Sekolah Tenera - Bengkulu

Sekolah Tenera - Bengkulu SELAMAT DATANG di situs facebook Sekolah Tenera. // Welcome to the Official Sekolah Tenera - page. // Peace, Love & Education. Sering berolahraga.

......................................................................................

Di Sekolah Tenera ada:

1) PAUD
2) Sekolah Dasar,
3) SMP,
4) SMA. Selain itu, ada p**a canda tawa dan s**a ria. Semua belajar bersama, bermain bersama: para murid, orangtua murid dan juga para guru harus terus belajar. Sesekali, Sekolah Tenera menyanyi, menari dan bermain Teater. Sering juga berlari sekencang

-kencangnya demi mengejar hal-hal yang memang perlu kami kejar. Sekolah Tenera mengidamkan suasana pendidikan yang merdeka dan melegakan khalayaknya. Jika ingin bergabung atau berpartisipasi untuk menghidupkan suasana belajar yang ceria dan melegakan sebanyak mungkin kalangan, silahkan menulis komentar atau surat berperangko atau surat elektronik. Jika ingin mengirim uang, dengan senang hati akan kami terima, asalkan tanpa syarat. Demikianlah sedikit tentang kami. Semoga membahagiakan pembacanya. Salam. Mari bermain, mari belajar, mari berjuang untuk kebaikan. Sebab ada tertulils di dekat kaki burung yang perlambang: Bhinneka Tunggal Ika.
....................................................................................

COMMENT POLICY: We love your comments and opinions, but please be respectful of others and keep it friendly. We reserve the right to delete profane, defamatory, harassing, abusive and spam comments and to block repeat offenders.
....................................................................................

Catatan:

1) PAUD dipimpin oleh Santi Lastri dan Sofianita
2) SD dipimpin oleh Aprianti Tormauli dan Sutarti
3) SMP dipimpin oleh Mulyanto dan Ros Dasawati
4) SMA dipimpin oleh Anggiat Rutherford dan Juni Anita
5) Pengurus Sekolah Tenera dipimpin oleh Agriani Novita, Ema Hikmawati dan Betty Theorida P.


* updated 28 Oktober 2012

PGRI Berusia 75 Tahun: Inilah Profil Singkat Sejarah PerjalanannyaPada saat ini ada beberapa organisasi profesi guru, se...
25/11/2020

PGRI Berusia 75 Tahun: Inilah Profil Singkat Sejarah Perjalanannya

Pada saat ini ada beberapa organisasi profesi guru, seperti: PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), IGI (Ikatan Guru Indonesia), FGII (Forum Guru Independen Indonesia), FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia), FKGH (Forum Komunikasi Guru Honorer), dan yang lainnya. Di antara organisasi profesi guru tersebut, PGRI dikenal sebagai organisasi guru yang paling tua usianya. Tanggal 25 November 2020, organisasi PGRI memasuki usia 75 tahun.

Usia yang tidak muda lagi bagi salah satu organisasi profesi yang lahir menyusul setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenal lebih lanjut tentang organisasi profesi guru tertua di Indonesia ini, berikut ulasan singkat sejarah perjalanannya berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar PGRI.

Semangat keindonesiaan telah lama tumbuh di kalangan guru-guru Indonesia. Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri pada tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua yang menggunakan bahasa pengantarnya bahasa daerah ditambah bahasa Melayu.

Pada saat ini ada beberapa organisasi profesi guru, seperti: PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), IGI (Ikatan Guru Indonesia), FGII (Forum Guru Independen Indonesia), FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia), FKGH (Forum Komunikasi Guru Honorer), dan yang lainnya. Di antara organisasi profesi gur

Flores merupakan p**au dengan destinasi wisata paling lengkap di Indonesia. Ada Danau Kelimutu, reptil purba komodo, ber...
17/07/2020

Flores merupakan p**au dengan destinasi wisata paling lengkap di Indonesia. Ada Danau Kelimutu, reptil purba komodo, beragam rumah adat, aneka bahasa, tenun ikat, pesona pantai, keindahan gunung, dan wisata rohani.

Destinasi itu membentang sepanjang 643 kilometer jalan Trans-Flores dari Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat sampai Larantuka di Kabupaten Flores Timur. Detusoko berada di pertengahan Flores.

Konsep wisata berbasis pengalaman itu tidak lahir begitu saja. Nando menemukannya di belahan bumi yang lain saat ia menimba ilmu kepariwisataan selama satu tahun (2014-2015) di Florida, Amerika Serikat. Ia membawa konsep itu dan menerapkannya di Detusoko, kemudian ditularkan ke desa-desa terdekat.

Setidaknya 1.000 wisatawan asing telah menikmati konsep wisata berbasis keseharian itu dengan penerima manfaat lebih dari 4.000 orang warga setempat.

https://jelajah.kompas.id/ekspedisi-wallacea/baca/ferdinandus-watu-pembawa-mimpi-detusoko/

Ferdinandus Watu
Desa Detusoko
Kabupaten Ende
Pulau Flores

Rilis: 21 Oktober 2019

Di masa kecil, Ferdinandus Watu (33) pernah menerbangkan mimpi dari kampungnya yang berada di kaki Gunung Kelimutu, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mimpi anak kampung itu tak lain adalah ingin memajuk…

06/05/2020

In Memoriam ”The Lord of Ambyar”

Hidup Didi Kempot memang sungguh ambyar dengan kematiannya yang tak diduga orang. Komplet sudah perjalanannya sebagai ”The Lord of Ambyar”.

Oleh SINDHUNATA

Kompas, 6 Mei 2020

Tak jauh sebelum Covid-19 datang, orang-orang sampai ke pelosok Nusantara ini sudah akrab dengan kata ambyar. Pewarta pengertian ambyar itu adalah Didi Kempot, ”The Lord of Ambyar”. Ternyata Covid-19 benar-benar datang dan membuat ambyar semua yang dibangun manusia. Kata-kata Didi Kempot seakan adalah ramalan tentang ambyar yang kemudian menjadi kenyataan.

Kalau Covid-19 bagaikan Lord Voldemort yang menghancurkan kehidupan, Didi Kempot adalah The Lord of Ambyar yang mewartakan bahwa ambyar adalah kebenaran, dan hidup ini sesungguhnya rapuh dan mudah berantakan. Warta itu benar, ketika manusia, sang raksasa kesombongan dan kebesaran ini, bisa dirobohkan oleh Covid-19, yang kecilnya melebihi seperseribu debu.

Ambyar adalah kebenaran, dan hidup ini sesungguhnya rapuh dan mudah berantakan.

Akhirnya, Didi Kempot membuktikan kebenaran itu. Bukan hanya dengan mengumbar kata dan lagu, tetapi dengan hidupnya sendiri yang amat rapuh. Hidupnya roboh dan habis di tengah ia sedang menikmati ketenaran yang tak terbilang. Ia membuktikan, hidupnya memang sungguh ambyar dengan kematiannya yang tak diduga orang. Komplet sudah perjalanannya sebagai The Lord of Ambyar.

Di tengah mengganasnya Covid-19 yang membuat ambyar hidup manusia, kematian The Lord of Ambyar ini bagaikan sebuah warta Zarathustra, ”Kulihat sedang datang kesedihan luar biasa tentang manusia. Bahkan mereka yang terbaik pun lelah dengan segala jerih payahnya. Sebuah ajaran datang, diiringi kepercayaan: semuanya hampa belaka, semuanya sama saja.”

Memang robohnya The Lord of Ambyar di puncak ketenaran adalah lagunya terakhir tentang vanitas vanitatum, omnia vanitas, sic transit gloria mundi—kesia-siaan dari segala kesia-siaan, semuanya sia-sia, demikianlah kemuliaan dunia akan berakhir.

*Bukan sekadar kata*

Pada Didi Kempot, ambyar bukan sekadar kata. Ambyar adalah perjalanan hidupnya. Ia tidak banyak mengenyam pendidikan sekolah. Maklum, ia hanyalah anak Ranto Gudel, seniman miskin.
Untuk mulai mengamen, ia harus menjual sepedanya agar ia bisa membeli gitar. Ia mulai mengamen di Stasiun Balapan, Solo. Kemudian menjadi pengamen di Jakarta. Tak jarang, di malam hari, ia tidur di emperan toko setelah lelah mencari nafkah.

Ia mengamen dengan sembilan temannya, dan menamakan grupnya ”Kempot”, akronim dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Jadi, nama Didi Kempot sungguh berasal dari pengalaman hidup yang berat itu.

Di kemudian hari Kempot ternyata membawa dia jadi terkenal. Kenangnya, nama Kempot mudah diingat orang, siapa tahu nanti membawa rezeki seraya mengingatkan diri bahwa orang akhirnya mati. Mau atau tidak, manusia akan menjadi tuwek, elek, kempot, terus matek. Tua, jelek, kempot, lalu mati.

Kempot mengingatkan, pada akhirnya sia-sialah segala kecantikan, ketampanan, kekayaan, dan kekuasaan. Ketika ngunduri tuwa, menginjak tua, semuanya itu tidak banyak berarti lagi. Pada saat itu, orang tiba-tiba dihadapkan hanya pada keinginan untuk urip tentrem nggo nggoleki dalane pati: hidup tenteram untuk melapangkan jalan menuju mati.

Eksistensi kempot demikian ini sudah dilihat Didi Kempot di masa mudanya yang susah. Dan, kempot itu akhirnya menjadi eksistensinya: ia kempot, habis, dan berp**ang di saat namanya menjulang.

Sungguh sebuah ironi. Dan, Didi Kempot telah menjadi ironi bagi kesia-siaan ini.

Didi mengaku, dirinya banyak belajar hidup dan seni dari ayahnya, Ranto Gudel. Mungkin karena itu, lagu-lagu Didi Kempot banyak bersenandung tentang cinta yang kalah.

Dari Ranto Gudel, ia sudah tahu cinta manusia itu rapuh, hidup ini sering sia-sia. Memang Ranto Gudel pernah bersenandung, cinta manusia itu seperti Umbul Pengging, dulu bening sekarang keruh, dulu kerajaan sekarang desa.
Ranto Gudel juga pernah berseloroh, dadi wedhus luwih enak timbang manungsa, jadi kambing lebih enak daripada manusia. Jika mati, manusia dikubur di gundukan tanah, di sana bisa-bisa kepalanya dikencingi kambing. Memang nasib manusia sering hanya sengsara sampai akhirnya.

Sudah lama Didi Kempot merintis kariernya, tetapi baru-baru ini saja karya-karyanya meledak. Belum lama ia boleh menikmati hasil yang dicarinya dengan susah payah, mendadak ia sudah harus berp**ang ke gundukan tanah. Itulah nasib kebanyakan seniman jelata yang berangkat dari bawah.

Lagu-lagu Didi Kempot banyak berkisah tentang rindu. Ia seperti mencari yang tak pernah ketemu. Seperti didendangkannya: ”Seribu kota sudah kulewati, seribu hati sudah kutanyai, tapi sampai kini, semuanya tak mengerti, ke mana kau pergi, bertahun-tahun aku mencari, tak juga kau kutemukan sampai hari ini.”

Pada Didi Kempot hidup ini seakan hanyalah mencari, bukanlah menemukan, apalagi mendapatkan. Justru karena mencari, manusia tidak tahu dengan pasti, apa yang akan diperolehnya nanti. Dan, karena tidak tahu dengan pasti, manusia dikuatkan harapannya untuk terus mencari. Dengan harapan, manusia kemudian mengerti, yang dicarinya ternyata lebih daripada sekadar materi.

Sekarang manusia hanya berhenti pada materi. Ia telah merasa menemukan karena itu ia tidak mau mencari lagi. Covid-19 telah membuka penemuan manusia itu ternyata keliru. Bangunan-bangunan yang cenderung material, seperti kapitalisme, konsumerisme, juga kekuasaan yang mengandalkan uang, agama-agama yang melulu ritual dan formal, semua ambyar.

Manusia dikembalikan kepada kodratnya yang kecil dan tak berdaya. Karena itu, ia tidak bisa lagi mengandalkan kesombongannya. Ia harus membangun harapan secara baru. Di sana ia tahu, sebenarnya tak banyak yang ia butuhkan. Boleh hidup saja, rasanya sudah lebih dari cukup daripada ditelan kehancuran oleh wabah yang tak kelihatan.

Memang, jika cinta saja bisa gagal, apalagi nafsu akan materi. Didi Kempot sudah mengingatkan: tak tandur pari, jebul tukule suket teki, padi yang kutanam, ternyata yang tumbuh alang-alang.

Sudah seharusnya kita berterima kasih, jika kita boleh sekadar menumpang istirahat di dunia yang bukan milik kita ini.

Kebalikan dari lagu keroncong ”Roda Dunia”, hidup Didi Kempot ”sekarang bermegah, dulu susah”. Ia sudah terbiasa untuk hidup tak berumah. Mungkin itulah yang mendorong ia menciptakan lagu ”Nunut Ngiyup” dengan jenaka.

Di dunia ini kita memang hanya nunut ngiyup, menumpang bernaung, tetapi ternyata kita menjadikan dunia ini jajahan kita. Kita tak berpikir ke depan, puas bernikmat-nikmat dengan keserakahan kita sekarang. Covid-19 menjadikan buah keserakahan kita ambyar.

Kita ditegur, dunia ini bukan hanya milik kita, tetapi juga milik anak cucu kita. Jangan kita memberikan apa yang sudah rusak kepada mereka. Covid-19 mengingatkan, di dunia ini kita nunut ngiyup belaka. Karena itu, dengan gembira Didi Kempot mengajak kita untuk nunut leren, kulo nunut leren: sudah seharusnya kita berterima kasih, jika kita boleh sekadar menumpang istirahat di dunia yang bukan milik kita ini.

*Kesetiaan yang dikhianati*

Didi Kempot banyak bersenandung tentang ingkar janji, kesetiaan dan cinta yang dikhianati, serta menantikan dia yang tak pernah kembali. Senandungnya memang untuk mereka yang patah hati. Namun, senandungnya ternyata juga menggugah, betapa rapuhnya kesetiaan manusia ini. Dengan yang terdekat saja susah bersetia, apalagi sesamanya, lebih lagi dengan Penciptanya.
Ketidaksetiaan itu tidak hanya mengakibatkan patah hati, tetapi juga ambyarnya ikatan sosial dan berantakannya pengelolaan hidup ini, dari bidang ekonomi, sosial, sampai politik. Dalam kaitan ini, seakan bukan kebetulan bahwa Didi Kempot tidak hanya menjadi The Lord of the Broken Heart, tetapi juga The Lord of Ambyar. Dan, The Lord of Ambyar ini seakan dinantikan zaman.

Kedatangannya diikuti goro-goro pagebluk Covid-19. Pagebluk ini mengingatkan, di zaman susah dan derita, tak ada yang lebih indah daripada kesetiaan. Kita diajak untuk setia kepada sesama, kepada bangsa dan negara, dengan berbagi kepada mereka yang berkekurangan dan menderita.

Covid-19 jadi batu uji, apakah kita bisa menjadi manusia yang tak ingkar janji dan bisa bersetia pada sesama, lebih-lebih mereka yang miskin. Untuk itu kita perlu diterangi, seperti dijeritkan Didi Kempot di ”Nickerie”: Rembulan sing ngilo ono segoro, padhangno ati kulo, bulan yang becermin di samudra, terangi hati kami.

Kepergian mendadak The Lord of Ambyar di tengah pandemi Covid 19 ini kiranya meninggalkan banyak pesan. Dan, untuk itu Didi Kempot sendiri sudah memberikan teladan. Ia mengadakan konser di rumah saja, dan berhasil menggalang dana Rp 7,6 miliar untuk disumbangkan kepada mereka yang dirundung malang. Ini membuktikan bahwa sebuah perjalanan yang ambyar tidak harus p**a berakhir dengan ambyar.

Sebelum menghadapi ambyarnya yang final, Didi Kempot menunjukkan bahwa hidup ini ternyata indah dan mempunyai arti karena ia telah mempersilakan sesamanya yang menderita untuk ”ngalemo, ngalem ing dadaku, tambanano rasa kangen neng atiku, bermanja, bermanjalah di dadaku, sembuhkanlah rasa rindu di hatiku”.

Selamat jalan The Lord of Ambyar, kau telah menguatkan kami yang patah hati, dan kini kau pergi dengan bukti, hidup bukanlah sia-sia belaka.

11/10/2019

Info menarik dari Panitia Inti LSA 7
Pak Wiwin, Pak Tonggo, Pak Teguh.

Ditulis oleh Tonggo. Kamis, 10 Oktober 2019.
———

Salam olahraga!

Seperti tahun-tahun sebelumnya, KOGRI kembali mengadakan kompetisi sepakbola yang dinamakan Liga Sportif Agricinal (LSA). Dimulai tahun 2009, kali ini adalah LSA yang ke 7.

Ada 8 klub penghuni tetap dari kompetisi ini dibagi dalam dua grup, terdiri dari tiga klub dari bidang Kebun Inti bernama Turnera Fc, Rolling Fc, dan Alamanda Fc.

Kemudian ada dua klub dari Yayasan Sekolah Tenera yaitu klub Dragon Ball dan Eleven Dragons. Serta masing-masing satu klub dari bidang Umum, gabungan bidang Transport dan Sipil dan bidang PMKS. Secara berurutan yaitu Mandalika Fc, Rajawali Fc dan Scorpio Fc.

Para pemain yang terlibat di kompetisi LSA ini bisa dikatakan lintas generasi, karena terdiri dari para pelajar dan karyawan Agricinal. Untuk itu setiap pertandingan akan sangat menarik disaksikan. Kita bisa melihat anak dan bapak berlomba menjadi juara dalam satu kompetisi dengan catatan sportifitas tetap menjadi nomor satu.

Kompetisi akan dimulai pada hari Sabtu 12 Oktober 2019 di Lapangan Gelora Sekolah Tenera pada pukul 15.30.

Pertandingan perdana ini akan diawali dengan partai dari Grup A antara juara bertahan Dragon Ball melawan Turnera Fc.

Pertandingan dilaksanakan setiap akhir pekan Sabtu dan Minggu, oleh karena itu jangan ketinggalan menyaksikan pertandingan demi pertandingan.

Address

Jalan Bersama Dalam Keberagaman No. 1982
Seblat
38362

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sekolah Tenera - Bengkulu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category