02/07/2026
Program Studi Magister dan Doktor Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro kembali melaksanakan kegiatan Visiting Professor dengan mengundang Prof. Kamaludeen bin Mohamed Nasir, Ph.D. dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, pada 29-30 Juni 2026 secara hybrid. Dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., kegiatan ini diawali dengan kuliah umum yang berjudul “Constructing Ethno-Religious Identity: Islam, State, and Society in Southeast Asia.” Pada sesi ini, Prof. Kamaludeen memaparkan bagaimana identitas etnis dan agama dibentuk serta dikelola oleh negara dengan mengambil studi kasus di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Selain kuliah umum, mahasiswa Program Studi Magister dan Doktor Sejarah FIB Undip juga mendapat kesempatan untuk mengkonsultasikan artikel mereka yang direncanakan untuk dapat terbit pada jurnal internasional. Sesi konsultasi ini dilakukan secara hybrid p**a sehingga mahasiswa yang berada di luar Kota Semarang tetap mendapatkan kesempatan yang sama.
———
The Master’s and Doctoral Programs in History, Faculty of Humanities, Diponegoro University, once again held a Visiting Professor event by inviting Prof. Kamaludeen bin Mohamed Nasir, Ph.D. from Nanyang Technological University (NTU), Singapore.
This event took place over two days, on June 29–30, 2026, in a hybrid format. Opened by the Dean of the Faculty of Humanities, Diponegoro University, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., the event began with a public lecture entitled “Constructing Ethno-Religious Identity: Islam, State, and Society in Southeast Asia.” In this session, Prof. Kamaludeen presented how ethnic and religious identities are constructed and managed by the state, using case studies from Singapore, Malaysia, and Indonesia.
In addition to the public lecture, students of the Master’s and Doctoral Programs in History at FIB Undip also had the opportunity to consult their articles intended for publication in international journals. This consultation session was also held in a hybrid format, so students outside Semarang could participate equally.