Kajian Dakwah Islam PR IPM Madrasah Aliyah Muhammadiyah Purwokerto

Kajian Dakwah Islam PR IPM Madrasah Aliyah Muhammadiyah Purwokerto

Share

Selamat datang di Kajian Dakwah Islam PR IPM Madrasah Aliyah Muhammadiyah Purwokerto.

Disini kita saling berbagi ilmu serta menjalin silahturahmi.
ن ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

18/02/2018

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam (SAW) merupakan teladan bagi umat. Berbagai perilaku, sikap, dan tindakan Rasulullah, mempunyai makna yang sangat bermanfaat bagi umatnya. Salah satunya adalah tersenyum. Rasul SAW mengajarkan, senyum adalah salah satu amal yang utama, dan senyum merupakan bagian dari sedekah.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan, pada suatu hari, ada serombongan orang yang fakir dan miskin dari golongan Muhajirin, datang menemui Rasulullah SAW. Satu di antara mereka pun mengadu dan mengeluhkan permasalahannya kepada manusia yang mulia ini.

"Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga mereka mendapatkan tingkatan yang paling tinggi." Rasul SAW bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian?" Lalu, mereka pun menjawab, "Orang-orang kaya itu mendirikan shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami mengerjakan puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak mampu melakukan amalan seperti mereka itu. Mereka juga mampu memerdekakan budak sahaya, sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu."

Mendengar keluhan orang fakir itu, Rasulullah SAW lantas tersenyum dan berusaha menghibur sang fakir. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali mereka berbuat seperti yang kalian kerjakan?" Dengan antusias, mereka pun mengiyakan, "Mau, wahai Rasulullah." Kemudian, Rasul SAW bersabda, "Bacalah 'subhanallah', 'Allahu akbar', dan 'alhamdulillah' setiap selesai shalat, masing-masing sebanyak 33 kali." Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun p**ang untuk mengamalkannya.

Beberapa hari kemudian, rombongan fakir ini datang lagi menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan keluhannya. "Wahai Rasulullah, saudara- saudara kami orang kaya itu telah mendengar perbuatan kami, lalu mereka juga melakukan sebagaimana amalan yang kami kerjakan." Maka, Rasul SAW bersabda, "Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki." (QS an-Nur [24]: 38). (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika orang-orang fakir itu mengadukan kemampuan orang kaya dalam beramal, Rasul SAW lalu mengajarkan, agar mereka selalu tersenyum setiap bertemu saudarasaudaranya. Senyumanmu ketika bertemu dengan saudaramu adalah sedekah." (HR Ibnu Hibban).

"Termasuk sedekah adalah engkau mengucapkan salam dengan wajah ceria kepada orang-orang." (HR Ibnu Abi Dunya). Berdasarkan hadis di atas, memperbanyak senyum setiap bertemu setiap orang, apalagi sesama Muslim, menjadi ibadah yang mudah dan murah. Sebab, dengan banyak tersenyum, nilai sedekah juga akan semakin banyak. Subhanallah.

Kita sadari, kekayaan orang kaya begitu banyak. Mereka mampu membelanjakan harta yang dimilikinya di jalan Allah SWT. Mereka juga diberi kesehatan fisik yang prima. Untuk mengerjakan amal ibadah, seperti shalat dan puasa, mereka juga mampu melaksanakannya dengan baik. Tetapi, tersenyum, tentu akan berbeda jumlahnya. Betapa indahnya ajaran agama yang dibawa Rasul SAW ini untuk umatnya. Orang miskin yang tidak mampu bersedekah dengan hartanya, tetapi mereka bisa bersedekah dengan tersenyum.

Tentu ada makna yang tersirat di balik senyum itu. Banyak para ahli kesehatan menemukan manfaat yang mengagungkan dari senyuman. Di antaranya, yang pertama, senyum itu akan menghilangkan beban pikiran dan stres. Kedua, senyum itu akan meredam amarah (emosi). Rasa marah yang meledak-ledak, akan mudah hilang jika dilandasi dengan senyuman. Ketiga, senyuman yang memperlihatkan gigi geraham dan gigi taring, akan mengencangkan kulit wajah sehingga membuat wajah akan senantiasa ceria dan awet muda.

Keempat, senyum ramah akan meningkatkan sistem imun (kekebalan tubuh), mengurangi rasa sakit, dan menurunkan tekanan darah tinggi. Kelima, senyuman akan menularkan energi positif kepada lingkungannya. Sebuah penelitian menunjukkan, orang yang bergaul dengan mereka yang murah senyum maka sikapnya juga akan ramah. Semoga kita semua mampu menjalankan salah satu ajaran Islam ini, yakni tersenyum. Allahu a'lam.

Sumber : Republika.co.id
Foto : Republika

Follow Us Facebook Instragram 🌹

15/02/2018

Assalamualaikum Ukhti Akhi :D

" Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. " Al Baqarah Ayat 25

ayat ini menunjukan sebuah jawaban ketika diri kita sedih maupun duka. Dan ayat ini terdapat anjuran memberikan kabar gembira kepada kaum mukmin untuk mendorong mereka beramal dengan menyebutkan balasan yang akan diperoleh, dengan begitu membuat mereka ringan dalam beramal shalih. Kabar gembira yang paling besar bagi seseorang adalah diberi-Nya taufiq untuk beriman dan beramal shalih, ia merupakan awal kabar gembira dan asalnya, setelahnya kabar gembira ketika meninggal dan setelahnya lagi adalah masuk ke tempat yang penuh kenikmatan. Kita meminta kepada Allah agar kita semua dimasukkan ke dalamnya, Allahumma aamiin.

Jangan Lupa like Fanspage untuk menambah kebaikan ukthi Akhi :)
Syukron...


12/02/2018

Assalamualaikum Ukthy Akhi :)

Khaifa halukum ? alhamdulliah bin khoir :)
" Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. "

01/02/2018

Assalamualaikum Ukthi AkhI :)

" Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." Q.S Yasin Ayat 39 - 40

Ayat ini mengandung :

Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa sebagian tanda-tanda kebesaranNya yang lain adalah bulan dan matahari.

Bulan munculnya di malam hari dari ufuk Barat ke ufuk Timur. Awal bentuknya kecil seperti mancung, semakin lama semakin membesar sampai bundar penuh, yang dikenal dngan istilah bulan purnama. Dan pada bulan purnama inilah bulan memancarkan sinarnya yang penuh. Setelah itu mulai bulan mulai mengecil kemudian hilang. Peredarannya tetap tidak berubah dari ufuk Barat sampai ufuk Timur.

Sedangkan matahari dari awal sampai akhir bulan bentuknya tidak berubah dan memancarkan sinarnya yang sangat terang benderang. Dan sinar dari matahari ini mengeluarkan berbagai macam zat untuk menghidupi dan kehidupan semua makhluknya yang berada di muka bumi. Matahari keluar atau terbit di ufuk Timur dan tenggelam di ufuk Barat.

Anatara matahari dan bulan keduanya tetap bergerak pada garis edarnya, mereka tidak saling mendahului.Dan hal ini berlangsung selama dunia ini masih ada, sampai hari yang ditentukan yaitu Hari Kiamat.

Mari kita renungkan sejenak tentang kedua makhluk ini. Tetap saja manusia selalu menilai dari dua sisi baik dan buruk. Misalnya apabila bulan tidak muncul, suasana akan gelap gulita, dan jelas agak mencekam terlebih-lebih lagi kalau di laut yang tidak jelas arah timur dan baratnya, antara selatan dan utara. Namun saat bulan muncul, bersinar dengan indahnya. Apa yang dilakukan manusia ? Bukannya bersyukur dengan hal tersebut, akan tetapi banyak yang di salah gunakan, terutama bagi kalangan remaja untuk berpacaran yang belum menjadi mukhrimnya .

Bagaimanakah dengan matahari ? Hal inipun sama. Apabila matahari bersinar dengan amat terangnya, maka hawa yang dikeluarkan tentunya amat panas. Dan .... manusia banyak yang mengeluh merasa kepanasan, gerah, serba salah , di dalam rumah panas, apalagi di luar akan lebih panas, akhirnya sumpah serapahpun keluar dari mulutnya. Mereka gak sadar bahwa dibalik keluhan mereka ada yang memang sangat mengharapkan sinar tersebut yaitu tetumbuhan, tanam-tanaman, pohon-pohonan, tukang cuci pakaian ( laundry ) dan sejenisnya.

Dari kedua hal ( bulan dan matahari ) ini kita dapat pembelajaran misalnya dari bulan awalnya gak ada lalu muncul kecil, lama kelamaan membesar, kemudian mengecil lagi , lalu tidak ada. Hal ini terjadi pada kita manusia , awalnya tidak ada, lalu Allah menciptakan kita, dimulai dari dalam rahim, selama 9 bulan berada di tempat tersebut, terus lahir, jadi bayi, lalu menjadi anak-anak, terus remaja, terus dewasa, setelah itu mulai menua. Apa yang terjadi ? Kenikmatan kita oleh Allah mulai dicabut sedikit demi sedikit, misal, rambut awalnya hitam mulai memutih, tumbuh uban. Tenaga mulai banyak berkurang. Fisik mulai melemah. Penyakit mulai berdatangan. Terkadang sering lupa. Ada juga prilakunya kembali lagi seperti anak kecil. Lalu......... kematian datang, Jadi jelasnya keberadaan kita di dunia ini tidak selamanya, semua yang dimiliki, yang disayangi, yang dicintai, akan ditinggalkan semua. Yang menyertai kita apa ? Hanyalah amal kebajikan, itupun kalu dari saat ini berbuat dan dikumpulkannya. Kalau kita tidak berbuat begitu, maka bekal untuk akhirat kosong sama sekali.

Semoga kita semua dapat memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan Allah kepada kita. Kita semua harus berusaha menjadi manusia yang beruntung di sisiNya. Janganlah menjadi manusia yang berada di dalam kesesatan . Kalau kita menghendaki keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Kehidupan dunia ini hanyalah sementara, akan tetapi kehidupan akhirat kekal selamanya, sehingga memerlukan bekal sebanyak-banyaknya sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Syukron...

Follow IG : mampurwokerto01

31/01/2018

Assalamualaikum ukhty akhi..
Yuks ikuti shalat gerhana bulan hari ini..

Syukron...

Follow IG : mampurwokerto01

21/01/2018

Assalamuaikum Ukhty Akhi..
Kaifa halukum ? Alhamdulliah bin khoir..
kali ini kajian dakwah islam ada surat al baqarah ayat 148 dan isi kandungan'a teman..
yuks dibaca dan jangan lupa di like and share teman, semoga bermanfaat..

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٤٨)

" Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( Q.S Al-Baqarah : 148 )

ISI KANDUNGAN SURAT AL BAQARAH 148

Tiap tiap umat ada kiblatnya masing masing yang dijadikan arah untuk ibadah pada zamanya. Umat Islam menghadapkan wajahnya dalam beribadah menuju ke arah Masjidil Haram yang di dalamnya ada bangunan Kakbah. Umat nabi Ibrahim dan Ismail juga menghadap ke arah Kakbah sedangkan umat Bani Izrail dan umat Nasrani menghadap ke arah Baitul Maqdis. Allah swt memberikan ketentuan bagi setiap umat manusia dalam beribadah kepadaNya dengan menunjukkan rah kiblat yang sudah di tentukan. Manusia yang taat dan patuh terhadap apa yang diperintahkan Allah tentu akan melaksanakan dengan penuh taqwa, sedangkan orang yang ingkar akan mencari dan membuat arah kiblat sendiri sesuai dengan keinginanya.

Allah swt akan dapat menilai dan melihat hamba hambanya yang patuh dan taat, dapat p**a melihat hambanya yang melanggar serta meninggalkan perintahnya. Manusia yang senantiasa berbuat baik dan taat pastilah Allah akan membalasanya dengan pahala berupa Syurga, Sedangkan manusia yang lalai dan meninggalkan perintah Allah maka tempatnya adalah di Neraka yang apinya senantiasa menyala nyala.

Hari kiamat sebagi hari pembalasan akan menjadi suatu masa bahwa setiap perbuatan manusia akan diminta pertanggungjawabanya. Perbuatan baik sekecil appun pasti akan mendapat balasanya demikian juga perbuatan buruk atau jahat sekecil apapun juga akan mendapat balasan yang sangat adil dan setimpal. Tak ada satupun manusia di hari kiamat yang akan dapat meloloskan diri dari pengadilan Allah swt. Kehidupan di akhirat hakekatnya adalah kehidupan hakiki dan merupakan kehidupan yang sebenarnya,oleh karena itu kehidupan yang sebentar di dunia ini hendaklah benar benar digunakan dengan sebaik baiknya untuk di isi dengan amal perbuatan yang baik. Kebahagiaan manusia di akhirat sesungguhnya ditentukan oleh kebahagiaan di dunia ini dengan satu syarat senantiasa melakukan dan melaksanakan syariat Allah dengan sebaik baiknya.

Allah swt sudah memberikan gambaran dan peringatan agar manusia berhati hati dalam hidup ini sebagaimana banyak tertuang dalam firman Allah yang berisi agar manusia berbuat baik, karena setiap perbuatan akan kembali kepada manusia itu sendiri. Seperti disebutkan dalam Al quran surat, Al-baqarah ayat; 25,58,83,195, Al-Maidah : 13, Al-An`am : 84, Al-A`raf : 56, Yunus: 26, dan Surat Yunus : 7

Selain firman Allah tersbut masih banyak surat dalam Al quran yang memerintahkan untuk berbuat baik. Maka dengan niat penuh keikhlasan hendaklah kita awali dan perbaharui hidup ini dengan niat untuk senantiasa melakukan amal amal perbuatan yang baik.

Follow Us: Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Purwokerto
Follow IG: mampurwokerto01

Syukron..

20/01/2018

Ukthy Akhi, maaf kami promosikan fanspage di bawah ini https://www.facebook.com/PCIPMPWT/
yuks di like dan di ikuti ukthy akhi, disini akan update Quotes setiap hari senin dan kamis, kalo ukthy dan akhi mau mengirimkan sesuatu tinggal kirim pesan atau lewat dinding fanspage ini..
with Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Purwokerto

Syukron Ukthy Akhi..

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Purwokerto Selamat datang di Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Purwokerto. Disini kita saling berbagi ilmu serta menjalin silahturahmi.
ن ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

20/01/2018

Assalamuaikum Ukhty Akhi..
Kaifa halukum ? Alhamdulliah bin khoir.. Syukron
Sudahkah ukhty akhi bersyukur hari ini ? Atau masih kurang untuk bersyukur ? Yuks mulai bersyukur hari ini.. " maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? "

Chat on WhatsApp 11/01/2018

Assalamualaikum Ukthi Akhi 😊
Bismillah 📚Kami menjual buku-buku islami yang in sya allah bermanfaat dan berkah.. 📲WA 085842572092 📖Mau atau berminat ? Silahkan klik Syukron

Chat on WhatsApp WhatsApp Messenger: More than 1 billion people in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and family, anytime and anywhere. WhatsApp is free and offers simple, secure, reliable messaging and calling, available on phones all over the world.

02/01/2018

Assalamualaikum Ukthi Akhi 😊
Nah Kali ini ada buletin tentang " Berguguran di Jalan Hijrah "
Yuks dibaca dan di share kawan.. Semoga Bermanfaat

Sedih, pake banget. Tapi, mau gimana lagi. Semua itu pilihan. Namun tetap ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala kelak. Beberapa hari belakangan ini kita dihebohkan dengan kabar seorang seleb yang memutuskan melepas kerudung trendinya. Eh, kok kerudung? Bukannya itu jilbab? Hehehe… kids zaman now or parent jaman kiwari sudah salah kaprah dalam istilah. Jilbab berbeda–pake banget, dengan kerudung. Jilbab itu pakaian semacam gamis yang tebal-lebar-panjang hingga menutupi mata kaki. Kalo kerudung ya penutup kepala, tapi bukan sekadar menutupi rambut di kepala, lho, tapi wajib hingga menjuntai menutupi bagian punggung dan dada sampai perut. Dalam bahasa Arab disebut khimar.

Lho, kok malah membahas pengertian perbedaan jlbab dan kerudung? Bukankah yang jadi persoalan adalah seleb yang melepas hijabnya? Nah, ini lagi, hijab. Padahal, istilah hijab itu lebih luas lagi. Artinya penghalang. Istilah yang bisa digunakan untuk banyak keperluan. Misalnya, kalo anak laki dan perempuan yang udah pada baligh dalam satu tempat pengajian, itu harus dipisah dengan adanya hijab, misalnya pake kain atau pembatas dari triplek. Ulama juga ada yang menyebutkan bahwa umat Islam saat ini terhijab dengan agamanya sendiri. Artinya, banyak umat Islam terhalang (karena kebodohannya) dari ajaran Islam. Jadi, kebodohan itu menjadi hijab bagi kaum muslimin dari mengetahui ajaran agamanya.

selain dua pengertian hijab itu, ada juga konsekuensi ketika berhijab. Misalnya, ketika mengenakan hijab berarti kelakuan alias perbuatannya juga wajib disingkirkan dari semua hal yang mengotori atau menodai arti hijab itu sendiri. Mengenakan hijab berarti melakukan kebaikan dan tidak mencampurnya dengan keburukan. Hijabnya akan menghalangi dia dari perbuatan maksiat. It sebabnya, selama masih melakukan keburukan dan maksiat, meskipun mengenakan hijab, berarti belum sempurna berhijab. Gitu!

Wuih, banyak banget aturan ginian. Pantes aja banyak orang yang mau dan sedang berhijrah pada gugur di tengah jalan!

Hei, bukan begitu maksudnya. Justru mereka yang hijrah itu seharusnya dibimbing, dibantu, diarahkan untuk menghindari lingkungan yang bakal menggoda mereka untuk balik ke habitat asalnya. Bukan sekadar disanjung-puji tanpa diarahkan tauhidnya, tanpa disadarkan perhatiannya kepada syariat, tanpa diajak belajar untuk menjadi muslim yang kaafah. Sebaliknya, yang berhijrah juga kudu meniatkan diri untuk sadar total, bukan kadarkum alias kadang sadar kadang kumat. Kedua belah pihak harus serius dalam berhijrah (baik membimbing maupun menjalani hijrah). Mereka yang berhijrah memang kudu disambut dan didukung. Lalu diarahkan. Ya, kita yang udah tahu duluan wajib memberikan bimbingan dan arahan. Jangan membiarkan mereka berada dalam wilayah yang rawan membuat mereka balik lagi jadi jahiliyah.

Begitu p**a dari sisi yang hijrah, niat untuk hijrah harus kuat. Bukan sekadar tren atau perasaan semata. Sebab, semua akan dimintai pertanggunganjawab masing-masing. Harus kuat niatnya dan upayanya. Jangan manja, misalnya orang lain diminta memaklumi apa yang kita lakukan walau itu salah dengan alasan masih proses hijrah. Nggak begitu juga kelesss.. Harus siap dan rela meninggalkan lingkungan yang sebelumnya telah berhasil membuat dirinya jatuh ke dalam keburukan. Jangan ambil jalan tengah. Hijrah jalan, tapi lingkungan sebelumnya nggak mau ditinggal. Ini rawan. Iya d**g. Bahaya! Beneran. Gimana mau siap kalo kita sendiri nggak berusaha menyiapkan diri untuk serius berhijrah.

Ketika kita memilih hijrah kepada kebaikan Islam, maka totalitas kita membenci jalan keburukan yang dulu menjauhkan kita dari Islam. Seorang selebriti wanita yang memutuskan mengenakan busana muslimah, maka semestinya juga total meninggalkan dunia entertainment. Jika tidak, misalnya memilih jalan tengah dengan tetap mengenakan busana muslimah (yang modelnya mengikuti tren, bukan tuntunan syariat) dan masih ngendon di dunia hiburan, itulah awal bencananya. Setan selalu hadir untuk menggoda manusia kembali maksiat, sehingga banyak yang berguguran di jalan hijrah. Tidak sampai ke jalan kebaikan yang dituju, tapi di tengah jalan balik lagi ke habitat awal keburukannya. Waspadalah! Naudzubillah min dzalik.



Hijrah bukan sekadar status

Netizen dibuat heboh ketika seorang selebriti memutuskan melepas kerudungnya. Begitu pun ketika seorang selebriti yang kembali joget setelah lama meninggalkan dunia itu, netizen sontak gaduh. Pro dan kontra pun dengan cepat menyebar memenuhi ruang jagat maya media sosial. Komentar pedas dihunjamkan. Ada juga komentar yang agak bijak, tak sedikit juga nyinyir. Hadeuh… berita buruk kayak gini memang cepat nyebar. Saya sendiri mencoba membahas dari sisi lain. Lebih ke akar masalah. Tidak sepenuhnya menyalahkan pihak yang pro maupun kontra, atau juga kepada selebriti yang bersangkutan. Ini tentang apa yang kita semua ada dalam sistem kehidupan sekularistik saat ini. Tentang banyak di antara kita yang masih percaya (pake banget banget) dengan sebuah bungkus alias casing. Ini tentang kita semua yang hanya memuja-muji tapi tidak memberi bimbingan dan arahan. Ini tentang kita yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi. Ini tentang di antara kita yang belum total berhijrah dan meninggalkan keburukan. Ini juga tentang hijrah yang sayangnya masih sebatas status saja dengan tujuan semu duniawi. Bukan tentang keyakinan yang harus diperjuangkan dan membutuhkan pengorbanan.

Padahal, sebelum memutuskan berhijrah, niat itu paling penting. Beneran. Ini ada haditsnya, Bro en Sis. Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, itu sebabnya niat memang menjadi kunci penentu perbuatan kita dan konsekuensinya. Niatnya keliru, keliru juga akhirnya. Niatnya benar, benar juga akhirnya. So, pastikan segala sesuatu yang hendak dijalani wajib diniatkan sesuai dengan tuntunan Islam.

Maka, hijrah memang bukan sekadar tren, ikut-ikutan, dan berharap sesuatu dari pujian manusia atau hal duniawi lainnya. Nggak banget. Hijrah niatnya karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Nggak boleh dikotori dengan niat lainnya yang sifatnya semu dan sekadar pemuas syahwat dunia. Kalo terlintas dalam pikiran dan perasaan, segera istighfar dan memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan menjalani proses hijrah kepada kebaikan yang diajarkan Islam.



Mengapa berguguran?

Kasus selebriti yang baru-baru ini melepas busana muslimahnya bukanlah hal baru. Sebelumnya sudah banyak. Hidayah memang sepenuhnya dari Allah Ta’ala. Dialah yang berkehendak atas segala sesuatu, termasuk memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Tugas kita hanya menunjukkan jalan menuju hidayah kepada seseorang, bukan memberi hidayah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS al-Qashshash [28]: 56)

Nah, mengapa bisa mudah kembali kepada keburukan yang telah dijalaninya di masa lalu? Ini bukan hanya selebriti lho, orang-orang biasa juga banyak. Hanya saja, namanya juga selebriti, orang terkenal, maka apa pun yang dilakukannya pasti jadi sorotan dan jadi bahan berita. Kalo orang biasa kan, hebohnya cuma di lingkungan kecil mereka saja. Nggak bakal dibahas di infotainment atau disebar akun gosip di media sosial. Jadi, apa penyebab banyak orang berguguran di jalan hijrah ini?

Faktor pertama, belum mantap niatnya. Ini sudah disinggung sedikit di subjudul sebelumnya. Ya, niat memang menjadi ukuran seseorang memutuskan apa yang akan dilakukannya. Salah niat, salah juga memutuskan. Harus ikhlas karena Allah Ta’ala. Menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”

Faktor kedua, belum ajeg pemahaman tentang penciptaan manusia. Untuk apa sih kita hidup di dunia ini? Padahal, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Allah tidak menciptakan kita sia-sia, pasti ada suatu perintah dan larangan yang mesti kita jalankan dan mesti kita jauhi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS al-Mu’minun [23]: 115)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya?” (dalam Madarij as-Salikin, 1: 98)

Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS al-Qiyaamah [75]: 36)

Faktor ketiga, taubatnya belum optimal. Sehingga hijrahnya jadi belum ideal. Harus taubat beneran. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS at-Tahrim [66]: 8)

Ibnu Katsir menerangkan mengenai taubat yang tulus sebagaimana diutarakan oleh para ulama, “Taubat yang tulus yaitu dengan menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu, bertekad tidak mengulangi dosa itu lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya atau mengembalikannya.”

Faktor keempat, lingkungan yang belum baik. Bagi para selebriti yang hendak berhijrah, atau kita-kita yang orang biasa (karena belum terkenal se-Nusantara dan se-alam dunia), lingkungan yang buruk harus dijauhi dan ditinggalkan. Ini ada hubungannya dengan faktor ketiga di atas. Beneran. Sulit banget kalo kita mau baik, tetapi kita masih betah dan ngendon di lingkungan yang nggak baik, bahkan buruk. Padahal, pada saat udah taubat dan ingin hijrah beneran, maka segala hal yang bisa menggoda agar kita kembali maksiat wajib kita hindari dan jauhi. Kalo nggak, ya setan paling pinter menggoda manusia labil. Waspada!

Yuk, kita doakan semoga siapa saja yang ingin berhijrah kepada kebaikan Islam, semoga dikuatkan dan dimudahkan menjalaninya. Bagi yang berguguruan di jalan hijrah, semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah-Nya kembali dan kita juga berusaha menyadarkan mereka. Ya, diajak dan disadarkan.Bukan di-bully atau dinyiyirin. Jika sudah berusaha menyadarkan kembali, baik langsung maupun tidak langsung seperti pada tulisan ini, semoga kita tak termasuk saudara sesama muslim yang lalai, sebab sudah berbuat semaksimal kita bisa untuk menyadarkan mereka.

Bagaimana pun pada akhirnya, semua itu pilihan. Tetapi ingat, ada konsekuensi atas apa yang kita pilih. Semoga kita memilih yang terbaik bagi kehidupan kita di dunia dan di akhirat, yakni memilih Islam sebagai pedoman hidup kita. Semangat!

sumber : gaulislam

follow ig : mampurwokerto01

02/01/2018

Assalamualaikum Ukhti Akhi ..
Wah liburan udah selesai, bagaimana hari pertamanya? semoga lancar.. Amin
Nah kali ini ada Video tentang seseorang anak yang ingin menjadi tukang sampah, saat semua orang ingin meniru superhero terkenal. Mengapa Demikian? Yuks Di tonton dan di ambil hikmahnya..
Terima Kasih :D

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=a9Bx9uNUueA

24/12/2017

Assalamualaikum Ukhti Akhi 😊
Liburan kali ini pada kemana? kalo saya mah di rumah buka facebook dan update kajian ini kawan, ups maaf .. nah kalo kalian pada kemana? bingung yo? dari pada kalian bingung liburan pada kemana, mending baca kajian di sini semoga tambah wawasan.. mohon saran dari kalian semua ya..

nah kali ini kami update tentang " MULIAKAN TETANGGA, BAGIMU SURGA " Yuks Dibaca dan Di share

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah. Wa ba’du.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam tidak membiarkan satupun perkara yang dapat memperbaiki keadaan manusia kecuali akan memotivasi umat untuk mengerjakannya. Diantara perkara penting yang diajarkan Islam kepada umatnya adalah tentang memuliakan tetangga. Hak-hak tetangga benar-benar diperhatikan oleh Islam. Allah berfirman (yang artinya),

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu” (QS. An Nisa : 36)

Dalam ayat ini Allah menggandengakan perintah untuk berbuat baik kepada tetangga dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya, berbakti kepada orang tua, menyantuni anak yatim, serta menyambung tali silaturahim. Hal ini menunjukkan agungnya hak tetangga dalam Islam.

Perhatikan p**a adanya penegasan dalam ayat ini dengan mengulangi penyebutan kata “tetangga” sebanyak dua kali. Allah berfirman “tetangga yang dekat” lalu dilanjutkan “tetangga yang jauh“. Menurut Syaikh As Sa’di, “tetangga yang dekat” artinya adalah tetangga yang memiliki dua hak, yaitu hak sebagai tetangga dan hak sebagai kerabat. Sedangkan “tetangga yang jauh“ artinya adalah tetangga yang bukan kerabat.

Selain ayat di atas, ada p**a hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha yang juga menegaskan pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril senantiasa memberiku wasiat (untuk berbuat baik) kepada tetangga hingga aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat dan hadits di atas kiranya sudah cukup untuk menjelaskan betapa Islam memuliakan tetangga. Lebih-lebih jika kita menelaah hadits-hadits mengenai hak-hak dan keutamaan tetangga yang akan penulis nukilkan. Insya Allah hadits-hadits tersebut adalah hadits hasan atau shahih sebagaimana dijelaskan Syaikh Ali Hasan Al Halabi dalam Huququl Jar fi Shahihis Sunnah wal Atsar.

Yang dinamakan tetangga

Tetangga adalah semua orang yang berdampingan dengan kita. Tetangga mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun orang asing. Mereka semua adalah tetangga kita.

Hanya saja tetangga-tetangga kita memiliki hak dan keutamaan yang berbeda-beda, sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain. Yang paling berhak kita muliakan adalah manakala tetangga tersebut muslim dan kerabat. Bagi mereka ada tiga hak yang harus kita tunaikan yaitu hak Islam, hak kerabat, dan hak tetangga.

Tingkatan kedua adalah untuk tetangga muslim, bagi mereka ada dua hak: hak sebagai seorang muslim dan hak sebagai tetangga. Kemudian tingkatan terakhir adalah tetangga yang hanya memiliki hak sebagai tetangga saja karena bukan kerabat dan juga bukan orang Islam. Demikian pembagian tetangga secara garis besar.

Terkadang kita memiliki tetangga muslim yang taat dan ada p**a yang ahli maksiat. Ada tetangga kafir yang toleran, ada p**a yang memusuhi Islam. Jika demikian, maka masing-masing diberi hak menurut keadaannya dengan mempertimbangkan sisi baik dan buruknya. Hanya saja selama mereka masih berstatus sebagai tetangga, kita wajib menunaikan hak-hak tetangga kepada mereka.

Hak dan keutamaan tetangga dalam sunnah yang shahih

Haramnya menyakiti tetangga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkabulnya laknat orang yang menyakiti tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, “Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perihal tetangganya kepada beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tiga kali, “Bersabarlah”. Kemudian Nabi bersabda kepada orang tersebut pada kali yang ketiga -atau keempat-, “Keluarkanlah barang-barangmu ke jalan”. Maka orang itupun mengerjakannya.

(Abu Hurairah) berkata, “Lalu mulailah orang-orang melewati orang tersebut dan bertanya kepadanya : Apa yang menimpamu ? Maka dia menjawab bahwa tetangganya telah menyakitinya. Lalu merekapun berkata, “Semoga Allah melaknatnya”. Kemudian tetangganya datang sembari berkata, “Tolong masukkan lagi barang-barangmu. Demi Allah, saya tidak akan menyakitimu selama-lamanya”. (HR. Abu Dawud)

Perhatian kepada tetanggga
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku, “Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka daripadanya dengan baik”.(HR. Muslim)

Bersikap toleran kepada tetangga
Rasulullah bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian melarang tetangganya untuk menancapkan kayu di temboknya” (HR. Bukhari No. 2463 dan Muslim No. 1609).

Tidak menyakiti tetangga adalah bagian dari iman
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetangga terbaik
Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik diantara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya”. (HR. Tirmidzi)

Tidak ada kata sedikit dalam menyakiti tetangga
Rasulullah bersabda, “Tidak ada istilah sedikit dalam hal menyakiti tetangga”. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 8/547)

Tetangga yang baik adalah termasuk kebahagiaan
Rasulullah bersabda, “Ada empat perkara yang termasuk kebahagian : Istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang termasuk kesengsaraan : Tetangga yang jelek, istri yang jelek, tempat tinggal yang sempit dan kendaraan yang jelek”. (HR. Ibnu Hibban)

Berlipat gandanya dosa memusuhi tetangga
Dari Abu Dzaibah Al Kala’iyyi berkata, “Aku mendengar Al Miqdad bin Al Aswad bercerita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka tentang zina. Maka mereka menjawab, “Haram, telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Beliau bersabda, “Sungguh jika seseorang berzina dengan sepuluh orang perempuan, itu lebih baik daripada berzina dengan istri tetangganya”.

Al Miqdad berkata, “Dan Nabi bertanya kepada mereka tentang mencuri?”. Maka mereka menjawab, “Haram, telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Beliaupun bersabda, “Sungguh seseorang mencuri dari sepuluh rumah, itu lebih ringan dosanya daripada mencuri dari satu rumah tetangganya” (HR. Ahmad dan Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Seseorang tidak diperbolehkan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan
Rasulullah bersabda, “Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangganya di sampingnya kelaparan” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Tiada iman bagi orang yang tidak mencintai tetangganya
Nabi bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba itu beriman, sehingga dia mencintai tetangganya -atau berkata : saudaranya- sebagaimana dia mencintai dirinya” (HR. Muslim).

Wasiat kepada wanita agar tidak meremehkan hadiah yang diberikan kepada tetangga
Nabi bersabda, “Wahai para wanita Islam, janganlah sekali-kali seorang tetangga perempuan meremehkan hadiah yang diberikan kepada tetangganya walaupun hanya kuku kambing” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyakiti tetangga menjadi sebab masuk neraka
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya ada wanita yang banyak melakukan shalat, shadaqah, dan puasa. Hanya saja dia menyakiti tetangga dengan lisannya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia di neraka”. Orang tersebut berkata lagi, ‘Sesungguhnya ia diceritakan sedikit melakukan puasa dan shalat. Tetapi dia bershadaqah dengan beberapa potong keju dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Dia di dalam surga”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Kesaksian tetangga
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang bertanya kepada Nabi, ‘Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat jelek?’. Beliau menjawab, “Jika kamu mendengar tetangggamu berkata, ‘Engkau telah berbuat baik’, maka berarti kamu telah berbuat baik. Dan jika kamu mendengar mereka berkata, ’Engkau telah berbuat jelek’, maka berarti engkau telah berbuat jelek” (HR. Ahmad)

Demikian uraian singkat mengenai keutamaan tetangga dalam Islam ini. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Dan semoga kita dapat meneladani akhlak-akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang begitu agung dan mulia baik dalam muamalah dengan tetangga kita maupun dalam urusan lainnya. Sungguh pada diri Nabi kita telah ada teladan yang baik. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.

Penulis : Ahmad Daris (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

Follow IG : mampurwokerto01 🌹

Want your school to be the top-listed School/college in Purwokerto?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jalan Overste Isdiman III
Purwokerto
53147