01/02/2015
JANJI BUNGA MATAHARI ( CERPEN PAGI )
A Chong, seorang anak laki-laki 12 tahun itu dengan gesitnya melompat ke dalam laut untuk mengejar kepingan receh uang yang dilemparkan penumpang kapal di pelabuhan. Ia segera berenang dan menyelam dengan gesitnya meraih kepingan-kepingan uang Rp. 100,00 yang terjatuh dan tenggelam ke dalam air. Lalu dengan gesitnya berenang dan naik ke perahu kecilnya.
Anak laki-laki yang ( maaf ) tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya itu segera mendayung sampannya ke kapal berikutnya untuk melakukan atraksi yang sama. Anak itu adalah temanku. Sejak ayahnya meninggal di laut akibat perahu yang ditumpanginya untuk menangkap ikan dihantam badai 2 tahun lalu, nasib A Chongg semakin terlunta-lunta. Ibunya terpaksa menjadi seorang buruh bersih ikan di tempat juragan ikan dengan penghasilan yang tak seberapa, sehingga memaksa A Chongg harus menjadi seorang anak uang. Usiaku sama dengan A Chongg, hanya selisih beberapa hari saja.
Anak uang, adalah sebutan bagi anak-anak pengejar uang recehan yang dilempar penumpang kapal ke laut seperti aku dan A Chongg. Mereka akan menghampiri kapal-kapal yang lewat dekat pelabuhan kami dengan sampan kecil, lalu naik dan beratraksi dari atas kapal melompat ke laut, para penumpang kapal dengan senang hati melempar uang receh untuk diperebutkan anak-anak uang ini. Mereka melakukannya hampir setiap hari, dikala panas, maupun hujan lebat sekalipun, yah demi sesuap nasi. Masuk angin, flu, sakit dan lainnya tak pernah kami rasakan, mungkin karena sudah terbiasa.
Jangan protes jika melihat anak-anak uang ini bugil ria tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Tentu kami adalah komunitas non muslim, yang tak mempermasalahkan masalah aurat dan lainnya. Anak uang itu bukannya tidak mempunyai pakaian yang bisa dipakai, mereka punya, tapi hanya beberapa setel saja, sehingga harus dihemat pemakaiannya, hal ini dikarenakan profesi mereka yang tidak jauh dari air.
Aku pun kadang merasa malu telanjang seperti itu jika dihadapan penumpang kapal, terutama jika ada anak perempuan, bagaimanapun walau kami tak tahu apa itu aurat, tapi aku tetap malu, namun karena semua teman-temanku melakukan itu dan termasuk A Chongg sering menghiburku, jadinya aku pun berusaha untuk tak peduli.
“A Qian, janganlah kau malu, kita toh masih anak-anak, lihat para penumpang itu senang sekali melihat atraksi kita”
Dengan cekatan A Chongg melompat dengan gaya salto dan sedikit berputar di udara menceburkan diri ke laut. Rupanya A Chongg tahu ia sedang diperhatikan oleh salah satu anak perempuan penumpang kapal. Dengan muka jijik dan sakit, kelihatan gadis itu memperhatikan sosok-sosok kami yang coklat kurus dan telanjang ini. Aku pun segera melompat karena malu.
Pekerjaan ini kami lakukan setiap hari sep**ang sekolah, jika hari minggu atau libur, kami kadang melakukannya seharian.
Pekerjaan kami pun penuh resiko, jika tak hati-hati bisa saja kami terhisap oleh baling-baling kapal dan terhempas ke dasar laut yang dalam, umumnya pasti akan mati karena tak kuat berenang ke atas. Atau terkena arus bawah yang tiba-tiba datang jikalau hujan turun atau saat arus pasang, yah semuanya nyawa taruhannya. 3 bulan lalu, salah satu teman kami A Mong tewas karena terhisap baling-baling kapal, A Mong termasuk anak uang yang cukup senior, usianya sekitar 14 tahun, namun karena kurang hati-hati, dia pun celaka.
==================
Sore itu lelah rasanya setelah sejak siang, kami berenang dan menyelam memburu uang recehan. Dingin terasa ketika angin sore bertiup menelisik kulit tubuh kami yang basah kuyup dan tak ditutupi baju.
Kami berjalan gontai menuju rumah. Walau lelah tapi kami senang, kami mendapatkan uang receh dalam jumlah banyak. Yah saat itu adalah liburan kelulusan SD, sehingga kami bisa memburu recehan bahkan dari pagi hari. Dengan tertawa-tawa, kami mengobrol untuk mengusir dingin sore.
“Setelah ni, kalian na bagaimana ?”, aku bertanya ke teman-temanku
“Yang jelas kita-kita sih tetap jadi anak uang, kan sekarang kita sudah tak sekolah, jadinya kita bisa cari uang lebih bebas”, A Chun angkat bicara.
“Tapi kalau aku, aku mau sekolah ke SMP, kalau kamu Qian gimana?”, tiba-tiba A Chong nyeletuk.
“Aku, aku....”, aku bingung.
“Ayolah Qian, kita lanjutkan sekolah saja, kita sekolah setinggi-tingginya, lihat Qian, kalau kita bisa sekolah tinggi, maka semakin besar p**a kesempatan dan akses kita untuk merubah nasib, apa kamu mau terus-terusan jadi anak uang kaya gini, pekerjaan penuh resiko, lalu apa kamu mau, besok anak kamu juga akan seperti ini?”. A Chong membujukku.
“Hahahaha....hey Chongg, mau sekolah kemana, memangnya sekolah bisa dibayar pakai daun?”, teman-temanku mentertawakan a Chong.
“Iya, uang darimana, orang tua kita saja miskin seperti itu”
“Uang dari Tuhan lah, Tuhan pasti kasih kita uang kalau kita berusaha”
“Tuhan ?”
Aku bimbang antara meneruskan sekolah atau tidak. Yah sejak kecil aku sudah tak percaya Tuhan, walaupun aku sering diajak orang tua ke kuil, tapi apa benar patung-patung seperti itu bisa memberi kita uang.
==================
Kami hidup sebagai komunitas Tionghoa miskin di pinggiran kota pelabuhan di Sumatera. Nenek moyang kami adalah perantau dari Cina daratan, ratusan tahun lalu. Menurut orang tua kami, tanah Nusantara ini adalah harapan baru bagi bangsa Cina. Tanah yang luas, subur, kaya akan sumber daya alam, merupakan surga yang menggiurkan bagi bangsa-bangsa Cina di masa lalu. Bangsa-bangsa Eropa terutama Belanda membawa nenek moyang kami ke sini untuk dipekerjakan di kebun-kebun sawit sebagai kuli kasar.
Jangan bayangkan kami adalah anak orang kaya, sebagaimana kalian membayangkan saudara kami di Jawa, yah kami adalah sebagian dari etnis Tionghoa yang tidak berhasil di tanah ini. Umumnya profesi orang tua kami adalah nelayan miskin.
Jangan bayangkan kulit kami putih bersih, baju bagus dan penampilan keren, mata sipit seperti anak Boyband Korea. Kami jauh dari penampilan seperti itu, kulit kami coklat kering busik, sedangkan baju keren, gaul, yah itu jauh dari penampilan kami, kami lebih sering tak pakai baju, dan hanya pakai celana saja, bahkan jika sedang berburu uang kami malah tak pakai apa-apa. Justru penampilan anak-anak Melayu jauh lebih baik dari kami, kulit mereka lebih cerah, baju keren dan gaul, yah karena tingkat ekonomi orang tua mereka jauh lebih baik dari orang tua kami.
Akhirnya karena bujukan a Chong aku pun terpengaruh juga untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Aku pun mati-matian meyakinkan orang tuaku bahwa aku ingin sekali melanjutkan sekolah, orang tuaku beralasan tak ada biaya untukku. Namun akhirnya mereka mengijinkanku sekolah.
==================
Aku dan a Chong akhirnya bersekolah di SMP Negeri di kecamatan. Kami menempuh perjalanan kurang lebih 3 Km dengan sebuah sepeda butut peninggalan jaman Jepang. Kami menyisihkan sebagian hasil berburu uang receh untuk membayar SPP.
Di SMP itu, kami mendapat perlakukan yang kurang menyenangkan dari teman-teman kami. Mereka yang umumnya anak dari orang berpunya merasa jijik kalau harus bergaul dengan anak pemburu recehan di laut seperti kami. Namun kami hadapi itu semua dengan sabar.
==================
3 tahun kami menimba ilmu di SMP Negeri, kami pun lulus dengan prestasi yang cukup baik, yaitu peringkat 10 besar sekolah. A Chong pun membujukku untuk melanjutkan ke SMA. Kini orang tuaku syok mendengar keputusanku. Namun melihat kesungguhan dari wajahku, mereka akhirnya mengijinkanku.
Kini kami sudah menjadi siswa SMA Negeri, kami pun sudah tak menjadi anak pemburu receh lagi, karena sudah besar dan tentu saja malu kalau harus telanjang seperti itu.
Untuk membayar SPP sekaligus membantu perekonomian orang tua, serta membiayai adikku yang kini ikut-ikutan melanjutkan sekolah ke SMP, aku dan A Chong harus menjadi kuli angkat ikan. Kami berangkat ke pelabuhan pagi-pagi sekali, mengangkat ikan dari kapal-kapal nelayan, dan dibayar harian oleh juragan-juragan nelayan yang membayar kami. Kami melakukan itu selama menjadi siswa SMA.
Sewaktu pengumuman kelulusan SMA, rasa puas dan bangga menyelimuti hatiku, yah akulah salah satu dari segelintir anak nelayan miskin, anak pemburu recehan di laut yang bisa sekolah sampai SMA. Rasanya perjuanganku, susah payahku dan kelelahan tubuhku yang membanting tulang guna memburu ilmu terbayarkan sudah.
Aku pun membuka baju seragamku, lalu ku ambil sebotol cat semprot merek Pilox, dan hendak kuarahkan ke seragam SMA yang aku pegang. Tapi....
“Jangan.....!!!!”
“Jangan kau rusak hasil perjuangan kita, biarlah teman-teman kita berpesta pora merayakan kelulusan dengan corat coret seragam, tapi lihatlah seragam ini, dia adalah saksi bisu perjuangan kita selama ini”
A Chong mencegahku mencoret coret seragam SMA dengan cat semprot.
“Qian, perjuangan kita belum selesai”
“Maksud kamu?”
“ Yah aku ingin kita berdua pergi ke Jakarta untuk kuliah”
“Kuliah, kau gila apa ?, kita selama ini berjuang banting tulang untuk sekolah, sekarang kita mau kuliah”
“Yah pasti ada jalan, tenang saja aku punya saudara di Jakarta, dan dia siap menampung kita untuk tinggal dan bekerja di sana”
Yah sekali lagi untuk kali ini, aku benar-benar tak bisa menolak keinginan a Chong, semangatnya untuk mencari ilmu benar-benar luar biasa. Yah semangat itu selalu menular ke dalam diriku.
Mendengar kata kuliah, orang tuaku hampir saja jantungnya copot, seperti disambar petir di siang hari. Padahal mereka berharap setelah aku lulus SMA, aku menjadi nelayan dan menggantikan ayahku yang sudah mulai sakit-sakitan. 3 hari aku berusaha meyakinkan mereka, bahwa aku akan bekerja dan mengirim uang setiap bulannya.
===================
Singkat cerita kami merantau ke Jakarta. Di sana kami tinggal di rumah saudara A Chong, sampai kami mendapat kerja. Rumah saudara A Chong juga bukan rumah mewah, hanya rumah sederhana yang beratap seng. Dan jika siang hari maka suasana di dalam rumah akan panas dan gerah sekali.
Akhirnya kami mendapat pekerjaan, A Chong bekerja di tempat fotokopi, sedangkan aku bekerja di sebuah bengkel sepeda motor yang cukup besar. Karena tempat kerja kami cukup jauh dari rumah saudara A Chong, maka kami pun akhirnya mengontrak rumah sederhana di dekat tempat kerja.
Rumah kontrakan kami sebenarnya tidak sederhana, tapi kumuh, yah sebuah gubuk kecil ukuran 4x7 meter, dengan dinding anyaman bambu, lantai semen dan atap seng berkarat. Jika panas terik, maka serasa di neraka, dan jika hujan lebat turun maka bocor dimana-mana. Yah inilah perjuangan kami sobat.
Tak ada yang indah di gubuk kumuh itu, namun jika kita pergi ke samping kontrakan kami, kami bisa bersantai di kebun kosong yang ditumbuhi bunga matahari yang tumbuh liar di sana. Yah ketika bunga-bunga itu mekar, maka seolah menjadi penghibur hati kami di tengah kerasnya hidup ibu kota.
Tempat kerjaku adalah sebuah bengkel mobil yang cukup besar, aku bekerja sebagai pembantu montir sambil belajar mesin di sana. Atasanku adalah orang Jawa yang cukup sengak dan menyebalkan, seakan dia adalah penguasa absolut yang bisa memerintah apa saja kepada budak-budaknya. Namanya Jarwo.
Melihatku yang etnis Tionghoa, ia pun semakin sengak tingkahnya, mungkin dia merasa bisa “balas dendam” ketika saudara-saudaranya sesama etnis Jawa menjadi bawahan etnis Tionghoa, kini ia punya bawahan orang Tionghoa.
“Hey Cina, kerja yang bener, kalau kamu kerjanya lelet kaya gitu, kapan selesainya haahhh, lho pikir bisa makan gratis di Jakarta hah...., dasar Cina sipit”
Setiap hari kerjaanya hanya marah-marah, seolah tak ada satu pun dari pekerjanya yang bekerja dengan benar. Aku yang paling sering kena marah.
“Sabar yah, emang Pak Jarwo kaya gitu orangnya, jangan diambil hati yah”
Slamet, montir senior di bengkel itu selalu menghiburku.
Sebenarnya pak Jarwo bukanlah pemilik bengkel itu, dia hanya manajer harian bengkel, pemilik aslinya juga orang Jawa, namun tinggal di Bogor dan memiliki banyak usaha, namanya pak Ahmad Solikhin. Dia orangnya sangat baik, dan perhatian dengan karyawannya, jauh dengan manajer hariannya yaitu pak Jarwo.
Kelakuan Pak Jarwo sangat menyebalkan, dikala pekerjanya sibuk bekerja ia tidur di ruang kerjanya yang ber AC, lalu setelah bangun dia akan marah-marah, setelah marah-marah, ia akan makan siang, dan tidur lagi, sorenya ketika bangun ia akan marah-marah lagi, lalu tidur lagi sampai bengkel tutup jam 6 petang.
Tak ada pekerja yang berani memprotes kelakuan Pak Jarwo.
================
Pagi itu aku mendengar kabar dari a Chong bahwa fotokopian tempat ia bekerja bangkrut akibat kalah bersaing dengan yang lain. Kini A Chong menganggur, maka terpaksalah aku dengan penghasilanku yang tak seberapa berbagi makan dengan A Chong.
Kemalangan a Chong tak berhenti sampai di situ, ia mendengar kabar bahwa seluruh keluarganya tewas akibat kapal yang mereka tumpangi dihantam ombak besar saat badai, mereka berencana menghadiri pernikahan saudara di p**au seberang dengan menaiki perahu nelayan, namun sebuah badai tiba-tiba datang di tengah laut. Ayah, ibu, adik-adiknya tewas tenggelam ke dasar laut dan jenazahnya tidak ditemukan.
A Chong sangat sedih mendengar itu, aku pun tak kuasa melihat kemalangan sahabatku yang satu ini.
================
Dulu kami merencanakan dalam waktu satu tahun di Jakarta kami bisa kuliah, namun rencana tinggalan rencana, sejak A Chong menganggur maka semua uang yang kami kumpulkan untuk kuliah terpaksa kami gunakan untuk makan.
Namun itu tidaklah lama, akhirnya A Chong mendapat pekerjaan di sebuah pabrik sepeda, namun bukan di Jakarta tapi di Surabaya. A Chong terpaksa mengambil pekerjaan itu karena dia tidak enak terus terusan menjadi bebanku, lagi p**a aku juga harus mengirim uang ke kampung.
Aku pun harus berpisah dengan A Chong untuk waktu yang lama, yah sore itu juga, kulihat A Chong mengulurkan senyum perpisahan di samping kebun yang ditumbuhi bunga matahari yang saat itu belum mekar. Yah itulah senyum terakhir dari sahabatku, senyum perpisahan, entah kapan kita akan bertemu kembali.
“Qian, kita bertemu lagi di kebun bunga matahari ini setelah kita sukses, ok”, kata A Chong serius.
Aku tertegun, seseriuskah dia. Bahkan ia berjanji tak akan p**ang kampung sebelum sukses. Aku sebenarnya terharu dengan wajah serius A Chong, akan tetapi itu sudah menjadi keputusannya.
================
Aku tetap bekerja di bengkel sepeda motor itu, dan syukurlah saya akhirnya diterima kuliah di salah satu Universitas Negeri di Jakarta, aku kuliah di Fakultas Ekonomi mengambil jurusan Manajemen dan Bisnis.
Di sela-sela jam kuliah aku tetap bisa bekerja di bengkel itu, dengan tetap bisa bekerja dan memakan omelan harian Pak Jarwo yang semakin menyakitkan hati saja kalau didengarkan.
“Cina goblok, cina idiot, cina kafir, cina babi, emangnya elo pikir dengan kuliah ada manfaatnya buat elo haah...dasar cina, kerjaanya gak beres-beres, eeehh ditambah sok-sokan kuliah haahhh...”
Ingin rasanya aku menumpahkan kekesalan pada orang ini dengan mengatakan sekeras-kerasnya
“Emang aku ini Cina, tapi aku juga manusia sama kaya elo, elo pikir gue makhluk menjijikan apa haahh, justru elo yang paling menjijikkan di sini, disaat semua karyawan kerja, elo tidur, lalu elo bangun dan marah-marah, elo tiap hari kerjaanya Cuma marah-marah, seakan tak ada yang menyenangkan di mata elo, apa elo gak tahu, karyawan di sini terpaksa mendengar omelanmu tiap hari karena mereka terpaksa agar dapur tetap ngebul, elo orang atau hewan sih, gak punya perasaan banget, dasar Jawa iblis”
Namun semua kekesalan dalam hati aku pendam dalam-dalam. Biarlah mungkin suatu saat orang ini akan mendapat balasan yang setimpal. Mungkin Tuhan, kalau ada dia akan menghukum orang ini, yah sampai saat itu aku memang belum percaya bahwa Tuhan itu ada.
Kelakuan Pak Jarwo semakin menjadi-jadi, karena dia s**a mengemplang uang perusahaan. Ia gunakan sebagian uang hasil keuntungan bengkel seenaknya sendiri untuk kepentingan pribadi. Aku pun mengetahui hal itu dari Mba Rina, bagian keuangan bengkel. Pak Jarwo sering mengambil uang bengkel dan dipergunakan untuk kepentingan pribadinya. Mba Rina tidak berani melapor ke Pak Solihin karena ia takut dengan ancaman Pak Jarwo, jika dia melapor.
=================
Aku kerja sambil kuliah sampai semester 6, saat itu tahun 1998, yah sebuah kejadian besar telah mengubah wajah negeri ini. Yah wajah negeri yang selama ini digadang-gadang akan menjadi macan asia dengan angan-angan muluk-muluk yaitu memasuki era tinggal landas alias menjadi negara maju. Namun angan-angan itu tinggalah menjadi angan-angan saja, negeri ini diterpa badai krisis moneter yang sangat dahsyat dan mematikan.
Indonesia akhirnya jatuh ke jurang krisis ekonomi yang menghancurkan. Semua harga barang naik, sembako, susu anak dan lainnya naik. Rakyat menjerit, tak ada lagi semboyan “piye kabare penak jamanku toh”.
Untuk menyelamatkan pemerintahan, Presiden Suharto terpaksa menanda tangani kontrak kerja dengan IMF, yah sebuah kontrak kerja kerja yang sesungguhnya adalah penjajahan nyata. 4 hari setelah penanda tanganan kontrak kerja itu, Suharto pun mundur dan digantikan oleh BJ Habibie sebagai Presiden.
Ekonomi Indonesia semakin tak jelas arahnya, apalagi setelah konglomerat-konglomerat yang masih satu etnis denganku, yaitu Tionghoa, membawa kabur uang talangan BLBI trilyunan rupiah keluar negeri. Yah saat itulah kemarahan penduduk pribumi memuncak terhadap etnisku, etnis Tionghoa.
Hanya karena masalah sepele, tersulutlah kerusuhan etnis, rakyat Pribumi yang dulu ramah, santun, tiba-tiba menjadi buas dan liar bagai singa kelaparan. Mereka keluar dengan berbagai senjata dan memburu etnis Tionghoa.
================
“Bunuh Cina, bunuh cina, bunuh cina, kafir najis, babi setan, bikin kotor negeri ini aja”
Teriakkan menakutkan itu terdengar olehku. Aku bersembunyi di bengkel tempat kerjaku, pagi itu aku memang berangkat kerja ke bengkel, namun aku tidak menyangka bahwa hari itu akan terjadi kerusuhan etnis dan SARA.
Aku mengintip keluar, terlihat kobaran api dimana-mana, aku juga melihat sebuah toko elektronik di depan bengkel milik seorang Tionghoa dibakar, dan pemiliknya hilang entah kemana, mungkin mati terpanggang hidup-hidup di dalam tokonya.
Tidak perlu waktu yang lama, perusuh itu pun mendatangi bengkel, mereka menggedor-gedor pintu bengkel sambil teriak-teriak.
“Gue tau di sini ada Cina, cepet keluarin dia, kita di sini Cuma mau membantai Cina, cepet keluarin dia, atau kalau kalian berusaha melindungi dia, kalian juga akan kami bakar hidup-hidup”
Oh tidak, mereka tahu keberadaanku, aku ketakutan luar biasa. Semua karyawan bingung dan takut, mereka memandang ke arahku, mereka berpikir untuk melindungiku, itu berarti mereka juga akan mati, atau menyerahkanku pada perusuh itu, mereka sebenarnya sangat kasihan denganku. Namun mereka juga menghadapi pilihan yang sulit.
Namun tiba-tiba Pak Jarwo berjalan melangkah keluar dan membuka pintu bengkel, dan terlihatlah ratusan orang bersenjatakan golok, celurit, dan pentungan kayu sudah berjubel di depan bengkel.
“Saudara-saudara, tenang, memang di sini ada Cina, dan dia akan saya serahkan sama kalian, terserah kalian mau apakan dia....”, Pak Jarwo berteriak.
“Dia ada di sana....!!!!”,
Pak Jarwo menunjuk ke arah aku sembunyi, mati lah aku. Namun...
“Ooooohhhh... jadi elo Cinanya, ayo bunuh diaaaaa......!!!!”
Aku terkejut, semua karyawan terkejut, entah kenapa, para perusuh itu malah menganggap Pak Jarwo yang Jawa asli dengan mata belo sebagai etnis Tionghoa.
Berbagai macam bacokan, pukulan dan tendangan diarahkan ke tubuh pak Jarwo. Yah akhirnya Pak Jarwo mati mengenaskan, tubuhnya termutilasi, terpotong-potong, bahkan kepalanya ditancapkan ke bambu runcing dan diarak pergi oleh perusuh.
Aku sangat ngeri melihatnya, dan baru kali itu aku merasa kasihan sekali dengan nasib Pak Jarwo yang mati mengenaskan, walau bagiku Pak Jarwo adalah orang yang menyebalkan, tapi bukan balasan se sadis itu yang aku inginkan, namun semua sudah terjadi.
==================
Semua karyawan bengkel termasuk aku terpaku dan diam menggigil ketakutan melihat semua itu. Tak ada satupun karyawan yang berani keluar untuk mengevakuasi jasad Pak Jarwo, semua terdiam. Slamet segera melangkah ke pintu dan menutup pintu bengkel lalu menguncinya.
Tiba-tiba aku ingat sesuatu, dua hari yang lalu, aku menerima surat dari A Chong bahwa hari ini dia akan berkunjung ke Jakarta menemuiku. Ia mengatakan bahwa sekarang ia sudah sukses di Jawa Timur.
Aku pun bangkit dari tempat aku sembunyi dan berjalan ke pintu, aku lihat keadaan sudah sedikit tenang. Tiba-tiba Slamet mencegahku.
“Qian, mau kemana elo?, diluar berbahaya, elo bisa mati”
“Tapi aku ada janji dengan teman lama, dia akan datang ke kontrakanku”
“Tapi An, para perusuh itu lagi nyari orang Cina kaya elo, kalu elo keluar elo bisa-bisa dibantai”
“Tapi kalau mereka tahu di sini masih ada orang Cina kaya aku, mereka juga akan ke sini lagi dan membakar bengkel ini, kalian juga bisa dalam bahaya”
Aku berusaha meyakinkan mereka, bahwa aku akan baik-baik saja, aku bisa menjaga diri. Aku pun memaksa Slamet agar membukakan pintu bengkel. Akhirnya setelah aku bujuk Slamet, Slamet pun membukakan pintu bengkel. Namun sebelum aku melangkah keluar, Slamet memberikanku sebuah kopiah.
“Pakailah, elo tak akan terlihat kaya orang Cina kalau pakai ini, tapi hati-hatilah, diluar mungkin perusuh masih memburu orang-orang Cina”, aku pun memakai kopiah Slamet.
=========================
Aku berjalan cepat melewati trotoar, di sana hiruk pikuk perusuh dan penjarah berlarian, beberapa penjarah ada yang membawa barang-barang elektronik seperti Televisi, Kulkas, Tape, dan lainnya. Terdengar juga teriakkan minta tolong yang miris sekali terdengar.
Aku membelok ke gang agar tak bertemu dengan perusuh, aku terus berjalan. Saat aku berjalan memasuki sebuah lorong aku melihat seorang remaja perempuan Tionghoa yang maaf tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya. Wajahnya terlihat syok dan stress berat, dan terlihat sekali ia habis diperkosa oleh puluhan pria perusuh.
“Pergi...pergi...!!!!” perempuan itu terlihat begitu ketakutan melihatku.
Sebenarnya aku kasihan dengan gadis malang itu, namun aku juga bingung, aku pun akhirnya meninggalkan gadis itu sendirian.
“Cina...cina...!!!”
Gawat, mereka mengetahui keberadaanku, aku pun berlari dianatar lorong-lorong gang, takut kalau mereka menangkapku. Aku melihat gerombolan perusuh mengejarku dari belakang dengan berbagai senjata tajam.
Aku berhasil mengecoh perusuh itu dan bisa berlari dengan aman. Akhirnya sampailah aku ke kebun bunga matahari. Terlihat suasana di sana masih aman, aku pun sedikit lega dan tenang.
Aku menelusuri kebun untuk mencari A Chong, namun tak ada tanda-tanda keberadaanya. Apa mungkin dia tidak datang karena mendengar ada kerusuhan etnis di Jakarta. Tapi bukan A Chong kalau dia tidak menepati janji. Dulu waktu kecil A Chong, walaupun hujan lebat ia tetap memburu koin di pelabuhan, karakternya sangat kuat dan tak mudah menyerah, itulah yang selama ini aku kenal dari diri sahabatku itu.
“A Qian...!!!”
Aku mendengar suara rintihan dari dalam kebun. Aku menoleh ke arah suara itu, dan aku masuk ke rerimbunan tanaman bunga matahari yang sedang mekar, terlihat jejak ceceran darah di tanah dan aku ikuti jejak darah itu.
“Ya ampun, A Chong....!!!!”
Aku melihat sahabatku sudah bersimbah darah, ada besi berkarat menancap di pinggangnya.
“A Chong, kau tidak apa-apa?”
“A Qian, akhirnya kita bisa bertemu kembali, dulu, dulu aku berjanji akan menemuimu setelah aku sukses, tapi...tapi...”, A Chong berusaha bicara dengan terbata-bata.
“Chong, jangan banyak bicara, ayo ke rumah sakit”, aku sangat khawatir dengan kondisi sahabatku itu.
“Jangan, para perusuh itu pasti akan mengejarmu”
“Tapi Chong....”
“Qian, aku senang bisa bertemu denganmu, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, tadinya aku ingin mengajakmu kerja di Surabaya, karena penghasilannya lumayan, tapi, aku tak menyangka bakal terjadi hal seperti ini, Qian, maafkan aku, kalau aku ada salah denganmu, teruslah berjuang sahabatku, aku...aku...aku berharap kau bisa sukses suatu hari, dan bisa menolong orang-orang lemah dan kurang mampu untuk bisa sekolah, selamat tinggal sahabatku, semoga kita bisa bertemu di akhirat di satu tempat yang sama, yaitu surga”
“La illah ha illallah, muhamadar rasulullah....”
“A Chong, a Chong....a Chong...!!!!!!”
Aku menangis sejadi-jadinya, rasa marah, dendam dan bingung bercampur aduk di hatiku. Aku mendengar langkah-langkah kaki di luar kebun. Yah aku melihat dari balik semak bunga matahari mereka adalah perusuh yang sedang memburuku.
Beberapa orang perusuh mencoba masuk dan membabati semak untuk menemukanku. Sambil teriak-teriak mereka merangsek masuk. Aku pun segera berlari, aku melihat ada celah yang tidak dijaga oleh perusuh dan berhasil lolos. Namun perusuh itu tetap mengejarku.
Lelah dan letih di kaki, akhirnya menghentikan langkahku, peluh dan keringat membasahi tubuhku. Aku berjalan gontai, dan tak tahu mau kemana, sampai tiba-tiba sebuah tangan menarikku. Aku pasrah mungkin dia salah satu perusuh yang akan membantaiku, aku pun sudah melihat maut sangat dekat denganku. Orang yang menarikku adalah seorang berusia 50 an tahun, berwajah seperti orang Arab, memakai kopiah dan baju koko, aku sering melihat orang-orang seperti ini berbuat anarkis menghancurkan tempat judi, tempat minuman keras dan diskotik tanpa ijin. Bagiku orang ini adalah kump**an preman berjubah, yah mereka aku sebut sebagai Front Preman Berjubah. Aku yakin dia bagian dari perusuh-perusuh itu.
“Masuklah, dan bersembunyilah di sini, dan apapun yang terjadi jangan keluar....!!!”, perintah orang itu dengan lantang.
Orang itu menarikku ke dalam rumah dan memas**anku ke sebuah kamar, lalu menutup pintu kamar. Karena takut aku pun menurut begitu saja. Sementara di luar beberapa perusuh sudah mulai mencium keberadaanku. Oh tidak, jangan-jangan orang ini menjebakku.
“Ustadz, tolong keluarkan Cina itu, kami akan bunuh Cina Kafir itu”
“Astagfirullah hal adziim, di sini tak ada Cina, sana pergi”,
Aku terkejut, ternyata orang itu berusaha melindungiku.
“Ustadz itu ulama di sini, kami menghormati ustadz, masa ulama berbohong”
“Yah memang orang yang kalian buru punya darah Cina, tapi dia muslim..., kalian mau membunuh sesama muslim haaahhh???, sesungguhnya semua muslim itu bersaudara, mau Cina, Betawi, Jawa kalau dia muslim, di saudara kita, kalau kalian hendak membunuh dia, maka kalianlah yang kafir, karena Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang mati karena ashobiyah ( fanatisme etnis, kelompok, suku, dan bangsa ) maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah, mau kalian besok mati dalam keadaan jahiliyyah?”
“Sudah sana pergi....!!!!!”
Aku melihat perusuh-perusuh itu pergi, dan aku tak menyangka, orang itu harus berbohong untuk melindungiku, apakah bagi dia tidak dosa, kan bohong dosa.
===============
Seminggu sudah aku berada di rumah Ustadz itu, aku diperlakukan sebagai tamu dan tidur di kamar belakang. Hampir setiap malam aku melihat ustadz itu membaca Al Quran dan sholat. Awalnya itu cukup menganggu, namun lama kelamaan ada suatu keindahan yang aku rasakan.
Aku pun baru sadar ternyata A Chong itu seorang muslim, aku baru menyadari ketika mengingat kalimat terakhir yang ia ucapkan saat mengembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya. Kenapa si A Chong menjadi muslim.
Aku pun berdiskusi banyak dengan Ustadz Abdurrozak, yang ternyata adalah aktifis dakwah. Memang dia sering memerangi kemaksiatan dengan mengingatkan orang-orang, namun bukan dengan berbuat anarkis. Sementara beberapa kelompok muslim yang sering merusak tempat perjudian liar, pelacuran liar, itu memang karena mereka kecewa dengan aparat penegak hukum yang justru membiarkan kemaksiatan tumbuh subur di masyarakat.
Dan Alhamdulillah, tepat sebulan aku berdiskusi dengan sang Ustadz, aku pun memutuskan untuk menjadi seorang muslim.
=================
Rahmat Salamuddin, itulah namaku kini, yah nama yang diberikan Ustadz Abdurrozak 15 tahun lalu. Kini aku memiliki pabrik Sepeda yang aku beri merk Atlant, berasal dari kata Atlantik, nama samudra, yah karena masa kecilku tak jauh-jauh dari laut. Aku mencoba berbisnis sepeda, pada awalnya aku mengimpor frame sepeda dari Cina, namun karena kualitasnya buruk akhirnya aku mencoba membuat frame sendiri dan berdirilah pabrik ini.
Dalam waktu 10 tahun merk Atlant pun mulai dikenal masyarakat, dan kini bisa bersaing dengan merk lokal lainnya seperti Polygon, United. Wim Cycle dan Pacific.
Aku juga mendirikan beberapa sekolah Islam Terpadu. Pada awalnya aku membeli kebun bunga matahari dan aku dirikan TK Islam Sinar Matahari, lalu aku mendirikan SMP IT Air Emas di beberapa kota, termasuk di kampung halamanku.
Kini anak pemburu recehan tak ditemui lagi di kampung halamanku, umumnya mereka sudah bersekolah karena tingkat perekonomian masyarakatnya sudah membaik. Itu karena doa dan perjuanganku bersama teman-teman sesama pengusaha muslim yang mengadakan pelatihan dan memberi modal kepada nelayan-nelayan miskin berupa kapal-kapal nelayan canggih dan mampu menangkap ikan sehingga mampu bersaing dengan nelayan asing yang seringkali mencuri ikan.
Aku menikah dengan putri Ustadz Abdurrozak, dan memiliki 2 anak, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki kini sudah kelas 2 SMP, dan bersekolah di SMP IT Air Emas. Sedangkan anak perempuanku masih SD kelas 3.
Aku bahagia melihat anakku Ridwan tumbuh sebagaimana anak normal pada umumnya. Kulihat anakku sedang bermain dengan dua sahabatnya dari kampung yaitu Reza dan Fadil yang berkunjung di hari ahad pagi ini, mungkin tak bisa aku bayangkan, seandainya dulu aku tidak menuruti kata-kata A Chong untuk melanjutkan sekolah, mungkin anak-anakku pun akan menjadi anak pemburu uang recehan sepertiku dulu. Yah Allah Maha Kuasa yang punya kehendak.
By Zul Andika