12/11/2015
"BUKAN GAJI, TAPI DEMI MENGABDI"
Hari itu, tujuh tahun yang lalu dengan segala idealisme
yang diusung dari kampus, saya coba menelusuri
terjalnya Jalan Bengkari (jalan super sulit di kabupaten
Lembata).
Tergelincir, jatuh lalu bangun lagi menjadi bumbu wajib
yang mewarnai perjalanan awal itu dan hal ini hampir
saja meruntuhkan mimpiku untuk menjadi "guru
sesungguhnya".
Melewati hembusan angin gunung yang begitu menusuk
akhirnya saya bisa mencapai Desa Lamalela, tempat
dimana berdirinya SMPN Satu Atap Ilewutung (satu dari
sekian sekolah terpencil yang ada di kabupaten
Lembata). Sebuah bangunan yang "megah" di tengah
desa berdiri kokoh diantara rindangnya pohon kemiri,
seolah menyadarkan saya bahwa sebuah keajaiban telah
terjadi di tempat ini.
Bayangkan! Sebuah tempat terpencil yang hanya bisa
dilalui kendaraan roda dua (Itupun kalau pengemudinya
siap jatuh), kondisi tanahnya jelek, airnya sulit, listriknya
tidak jelas dan komukasinya mati hidup, bisa
membangun sebuah sekolah megah yang bahkan
pembangunanya di audit oleh lembaga LSM.
Setelah bertemu dan berbagi cerita dengan para guru
dan masyarakat, akhirnya saya tahu bahwa mereka
hanya mau membatu anak-anak mereka untuk
"menyentuh impianya".
Saya begitu tersentuh, bahkan sampai detik ini ketika
sudah mulai ada sedikit perubahan pada desa itu. Sering
kami para guru dikritik karena mengaku kalah pada
keaadaan itu, tidak disiplin, dan tidak bertanggung jawab
pada profesi yang diemban.
Akan tetapi kami tetap bertahan untuk berjalan
meskipun terseok-seok untuk menjalani sebuah tugas
besar tanpa cap dan meterai enam ribu yakni membantu
"anak gunung" menyentuh mimpi mereka.
Tidak semudah membalikan telapak tangan, mungkin
kalimat ini sudah "ter-instal mati" pada memori anak-
anak gunung ini. Pagi, makan nasi jagung doang; siang,
masih menu yang sama (syukur kalau ada sarimi);
malam, minum kopi plus makan ubi bakar. Dan ini
menjadi rutinitas yang harus diamini untuk meraih
mimpi itu.
Melihat mereka, kadang mau menangis terutama saat
mereka berebutan cahaya pelita waktu belajar. Kadang
juga mau marah pada leluhur tanah ini, kenapa harus
membuat anak cucu kalian menderita di tempat ini,
ketika pemerintah menerapkan untuk direlokasi. Tapi
sudalah, para leluhur itu pasti punya alasan yang
mungkin jauh lebih berarti ketimbang rasa simpati kita
yang kadang mati seiring waktu.
Saya harus bertahan dan bertahan lagi, karena tugas
besar itu butuh guru yang tahan banting, butuh guru
yang siap dikritik dan dicerca. Anak-anak itu dan tatapan
mata mereka yang penuh harapan itu, begitu menusuk
sampai kedalam kalbu seolah berkata "kami harus berlari
kemana lagi dan kepada siapa lagi untuk meraih mimpi
kami, kalau bukan pada kalian ayah dan ibu guru?"
Sayapun akhirnya terjebak diantara dua pilihan, menjadi
guru yang baik untuk anak didik di sekolah atau menjadi
tua keluarga yang baik bagi anak dan istri di rumah? Tapi,
sekali lagi saya harus menjadi guru besar yang bisa
memilih keduanya.
Teman-teman seperjuanganku begitu gigih mengajar,
melatih, membina dan mendidik walau cuma menjadi
guru honor dengan gaji dibawah standar UMR. Semangat
mereka begitu besar bahkan hampir kalah karena
masalah tunjangan khusus yang tidak pernah dialami.
Pengabdian mereka pada dunia pendidikan begitu luar
biasa meskipun selalu kurang dimata masyarakat
setempat. Dan bersama mereka, saya selalu tersenyum
dan tertawa mengisi kisah anak-anak gunung itu.
Tahun demi tahun berlalu, dan anak-anak gunung itu
telah pergi meninggalkan airmata terimakasih untuk
dikenang. Tapi bersama guru lainya, saya harus tetap
disini menemani anak-anak gunung berbeda generasi
yang punya harapan yang sama.
Cerita tentang semua kekurangan, baik itu air, listrik,
komunikasi, makan-minum, sarana prasarana adalah
getir yang harus kami kecapi bersama-sama lagi dengan
senyum dan tawa.
Tiba-tiba pada suatu hari, anak-anak gunung itu datang.
Dengan penuh semangat mereka mencium tangan kami
dan bercerita tentang petualangan mereka. Begitu
bangga mereka berkisah; "Guru ... anak-anak Ilewutung
sekarang, ada yang jadi ibu rumah tangga, ada yang jadi
ojek, ada yang jadi guru, ada yang jadi Frater, ada yang
jadi suster, ada yang masih kuliah dan ada yang sedang
mencari jati diri".
Kemudian mereka pergi lagi sambil berucap, "Terima
Kasih Guru!" Saat itu, saya tertegun sejenak, kemudian
berujar dalam hati ... "TERIMA KASIH TUHAN, KARENA
SUDAH MEMBANTU ANAK-ANAK GUNUNG ITU
MENYENTUH mimpinya"