunnya rahmat dan keberkahan.*_

_*Karena itu sungguh, jagalah ahlaq kita terhadap saudara kita. Agar rahmat ALLAH SubhanahuWaTa'ala turun sepanjang usia kehidupan kita.*_

*Tetap semangat..raih Cinta, Rahmat dan Ampunan ALLAH SubhanahuWaTa'ala*

16/10/2023

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

SUAMIKU SEORANG MARBOT
PART 7

Penulis Naya R

Sepulang dari shalat zuhur di masjid, Fahri menelepon Pak Aryo, papa mertuanya. Fahri menceritakan jika papanya sedang sakit dan ia harus pulang menemui kedua orang tuanya. Fahri mengatakan jika ia belum bisa membawa Amara ikut bersamanya.

Selain karena Amara kuliah, Fahri juga akan menyelesaikan banyak hal di kotanya. Dan yang paling utama, tentu saja karena Fahri belum bercerita jika ia telah menikah. Fahri merasa perlu waktu untuk menjelaskan tentang Amara kepada kedua orang tuanya.

Pak Aryo mengizinkan Fahri untuk pulang. Pak Aryo mengatakan akan segera menelepon Bi Ana dan meminta wanita paruh baya itu untuk segera kembali ke rumah menemani Amara. Fahri merasa tenang meninggalkan Amara jika ada yang menemani.

Jauh di dasar hatinya, Fahri sebenarnya tidak ingin pulang menemui kedua orang tuanya. Setelah apa yang terjadi dua tahun lalu, Fahri bertekad untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Tetapi, Fahri tidak ingin menjadi anak durhaka. Ketika disuruh pergi, ia pergi. Dan ketika disuruh pulang, ia juga akan pulang.

Ketika makan siang, Fahri menceritakan kepada Amara jika ia harus pulang untuk beberapa waktu ke rumah orang tuanya. Amara hanya mengangguk dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca oleh Fahri.

Tiga minggu menikah, hubungan mereka masih tidak ada kemajuan. Fahri telah berusaha untuk memangkas jarak di antara mereka. Tetapi, Amara seperti tidak terjangkau. Perempuan itu masih asyik dengan dunianya sendiri.

Kehadiran Fahri seakan tidak berarti apa-apa untuknya. Dia hanya datang ketika membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Fahri. Namun, Fahri akan selalu bersabar. Ia telah menjatuhkan pilihan, maka ia akan menjaga dan memperjuangkan pilihannya itu.

Esok hari, Bi Ana datang dengan sekardus oleh-oleh. Ada pisang, kerupuk, wingko, sampai bandeng. Fahri menyambut Bi Ana dan meminta maaf karena perempuan yang telah mengasuh Amara dari kecil itu harus pulang lebih awal dari yang disepakati dengan Pak Aryo dan Bu Ayunda.

Tetapi, Bi Ana mengatakan, jika ia memang sudah rindu untuk kembali ke rumah ini. Berada di kampung membuat wanita sederhana itu merasa suntuk, karena ketiga anak-anaknya telah berkeluarga semua dan tinggal di kampung terpisah.

Malam hari, setelah Fahri membereskan beberapa pakaiannya, Fahri masuk ke kamar Amara. Amara terlihat telah tidur dengan lelap. Fahri menghela napas berat. Sebenarnya, Fahri sangat berharap, sebelum mereka berpisah, ia dan Amara bisa menciptakan sebuah kenangan indah yang akan menjadi pengikat hati dan raga mereka.

Fahri berbaring di samping Amara. Diusapnya rambut Amara dengan lembut. Pelan ditepuk-tepuknya p**i istrinya itu. Amara menggumam tidak jelas.

“Amara.”

Amara yang merasa diganggu membuka matanya perlahan.

“Kamu ngantuk, ya?”

“Hhmm.” Amara memutar tubuhnya membelakangi Fahri. Lagi-lagi Fahri menarik napas dalam.

“Amara, besok aku sudah harus pergi. Aku nggak tahu berapa lama aku bisa kembali. Tidak kah kamu ingin kita saling menunaikan kewajiban sebagai suami istri?” Fahri berucap dengan hati-hati.

Amara meremas selimutnya dengan kuat. Ucapan Fahri membuat dadanya berdetak kencang. Mengapa tiba-tiba ia menjadi begitu gugup? ‘Apakah mereka akan melakukannya malam ini? Bagaimana jika Fahri pergi dan tidak pernah kembali lagi? Bagaimana jika ini adalah pertemuan terakhir mereka?’

Amara tidak mengenal orang tua Fahri. Tidak mengenal sanak saudaranya. Tidak tahu di mana rumahnya. Kalau hubungan satu malam ini tiba-tiba membuat ia hamil, apa yang akan dilakukannya nanti? Berbagai pikiran negatif memenuhi rongga dada Amara. Membuat dada Amara terasa sesak.



“Kita shalat sunnah dulu, yuk.”

Fahri kembali mengusap kepala Amara dengan lembut. Tanpa sadar, Amara menarik tubuhnya menjauh. Tangan Fahri menggantung di udara. Sikap Amara telah menunjukkan penolakan perempuan itu kepadanya. Fahri merasakan dadanya bergemuruh. Rasa kecewa, malu, dan amarah menyatu jadi satu.

Hampir tiga minggu ia menunggu Amara siap menerimanya. Tidak kah waktu selama itu cukup bagi seorang perempuan untuk mempersiapkan diri? Amara bukan anak kecil lagi. Usianya sudah cukup dewasa untuk mengerti apa kewajiban seorang istri terhadap suami.

Fahri akhirnya bangun dan turun dari tempat tidur. Ia tidak ingin rasa marah menguasai hatinya sampai pagi. Walau bagaimanapun, ia telah memilih Amara sebagai pendamping hidupnya. Itu artinya, ia harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan istrinya itu.

Fahri ke luar dari kamar dan berjalan ke dapur. Tiba-tiba ia ingin minum kopi untuk menenangkan pikiran dan hatinya.

Sementara itu, Amara menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala. Entah mengapa, ia spontan menarik tubuhnya begitu Fahri mengungkapkan tentang kewajiban suami dan istri. Amara tidak tahu, bagaimana cara menerima ajakan itu tanpa diliputi oleh rasa malu.

Hingga subuh menjelang, Fahri tidak kembali lagi ke kamar Amara. Entah mengapa ada sedikit rasa kecewa di hati Amara. Fahri tidak berusaha membujuk dan merayunya.

Pulang dari masjid, sarapan pagi telah terhidang di meja makan. Bi Ana telah menyiapkan semua kebutuhan Fahri dan Amara.

Mereka duduk berdua menikmati sarapan. Fahri menyendok nasi gorengnya dalam diam. Amara pun sama. Sampai keduanya menyelesaikan sarapan, tidak ada seorang pun yang bicara.

Pukul 07.00, Amara telah bersiap untuk berangkat kuliah. Fahri juga sama. Laki-laki itu telah siap dengan travel bag-nya.

“Aku pamit. Baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.” Fahri mengusap kepala Amara yang tertutup hijab sekilas.

“Iya, hati-hati.”

“Pegang ini buat belanja sehari-hari dan juga jajan ke kampus.” Fahri mengambil tangan Amara dan meletakkan sebuah kartu di telapak tangan perempuan itu. Amara menatap Fahri dengan tatapan bingung.

“Tidak usah. Papa sudah meninggalkan uang jajan untuk aku. Lagian seminggu lagi papa dan mama sudah pulang.” Amara mencoba menolak, tetapi Fahri sudah melepaskan tangannya dari Amara. Sehingga kartu itupun tertinggal di telapak tangan perempuan itu.

“Kamu tahu, kewajiban suami itu memberikan nafkah lahir dan batin pada istrinya. Mungkin aku belum bisa memberikan nafkah batin karena kamu menolaknya. Tetapi, setidaknya izinkan aku memberikan nafkah lahir untumu.”

Amara membeku. Ucapan Fahri menusuk sampai ke relung hatinya.

“Maaf …” Amara sungguh menyesal.

“Tidak apa.” Fahri mencoba tersenyum.

Sudut-sudut mata Amara terasa panas.

Bunyi klakson mobil di luar pagar menyadarkan mereka. Fahri beranjak ke dalam dan pamit pada Bi Ana.

Fahri menyeret travel bag-nya menuju teras. Amara mengikuti dari belakang. Sebelum masuk ke dalam mobil, Fahri menoleh ke belakang. Amara yang juga sedang menatap punggungnya, tatapan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Fahri masuk ke mobil. Supir taksi membantu Fahri memasukkan travel bag-nya ke dalam bagasi.

Mobil bergerak perlahan meninggalkan Amara yang masih berdiri mematung di halaman rumah. Setetes air mata jatuh membasahi p**i mulusnya. Mengapa ada yang terasa ungkai dari hatinya? ‘Akan kah laki-laki itu kembali?’

https://read.kbm.id/book/detail/7b936cc8-5b09-1e6c-8808-6a8f40077084?af=b04af98a-93aa-d6d3-1d78-93be9840b528

16/10/2023

Bismillahirrohmanirrohim
ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Selamat malam dan selamat istirahat sahabat fillaHku
Semoga tetap selalu istiqomah 🤗🤗
Shofi sella melati...

15/10/2023

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

HADIS QUDSI UNTUK HIDUPMU
Dalam kitab Al-Mawaizh fi Al-Ahadis Al-Qudsiyyah, Imam Al-Ghazali meriwayatkan:
Allah SWT berfirman:
"Wahai anak Adam!
Siapa yang bersedih karena urusan dunia, maka hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah. Di dunia dia akan merasa lelah, di akhirat akan susah-payah; Allah akan membuat hatinya galau senantiasa, selalu sibuk tiada henti, selalu merasa miskin tanpa pernah bisa menjadi kaya, dan selalu terjerat oleh angan-angan tiada henti.

Wahai anak Adam!
Umurmu setiap hari berkurang, tapi engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datang membawa rezekimu, tapi engkau tidak pernah bersyukur; dengan rezeki sedikit kau tak puas, dan dengan rezeki banyak kau tak pernah kenyang.

Wahai anak Adam!
Setiap hari Aku berikan rezeki padamu. Namun, setiap malam para malaikat datang pada-Ku membawa catatan amal burukmu. Engkau makan rezeki-Ku, tapi engkau bermaksiat pada-Ku. Engkau berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya. Kebaikan-Ku pun tercurah padamu, tetapi justru catatan keburukanmu yang sampai pada-Ku.

Sebaik-baik Tuanmu adalah Aku!
Dan, seburuk-buruk hamba-Ku adalah kau!
Engkau lepaskan apa yang Kuberikan kepadamu. Kututupi keburukanmu setelah sebelumnya terbuka. Aku malu dengan keadaanmu, namun engkau tidak pernah merasa malu kepada-Ku. Engkau selalu lupa kepada-Ku, namun kau selalu ingat selain Aku. Engkau takut pada manusia, namun kau selalu merasa aman dari-Ku. Engkau takut kepada kemarahan mereka, namun kau tak pernah takut kepada murka-Ku."

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى:
يَابْنَ آدَمَ!
مَنْ أَصْبَحَ حَزِيْنًا عَلَى الدُّنْيَا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا، وَفِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَدًّا، وَفِي الآخِرَةِ إِلاَّ جَهْدًا، وَأَلْزَمَ اللهُ تَعَالَى قَلْبَهُ هَمًّا لاَ يَنْقَطِعُ عَنْهُ أَبَدًا، وَشُغْلاً لاَ يَفْرَغُ عَنْهُ أَبَدًا، وَفَقْرًا لاَ يَنَالُ غِنًى أَبَدًا، وَآمَالاً تَشْغَلُهُ أَبَدًا.
يَابْنَ آدَمَ! تَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عُمْرِكَ وَأَنْتَ لاَ تَدْرِي، وَآتِيكَ كُلَّ يَوْمٍ بِرِزْقِكَ وَأَنْتَ لاَ تَحْمَدُ؛ فَلاَ بِالْقَلِيْلِ تَقْنَعُ، وَلاَ بِالْكَثِيْرِ تَشْبَعُ.
يَابْنَ آدَمَ! مَا مِنْ يَوْمٍ إِلاَّ وَيِأْتِيكَ رِزْقُكَ مِنْ عِنْدِي، وَمَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلاَّ وَيَأْتِيْنِي الْمَلاَئِكَةُ مِنْ عِنْدِكَ بِعَمَلٍ قَبِيْحٍ؛ تَأْكُلُ رِزْقِي وَتَعْصِيْنِي، وَأَنْتَ تَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيبُ لَكَ، وَخَيْرِي إِلَيْكَ نَازِلٌ، وَشَرُّكَ إِلَيَّ وَاصِلٌ؛
فَنِعْمَ الْمَوْلَى أَنَا لَكَ!
وَبِئْسَ الْعَبْدُ أَنْتَ لِي!
تَسْتَلُّنِي مَا أَعْطِيكَ، وَأَسْتُرُ عَلَيْكَ سَوْءَةً بَعْدَ سَوْءَةٍ فَضِيْحَةً، وَأَنَا أَسْتَحْيِي مِنْكَ وَأَنْتَ لاَ تَسْتَحِي مِنِّي، تَنْسَانِي وَتَذْكُرُ غَيْرِي، وَتَخَافُ النَّاسَ وَتَأْمَنُ مِنِّي، وَتَخَافُ مَقْتَهُمْ، وَتَأْمَنُ غَضَبِي.

---Kitab Al-Mawaizh fi Al-Ahadis Al-Qudsiyyah (Hadis Qudsi: Risalah Cinta Penerang Jiwa) Imam Al-Ghazali, Salima Publika & Tasawuf Underground, 2017.

15/10/2023

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda, ” Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
-----
Karenanya jangan pernah mengabaikan, menyakiti, atau menyia-nyiakan wanita....
~ Ibu kandung kita
~ Istri kita
~ Anak kandung perempuan kita (bila punya)
~ Saudara kandung perempuan kita, bisa kakak atau adik (bila punya)

Dan ke-empat jenis wanita inilah yang menjadi tanggung jawab kita dihadapan اللّهُ سبحانه وتعالى. Kelak...!

***shofi sella melati***

Want your school to be the top-listed School/college in Semarang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Demak/jateng
Semarang