31/07/2021
Kembali membaca
Sanad KITAB FUTUHUL GHOIB
Syekh Abdul Qadir Al Jailani RA
MAQOLAH KE 3
HIKMA MENDAPATKAN UJIAN
Ketika seorang hamba mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama dia mencoba
bergerak mengatasinya dengan usahanya sendiri. Maka apabila tidak mampu menyelesaikan/gagal dia mencari pertolongan kepada orang lain. Seperti kepada raja, penguasa, orang kaya atau jika sakit, kepada dokter. Namun jika hal ini pun tidak menemukan solusi maka dia baru kembali kepada Allah SWT, berdo’a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian.
Sebaliknya jika dia mampu mengatasinya sendiri, maka dia tidak meminta tolong kepada sesamanya, demikian p**a jika dia berhasil karena sesamanya, maka dia tidak kembali kepada Allah SWT.
Kemudian jika seorang hamba tidak p**a memperoleh pertolongan dari Allah SWT, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah SWT, dan terus demikian, mengangkat kedua tangannya mengemis, berdo’a merendah diri, memuji, memohon dengan penuh harap dan cemas. Namun, Allah SWT membiarkan dia sampai letih dalam berdo’a dan tidak mengabulkannya, sehingga dia memutus semua sebab-sebab/sarana yang ada di dunia.
Maka kehendak Allah SWT mewujud melaluinya, tindakan Allah SWT mewujud melaluinya dan hamba ini berlalu dari segala sebab-sebab sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.
*Maka pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah SWT; tidak ada penggerak tidak p**a penghenti, selain Allah SWT; tidak ada kebaikan, kejahatan, tidak p**a kerugian dan
keuntungan, tiada faedah (manfaat), tiada memberi tiada p**a menahan, tiada awal, tiada akhir, tidak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tidak ada kelimpahan (kaya) dan kemiskinan, kecuali karena Allah SWT*.
Maka di hadapan Allah SWT dalam kehendak Allah SWT, hamba bagaikan bayi di tangan perawat, bagaikan mayat dimandikan ditangan yang memandikan, dan bagaikanbola di tongkat pemain kuda, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan dia merasa tidak berdaya. Dengan demikian, dia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah SWT. Maka tidak dilihatnya kecuali Allah SWT dan kehendak-Nya, tidak didengar dan tidakdipahaminya, kecuali Allah SWT. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak Allah SWT; jika diamendengar atau mengetahui sesuatu, maka dia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, dia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-janji Allah SWT, dan bertumpu pada firman-Nya. dia merasa enggan dan menolak segala selain
Allah SWT, dia rindu dan senantiasa mengingat Allah SWT; makin mantaplah keyakinannya pada Allah SWT Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. dia bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada Allah Subhana hu wata'ala...
CATATAN :
- *La Haula wala quata ila bilahil aliyyil adzim* tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali kekuatan dan kehendak Allah yang maha tinggi dan agung.
- Allah SWT berfirman:
*Ma yuridullahu liyaj'ala 'alaikum min harajin walakin yuridu liyuthohirokum*
Allah SWT tidak menghendaki untuk menyulitkan kalian, tetapi Allah SWT hendak membersihkan kalian. Al-Maa-idah ayat 6.
- *wa Allahu yuridu ayyatuba Alaikum*
Dan Allah SWT menghendaki kalian taubat.
Annisa' ayat 27
- *yuridu Allah bikumul Yusra wala yuridu bikumul 'usro*
Allah SWT menghendaki kemudahan bagi kalian. dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian. Al-Baqarah ayat 185