29/05/2018
*Kisah Unik, Kadisdik Menjadi Guru*
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Ini kisah paling unik dalam dunia pendidikan kita. Mungkin hanya ada satu kisah di negeri ini bila seorang kadisdik “dimutasi” menjadi seorang guru kembali. Kisah ini berawal saat Saya ditugaskan menjadi nara sumber membimbing penulisan artikel di Pustekom Kemdikbud kerjasama dengan PB PGRI di Depok, tanggal 22 sampai tanggal 25 Mei 2018.
Saya sangat kaget dan bertanya, benarkah Bapak I Gde Ariyasa Pernah menjadi Kadisdik Karanganyar dan kini menjadi guru biasa? Ternyata benar. Ia bahkan bertugas di sekolah SMPN dimana kepala sekolahnya adalah guru yang dahulu Ia promosikan menjadi kepala sekolah. Ia bertugas di sekolah dimana kepala sekolahnya dahulu “bawahan” kini menjadi pimpinannya.
Setelah diskusi dan didalami dari sosok I Gde Ariyasa Ia nampak terlihat sosok yang berkarakter. Ia memiliki kepribadian yang matang, rendah hati dan memiliki spiritualitas yang baik. Terlihat dari bicara dan perilaku saat acara berlangsung. Mungkin bagi sejumlah orang karir yang sudah tinggi dan puncak kemudian saat kembali ke bawah akan menimbulkan stress. Bahkan beberapa ada yang sakit dan meninggal. I Gde Ariyasa jauh dari mental seperti itu.
Seorang kadisdik menjadi guru kembali hanya terjadi di Karangasem Bali. Ini adalah sebuah kisah unik sekaligus kisah “politisasi dunia pendidikan” yang cukup ekstrim. Bila politik sudah berbicara maka segala cara bisa terjadi. Saat Saya tanya I Gde Ariyasa kok bisa bapak dari struktural menjadi guru? Ia menjawab dahulu saya adalah guru pak. Saya agak kaget! Wow. Ini namanya politisasi pendidikan.
I Gde Ariyasa adalah sosok prestatif. Ia pernah menjadi guru SMAN berpretasi nasional ke 1 pada tahun 2003. Ia bukan sembarang guru, puluhan tulisan dan prestasinya cukup gemilang. Inilah yang menjadi portofolio dirinya kemudian menjadi kadisik di Kabupeten Karangasem pada tahun 2011. Kini Ia sudah menjadi guru kembali.
Terkuak kisah unik dirinya berasal dari seorang guru SMAN 2 Amlapura, kemudian menjadi guru SMAN1 Sidemen dan kemudian tahun 2006 menjadi kepala SMPN 1 Amlapura. Pada tahun 2009 diangkat menjadi kepala SMAN 2 Amlapura. Ia menjadi pejabat struktural kadisdik Karangasem buah dari perjalanan prestasi seorang guru. Kini Ia menjadi guru biasa di SMPN Abang, kembali “buah” politisasi penguasa lokal.
Pelajaran yang dapat dipetik bahwa setiap guru yang prestatif dapat mencapai karir yang baik dan mampu menjadi seorang kadisdik. Begitu cepat melesat dari kepala SMAN menjadi kadisdik dan begitupun sebaliknya dari kepala SMAN dapat turun dengan cepat menjadi guru kembali. Politisasi pendidikan masih kental dalam dunia guru, waspadalah.
Pelajaran selanjutnya, jabatan hanyalah amanah dan Ahmad Albar mengatakan “Dunia ini panggung sandiwara”. La Tahzan, jangan bersedih. Bapak I Gde Ariyasa telah berhasil luar biasa “naik dan turun”. Ia sudah mengalami irama hidup dengan utuh. Kesejatian hidup dan kebijaksanaan biasanya terlahir dari pengalaman hidup multidimensi. Hidup adalah sebuah perjalanan, Tuhan telah menuliskan akan bagaiman hidup kita. Bahkan matinya kita.
Pelajaran terkahir yang bisa kita petik. Menjadi guru itu adalah sebuah kehormatan yang luar biasa. Maaf lebay, bagi Saya tidak ada pekerjaan dan kehormatan selain menjadi guru yang prestatif dan bermanfaat. SBY saja saat habis masa jabatan dua periode menjadi Presiden, dihadapan ribuan guru mengatakan, “Saya akan menjadi guru bila sudah tidak menjadi presiden lagi.”
Presiden Jokowi saja hanya membungkuk dan memberi penghormatan luar biasa hanya kepada guru dan alim ulama. Bahkan Ia mencim tangan para guru-gurunya dahulu. Di beberapa tempat ada beberap bupati dan gubernur yang “berani” cium tangan mantan gurunya saat acara resmi di ruang publik. Menjadi guru adalah menjadi pekerja melayani, berda’wah dan berkhidmat pada umat.
Bekerja menjadi guru yang baik dan berprestasi ibarat bekerja seperti kerja para nabi. Pekerjaan terbaik di dunia ini adalah kerjanya para nabi. Apa kerja para nabi? Berda’wah. Mengajak manusia kepada Tuhannya dengan ilmu, iman, seni dan teknologi. Itulah tugas guru masa kini. Guru zaman now, tidak mengejar jabatan. Biarkan jabatan mengejar dirinya dan pergi suatu saat meninggalkan dirinya.