Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

Share

MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD, SMP, DAN SMA

28/03/2024

CONTOH ANALISIS UNSUR FISIK PUISI DAN STRUKTUR BATIN PUISI

26/03/2024

Pengertian dan Penjelasan Drama

Drama

Teks drama adalah suatu teks cerita yang dipentaskan di atas panggung atau biasa disebut teater ataupun tidak dipentaskan di atas panggung seperti drama radio, televisi, dan film. Drama secara luas dapat diartikan sebagai salah satu bentuk sastra yang isinya tentang suatu kehidupan yang disajikan atau dipertunjukkan dalam bentuk gerak. Drama berasal dari bahasa Yunani yaitu “Draomai” yang memiliki arti berbuat, berlaku, dan bertindak. Drama merupakan perjalanan, kisah, atau alur hidup yang diceritakan kembali dan dapat diperagakan oleh orang lain. Sebelum memperagakan sebuah drama, biasanya terlebih dahulu membuat naskah drama. Naskah drama dapat berbentuk teks berisi komposisi drama yang ditulis di atas naskah berupa kertas.
Teks drama mengandung beberapa unsur di dalamnya. Apa saja unsur-unsur tersebut? Berikut uraian singkatnya.

1. Alur, yaitu berupa rangkaian cerita yang terjadi pada drama.
2. Amanat, yaitu pesan yang terkandung dalam drama.
3. Tokoh, yaitu pelaku yang memerankan seorang karakter dalam cerita. Penokohan adalah penggambaran watak setiap tokoh. Ada 3 macam tokoh, protagonis yaitu tokoh yang menampilkan kebaikan, antagonis yaitu tokoh jahat atau tokoh penentang kebaikan, dan tritagonis yaitu tokoh pendukung protagonis.
4. Tema, yaitu ide pokok cerita atau gagasan.
5. Aneka sarana kesastraan dan kedramaan yang mendukung penampilan pelaku dalam suatu drama, contohnya tata panggung dan tata rias

Hampir serupa dengan jenis-jenis teks lainnya yang berbentuk cerita, drama juga terdiri dari unsur-unsur pembentuk ibarat : alur,penokohan, latar, dan unsurunsur lainnya. Berikut penjelasannya!
a. Alur
Alur yakni rangkaian insiden dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama meliputi bagian-bagian
1) pengenalan cerita;
2) konflik awal;
3) perkembangan konflik; dan
4) penyelesaian.

b. Penokohan
Penokohan merupakan cara pengarang di dalam menggambarkan abjad tokoh. Dalam pementasan drama, drama mempunyai posisi yang penting. Tokohlah yang mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. Tokoh yang didukung oleh latar Peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan kisah dan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Berdasarkan perannya, tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh pembantu
1) Tokoh utama
yakni tokoh yang menjadi sentral kisah dalam pementasan drama.

2) Tokoh pembantu
yakni tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan kisah dan mempunyai kaitan dengan tokoh utama. Tokoh utama setidaknya ditandai oleh empat hal, yaitu
(1) paling sering muncul dalam setiap adegan;
(2) menjadi sentral atau pusat perhatian tokoh-tokoh yang lain:
(3) kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh lain selalu sanggup dihubungkan dengan tugas tokoh utama; dan
(4) dialog-dialog yang dilibatkan tokoh-tokoh lain selalu berkaitan dengan tugas tokoh utama.

Dari segi perwatakannya, tokoh dan kiprahnya dalam pementasan drama terdiri empat macam, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis, dan tokoh serba bisa.
1) Tokoh berkembang yakni tokoh yang mengalami perkembangan nasib atau sopan santun selama pertunjukan. Misalnya, tokoh yang awalnya seorang yang baik, pada balasannya menjadi seorang yang jahat.
2) Tokoh pembantu yakni tokoh yang diperbantukan untuk menyertai, melayani, atau mendukung kehadiran tokoh utama. Tokoh pembantu memerankan suatu kepingan penting dalam drama, tetapi fungsinya tetap sebagai tokoh pembantu.
3) Tokoh statis yakni tokoh yang tidak mengalami perubahan abjad dari awal hingga simp**an dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di simp**an drama.
4) Tokoh serba bisa yakni tokoh yang sanggup berperan sebagai tokoh lain. Misalnya, tokoh yang berperan sebagai seorang raja, tetapi ia juga berperan sebagai seorang pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.
c. Dialog
Dalam sebuah obrolan itu sendiri, ada tiga elemen yang dihentikan dilupakan. Ketiga elemen tersebut yakni tokoh, wawancang, dan kramagung.
1) Tokoh yakni pelaku yang mempunyai tugas yang lebih dibandingkan pelakupelaku lain, sifatnya sanggup protagonis atau antagonis.
2) Wawancang yakni obrolan atau Percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh cerita.
3) Kramagurg yakni petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam tanda kurung (biasanya dicetak miring).

d. Latar Latar
yakni keterangan mengenai ruang dan waktu. Penjelasan latar dalam drama dinyatakan dalam petunjuk Pementasan. Bagian itu disebut dengan kramagung. Latar juga sanggup dinyatakan melalui percakapan para tokohnya. Dalam Pementasannya, latar sanggup dinyatakan dalam tata panggung ataupun tata cahaya.
e. Bahasa
Bahasa merupakan media komunikasi antartokoh. Bahasa juga sanggup menggambarkan sopan santun tokoh, latar, ataupun insiden yang sedang terjadi. Apabila disajikan dalam bentuk pementasan, drama mempunyai unsur lainnya, yakni sarana pementasan, ibarat Panggung, kostum, Pencahayaan, dan tata suara.

https://ajidwipratikno.blogspot.com/2024/03/pengertian-dan-penjelasan-drama.html

26/03/2024

Perubahan paradigma yang dituju antara lain menguatkan kemerdekaan guru sebagai pemegang kendali dalam proses pembelajaran, melepaskan kontrol standar-standar yang terlalu mengikat dan menuntut proses pembelajaran yang homogen di seluruh satuan pendidikan di Indonesia, dan menguatkan student agency, yaitu hak dan kemampuan peserta didik untuk menentukan proses pembelajarannya melalui penetapan tujuan belajarnya, merefleksikan kemampuannya, serta mengambil langkah secara proaktif dan bertanggung jawab untuk kesuksesan dirinya.

25/03/2024

Unsur Pembentuk Puisi
Pada umumnya unsur-unsur puisi dapat dibagi berdasarkan strukturnya menjadi dua jenis yakni struktur fisik dan struktur batin.

a. Struktur Fisik Puisi

Tipografi: Tipografi merupakan bentuk puisi yang dipenuhi dengan kata, tepi kiri kanan, dan tidak memiliki pengaturan baris hingga pada baris puisi yang tidak selalu diawali huruf besar (kapital) dan diakhiri dengan tanda titik. Namun hal semacam ini dapat menentukan pemaknaan dari suatu puisi.

Diksi: Diksi adalah pemilihan kata yang digunakan oleh sang penyair dalam puisinya. Karena puisi bersifat memiliki bahasa yang padat maka pemilihan kata yang sesuai dan mengandung makna harus dilakukan. Pemilihan kata dilakukan dengan mempertimbangkan irama, nada, dan estetika (keindahan bahasa).

Imaji: Imaji atau yang lebih kerap disebut dengan imajinasi merupakan unsur yang melibatkan penggunaan indra manusia, seperti imaji penglihatan, imaji suara dan lain sebagainya. Penggunaan imaji bertujuan agar pembaca maupun pendengar dapat berimajinasi atau merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.

Kata Konkret: kata konkret adalah kata yang memungkinkan terjadinya imaji, Kata konkret seperti permata senja dapat berarti pantai atau tempat yang sesuai untuk melihat datangnya senja.

Gaya Bahasa: Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bersifat seolah olah menghidupkan dan menimbulkan makna konotasi dengan menggunakan bahasa figuratif. Umumnya gaya bahasa yang digunakan pada puisi berbentuk majas seperti majas metafora, simile, anafora, paradoks dan lain sebagainya.

Rima atau irama merupakan persamaan bunyi yang digunakan oleh penyair dalam puisinya dari awal hingga akhir puisi. Rima atau irama terdiri dari: Pengulangan kata. Atau ungkapan yang menentukan tinggi dan rendah, panjang dan pendek, keras dan lemahnya bunyi yang sangat berpengaruh dan menonjol dalam pembacaan puisi.

b. Struktur Batin Puisi
Tema: Tema merupakan unsur utama pada puisi karena tema berkaitan erat dengan makna yang dihasilkan dari suatu puisi. Tanpa tema yang jelas tentunya akan menghasilkan puisi yang tidak jelas maknanya.

Nada: Nada berkaitan dengan sikap penyair terhadap pembacanya. Umumnya nada yang digunakan akan bervariasi seperti nada sombong, nada tinggi, nada rendah dan lain sebagainya.

Amanat: Amanat merupakan pesan yang terkandung didalam sebuah puisi. Amanat dapat ditemukan dengan memaknai puisi tersebut secara langsung.

Contoh membelajarkan cara telaah struktur retorik teks puisi

DO'A
Karya: Chairil Anwar

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943

1. Analisis Unsur Fisik

Tipografi
Bentuk wajah yang ditampilkan pada puisi tersebut cukup menarik. Penulisannya rata kiri. Bagian kanan tulisan terlihat tidak teratur. Terkesan singkat dan indah karena tiap baris puisi hanya disusun oleh beberapa kata saja. Bahkan ada yang satu baris hanya terdiri satu kata. Jadi, baris-baris dalam puisi itu tidak panjang-panjang, melainkan pendek. Selain itu, setiap baris tidak diawali dengan huruf kapital. Beberapa baris diawali huruf kapital dan lainnya diawwali huruf kecil.

Diksi
Diksi yang digunakan penyair adalah kata-kata yang bernada ragu, lemah, bimbang, dan rapuh. Sebagai contoh pengarang menggunakan kata-kata “Dalam termenung”, “Biar susah sungguh”, “Aku hilang bentuk”, “Remuk”.

Imaji
Imaji yang muncul dalam puisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut. Imaji penglihatan terdapat pada kata-kata “tinggal kerdip lilin di kelam sunyi”. Penyair mengajak pembaca melihat seberkas cahaya kecil walau hanya sebuah perumpamaan.

Imaji pendengaran terdapat pada “aku masih menyebut namaMu”. Pembaca diajak seolahplah mendengar ucapan tokoh aku dalam menyebut nama Tuhan.

Kata Konkrit
Kata-kata konkrit yang dipakai pengarang diantaranya sebagai berikut. Kata “termangu”, untuk mengkonkritkan bahwa penyair mengalami krisis iman yang membuanya sering ragu terhadap Tuhan.

Kata-kata “tinggal kerdip lilin dikelam sunyi”, untuk mengkonkritkan bahwa penyair mengalami krisis iman.

Kata-kata “aku hilang bentuk/remuk”, untuk mengkonkritkan gambaran bahwa penyair telah dilumuri dosa-dosa

Kata-kata “dipintumu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling” , untuk mengkonkritkan bahwa tekad penyair yang bulat untuk kembali ke jalan Tuhan”

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang muncul didominasi oleh majas hiperbola, yaitu melebih-lebihkan. Sebagai contoh kata-kata “Biar susah sungguh / mengingat kau penuh seluruh” atau katakata “Tuhanku / aku hlang bentuk / remuk

Verifikasi
Untuk rima akhirnya mempunyai pola yang tidak beraturan. Sebagai contoh, bait ke-1 hanya terdiri satu baris yang berarti mempunyai rima akhir a. untuk bait ke-2 terdiri dari tiga baris dengan rima akhir a-a-a. Begitu p**a untuk bait ke-3 dan ke-4 mempunyai rima akhir a-a, a-a. Untuk bait-bait salanjutnya tidak menentu rima akhirnya.

2. Analisis Struktur Batin
(2) Analisis Struktur Batin

Tema
Tema puisi tersebut adalah ketuhanan. Hal itu karena diksi yang digunakan sangat kental dengan kata-kata yang bermakna ketuhanan.

Perasaan
Perasaan dalam puisi tersebut adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain: termenung, menyebut nama-Mu, aku hilang bentuk, remuk, aku tak bisa berpaling.

Nada
Nada dalam puisi tersebut adalah mengajak (ajakan) agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.

Amanat
Amanat yang dapat kita ambil dari puisi tersebut diantaranya adalah agar kita (pembaca) bisa menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar kita bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair

https://ajidwipratikno.blogspot.com/2024/03/unsur-pembentuk-puisi-unsur-fisik-dan.html

19/03/2024

Kata konotatif

Kata konotatif merupakan kata-kata yang berasosiasi. Asosiasi merupakan keterkaitan makna kata dengan hal lain di luar bahasa. Dalam hal ini, makna konotatif timbul sebagai akibat asosiasi perasaan pembaca terhadap kata yang dibaca, diucapkan, atau didengar. Pada kata konotatif, makna telah mengalami penambahan atau pergeseran dari makna asalnya. Berikut contoh kata konotatif dalam puisi “Candra” karya Sanusi Pane.



CANDRA

Karya Sanusi Pane



Badan yang kuning-muda sebagai kencana,

Berdiri lurus di atas reta bercahaya,

Dewa Candra keluar dari istananya

Termenung menuju Barat jauh di sana

Panji berkibar di tangan kanan,tangan kiri

Memimpin kuda yang bernapaskan nyala;

Begitu dewa melalui cakrawala,



Menabur-naburkan perak ke bawah sini.

Bisikan malam bertiup seluruh bumi,

Sebagai lagu-merawan buluh perindu,

Gemetar-beralun rasa meninggikan sunyi.



Bumi bermimpi dan ia mengeluh di dalam

Mimpinya, karena ingin bertambah rindu

Karena rindu dipeluk sang Ratu Malam.



Dalam puisi di atas, terdapat /larik kuda bernapaskan nyala/. Kata nyala umumnya mengikuti kata api atau sebagai penjelas kata api. Kata nyala juga dapat diartikan sebagai hidup, bertenaga, ataupun berkobar. Dalam hal ini, baris/napas kuda yang menyala/sebenarnya bermakna sosok kuda yang memiliki semangat berkobar atau kuda yang kuat bertenaga.

Larik berikutnya yang mengandung konotasi adalah /Waktu berhenti di tempat ini/Tidak berombak, diam semata/. Dalam puisi tersebut, waktu dikatakan tidak berombak atau dalam keadaan tenang. Kata-kata tersebut tidak menunjukkan makna sebenarnya, tetapi bermakna tidak ada gangguan, damai, dan tenteram.

Demikian penjelasan gaya bahasa (majas), pengimajian, kata konkret, dan kata konotatif sebagai pendukung makna yang disampaikan penyair melalui puisinya. Untuk lebih memahaminya, kalian dapat berlatih menelaah gaya bahasa (majas), pengimajian, kata konkret, dan kata konotatif yang terdapat dalam sebuah puisi. Berikut ini terdapat puisi “Ibu” karya D. Zawawi Imron. Kalian dapat meminta salah satu teman sekelas untuk membacakan puisinya. Dengarkan dengan saksama larik-larik puisi tersebut. Catatlah larik-larik yang menurut kalian mengandung majas, pengimajian, kata konkret, dan kata konotatif.

https://ajidwipratikno.blogspot.com/2024/03/kata-konotatif.html

19/03/2024

Kata Konkret
Secara umum, kata konkret adalah kata yang rujukannya lebih mudah ditangkap oleh indra. Konkret dapat berarti nyata, berwujud, atau benar-benar ada. Berikut contoh analisis kata konkret dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono.



Hujan di Bulan Juni

Karya Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu



….

Terdapat beberapa kata konkret pada puisi di atas, di antaranya hujan, jalan, dan pohon bunga. Kata hujan dapat mengonkretkan maksud penulis untuk manusia yang selalu jatuh atau menangis. Hal ini dibuktikan dengan larik selanjutnya yang menyebutkan bahwa hujan sangat tabah karena menyembunyikan rasa rindunya pada pohon yang berbunga. Kata jalan juga dapat tergolong sebagai kata konkret karena dapat diartikan sebagai kehidupan atau kisah hidup. Hal ini tampak pada larik selanjutnya pada larik dihapuskan jejak-jejak kakinya/yang ragu-ragu di jalan itu. Ungkapan ini dapat bermakna seseorang yang melupakan kisah masa lalunya.



Adapun kata pohon bunga dapat mengonkretkan wujud atau sosok seseorang atau sesuatu yang dirindu atau diinginkan. Kata bunga juga dapat dimaknai sebagai seseorang yang cantik atau perempuan yang diharapkan.

Pengimajian/citraan 19/03/2024

Pengimajian/citraan
Pengimajian atau citraan merupakan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan efek khayalan atau imajinasi pada diri pembacanya. Pembaca seolah-olah ikut merasakan, mendengar, melihat, meraba, dan mengecap sesuatu yang diungkapkan dalam puisi. Ada beberapa jenis citraan berdasarkan efek imajinasi yang ditimbulkan pada pembaca, yaitu citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, penciuman, dan citraan gerak (Pradopo, 2012: 80). Untuk memahaminya, di bawah ini merupakan beberapa kutipan teks puisi. Bacalah dengan saksama kutipan teks puisi tersebut, kemudian tentukan jenis citraan dan efeknya bagi pembaca.

Pengimajian/citraan Pengimajian/citraan Pengimajian atau citraan merupakan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan efek khayalan atau imajinasi pada d...

19/03/2024

A. Memahami Diksi dalam Teks Puisi yang Dibacakan

Hal tersebut bertujuan memunculkan efek dan makna tertentu. Untuk itu, penyair sering menggunakan gaya bahasa (majas), pengimajian, kata konkret, dan kata konotatif untuk mendukung makna puisi yang ingin disampaikannya. Berikut penjelasan mengenai hal tersebut.



1. Majas (gaya bahasa)

Majas atau gaya bahasa merupakan bahasa kiasan yang digunakan untuk menampilkan efek tertentu bagi pembacanya. Untuk lebih memahami majas/gaya bahasa dalam puisi, kalian dapat berlatih menganalisis majas dalam pembacaan teks puisi karya Amir Hamzah. Mintalah satu satu teman kalian untuk membacakan teks puisi di bawah ini!

Padamu Jua

Karya Amir Hamzah



Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai p**ang perlahan

Sabar, setia selalu



Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati



Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu-bukan giliranku

Mati hari-bukan kawanku …

https://ajidwipratikno.blogspot.com/2024/03/memahami-diksi-dalam-teks-puisi-yang.html

14/03/2024

BERKARYA DAN BEREKSPRESI MELALUI PUISI

Puisi merupakan salah satu karya sastra, selain prosa dan drama. Sebagai sebuah karya sastra, puisi digunakan seseorang untuk meng- ungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaannya dalam bentuk kata-kata yang indah. Kata-kata dalam puisi cenderung bersifat kiasan. Puisi biasa- nya disampaikan dengan teknik figuratif untuk menciptakan suasana- suasana yang mampu menggugah imajinasi, perasaan, dan keindahan bagi pembacanya. Dalam puisi, kata-kata dipilih sedemikian rupa secara selektif. Pemilihan kata tersebut bertujuan dapat memunculkan efek tertentu dan menampung makna yang menggambarkan pikiran, gagasan, dan perasaan penyair. Pemilihan kata-kata atau diksi juga harus mempertimbangkan irama, rima, larik, bait, dan tipografi (bentuk) puisi. Oleh karena itulah, unsur bahasa dalam puisi dianggap lebih padat jika dibandingkan dengan karya sastra lainnya.

https://ajidwipratikno.blogspot.com/2024/03/berkarya-dan-berekspresi-melalui-puisi.html

08/03/2024
Puisi : Sayang, Sebab 14/02/2024

Sayang, sebab

Sayang, jangan titipkan rindu pada bintang
Sebab bintang tak bersemayang
Sayang, jangan sisakan kangen pada bulan
Sebab bulan tak mengenang
Sayang Jangan habiskan waktu pada diriku sebab aku juga merindu

Hari cinta merengut
Bayanganmu melansir cinta
Raut wajahmu menjawab kasih
Untain tanganmu menjadi kisah
Saya jatuh cinta karena sayang dan sebab

14 Februari 2024

Puisi : Sayang, Sebab Sayang, sebab Sayang, jangan titipkan rindu pada bintang Sebab bintang tak bersemayang Sayang, jangan sisakan kangen pada bulan Sebab bulan ...

Want your school to be the top-listed School/college in Purbalingga?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


SMA NEGERI 1 KUTASARI
Purbalingga
53361