19/03/2023
ZONA BEBAS: ASAL-USUL PELANGI
Menurut KBBI, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Jika pada zona bebas edisi lalu ada penjelasan tentang proses terjadinya pelangi menurut sains, kali ini disajikan salah satu legenda tentang pelangi, yaitu asal-usul pelangi. Yuk, kita simak bersama!
Dahulu kala di sebuah desa, tinggal seorang kepala desa dan tujuh orang putrinya yang bernama Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu. Mereka cantik, tetapi tidak sombong. Mereka sangat baik kepada siapa saja.
Saat itu desa mereka sedang dilanda kekeringan. Hujan tak juga turun. Hingga menimbulkan penderitaan bagi warga desa. Ketujuh putri kepala desa ikut prihatin melihat kondisi desa yang seperti itu. Mereka ingin sekali membantu meringankan penderitaan warga desanya. Namun, mereka tak tahu bagaimana caranya. Hingga suatu malam, si Merah yang merupakan putri sulung Kepala Desa mendapat petunjuk melalui mimpi.
Dalam mimpinya dia bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa jika dia dan keenam adiknya rela menceburkan diri ke dalam api unggun raksasa yang disediakan di tengah lapangan desa, niscaya hujan akan turun membasahi desa tersebut. Seketika Merah langsung menceritakan mimpinya itu kepada adik-adiknya. Dan mereka pun setuju dengan petunjuk yang diberikan lewat mimpi si Merah.
Keesokan harinya ketujuh putri Kepala Desa itu menyiapkan api unggun yang besar. Mengenakan baju dengan warna yang sesuai dengan nama mereka, ketujuh putri itu menari sambil mengelilingi api unggun tersebut. Usai menari mereka membenamkan diri kedalam api. Kepala Desa dan seluruh warganya terkejut dengan apa yang dilakukan ketujuh putri itu.
Belum hilang keterkejutan mereka, tak berapa lama kemudian turunlah hujan yang diikuti dengan tumbuhnya bunga-bunga. Dan yang lebih menakjubkan di langit muncul cahaya berwarna Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru dan Ungu. Cahaya aneka warna itu membuat langit tampak begitu indah. Kepala desa dan warga desa pun terharu dengan pengorbanan yang dilakukan oleh ketujuh putri pak Kades yang rela mengorbankan diri untuk kemakmuran warga desa mereka. Mereka lalu menyebut cahaya indah itu dengan sebutan PELANGI.