10/04/2015
5 TEORI SASTRA KONTEMPORER DAN 13 TOKOHNYA
Antara tahun 1910-1915, di Italia dan Rusia, muncul gerakan avant garde yang dikenal sebagai gerakan futurisme (mass depan). dari sinilah Formalisme Rusia dilahirkan yang pada gilirannya menjadi titik awal munculnya ilmu sastra modern. Gerakan ini juga dianggap sebagai pelopor tumbuh kembangnya teori-teori strukturalisme. Karenanya, Formalisme Rusia tidak dapat dipisahkan dari gerakan futurism dan strukturalisme.
Pembicaraan Bakhtin tentang “karnaval” merupakan teori yang baik untuk teks-teks khusus dan sejarah jenis-jenis sastra, “karnavalisasi” adalah istilah yang dipergunakan Bakhtin untuk menerangkan bentuk efek karnaval pada jenis-jenis sastra.
Dalam pandangan Realismenya, Lukacs menilai formalisme itu berada pada posisi yang berlawanan dengan naturalisme, namun sama-sama menyajikan makna sejarah yang hilang. Jika naturalisme adalah sejenis objektivitas abstrak, maka formalisme adalah sejenis subjektivitas abstrak.
Adapun beberapa dari tokoh Formalisme Rusia.
Adorno berpendapat bahwa seni memang terpisah dari realitas, atau seni tidak dapat secara sederhana mencerminkan sistem kemasyarakatan, tetapi ia berada di antara realitas tersebut sebagai pengganggu jenis pengetahuan yang tidak langsung, karena keterpisahannya bisa memberikan makna dan kekuatan yang khusus kepadanya. Dia menegaskan, “seni adalah pengetahuan negative tentang dunia nyata”.
Benjamin menawarkan suatu analisis tajam tentang adanya suatu perubahan mendasar dalam kualitas estetis karya-karya seni.
Bagi Pairce, tanda hanya akan berarti tanda apabila tanda tersebut berfungsi sebagai tanda. Semiotika bagi Peirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretant (interpretant).
Menurut Hjemslev, bahasa harus dilihat sebagai yang memilki hubungan mendasar dengan makna dan atau pemikiran. kandungan dan ungkapan merupakan dua functive tak terpisah pada fungsi tanda.
Selain teori tentang kode, Eco juga mempunyai teori tentang pembentukan tanda (teori produksi tanda). Singkatnya, unsur-unsur pokok pembentukan tanda (tipologi model produksi tanda) menurut Eco adalah: Kerja Fisik; upaya yang dilakukan untuk membentuk tanda, Pengenalan, Penampilan, Replica, dan Penemuan.
Titik awal kemunculan teori psikoanalisis adalah usaha-usaha Freud dalam menganalisis dunia ketidaksadaran. Setelah Freud diangkat menjadi professor di Universitas Wina pada tahun 1920, berkat karyanya di dalam bidang neurologi, secara berangsur-angsur orang-orang mengikuti jejak pemikirannya. Dari situlah muncul murid pertama dan yang paling disayangi Freud, Otto Rank, analis non-media Austria, kemudian carl jung yang dianggap Freud seperti anaknya sendiri.
Adapun tokoh-tokoh psikoanalisis adalah Karen Horney, Anna Freud, Carl Jung, Alfred Adler, Erich Fromm. Selain teori psikoanalisis adap**a Teori Kesadaran dan Teori Cinta.
A. Formalisme Rusia
Antara tahun 1910-1915, di Italia dan Rusia, muncul gerakan avant garde yang dikenal sebagai gerakan futurisme (mass depan). dari sinilah Formalisme Rusia dilahirkan yang pada gilirannya menjadi titik awal munculnya ilmu sastra modern. Gerakan ini juga dianggap sebagai pelopor tumbuh kembangnya teori-teori strukturalisme. Karenanya, Formalism Rusia tidak dapat dipisahkan dari gerakan futurism dan strukturalisme.
Formalism juag muncul sebagi reaksi terhadp aliran positivisme pada abad kesembilan belas yang terlalu menitikberatkan perhatiannya kepad data-data biografis dalam studi ilmiah dan cenderung menganggap yang ilahi sebagai “yang absolut”. Mereka juga menawarkan abad mesin sebagai wilayah puisi yang mendukung revolusi. Adapun tokoh-tokoh formalisme di antaranya ialah Roman Jakobson, Sjkovsky, Eichenbaum, Tynjanov, Jan Mukarovsky, Mikhail Bakhtin, Boris Tomashevsky, dan lain-lain.
1. Roman Jakobson
Dia lahir di Moskow pada tahun 1896. Dia adalah tokoh Formalism Rusia, yang meninggal dunia tahun 1982. Pada tahun 1914, dia memasuki fakultas historiko-filologis di Universitas Moskow dan masuk bagian bahasa Jurusan Slavia dan Rusia. Pada tahun 1915, dia mendirikan lingkungan linguistik di Moskow yang terpengaruh oleh pemikiran Husserl. Di akhir tahun a920, dia meninggalkan Moskow dan tinggal di Praha, dan pada tahun 1930-an dia sempat bekerja sama dengan Nikolai Trobetskoy yang mengarahkan Jakobson pada gagasan bahwa suara dalam bahasa berfungsi secara direfensial. Di bawah pengawasan lingkungan atau lingkaran studi linguistik Praha, pada tahun 1929, Jakobso menerbitkan catatan tentang evolusi fonologi bahasa Rusia yang dibandingkan dengan bahasa-bahasa Slavia lainnya. Selama akhir tahun 1930-an, dia berkelana ke Swedia dan Denmark.
Pertama-tama, dia menganggap bahwa bahasa adalah sebagai alat komunikasi, dan selanjutnya dia mengembangkan sebuah pemikiran bahwa tataran struktur linguistik itu melalui identifikasi dan penjelasan tentang hal-hal invariant di tengah keanekaragaman yang berlipat ganda.
Fenomenologi Husserl juga sangat mempengaruhi pemikirannya, sehingga ketika dia melihat bangunan sebuah puisi, maka dilihatnya sebagai sebuah “bagian” dan “keseluruhan” dalam bahasa dan kultural. Menurutnya, puisi memiliki bentuk paling dekat dengan struktur dimana bagian-bagiannya sama dengan keseluruhannya. Dengan demikian kata “puitis” itu sendiri menunjukkan adanya salah satu kaitan yang paling jelas antara bagian dan keseluruhannya.
Pemikiran awalnya yang paling penting adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metaforis retoris (kesamaan) dan metonimia (kesinambungan). Baginya, bahasa itu merupakan bentuk interaksi antara langue (struktur, atau kode) dan parole (tindak wicara) yang berlangsung terus-menerus, yang oleh sebagian ahli linguistik diberi istilah shiffer , yang berfungsi sebagai satu kemampuan terakhir yang dikuasai anak dalam proses belajar bahasa. Bisa dikatakan juga bahwa shiffer adalah merupakan satu kategori kosong.
Ketika menitiberatkan antara bunyi dan makna Jakobson menyimpulkan bahwa bunyi makna diantarai oleh perbedaan, yang kemudian disebutnya dengan nama “ciri khusus”. Dia memandang bahasa sebagai suatu sistem makna, sedangkan wicara itu tidak tersusun dari bunyi/suara, tetapi dari fonem, yaitu sekump**an ciri bunyi yang ada secara bersama-sama, yang dipakai dalam bahasa tertentu untuk membedakan bunyi dengan makna yang berbeda-beda. Istilah “ciri khusus” itu dikembangkannya menjadi “ciri menonjol”, yaitu klaimnya bahwa ciri yang sama ada dalam setiap bahasa, dan ciri-ciri tersebut membentuk suatu kategori aspek-aspek linguistik yang tak berubah.
Mula-mula yang menjadi fungsi kajian utama Jakobson adalah puisi dengan adanya fungsi puitik. Menurut Jakobson, dalam setiap ungkapan bahasa terdapat sejumlah fungsi, seperti fungsi referensial, emotif, konatif, dan puitik, yang berkaitan dengan beberapa faktor, seperti: konteks, juru bicara, pengarang, penerima, pembaca, dan isi atau pesan itu sendiri.
Dalam artikelnya yang terkenal linguistik and poetics, Jakobson menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang berbeda, yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal, yaitu pengirim (addresser), pesan (message), yang dikirim/penerima (adresse), konteks (context), code (code), dan kontek (contact).
Pada sisi lain, Jakobson menekankan pentingnya “ilmu sastra” (nauka o literature) sebagai cabang ilmu tersendiri. Dia juga memproklamirkan “kesusastraan” (literaturrnost) sebagai objek ilmu sastra, baik sebagai keseluruhan naskah atau naskah sastra tertentu.
Selanjutnya, dia memandang bahwa karya-karya sastra dinilai sebagai sistem yang dinamik, unsur-unsur dalamnya di susun menurut relasinya dengan latar depan dan latar belakang.
2. Mikhail Bakhtin
Dia lahir pada bulan November 1895 dan meninggal pada bulan Maret 1975. Pada tahun 1918, Bakhtin belajar tentang sastra klasik dan filologi di Universitas Petograd. Selanjutnya pada tahun 1936 sampai pada tahun 1916, mengajar di sekolah guru negeri di daerah terpencil Mordovia, walau pada tahun 1940-an dia sempat berhenti mengajar.
Pembicaraan Bakhtin tentang “karnaval” merupakan teori yang baik untuk teks-teks khusus dan sejarah jenis-jenis sastra, “karnavalisasi” adalah istilah yang dipergunakan Bakhtin untuk menerangkan bentuk efek karnaval pada jenis-jenis sastra.
Bakhtin lebih lanjut mengatakan,”aspek terpenting dari karnaval adalah canda-tawa, tetapi di dalam suatu karnaval, canda-tawa tidak dapat disamakan bentuk khususnya dengan yang ada di dalam kesadaran modern, karena canda-tawa tersebut tidak hanya bersifat parody, ironis, atau setiris, tapi ia juga bersifat ambivalen dan tidak memiliki objek.
Dalam telaahnya tentang novel, Bakhtin berpendapat bahwa diskursus bergaya novelis tidak boleh dipahami sebagai bahasa komunikasi dengan telaah linguistik, tetapi merupakan suatu lingkungan dinamis tempat berlangsungnya pertukaran (dialog). Dalam karya-karya yang bersifat monologis, kata-kata tidak hanya menciptakan makna, tetapi juga membentuk hubungan kontekstual di antara mereka. Selain itu, naskah monologis memiliki logika yang tunggal (mono), homogeny, dan relative seragam.
Dalam periode formalisme akhir, apa yang disebut aliran Bakhtin telah berhasil menggabungkan formalisme dengan marxisme, yang mana aliran itu tetap formalis dalam menghubungkannya dengan struktur linguistik karya-karya sastra, di samping meyakini bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari ideologi.
Tokoh yang pertama kali mengembangkan pengertian pandangan dinamik bahasa untuk teks-teks sastra adalah Bakhtin, tapi dia tidak memperlakukan kesusastraan sebagai sebuah cerminan kekuatan masyarakat yang langsung.
Pengarang, bagi Bakhtin, adalah sebuah ruang kosong tempat berlangsungnya drama, atau dapat dikatakan bahwa pengarang adalah dramatisasi itu sendiri.
Bakhtin adalah pemikir yang menggunakan kanvas seluas-luasnya dalam mengembangkan teori produksi sastra, sehingga dia mencetuskan sebuah teori yang disebut chronotope.
3. Marxisme
Teori-teori sastra marxis memiliki dasar filsafat normative dengan ide-ide eksplisit tentang masalah-masalah epistemologi. Namun dalam kasus kesusastraan, teori marxis tidak begitu menampakkan adanya relasi yang signifikan, seperti hubungan kesusastraan dengan masyarakat, perkembangan sejarah, dan kondisi-kondisi materialis yang dianggap sebagai unsur dasar sastra. Akan tetapi, ketika marxisme menolak untuk melihat fenomena secara terpisah (holistic), maka ia mirip dengan strukturalisme. Perbedaan antara keduanya terletak pada pandangan bahwa struktur-struktur itu sebagai dasar system yang abadi dan mengatur dirinya sendiri, atau perilaku dan ucapan-ucapan individual berkaitan erat artinya dengan system tanda yang melahirkannya (strukturalisme) dan struktur dilihat sebagai historis, dapat berubah dan penuh dengan pertentangan-pertentangan, atau individual adalah pendukung posisi-posisi dalam system masyarakat bukan sebagai agen-agen bebas.
Tokoh-tokoh teori sastra marxis mulai dari aliran realism sosialis soviet, aliran Frankfurt, noe-marxis, marxisme-strukturalis sampai perkembangan mutakhir banyak sekali, antara lain adalah: Marx, Engels, Lukacs, Brecht, Adorno, Benyamin, Althusser, Goldmann, Macherrey, Eagleton, Culler, Fredric, dan lain-lain.
4. Georg Lukacs
Gyorgy Lukacs atau George Lukacs (1885-1971) lahir dan selama kecilnya hidup di Hungaria, tetapi dia menjalani pendidikan di Jerman. Dia termasuk seorang filsuf dan pengarang yang patut diperhitungkan bagi mereka yang mengikuti aliran marxisme. Pemikiran-pemikirannya dipengaruhi oleh Aristoteles, Kant, dan Hegel.
Sebelum Lukacs menjadi seorang Marxis, seperti halnya Hegel, dia memandang novel sebagai karya “epic borjuis”, sebuah epic yang berada dengan epic klasik, yang mengungkapkan keterasingan dan keterluntaan manusia dalam masyarakat modern.
Dalam keseluruhan karyanya, Lukacs menggunakan istilah “refleksi”, yaitu menyusun sebuah struktur mental yang urutannya diubah ke dalam kata-kata. Bagaimanapun juga kita sadar, karya sastra bukanlah realitas itu sendiri, melainkan lebih merupakan bentuk khusus dari refleksi (pencerminan) realitas. Oleh karena itu, sebuah pencerminan realitas “yang benar” memerlukan lebih dari hanya pemberian perwujudan luar, karena serangkaian imaji yang disajikan secara acak dapat diinterpretasikan baik sebagai sebuah refleksi realitas yang objektif dan jujur, maupun murni sebagai kesan realitas yang subjektif.
Dalam pandangan Realismenya, Lukacs menilai formalisme itu berada pada posisi yang berlawanan dengan naturalisme, namun sama-sama menyajikan makna sejarah yang hilang. Jika naturalisme adalah sejenis objektivitas abstrak, maka formalisme adalah sejenis subjektivitas abstrak.
5. Bertold Brecht
Dia yang hidup di antara 1898-1956, adalah termasuk kelompok pengarang Jerman yang berhaluskan kiri, dan termasyur sebagai pengarang sandiwara yang bersifat kritis mengenai bidang sosial dan politik. Secara implisit dan eksplisit, karya-karya tulisnya mencerminkan pendapatnya bahwa setiap karya teater dimaksudkan untuk “entertainment”, untuk menghibur, dan sekaligus sebagai pengingsut sedekat-dekatnya pada segala media pendidikan dan komunikasi massa. Menurutnya, peranan sosial serta pendidikan merupakan suatu unsur mutlak dalam karya seni.
Drama-drama awal Brecht itu radikal, anarkistik, dan anti borjuis, tetapi tidak anti-kapitalis. Sebagai seorang yang anti-realisme sosialis, dia berlawanan dengan Lukacs yang memuji adanya kesatuan bentuk formal seperti teater tragic Aristoteles yang menekankan adanya universalitas dan kesatuan aksi tragic dan identifikasi penonton terhadap pahlawan-pahlawan positif untuk menghasilkan katarsis (pelepasan beban perasaan). Oleh karenanya, Brecht menciptakan teater “epic” yang disusun dari episode-episode yang longgar hubungannya dari jenis yang dapat ditemukan pada drama-drama Shakespeare dan novel-novel petualanagn (picaresque) abad kedelapan belas. Dia menganggap keinginan Lukacs untuk mengabdikan bentuk sastra tertentu sebagai satu-satunya model yang benar bagi realisme adalah suatu jenis formalisme yang berbahaya. Oleh karena itu, dia menyebut teori realismenya sebagi “anti-aliran Aristoteles” dan menolak seluruh tradisi teater “aliran Aristoteles’. Menurutnya, dramawan hendaknya menghindari alur yang dihubungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti.
Sarana teater Brecht yang banyak diketahui adalah tentang efek pengasingan, dan sebagian dari konsep formalism rusia tentang “defamiliarisasi”.
6. Walter Benjamin
Benjamin adalah sahabat karib dan pendukung Brecht karena Benjamin mengakui keberhasilan Brecht dalam mengubah hubungan-hubungan fungsional antara panggung dan audiens, teks dan produser, produser dan actor. Berkat teater epic Brecht, Benjamin mendapat jawaban bagaimana untuk melakukan perubahan-perubahan dalam isi sastra, baik is yang mengaruh pada politik suatu seni maupun kekuatan-kekuatan yang dihasilkannya.
Sebagaiman Brecht, Benjamin juga berpendapat bahwa seni adalah sebuah praktis sosial, bukan semata-mata objek yang dapat dibedah secara akademik, sedangkan kesusastraan adalah sebuah aktivitas sosial, suatu bentuk produksi social dan ekonomi yang hadir bersama dan berhubungan dengan bentuk-bentuk lain yang sejenis. Menurut Benjamin, seorang seniman revolusioner hendaknya tidak menerima begitu saja kekuatan-kekuatan produksi artistic yang ada, tetapi juga dia harus mengembangkan dan lebih merevolusionerkan kekuatan-kekuatan tersebut supaya dapat menciptakan hubungan social yang baru antara seniman dan penikmat umum.
Benjamin menawarkan suatu analisis tajam tentang adanya suatu perubahan mendasar dalam kualitas estetis karya-karya seni. Katanya, ketika aura keaslian suatu karya seni menjadi semakin berkurang karena mengalami reproduksi, dan ketika penerapan terhadapnya berubah bersamaan dengan keseluruhan karakteristik eksistensi manusia, maka disini tidak ada gerakan satu arah antara posisi dan situasi, melainkan yang ada hanyalah gerakan ke sana ke mari yang berlangsung pada hal-hal tersebut, yaitu teknik-teknik dalam memproduksi objek-objek karya seni supaya menjadi lebih dekat dengan penikmat umum.
Dalam esainya yang berjudul “the work of art the age of mechanical reproduction”, terdapat dua unsur yang menonjol dalam karya seni, pertama, bila suatu karya seni itu dapat direproduksi, maka ia akan bisa memperoleh makna baru dari bermacam-macam konteks. Kedua, karakterisasi yang dilakukan pada film.
Dalam naskah yang palling awal, “the task of the translator” (1923), Benjamin memulainya dengan mengatakan bahwa tugas penerjemah itu tidak akan dicerahkan bila dari sudut pandang pembaca. Dalam menerjemahkan naskah jangan menggunakan terjemahan harfiah, karena sebuah terjemahan harfiah akan merusak teori tentang ‘reproduksi makna” dan menjadi ancaman langsung terhadap pemahamannya. Maksud dari “reproduksi makna” adalah penerjemahan unsur puitis yang ada dalam suatu karya, dan inilah yang seharusnya diterjemahkan. Prinsip reproduksi tentang yang bermakna (bukan makna harfiah) ada dalam kita itu sendiri.
7. Theodor Adorno
Tokoh neo-marxis ini lahir dengan nama Theodor Wiesengrund Adorno pada tahun 1903, tapi dia menghapus Wiesengrund dari namanya ketika ia menggabungkan diri dengan institute of social research di New York pada tahun 1938 yang agak berbau yahudi.
Adorno berpendapat bahwa seni memang terpisah dari realitas, atau seni tidak dapat secara sederhana mencerminkan sistem kemasyarakatan, tetapi ia berada di antara realitas tersebut sebagai pengganggu jenis pengetahuan yang tidak langsung, karena keterpisahannya bisa memberikan makna dan kekuatan yang khusus kepadanya. Dia menegaskan, “seni adalah pengetahuan negative tentang dunia nyata”.
Seni menghubungkan realitas dengan maksud subjektif, yang kemudian menghasilkan efek makna objektif. Pandangan adorno tentang filsafat dan seni, dia menilai filsafat bukanlah puisi atau seni, karena bila filsafat dilihat sebagai seni berarti filsafat dihapuskan. Dia juga berpendapat bahwa filsafat tidak boleh memberikan doronganestetik, proses yang dapat membawa puitisasi. Filsafat harus bekerja sebagai filsafat, keterikatannya pada seni tidak mengharuskannya untuk meminjam seni. Pada dasarnya, filsafat selalu dapat tersesat, yang justru dapat menjadi alas an mengapa ia bisa terus maju.
Ada beberapa hal yang perlu kita tangkap dari pemikiran adorno tentang metode dialektikanya, yaitu:
a. Metode dialektis dapat memberikan alasan tertentu terhadap totalitas masyarakat dan mencegah isolasi fakta totalitas dan berbagai masalah.
b. Metode dialektis itu untuk memusatkan hubungan antara yang umum dan yang individual dalam pemampatan historisnya.
c. Dialektika Adorno memberikan identitas ganda pada subjek, yang dapat dibagi menjadi keinginan yang lebih tinggi (kesadran yang benar) dan keinginan yang lebih rendah (kesadran palsu).
d. Selain menolak isolasi masalah, adorno juga menolak adanya pembedaan antara teori dan praktik, antara bahasa objek dan metabahasa, antara fakta yang diamati dan nilai-nilai yang diberikan.
B. Strukturalisme
Strukturalisme yang pada mulanya hadir di Perancis, menurut Eagleton, tumbuh subur mulai sekitar tahun 1960-an. Meskipun demikian, strukturalisme telah ada jauh sebelumnya. Pertumbuhan strukturalisme diawali dengan hadirnya buku course in general linguistic (1916) oleh Ferdinand de Saussure yang menyikapi bahasa sebagai suatu system tanda yang dikaji secara sinkronis dan diakronis. Selain Strukturalisme Perancis, strukturalisme juga muncul di amerik setelah munculnya aliran new critism, dan di jenewa dengan nama strukturalisme praha.
Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori untuk mendekati teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Teew mengungkapkan, asumsi dasar strukturalisme adalah teks sastra merupakan keseluruhan, kesatuan yang bulat dan mempunyai koherensi batiniah. Menurut kaum strukturalisme, tulisan tidak mempunyai asal, tiap ucapan individual didahului oleh bahasa, dan tiap teks terbangun dari yang telah ditulis. Sumber makan bukanlah pengalaman pengarang atau pengalaman pembaca, melainkan operasi dan oposisi yang menguasai bahasa. Di dalam jantung strukturalisme ada ambisi ilmiah untuk menemukan kode, aturan, system yang mendasari semua praktik social dan kebudayaan manusia. Perkembangan pertama dalam studi strukturalisme didasarkan pada kemajuan dalam studi fonem, yaitu elemen terendah dalam system bahasa, karena fonem adalah bunyi yang bermakna yang dikenal atau dipahami oleh pemakai bahasa.
Para pemikir yang tergolong strukturalisme yang bisa disebutkan disini di antaranya ialah: Ferdinand de Saussure. Althusser, Chomsky, t. todorov, genette, levi-strauss, greimas, prop, barthes, culler, jakobson, goldman, dll.
1. Ferdinand de Saussure
Bapak strukturalis dan linguistik ini lahir di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu karena keberhasilannya dalam bidang ilmu. Ferdinand de Saussure hidup sejaman dengan Freud dan Emile Durkheim, tapi tak ada bukti kalau ia berhubungan dengan keduanya. Di samping sebagai seorang pemupuk berlangsung tradisi intelektual, Saussure juga merupakan seorang tokoh pembaharuan intelektual.
Dalam bukunya, Course in General Linguistic, Saussure mengatakan:
“Bahasa adalah suatu sistem tanda yang mengekspresikan ide-ide (gagasan-gagasan), dan oleh karena itu dapat dibandingkan dengan sistem tulisan, huruf-huruf untuk orang bisu tuli, symbol-simbol keagamaan, aturan-aturan sopan santun, tanda-tanda ke militeran dan sebagainya”.
“Suatu ilmu yang memepelajari tanda-tanda kehidupan dalam masyarakat bersifat dapat dipahami. Hal itu merupakan bagian dari psikologi sosial atau berkaitan dengan psikologi umum. Saya akan menyebutnya sebagai semiologi. Semiologi akan menjelaskan unsur yang menyusun suatu tanda dan bagaimana hukum-hukum itu mengaturnya.
Pernyataan Saussure tersebut mengindikasikan bahwa pemikiran-pemikirannya tidak lepas dari bahasa dan tanda. Terlepas dari semua itu, Saussure mengatakan bahwa tanda-tanda di susun dari dua elemen, yaitu: aspek citra tentang bunyi ( semacam kata atau representasi visual) dan sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan.
Unsur-unsur terpenting yang ditunjukkan Saussure dalam bukunya Course in General Linguistic adalah adanya penggeseran dari sejarah bahasa secara umum menuju ke suatu tinjauan tentang konfigurasi masa kini pada bahasa alami tertentu, seperti bahasa Inggris atau Prancis. Yang terpenting disini adalah dasar pemikiran linguistik Saussure yang bertolak dari sederetan dekotomi (pasangan definisi yang berposisi). Pertama, tentang dekotomi antara parole dan langue. Kedua, dikotomi antara significant (penanda) dan signifie (petanda), ketiga, dikotomi antara sintagma dan paradigma.
2. Claude Levi Strauss
Seorang ahli antropologi ini lahir dalam sebuah keluarga yahudi-Belgia, tepatnya kota Brussel pada tanggal 28 November 1908. Kedua orang tuanya adalah seniman, sehingga saat dia belajar membaca dan menulis, di tangannya selalu terdapat kuas dank rayon. Pada tahun 1909, orangtua Levi-Strauss pindah ke Paris, Prancis.
Meskipun dia mendapt aggregation dalam bidang filsafat di Sorbonne pada awal tahun 1930-an, keinginanya untuk melepaskan diri dari ortodoksi filosofis yang saat itu sedang pop**ar di Paris (neo-kantianisme, bergsonisme, fenomenologi, dan kemudian eksistensialisme), mendorong Levi Staruss untuk menerima jabatan professor antropologi di Universitas Sao Paulo, Brasil. Kemudian sejak tahun 1941-1945, dia mengajar di New School for Social Research, New York.
Antropolgi structural Levi-Strauss yang begitu banyak dipengaruhi oleh linguistik, ternyata memiliki sejumlah asumsi dasar yang berbeda dengan pemikiran-pemikiran aliran lain yang berkecimpung di dalam dunia antropologi. Untuk lebih bisa memahami strukturalisme Levi-Strauss, berarti harus memahami juga asumsi-asumsi dasar yang dicetuskannya. Adapun asumsi-asumsi dasar yang ada dalam pemikiran Levi-Strauss, di antaranya ialah: pertama, strukturalisme Levi-Strauss beranggapan bahwa berbagai aktivitas social, termasuk juga hasilnya, dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa, atau lebih tepatnya merupakan perangkat tanda dan symbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Kedua, dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis, yaitu kemampuan untuk structuring, menyusun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Ketiga, makan suatu istilah itu ditentukan oleh relasi-relaisnya pada suatu titik waktu tertentu secara sinkronis. Keempat, relasii-relasi yang berada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition).
Selanjutnya, untuk lebih mengenal antropologi structural Levi-Strauss, maka disini akan diperkenalkan dua aspek penting yang mendasari pendekatannya. pertama, prinsip levi-strauss yang mengatakan bahwa kehidupan social dan cultural tidak dapat dijelskan secara unik oleh salah satu versi fungsionalisme. Kedua, aspek penting lainnya adalah tentang : “lingkup”. Sampai disini, aspek structural pendekatan Levi-Strauss lebih bersifat implicit daripada eksplisit.
Selanjutnya, Levi-Strauss melakukan telaah tentang mitos, yang pada gilirannya telaahnya ini dinilai sebagai usaha untuk memperbaiki pendekatan strukturalnya.
3. Semiotika
Ketika Ferdinand de Saussure (1857-1913) meletakkan dasar linguistik modernnya berdasrakan pada penggunaan tanda, yang olehnya dikembangkan dengan istilah “semiologi”, maka Charles Sander Peirce (1839-1914) lebih dalam menganalis tanda dengan istilahnya yang ramai menghiasi dunia kademik dengan nama “semiotika”.
Semiotika (ilmu tanda, berasal dari kata yunani semeion, yang berarti tanda) adalah nama cabang ilmu yang erurusan dengan pengkajian tanda-tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Semiotika ini merupakan bidang yang luas, dari zoo-semiotika, semiotika para linguistik, semiotika komunikasi visual, semiotika komunikasi massa, semiotika kode budaya dan masih banyak lagi.
Adapun yang tergolong tokoh-tokoh semiotika atau semiologi adalah Charles Sanders Peirce, Ferdinand de Saussure, Roman Jakobson, Umberto Eco, Louis Hjemmslev dan lain-lain.
4. Charles S.Peirce
Bapak semiotika dan sekaligus seorang filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional ini, lahir dalam sebuah keluarga intelektual pada tahun 1839. Dia adalah anak dari seorang ayah yang menjadi professor matematika di Harvard. Pierce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda dan telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dengan istilah semiotika. Sebagai seorang filsuf dan ahli logika, dia mengusulkan kata semiotika (yang ternyata telah digunakan ahli filsafat Jerman, Lambert, pada abad 18) sebagai sinonim kata logika. Menurutnya, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui tanda-tanda.
Bagi Pairce, tanda hanya akan berarti tanda apabila tanda tersebut berfungsi sebagai tanda. Semiotika bagi Peirce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerja sama tiga subjek, yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretant (interpretant).
Peirce mengatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupaianya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional. Dari sinilah Peirce membedakan adanya tiga kategori eksistensial, yaitu: ke-pertamaan (firstness), ke-duaan (secondness), dank ke-tiga-an (thirdness). Sedangkan dalam telahnya tentang tanda dan hal-hal yang berhubungan dengan tanda, Pierce membedakannya sebagai berikut:
Pertama, tanda dan ground. (dasar, latar)-nya.
Kedua, tanda dan denotatum-nya (dunia yang dibentuk dengan kata-kata).
Ketiga, tanda dan interpretantnya (tanda yang berkembang dari tanda yang telah terlebih dahulu ada dalam benak orang yang menginterpretasikannya).
Keempat, tanda berfungsi dalam hubungannya dengan tanda yang lain. Tanda yang demikian ini dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dari macam yang ketiga ini (pragmatik), mempunyai perbedaan paling penting, yaitu perbedaan antara simtom (adanya kesadaran tanda) dan sinyal ( tidak adanya kesadaran tanda). Trikotomi Peirce tersebut adalah merupakan kunci menuju analisis semiotik.
5. Louis Hjemslev
Tokoh semiotik sekaligus linguistik lainnya adalah Louis Hjemslev. Dia lahir di Denmark pada tahun 1899 dan meninggal pada tahun 1900. Hjemslev berpendapat bahwa bahasa adalah suatu lembaga supra-individu yang harus di pelajari dan dianalisis secara tersendiri, bukannya diamati sebagai sarana atau alat pengetahuan, pikiran dan emosi, atau sebagai cara untuk melakukan kontak dengan yang berada di luarnya. Lebih jauh ia mengatakan, bahasa adalah suatu sistem penandaan dan proses realisasi (bagi Saussure, istilah yang setara masing-masing adalah ‘langue’ dan ‘parole’).
Sebuah tanda bukan merupakan entitas fisik atau nonfisik yang bisa diambil begitu saja oleh para ahli bahasa dan semiotick. Terminologi Saussure yang setara dengan pengertian tersebut adalah “tanda”, “penanda” dan “yang ditandakan”, figurae, penanda mengambang, seperti yang ditemukan Levis Strauss dalam karya mauss-nya, oleh Hjemslev dijadikan untuk memberikan pengertian pada sesuatu yang belum menjadi tanda.
Menurut Hjemslev, bahasa harus dilihat sebagai yang memilki hubungan mendasar dengan makna dan atau pemikiran. kandungan dan ungkapan merupakan dua functive tak terpisah pada fungsi tanda.
Supaya suatu tanda tidak hanya menjadi tanda bagi sesuatu yang sudah ada sebelumnya, maka Hjemslev mengadakan pengembangan terhadap fungsi tanda agar terhindar dari pembagian artificial dalam linguistic antara fonetik, morfologis, sintaksis, leksikografi, dan semantick. Untuk menunjukkan inovasi yang dilakukan oleh pendekatannya, ia menggunakan istilah “glosematika” dari bahasa yunani glossa, yang berarti “bahasa”.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa sebuah semiotika denotative adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bukanlah yang semiotik. Semiotika konotatif adalah sebuah semiotika yang mana bidangnya bersifat semiotik.
6. Roland Barthes
Seorang ahli semiotika seperti barthes yang lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan meninggal pada tahun 1980, mengamati sejarah tulisan sastra dari Jerman Klasik dan Romantic (abad ke-17 dan ke-18) sampai sastra modern (pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20), dia melihat bahwa sastra zaman klasik/ romantic itu ditandai dengan perkembangan sastra sedangkan pada awal abad ke-20 di tandai dengan kematian sastra.
Pada awal pemikirannya, ia melihat kehidupan social dan cultural dalam kerangkan penandaan, bukan dalam kerangka sifat-sifat objek yang tidak bersifat esensial. Menurutnya, semiotika juga mempelajari bagaimana tanda melakukan penandaan dalam naskah sastra konvensibrial dan dokumen-dokumen hukum, atau dalam iklan dan perilaku ragawi.
Roland Barthes, seorang ahli semiotika baru, merumuskan suatu teori tentang mitos yang mendasari tulisannya dalam mythologis. Dia mengatakan bahwa sekarang ini mitos adalah sebuah pesan bukan konsep, gagasan, atau objek. Secara teknis, barthes menyebutkan bahwa mitos merupakan urutan kedua dari system semiologis dimana tanda-tanda dalam urutan pertama pada sIstem itu (yaitu kombinasi antara petanda dan penanda) menjadi penanda dalam system kedua. Barthes menggunakan istilah khusus untuk membedakan system mitos dari hakikat bahasanya. Dia juga menggambarkan penanda dalam mitos sebagai bentuk dan petanda sebagai konsep. Kombinasi kedua istilah tersebut merupakan penandaan.
Pada akhirnya, Barthes berpendapat bahwa “sarrasine” (suatu upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam naskah yang realis) terangkan dalam “kode rasionalisasi, suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Lima kode yang ditinjau Barthes adalah: kode hermeneutic (pemaparan suatu teks-teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proarietik (logika tindakan), dank ode gnomic atau kode cultural yang membangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu.
Perjalanan teoritis Barthes berakhir pada teori teks atau analisis tekstual. Istilah “analisis tekstual” dibedakan dari analisis semiotic-positivistik yang selama ini dipraktikkannya dan dikaguminya. Dalam telaahnya terhadap produk teks sastra, Barthes melihat tanggung jawab seorang sastrawan sama dengan tanggung jawab seorang kritikus sastra. Akhirnya, meskipun Barthes meninggalkan pendekatan semiotik-positivistik, dia tidak menolak kategori tanda (semeion). Sebaliknya dia justru semakin tergila-gila pada tanda, yang kemudian olehnya diberi istilah semiotropi (semiotika negative).
7. Umberto Eco
Dia lahir di Piedmont, Italia pada tahun 1932 dan dia menjadi terkenal di seluruh dunia berkat dua novelnya, The Name of The Rose dan Foucault’s Pendulum. Sebelum menjadi seorang ahli semiotika, Eco belajar filsafat dan menghususkan diri pada teori estetika dan fislafat abad pertengahan. Dia pernah menulis tesis tentang estetika dari Thomas Aquinas di Universitas Turin pada usia 24 tahun, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1956.
Di dalam bukunya A Theory of Semiotica, Umberto Eco mengatakan, semiotika berkaitan dengan segala hal yang dapat dimaknai sebagai suatu tanda-tanda. Meskipun secara eksplisit A Theory of Semiotika berkaitan erat dengan teori pembangkitan kode dan tanda, tetapi titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang “semiosis yang tak terbatas”. Bagi Eco, “semiosis yang tak terbatas” terkait erat dengan standar kedudukan pembaca.
Masih berkaitan dengan “semiosis tak terbatas”, dalam hal kode, secara umum Eco membagi dua kode dalam dua jenis. Pertama, jenis kode morse (bisa berbentuk tunggal), dimana suatu kode tertentu (garis dan titik) sesuai dengan sekump**an tanda, yaitu huruf-huruf abjad. Kedua , kode konteks, artinya, kode itu memiliki konteks yaitu kode yang berada dalam kehidupan social dan cultural.
Selain teori tentang kode, Eco juga mempunyai teori tentang pembentukan tanda (teori produksi tanda). Singkatnya, unsur-unsur pokok pembentukan tanda (tipologi model produksi tanda) menurut Eco adalah:
a. Kerja Fisik; upaya yang dilakukan untuk membentuk tanda.
b. Pengenalan
c. Penampilan
d. Replica
e. Penemuan.
Tentang “bacaan” dan “interpretasi”, Eco menjelaskan bahwa setiap karya sastra bisa dikatakan membentuk model pembaca yang sesuai dengan berbagai kemungkinan nyata yang bisa dibenarkan oleh naskah.
C. Psikoanalisis
Titik awal kemunculan teori psikoanalisis adalah usaha-usaha Freud dalam menganalisis dunia ketidaksadaran. Setelah Freud diangkat menjadi professor di Universitas Wina pada tahun 1920, berkat karyanya di dalam bidang neurologi, secara berangsur-angsur orang-orang mengikuti jejak pemikirannya. Dari situlah muncul murid pertama dan yang paling disayangi Freud, Otto Rank, analis non-media Austria, kemudian carl jung yang dianggap Freud seperti anaknya sendiri.
Psikoanalisis adalah sistem menyeluruh dalam psikologi yang dikembangkan oleh Freud untuk menangani orang-orang yang mengalami neurosis dan masalah mental lainnya. Tugas psikoanalisis adalah untuk mengobati penyimpangan mental dan syaraf, menjelaskan bagaimana kepribadian manusia berkembang dan bekerja, dan menyajikan teori mengenai cara individu dapat berfungsi di dalam hubungan personal dan masyarakat. Selain itu, psikoanalisis yang merupakan salah satu bidang dari ilmu social, ternyata memiliki hubungan dengan teori-teori sastra seperti strukturalisme, semiotik, feminis, dan sosiologi sastra. Hubungan antara psikoanalisis dan sastra dapat dilihat ketika psikoanalisis menjelaskan tentang konsep sensor dan pekerjaan tak sadar dalam mimpi, yang ternyata memberikan sumbangan besar dalam perkembangan teori-teori sastra modern. Inilah yang mendasari saya memasukkan psikoanalisis menjadi salah satu dari teori-teori sastra dalam tulisan ini.
1. Sigmund Freud
Sanf pencetus sistem baru dalam psikologi yang diberi istilah psikoanalisis ini berasal dari keluarga pedagang yahudi dan lahir pada tahun 1856 di Freinburg, Moravia, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Austro-Hungaria. Perlu diketahui juga bahwa Freud adalah seorang dari mereka yang tergolong struktural, yang telah mengubah teori positivistiknya tentang kehidupan psikis setelah menemukan fakta-fakta tentang psike itu sendiri, baik psike dengan melakukan analisis terhadap dirinya, meski pun psike pasien-pasienya menjadi teori psikoanalisis.
Seperti halnya sastra, mimpi juga memiliki prosedur yang sama, yaitu dengan adanya pengalihan dan simbolisasi. Pengalihan dianalogikan dengan metonimi, sedangkan simbolisasi dianalogikan dengan metafora. Menurut Freud, mimpi itu seperti tulisan, yaitu sistem tanda yang menunjukkan pada sesuatu yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri. Isi mimpi disajikan dalam bentukk hieroglif, yang tanda-tandanya harus ditafsirkan secara berurutan dalam bahasa pikiran mimpi. Hal ini terjadi karena adanya sensor dan psoses dari kerja mimpi itu sendiri.
Selanjutnya, sebelum menguraikan teknik asosiasi bebas dan merumuskan beberapa konsep yang berkaitan dengan tafsir mimpi, perlu diketahui bahwa ada sejumlah alas an yang memperkuat mimpi dijadikan pusat psikoanalisis Freud, yaitu:
1. Mimpi terjadi di tengah tidur. Freud memandang mimpi sebagai evudensi dari kerja pikiran tak sadar dan membuktikan keberadaannya.
2. Hanya dengan metode analisis mimpi dan asosiasi bebas, simbolisme yang terlibat di dalam gejala neurotic itu benar-benar bisa dimengerti.
3. Freud menekankan bahwa mimpi seringkali menyangkut masalah-masalah seksual yang berasal dari masa kanak-kanak, dan masalah ini hanya bisa diselesaikan melalui analisis mimpi dan asosiasi bebas.
4. Freud memandang semua mimpi itu sebagai ekspresi dari pemenuhan harapan.
Dengan demikian, analisis terhadap mimpi-mimpi bukanlah suatu metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas, yaitu suatu metode yang menuntut pasien mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, dengan tidak mempedulikan apakah pernyataan itu memalukan atau tak pantas didengarkan.
Menurut Freud, masing-masing mimpi memiliki isi manifest dan isi latern. Freud menyajikan dua metode yang umum digunakan untuk menafsirkan mimpi, meski pun setelah dikaji ulang memiliki kelemahan. Dua metode tersebut, yaitu:
1. Metode Simbolis
2. Metode Sandi (decoding).
Menurut Freud, konsep lain dalam mimpi adalah adanya symbol-simbol. Freud percaya bahwa banyak diantar isi-isi mimpi yang tersamar di balik simbol-simbol.
Tokoh-tokoh psikoanalisis lainnya
3. Karen Horney
Karen Horney adalah seorang psikolog terkenal dan salah satu pemikir tentang neurosis yang terbaik. Ia lahir 16 September 1885 di Hamburg, Jerman dan wafat 4 Desember 1952. Ia menekankan adanya hubungan yang jelas antara neurosis dan kehidupan sehari-hari yang berbeda dalam melihat masalah neurosis. Horney setidaknya, menemukan 10 bentuk kebutuhan neurotis. Kebutuhan-kebutuhan tersebut didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan primer manusia, yang terganggu sedemikian rupa oleh kesuliatan-kesulitan yang dihadapi seseorang dalam kehidupannya.
4. Anna Freud
Anna Freud (lahir 3 Desember 1895 di Wina dan wafat 9 oktober 1982) adalah seorang psikologi dari aliran psikoanalisis, yang juga merupakan putri dari Sigmund Freud. Anna Freud terkenal karena bukunya yang berjudul “ego dan mekanisme pertahanan” (Ego and Defense Mechanism). Di dalam buku tersebut, Anna secara khusus membicarakan mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh remaja.
Perbedaan antara Anna dan pemikir psikoanalisis lainnya, seperti Jung dan Adler, adalah bahwa anna lebih tertarik pada dinamika kejiwaan ketimbang struktur kejiwaan, khususnya dinamika yang bertumpu pada ego. Bagi Anna, ego adalah dasar dari segala observasi seorang psikolog. Di dalam ego, psikolog dapat mengamati cara kerja id, super ego, dan alam bawah sadar secara umum. Dengan difokuskannya penelitian pada ego, di mulailah suatu gerakan di dalam mazhab psikoanalisis yang disebut psikologi ego. Selain Anna Freud, seorang psikolog yang sangat terkenal adalah Erik Erikson.
5. Carl Jung
Nama lengkapnya adalah Carl Gustav jung, lahir 26 Juli 1875 di Kesswil dan wafat 6 Juni 1961 di Kusnacht. Ia adalah psikiater Swiss dan perintis psikologi analistik. Pendekatan jung terhadap psikologi unik dan berpengaruh luas ditekankan pada pemahaman “psyche” melalui eksplorasi dunia mimpi, seni, mitologi, agama serta filsafat. Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencangkup perasaan dari tingkah laku, baik sadar maupun tidak sadar.
Jung juga menekankan pentingnya keseimbangan dan harmoni. Ia memperingatkan bahwa manusia modern terlalu banyak mengandalkan sains dan logika tanpa mengambil manfaat dari pengintegrasikan spiritualitas serta apresiasi terhadap dunia bawah sadar. Meski pun ia adalah seorang psikologi teoretis dan praktis di sebagian besar masa hidupnya, kebanyakan karyanya mengeksplorasi bidang lain: filsafat Timur vs Barat, Alkimia, Astrologi, Sosiologi, juga Sastra dan Seni.
6. Alfred Adler
Seorang berkebangsaan yahudi ini lahir pada 7 Februari 1870 di Rudolfsheim, Austria. Ia adalah seorang psikologi dan fisikawan yang mengembangkan teori psikologi individual. Adler menyatakan ada satu daya motivasi yang mempengaruhi semua bentuk perilaku dan pengalaman manusia. Daya motivasi tersebut disebut “dorongan ke arah kesempurnaan”. Gagasan adler ini sebenarnya di pengaruhi oleh Nietzsche.
Di sinilah poin yang menyebabkan ketidak sepakatan Adler dengan Signmund Freud. Menurut Freud, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, seperti trauma masa kecil, pasti menjadi penentu siapa orang itu di masa kini. Sebaliknya, Adler justru berpendapat bahwa “dorongan kea rah kesempurnaan” yang hendak seseorang capai di masa depan, itulah yang memotivasi manusia di masa kini.
7. Erich Fromm
Erich Pinchas Fromm seorang berkebangsaan Jerman (lahir 23 Maret 1900 dan wafat 18 Maret 1980 pada umur 79 tahun) merupakan seorang psikologi, psikoanalisis, dan filsuf. Dia dilahirkan di Frankfurt am Main. Dia merupakan asosiasi bagi sekolah Frankfrut untuk teori kritik. Dia merupakan anggota partai sosialis Amerika pada era 1950-an.
Erich Fromm pertama kali belajar pada tahun 1918 di Universitas Frankfurt am main untuk semester dua di yurisprudensi. Pada musim panas 1919, Fromm belajar di Universitas Heidelberg pada Fakultas Sosiologi.
D. Teori Kesadaran
Kesadaran merupakan unsur dalam diri manusia untuk memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas.
E. Teori Cinta
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atas sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Cinta adalah satu perkataan yang mengandung makna perasaan yang rumit. Istilah cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan sebagai berikut:
1. Perasaan terhadap keluarga
2. Perasaan terhadap teman-teman atau pilian.
3. Perasaan yang romantik atau juga disebut asmara
4. Perasaan yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros.
5. Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme.
6 Cinta Antar Pribadi
Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antar sesama manusia. Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi antara lain:
1. Afeksi: Menghargai orang lain.
2. Altruisme
3. Reciprocation
4. Komitmen
5. Keintiman emosional
6. Kinship: ikatan keluarga
7. Passion
8. Physical intimacy
9. Self-interest
10. Service
11. Homoseks
F. Daftar Pustaka
Mohammad A. Syuropati, 2011, 5 teori sastra kontemporer dan 13 tokohnya, bantul: In AzNa books.