27/12/2021
"Ilmu itu nomor dua,
dan nomor satunya ialah amal.
Namun ilmu didahulukan daripada amal,
karena ilmu tetap diterima Alloh
meski tidak diamalkan"
MBAH MOEN
Share ulang pengajian dari tiga serangkai gus muda yang sangat cerdas tapi membumi. Ngaji bareng Gus Baha, Gus Kautsar, dan Gus Reza. Gus Baha Rembang.
Gus Kautsar Ploso. Gus Reza Lirboyo.
27/12/2021
"Ilmu itu nomor dua,
dan nomor satunya ialah amal.
Namun ilmu didahulukan daripada amal,
karena ilmu tetap diterima Alloh
meski tidak diamalkan"
MBAH MOEN
25/12/2021
Dialog Mbah Wali Gus Dur dan Syaikhona Mbah Yai Mustofa Bisri .
Gus Mus : Mengapa NU kok rasanya seperti Satpam di negeri ini?
Gus Dur : Maksudnya? .
Gus Mus : Saat negara mau diserang Sekutu, NU membela lewat resolusi jihad. Begitu juga NU selalu sigap di depan menghadapi DI/TII, PKI dan segala macamnya. Tapi begitu negara aman, NU malah duduk di pojokan sambil rokokan .
Gus Dur : Apa masih kurang mulia kalau kita menjadi Satpamnya Negeri ini? .
Dan.... dialog-pun terhenti .
Sugeng ambal warso Mbah Gusdur
sang guru bangsa Lahuma al-Faatihah.
(Dikutip dari cerita KH Musthofa Bisri saat Pengajian Akbar oleh LDNU Jabar di Masjid Raya Bandung, 13 Maret 2017)
23/12/2021
"KISAH DUA ULAMA REMBANG, KH. BAIDLOWI LASEM DAN KH. IMAM KHOLIL SARANG"
KH. BAIDLOWI LASEM
Tak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang kiprah ulama-ulama Nusantara di Mekkah atau Haramain. Padahal begitu banyak ulama Nusantara yang mendunia karena keluasan ilmunya, bahkan menjadi guru utama di Masjidil Haram. Salah satu di antara ulama-ulama itu adalah Kiai Baidlowi Lasem. Beliau dijuluki Alamu al-Makkiyin, ulama besar Tanah Haramain.
Kiai Baidlowi lahir di Lasem, Rembang Jawa Tengah pada 12 Syawwal 1297 Hijriyah atau 17 September 1880 Masehi. Darah genetiknya masih bersambung dengan Mbah Syambu Lasem (Pangeran Sambo). Nasab beliau yakni Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Aziz bin Kiai Baidlowi Awal bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Halim bin Pangeran Sambo (Mbah Syambu) bin Pangeran Benowo bin Sayyid Abdurrahman/Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya). Dari nasab ini berarti Kiai Baidlowi masih mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah Saw. Sebab, Mbah Syambu adalah seorang Sayyid (keturunan Rasulullah) yang bermarga Azmatkhan.
Daerah Lasem, tempat kelahiran Kiai Baidlowi sejak dulu dikenal sebagai tempat penyebaran agama Islam. Karena itu Lasem sampai saat ini dianggap sebagai salah satu kota santri. Konon, kiai-kiai besar di Tanah Jawa adalah keturunan dari kiai asal Lasem. Mereka tersebar ke berbagai daerah seperti Jombang, Pati, Langitan Tuban, Semarang, Jember, dan lain-lain. Sang ayah, Kiai Abdul Aziz adalah tokoh terkemuka di daerah Lasem, seorang mursyid Thoriqoh Sathoriyyah dan menguasai ilmu Syari'at dan Hakikat, kepadanya lah Kiai Badilowi belajar dasar-dasar ilmu keIslaman.
Semenjak sang ayah meninggal dunia ketika usia Kiai Baidlowi masih tergolong remaja, ia memutuskan melakukan pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Nusantara. Beliau belajar kepada Kiai Umar bin Harun Sarang, Kiai Idris Jamsaren Solo, dan Kiai Hasyim Padangan Bojonegoro. Setelah belajar ke banyak pesantren, Kiai Baidlowi melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Haramain. Di Mekkah, beliau berguru kepada ulama-ulama besar Haramain, selain itu beliau juga berguru kepada ulama Nusantara seperti Syech Mahfudz at-Tremasi, Syech Umar Syatha, Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan lain-lain.
Sejak di Haramain, Kiai Baidlowi Sudah dikenal kealimannya. Karena itu, ia dengan cepat diangkat sebagai ulama yang berwenang untuk mengajar di Masjidil Haram. Salah satu santri didikannya adalah Syech Yasin bin Isa al-Fadani. Bahkan karena kiprahnya yang menonjol di Tanah Haramain beliau masuk dalam kitab ‘Alamul al-Makkiyin karya Syech Abdullah Abdurrahman, sebuah kitab yang menghimpun ulama-ulama besar Makkah.
Namun demikian, sejak konflik Turki Utsmani-Arab terjadi berkepanjangan di Haramain, Kiai Baidlowi harus kembali ke Tanah Air. Kedatangannya disambut gembira oleh ulama dan masyarakat. Ia menjadi harapan perjuangan dakwah Islam, terutama melalui pondok pesantren al-Wahdah Lasem. Sejak kedatangannya, banyak santri berdatangan menimba ilmu di pesantren al-Wahdah. Sosoknya yang alim menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Di antara santri-santrinya yang menjadi ulama besar adalah Kiai Chudlori Tegalrejo Magelang, Kiai Maimoen Zubair Sarang, Kiai Asrori Magelang, Kiai Sahlan Temanggung, Kiai Dahlan, Kiai Hafidz Rembang, Kiai Hasyim Purworejo, Kiai Wahib Wahab Tambak Beras Jombang, dan Kiai Dimyathi Banten (Abuya Dimyathi Cidahu).
Selain kiprahnya dalam dakwah Islam, Kiai Baidlowi juga berperan dalam kemelut kenegaraan dan kebangsaan. Bahkan beliau adalah sosok yang pertama kali melegitimasi kepemimpinan B**g Karno. Ketika B**g Karno ditetapkan sebagai presiden pertama Republik Indonesia, sebagian kelompok Islam tidak setuju. Tarik ulur silih berganti antar sesama ulama mengenai hujjah atas status B**g Karno.
Setelah perdebatan tak menemukan titik temu alias deadlock, Kiai Abdul Wahab Chasbullah meminta saran Kiai Baidlowi.
Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, “Soekarno Huwal Waliyyul Amri Al-Dioruri Bisy Syaukah (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat). Dari legitimasi hukum yang keluar dari pernyataan Kiai Baidlowi, ulama-ulama besar seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Ma'shum Lasem dan sederetan kia-kiai NU akhirnya sepakat dengan pendapat Kiai Baidlowi.
KH. IMAM KHOLIL SARANG
Beliau lahir di sarang pada 1317 Hijriyah, atau bertepatan tahun 1900 Masehi. Beliau putra ke-4 (bungsu) dari pasangan Kiai Syu'aib bin Abdurrozaq dengan Nyai Sa'idah binti Kiai Ghozali. Adapun saudara-saudar beliau;
1. Nyai Hasanah (Ibunda Kiai Zubair Dahlan)
2. Nyai Zubaidah (Istri Kiai Abdullah)
3. Kiai Ahmad (Ayahanda Kiai Abdurahim)
4. Kiai Imam Kholil.
Ibunda beliau adalah putri tertua KH. Ghozali bin Lanah (perintis pertama Pesantren di Sarang). Dua orang kakaknya, yaitu Nyai Hasanah dan Kiai Ahmad, besanan. Sebab putra Nyai Hasanah yang bernama Kiai Zubair menikah dengan Mahmudah putri Kiai Ahmad. Dari pernikahan Kiai Zubair dan Mahmudah lahirlah Mbah Kiai Maimoen Zubair, ulama kharismatik yang mendapat julukan pakubumi nusantara yang meninggal pada 6 Agustus 2019 lalu.
Sebagaimana Ulama pada umumnya, Imam Kholil mengawali pendidikan agama kepada ayah beliau sendiri yakni Kiai Syu'aib. Saat berusia 15-17 tahun berbagai cabang ilmu beliau pelajari baik dari ayahandanya maupun dari Ulama-Ulama yang ada di Sarang pada masa itu. Materi-Materi yang umumnya dipelajari dikalangan pesantren seperti Al-Quran, nahwu, shorof, fiqih, hadis dan tasawwuf beliau kuasai dibawah bimbingan guru-guru yang merupakan Ulama-Ulama berkredibilitas dibidangnya.
Tidak puas dengan hanya belajar di daerah tempat tinggalnya saja, menginjak usia 21 tahun beliau melanjutkan pengembaraan ilmiyahnya ke daerah Bangkalan, Madura. Pada waktu itu pesantren Bangkalan diasuh oleh seorang Auliya' Masyhur Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif yang tersohor kealiman dan kewaliannya. Di bangkalan Mbah Imam berguru kepada Syaikhona Kholil tidak lama. Sebagaimana penuturan KH. Abdurrozaq (salah satu putra Kiai Imam Kholil) hanya sekitar setahunan Mbah Imam menuntut ilmu di Bangkalan.
Meskipun demikian, selama berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan Mbah Imam memiliki hubungan yang erat dengan gurunya tsb. Hal ini terbukti dari nama beliau yang dinisbatkan kepada gurunya tsb, sehingga Mbah Imam lebih dikenal dengan nama Imam Kholil. Selain itu Mbah Imam pernah berkata : "Aku iki muride Mbah Kholil Bangkalan" (Saya ini muridnya Kiai Kholil Bangkalan) dan dalam kesempatan lain beliau berkata : "Guruku iku Kiai Kholil, Maduro". (Guru saya itu Kiai Kholil Madura) Ini jelas menunjukkan pengakuan dan kekaguman beliau pada Syaikhona Kholil Bangkalan.
Ada cerita : pada suatu hari, Syaikhona Kholil marah besar pada santri-santri Gresik. Saking takutnya banyak santri yang lari ketakutan kecuali Mbah Imam, lalu Mbah Imam berkata : "Kenopo podo melayu kabeh santri iku?". (Kenapa semua santri berlarian?) Kemudian Mbah Imam datang menghadap Kiai Kholil dan bertanya : "Wonten nopo yi?" (Ada apa kiai?) Tanya Mbah Imam pada Kiai Kholil. "Santri-santri Gresik iku nek salaman tanganku dipethek" (kalau santri-santri Gresik bersalaman tanganku ditekan keras, beliau tidak s**a diperlakukan seperti itu). Dalam tata cara musofahah (bersalaman) tidak boleh sampai menyakiti orang yang dimintai salaman, meskipun sebetulnya bersalaman itu sunnah, karena ta'adduban (bertata krama).
Selain itu, suatu ketika beliau saat masih muqim di Makkah, pernah Mbah Imam didatangi oleh Kiai Kholil didalam mimpinya. Dalam mimpi tsb Kiai Kholil mengabarkan kewafatannya dan Mbah Imam berkata : "Nyuwun sewu yi, terose njenengan pun kapundut?". (Maaf kiai, katanya anda sudah wafat?) "Yo mam, wes thok watese" (iya mam, sudah mencapai batasnya umur) jawab Kiai Kholil. Hal ini tidak mungkin terjadi bila tidak ada hubungan yang erat diantara keduanya.
21/12/2021
Gus Baha selalu mengingatkan
"Setiap mukmin harus berpikir optimis/percaya diri untuk masuk surga.
Anda harus ingat, misalkan Anda takut, "Besok kalau saya su'ul khotimah gimana, kalau masuk neraka gimana..?"
Ya Anda nggak usah gimana-gimana, masuk neraka ya sudah, pantes saja, kan memang manusia.
Cuma masalahnya, kalau Anda mungkin masuk neraka, mestinya juga memberitahu hatimu, ya mungkin juga saya ini masuk surga.
Sekali-kali ngeluh gini, "Kalau saya sampai masuk surga gimana saya kan bingung, belum pernah lihat", sekali-kali GR gitu loh.
Jika seorang mukmin takut masuk neraka, harusnya jika iman beneran ya, mungkin juga masuk surga, tapi setan menggoda orang mukmin untuk membesar-besarkan kemungkinan masuk neraka, supaya tidak nyaman dengan Allah SWT.
Mestinya cara berpikirnya, aku ya mungkin masuk neraka ya mungkin masuk surga', sama-sama mungkin.
Orang itu ya takut su'ul khotimah, tapi jangan berlebihan akhirnya gak bisa mensifati Allah SWT.
Masuk surga itu ndak butuh amal banyak-banyak, hanya butuh rahmat dari Allah. Allah nggak akan kalah, kalau sudah berkehendak akan tetap menang.
Walaupun amalmu sedikit, kalau Allah berkehendak anda masuk surga, ya masuk surga.
Nabi Adam dulu masuk surga juga nggak modal, beliau belum beramal, belum apa, tiba-tiba hidupnya sudah di surga.*
19/12/2021
Gus Baha mengingat pada saat ia menikahi istrinya. Ia datang sendiri ke rumah mempelai wanita tanpa diiringi rombongan dan perayaan lainnya.
"Saya dulu pas nikah, punya anak buah banyak dan punya mobil banyak. Tapi saya nikah dari Jogja ke Pasuruan, istri saya dari Pasuruan naik bisa sendirian. Lalu sampai di sana diantar bapak lalu nikah," tambahnya.
Prinsip Gus Baha itu rupanya akan ia diterapkan juga kepada anak perempuannya. Sebab Gus Baha ingin benar-benar memegang teguh prinsipnya tersebut.
16/12/2021
1. Mencintai itu tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai, tapi juga harus sabar dilukai oleh yang dicintai.
2. Kita diminta untuk saling mengenal dan saling menasehati. Bukan saling menilai dan saling menghakimi.
3. Seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan, maka dari situlah kita akan tahu betapa besar cintanya kepadamu.
4. Siapa saja yang nikah, hindari omongan serius. Kalau mertua sedang jengkel sama menantunya, ingat cucunya, ingat anaknya. Insya Allah berkah.
5. Jika ada perselisihan antar-pasangan atau keluarga, ingatlah sesuatu yang baik-baik niscaya hati kita akan tenteram kembali.
( Dawuh Gus Baha )
15/12/2021
Gus Baha menerangkan, "Tidak ada kemubahan kecuali saat itu Anda meninggalkan keharaman. Anda tidur, berarti Anda tarkul maksiyat (meninggalkan kemaksiatan). Tidak mencuri, tidak dugem, tidak berzina, tidak menggunjing orang dan lain lain.
Jadi hidup di akhir zaman ini, tidur bisa menjadi nilai ibadah, karena setidaknya dengan tidur kita berhenti menggunjing orang lain, kita tidak maksiat, tidak zina, tidak dugem, tidak mencuri dan lain-lain.
Anggap saja tidur kita seperti, "Ya Allah saya mau tidur, meninggalkan maksiat. Jadi Malaikat Rokib - Malaikat ‘Atid diberi tahu, ini bukan sekadar tidur. Ini akan meninggalkan maksiat. Hitung mulai sekarang.
Anggap ini kiat meninggalkan maksiat. Tidur enam jam, akhirnya tidak maksiat enam jam meskipun akhirnya maksiat karena bangun jam tujuh. Artinya maksiat tidak Subuhan, hahaha," tawa Gus Baha' mengakhiri kajian.
14/12/2021
Gus Baha pernah menerangkan, "Setiap mukmin harus berpikir optimis/percaya diri untuk masuk surga. Anda harus ingat, misalkan Anda takut, Besok kalau saya su'ul khotimah gimana, kalau masuk neraka gimana..? Ya Anda nggak usah gimana-gimana, masuk neraka ya sudah, pantes saja, kan memang manusia.
Cuma masalahnya, kalau Anda mungkin masuk neraka, mestinya juga memberitahu hatimu, ya mungkin juga saya ini masuk surga. Sekali-kali ngeluh gini, Kalau saya sampai masuk surga gimana saya kan bingung, belum pernah lihat, sekali-kali GR gitu loh.
Jika seorang mukmin takut masuk neraka, harusnya jika iman beneran ya, mungkin juga masuk surga, tapi setan menggoda orang mukmin untuk membesar-besarkan kemungkinan masuk neraka, supaya tidak nyaman dengan Allah SWT.
Mestinya cara berpikirnya, aku ya mungkin masuk neraka ya mungkin masuk surga', sama-sama mungkin.
Orang itu ya takut su'ul khotimah, tapi jangan berlebihan akhirnya gak bisa mensifati Allah SWT.
Masuk surga itu ndak butuh amal banyak-banyak, hanya butuh rahmat dari Allah. Allah nggak akan kalah, kalau sudah berkehendak akan tetap menang.
Walaupun amalmu sedikit, kalau Allah berkehendak anda masuk surga, ya masuk surga.
Nabi Adam dulu masuk surga juga nggak modal, beliau belum beramal, belum apa, tiba-tiba hidupnya sudah di surga. Hahaha. Tawa Gus Baha.
Menyejukkan!
13/12/2021
Sungguh luar biasa Gus Baha.
Gus Baha selalu mengemas Islam dengan wajah yg santun, ringan, slow dan mudah dipahami. Gus Baha mengajak umat Islam memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yg lebih luas.
Seperti misalnya, ketika ada seorang kiai yang berteman dengan orang non muslim, Gus Baha melarang umat Islam berfikiran buruk, apalagi menghujat kiai itu. Gus Baha mengajak berpikiran positif bahwa kiai itu masih memiliki harapan pada orang non muslim agar anak keturunannya bisa memeluk Islam. Persis dengan harapan Rasulullah kepada orang-orang yg menentang dakwahnya. Ketika pikiran positif ini dijadikan sudut pandang melihat segala sesuatu, maka yg tampak adalah keindahan rahmat Allah Swt.
Dalam beberapa kesempatan, Gus Baha juga menempatkan diri sebagai pembela orang-orang awam. Termasuk pembela santri-santri yang dianggap kurang pintar. Menurut Gus Baha, santri kurang pintar pun ada barokahnya, ada manfaatnya.
Dulu, Mbah Hamid Pasuruan dan Mbah Moen, tidak pernah benci sama santri yang kurang pintar. Karena prinsip yang digunakan itu robbana ma kholaqta hadza bathila. Semua yang diciptakan oleh Allah Swt tidak ada yg sia-sia.
Gus Baha lalu menerangkan di mana letak barokahnya santri kurang pintar. Kalau ada santri pintar, yg dibahas pasti soal furuiyah. Misalnya bagaimana hukumnya shalat Jum’at kurang dari 40 orang. Dia mikir furuiyah. Sementara santri kurang pintar, tinggal di desa tertinggal, tak ada masjid. Akhirnya dia mikir, bagaimana caranya bangun masjid. Itulah Allah Swt yg menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia.
Rasulullah pun tidak pernah membenci sahabatnya yg kurang pintar. Rasul tetap mengajarinya, meski sesuai dgn kepasitas. Gus Baha menceritakan kalau terhadap sahabat yang kurang pintar, Rasulullah mengajari satu ayat saja, selesai. Langsung disuruh pulang.
Dengan menggunakan kaca mata robbana ma kholaqta hadza bathila untuk memandang segala sesuatu, tentu wajah Islam yg muncul ke permukaan adalah wajah yg santun dan ramah. Bukan Wajah Islam yg gampang panik dan gampang marah. Maka, slow lah dalam melihat sesuatu, nasehat Gus Baha.
13/12/2021
engan kesulitan kita hari ini jangan membuat sesuatu yang mudah jadi dipersulit.
Yang disampaikan Gus Baha seringkali terdengar buat nyesek, namun kalau dipikir secara akal sehat benar juga.
"Hidup ndak perlu dibuat sulit, yang penting tidak maksiat menjadi pribadi yang menyenangkan serta bermanfaat bagi orang lain itu sudah sangat cukup".
Semoga kita menjadi umat yang kelak mendapat syafaat Baginda Rasulullah Muhammad SAW kelak di yaumul qiyamah.
Amin...
12/12/2021
Kita diminta untuk saling mengenal dan saling menasehati. Bukan saling menilai dan saling menghakimi. (Gus Baha)
11/12/2021
Saat kamu merasa tidak ada orang yang berada di pihakmu, tenanglah, masih ada Allah yang selalu ada bersamamu.