Sejarah Ulama

Sejarah Ulama menceritakan tentang sejarah ulama

07/09/2024
"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu M...
27/09/2022

"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"

Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah adalah ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah. Semenjak kecil Abu Tumin telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama yang paripurna. Mengawali pengembaraan ilmunya, Abu Tumin pernah mengecap pendidikan umum pada masa Belanda selama tiga tahun.

Setelah kemerdekaan, Abu Tumin dalam usianya 12 tahun dimasukkan ke Sekolah SRI, sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sambil bersekolah di SRI, Abu Tumin juga belajar langsung pada ayahnya ilmu-ilmu keislaman, terutama dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Selama lebih kurang tiga tahun Abu Tumin belajar dengan sungguh-sungguh kepada ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah yang juga ulama, telah memberikan bekal ilmu yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Pada usianya 15 tahun, mulailah Abu Tumin belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di Labuhan Haji Darussalam dengan gurunya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tumin pernah belajar beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunieb yang dipimpin oleh Abu Muhammad Saleh yang merupakan ayah dari Abon Samalanga. Setelah beberapa bulan di Dayah Jeunieb, Abu Tumin kemudian melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian beliau belajar di Dayah Meuluem Samalanga selama satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudep yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Reudep selama tiga tahun sebelum ke Labuhan Haji.

Maka dengan bekal ilmu yang memadai dari guru-guru itulah yang mengantarkan Abu Tumin muda dalam usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan pada tahun 1953. Selain Abu Tumin, di tahun 1953 beberapa ulama lainnya juga tiba di Labuhan Haji untuk belajar pada Abuya Syekh Muda Waly. Karena umumnya teungku-teungku yang belajar kepada Abuya, telah memiliki ilmu yang memadai sebelum belajar ke Abuya, sehingga bisa duduk di kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin.

Di antara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah Tanoh Mirah yang kemudian mendirikan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah yang dikenal dengan kealimannya dalam bidang ushul fikih.
Ulama lainnya adalah Abon Abdul Aziz Samalanga yang melanjutkan kepemimpinan Dayah MUDI Samalanga setelah wafat mertuanya Abu Haji Hanafiyah Abbas yang dikenal dengan Teungku Abi.

Abon Abdul Aziz Samalanga dikenal ahli dalam ilmu mantik atau ilmu logika. Sedangkan Abu Keumala datang lebih awal ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, dan Abu Keumala dikenal ahli dalam ilmu tauhid, mengabdikan ilmunya di Medan Sumatera Utara hingga wafatnya pada tahun 2004. Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibbudin Waly, sedangkan Syekh Muda Waly al-Khalidy mengajarkan kelas dewan guru.

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. Sedangkan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk p**ang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga p**ang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah p**ang di Tahun 1957. Umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 p**ang di akhir tahun1959. Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya p**ang di tahun 1956 seperti Abuya Aidarus dan Abu Syamsuddin Sangkalan.

Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya. Abu Tumin memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin.

Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama. Abu Tumin juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan.

Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam muzakarah para ulama Aceh, sehingga diskusi nampak ceria dan bersemangat. Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu.

Dan di sebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya Abu Tumin juga ulama yang Syekhul Masyayikh. Bahkan Abu Daud Teupin Gajah atau Abu Daud al Yusufi yang merupakan ulama kharismatik Aceh Selatan juga termasuk murid yang lama belajar kepada Abu Tumin dimana sebelumnya beliau belajar kepada Abuya Haji Jailani Kota Fajar.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya. Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan terakhir, setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum.

Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua p**a ilmunya".

Abu Tumin telah mempersembahkan segenap usianya untuk agama ini, dan telah p**a mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Dan hari ini beliau telah kembali kehadhirat Allah SWT.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para Anbiya, Syuhada dan Shalihin.

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un.
Selamat Jalan Guru Besar Yang Kami Muliakan Abu Tumin😭😭😭😭😭🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲🤲

Abu Bireuen Dalam Kenangan"Bek Gadoeh peulemah Kulet Rimung. Rimung jih pat?" Demikian respon Abu Bireuen kepada salah s...
23/06/2022

Abu Bireuen Dalam Kenangan

"Bek Gadoeh peulemah Kulet Rimung. Rimung jih pat?" Demikian respon Abu Bireuen kepada salah seorang ulama, peserta muzakarah kala itu.

Ulama tsb berkata: "Abu Nek Teupin Raya mengatakan Wajib mengeluarkan zakat kacang kuning." Muzakarah yang digelar di pesantren Mudi Mesra itu berlangsung Alot. Namun, setelah Ulama tsb menukil pernyataan tokoh ulama Aceh tempoe doeloe, Abu Nek Teupin Raya, langsung membuat para peserta muzakarah terdiam dan tidak berani membantahnya.

Seketika, setelah respon Abu Bireuen, suasana kembali cair dan diskusi dilanjutkan. Celutukan inspiratif yang mengajarkan kita betapa pentingnya referensi dari kitab Mu'tabar.

Abu Bireuen adalah sosok ulama mastur, yang kealimannya dikenang oleh ulama-ulama besar. Abu Lamkawe menggambarkan beliau sebagai ulama yang pelan-pelan tapi menghanyutkan. Maksudnya, Saat mengajar beliau menjelaskan ibarat kitab kata per kata dengan detail dan mendalam. Makanya, menurut cerita Abi Dun, dalam 8 tahun mengajar Syarah Mahalli, cuma khatam jilid satu.

Abu H. M. Daud Lhok Nibong juga mengakuinya. Beliau pernah berkata kepada Abu H. Ishaq Lamkawe: "Getanyo le ka tacok ilme dari Tgk Kasem."

Kealiman beliau tercium semerbak. Sampai wahabi pun tidak berani berdebat dengan beliau. Saat mengambil alih Mesjid Agung kota Bireuen dari tangan wahabi salafi, beliau memiliki kontribusi besar.

Pada hari yang ditentukan, beliau membawa banyak sekali kitab sebagai referensi, supaya dalil dan hujjahnya valid lagi bernash.

Namun mereka tidak berani menampakkan Batang hidungnya, sehingga debat pun urung terjadi. Padahal masyarakat sudah lama menantinya.

Ketika mengajar di dayah Tanoh Mirah, pasca meninggal dunia Abu Abdullah, pimpinan dayah tsb, beliau selalu membawa banyak kitab sebagai referensi, walau kitab yang beliau ajarkan hanya Kanzul-raghibin. Bukan berarti beliau tidak paham, tp beliau hendak memberi contoh teladan bagi santri-santri untuk tidak menyimpulkan suatu surah (hukum) kecuali setelah melihat banyak referensi.

"ABU LUENG ANGEN, ULAMA ACEH DAN MAHAGURU DAYAH".__________________________________________   Namanya Teungku Muhammad D...
19/06/2022

"ABU LUENG ANGEN, ULAMA ACEH DAN MAHAGURU DAYAH".
__________________________________________
Namanya Teungku Muhammad Daud Ahmad. Namun setelah menjadi alim besar, beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Lueng Angen atau dikenal p**a dengan sebutan Abu Lhoknibong dengan dayahnya Darul Huda.
Dahulu, semasa masih belajar dan mengajar di Dayah Mudi Samalanga, guru besarnya yaitu Teungku Syekh Abdul Aziz Shaleh atau Abon Samalanga sering memanggilnya dengan panggilan "Teungku di Simpang" disandarkan ke Simpang Ulim.
Abu Daud Lueng Angen memulai pengembaraan ilmiyahnya berguru kepada Teungku Abdul Ghani yang dikenal dengan Teungku di Aceh sekitar tiga tahun, tapi karena suasana Aceh ketika itu sedang bergolak, beberapa kali beliau harus mengungsi.
Tepatnya tahun 1960 Abu Daud muda melanjutkan belajarnya kepada seorang ulama yang merupakan murid dari Teungku Syekh Muda Waly al Khalidi yang dikenal mencetak banyak para ulama yaitu Abon Samalanga. Kehadiran Abu Daud ke Dayah Mudi ketika itu bak gayung bersambut, dimana Abu Daud kemudian menjadi tangan kanan gurunya, bahkan banyak ilmu dari Abon yang diwariskan kepada Abu Daud muda. Sekitar 11 tahun kebersamaan guru yang menyayangi dengan murid yang patuh patuh ini, kemudian Abon mengizinkan muridnya yang cerdas ini untuk berdiri sendiri dan membuka dayah baru yang kemudian dikenal dengan Dayah Darul Huda. Pada tiga tahun pertama dayah ini hanya memiliki puluhan santri namun setelah Abon Samalanga menerapkan Dapur Umum dengan hikmahnya, maka banyak santri yang pindah dan dayah yang kemudian banyak dituju adalah Dayah Abu Daud selain Dayah Abu Panton. Barulah kemudian berdatangan berbagai santri dari Aceh dan luar Aceh untuk belajar si Dayah tersebut.
Maka tidak mengherankan jika Dayah Darul Huda sekarang telah memiliki lebih dari 40 cabang termasuk Dayah Bustanul Huda Julok yang dipimpin oleh Abu Paya Pasi juga memiliki kaitan dengan Dayah Abu Daud.
Dengan penuh dedikasi dan ketulusan dalam memimpin dayah, maka Abu Daud telah mengorbit banyak para ulama yang terpandang dewasa ini sebut saja ketika beliau di Samalanga di antara muridnya adalah Abu MUDI Samalanga, Waled Nu Samalanga, Ayah Caleu dan umumnya para abu yang memimpin dayah lulusan Mudi Samalanga dipastikan pernah belajar dengan Abu Daud Lueng Angen. Bahkan di Dayah Darul Huda juga banyak murid Abu Daud yang kemudian menjadi ulama terpandang di antaranya adalah Abu Ali Paya Pasi dan para ulama yang bertebaran seluruh Aceh. Adapun ulama yang meneruskan estafet dayah yang juga murid beliau adalah Abi Ja'far Lhoknibong atau Abi Lueng Angen.
Selain dikenal dengan Mahaguru dayah Abu Daud juga menguasai banyak disiplin ilmu keislaman, bahkan disebutkan beliau juga ahli qira'ah yang merupakan ilmu yang langka bagi seorang pimpinan dayah.
Tepatnya tahun 2016 setelah Abu melewati masa sakitnya yang agak lama, beliau membuat pertemuan alumni dimana hampir semua santrinya hadir ketika itu. Dalam video unggahan ada Abu Paya Pasi, Abu Abdullah Kruet Lintang dan para santri lainnya yang telah menjadi ulama dan pimpinan dayah. Di saat itu Abu Lueng Angen berbicara dengan semangat menyampaikan pesan keislaman yang indah, dengan kutipan ayat, hadits dan matan-matan kitab dengan begitu fasih dan lancarnya. Di akhir pidatonya Abu Daud memohon maaf kepada seluruh muridnya barangkali dulu ketika beliau mendidik mereka ada kekeliruan dalam ucapan maupun tindakannya. Itulah Abu Lueng Angen seorang ulama yang 'alamah nan santun.
Setelah pertemuan besar itu, Abu Lueng Angen lebih banyak diam dan jarang beliau berbicara ke publik, beliau lebih memilih mendoakan masyarakat Aceh dalam diamnya. Karena beliau adalah seorang yang mustajab doa. Dulu tahun 1969 masyarakat di kawasan tempat tinggalnya dilanda oleh kemarau yang panjang namun saat beliau memimpin shalat istisqa', maka dimalam harinya turun hujan yang begitu lebat.
Sekarang Abu telah berusia 78 tahun, usia yang telah sepuh tentunya. Telah banyak kebaikan yang telah beliau persembahkan untuk Aceh ini secara umum. Telah dihabiskan usia remaja dan mudanya untuk berkhidmah kepada gurunya dan berkhidmah kepada ummatnya, semoga Allah Swt memberikan keberkahan disetiap sisi kehidupanya. Telah dipersembahkan untuk Islam akalnya yang cerdas, fisiknya yang gagah, hatinya yang bijaksana, dan tanggung jawab, kedisiplinan serta keteguhannya dalam prinsip.
Semoga Allah SWT menambah kemuliaan beliau Syekhul Masyayikh Abu Daud Lueng Angen Hafidhahullahu Ta'ala.

Al HABIB AHMAD BIN MUHAMMAD AL MUHDHARMenakjubkan Habib Al Muhdhar Khatamkan Al QuranMengapa Habib Ahmad bin Muhammad Al...
26/04/2022

Al HABIB AHMAD BIN MUHAMMAD AL MUHDHAR

Menakjubkan Habib Al Muhdhar Khatamkan Al Quran

Mengapa Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhar mengkhatamkan al Qur’an sebanyak 8000 kali di dalam calon kuburannya?

Dikisahkan, bahwa Rabi’atul Adawiyah, seorang Wanita Shalihah yang sangat Mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW, beliau menggali kubur untuk dirinya sendiri sebelum wafat, kemudian memperindahnya dengan membacakan Al Qur’an setiap hari di dalamnya, hingga mencapai 7000 kali khatam Al Qur’an.

Adapun Al Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhar Shahib Al Quwairah Hadramaut, sebelum Wafat, beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 8000 kali di dalam kuburnya.

Saat ditanya mengapa beliau lakukan hal tersebut, maka beliau menjawab: “Apakah aku mau dikalahkan oleh seorang Wanita”.

(Maksud Beliau Wanita itu adalah Rabi’ah Al Adawiyah yang telah mengkhatamkan Al Qur,an sebanyak 7000 kali di dalam kuburnya sebelum ia Wafat”.)

Demikianlah keadaan para shalihin yang berlomba-lomba membangun dan memperindah rumah masa depan mereka (kuburan).

Akan tetapi keadaan kita di saat ini berbeda, dimana manusia berlomba-lomba untuk membangun dan memperindah rumah yang akan ditinggalkan.

Tapi bukan berarti kita tidak diperbolehkan membangun rumah. Namun yang harus kita lakukan adalah memikirkan kehidupan kita di dunia dengan memperbaikinya, di mana hal itu adalah modal untuk kehidupan masa depan kita di akhirat.

Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidina MUHAMMAD Wa ‘Alaa Aali Sayyidina MUHAMMAD.

Jangan Pernah Menyerah (لا تيأس)

Tadabur Al-Qur’an

“Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hadirkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya”
– Ibnu Qayyim –

Membaca Al-Qur’an itu berpahala, baik bagi yang telah mahir maupun yang masih tertatih. Bahkan, Allah menilainya berdasarkan berapa huruf yang kita baca.

Jadikanlah Al-Qur’an sebagai jalan meraup pahala sebanyak-banyaknya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai tabungan amal yang akan kita tuai nanti di akhirat.

Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Iman

Penjelasan Tentang Iman

Membaca Al-Qur`an dan Mentadaburinya adalah Cara Dahsyat untuk Meningkatkan Keimanan

Sobat, Anda Tahu kan bahwa Iman Itu Bisa Bertambah dan Berkurang?

Banyak terdapat keterangan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjelaskan pasang surutnya keimanan. Di samping itu, Al-Qur’an dan As-Sunnah juga menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat martabatnya, sebagian memiliki iman yang lebih tinggi daripada yang lain.

Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khairaat (terdepan dalam kebaikan), al-muqtashid (pertengahan) dan zhalim linafsihi (menzalimi diri sendiri).

Ada juga al-muhsin, al-mukmin, dan al-muslim. Semua itu menunjukkan bahwa mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Oleh karena itu, saat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan tentang keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah tentang iman, beliau mengatakan:

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ, وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَعَقْدٌ بِالْجَنَانِ, يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ, وَيَنْقُصُ بِالْعِصْيَانِ

“Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan (dan amal) hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatan.”

Siapa yang Gak Pengen Bertambah Imannya?

Sobat, perlu difahami bahwa menyukai perkara baik, mencintai ketaatan, pengen iman bertambah itu adalah dambaan setiap orang yang benar keimanannya. Di samping itu, menyukai keimanan merupakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk hamba yang disayangi-Nya.

Oleh karena itu, perbanyaklah memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menghiasi keimanan dalam hati Anda, simaklah firman Allah Ta’ala berikut ini:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”
(QS. Al-Hujurat: 7).

S**a Iman Bertambah Saja? Tidaklah Cukup!

Sobat, cukupkah Anda s**a makanan saja, tapi setiap hari tidak mau makan? Apakah cukup Anda s**a uang saja, tapi tidak mau bekerja? Anda ingin sembuh, tapi gak mau berobat? Tentu tidak bukan? Dalam agama kita, orang yang ingin berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya diperintahkan untuk beramal saleh.

Coba deh, simak Kalam Ilahi berikut ini.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”
(Q.S Al-Kahfi: 110).

Dengan demikian, tidak cukup seseorang hanya s**a imannya bertambah, namun tidak mau berusaha menambah keimanannya?

Kalo mau bertakwa, ya laksanakan perintah Allah. Mau iman naik? Ya lakukan ketaatan kepada Rabb Anda!

Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan!

Syaikh Prof. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah di dalam kitabnya Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi menyebutkan tiga cara dahsyat dalam meningkatkan keimanan, yaitu:

1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, di antaranya adalah membaca Al-Qur`an dan mentadaburinya, mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala, memperhatikan keindahan agama Islam, membaca sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membaca kisah Salafush Shaleh.

2. Memperhatikan ayat-ayat Allah yang kauniyyah.

3. Bersungguh-sungguh dalam beramal saleh, baik dengan hati, lisan, maupun anggota tubuh lahiriyah, termasuk berdakwah di jalan Allah Ta’ala dan menjauhi sebab-sebab yang mengurangi keimanan.

Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam.

Tanda-tanda Tadabbur

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an berkaitan dengan tanda-tanda tadabbur. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).”
(QS. Al-Ma’idah: 83).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakkal.”
(QS. Al-Anfaal: 2).

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, “Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.”
(QS. At-Taubah: 124).

“Katakanlah, “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang diberi pengetahuan sebenarnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, “Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur aras muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”
(QS. Al-Israa’:107-109)

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
(QS. Maryam: 58).

”Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”
(QS. Al-Furqan: 73).

“Dan apabila dibacakan (Al-Qur’an) kepada mereka, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya, sesunguhnya Al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya).”
(QS. Al-Qashash: 53).

Berdasarkan ayat-ayat diatas, dapat disimpulkan tanda-tanda tadabbur, yaitu:

1. Menyatukan hati dan pikiran ketika membaca Al-Qur’an.

2. Menangis karena takut kepada Allah

3. Bertambahnya kekhusyu’an

4. Bertambahnya iman

5. Merasa Bahagia dan gembira.

6. Gemetar karena rasa takut kepada Allah, kemudian diikuti dengan pengharapan dan ketenangan.

7. Bersujud sebagai bentuk pengagungan terhadap Allah.

Hal hal yang membuat hangus pahala puasaDalam kitab Taqriratus Sadidah di sebutkan: ada Enam perkara yang dapat menghang...
03/04/2022

Hal hal yang membuat hangus pahala puasa

Dalam kitab Taqriratus Sadidah di sebutkan: ada Enam perkara yang dapat menghanguskan pahala puasa sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "berapa banyak orang yang berpuasa tapi ia tidak mendapatkan apa² kecuali haus dan lapar"

Yang dapat menghanguskan pahala puasa:

1. Ghibah, yaitu: engkau menyebut kepada saudaramu yang muslim dengan sesuatu yang dibenci olehnya walopun yang engkau sebut itu perkara yang benar.

2. Namimah, yaitu: menyampaikankan suatu pembicaraan agar terjadi fitnah.

3. Berdusta, yaitu: memberitahukan suatu perkara tidak sesuai kejadian.

4. Memandang kepada sesuatu yang haram, atau halal tapi di barengi syahwat hingga merasakan lezad saat memandang.

5. Sumpah palsu, yaitu: bersumpah dengan cara berdusta.

6. Berbicara merekayasa/dusta dan kotor dan berkelakuan dengan perkataan tersebut. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, Maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan."

Reff:
📚 [Taqriratus Sadidah. Hal. 448_449]

Para ulama berkata: “Ada empat orang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah swt baik di bulan Ramadhan dan di bulan² ...
03/04/2022

Para ulama berkata: “Ada empat orang yang tidak akan mendapatkan ampunan Allah swt baik di bulan Ramadhan dan di bulan² lainnya:

1) Anak yang durhaka kepada orang tuanya.

2) Orang yang memutus tali shilatur-rahim.

3) Orang yang menyimpan kedengkian kepada saudara muslimnya.

4) Dan pecandu minuman keras / narkoba.

Referensi:
📚[An-Nafahatur Tamadhaniyyah, karya Habib Muhammad bin Abdullah Al-haddar. Hal. 14]

 DO'A MENYAMBUT BULAN RAMADHANBerikut adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA  Untuk Me...
02/04/2022



DO'A MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Berikut adalah Do’a Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani RA Untuk Menyambut Bulan Ramadhon :

Doa ini dibaca pada malam tanggal 1 Romadhon ba’da maghrib

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ.

Salam bagimu wahai bulan Ramadhan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ.

Salam bagimu wahai bulan qiyam (bulan untuk mendirikan sholat tarawih)

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ.

Salam bagimu wahai bulan iman

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ.

Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ.

Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ.

Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ.

Salam bagimu wahai bulan (untuk menaikkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ.

Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah

اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ.

Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ.

Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ.

Salam bagimu wahai bulan yang aman

كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا.

Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa

اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.

Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak mewangi, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan sholatnya, yang Engkau ganti kejelekannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Asih.”

(Dinukil dari Kitab Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthon Al Aulia’ Sayyidina Syaikh ‘Abdul Qodir Al Jilani.

بسم الله الرحمن الرحيم📖KISAH TOKOH ULAMA SUFI (25)🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌KISAH SYEKH AL IMAM ABU HAMID MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL...
24/02/2022

بسم الله الرحمن الرحيم

📖KISAH TOKOH ULAMA SUFI (25)

🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌🕌
KISAH SYEKH AL IMAM ABU HAMID MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL GHAZALI (IMAM AL GHAZALI) رحمه الله تعالى
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🔴SANG PENGARANG KITAB AL IHYA ULUMUDDIN
🔴SANG HUJJATUL ISLAM

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫SEJARAH HIDUP BIOGRAFI IMAM AL GHAZALI رحمهم الله تعالى
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

1. TEMPAT KELAHIRAN IMAM GHAZALI

Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia islam.

Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada simpatiknya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat.

Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (imam al-Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.

Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau semangat dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi seorang ‘ulama besar dan seorang sufi. Dan diperkirakan imam Ghazali hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang sufi sampai usia 15 tahun (450-456)

2. PENDIDIKAN DAN PERJALANAN MENCARI ILMU

Perjalanan imam Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan ynag lain, di lanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf), ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok islam (al-qur’an dan sunnah nabi).Diantara kitab-kitab hadist yang beliau pelajari, antara lain :

🔴 A. Shahih Bukhori, beliau belajar dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi

🔴 B. Sunan Abi Daud, beliau belajar dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi

🔴 C. Maulid An Nabi, beliau belajar pada dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani

🔴 D. Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim, beliau belajar dari Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asai.

Begitu p**a diantarnya bidang-bidang ilmu yang di kuasai imam al-Ghazli (ushul al din) ushul fiqh, mantiq, flsafat, dan tasawuf

Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada imam Kharamain, beliau dalam belajar bersungguh-sungguh sampai mahir dalam madzhab, khilaf (perbedaan pendapat), perdebatan, mantik, membaca hikmah, dan falsafah, imam Kharamain menyikapinya sebagai lautan yang luas.

Setelah imam kharamain wafat kemudian beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang tentang madzhab kitab al-basith, al- wasith, al-wajiz, dan al- khulashoh. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasfa, kitab al- mankhul, bidayatul hidayah, al-ma’lud filkhilafiyah, syifaal alil fi bayani masa ilit dan kitab-kitab lain dalam berbagai fan.

Antara tahun 465-470 H. imam Al-Ghazali belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Ahmad Al- Radzaski di Thus, dan dari Abu Nasral Ismailli di Jurjan. Setelah imam al-Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kekpada Yusuf Al Nassaj (w-487 H). pada tahun itu imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abdul Ghofur itu Ismail Al- Farisi, imam al-Ghozali menjadi pembahas paling pintar di zamanya. Imam Haramain merasa bangga dengan pretasi muridnya.

Walaupun kemashuran telah diraih imam al Ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al Juwani wafat, beliau memperkenalkan imam al Ghazali kepada Nidzham Al Mulk, perdana mentri sultan Saljuk Malik Syah, Nidzham adalah pendiri madrasah al nidzhamiyah. Di Naisabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Faldl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi (w.477 H/1084 M).

Setelah gurunya wafat, al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenengkan ini, namanya semakin populer dan disegani karena keluadan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, imam al Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidzhamiyah, ini dijelaskan salam bukunya al mungkiz min dahalal. Selama megajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghozali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn miskawih dan Ikhwan Al Shafa. Penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti al maqasid falsafah tuhaful al falasiyah.

Pada tahun 488 H/1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan (skeptis) terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaanya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga beliau menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, imam al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus, selam kira-kira dua tahun imam al Ghazali di kota Damaskus beliau melakukan uzlah, riyadah, dan mujahadah. Kemudian beliau pihdah ke Bait al Maqdis Palestina untuk melakukan ibadah serupa. Sektelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarohi maqom Rosulullah Saw.

Sep**ang dari tanah suci, imam al Ghazali mengunjungi kota kelahirannya di Thus, disinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis sampai berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal ” ihya’ ‘ulumuddin al-din” the revival of the religious ( menghidupkan kembali ilmu agama).

Karena disebabkan desakan pada madrasah nidzhamiyah di Naisabur tetapi berselang selam dua tahun. Kemudian beliau madrasah bagi para fuqoha dan jawiyah atau khanaqoh untuk para mustafifah. Di kota inilah (Thus) beliau wafat pada tahun 505 H / 1 desember 1111 M.

Abul Fajar al-Jauzi dalam kitabnya al asabat ‘inda amanat mengatakn, Ahmad saudaranya imam al Ghazali berkata pada waktu shubuh, Abu Hamid berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata : Ambillah kain kafan untukku kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan diatas kedua matanya, beliau berkata ” Aku mendengar dan taat untuk menemui Al Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat. Imam al Ghazali yag bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya (Thus) pada hari senin 14 Jumadil Akir 505 H (1111 M). Imam al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibu kota Thus.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫GURU DAN PANUTAN IMAM AL GHAZALI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Imam al Ghazali dalam perjalanan menuntut ilmunya mempunyai banyak guru, diantaranya guru-guru imam Al Ghazali sebagai berikut :

1. Abu Sahl Muhammad Ibn Abdullah Al Hafsi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab shohih bukhori.

2. Abul Fath Al Hakimi At Thusi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab sunan abi daud.

3. Abdullah Muhammad Bin Ahmad Al Khawari, beliau mengajar imam Ghazali dengan kitab maulid an nabi.

4. Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asi, beliau mengajar imam Al Ghazali dengan kitab shohih Bukhori dan shohih Muslim.

Dengan demikian guru-guru imam Al Ghazali tidak hanya mengajar dalam bidang tasawuf saja, akan tetapi beliau juga mempunyai guru-guru dalam bidang lainnya, bahkan kebanyakan guru-guru beliau dalam bidang hadist.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫ MURID-MURID IMAM GHAZALI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Imam Al Ghazali mempunyai banyak murid, karena beliau mengajar di madrasah nidzhamiyah di Naisabur, diantara murid-murid beliau adalah :

1. Abu Thahir Ibrahim Ibn Muthahir Al- Syebbak Al Jurjani (w.513 H).

2. Abu Fath Ahmad Bin Ali Bin Muhammad Bin Burhan (474-518 H), semula beliau bermadzhab Hambali, kemudian setelah beliau belajar kepada imam Ghazali, beliau bermadzhab Syafi’i. Diantara karya-karya beliau al ausath, al wajiz, dan al wushul.

3. Abu Thalib, Abdul Karim Bin Ali Bin Abi Tholib Al Razi (w.522 H), beliau mampu menghafal kitab ihya’ ‘ulumuddin karya imam Ghazali. Disamping itu beliau juga mempelajari fiqh kepada imam Al Ghazali.

4. Abu Hasan Al Jamal Al Islam, Ali Bin Musalem Bin Muhammad Assalami (w.541 H). Karyanya ahkam al khanatsi.
5. Abu Mansur Said Bin Muhammad Umar (462-539 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali sehingga menjadi ‘ulama besar di Baghdad.

6. Abu Al Hasan Sa’ad Al Khaer Bin Muhammad Bin Sahl Al Anshari Al Maghribi Al Andalusi (w.541 H). beliau belajar fiqh pada imam Ghozali di Baghdad.

7. Abu Said Muhammad Bin Yahya Bin Mansur Al Naisabur (476-584 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali, diantara karya-karya beliau adalah al mukhit fi sarh al wasith fi masail, al khilaf.

8. Abu Abdullah Al Husain Bin Hasr Bin Muhammad (466-552 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali. Diantar karya-karya beliau adalah minhaj al tauhid dan tahrim al ghibah.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫ KARYA-KARYA IMAM GHAZALI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya adalah :

1. Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah.

2. Tahaful al falasifah (kekacauan pikiran para filusifi) buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras.

3. Mi’yar al-‘ilmi/miyar almi (kriteria ilmu-ilmu).

4. Ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat.

5. Al munqiz min al dhalal (penyelamat dari kesesatan) kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan.

6. Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)

7. Miskyat al anwar (lampu yang bersinar), kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.

8. Minhaj al abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan).

9. Al iqtishad fi al i’tiqod (moderisasi dalam aqidah).

10. Ayyuha al walad.

11. Al musytasyfa

12. Ilham al –awwam an ‘ilmal kalam.

13. Mizan al amal.

14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).

15. Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).

16. Al wash*t (yang pertengahan) .

17. Al wajiz (yang ringkas).

18. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)

19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja).

20. Al mankhul minta’liqoh al ushul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).

21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).

22. Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)

23. Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).

24. Al ikhtishos fi al ‘itishod (kesederhanaan dalam beri’tiqod).

25. Yaaqut at ta’wil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an).

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫ KESETIAAN AL IMAM GHAZALI KEPADA GURUNYA
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Walupun kemashuran telah diraih imam al-ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya dan tidak meninggalkannya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al-Juwami wafat, beliau memperkenalkan imam al-Ghazali kepada Nidham Al Mulk, perdana mentri sulatan Saljuk Malik Syah, Nidham adalah pendiri madrasah al- nidzamiyah. Di Nashabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Fadl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi (w. 477 H/1084 M).

Setelah gurunya wafat, Al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham Al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenangkan ini, namanya semakin populer dan desegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, imam al-Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidhzamiyah, ini dijelaskan dalam bukunya al mungkiz min al dahalal. Selama mengajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn Miskawih dan Ikhwan Al Shafa.penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti Falsafah Tuhfatul Al Falasifah.

Pada tahun 488 H / 1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan(ekeptis) trhadap ilmu-ilmu yang dipelajari(hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaannya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehungga beliau menderita penyakit selama dua bulan.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
⚫IMAM GHAZALI: PENCARI KETENANGAN JIWA SEJATI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

PADA masa pemerintahan Bani Saljuq, Universitas Baghdad dan Universitas Naishabur merupakan perguruan tinggi terkemuka. Dari kedua perguruan tinggi ini tercetak lulusan yang berintelektual tinggi. Tak heran, kedua universitas ini merupakan dambaan setiap orang untuk menimba ilmu di dalamnya.

Semasa Abu Ma’ali, Imam al-Haramain menjabat Rektor dan Guru Besar Universtias Naishabur (400 – 478 H), ratusan ribu mahasiswa giat menghadiri kuliah-kuliahnya. Para mahasiswa itu mencatat dan menghafal yang diajarkan Abu Ma’ali dan Imam al-Haramain. Di antara ratusan ribu mahasiswa tersebut muncul tiga mahasiswa yang betul-betul cemerlang dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka adalah Muhammad al-Ghazali, Kiahsari, dan Ahmad bin Muhammad al-Khawwafi. Bahkan Imam al-Haramain pernah menjuluki ketiganya dengan sebutan, ”Al-Ghazali adalah samudera yang bergelombang, Kiahsari singa pemburu, dan Al-Khawwafi api yang membakar.” Ucapan Imam al-Haramain tentang ketiga orang itu menjadi buah bibir di hampir setiap mahasiswa. Dari ketiga orang itu, al-Ghazali-lah yang lebih menonjol. Ialah yang menjadi bintang dan buah hati sivitas akademika Universitas Naishabur.

Sepeninggal Imam al-Haramain (wafat pada 478 H), tidak ada orang yang sejajar di negeri itu. Al-Ghazali memutuskan untuk pergi mengunjungi Wazir Saljuq yang arif, Khawajeh Nizamul Mulk, yang senantiasa dikelilingi oleh cendekiawan-cendekiawan dan orang yang berwibawa. Di sini al-Ghazali mendapatkan sambutan dan penghargaan yang serupa. Dalam acara-acara diskusi dan mubahatsah (dialog) ia senantiasa mengungguli lawan-lawannya.

Dengan mengandalkan kemampuan intelektual dan kepandaiannya dalam memecahkan berbagai masalah, akhirnya pada 484 H, dengan penuh keagungan dan sambutan yang hangat, al-Ghazali diangkat menjadi Rektor Universitas Baghdad. Berarti al-Ghazali telah memegang suatu jabatan akademis dan ruhani yang paling tinggi di zamannya.

MESKI kini al-Ghazali sudah menduduki kedudukan yang terhormat, guncangan jiwa yang ia rasakan sebelumnya bertambah terasa menekan. Kedudukan dan seluruh keagungan yang didapatnya itu justru menyulut tekanan perasaannya. Selama masa studi, al-Ghazali selalu mencari “sesuatu” untuk dirinya: keyakinan, ketenangan, dan thuma’ninah an-nafs. Pop**aritas dan kebesar yang diraihnya tidak dapat mengobati “luka” batinnya itu.

Dalam posisi dunianya yang paling tinggi itu dirasa mengotori dirinya dalam mencapai hakikat kebenaran yang sejati sekaligus mengobati lukanya itu. Ia menyadari, dengan argumentasi dan diskusi-diskusi, dahaga ruhnya kian mencekik tidak akan terpuasi. Ia tahu, dengan belajar dan mengajar, riset dan diskusi, tidak akan memadai. Perlu sekali melakukan sair dan suluk (perjalanan mencari dan mengenal Rububiah Allah dan ubudiah hamba), berusaha membersihkan ruh dari sifat-sifat tercela dan menghiasi dengan sifat-sifat terpuji dan takwa kepada Allah SwT.

Al-Ghazali berkata kepada dirinya, bahwa arak, apabila namanya saja, tidak akan mengakibatkan mabuk; roti, apabila hanya namanya, tidak akan memberi rasa kenyang; dan obat, apabila hanya nama, tidak akan memberikan kesembuhan; begitu p**a diskusi tentang hakikat, kebenaran, dan kebahagiaan, juga tidak akan memberikan ketenangan, keyakinan, dan tuma’ninah an-nafs (ketenangan jiwa). Menurutnya, untuk mencapai hakikat, harus suci dan ikhlas; dan ini tidak bisa dicapai dengan cinta dunia, ketenaran, dan pangkat. Goncangan itu terus bergejolak dalam diri al-Ghazali.

Selama enam bulan penyakit itu dideritanya bagaikan tumor yang ganas, hingga sampai mengganggu tidur dan makannya. Mulut al-Ghazali tidak mau lagi berbicara dan berdiskusi. Akhirnya ia menderita sakit maag. Para dokter mengatakan, al-Ghazali mengalami gangguan jiwa.

Al-Ghazali memohon kepada Allah SwT membantunya melepaskan diri dari derita itu. Hingga sampai suatu saat ia merasa bahwa segala kebesaran dan keagungannya menjadi sangat tidak berarti apa-apa di hadapan Allah SwT.

Dengan alasan pergi ke Makkah, al-Ghazali meninggalkan kota Baghdad. Setibanya di suatu tempat, dan orang yang mengantarnya sudah kembali lagi, al-Ghazali mengubah haluannya ke arah Syam dan Baitul Maqdis. Ditanggalkan jubah kebesarannya agar tidak dikenal dan diganggu orang dalam menelusuri perjalanannya.

Lama sekali ia menyelami samudera Siar dan Suluk hingga tercapailah apa yang diidam-idamkannya, Al-yaqin dan tuma’ninah an-nafs, keyakinan dan ketenangan jiwa. Sepuluh tahun ia tenggelam dalam tafakur, kahlwat, dan riyadhah, dalam ibadahnya kepada Allah SwT.

Sumber: kisah tokoh ulama sufi

Address

Rheum
Samalanga

Telephone

+6282369156722

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah Ulama posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sejarah Ulama:

Shortcuts

Share

Category