28/07/2017
Reuni akbar Alumni SMP Dharma Utama untuk pertama kalinya dari angkatan 1 sampai angkatan 4. Semoga selalu terjalin tali persaudaraan.
Alumni SMP Dharma Utama adalah halaman resmi anak lulusan dharma utama.
28/07/2017
Reuni akbar Alumni SMP Dharma Utama untuk pertama kalinya dari angkatan 1 sampai angkatan 4. Semoga selalu terjalin tali persaudaraan.
Wahai para siswa ataupun alumni DU apa kabar kalian?
Apa kabar angkatan 1 dan kedua SMP DU?
sudah lama tidak mem-post sesuatu di halaman ini. mau membuka topic apa ya enaknya?
Hai semua keluarga DU. Apa kabar nya?
Untuk yang keterima dan mendapatkan beasiswa di Bogor selamat untuk kalian. Tetep semangat ya yang masih belum mendapatkan kesempatan untuk berangkat ke Bogor dan semangat untuk semua anak DU.
Mohon maaf lahir batin ya.
Alumni #1
yosh... gimana kabar nieh... kalian wahai anak ujung dunia angkatan pertama?
i hope all of you sucsess with your school... good luck with your examination...
2 Wajah 1 Keinginan
Pagi hari setelah aku lari pagi. Aku melihatnya berada di mercusuar sambil memandangi lautan dengan hembusan angin laut. Entah apa yang di pikirkan dan dia lakukan. Ya, aku hanya menjalankan perintah yang diperintahkan oleh atasanku dan aku hanya pelajar biasa saja yang tinggal di asrama dengan 5 orang perempuan. Aku mendekatinya secara perlahan tanpa ia sadari.
”Apa yang kamu lakukan di sini?”
“hah hmm, hanya memandangi laut dan menikmati keindahannya.”
Selang beberapa menit kami saling diam dalam keheningan dan seekor kucing mendatanginya. Namun ia menghindarinya tapi lama-kelamaan ia mengambil kucing itu.
“Bukankah itu kucing kemarin yang kau hindari itu. Oh, aku mengerti kau datang kemari hanya untuk bertemu kucing itu.”
”Ah, tidak, tidak seperti itu. Lagi p**a siapa yang tahu kalau kucing ini ada di sini. Cuma kebetulan.”
“Sepertinya kucing itu mempunyai nama? Kalau tidak salah....”
“Bukannya tidak punya nama? Aku saja tidak mengerti.”
“Yosh, nama kucing itu Rommel.”
Tidak lama kemudian ia memarahiku karena memberi nama kucing itu dengan nama yang aneh. Wanita yang aneh namun sangat asyik untuk diajak mengobrol.
“Namanya Nekko! Jangan asal memberi nama tahu.”
“Sudah aku duga kau datang kemari untuk menemui kucing itu.”
“ Tidak, tidak. Ih!”
“Ah, sudahlah lupakan itu. Aku mengerti sekarang, pemandangan di sini sangat indah.”
“Aku s**a lautan, tapi langit di sini sangat mengerikan. Terutama saat malam.”
Cukup lama aku berbincang pada pagi itu. Ia menceritakan semua hal yang pernah ia alami. Alasan kenapa ia pindah sekolah ke sekolah ini. Satu hal yang membuatku tertawa saat ia bercerita, yaitu ketika ia dijuluki sebagai “Tsundure”. Dalam bahasa Jepang itu berarti perempuan yang merepotan dan selalu meniru orang lain. Setelah itu hal yang mengganjal dalam perbincangan kami. Ia menanyakan sesuatu yang tidak pernah orang lain tanya dan jarang pernah terjadi.
”Apa yang terjadi pada orang yang sudah mati?”
“Aku tidak terlalu tahu. Tapi, kurasa seperti tertidur dan tidak pernah bangun lagi.”
“Begitu ya. Tidur dan tidak bangun lagi, ya? Sepertinya menyenangkan. Hey, jika aku mati aku ingin dikubur di tempat ini.”
“Apa kau berencana ingin mati di suatu hari nanti?”
“Tidak, itu hanya hipotesisku saja.”
Setelah itu kami saling diam. Tidak berkata apapun lagi. Setelah kembali ke asrama aku merenggangkan otot-ototku. Ya, seperti biasa ia melakukan hal yang bodoh. Meminum jus dengan vitamin C 100%. Dia hanya berkata vitamin C baik untuk kepintaran seseorang. Entahlah, mungkin ia s**a aku tidak terlalu memikirkannya.
****
Saat malam hari kami berkumpul untuk saling bercerita. Ia hanya bercerita bagaimana ia bisa pindah ke sekolah ini. Bagaimana keadaan saat ia sekolah dulu. Tapi, saat ia bercerita ada hal yang menggajal dari ceritanya. Ada sesuatu hal yang ia sembunyikan. Namun, perbincangan malam itu telah usai karena keadaan cuaca yang tidak baik dan suara petir yang sangat kuat. Setelah kami kembali ke kamar kami masing-masing, lampu di asrama padam dan apa yang terjadi? ternyata ia tidur sambil berjalan. Menurut temannya ia selalu seperti itu setiap malam. Ya, bisa dibilang itu adalah kebiasaan aneh yang jarang aku temui.
Keesokan pagi, seperti biasanya, aku memasuki kelas yang hanya berisi 5 orang siswi dan 1 orang siswa yaitu aku. Belajar seperti biasa. Seusai pelajar aku langsung kembali ke asrama dan ia ada berada di belakangku dengan berjalan terburu-buru dan entah ingin kembali kemana. Akhirnya aku mengikutinya dari belakang. Ternyata ia menahan sakit dan menolak untuk memberi tahu orang-orang bahwa ia merasa sakit dan pergi ke taman untuk menahan sakit itu. Namun, setelah itu ia berlari entah pergi kemana. Aku mengikutinya dari belakang. Seperti biasa, ia hanya pergi ke mercusuar untuk memandangi laut.
“Sudah ku duga kau berada di sini.”
“Oh, ternyata kamu? Aku terkejut kau tahu aku berada di sini.”
“Kau menyukai tempat ini dan menjadikan tempat peristirahatan terakhirmu.”
“Ah, kau benar, tapi hawa di sini terlalu dingin dan anginnya terlalu kuat. Aku tidak menyukainya, tapi nampaknya ia menyukainya.”
“Maaf aku tidak dapat menangkap yang kau bicarakan. Siapa yang kau maksud dengan dia?”
Beberapa saat aku terdiam saat ia melihatku. Yang aku temui sekarang bukanlah dirinya yang asli melainkan dirinya yang lain. Ia sepertinya mempunyai dua kepribadian dalam satu tubuh dan yang aku temui sekarang adalah dirinya yang lain. Sorotan matanya seperti menjelaskan “aku bukanlah dirinya melainkan sisi lainnya”. Kemudian ia menceritakan tentang dirinya.
“Aku akan menjelaskan dengan bahasa yang mudah di mengerti. Aku senang kau datang kemari menemuiku tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kesehatanku sudah membaik.”
“Apa maksudnya ini? Siapa dirimu?”
“Apa yang kau maksud dengan siapa?”
“Setidaknya, aku yakin kau bukanlah dirinya yang kukenal.”
“Seperti itukah, mau diriku menjadi seperti yang mana? Sudah tidak usah membahasnya. Ayo kita mengobrol. Kamu bilang, kalau kematian itu seperti tertidur dan tidak pernah bangun lagi, kan?”
“Yang aku tahu begitu.”
“Saat ajalmu menjemput, kenapa semua orang seperti putus asa saat menjalani kehidupannya?”
“Manusia tidak bisa hidup seorang diri. Mereka hidup dengan penuh beban dan hutang. Buakankah kematian itu mengerikan ketika kau masih mempunyai beban dan hutang-hutang?”
“Jujur, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan tadi. Tapi itu merupakan obrolan yang sangat menarik.”
“Cukup obrolannya. Aku ingin kembali ke asrama.”
“Tunggu, apakah kau memiliki pacar?”
“Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku juga belum pernah berpacaran dan sekarang aku jadi ingin merasakannya. Kamu pernah berciuman sebelumnya?”
“Pernah.”
“Eh, ciuman itu seperti apa sih? Menyenangkan, kah? Ciuman seperti apa, sih? Jelaskan secara sederhana.”
“Kalau dijelaskan secara sederhana, itu sentuhan antara selaput lendir.”
“Kalau begitu, apakah aku bisa menciummu?”
“Silahkan.”
Tidak lama kemudian ia menciumku. Aku hanya berdiam diri. Ini permintaannya aku hanya menurutinya. Setelah itu ia kembali sadar ke dirinya yang asli dan tanpa sadar ia telah menciumku. Namun, ia terkejut saat ia masih memelukku dan bertanya apa yang aku lakukan. Aku hanya diam dan bertanya “apa kau tidak ingat kejadian tadi?”. Dia hanya menggelengkan kepala. Yah, sudahlah tidak penting untuk diingat lagi.
****
Ini adalah hari dimana hari yang tidak dapat ia duga-duga, yaitu kucing yang ia sayangi telah tewas karena tertabrak mobil. Kucing itu tidak dapat diselamatkan dan pada malam hari ia telah pingsan di lantai kamarnya. Ternyata ia terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan yang ia gunakan untuk menahan dirinya yang lain dan di samping itu ada tulisan yang ia buat, yaitu :
“Kenapa semua makhluk hidup harus mati dan kenapa aku selalu yang harus sendiri. Jika selalu seperti ini aku lebih baik memilih mati dan meninggakan dunia ini. Aku sudah terlalu lelah untuk melihat orang-orang yang aku sayangi mati. Kenapa tuhan tidak adil, kenapa semua yang ada di dunia ini tidak pernah adil. Kalian semua tidak adil.”
Namun ia tidak apa-apa, ia hanya mengkonsumsi obat-obat yang tidak berbahaya atau bisa disebut obat itu adalah permen. Sejak kejadian itu ia yang asli tidak pernah kembali dan yang ada di dalam tubuhnya sekarang adalah ia yang lain.
****
Hari itu aku mengajaknya bertemu setelah p**ang sekolah. Aku bertanya padanya, di mana dirinya yang asli dan kenapa dirimu ada di dalam tubuh itu? dan ia hanya menjawab, ternyata dirimu tidak dapat di kelabui. Pada malam hari aku mendatangi ia dan menanyakan kembali dengan membawa buku harian yang dibuat oleh dirinya yang asli.
“Maaf menganggu selarut ini, tapi ada yang ingin aku bicarakan.”
“Kau ini tidak ada capek-capeknya, ya? Bisa tidak, tinggalkan aku sendiri?”
“Maaf, tapi aku membaca ini.”
“Itu....”
“Buku harian yang ia buat. Sulit dipercaya kalau kepribadian bisa berpindah melalui cangkok jantung. Itu seperti film horor B.”
“Kamu tidak mempercayainya?”
“Mau tidak masuk akal itu bukan masalah. Aku harus percaya dengan apa yang aku lihat dengan mataku.”
“Dia memberitahuku dia tidak mau kembali lagi. Aku menentangnya. Maksudku, inikan tubuhnya. Tapi, dia tetap dengan pendiriannya.”
“Begitu, ya. Kalau memang ia yang memintanya, berarti tidak ada yang bisa kita lakukan. Tapi, bagaiman menurutmu?”
“Aku yakin dia yang harusnya hidup di dalam tubuh ini.”
“Kalau ia takkan pernah kembali lagi, kau bisa bebas menjalani hidupmu. Bukankah kau ingin satu kali lagi kesempatan dalam menjalani hidup?”
“Itu....itu memang benar. Tapi ini bukan tubuhku.”
“Jadi, kau ingin menghargai keinginannya?”
“Ya, begitulah.”
“Dan kau tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu ataupun tubuh itu?”
“Apa maksudmu?”
“Sudah jawab saja. Apa kau benar-benar merasa kalau ia lebih berhak dengan tubuh itu?”
“Ya.”
“Aku mengerti”
Kemudian aku menyuruhnya untuk meminum obat yang bertujuan untuk menahan kepribadiannya yang lain. Dengan sedikit paksaan aku memaksanya menelan obat itu. Aku memaksakan itu agar aku mengetahui prasaan yang ia pendam sehingga ia seperti itu. Tidak lama dirinya yang asli kembali lagi. Ia hanya menangis dan berkata:
“Aku...aku tidak sanggup dengan kehidupan ini. Aku tidak sanggup bila semua orang yang aku sayangi mati. Aku tidak kuat, aku ingin mati dan meninggalkan dunia ini.”
“Aku akan mengabulkan permintaanmu jika memang itu semua keinginanmu”
Aku membawanya ke dekat mercusuar dan aku memberikan obat penenang. Aku menguburnya hidup-hidup. Aku memang sudah merencanakan ini sejak aku membaca buku harianya dan menyiapkan semuanya. Saat aku akan menguburnya ia terbangun, namun efek dari obat yang aku berikan masih belum hilang.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Kau ingin mati maka aku akan mengabulkannya dan aku akan membunuhmu.”
“Tapi aku tidak menginginkan ini.”
Namun setalah itu aku menguburnya dengan peti yang transparan. Aku tidak mengerti apa ia pingsan atau tidak, namun setelah beberapa menit ia tidak mengerluarkan suara.
****
Setelah 3 hari aku menunggunya untuk keluar, akhirnya ia keluar dari peti itu. Ia hanya menagis dan tidak kuat untuk pergi dari tempat itu. Aku hanya mendengar gumamannya.
“Aku masih hidup. Aku ingin menemui teman-teman! Aku ingin menemuinya. Aku ingin tetap hidup. Aku tidak ingin mati. Semuanya....sudah berakhir...”
Aku menghampiri tempat itu untuk menolongnya.
“Ternyata cepat juga. Padahal baru 3 hari sejak kukubur. Setelah mengalami saat-saat kematian, pasti kau tidak akan tahan.”
“Kau? Kenapa? Kenapa kau di sini? Aku bermimpi, ya?”
“Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Bagaimana? Kau sudah sadar?”
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
“Aku sudah lama tahu kalau kau tidak ingin lenyap ataupun mati dari dunia ini. Jadi, aku menunggumu sampai kau keluar dari peti itu. Aku sudah berniat menunggumu di sini sampai kau keluar.”
“Tapi bagaimana....bagaimana kalau aku tidak keluar-keluar?”
“Entahlah. Aku tidak sempat memikirkannya. Tugasku adalah menunggumu sampai keluar. Aku tidak mempunya renacana B. Itu memang rencana asal-asalan. Yah, tapi itu bukan jadi masalah lagi.”
“Kau menungguku selama 3 hari ini?”
“Benar.”
“Terus kamu makan?”
“Bagaimana aku memikirkan makan, sementara kau terkubur hidup-hidup di dalam peti. Yah, lagian hanya 3 hari. Masih lebih baik dibandingkan sebuah kencan.”
“Kencan?”
“Jangan berbicara yang tidak-tidak. Ayo pergi.”
“Tunggu dulu. Aku masih hidup, kan?”
“Tentu saja.”
Lalu ia tersenyum dan berlari kemudian memelukku dan kemudian berterima kasih kepadaku. Setelah itu kami p**ang dan kembali ke asrama. Selama perjalanan aku menggendongnya dan ia bercerita apa saja yang alami saat di dalam peti itu. Ia bercerita bahwa ia bertemu dengan sahabatnya yang sudah meninggal dan mengajaknya untuk bersamanya dan ia menolaknya. Kemudian setelah itu ia bertemu dengan kucing yang ia sayangi dan juga pribadi dirinya yang lain. Ia menolak semua hal yang membuatnya untuk mati. Ia hanya berpikir bahwa ia masih mempunyai hidup yang harus ia jalani. Seperti itulah kejadian yang ia alami selama di dalam peti.
****
Setelah kejadian itu aku mencari informasi tentang pribadi dirinya yang lain. Aku bertanya kepadanya sebenarnya ia siapa. Aku meminta bantuan kepada bos dan aku mendapatkan infomasi tersebut. Aku memintanya untuk memanggil dirinya yang lain dan mengabulkan permintaannya.
Aku membawa dirinya yang lain ke suatu tempat, ke suatu desa yaitu ke rumah orang tuanya. Lalu dirinya yang lain menyadari tempat itu. Aku membawanya ke rumah itu untuk menemui keluarganya. Sesungguhnya dirinya yang lain itu sudah meninggal dunia akibat penyakit dan jantung yang ia miliki ia donorkan untuk digunakan orang lain. Aku menyuruhnya untuk menemui keluarganya untuk yang terakhir kali. Saat ia kembali, ia hanya menangis dan memelukku dan berkata.
“Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan memeluknya dengan erat dan sejak hari itu dirinya yang lain tidak pernah kembali lagi ke dirinya. Ia juga tidak mengkonsumsi obat-obatan untuk menahan dirinya yang lain keluar. Dengan ini misiku selesai untuk menjaganya.
by:arian
Sampah Merubah Ira
Tatapannya berpaling seorang tukang sampah tengah menyapu taman disekitar danau, yang membakar sampah yang dikumpulkannya tepat di dekat dia duduk. Api yang tengah membakar dedaunan kering terasa sangat panas, hingga membuatnya meneteskan air keringat. Jujur saja dia sangat terganggu dengan asap yang mengepul kearahnya. Aroma ‘sangit’ sangat menusuk hidung dan telah mengganggu pernafasan sehingga dia terbatuk kecil. Belum lagi ia harus menjaga matanya agar asapnya tidak mengganggu penglihatannya. Ia terus mengibaskan tangan di hidungnya agar tetap bisa menghirup udara bebas, namun asap yang mengepul kearahnya terlalu tebal sehingga percuma saja. Sekeras apapun ia mengibas, tidak kan berpengaruh terhadapnya malah tangannya akan kelelahan. Dia merasa tempat yang kini didudukinya seperti neraka bagi pernafasannya saat ini. Semakin lama disana semakin sengsara.
“Mbak, jangan duduk disitu! Nanti mbak badannya bau!”
Serak tua terdengar tidak jauh dari perapian sampah yang tidak lain adalah tukang sampah yang membereskan peralatan kerjanya dan bermaksud untuk p**ang menemui keluarga yang tengah rindu menunggu di rumah.
‘Benar juga apa yang dikatidakan bapak itu. Kalau aku di sini terus lama-lama badanku bau apalagi aku juga sengsara disini’ pikirnya.
Ia pun segera menghindar dari tempat duduknya dan menjauh dari asap yang mengepul ke arah tempat duduknya dan segera membalikkan badan ke arah bapak tua yang tengah membereskan peralatan kerjanya yang tidak jauh dari perapian.
‘Kenapa bapak itu tidak terkena kep**an asap dari perapian ya? Padahal bapak itu lebih dekat dibandingkan aku? Mungkin hari ini anginnya lagi enggak bersahabat’
“Terima kasih pak!” sambil memancarkan senyumnya.
“Iya mbak”
Setelah percakapan pendek tadi, segera ia melangkahkan kaki untuk pergi p**ang kerumah yang tidak jauh dari tempat sekarang dia berada, mungkin jika dihitung enggak sampai 500 meter.
Dalam perjalanan p**ang, ia bertemu dengan berbagai macam kendaraan bermotor. Lalu lintas terasa sangat sempit dengan adanya kendaraan bermotor, suara klakson berbunyi nyaring ditengah macetnya jalanan. Mungkin ada ratusan kendaraan bermotor yang ia jumpai ditengah perjalanannya. Jika dilihat dari atas, barangkali kendaraan bermotor yang ada saat ini seperti semut yang sedang mencari makan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Panas pun terasa sangat menyengat kulitnya yang masih muda, keringat yang menetes silih berganti membuat baju yang dia kenakan basah. Apalagi di bagian rawan keringat, dia tidak membayangkan betapa baunya dia. Perjalanan yang ia tempuh seperti sangat jauh. Di tengah perjalanan, dia melihat sebuah warung yang berada di kiri jalan. Warung tersebut sangat menggoda, tampak tulisan ‘es teh, es jeruk, es campur, es degan, aneka jus buah’. Sebenarnya diatas ada sebaris tulian ‘SEDIA: MIE GORENG/REBUS, BAKSO, SOTO, DAN SOP’. Namun dia tidak menghiraukan tulisan diatasnya, menurutnya makanannya hanya membuat dia tambah berkeringat saja. Tanpa pikir panjang langkahnya langsung menghampiri warung tersebut. Di depan pintu masuk dia melihat banyak sekali orang-orang yang tengah memesan, ternyata warung tersebut telah penuh oleh pengunjung. Untung saja dia melihat ada kursi kosong di pojok warung. Langsung saja dia duduk dan melambaikan tangan kepada penjaga warung.
“Mas es degan satu ya”
“Maaf mbak sudah habis”
Raut wajahnya nampak kecewa mendengar jawaban dari penjaga warung tersebut. Padahal paling enak panas-panas gini kalau minum es degan alias es kalapa muda. Tapi apa boleh buat, tidak apa-apalah. Ternyata suasana seperti ini banyak orang yang telah menghabiskan minuman favoritnya.
“Yang ada apa mas?”
“Ada es buah, es jeruk dan jus mbak? Pilih mana?”
“Es buahnya satu deh mas! Cepetan ya mas”
“Makannya apa mbak?”
“Enggak usah mas, minum saja”
Ternyata suasana di dalam warung lebih panas, untung saja dia dekat kipas angin. Jadi tidak terlalu panas. Berdasarkan perhitungannya, dari tadi dia hanya mendengar orang memesan minum saja tanpa memesan makanan. Nampaknya udara panas juga dirasakan semua orang termasuk di warung ini.
“Ini mbak”
“Makasih mas”
Tangannya terasa dingin ketika menyentuh es buah yang diberikan olehnya. Sangat menggoda memang. Tanpa pikir panjang dia langsung meminum minuman yang diberikan penjaga warung tersebut. Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit gelas tersebut hanya tersisa angin dan sendok kotor. Setelah selesai minum, dia menghampiri penjaga warung dan mengeluarkan dalam saku celananya uang 5000 yang sudah kusut.
“Terima kasih”
“Iya”
Jawaban yang singkat keluar dari mulutnya. Dia pun menuju pintu keluar warung. Di luar, suasana tidak berubah. Panas, asap knalpot, suara klakson mobil/motor yang begitu nyaring ditelinganya membuat dia ingin p**ang ke rumah untuk beristirahat. Sesampainya di halaman rumah, dia melihat beberapa pohon miliknya ditebang.
‘Ada apa ini? Kok mereka berani sekali menebang pohon yang kutanam waktu kecil? Maksud mereka apa sih’
Langkah kakinya menuntunnya ke dalam rumah, di dalam rumah dia melihat mamanya yang sedang menikmati acara tv favoritnya. Dia langsung mendekati mamanya dan mencium tangannya.
“Eh sayang udah p**ang!”
“Ma, aku mau nanya kenapa pohon yang aku tanam dulu sekarang di tebang begitu saja? Aku susah payah memeliharanya ma” protesnya
“Sayang, pohon yang di depan itu sudah mengganggu kabel listrik”
“Tapi kan enggak harus ditebang ma. Kan bisa dipindah ke tempat yang tidak menggaggu”
“(Hanya bisa senyum saja karena pemikiran tersebut tidak terpikir di benak mamanya waktu mengambil keputusan) Oh ya baju kamu kenapa basah seperti ini? Habis dari mana kamu sayang?”
“Tadi waktu perjalanan p**ang tuh panas banget ma sampek keringatan. Jadi bajuku basah deh”
“Ya udah kamu mandi saja sana, biar wangi”
“Iya ma”
Percakapan itu berakhir dengan kalimat ‘Iya ma’. Segera dia masuk kamar dan merebahkan tubuh mungilnya kekasurnya yang empuk sebelum dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
‘Aku bingung sama kota ini. Dulu waktu aku kelas 3 SD, kota ini tidak separah sekarang.’
Dia kembali mengingat dulu waktu dia pergi ke taman dekat danau pemandangannya lebih asri dan sejuk sekali, kendaraannya pun tidak semacet sekarang. Kalau pun panas mungkin tidak terlalu menyengat karena dipinggir jalan banyak pepohanan yang menutupi tubuhnya saat berjalan kaki.
“Ini adek Ira kok ngelamun aja? Ngelamunin apa sih?”
Awan, kakakku tiba-tiba membuyarkan lamunanku tentang masa lalu saat semua masih asri dan sejuk.
“Kak, aku mau tanya boleh enggak?”
“Tanya apa? Masalah cowok?” sambil tertawa “Duh kamu tuh masih kecil, udah mikirin cowok haha. . .”
“Iih siapa sih yang mikirin cowok? Kak Awan selalu aja gitu tiap kali aku tanya. Aku serius nih, enggak bisa diajak serius ya?”
“Iidih adek kakak yang paling imut marah hahaha. Iya iya kakak cuma bercanda, mau tanya apa?”
“Kakak merasa ada yang berubah enggak dari dulu hingga sekarang?”
“Hmmm pasti ada!”
“Apa kak?”
“Hmm ya sederhana saja, kamu sekarang udah SMA kelas 2 kakak udah kuliah semester 5. Dulu kan kita masih imut-imut gimana gitu hahaha. . .”
“Kak Awan tuh enggak bisa diajakin serius! Dah lah terserah kakak!”
Kini Ira makin marah dengan jawaban kak Awan yang semakin membuat dia lebih kesal. Dia beranjak dari kasur dengan wajah manyun, mengambil baju ganti dan handuk lalu meninggalkan kamar sambil membanting pintu kamar yang didalamnya terdapat cowok menyebalkan yang pernah Ira kenal yaitu Awan kakak kandung Ira.
“Ira kok marah sih? Kakak kan bercanda tadi!” teriak Awan dari jauh yang ditinggal pergi ke kamar mandi oleh Ira.
“Terserah kakak!” teriaknya sebelum masuk kamar mandi.
Rumah itu memang tidak pernah sepi oleh keributan dua anak tersebut. beginilah kondisi rumah Ira. Malam harinya saat Ira sedang membaca buku yang berjudul ‘The Old Man and The Sea’ di kamar, tiba-tiba handphonenya berdering. Mata Ira masih membaca buku namun tangan kanannya mencari keberadaan handphonenya yang tidak jauh berdering, setelah menemukan handphonenya pandangan mulai perpaling. Ternyata telepon dari salah satu temannya Zeza, Ira langsung menekan tombol warna hijau.
“Hallo”
“Hallo Ira, maaf ganggu sebentar. Besok kamu ada acara enggak?”
“Enggak sih, emang ada apa?”
“Gini ya Ra, untuk mengisi liburan semester kita aku mau ngajak kamu ke suatu tempat”
“Kemana?”
“Besok saja aku kasih tau. Besok aku ke rumahmu jam 9 pagi ya? Dandan yang rapi dan cantik ya hehe”
“Idih kayak mau ke pesta aja pakek dandan yang rapi. Oke aku tunggu ya”
“Dah dulu ya Ira aku masih ada urusan nih. Bye Ira”
“Bye Zeza”
Percakapan yang tidak mengeluarkan pulsa banyak telah berakhir dengan tanda tanya bagi Ira.
‘Kemana ya Zeza mau ngajak aku pergi? Enggak biasanya dia kayak gini. Sudah lah semua akan terjawab besok’
Kembali dia membaca buku novelnya hingga larut dan pergi tidur. Paginya semua berjalan seperti biasa, hanya saja hari ini libur untuk semester. Pagi-pagi yang pertama bangun adalah mama, tiap pagi mama bangun untuk menjalankan solat kemudian membuat sarapan. Setelah membuat sarapan dilanjutkan mama membereskan rumah, tapi untuk kamar aku dan kak Awan selalu membereskan sendiri karena kami enggak mau merepotkan mama. Dilanjutkan dengan papa, setelah bangun papa mengambil air wudhu kemudian solat. Setelah itu papa biasanya ‘jogging’ atau lari pagi di sekitar komplek perumahan Kinasih, selesai semua itu papa sarapan dan kerja. Papa kerja sebagai dokter, tempat praktek papa lumayan jauh untuk ditempuh maka dari itu papa selalu mengendarai mobil. Walaupun ini libur tetapi papa tetap bekerja. Papa juga punya mini market tidak jauh dari perumahan. Oh ya mama juga punya toko baju, berdekatan dengan mini market milik papa. Kalau Awan, tunggu sampai dikerjain sama Ira baru bisa bangun. Dan Ira sendiri bangun dengan bantuan alarm doraemon warna biru, dia sudah bangun. Setelah dia melaksanakan solat dilanjutkan membangunkan kak Awan, dia mengambil gayung dari kamar mandi yang berisi sedikit air kemudian Ira memercikkan air kearah wajah kak Awan hingga bangun. Hal ini seperti sudah menjadi kebiasaan keluarga sederhana ini.
Pukul 9 lebih 5 menit suara bel terdengar dari dalam rumah. Ira yang mendengar bel itu langsung menghampiri pintu depan dan membukanya.
“Hai Zeza (Kemudian melihat jam dinding) telat 5 menit nih”
“Iih 5 menit aja diperhitungkan”
“Hehe oh ya yuk masuk. Kamu mau minum apa?”
“Apa aja deh pokoknya yang seger, capek nih diluar panas”
“Tunggu bentar ya”
Ira pun masuk ke dapur untuk membuatkan Zeza minum, sementara itu Awan sembunyi-sembunyi mengahampiri Zeza.
“Hai Zeza (Duduk di sebelah sambil senyum-seyum)”
“Hai juga kak Awan”
“Kamu sendirian kesini?”
“Iya kak, aku mau ngajak Ira”
“Kemana?”
“Ke tempat pengolahan sampah, tapi aku belum ngasih tau kemana kita akan pergi”
“Oh pengolahan sampah. Boleh enggak aku ikut, yah ngitung-ngitung buat ngejagain kalian biar enggak ada yang macem-macem gitu”
“(Dengan wajah kaget dan sedikit bingung)”
Ira datang dan membawa minum es jeruk yang rupanya juga mendengar percakapan Awan dan Zeza langsung menolaknya.
“Enggak usah diajak, entar malah ngerepotin. Udah-udah kakak masuk kedalam saja, merusak aja nih”
“Iih ikut aja masak enggak boleh. Ya udah selamat berbau-bauan di sana” omel Awan sambil meninggalkan mereka.
“Berbau-bauan? Emangnya kita mau kemana sih? Kok kak Awan bilang gitu? Kamu dah ngomong sama kak Awan ya?”
“Yah dia kan tanya ya aku jawab. Jadi gini loh, kemarin aku diajak temenku ketempat usaha saudaranya. Lumayan jauh sih jadi aku ke sini bawa mobil, tempat usahanya itu pengolahan sampah. Jadi sampah-sampah yang tidak diperlukan masyarakat diolah sama saudara temanku. Aku denger-denger usahanya baru buka 4 bulan, tapi udah lumayan sukses”
“Wah seru tuh! Aku mau deh, tunggu bentar ya aku mau ganti baju. Minum aja dulu”
“Iya”
Ira pun bergegas menuju kamar dan ganti baju, meninggalkan Zeza sendiri di ruang tamu. Akhirnya dia bisa tau bagaimana proses pengolahan sampah secara langsung, Ira kembali teringat bapak tua tukang sampah yang berada di taman dekat danau. Sambil tersenyum dia membuka pintu kamar dan melangkahkan kakinya dengan penuh semangat.
‘Mungkin dengan aku tau cara pengolahan sampah, aku bisa merubah gaya hidupku dan mengajarkan pada orang lain bagaimana merubah gaya hidup yang dipenuhi sampah’
Ira menuju ke kamar mamanya untuk meminta ijin pergi bersama Zeza.
“Mah, Ira mau pergi sama Zeza ke tempat pengolahan sampah”
“Apa? Pengolahan sampah? Kamu betah di sana?” tanya mama sambil berwajah aneh seperti jijik mendengar kata ‘sampah’. Ira bingung dengan wajah mamanya yang tiba-tiba berubah, dengan santai Ira menjawab.
“Justru aku ingin banget kesana ma. Mungkin sehabis dari sana aku bisa merubah gaya hidup kita menjadi lebih baik. Mama kenapa sih wajahnya kok gitu? Ya udah ma aku berangkat dulu (mencium tangan dan pergi)”
Di ruang tamu hanya ada Zeza yang sedang membaca majalah dengan santai dan meminum es jeruk yang disuguhkan kepadanya tadi sambil menunggu Ira selesai dandan. Ira yang sudah berpamitan sama mamanya kembali menemui Zeza dan mengajak pergi segera. Akhirnya mereka pergi dengan mobil Zeza yang telah di parkir tepat di depan rumah Ira dan siap untuk berangkat.
Perjalanan sebenarnya hanya memakan waktu setengah jam namun karena rutinitas kota yang tidak pernah berhenti, perjalanan yang harus ditempuh mereka sangat menyiksa. Hawa panas telah merasuk ke dalam mobil, tetesan air keringat yang terus menerus mengalir, hari yang semakin siang, dan kemancetan yang semakin menjadi-jadi membuat mereka bosan berada di dalam mobil.
“Zez, kapan ya kota kita bisa kembali normal seperti dulu? Sekarang tiap kali pergi, harus melewati mancet dulu baru sampai tujuan. Dimana sih tempatnya?” omelnya dalam mobil
“Bentar lagi, nih mobilnya dah jalan”
Kesabaran yang telah mereka lalui membuahkan hasil, akhirnya mobil tersebut jalan juga. Dan tidak berapa lama kemudian mereka sampai ke tempat tujuan. Di sekitar tempat itu sangat berbeda dari tempat yang lain, suasananya sangat hijau. Tidak diragukan lagi ini pasti tempat yang dimaksud. Namun dari tempat mereka parkir tidak tercium bau menyengat sampah.
“(Sambil mengendus-endus)Zez bener enggak nih tempatnya? Kok enggak kecium baunya ya? Jangan-jangan nyasar lagi”
“Aku yakin kok ini tempatnya, kalau baunya tercium nanti malah mengganggu masyarakat sekitar. Gimana sih kamu?”
“Oh iya ya. Yuk kita masuk”
Mereka mulai masuk namun sebelum mereka masuk Zeza bertemu dengan teman yang mengajak Zeza ke tempat pengolahan sampah ini, dia Triska.
“Ra, kenalin ini yang ngajak aku kemarin namanya Triska. Triska ini temenku namanya Ira”
“(Mereka berjabat tangan sebagai tanda perkenalan diri) Ira”
“Triska. Oh ya yuk kita masuk sekarang, tempatnya memang agak dalem supaya enggak mengganggu orang-orang sekitar”
Ira dan Zeza hanya senyum mendengar jawabannya. Di dalam tempat itu udara terbuka yang terhampar di sekitar sangat dingin dan asri. Ira dan Zeza sangat kagum melihat pemandangan ini, mereka tidak menyangka ternyata masih ada tempat yang seperti ini di kota. Mereka bertiga terus berjalan masuk menuju tempat pertama, yaitu mereka memasuki tempat pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Pertanyaan mulai muncul dari tempat pertama.
“Triska, kenapa sampahnya kok dibedakan?” tanya Ira.
“Ini untuk memudahkan pengolahan sampah. Kita tau sampah organik tuh sampah yang bisa hancur, maka dari itu kita manfaatkan untuk pupuk. Sedangkan sampah anorganik itu sampah yang tidak bisa hancur, jadi kita bisa buat aneka kerajinan tangan.”
“Terus kerajinan apa yang bisa kita buat? Kan ini sampah yang sudah dibuang masyarakat, mereka membuangnya karena sudah tidak bisa digunakan lagi.” Tanya Zeza.
“Memang ini adalah sampah masyarakat, tapi bisa kok kita manfaatkan. Nanti ada prosesnya.”
Zeza dan Ira mendapatkan pelajaran yang pertama. Selama ini mereka selalu menjadi satukan sampah tanpa dipisah terlebih dahulu. Perjalanan mereka tidak sampai disini, mereka berjalan ke belakang tempat pemisahan sampah. Di tempat sampah organik, sampah tesebut dimasukkan di sebuah mesin seperti mesin penghancur dan dikeringkan. Proses berjalan beberapa menit, dan sampah yang telah hancur kemudian dibungkus dengan plastik besar.
“Ini sudah bisa jadi pupuk lho, sebenarnya kita bisa membuat pupuk ini sendiri di rumah. Dan kalau kita tidak punya mesin ini, kita bisa membiarkan sampah tersebut sampai hancur kemudian kita bisa pakaikan ke tanaman kita. Itu kalau kita tidak malas. Sekarang aku tunjukan proses pengolahan sampah anorganik”
Ira dan Zeza hanya bisa bengong dan berpikir ‘Ternyata gampang juga membuat pupuk dari sampah’. Mereka melanjutkan ke tempat pengolahan sampah anorganik. Sebelum sampah diolah harus dibersihkan dari kotoran dengan air, setelah bersih kemudian dikeringkan. Setelah itu baru deh bisa diolah. Pengolahan sampah anorganik ternyata lebih rumit, karena tenaga di sini masih tenaga manusia. Mereka melihat ada yang menjahit plastik bekas menjadi jas hujan yang menarik, mengumpulkan botol-botol bekas kemudian dirangkai hingga menarik dan dicat.
Ira dan Zeza tidak percaya dengan yang dilakukan para pekerja di tempat ini. Sungguh mengesankan, ternyata sampah yang selama ini mereka anggap tidak berguna bisa bermanfaat dan bernilai jual.
“Triska, kita boleh enggak belajar membuat kerajinan ini? Yah itung-itung kita juga bantu di sini”
“Boleh kok, oh ya ini mbak Tina dia akan mengajarkan kalian beberapa hal disini. Aku ada urusan di luar, enggak apa-apa kan aku tinggal kalian?”
“Enggak apa-apa kok”
Mbak Tina memperkenalakan dirinya dan mengajak mereka membuat kap lampu dengan botol bekas karena menurut mbak Tina ini hal yang paling mudah untuk dilakukan, sementara Triska telah pergi keluar.
“Pertama ambil satu botol kemudian belah jadi dua, kemudian kita lubangi tutupnya, setelah melubangi tutupnya kita tinggal pasang lampu beserta kabel dan colokannya. Nah tahap terakhir, ini kreasi kita bagian luar botol bisa kita hiasi dengan beraneka ragam hiasan seperti bentuk bintang, bunga, daun atau semacamnya. Gimana kalian bisa enggak?”
‘Wah simple sekali ya buatnya, aku kok bisa enggak tau. Sekarang aku mau mencobanya’ batin Ira dengan penuh semangat.
Ira mengambil botol yang berwarna bening sedangkan Zeza mengambil botol warna biru. Mereka mencoba meniru instruksi dari mbak Tina. Dimulai dari pemotongan botol menjadi dua sampai menghiasinya. Akhirnya mereka berhasil membuatnya walapun tidak sempurna, tapi lumayan lah. Setelah selesai mengerjakan semuanya, Ira berpaling pada sebuah ruangan yang terdengar bunyi mesin jahitnya.
“Mbak Tina ngomong-ngomong itu tempat apa? Dari tadi aku mendengar suara mesin jahit” Ira memberanikan diri untuk bertanya.
“Oh ruangan itu, sama sih sebenarnya cuma di sana yang diolah adalah limbah pabrik kain, jadi kain-kain bekas yang dibuang dikumpulkan di sana dan diubah menjadi aneka tas, baju dan lain sebagainya”
Ira teringat oleh mamanya yang memiliki toko baju, jika mamanya menjual baju dari limbah ini maka secara tidak langsung mamanya juga telah mengurangi limbah.
“Mbak, saya boleh tau gimana cara membuatnya?” pinta Zeza karena dia juga penasaran cara pembuatannya.
“Mari saya antar”
Diantarlah mereka ke dalam ruangan tersebut. Ira dengan semangat mengikuti mbak Tina dari belakang, Zeza yang melihat Ira penuh semangat menyindirnya.
“Cie yang mamanya buka toko baju bangga banget!”
“Yee biarin sirik aja kamu”
“Iih s**a-s**a dong”
Canda mereka berhenti ketika mbak Tina mempersilahkan mereka masuk kemudian menyuruh mereka memulai bekerja. Mereka bengong ketika disuruh mulai karena mereka memang enggak tau apa-apa.
“Oh ya maaf, gini ya kita buat yang mudah saja misal kita buat sapu tangan. Pertama kita cari kain perca yang warna dan motifnya hampir sama.”
“(Zeza mencoba mencari kain perca yang dikumpulkan di pojok ruangan) Seperti ini mbak?”
“Nah seperti itu”
“Ira kamu enggak ngambil kain perca? Kita belajar bareng-bareng” Zeza mengalihkan pandangan ke Ira yang dari tadi hanya diam melihat tangan Zeza.
“Aku mau lihat prosesnya aja dulu setelah itu aku baru coba”
“Ya udah kalau enggak mau mencoba sekalian, mbak setelah itu gimana?”
Mbak Tina mengambil benang dengan warna menyerupai kain perca yang diambil Zeza setelah itu menjahitnya di mesin jahit. Zeza yang tidak tau cara mengoperasikan mesin jahit kebingungan menjalankannya. Akhirnya salah seorang pekerja yang berada di ruangan membantu Zeza menjahit.
‘Hahaha masak pakai mesin jahit aja enggak bisa, dasar anak manja’ gumam Ira
Tidak lama Ira mengambil kain perca dengan warna dan motif yang hampir sama kemudian menuju mesin jahit dan mulai menjahit kain tersebut dengan perlahan. Dulu dia pernah belajar mengoperasikan mesin jahit milik mama, dan dalam beberapa hari dia bisa mengoperasikan mesin jahit. Tapi sekarang seperti kemampuan tersebut sudah berkurang karena semenjak itu dia tidak pernah menyetuh mesin jahit. Waktu berlalu begitu cepat, Ira berhasil menyelesaikan sapu tangan miliknya begitupun Zeza dengan bantuan salah seorang karyawan. Tiba-tiba Triska datang.
“Hai kalian ternyata ada disini”
“Eh Triska kok baru nongol dari mana aja? Nih liat aku dan Ira baru buat sapu tangan, asli buatan kita lho”
“Iidih Zeza bohong, dia tuh dibantuin sama karyawan sini. Kayak aku nih asli bikin sendiri walaupun agak hancur tapi masih mendingan”
“ Sudah sekarang kalian udah belajar bagaimana cara mengolah sampah, nah ini aku bawain kalian makan siang”
“Triska tau aja yang kita butuhkan sekarang, makan!”
Mereka bertiga beristirahat di bawah pohon yang rindang sambil melahap makanan yang dibawakan Triska. Setelah selesai makan, Ira dan Zeza merasa nyaman sekali berada di bawah pohon. Pohonnya sangat menenangkan jiwa dan walaupun panas menyengat namun itu tidak dirasakan sangat karena tertutup oleh dedauanan yang hijau.
“Triska aku mau tanya boleh?” Ira memulai pembicaraan.
“Boleh tanya aja”
“Setiap pohon yang tumbuh di sini apa kamu kasih pupuk buatan sini?”
“Iya, ya buat apa beli kalau kita bisa membuatnya. Jadi dengan ini kita bisa menghemat uang deh. Sekarang juga beredar pupuk yang berbahan dasar kimia, itu malah membuat lingkungan jadi rusak. So lebih aman aku pakai pupuk sini, buatan sendiri gitu!”
“Triska kamu punya bibit pohon enggak, kalau punya aku minta satu ya?”
“Ada sih, bibit pohon cemara. Mau?”
“Aku minta ya?”
“Boleh, aku ambilin dulu ya”
Triska pergi ke belakang mengambil bibit pohon cemaranya.
“Cie udah punya gantinya ya”
“Iya, aku seneng banget melihat suasana sini, ya aku juga berharap rumahku juga bisa seperti ini (melepas senyum bahagia)”
“Jadi kamu mau menamam pohon lagi?”
“Ya begitulah”
“Kayaknya aku juga ingin menghiasi rumahku dengan pohon deh, kayak kamu. Aku juga ingin suasana rumahku kayak gini, kangen entar kalau sudah pergi dari sini”
Triska datang dengan membawa dua bibit pohon cemara, sengaja dia membawa dua karena ingin memberikan pada Zeza juga agar enggak iri.
“Nih satu untuk Ira dan satu untuk Zeza, adil kan?”
“Triska kok kamu tau pikiranku sih, pengen nanam pohon kayak Ira. Sebelumnya makasih ya udah ngajak kita ketempat ini, banyak banget pelajaran yang kita peroleh habis dari sini. Kita mau pamit p**ang ya”
“Lho kok buru-buru amat sih?”
“Iya nih kita tidakut tambah ngerepotin kamu”
“Ngerepotin apaan sih, enggak kok kalian enggak ngrepotin aku. Malah aku seneng kalian ada disini. Oh ya aku boleh minta tolong enggak?”
“Minta tolong apa?” jawab Zeza dan Ira bersamaan.
“Kalau kalian punya sampah, tolong ya kalian bawa ke sini. Ya itung-itung aku ngebantu kalian mengurangi produksi sampah kalian, gimana?”
Ira teringat bapak tua tukang sampah yang berada di taman, mungkin Ira bisa mengurangi polusi sampah yang ada.
“Oke aku bisa kok tenang aja, tiap tiga hari seminggu aku akan ke sini buat setor sampah di tempatku” semangat Ira membara.
“Aku juga mau, sampah di rumahku selalu dibakar sama tukang kebun yang ada di rumah. Kalau dibakar terus kan polusi udara, kita juga mau ngurangin polusi udara dengan memanfaatkan sampah.”
“Makasih ya, kalian udah mau membantu usaha saudaraku”
“Sama-sama. Oh ya kita p**ang dulu ya”
“Ya udah hati-hati di jalan ya!”
“Iya”
Akhirnya Ira dan Zeza p**ang dengan membawa pelajaran tentang sampah. Di perjalanan mereka mampir untuk membeli tempat sampah, mereka punya tempat sampah di rumah namun mereka ingin membedakan sampah organik dan anorganik. Setelah itu sampah organik mereka olah sendiri dan yang anorganik mereka bawa ke tempat usaha saudaranya Triska. Setelah mereka membeli tempat sampah mereka langsung p**ang.
“Makasih ya Zez, kamu udah ngajak aku ke tempat pengolahan sampah.”
“Iya makasih juga kamu udah mau nemenin aku”
“Oke, oh ya udah mau sore nih aku masuk kedalam dulu ya. Bye Zeza”
“Bye Ira”
Setelah Ira turun dari mobil, Zeza menacapkan gas dan p**ang. Ira pun masuk ke dalam rumah dan ingin segera menceritidakan pengalamannya kepada mamanya.
“Mama aku p**ang” teriak Ira dari ruang tamu.
Mamanya yang mendengar suara Ira langsung menghampirinya yang sedang asyik duduk di kursi sambil meletidakkan bawaannya di meja tamu. Mamanya penasaran apa yang dibawa oleh Ira.
“Kamu bawa apa tuh?”
“Oh ini. Ini tempat sampah ma, buat di rumah” tegasnya.
“Lho? Dirumah kan ada tempat sampah, kenapa kamu beli lagi?”
“Gini lho ma, sekarang aku baru tau ternyata sampah itu bisa diolah dan hasilnya bagus kok. Maka dari itu aku akan mempraktekkan di rumah, jadi aku beli tempat sampah lagi agar bisa dibedakan antara tempat sampah organik dan anorganik. Dengan itu kita bisa mengolah sampah.”
“Wah kamu pinter ya nak, mama salut sama kamu. Terus sampah itu bisa diolah jadi apa?”
“Kalau sampah organik bisa kita olah menjadi pupuk ma, terus kalau yang anorganik bisa kita olah menjadi berbagai kerajinan tangan seperti kap lampu contohnya. Ini mah aku udah bikin kap lampu tapi berantidakan kayak gini.” Sambil menyerahkan hasil karyanya ke mamanya.
“Ini bagus kok nak, kamu hebat ya udah bisa bikin ini. Ada lagi enggak?”
“Ada kok ma ini sapu tangan buatan aku. Ma menurutku mama lebih baik juga menjual baju dari kain perca ini ma, pasti laku. Ini kan unik”
“Mama ragu nak mau menjualnya karena mama tidakut tidak laku. Nanti saja mama pikirkan lagi”
“Ma, kita coba saja dulu.”
“Ya udah deh mama coba”
“Nah gitu donk, ma aku masuk ke dalam dulu ya” pergi meninggalkan mamanya sendiri di ruang tamu.
Siang itu menjadi siang yang menyenangkan baginya, Ira memasuki dapur kemudian menaruh tempat sampah di dekat tempat sampah yang sudah ada di sana. Ira mengambil spidolnya kemudian menuliskan disalah satu sisi tempat sampah ‘sampah organik’ lalu meletidakkannya dan mengambil yang satunya lagi ‘sampah anorganik’. Begitulah, peraturan baru yang ada di rumah adalah membedakan sampah organik dan anorganik yang dibuang. Ira merasa puas dengan yang dilakukannya. Sebelum Ira ke kamar, dia menyempatkan diri untuk menanam pohon cemara yang diberikan Triska kepadanya di belakang rumah berharap pohon ini bisa tumbuh dan memberi warna hijau pada rumahnya. Setelah menanamnya, Ira mengambil gayung di kamar mandi beserta airnya untuk disiramkan pada tanaman barunya. Saat akan keluar dari kamar mandi, dia menabrak kak Awan yang hendak mandi sehingga membuat baju kak Awan basah.
“Kamu tuh bikin baju kakak basah, ngapain kamu bawa gayung keluar? Mau mandi diluar ya?”
“Kak Awan aja yang tadi nabrak aku, jadi basah deh baju kakak. Aku tuh bukan mau mandi tapi mau nyiram tanaman baru aku, itu dia (sambil menujukkan tanaman)”
“Tanaman apaan tuh? Kecil banget”
“Iya iyalah kak, itu kan bibitnya. Tentu saja masih kecil”
“Emang yang kamu tanam apaan tuh?”
“Pohon cemara kak. Oh ya kak, ada peraturan baru dalam rumah ini!”
“Peraturan apa? Udah kayak presiden aja pakek acara peraturan baru”
“Iih serius aku kak”
“Ya udah kakak dengerin, apa peraturannya?”
“Setiap kali mau buang sampah harus dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, tadi aku baru beli tempat sampah lagi terus aku tandain kedua tempat sampah itu ‘sampah organik’ dan ‘sampah anorganik’. “
“Hahaha kamu mau belajar jadi tukang sampah ya?” ledek kak Awan.
“Kenapa sih kak Awan enggak bisa diajak serius”
“Iya iya kakak ngerti kok, ya dah terusin tuh nyiramnya kakak tinggal dulu. Mau ganti baju”
Kak Awan pergi meninggalkan Ira di bibir pintu kamar mandi. Ira kembali mengambil air dan menyiramnya perlahan-lahan.
‘Semoga tanaman ini bisa tumbuh dengan baik’ harapan dalam hatinya. Dia teringat sesuatu, karena hari ini belum terlalu sore Ira memutuskan untuk pergi ke taman dekat danau. Ira bergegas mengembalikan gayung ke kamar mandi, terus ke kamar mengambil tas lalu ke garasi mengambil sepeda dan pergi ke taman. Saat dia keluar kamar, Ira kembali berpapasan dengan kak Awan.
“Hey mau kemana Ira?” tanyanya.
“Bentar!!”
Setelah itu dia pergi ke garasi untuk mengambil sepeda, saat membawa sepedanya keluar garasi dia berpapasan dengan papanya yang tengah memarkir mobil masuk ke garasi. Ira melepas senyum dari wajahnya sambil tetap berjalan berjalan.
“Mau kemana Ira?”
“Bentar kok pa”
Jawaban yang sama kembali muncul dari bibirnya. Kemudian Ira menuju taman, dan setelah sampai disana Ira mencari seseorang. Ternyata Ira mencari bapak tua tukang sampah yang pernah dia temui saat dia kesini kemarin.
‘Semoga bapak itu belum p**ang’ dalam hatinya.
Setelah dia berputar-putar mencari bapak itu, ternyata bapak itu tengah beristirahat di bawah pohon beringin yang sejuk. Ira menghampiri bapak tua itu.
“Sore pak” sapa Ira mengawali pembicaraan.
“Sore mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya yang kemarin itu lho pak”
“Oh mbak yang waktu itu. Ada apa mbak?”
“Begini pak, saya waktu itu melihat bapak membakar sampah dan menurut saya yang bapak lakukan itu salah pak. Nanti jadi polusi, belum lagi pengunjung juga terganggu dengan asap dari sampah yang bapak bakar.”
“Terus bagaimana?”
“Bapak kan bisa mengolah sampah itu?”
“Bapak itu cuma lulusan sekolah dasar, jadi mana tau yang kayak begituan”
“Ya sudah pak begini saja, setiap kali bapak menyapu bapak kumpulin saja sampahnya di suatu tempat kemudian bapak antar saja ke rumahku. Bentar ya pak alamatnya aku tuliskan”
Dia mengeluarkan kertas kecil dan pensil kemudian menuliskan alamatnya dilanjutkan menuliskan nomer teleponnya dan menyodorkan ke bapak itu.
“Nama saya Ira pak dan ini alamat sama nomer hp saya”
“Waduh mbak saya enggak punya hp, tapi saya usahakan saya akan mengantarkan sampahnya ke rumah mbak”
“Makasih ya pak, rumah saya enggak jauh kok dari sini. Oh ya pak saya p**ang dulu ya, besuk bapak sudah bisa setor sampahnya”
“Iya mbak, mbak Ira peduli banget sih sama lingkungan. Jarang banget anak muda kayak mbak Ira seperti ini, seandainya semua anak muda sama kayak mbak pasti kota ini enggak kayak sekarang.” Puji bapak itu
“Bapak ini bisa-bisa aja. Ya udah pak saya p**ang dulu”
“Hati-hati ya mbak”
Akhirnya Ira p**ang ke rumah. Setelah sampai di rumah dia langsung menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya sambil melihat jam dinding yang berada tepat didepannya.
‘Jam setengah 5, mandi dulu ah.’ pikirnya sambil menuju kamar mandi.
Hari ini Ira benar-benar capek, dia mendapatkan banyak pelajaran tentang sampah. Dia bisa membayangkan jika hidup ini seperti dulu, sejuk dan asri. Hari itu pun berlalu begitu cepat, esok kegiatan yang dilakukan akan tetap sama seperti biasa. Sekitar pukul 8 pagi Zeza datang ke rumah Ira untuk mengajaknya pergi ke tempat kemarin yaitu tempat pengolahan sampah sambil membawa sampah mereka masing-masing. Saat Ira sedang mengambil sampahnya, tiba-tiba bel rumah berbunyi dan Zeza yang membuka pintu. Ternyata bapak tua itu datang dan membawa sampah.
“Nyari siapa ya pak?” tanya Zeza
“Nyari mbak Ira, ini benar rumahnya mbak Ira kan?”
“Bener kok pak, silahkan masuk”
“Makasih”
Saat melihat sekitar rumah Ira, bapak itu sangat terpesona dengan rumah Ira yang besar dan mewah. Tidak seperti rumahnya yang sudah reyok dan tidak layak pakai. Dia merasa sangat tidak pantas berada di rumah itu, bapak itu seperti enggan masuk namun Zeza menarik tangan bapak itu masuk dan mempersilahkannya duduk.
“Sebentar ya pak saya panggilkan Ira. Ira . . . ada yang nyariin kamu” teriak Zeza dari ruang tamu.
“Bentar suruh masuk aja dulu” balasnya.
“Ya udah pak tunggu saja, kalau boleh tau bapak ini siapa?”
“Saya tukang sampah yang ada di taman deket danau itu lho. Saya ke sini cuma mau mengantarkan sampah pesenannya mbak Ira.”
“Pesenan?” Zeza jadi bingung, jika Ira memesan sampah berarti Ira juga harus membayarnya. Sama saja Ira membeli suatu barang, padahal barang tersebut tidak perlu mengeluarkan uang. Dan singkatnya Ira menghamburkan uang.
Tiba-tiba Ira datang keruang tamu sambil membawa minuman.
“Eh bapak udah datang, ayo pak diminum dulu minumannya” sambil menawarkan minuman
“Terimakasih mbak tapi saya buru-buru saya langsung p**ang saja ya mbak. Permisi”
Bapak tua tersebut tidak menyentuh minuman yang dibuat Ira dan langsung p**ang.
“Ira kamu ini apa-apaan sih pakai pesan sampah segala. Sampah itu banyak enggak usah dipesan Ira, buang-buang uang saja. “ omel Zeza.
“Siapa sih yang buang-buang uang?”
“Ya kamu lah, kan kamu pesan ya kamu harus bayar lah”
“Hei aku itu enggak pesan, kemarin aku ke taman terus aku bilang ke bapak itu setiap kali bapak menyapu, bapak kumpulin saja sampahnya di suatu tempat kemudian bapak antar saja ke rumahku. Gitu loh ceritanya?”
“Jadi dia setor sampah sama kamu?”
“Iya lah, yuk kita ke tempat kemarin”
Mereka pun pergi ke tempat pengolahan sampah sambil membawa sampah masing-masing dan Ira juga membawa sampah dari bapak tua tukang sampah, setelah sampai di sana mereka langsung bertemu Triska.
“Triska ini sampah kami berdua, kami datang sekarang karena sampah di rumah kami sudah menumpuk jadi kami datang” kata Zeza.
“Wah banyak juga ya sampah kalian, ya udah aku tampung semua ini ya. Sekarang kalian masuk yuk.” Ajak Triska.
“Enggak usah kami kesini cuma mau nganterin sampah ini kok setelah itu kami p**ang”
“Ya udah kalau gitu, ini ada sedikit pupuk organik buat tanaman kalian di rumah. Semoga tanaman kalian bisa tumbuh besar.” Ucap Triska sambil memberikan pupuk organik yang bungkusannya lumayan besar.
“Wah terima kasih ya udah kasih kami pupuk organik”
“Iya sama-sama, setiap kalian setor sampahnya aku akan kasih kalian pupuk organik ini. Gratis!”
“Waduh serius nih! Terima kasih banyak ya kamu dah bantu kami merawat tanaman kami. Lusa kami akan kembali lagi.” Ira merasa senang.
“Itu kan tanggungjawab kita merawat tanaman, sebelum semua terlambat.”
“Ya sudah kalau gitu kita p**ang ya. Bye Triska”
“Bye Triska” lanjut Ira.
“Bye”
Mereka p**ang dengan membawa pupuk organik pemberian Triska. Sampai di rumah, mereka langsung memupuk tanaman mereka dengan pupuk organik. Dan seterusnya.
bye Rendi Wijiatmoko