19/06/2026
Di tengah ketatnya persaingan dunia pendidikan, sekolah dituntut terus melakukan inovasi. Sebab dengan banyaknya program itu mereka bakal dilirik.
Seperti SMK Negeri 3 Selong yang terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu sekolah kejuruan unggulan di Lombok Timur. Bukan karena gencar beriklan, tetapi karena prestasi, kedekatan dengan industri dan keberhasilan alumninya menembus dunia kerja hingga ke Jepang.
"Yang membuat calon siswa tertarik masuk ke sini adalah cerita dari kakak kelas dan berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama dunia industri. Itu yang paling efektif," ujar Kepala SMKN 3 Selong, Ruslan, Kamis (18/06/2026).
Berbagai perusahaan besar seperti Honda dan Yamaha rutin hadir di lingkungan sekolah tersebut. Mereka tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mengadakan servis gratis, guru tamu, hingga program magang yang berujung pada penyerapan tenaga kerja.
Menurut Ruslan, banyak siswa yang saat menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) justru diminta langsung bekerja oleh perusahaan tempat mereka magang. Setelah oleh pihak perusahaan dinilai memiliki kompetensi dan sikap kerja yang baik.
Mereka imbuhnya tidak perlu lagi kembali belajar di sekolah, cukup menyelesaikan ujian sekolah dan laporan dari pembimbing industri menjadi bagian dari nilai rapor mereka. Ia menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah SMK adalah ketika sebagian besar alumninya terserap dunia industri.
"Bagi kami, akhir dari pendidikan SMK adalah bekerja. Ketika alumni langsung direkrut perusahaan, berarti tujuan pendidikan itu sudah tercapai," tegasnya.
Tak hanya di dalam negeri, sejumlah alumni SMKN 3 Selong juga telah sukses berkarier di Jepang. Pada tahun lalu, sedikitnya 10 alumni mengikuti program kerja di Negeri Sakura.
Sebagian di antaranya telah mengantongi sertifikasi Specified Skilled Worker (SSW) yang memungkinkan mereka bekerja secara profesional dengan pendapatan mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan, jauh di atas program magang biasa.
"Kalau yang memiliki sertifikat SSW, mereka bisa bekerja lebih lama di Jepang dan penghasilannya lebih besar. Mereka bukan lagi peserta magang, tetapi tenaga kerja profesional," katanya.
Tingginya kepercayaan masyarakat juga tercermin dari jumlah pendaftar. Hingga 16 Juni 2026, sebanyak 345 siswa telah resmi mendaftar, sementara lebih dari 670 calon siswa telah bergabung dalam grup pra-pendaftaran.
Padahal, target penerimaan tahun ini hanya 432 siswa yang akan dibagi ke dalam 12 rombongan belajar (rombel).
Ruslan meluruskan informasi yang sempat beredar terkait minimnya peminat di SMKN 3 Selong.
"Itu tidak benar. Kami bukan kekurangan pendaftar. Bahkan beberapa jurusan sudah melebihi kuota, seperti Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) serta Teknik Sepeda Motor (TSM)," ujarnya.
Namun demikian, pihak sekolah memilih tidak menambah jumlah rombel secara berlebihan demi menjaga kualitas pembelajaran. Selama sumber daya manusia dan sarana prasarana belum memadai.
"Yang kami utamakan adalah kualitas pelayanan pendidikan," katanya.
Saat ini, SMKN 3 Selong membuka enam konsentrasi keahlian, yakni Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Audio Video (TAV), Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Sementara dua program, yakni Pengelasan dan Pengembangan Gim, untuk sementara tidak dibuka karena keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas pendukung.
"Kami tutup bukan karena tidak ada peminat, tetapi karena mempertimbangkan kesiapan sekolah agar pelayanan pendidikan tetap maksimal," jelas Ruslan.
Ia berharap seluruh lulusan SMKN 3 Selong nantinya mampu mewujudkan konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha) yang menjadi tujuan utama pendidikan vokasi.
"Harapan kami, ketika mereka lulus dari sini, mereka sudah memiliki kompetensi yang siap digunakan untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, atau membuka usaha sendiri," pungkasnya.