Petrus Wijayanto / RT Wijayantodipuro

Petrus Wijayanto / RT Wijayantodipuro

Share

Petrus Wijayanto (Wit) / RT Wijayantodipuro

05/09/2024

JAM TANGAN.
Sedang viral tentang jam tangan yang dikenakan oleh Sri Paus.
Aku bukan orang yang “menyukai” jam tangan, berbeda dengan temanku yang memang senang membeli dan kemudian mengoleksi beberapa model jam tangan. Termasuk juga aksesoris lain untuk tubuh, bagiku secukupnya saja; cincin kawin hanya aku kenakan ketika upacara perkawinan, sore harinya aku lepas dan hingga saat ini tidak pernah lagi memakai cincin itu, karena merepotkan ketika aku perlu mengerjakan sesuatu yang membuat tangan kotor; misalnya mengganti oli mobil atau ketika bekerja di kebun.
Demikian juga jam tangan, dulu aku tidak mengenakannya, karena sudah ada penunjuk waktu di handphone, dan bahkan aku mengajarkan bahwa cowok single lebih baik tidak mengenakan jam tangan, karena ada alasan untuk bertanya, “Jam berapa sekarang?” pada cewek di dekatnya, bisa menjadi awal perbincangan selanjutnya.
Dulu juga, aku mengenakan jam tangan hanya jika sedang mengemudi (karena mobilku dulu tidak ada jamnya), juga jika ke kebun (karena tidak bawa HP dan tidak ada orang bisa ditanyai, “Jam berapa sekarang?”). Sekarang lebih sering pakai jam tangan untuk praktis ketika melihat waktu, daripada membuka HP.
Aku tidak ingat beberapa model jam tangan yang pernah aku kenakan, tapi selalu model yang “kecil dan tipis", karena tanganku kecil, rasanya tidak cocok dengan jam tangan yang “jumbo”.
Yang aku sangat ingat karena aku s**a, dulu pernah dua 2 kali aku pakai jam tangan Casio AQ-47; yang pertama aku beli dari Amazon (dot) com, seharga $15 dan kena ongkos kirim $18, yang kemudian rusak, dan yang kedua aku beli model yang sama dari Hargadunia (dot) com, sekitar Rp500rb; kemudian juga rusak, dan mau beli lagi model itu sudah “sulit” (ada beberapa penjual di luar negeri, tapi harganya terlalu mahal, apalagi masih ditambah ongkos kirim). Sehingga kemudian aku cari model lain dan sekarang jam tanganku Casio model F-94 W, yang aku beli Rp200rb-an di Tokopedia. Yang terakhir ini s**a karena harga murah, hanya setengah dari harga sekali beli Pertalite/Pertamax di SPBU untuk mobilku; aku memang hampir selalu mengisi BBM di angka Rp400rb.
Bagiku yang penting fungsinya menunjukkan waktu, aku s**a Casio model AQ-47 karena “mungil” dan sudah dual time (sedikit memudahkan hidup ketika aku ke Bali dan/atau Lombok). Pernah oleh adik diberi jam tangan merek Raymond Weil harga Rp5juta-an, tidak aku terima, aku tidak membutuhkannya. Beberapa kali aku memberikan jam tangan ke teman, karena aku pikir ia lebih membutuhkannya.
Apakah jam tangan menunjukkan gaya hidup seseorang? Bisa jadi ya, bisa juga tidak; karena tidak bisa menilai orang hanya dari jam tangannya.
Yang pasti aku tidak sedang bergaya dengan jam tangan, masa mau bergaya dengan benda seharga Rp200rb, minimal kalau bergaya itu ya pakai sepeda motor dengan suara knalpot memekakkan telinga, atau memodifikasi mobil dengan lampu warna-warni khususnya dengan lampu warna merah di bagian depan mobil dan warna bening untuk lampu rem, atau dengan rokok yang asapnya bisa dinikmati orang-orang lain di sekitar yang bukan perokok. Itu namanya gaya ENTAH …
Tapi apa dan bagaimanapun gayanya, orang perlu bergaya itu karena butuh pengakuan atau validasi oleh orang lain bahwa dirinya “hebat”, aku tidak membutuhkan itu, butuhku yang utama adalah makan terasa enak, dan tidur bisa nyenyak, artinya badan sehat dan tidak ada beban pikiran tentang pekerjaan, uang, urusan di rumah (seperti misalnya: tadi malam tahu bahwa p***a air “loyo”, khan hari ini perlu menggantinya, kalau tidak segera diganti, nanti kebutuhan air di rumah bisa terganggu dan tidurku tidak nyenyak. Ada 4 p***a air terpasang di rumahku: 2 p***a untuk menaikkan air, 2 p***a “jet cleaner” untuk cuci mobil dll.), dll., juga yang paling penting adalah relasi dengan orang-orang sekitar (istri, kerabat, teman-teman) baik-baik saja.
Ini ceritaku hari ini, dan setelah ini aku akan segera makan pagi, mandi, dan pergi ke toko untuk membeli p***a air, semoga ada model yang aku inginkan dan harganya tidak terpaut jauh dengan harga di olshop.

08/06/2024

Di threads ada seorang istri yang menulis bahwa keluarganya belum mapan secara finansial, rumah ngontrak, pun gak mampu ngontrak tahunan, anak 4 orang, semua tidur di satu kamar; Katanya suaminya baik, tapi ternyata merokok.
Rokok memang pilihan, dan membeli rokok itu sedang membantu perekonomian.

05/06/2024

Salah kaprah, foot plate (tapak datar) disebut cakar ayam.
Dalam dunia konstruksi/pertukangan biasa disebut "cakar ayam", padahal sebenarnya hanya foot plate (tapak datar) saja. Pondasi cakar ayam itu jenis tapak yang menggunakan beberapa beton/baja yang ditancapkan di bagian bawah, seperti cakar ayam yang jari-jarinya terpisah.
Cakar (kaki) ayam beda dengan kaki bebek khan?
[gambar dari internet]

05/06/2024

Ada orang yang menawarkan bisnis pembuatan wood pellet, modal satu paket Rp100rb, akan kembali menjadi Rp200rb dalam 10 hari.
Saya komentari, intinya: "kalau saya yang menjalankan bisnis ini, akan jual mobil atau tanah untuk menambah modal, sebulan kemudian sudah bisa beli mobil yang lebih baik atau tanah yang lebih luas. Jika masih kurang modal, bisa pinjam saudara, dan tidak akan saya tawarkan ke publik."
Lha kok kemudian saya di-block.

26/05/2024

Saya merasa cukup teliti/hati-hati ketika membaca tulisan apalagi di media sosial, karena penulis bisa serius, bisa bercanda, bisa sarkas, bisa juga memang literasinya perlu ditingkatkan, atau perlu lebih banyak belajar kosa kata dan tata bahasa., ada penulis cerdas dan pandai dan ada yang perlu meningkatkan dulu pengetahuannya.
Misalnya tulisan di screen shoot berikut, penulis tidak menyatakan bahwa minyak Bimoli dan minyak wijen digunakan untuk mesin motornya.
Seperti misalnya saya menulis:
"Saya pakai sabun mandi batangan merek Detol, dan mobil saya selalu kinclong.", tidak berarti saya mencuci mobil pakai sabun mandi khan?

Saya tidak tahu maksud penulis tersebut apakah sedang bercanda atau serius, tapi sebagian besar komentator berasumsi bahwa penulis sedang serius. Seandainya penulis sedang serius-pun dan yang dimaksud adalah bahwa minyak Bimoli dan minyak wijen itu dipakai sebagai pengganti atau pencampur oli mesin, itu bukan hal yang luar biasa, karena orang boleh saja bereksperimen; sayapun sudah lama mengisi mesin sepeda motor-sepeda motor saya dengan oli mesin diesel (lihat saja spesifikasi oli mesin motor hampir sama dengan oli mesin diesel jenis tertentu), tidak ada masalah.

Di forum keris, saya pernah menyampaikan bahwa keris-keris yang saya miliki, saya cuci dengan sabun detergen, dan saya minyaki dengan oli rantai, saya dikecam oleh beberapa orang, tapi keris-keris saya baik-baik saja, karena saya sudah bilang ke "mereka", "Ini jaman modern, gak usah manja ...".

Bagaimana menurut Anda?

16/05/2024

Awalnya ban meletus ketika dipakai mengangkut batu kali, beli ban "mati" ternyata kurang cocok untuk beban berat, jadi beli lagi ban luar+dalam merek Swallow, sekalian aku cat ulang ganti warna merah karena adanya stok cat warna merah, dari semula warna bawaan hijau muda dari angkong Das Gluck bak dalam ini. Sampai saat ini aku 7x membeli angkong merek dan tipe berbeda: 2 (Artco) sudah rusak, 3 (Das Gluck, Mancini, Sorong) dipakai kerabat, yang 2 (Sorong, Das Gluck) masih aku pakai sendiri. Menurutku yang terbaik merek Sorong.

16/05/2024

Jika study tour dilarang, ganti nama "wisata bersama",
Gitu saja kok repot ....

15/05/2024

Rencana semula buat penggerak mixer semen (kapasitas 200 liter), pengganti motor listrik yang rusak; tapi rupanya perlu untuk penggerak mesin lain ...

15/05/2024

Kecelakaan bus pariwisata, lha kok solusinya "Study Tour ditiadakan", bisa-bisa besok kalau ada kecelakaan ketika pelajaran Olah Raga, solusinya, "tiadakan pelajaran olah raga di sekolah".
Penyebabnya khan jelas ... (eh, tapi ada yang menyatakan itu semua kehendak Tuhan), yaitu bus yang kecelakaan itu "kurang laik jalan", itu bus lama (kabarnya buatan tahun 2006, mantan bus reguler) dipasangkan body baru, sehingga tampak "lebih segar".
Memang salah satu upaya penghematan modal, kalau mau punya bis pariwisata adalah membeli bekas bus reguler karoseri lama, diubah body-nya dengan model yang baru, istilahnya "menolak tua"; tapi usia khan tidak bisa bohong, bahwa jika kendaraan sudah berusia tua DAN penggunaannya NORMAL apalagi DI ATAS NORMAL, perlu perhatian ekstra, bahkan mungkin tidak perlu dipakai bepergian jauh-jauh karena riskan. (Kecuali kalau penggunaan ABNORMAL alias jarang digunakan dan perawatan bagus, kendaraan lama pun masih OK --- contohnya mobil saya, keluaran tahun 2011, tapi odometer saat ini belum sampai 50.000 km --)
Solusinya bukan dengan meniadakan study tour, tapi jika mau wisata atau study tour ke tempat yang agak jauh, pilih bus yang "relatif baru", atau kalau tahun agak tua, pilih bus yang perawatannya bagus.
Saya pernah pergi "study tour" pakai bus baru (baru jalan 2000-an km), ketika turun di area Puncak, ada bau gosong kanvas rem, tapi saya tenang saja, karena kanvas baru dan gosong karena terlalu panas itu biasa, tapi kalau misalnya bus lama, ada bau gosong itu mengkuatirkan.
Pernah juga pakai bus lama, dan kemudian perlu ganti bus di tengah perjalanan karena bermasalah koplingnya (2 kali mengalami ini).
Makanya, (pekerja biro wisata, panitia wisata/study tour) perlu sedikit belajar tentang bus, mesin apa (merek dan tipe), dan body (karoseri mana, tipe apa), misalnya yang sangat bagus saat ini (tenaganya besar) mesin Volvo tipe B11R dan B8R, ada juga Mercedes 1836. Karoseri terbaru sekarang Adiputro: Jetbus 5 (masih banyak yang Jetbus 3+ -- gak ada Jetbus 4. Laksana: Legacy SR3, Tourista SR3; Tentrem: Avante Grand Captain.
Jika mau lebih paham, bisa ikut grup "BUS MANIA".
Tapi bukan berarti, jika busnya (relatif) baru, pasti tidak terjadi kecelakaan, hanya kemungkinan kecelakaan akibat "technical error" jauh lebih kecil; kalau human error (kelalaian sopir: sopir ugal-ugalan atau sopir mengantuk atau sopir kurang terampil), pakai bus baru atau lama ya sama saja.

Ini pendapat saya,
beda pendapat dan beda pendapatan itu hal biasa.

21/04/2024

Lewat jalan pintas yang sempit, walau sudah disarankan ayah+ibu untuk lewat jalan besar biasanya saja, ternyata "diberi tugas" menolong seorang perempuan bermotor (penjual barang- barang) yang jatuh karena terpeleset, dia mengikuti Google Maps. Kemudian memandunya agar mengikuti kami lewat jalan yang lebih aman, karena jika mengikuti Google Maps, 99% kemungkinan ia akan jatuh lagi di turunan sangat curam di dekat kampung kami (turunan ini sudah banyak memakan korban, ada yang sampai meninggal). Kami juga sempat 'panik' di tengah gerimis, roda kiri depan terperosok sampai bumper hampir menyentuh tanah karena aku minggirkan ketika berpapasan dengan mobil lain, adik yang memberi aba-aba tidak melihat tanahnya berlubang karena tertutup rumput.

12/02/2024

Jika hanya melihat REKAM JEJAK, 'kita' tidak akan pernah mengakui bahwa seseorang bisa bertobat atau seseorang bisa berkhianat.

Want your school to be the top-listed School/college in Salatiga?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Salatiga