01/01/2020
Repost dari ust. Harry Santosa
Seorang Ayah menulis begini
"...anak saya sejak paud sampai SMA sekolah Islam fullday,
pulang antar jemput, sabtu ahad kursus
Kini kuliah semester awal, ia terkena LGBT
apa dosa saya..."
Jawaban ust. Harry Santosa
Saya sepakat, bahwa peran orangtua tak tergantikan, saya juga sepakat tiada anak salah gaul, yg ada adalah anak salah asuh.
Namun saya melihat kesalahan fatal kita adalah mindset yg salah tentang menyamakan antara pendidikan dan pengajaran, antara tarbiyah, ta'dib dan ta'lim. Sekolah atau persekolahan adalah wilayah ta'lim atau pengajaran, bukan wilayah penumbuhan fitrah (tarbiyah) dan penanaman adab (ta'dib).
Dari mindset inilah kemudian banyak orangtua yang menyangka jika anaknya sdh disekolahkan apalagi sekolah Islam, lalu selesailah pendidikannya. Padahal sekolah hanya mencetak human thinking dan human doing, bukan human being.
Jadi sebaik apapun pengajaran di sekolah, tanpa diawali penumbuhan fitrah dan penanaman adab melalui keterlibatan penuh orangtua, maka hasilnya anak yg hanya cerdas ilmu agama dan ilmu umum, namun rentan dan mudah terpapar apapun
Silahkan mengoutsource pengajaran (ta'lim) utk ilmu yg tak kita kuasai, namun jangan pernah mengoutsource pendidikan (tarbiyah dan ta'dib)
✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️✏️
Arkhab LC siap besinergi bersama orang tua, mencerdaskan tidak hanya dalam berpikir tapi juga bertingkah laku 😊 La haula Wala Quata Illah Billah