Pondok Indah Muslim Indonesia

Pondok Indah Muslim Indonesia

Share

Pondok Indah Muslim Indonesia “JASMINE™ Pusat Layanan Hunian Rumah (Muslimah), Penyewaan Ruang Kamar (Kost), Pembinaan dan Pendidikan Islam. HP. 0813 4655 9880

Informasi, Layanan dan Pemasaran ; Wiwit Citarasmi, S.E. (General Manager, +6281346559880) Pondok Indah Muslim Indonesia “JASMINE™, Berdiri pada Hari Jumat, tanggal 6 bulan Dzulkaidah tahun 1433 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 22 September 2012 Masehi, pukul 14.53 Wita, Sebagai Pusat Layanan Hunian Rumah (Muslimah), Penyewaan Ruang Kamar (Kost) Harian/ Bulanan/ Tahunan, Pembinaan dan Pendidika

07/09/2024

KEBEBASAN TANPA AGAMA? BAHAYA!

Buletin Gaul Islam edisi 880/tahun ke-17 (28 Shafar 1446 H/ 2 September 2024)

Kalo kamu mengendarai sepeda motor, selain bisa secara teknis keterampilan dalam menggunakannya, juga kamu kudu bisa berpikir. Jangan cuma terampil tetapi pikiranmu liar. Bukan tak mungkin remaja yang sekadar bisa mengendarai sepeda motor tapi mengabaikan pikirannya bakalan ugal-ugalan saat mengendarai sepeda motor. Tentu, itu bakal membahayakan dirinya dan juga orang lain. Lagian, kalo kamu berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain di suatu komunitas atau lingkungan masyarakat, pasti bakalan ketemu aturan dan batasan. Artinya, nggak bisa bebas begitu aja. Sama kayak kamu semangat menggeber gas sepeda motormu hingga kecepatan tinggi, tetap aja kamu butuh rem untuk mengendalikannya. Kalo tancap gas terus ya, bisa bahaya. Sebab, jalan yang kamu lalui, meski di sirkuit, tetapi ada belokannya. Nggak lurus semua. Saat itulah rem difungsikan dengan benar dan baik.

Saat kita pengen bebas dalam hidup ini, agama bisa berperan untuk mengatur dan membatasi. Inilah hidup. Memang demikian adanya. Agama kita, yakni Islam, tentu akan menyelamatkan kita di dunia dan juga di akhirat. Islam yang akan mengatur cara berpikir dan bertindak kita. Nggak akan dibiarkan bebas berpendapat dan berperilaku. Ada aturan dan batasan. Itulah peran agama. Maka, sangat heran kalo ada yang malah menyingkirkan agama dari kehidupan. Bahkan sesumbar kalo Tuhan sudah mati. Wah, itu sih sama aja misi bunuh diri. Beneran.

Ngomong-ngomong soal ini, kamu pernah dengar atau tahu nama Friedrich Nietzsche? Ya, dia adalah filsuf Jerman yang menggegerkan dunia dengan kalimat provokatifnya, “Gott ist gestorben” atau “Tuhan sudah mati”. Bukan hanya sekadar pernyataan, tapi sebuah bom pemikiran yang mengguncang iman dan keyakinan banyak orang. Tapi, jangan langsung terperangah. Di balik ketegasan Nietzsche, tersimpan psikologi yang rumit dan penuh teka-teki—suatu gambaran dari kelemahan manusia itu sendiri.

Dalam refleksi mendalamnya, Nietzsche menuturkan, “Setiap filsafat besar adalah pengakuan pribadi sang filsuf.” Pernyataan ini memperlihatkan bahwa pemikiran Nietzsche tak lahir dalam ruang hampa; ia adalah produk dari jiwa yang terperangkap dalam pencarian makna, bahkan jika itu berarti menolak Tuhan. “Ateisme bagiku bukan sekadar hasil pemikiran, tapi dorongan naluri,” katanya lagi. Sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa ide-ide Nietzsche lebih merupakan cermin dari jiwanya yang bergejolak.

Namun, apakah Nietzsche benar-benar memahami apa yang ia tolak? Ataukah ia hanyalah potret dari keterbatasan akal manusia yang berusaha memahami Sang Pencipta dengan cara yang terlalu rasional? Ini adalah bukti bahwa manusia, dengan segala kecerdasannya, tetap membutuhkan panduan ilahi. Dan di sinilah peran agama yang sebenarnya.

Nggak cuma Nietzsche, Sigmund Freud, psikolog kondang dengan teori kekafirannya, juga menambah daftar tokoh yang menolak agama. Dalam The Future of an Illusion, Freud menyatakan bahwa agama hanyalah ilusi belaka, produk ketakutan manusia akan alam semesta yang tak terkendali. Bagi Freud, agama adalah bentuk pelarian, sebuah ilusi yang menghibur manusia dari kenyataan pahit kehidupan.

Ironisnya, meski mengklaim menolak agama, pemikiran mereka justru menegaskan kebutuhan manusia akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Fitrah manusia—yaitu naluri beragama—tidak bisa dihilangkan. Bahkan kaum ateis pun, dalam banyak kasus, tetap mencari “tokoh” yang mereka agungkan, meski itu bukan Tuhan.

# Ancaman Nyata

Sobat gaulislam, di dunia yang makin liberal seperti sekarang, di mana kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat dikampanyekan sebagai hak asasi manusia, ancaman nyata justru muncul dari kecenderungan untuk menyingkirkan agama. Nietzsche dengan lantang meneriakkan kematian Tuhan, sementara Freud menyebut agama sebagai ilusi. Apakah ini sekadar opini pribadi atau cerminan dari realitas dunia yang semakin mengesampingkan spiritualitas?

Faktanya, di banyak tempat, agama hanya menjadi status tanpa makna. Ada orang yang mengaku beragama, tapi perilakunya jauh dari ajaran agamanya sendiri. Fenomena ini tidak jarang membuat kita bertanya-tanya: apakah agama masih relevan di dunia yang semakin materialistis ini?

Kalo kamu getol menyimak dan membaca beragam fakta, baik di media sosial mapun di kehidupan nyata, ada banyak orang yang jauh dari ajaran agama. Ngakunya muslim tetapi jadi koruptor. Di KTP tertulis agama Islam, tetapi kelakuan jauh dari ajaran Islam. Doyan fitnah, mengadu domba, menjadi buzzer rezim yang siap sedia membela meski rezim sangat zalim. Modelan begitu, bisa terkategori munafiq. Gampangnya, ngaku muslim tetapi pikiran dan hati membenci Islam dan kaum muslimin, dan itu ditegaskan dalam perilaku. Membuat aturan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Di saat bersamaan, orang-orang kafir justru dijadikan sahabat karib dan aturan kehidupan dipercayakan kepada aturan buatan manusia. Ini aneh bin ajaib. Jelas sebuah ancaman yang nyata.

# Beragama itu Fitrah

Manusia, pada dasarnya, diciptakan dengan potensi kehidupan yang unik. Sama seperti hewan, manusia memiliki kebutuhan jasmani dan naluri. Tapi ada satu hal yang membedakan: akal. Dan dengan akalnya, manusia memiliki naluri untuk mencari dan menyembah sesuatu yang lebih besar dari dirinya—naluri beragama yang dalam Islam disebut gharizatu at-tadayyun.

Firman Allah dalam al-Quran mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam ini bertasbih kepada-Nya, meskipun kita tidak memahaminya (QS al-Isra [17]: 44). Ini membuktikan bahwa seluruh makhluk hidup memiliki naluri untuk mengagungkan Penciptanya.

Dalam ayat lain Allah Ta’ala (yang artinya), “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya.” (QS an-Nuur [24]: 41)

Pengertian ‘tasbih’ ini sebagai bentuk naluri beragama, yakni mensucikan sesuatu yang diyakini, bahwa Dialah Sang Pencipta. Oya, pensucian ini adakalanya ditampakkan dengan bentuk ibadah, kadang juga cuma sebatas penghormatan atau kekaguman aja (ini minimal banget, lho).

Perasaan lemah, kurang, dan kerdil manusia di hadapan zat Yang Maha Agung, yang membuat manusia kemudian mengagung-kanNya dalam ibadah. Eh, sebenarnya nggak cuma dalam ibadah lho perasaan seperti ini. Bergama itu fitrah. Itu sebabnya, di luar ibadah pun manusia tetep memerlukan agama yang sesuai dengan fitrah-nya yang lemah, kurang, dan tentunya memerlukan banget zat Yang Maha Agung.

Maka, nggak salah d**g kalo kemudian manusia akan mencari agama yang sesuai dengan fitrah-, yakni agama yang diturunkan oleh zat Yang Maha Agung, Dialah, Allah Ta’ala. Jadi jelas, inilah alasan rasional bahwa manusia membutuhkan agama dan membutuhkan agama dari Allah Ta’ala dan bukannya dari yang lain.

Nah, dengan demikian, kalo ada orang yang masih nekatz nggak membutuhkan agama dengan alasan agama adalah candu dan cuma hayalan aja, maka jelas tuh orang lagi ngigo, bukannya mikir. Tul nggak? Itu sebabnya, para penulis biografi Nietzsche menganggap Nietzsche lagi nggak nyadar ngomong begitu.

# Jadi Ateis? Dia Tertipu!

Sobat gaulislam, orang-orang yang mengaku ateis sebenarnya sedang membohongi diri mereka sendiri. Mereka mungkin menolak keberadaan Tuhan, tapi mereka tetap memerlukan sesuatu untuk disucikan—entah itu ideologi, tokoh, atau kekuasaan. Mengalihkan penghormatan mereka kepada hal-hal yang bersifat duniawi adalah bukti bahwa mereka tidak bisa menghilangkan kebutuhan spiritual yang ada dalam diri mereka.

Lantas, mengapa banyak ilmuwan beralih menjadi ateis? Ehm, kamu masih ingat kasus tewasnya Galileo Galilei? Yup, karena ilmuwan yang satu ini menyatakan perbedaan pendapatnya dengan para rohaniwan gereja yang keukeuh meyakini bahwa bumi adalah pusat tatasurya. Tapi Galileo mengatakan, matahari adalah pusat tatasurya, terutama setelah ia yakini dengan pasti ketika berhasil membuat teleskop. Hasilnya, Galileo tewas dibakar dan dianggap pernyataannya yang kontroversial itu sebagai bentuk pembangkangan atas ‘fatwa’ gereja yang udah disepakati itu.

Setelah itu, ribuan ilmuwan Barat, terutama di Perancis berbond**g-bond**g ninggalin agama mereka. Mereka menjadi ateis. Celaka dua belas tuh!

Banyak lho, di sini juga yang begitu. Kaum muslimin yang kritis tapi lemah iman dan ilmu, mereka cepat nggak puas dengan ajaran Islam yang dinilainya nggak bisa mengubah kondisi masyarakat. Kebetulan yang dilihatnya dari Islam sebatas ibadah ritual belaka.

Mereka mikir, bahwa wirid dan sekadar baca “yasinan” dan melakukan “tahlilan” nggak bakalan ngubah kondisi masyarakat yang terus meluncur masuk jurang kerusakan di berbagai bidang. Ujungnya, meski sebagian masih ada yang mengenakan stempel muslim, tapi mereka udah memilih menjadi pengikut sosialisme-komunisme. Bahkan yang mengagetkan, banyak mahasiswa muslim di negeri ini bangga menjadi bagain dari kaum “Marx”: “I am Marxis!” Naudzubillahi min dzalik!

Ngeri. Jangan sampe agama sekadar jadi status aja. Tapi sebaliknya, agama kudu kita jadikan sebagai pandangan hidup. Kita wajib menjadi pejuang dan pembela untuknya. Ya, layaknya yang udah jatuh cinta, kita kudu mengorbankan diri kita, sepenuh hati kita. Oke deh, buang jauh-jauh semua pikiran yang nggak bener dalam benak kita. Jadi kalo ada yang masih bangga dengan paham ateis, mending ke laut aja deh! Tul nggak?

# Bersama Islam, Kita Bahagia

Sobat gaulislam, agama bukanlah sekadar status, apalagi sesuatu yang bisa diabaikan. Islam adalah pandangan hidup yang memberikan panduan komprehensif tentang bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia ini, sekaligus mempersiapkan kita untuk akhirat. Allah Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa satu-satunya agama yang diridhai di sisi-Nya adalah Islam (QS Ali Imran [3]: 19). Jadi, tak ada alasan untuk mencari agama lain, apalagi menolak agama.

Menolak agama sama saja dengan menolak fitrah kita sebagai manusia. Islam hadir untuk memenuhi kebutuhan kita akan petunjuk yang benar, dan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati. Jangan sampai kita terjebak dalam pemikiran yang salah, hanya karena dunia modern menawarkan alternatif yang terlihat lebih menarik. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.

Jadi, jelas bahwa cuma agama Islam yang diridhai sama Allah. Itu sebabnya, kita kudu bangga en pede jadi muslim. Jangan pernah pindah ke lain akidah, deh. Cukup kita yakini Islam sebagai pandangan hidup kita. Harus itu!

Itu sebabnya, dalam ayat lain Allah menjelaskan dalam firman-Nya (yang artinya), “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS ali Imran [3]: 85)

Wah rugi tuh orang yang nggak menjadikan Islam sebagai agamanya. Apalagi jadi ateis. Kagak pake dah! Jadi jelas lho, beragama itu, dan yang pasti beragama Islam, adalah sebuah pemenuhan yang rasional. Kita nggak bisa lagi berlindung di balik alasan apa pun untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan kita. Hanya Islam yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Agama yang Allah Ta’ala ridhai. []

31/03/2024

KUMPULAN 10 CHANNEL TELEGRAM BERMANFAAT

Masya Allah, Berikut Kami Rangkum Daftar Saluran Berfaedah yang Bisa Menambah Kebaikan & Pemahaman Kita, Insya Allah. Selamat Bergabung!

01. Channel Buku Elektronik
t.me/bukudigitalindonesia

02. Channel Maktabah Syariah
t.me/maktabahsyariahindonesia

03. Channel Sirah Nabawiyah
t.me/dakwahdigitalindonesia

04. Channel Media Dakwah
t.me/mediadakwahindonesia

05. Channel Pustaka Digital
t.me/pustakadigitalindonesia

06. Channel Kisah Anak
t.me/ceritaanakindonesia

07. Channel Taman Alquran
t.me/alqurandigitalindonesia

08. Channel Lagu Islami
t.me/musikdigitalindonesia

09. Channel Tahsinul Quran
t.me/metodeummiindonesia

10. Channel Rumah Film
t.me/rumahfilmindonesia

Silakan Dikunjungi, Dipelajari, Diamalkan, dan Disebarkan. Semoga Bermanfaat dan Bernilai Amal Jariyah Untuk Kita Semua.

"Yuk Berbaris dalam Dakwah, Mari Berpeluk dalam Ukhuwah!"

Salam Persaudaraan,
〽️✍️
MEDIA DIGITAL INDONESIA

23/03/2024

MAKSIAT SAMPAI AKHIR HAYAT?

Buletin Gaul Islam edisi 856/tahun ke-17 (8 Ramadhan 1445 H/ 18 Maret 2024)

Ah, jangan d**g. Apalagi kalo sampai diniatkan begitu. Mestinya, taat sampai akhir hayat. Itu baru hebat. Semoga kita bisa mempertahankan keimanan kita sampai ajal menjemput. Kalo maksiat, segera bertaubat. Jangan malah kebablasan sampai akhir hayat. Rugi, d**g. Padahal, kesempatan untuk bertaubat selalu ada. Setiap hari selama kita masih diberikan umur oleh Allah Ta’ala adalah kesempatan emas untuk bertaubat. Mumpung di bulan Ramadhan, banyak ampunan asalkan kita mau bertaubat kepada Allah Ta’ala. Maka, manfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat, minta ampunan. Salah satunya, dengan menjalankan ibadah puasa. Sebab, puasa yang diniatkan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa kita akan diampuni oleh Allah Ta’ala. Penjelasan detilnya udah di edisi pekan sebelumnya, ya. Silakan kamu cek, deh.

Sobat gaulislam, menjadi istiqamah dalam kebaikan itu sulit dan berat. Sulit karena kita harus siap menahan banyak godaan hawa nafsu. Berat karena kita juga harus mempertahankan keyakinan kita sambil kita menghalau berbagai godaan. Namun, kalo kita yakin dengan pertolongan Allah Ta’ala dan berusaha untuk tetap di jalur yang benar, semua akan dimudahkan.

Nah, kalo udah terlanjur berbuat maksiat, segera sadar dan hentikan. Ibaratnya kalo kita lagi jalan menuju suatu tempat, eh ternyata kelewatan dari jalur yang seharusnya kita lalui, ya tentu kita menghentikan laju kita, lalu kita bisa balik lagi sesuai petunjuk jalan yang diseharusnya. Itu baru bener. Jangan malah bablas semau kita, apalagi nggak mau lihat peta. Itu namanya nekat. Belum tentu ketemu jalan yang benar di depan, gimana kalo malah tersesat makin jauh?

Hidup kita juga begitu. Benar bahwa tak selamanya kita bisa berada dalam kenyamanan, ada saatnya kita nggak nyaman. Benar juga bahwa kita nggak selamanya aman, bisa jadi esok atau lusa kita dalam ketakutan. Nggak salah juga kalo ada yang bilang bahwa tak selamanya hidup itu bahagia, karena bisa jadi kita akan alami sengsara. Benar p**a bila kita tak selamanya dalam kesalahan, ada saatnya jadi baik. Hidup berjalan dan mengalami berbagai situasi dan kondisi. Sama seperti perjalanan kita ke suatu tempat yang dituju. Ada jalan menanjak, jalan menurun, tikungan tajam, jalan datar, jalan bergelombang, dan seterusnya dan sebagainya. Intinya, itu semua harus kita hadapi. Jangan lari dari kenyataan.

Perjalanan hidup kita di dunia juga banyak lika-likunya. Padahal, tujuan akhirnya di akhirat yang kekal. Dunia sementara, akhirat selamanya. Sesat di dunia, sesal di akhirat. Rugi banyak, d**g. Iya. Itu sebabnya, kita kudu waspada. Jangan sampai terjerumus lebih dalam kepada keburukan. Jangan terus-terusan bermaksiat. Mau sampai kapan? Jangan sampai maksiat hingga akhir hayat.

# Mengapa Seseorang Berbuat Maksiat?

Ini penting banget kita ketahui. Tujuannya agar kita bisa menghindari penyebab tersebut. Kalo mau dirunut, ada beberapa sebab yang bisa mengantarkan seseorang berbuat maksiat.

Pertama, lemahnya iman. Mengapa bisa begitu? Ya, itu terjadi karena kurangnya ilmu, kurang ma’rifatullah (mengenal Allah). Kalo iman seseorang itu kuat, jika ngadepin maksiat, ia akan memilih membentengi diri dengan rasa takut pada Allah Ta’ala ketimbang kesenangan dunia yang sementara. Jadi, kalo iman kita kuat, insya Allah kita akan terjaga dari segala bentuk maksiat. Itu artinya, kita harus terus menguatkan keimanan kita dengan senantiasa melaksanakan ketaatan. Sebab, iman juga kadang bisa kuat, kadang malah lemah. Kuat karena berbuat taat, dan akan lemah ketika berbuat maksiat.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin.” (Muttafaqun ‘alaihi, Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Ishaaq bin Ibraahim an-Naisaaburi berkata, “Abu Abdillah (Imam Ahmad) pernah ditanya tentang iman dan berkurangnya iman. Beliau rahimahullah menjawab, “Dalil mengenai berkurangnya iman terdapat pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah mencuri dalam keadaan mukmin.” (Diriwayatkan oleh al-Khalaal dalam kitab as-Sunnah no. 1045)

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menambahkan, “Iman itu sebagiannya lebih unggul dari yang lainnya, bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman adalah dengan beramal. Sedangkan berkurangnya iman dengan tidak beramal. Dan perkataan adalah yang mengakuinya.” (Diriwayatkan oleh al-Khalaal dalam kitab as-Sunnah, jilid 2, hlm. 678)

Kedua, penyebab seseorang berbuat maksiat adalah teman bergaul yang akhlaknya jelek bin buruk. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Itu sebabnya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

Bener banget ini. Banyak maksiat yang terjadi disebabkan teman bergaul yang jelek. Kamu pengennya taat, tetapi karena kamu bergaul dengan teman yang sering lalai, akhirnya lama-lama kebawa juga. Pengaruh teman gaul itu nyata banget. Kalo bergaul dengan yang akhlaknya baik, kebawa baik. Begitu juga jika gaulnya dengan yang memiliki akhlak buruk bakal kebawa buruk. Udah banyak contohnya. Waspadalah!

Ketiga, maksiat bisa saja dilakukan seseorang tersebab pandangan yang begitu bebas, tidak mau ditundukkan. Biasanya ini terjadi ketika bergaul antar lawan jenis. Mestinya ghadul bashar alias menundukkan pandangan, jangan malah jelalatan ke mana-mana. Nah, karena dari pandangan, panah iblis mulai dimainkan, maka Allah Ta’ala perintahkan, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS an-Nuur [24]: 30)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR Muslim, no. 2159)

Kamu bisa lihat sendiri di zaman sekarang, bukan lagi sekadar memandang, tetapi udah megang-megang. Banyak teman remaja yang pacaran. Mereka merasa udah biasa, udah jadi tradisi. Kalo s**a sama lawan janis, ya pacaran solusinya. Itu yang ada di pikiran mereka. Nggak berpikir panjang akibatnya. Dosa udah jelas, bahaya siap mengancam. Bahaya? Iya. Sebab, kalo yang pacarannya udah kebablasan, bisa berbuat apa aja termasuk zina. Ngeri. Kalo remaja yang imannya kuat, pasti nggak akan nekat melakukan pacaran. Sebaliknya bakalan menjauhinya.

Keempat, banyak waktu luang. Beneran ini. Ketika memiliki banyak waktu luang, kita biasanya kalo nggak bengong malah aktif melakukan apa saja tetapi yang nggak produktif. Berbeda kalo waktu kita sedikit. Banyak kerjaan p**a. Itu kudu pinter bagi waktu.

Waktu luang itu termasuk nikmat sebenarnya, tetapi sering dilalaikan oleh manusia, termasuk kita-kita ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Jadi, maanfaatkan kesehatan kita dan waktu luang kita untuk berbuat ketaatan agar iman kita bertambah kuat. Jangan malah digunakan untuk kuat berbuat maksiat. Aduh, nggak banget, deh!

Kelima, ngegampangin yang udah jelas haram. Pacaran haram, tetapi dianggap enteng. Alasannya itu sudah lumrah dilakukan banyak orang. Bahkan di bulan Ramadhan seperti sekarang banyak yang tetap pacaran. Malah ada juga yang ngawur, Ramadhan libur pacaran tetapi udah diniatkan akan dilanjut usai lebaran. Waduh, target output dari puasa selama Ramadhan nggak tercapai, d**g. Kan mestinya jadi takwa kalo kita melaksanakan puasa Ramadhan dengan benar.

Itu sebabnya, bermudah-mudahan alias menganggap enteng dalam yang haram bakalan bikin rugi. Mengapa? Karena semakin bermudah-mudahan, kita bisa terjerumus dalam yang haram yang lebih parah. Bahaya banget!

Keenam, penyebab seseorang berbuat maksiat juga karena dekat dengan tempat-tempat yang dapat membangkitkan syahwat. Kayak gimana itu? Ya, seperti duduk-duduk di pinggir jalan. Karena syahwat dapat bangkit lewat pandangan ketika berada di jalan-jalan. Banyak yang bisa kita lihat, sih. Itu sebabnya, jangan sering nongkrong di jalan. Kalo pun ada keperluan, ya jangan berlama-lama. Semisal lagi safar, tentu perlu istirahat, perlu beli makanan di tempat makan, berarti akan duduk-duduk di situ. Namun, jangan terlalu lama dan jangan sering.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar.” (HR Bukhari no. 2465)

Termasuk juga yang mudah membangkitkan syahwat adalah berada di tempat yang melalaikan dari Allah Ta’ala, semisal tempat main, tempat nongkrong dan kumpul-kumpul nggak jelas.

# Sadar, Berhenti, Lalu Taubat

Sobat gaulislam, nggak ada alasan untuk terus berbuat maksiat. Apalagi udah banyak orang yang mengingatkan agar kita berbuat taat dan segera meninggalkan maksiat. Mungkin ada yang udah nyandu berbuat maksiat, sehingga sulit untuk berbuat taat. Namun, jangan putus harapan. Berusahalah untuk menghentikan maksiat. Berat memang karena udah terbiasa. Apalagi maksiat udah jadi tabiat. Meski demikian. Pasti ada di sudut hatimu rasa penyesalan. Nyalakan kesadaran itu untuk memulai taubatmu. Mulai hentikan maksiat, lalu bertaubat.

Jangan berpikir “terlanjur basah karena main air, ya udah sekalian aja nyebur mandi”. Nggak gitu cara berpikirnya dalam urusan ini. Kalo terlanjur berbuat maksiat, segera sadar, berhenti, dan bertaubat.

Allah Ta’ala Maha Pengampun. Berapa pun banyaknya dosa yang kita perbuat, asalkan kita mau bertaubat memohon ampunan, Allah Ta’ala akan mengampuni. Firman-Nya (yang artinya), “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS az-Zumar [39]: 53-54)

Maksud ayat ini adalah kembalilah pada Allah dengan berserah diri pada-Nya sebelum datang siksaan yang membuat mereka tidak mendapat pertolongan, yaitu maksudnya bersegeralah bertaubat dan melakukan amalan shalih sebelum terputusnya nikmat. Demikian uraian Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. So, ayo bertaubat sebelum wafat. Sebab, pengertian terputusnya nikmat adalah datangnya ajal.

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisaa’ [4]: 110)

Allah Ta’ala di ayat lain berfirman (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 135)

Yuk, bertaubat sebelum wafat. Mumpung masih diberikan umur panjang. Bertaubatlah. Apalagi sudah banyak yang menasihati. Kalo kamu ikutan di grup WhatsApp keluarga besar, atau teman-teman alumni sekolah, pasti ada anggota grup yang nge-share nasihat berupa ayat al-Quran, hadits, perkataan ulama, atau hal-hal inspiratif kebaikan lainnya. Belum lagi di medsos macam Instagram, Tiktok, X, Youtube, Telegram, dan Facebook udah banyak banget nasihat taat disebar (walau tentu bersaing dengan ajakan maksiat). Itu adalah petunjuk yang harus kita ikuti. Jangan malah main delete aja dan nggak s**a dengan hal yang demikian. Atau malah s**anya dengan yang maksiat. Naudzubillahi min dzalik.

Petualangan kita akan berhenti, itu pasti, yakni saat datangnya ajal. Orang baik akan mati, orang jahat juga akan mati. Tentu, kita memilih menjadi orang baik sampai akhir hayat kita. Iman dan taat sampai akhir hayat. Itu sebabnya, hentikan maksiat lalu taubat dan tak mengulanginya lagi. Mumpung masih ada waktu. Isi hari-hari kita dengan amal shalih dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semoga dimudahkan. []

14/03/2024

PUASA TANPA DOSA

Buletin Gaul Islam Edisi 855/tahun ke-17 (01 Ramadhan 1445 H/ 11 Maret 2024)

Wah, rasa-rasanya sih nggak ada yang bersih dari dosa, ya. Pasti ada aja dosa yang kita lakukan. Sadar atau nggak sadar. Sengaja atau nggak disengaja. Itu sebabnya, agak sulit kalo bener-bener tanpa dosa. Namun demikian, berniat tidak melakukan dosa, apalagi di bulan Ramadhan ini, adalah bagian dari ikhtiar untuk kebaikan kita. Mungkin yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir dari perbuatan dosa. Kalo sebelum Ramadhan, tiap hari kita sengaja berbuat dosa, di bulan Ramadhan ini, kita rem, kita perketat jangan sampai berbuat dosa, kendalikan nafsu. Sehingga dosa yang dilakukan itu jadi berkurang. Akan lebih baik lagi jika benar-benar kita tinggalkan. Bahkan di bulan-bulan berikutnya. Semoga, ya. Ini niat dan ikhtiar kita. Insya Allah bagian dari perubahan diri, agar lebih baik lagi.

Sobat gaulislam, manusia memang nggak bisa bersih dari dosa. Pasti ada aja dosa yang kita lakukan. Artinya, setiap dari kita pasti ada dosa yang pernah dilakukan. Namun demikian, kita berikhtiar agar bukan sengaja berbuat dosa (apalagi yang terkategori dosa besar). Kalo nggak sengaja, atau terpaksa karena tekanan pihak tertentu, semoga kita juga bisa segera bertaubat. Misalnya aja, nggak sengaja berdusta atau terpaksa berdusta. Itu harus segera bertaubat, jangan keasyikan nerusin berdusta. Kalo nerusin, apalagi asyik berdusta, berarti sengaja dan menikmati. Nggak boleh. Jangan sampe. Jadinya dosa yang disengaja.

Nah, mumpung di bulan Ramadhan, kita luruskan niat dan maksimalkan ikhtiar agar puasa kita nggak sia-sia, optimalkan beramal shalih lainnya selama bulan Ramadhan. Ini kesempatan yang sedang kita dapatkan. Kita masih diberikan umur untuk menikmati bulan penuh berkah ini. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya, jangan sampe hilang kesempatan untuk berbuat baik, atau malah terhalang dari berbuat baik. Manfaatkan juga untuk senantiasa bertaubat. Semoga di bulan-bulan berikutnya kita juga terbiasa berbuat baik dan menjaga diri agar tak terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Yuk, bisa yuk. Sama-sama saling mendoakan, ya.

# Puasa Menghapus Dosa

Sobat gaulislam, kalo kita berpuasa di bulan Ramadhan itu bakalan dihapuskan dosa-dosa kita yang terdahulu. Tentu ada syaratnya, yakni puasa yang dilakukan itu diniatkan karena iman kita dan mengharap pahala. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Nah, yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. (dalam Fathul Bari, jilid 4, hlm. 115)

Dijelaskan lebih lanjut, al-Khattabi berkata, “Yang dimaksud ihtisab adalah terkait niat yaitu berpuasa dengan niat untuk mengharap balasan baik dari Allah. Jika seseorang berniat demikian, ia tidak akan merasa berat dan tidak akan merasa lama ketika menjalani puasa.”

Baik, poinnya di sini adalah dosa kita yang terdahulu akan dihapus. Kalo Ramadhan tahun kemarin kita puasa, dan di bulan-bulan berikutnya kita melakukan dosa, maka jika di Ramadhan tahun ini kita melaksanakan puasa, maka dosa-dosa tersebut akan diampuni (dihapus) oleh Allah Ta’ala. Syaratnya tadi, puasa yang kita lakukan atas dasar iman atau keyakinan bahwa puasa ini adalah kewajiban yang diperintahkan Allah Ta’ala, juga diniatkan untuk mengharapkan pahala karena Allah Ta’ala ridha atas apa yang kita lakukan. So, ikhlas karena Allah, ya. Meski berat secara fisik, tetapi akan tergantikan dengan pahala yang berlimpah. Semangat!

Selain yang utama melaksanakan shaum (puasa) wajib, ada banyak amal shalih yang bisa kita lakukan selama Ramadhan, misalnya peluang mendapatkan pahala dari shalat tarawih, dari sedekah, dari tilawah al-Quran, dari malam kemuliaan (lailatul qadar). Itu sebabnya, kuatkan fisik, siapkan mental. Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan dalam berpuasa, diberikan keberkahan, diberikan kemudahan beramal shalih, diberikan kesempatan mendapatkan pahala di Lailatul Qadar. Yuk, sama-sama berdoa, ya.

Itu sebabnya, selain kita bergembira karena dengan puasa Ramadhan yang kita lakukan mengapus dosa (Allah Ta’ala akan mengampuni dosa), juga kita bersemangat meraih pahala. Jangan disia-siakan kesempatan ini, yang belum tentu bulan Ramadhan tahun depan kita masih ada umur. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Orang yang terhalangi yang sebenarnya adalah seseorang yang mengetahui jalan menuju Allah, tetapi dia justru berpaling dari jalan tersebut.” (dalam Thariqul Hijratain, hlm. 329)

Jadi, seseorang yang mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, tetapi tidak memanfaatkannya dengan memperbanyak dan memperbagus amalannya. Rugi, d**g? Pastinya!

# Saatnya Panen Pahala

Sobat gaulislam, orang yang menanam pasti mengharapkan panen. Kita sedang menanam dalam mengisi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amal shalih. Tentu, berharap amal shalih itu menuai pahala berlimpah dari Allah Ta’ala. Berbagai kemudahan beramal itu dibuka lebar-lebar di bulan ini. Rugi kalo kita nggak memanfaatkannya.

Dinukil dari laman rumaysho.com, ketika puasa itu tiba, maka kebaikan akan mudah dilakukan. Kejahatan dan maksiat akan semakin berkurang karena saat itu pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, setan pun terbelenggu.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Dalam lafazh lain disebutkan (yang artinya), “Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079)

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa yang dimaksud adalah makna secara tekstual dan hakiki. Terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan terikatnya setan adalah tanda masuknya bulan Ramadhan, mulianya bulan tersebut dan setan pun terhalang mengganggu orang beriman. Ini isyarat p**a bahwa pahala dan pemaafan dari Allah begitu banyak pada bulan Ramadhan. Tingkah setan dalam menggoda manusia pun berkurang karena mereka bagaikan para tahanan ketika itu. (dalam Fath al-Bari, 4: 114 dan Syarh Shahih Muslim, 7: 167)

Al Qadhi juga berkata, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” (dalam Syarh Shahih Muslim, 7: 167)

Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hady al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Para salaf memiliki perhatian khusus terhadap bulan yang mulia ini dengan memperbanyak membaca al-Quran, memperbanyak zikir, dan menahan diri dari maksiat. Sebab, sesungguhnya puasa menuntut hal semacam ini.” (dalam Haal as-Salaf fii Ramadhan, hlm. 2)

Mengingat perkataan Ibnu Abdil Hakim tentang kebiasaan Imam Malik, guru dari Imam Syafi’i, selama bulan Ramadhan. Alangkah jauh bedanya. Ibnu Abdil Hakim berkata, ”Jika tiba bulan Ramadhan, Imam Malik menghindar dari membacakan hadits dan bertukar pikiran dengan ahli ilmu.”

Ibnu Abdil Hakim berkata, ”Beliau berkonsentrasi membaca al-Quran dari mushaf.”

Imam az-Zuhri, seorang ‘alim ahli hadits menerangkan, “Ramadhan itu adalah membaca al-Quran dan memberi makan (fakir miskin).”

Ibnu al-Jauzy rahimahullah berkata, “Malam-malam dan hari-hari yang memiliki keutamaan yang tidak pantas–bagi orang yang ingin meraih keutamaan–untuk melalaikannya, karena jika seorang pedagang melalaikan musim untung, maka kapankah dia akan meraih keuntungan?” (dalam Minhajul-Qashidin, jilid 1, hlm. 343)

# Saatnya Bertaubat

Sobat gaulislam, Allah Ta’ala masih memberikan umur kepada kita sehingga kita masih bisa sampai di bulan Ramadhan ini. Itu artinya, selain kita diberikan nikmat yang banyak untuk bisa beramal shalih, juga Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan untuk bertaubat. Maka, manfaatkan untuk bertaubat. Jangan melakukan dosa dan hentikan. Semoga di bulan-bulan berikutnya kita bisa menghindari berbagai kemaksiatan. Jangan sengaja berbuat dosa.

Sebaik-baik taubat adalah taubat yang segera, tanpa menunggu dan menunda-nunda. Maka terkumpullah dua keutamaan jika kita bertaubat saat ini: keutamaan karena Ramadhannya dan keutamaan karena menyegerakan taubat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu…” (QS Ali Imran [3]: 133)

Allah Ta’ala menyeru kita dengan ayat di atas untuk menyegerakan taubat, juga dalam ayat lainnya (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” (QS at-Tahrim [66]: 8)

Allah menyeru hamba-Nya untuk bersegera bertaubat karena Dia menghendaki hamba-Nya mendapatkan ampunan dan surga, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan Allah menyeru kalian kepada surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS al-Baqarah [2]: 221)

Semoga kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan tidak akan pernah mengulangingnya lagi. Sebab, rugi banget dan nggak disebut bertaubat secara mutlak, kalo cuma bertaubat di Ramadhan aja, dan bahkan berniat melakukan kemaksiatan di bulan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barang siapa bertekad meninggalkan maksiat di bulan Ramadhan saja, tanpa bertekad di bulan lainnya, maka ia bukan seorang yang bertaubat secara mutlak, akan tetapi ia hanyalah sekadar orang yang meninggalkan perbuatan maksiat di bulan Ramadhan.” (dalam al-Majmu’ al-Fatawa, jilid 10, hlm. 743)

Berkata Bisyr al-Haafi rahimahullah, “Seburuk-buruk kaum (adalah yang) tidak mengetahui hak Allah (untuk disembah) kecuali di bulan Ramadhan (saja). Sesungguhnya orang shalih (adalah yang) menghamba (kepada Allah) dan bersungguh-sungguh (dalam ketaatan kepada-Nya) sepanjang tahun.” (dalam Lathaiful-Ma’arif li Ibni Rajab, hlm. 222)

Semoga kita bisa memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk bertaubat, terutama dari dosa-dosa besar. Betul bahwa ketika kita melaksanakan puasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosa kita yang terdahulu akan diampuni. Namun, menurut para ulama, itu hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil yang kita lakukan. Dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, berzina dan lainnya (ada sekitar 70-an yang ditulis dalam Kitab al-Kabaa’ir karya Imam adz-Dzahabi), kalo itu dilakukan tetap harus meminta taubat secara khusus. Dan, kudu bertaubat secara sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi disertai rasa penyesalan.

Yuk bisa yuk, kita ikhtiarkan agar puasa kita tanpa dosa yang disengaja, dan manfaatkan untuk beramal shalih, serta kesempatan untuk memohon ampunan, bertaubat dari dosa-dosa besar yang pernah kita lakukan. Semoga Allah Ta’ala memudahkan puasa kita dan memberikan keberkahan serta menjaga kita dari perbuatan maksiat. []

Want your school to be the top-listed School/college in Samarinda?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Jalan H. M. Kadrie Oening, Kompleks Perumahan Kehutanan RT 20 Nomor 34
Samarinda
75124