Proyek Pesantren Classic Modern " El-Jannatul Islam Jawa Barat

Proyek Pesantren Classic Modern " El-Jannatul Islam  Jawa Barat Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Proyek Pesantren Classic Modern " El-Jannatul Islam Jawa Barat, Religious school, Purwakarta.

Pesantren ini masih dalam proyek, ada sepetak tanah yang sudah kami siapkan, niat kami akan membangun pusat pendidikan agama yang berkarakter klasik namun mengapresiasi kehidupan modern, untuk membangun generasi muslim kaafah .mohon doa dan support.

20/01/2025

Sesenang senang nya kita dunia pasti kita melewati fase ketuaan, kelemahan, penderitaan dan kematian, maka kita mengalami ini ikhlas untuk pencipta kita, supaya kita tak malu nanti saat disana..

18/01/2025
12/11/2024
Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Rizki Rukmana Yusup, Nuraeni M, Kartobi Obi, Nisa Ul F...
12/10/2024

Terima kasih kepada pengikut terbaru saya! Senang Anda bergabung! Rizki Rukmana Yusup, Nuraeni M, Kartobi Obi, Nisa Ul Fadilah

15/09/2024

Dawuh KH Abdul Wahab Ahmad :
APAKAH MEYAKINI TUHAN HARUS DIBUKTIKAN SECARA EMPIRIS?

Ilmu empiris adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, pengamatan, dan eksperimen yang dilakukan secara nyata berulang kali. Hasilnya adalah kesimp**an yang dapat diukur dan diuji benar salahnya.

Misalnya kita baca di bungkus mie instan bahwa mie itu harus dimasak dalam air mendidih selama 3-5 menit. Pengetahuan tentang durasi memasak mie instan ini didapat dari pengamatan dan eksperimen berulang kali yang bertujuan melihat berapa lama mie tersebut bisa matang ideal dalam air mendidih. Hasil penelitian tersebut dapat dilihat dan diukur sendiri kenyataannya di dapur anda semua. Inilah yang dimaksud dengan pengujian empiris. Ini juga yang oleh orang barat disebut sebagai metode ilmiah. Dengan cara ini, semuanya terukur, teramati, bisa diuji coba di waktu berbeda dan hasilnya akan sama selama tidak ada faktor lain yang membuatnya menghasilkan kesimp**an lain.

Lalu apakah kesimp**an rasional harus diuji secara empiris melalui apa yang disebut sebagai "metode ilmiah" di atas? Dalam ilmu kalam, pertanyaan ini sudah sangat basi sebab sudah dijawab lebih dari satu milenium lalu seiring lahirnya ilmu kalam itu sendiri. Jawabannya adalah tidak perlu dan tidak pada tempatnya memakai cara tersebut.

Metode ilmiah dalam pengertian di atas, saya ulangi bahwa ini hanya dalam pengertian di atas yang serba bergantung pada pengamatan inderawi dan repetisi, hanyalah berlaku dalam ranah hukum 'adiy atau putusan yang berlandaskan pada pengamatan pada fenomena hukum alam. Dalam semua hukum 'adiy, memang kesimp**annya harus melalui eksperimen dan repetisi (pengujian berulang) agar bisa diputuskan sebagai putusan yang valid secara ilmiah.

Namun, dalam hal yang sifatnya hukum aqli atau putusan rasio murni, anda sama sekali tidak membutuhkan eksperimen, pengamatan atau pun repetisi. Kesimp**annya langsung didapat dengan memenuhi satu syarat saja, yaitu berpikir sehat. Selama anda mampu berpikir sehat, maka putusan hukum aqli pasti anda pahami.

Contoh hukum aqli adalah semisal 2:2=1, angka yang tidak genap pastilah ganjil, setiap objek fisik pasti punya ukuran dan volume, dua benda besar yang berbeda mustahil menempati ruang yang sama persis, keberadaan jebakan hewan di hutan menunjukkan pasti ada pemburu yang memasangnya dan keberadaan desain menunjukkan pasti ada desainernya.

Anda tidak perlu melakukan eksperimen "ilmiah" untuk sampai pada semua kesimp**an rasional itu. Justru menunjukkan bahwa anda bodoh, dungu dan tidak ilmiah kalau pengetahuan aqli (rasional) tersebut menurut anda masih harus diuji dan diamati berulang kali. Hal yang ilmiah dalam kasus putusan rasional adalah ketika dipahami dengan penalaran sehat, bukan dengan diuji seperti halnya hukum 'adiy. Jadi, putusan rasional (hukum aqli) sebenarnya juga pengetahuan ilmiah, tapi ilmiah dalam ranah yang berbeda dari putusan eksperimental (hukum 'adiy) sehingga cara mengukur keilmiahannya juga berbeda.

Dengan demikian, kata ilmiah lebih umum dari sekedar kata empiris. Ada teori dan konsep yang disebut ilmiah meskipun belum berupa fakta empiris tapi masih berupa hipotesis rasional sehingga masih disebut sebagai teori. Namun, demikian tetap disebut ilmiah.

Baru dikatakan tidak ilmiah ketika misalnya ada yang menyimpulkan bahwa secara rasional angka yang tidak ganjil belum tentu genap, keberadaan jebakan di hutan belum tentu menunjukkan ada pemburu yang memasangnya, keteraturan dalam hukum fisika menunjukkan tidak ada pihak yang merancangnya dan seterusnya. Ini semua adalah putusan yang cacat nalar. Tentu saja pembuktian cacatnya tidak memakai uji laboratorium atau eksperimen tapi dengan uji argumen yang logis.

Ilmu teologi islam (ilmu kalam) yang mengkaji tentang pembuktian adanya Tuhan termasuk dalam ranah rasio murni. Kadar ilmiahnya bukan diukur melalui eksperimen inderawi tapi melalui nalar yang sehat. Alam semesta adalah desain sehingga pasti ada Desainernya, yakni Tuhan. Ini adalah putusan nalar sehat yang syaratnya hanya satu, yakni punya nalar sehat. Kalau tidak percaya pada kesimp**an rasional ini berarti nalarnya sakit.

Tapi apakah berarti teologi islam sepenuhnya tidak terikat pada bukti-bukti empiris? Jawabannya adalah tidak demikian. Justru sebelum muncul putusan rasional (hukum aqli) di atas, awal mulanya adalah pengamatan empiris yang tentu saja indrawi. Kita lihat bahwa alam semesta terdiri dari banyak unsur dengan ciri dan bentuk tertentu yang saling melengkapi satu sama lain, dari situ secara rasional kita tahu bahwa alam semesta adalah sebuah desain. Kemudian putusan rasional terakhirnya adalah bahwa setiap desain pasti ada desainernya. Dengan demikian maka Tuhan pasti ada. Dalam istilah teknis ilmu kalam, setiap takhshis pasti ada mukhasshisnya.

Sebab itulah bertaburan ayat al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk melakukan observasi atau pengamatan terhadap semesta dengan teliti dan menggunakan akal sehat. Lihat saja gunung-gunung itu, daratan, pepohonan benda langit, hewan-hewan bahkan manusia sendiri, semuanya merupakan tanda-tanda yang membuktikan bahwa Tuhan itu pasti ada dan bahwa Tuhan Maha Kuasa atas segalanya. Itulah makna yang ditegaskan dalam berbagai tempat dalam al-Qur’an. Di sisi ini semuanya serba empiris. Tapi berhenti di sisi empiris saja bukanlah ciri manusia berakal sehingga harus diteruskan pada sisi rasio murni agar pengetahuannya utuh.

Semoga bermanfaat.

31/08/2024
Dengan Dedi Hariyono – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemarnya yang sedang naik daun! 🎉
20/08/2024

Dengan Dedi Hariyono – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemarnya yang sedang naik daun! 🎉

20/08/2024

Dawuh KH. abdul Wahab Ahmad

Memahami Perbuatan Allah

Bila anda berbuat sesuatu, selalu terjadi perubahan dalam diri anda. Misal anda bekerja, maka ada perubahan dalam dzat anda (diri anda) dari semula diam menjadi bergerak. Demikian p**a ketika anda berlari di lapangan misalnya, maka ada perubahan dalam dzat anda yang semula ada di rumah lalu pergi berpindah ke lapangan dan dari awalnya tidak berlari kemudian berlari. Seluruh perubahan tersebut terjadi dalam dzat anda yang dalam hal ini adalah tubuh anda. Demikian juga ketika anda memberikan sesuatu, diri anda mengalami perubahan dari diam menjadi bergerak mengambil sesuatu lalu bergerak lagi memberikannya pada orang lain.

Sedangkan bila kasusnya adalah Allah, maka jauh berbeda sebab Allah bukan seperti anda. Ketika Allah memberi rizki pada fulan, maka tidak terjadi perubahan sama sekali pada Dzat Allah yang kekal abadi dan bukan jsim itu. Perubahannya terjadi pada fulan yang awalnya miskin berubah menjadi kaya. Demikian juga bila Allah menciptakan, mematikan, menghidupkan, memberi nikmat dan seterusnya, sama sekali tidak ada perubahan pada diri Allah tetapi hanya terjadi perubahan dalam diri makhluk yang menjadi objek perbuatan Allah tersebut.

Itulah yang dimaksud para ulama Ahlussunnah wal jamaah (Asy'ariyah) ketika mengatakan bahwa perbuatan Allah tidak qa'im bi dzatillah alias tidak terjadi pada diri Allah. Dengan kata lain, Allah dalam melakukan segala sesuatu tidak perlu berusaha, bergerak, berpindah tempat dan seterusnya sebah hanya makhluk yang tindakannya memerlukan ini semua.

Yang tidak setuju pada pendapat Ahlussunnah wal Jamaah ini hanya ahli bid'ah yang membayangkan Allah bertubuh, bergerak, berusaha, menempati tempat. berpindah tempat dan seterusnya. Mereka ini dikenal sebagai aliran mujassimah. Mereka mengkhayalkan apa yang terjadi pada makhluk juga terjadi pada Allah.

Ketika misalnya ada keterangan bahwa Allah menciptakan Adam dari tanah liat, maka dalam khayalan mujassimah Allah berubah kondisi dari diam kemudian mengambil tanah, mengadoni tanah tersebut dan membentuk tanah tersebut dengan organ tangan Allah menjadi sosok bertentuk manusia lalu meniupkan ruh padanya. Adapun dalam keyakinan Ahlussunnah tidak demikian sebab seperti disebutkan di dalam al-Qur'an, Allah hanya perlu memberi instruksi kun fayakun, terjadilah maka proses itu pun terjadi. Diri Allah sama sekali tidak mengalami perubahan tapi tanah liat itu yang mengalami perubahan menjadi sosok Adam.

Lalu bagaimana dengan perbuatan Allah seperti istawa misalnya? Sebenarnya Ahlussunah wal Jamaah membagi maknanya menjadi dua, yakni makna uluw dan makna perbuatan Allah atas Arasy (lihat misalnya di Fathul Bari karya Ibnu Hajar, al-Taudhih karya Ibnu al-Mulaqqin atau syarah Bukhari karya Ibnu Batthal).

- Bila dimaknai sebagai sifat uluw atau kemahatinggian Allah, maka istawa bukanlah jenis perbuatan Allah sebab Allah selalu maha tinggi tanpa ada kaitannya dengan waktu. Sejak sebelum arasy tercipta, Allah memang sudah maha tinggi.

- Namun bila dimaknai sebagai perbuatan Allah atas arasy (lihat misalnya di al-asma' was shifat), maka maksudnya adalah terjadi perubahan pada makhluk bernama arasy itu yang kita tidak tahu apa dan bagaimana detailnya tapi yang jelas Allah menyebutnya sebagai tindakan istawa. Inilah yang dimaksud oleh Imam Asy'ari ketika berkata:

أن الله تعالى فعل في العرش فعلا سماه استواء كما فعل في غيره فعلا سماه رزقا ونعمة أو غيرهما من أفعاله

"Sesungguhnya Allah melakukan suatu tindakan yang terjadi atas Arasy yang disebut sebagai istawa, seperti halnya Allah melakukan sesuatu yang terjadi pada makhluk lain yang disebut sebagai rizki, nikmat, dan lainnya".

Sekali lagi, maksudnya adalah perubahan itu terjadi pada makhluk saja bukan pada diri Allah yang mustahil mengalami perubahan sebab karakter Allah berbeda secara mutlak dengan karakter makhluk.

Sebenarnya ini sederhana, tetapi ahli bid'ah mujassimah pasti sulit menerima sebab dalam alam pikiran mereka, perubahan yang terjadi dalam proses perbuatan makhluk juga pasti terjadi pada diri Allah. Akhirnya mereka mengkritik Ahlussunnah wal Jamaah (Asy'ariyah) dengan membuat contoh perbuatan istawa Allah sama seperti kasus Zaid yang lari di lapangan di mana perbuatannya terjadi di lapangan, perubahan dan geraknya juga terjadi di lapangan, dan tentu saja tubuh Si Zaid juga ada di lapangan. Dikiranya Allah seperti si Zaid itu barangkali sehingga dia merasa ajaran Ahlussunnah wal Jamaah tidak masuk akal. Lihat SS dari akun tidak jelas ini sebagai buktinya:

Semoga bermanfaat.

Address

Purwakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Proyek Pesantren Classic Modern " El-Jannatul Islam Jawa Barat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Proyek Pesantren Classic Modern " El-Jannatul Islam Jawa Barat:

Shortcuts

Share