HUKUM WANITA MENYEMBELIH HEWAN
PERTANYAAN :
Mau tanya bagaimana hukumnya wanita menyembelih hewan...
JAWABAN :
Hukum wanita menyembelih adalah Boleh, meski dia dalam kondisi nifas, maupun haid.
و كذا تحل ذكاة الاعمى و المراة و ان كان حائضا و احتج لحلها ذبحها بما رواه البخارى ان جارية لال كعب كانت ترعى غنما فمرضت شاة منها فكسرت مروة و ذبحتها فسال مولاها رسول الله صلى الله عليه و سلم فاجاز لهم اكلها، و المروة الحجر الابيض و فيه دلالة على جوز الذبح به و الله اعلم كفاية الاخيار ٢/ ٢٢٨
و تحل ذكاة كل مسلم بالغ) او مميز يطيق الذبح قوله كل مسلم اى و مسلمة البيجور ٢/٥٤٢ دار الكتب العلمية
قوله و يحل ذبح صبي مميز).....و كالصبى فى ذلك الانثى و الخنثى و الحائض و النفساء و الاخرس و الاقلف و المكره القليوبى و عميرة ٤/٣٦٥ دار الكتب العلمية
Urutan urutan orang yang lebih afdol menyembelih
1. Laki-laki yang berakal, islam
2. Wanita yang berakal, islam
3. Anak-anak yang tamyiz ,islam
4. Ahli kitab
5. Orang gila dan orang mabuk
فرع. قال فى المجموع قال اصحابنا اولى الناس بالذكاة الرجل العاقل المسلم ثم المراة العاقلة المسلمة ثم الصبى المسلم المميز ثم الكتابي ثم المجنون و السكران و فى معناهما الثبى غير المميز كما قاله الشهاب و الرملي لكن لابد ان يكون نوع تمييز كما صرح له الرحماني البيجورى ٢/٥٤٢ دار الكتب العلمية
HUKUM WANITA MENYEMBELIH HEWAN.
Terkait permasalahan wanita yang menyembelih hewan, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan.
أَنَّ جَارِيَةً لِكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا بِسَلْعٍ فَأُصِيبَتْ شَاةٌ مِنْهَا فَأَدْرَكَتْهَا فَذَبَحَتْهَا بِحَجَرٍ فَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُلُوهَا
Artinya, “Seorang budak perempuan Ka’ab bin Malik pernah menggembalakan kambing di Sala’. Lalu salah seekor di antaranya menderita sesuatu, lalu budak itu mendapatinya dan menyembelih kambing itu dengan batu. Kemudian ditanya mengenai hal itu, Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Makanlah kambing itu,’” (HR Bukhari, no 5081). Berdasarkan hadits ini Imam Ibnu Qudamah berpendapat.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ فَوَائِدُ سَبْعٌ ؛ أَحَدُهَا ، إبَاحَةُ ذَبِيحَةِ الْمَرْأَةِ
Artinya, “Hadis ini mengandung tujuh informasi di mana salah satunya adalah kebolehan penyembelihan hewan oleh wanita,” (Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 21/370). Adapun pendapat ulama mengenai hal ini, bisa dilihat pada penjelasan Ibnul Mundzir dalam kitab Al-Ijma’ yang menyebutkan.
وأجمعوا على إباحة ذبيحة الصبي والمرأة إذا أطاقا الذبح، وأتيا على ما يجب أن يؤتى عليه
Artinya, “Ulama bersepakat mengenai kebolehan penyembelihan oleh anak-anak dan wanita, dengan syarat keduanya mampu menyembelih dan melaksanakan apa-apa yang wajib ada dalam penyembelihan,” (Lihat Ibnul Munzir An-Naisaburi As-Syafi’i, Al-Ijma’, Beirut,
Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2010, hal 14).
المسألة الثانية ) تحل ذبيحة المرأة بلا خلاف ، لحديث كعب بن مالك المذكور في الكتاب ، وذكاة الرجل أفضل من ذكاتها لما l المصنف وسواء كانت المرأة حرة أو أمة طاهرا أو حائضا أو نفساء مسلمة أو كتابية ، فذبيحتها في كل هذه الأحوال حلال ، نص عليه الشافعي واتفقوا عليه
Dihukumi Halal sembelihan perempuan dengan tiada perbedaan di antara Ulama berdasarkan hadits riwayat Ka’b Bin Malik, hanya saja sembelihan pria lebih utama dari wanita, baik wanita tersebut merdeka, budak, suci, haid, nifas wanita muslim atau wanita ahli kitab. [ Almajmu’ Syarh Muhaddzab IX/76 ]
Di dalam kitab fiqih ada keterangan yang menyatakan bahwa seorang perempuan memiliki hak yang sama dalam hal penyembelihan. Seorang perempuan dibenarkan memotong ataupun menyembelih ayam, begitu p**a diperbolehkannya menyembelih kambing ataupun kerbau, jika mampu. Namun hak itu diutamakan kepada lelaki terlebih dahulu. Karena masalah penyembelihan biasanya membutuhkan tenaga ekstra.
Dalam kitab I’anatut Thalibin diterangkan:
والحاصل أولى الناس بالذبح الرجل العاقل المسلم ثم المرأة العاقلة المسلمة ثم الصابي المسلم المميز ثم الكتابي ثم الكتابية
..
Yang lebih utama untuk memotong adalah muslim yang berakal, kemudian muslimah yang berakal, kemudian anak-anak muslim yang sudah mumayyiz dan baligh, kemudian kafir kitabi (laki-laki), kafirah kitabiyah(perempuan)....
فرع. قال فى المجموع قال اصحابنا اولى الناس بالذكاة الرجل العاقل المسلم ثم المراة العاقلة المسلمة ثم الصبى المسلم المميز ثم الكتابي ثم المجنون و السكران و فى معناهما الثبى غير المميز كما قاله الشهاب و الرملي لكن لابد ان يكون نوع تمييز كما صرح له الرحماني البيجورى ٢/٥٤٢ دار الكتب العلمية
urutan orang yang lebih afdol menyembelih;
1. Laki-laki yang berakal, islam
2. Wanita yang berakal, islam
3. Anak-anak yang tamyiz ,islam
4. Ahli kitab
5. Orang gila dan orang mabuk
Demikianlah pada dasarnya tidak ada pelarangan tentang penyembelihan. Akan tetapi ada jenjangnya. Selama ada lelaki muslim maka hendaknya dialah yang menyembelih bukan muslimah. Walaupun tidak ada larangan untuk muslimah. Maka ketika seorang muslimah melakukan penyembelihan sementara ada di sana seorang muslim. Itu namanya khilaful aula menyalahi keutamaan
tpq shohibul ikhlash
شجرة واحدة مرتبطة بجذورها أوقفت شاحنة بها مئات الأشجار المنفصلة عن جذورها.
إذا أردت أن تكون قويا كن متمسك بجذورك ومبادئك.. واثبت فى أرضك.
07/05/2026
Bisa jadi ada yang pernah mengalami hal seperti yang ditanyakan berikut, namun masih bingung dan ragu: ini halal atau tidak ya?
“ustadz.. kalau seandainya hewan peliharaan tertabrak kendaraan, hewan itu dalam keaadaan sekarat, lalu di sembelih apakah halal?”
Saya Jawab:
“Jika yakin sudah sekarat maka tidak halal karena syaratnya harus ada kehidupan stabil (hayat mustaqirrah) pada saat penyembelihan diantara tanda kuat masih ada kehidupan stabil, yaitu: saat disembelih gerakannya kuat”
Penjelasan:
Hal itu terjadi dikarenakan matinya karena tertabrak, bukan karena disembelih. Maka hewan tersebut dihukumi bangkai, bukan hewan sembelihan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin:
فَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الْحَيَاةُ الْمُسْتَقِرَّةُ أَوَّلَ الذَّبْحِ ذُبِحَ، كَانَ مَيْتَةً.
“Apabila pada awal penyembelihan tidak didapati adanya kehidupan yang stabil, lalu hewan itu disembelih, maka hewan tersebut dihukumi bangkai.” (I'anatutholibin, juz 2, hlm. 578)
Kemudian diperkuat lagi dengan penjelasan dari beberapa hasyiah lainnya:
وَالَّذِي فِي حَوَاشِي الْبُجَيْرِمِيِّ عَلَى الْخَطِيبِ وَالشَّرْقَاوِيِّ وَالْبَاجُورِيِّ: أَنَّ مَحَلَّ اشْتِرَاطِ وُجُودِ الْحَيَاةِ الْمُسْتَقِرَّةِ فِي أَوَّلِ الذَّبْحِ عِنْدَ تَقَدُّمِ سَبَبٍ يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَأَكْلِ نَبَاتٍ مُضِرٍّ ـ وَإِلَّا بِأَنْ لَمْ يَتَقَدَّمْ سَبَبٌ أَصْلًا أَوْ تَقَدَّمَ سَبَبٌ لَكِنْ لَا يُحَالُ عَلَيْهِ الْهَلَاكُ ـ كَالْمَرَضِ ـ فَلَا يُشْتَرَطُ ذَلِكَ، بَلْ إِذَا وَصَلَ إِلَى آخِرِ رَمَقٍ ثُمَّ ذُبِحَ حَلَّ.
“Dan yang disebutkan dalam Hāsyiyah al-Bujairimī atas al-Khaṭīb, juga dalam Hāsyiyah asy-Syarqāwī dan al-Bājūrī: bahwa tempat diberlakukannya syarat adanya hayat mustaqirrah (kehidupan yang stabil) pada awal penyembelihan ialah ketika sebelumnya ada sebab yang biasanya mengantarkan pada kematian seperti memakan tumbuhan berbahaya. Adapun jika sebelumnya tidak ada sebab sama sekali, atau ada sebab tetapi biasanya tidak menyebabkan kematian seperti sakit maka syarat tersebut tidak diberlakukan. Bahkan apabila hewan telah sampai pada nafas terakhirnya lalu disembelih, maka hukumnya halal.”
(I'anatutholibin, juz 2, hlm. 578)
Maka dari sini sudah jelas bahwa hewan yang sekarat akibat tertabrak kendaraan tidak otomatis menjadi halal hanya karena sempat disembelih. Sebab yang dilihat dalam fikih bukan sekadar “masih hidup atau tidak”, tetapi apakah saat mulai disembelih masih terdapat hayat mustaqirrah (kehidupan yang stabil) atau tidak.
Karena tabrakan termasuk sebab yang secara umum bisa mengantarkan pada kematian, maka apabila hewan sudah kehilangan kehidupan stabilnya, lalu baru disembelih, hukumnya tetap bangkai dan tidak halal dimakan.
Adapun bila setelah tertabrak ternyata hewan tersebut masih memiliki kehidupan yang stabil misalnya gerakannya masih kuat dan bukan sekadar refleks kemudian segera disembelih dengan benar, maka sembelihan tersebut halal.
Maka dalam masalah seperti ini perlu kehati-hatian, karena berkaitan dengan perkara halal dan haram yang akan dikonsumsi.
Kalau ada yang mau nambahin atau punya referensi lain, monggo… kita saling melengkapi
---
📖 Referensi:
Hasyiah I'anatutholibin,
karya Syaikh Abu Bakar Utsman Syattho ad-Dimyathi, Juz 1, hlm. 578.
04/05/2026
HEWAN YG DITEMBAK DENGAN SENAPAN ANGIN
Mengkonsumsi hewan yang ditembak dengan senapan angin hukumnya ditafsil:
1. Jika binatang yang ditembak itu jinak hukumnya haram
2. Jika binatangnya tidak jinak ( binatang buruan ): * Menurut jumhur ulama' haram * Menurut Malikiyyah halal dengan syarat membaca basmalah ketika menembak. Dasar Pengambilan Hukum Fathul Mu'in wa Khasyiyah tarsyikhul Mustafidin Hal: 50
وَيَحْرُمُ قَطْعًا رَمْيُ الصَّيْدِ بِالْبُنْدُقِ الْمُعْتَادِ الْانَ وَهُوَ مَا يَضَعُ بِالْحَدِيْدِ وَيَرْمِيْ بِالنَّارِ لِأَنَّهُ مُحْرِقٌ مُدَقِّقٌ سَرِيْعًا غَالِبًا قَوْلُهُ ( قَطْعًا ) أَيْ بِلاَ خِلاَفٍ عِنْدَنَا بِخِلاَفِ الرَّمْيِ بِبُنْدُقِ الطِّيْنِ فَفِيْهِ خِلاَفٌ يَأْتِيْ. وَقَالَ الْمَالِكِيَّةُ بِجَوَازِ الرَّمْيِ بِبُنْدُقِ الرَّصَاصِ الْمَعْرُوْفِ الَْأَنَ وَحِلٌّ أَكْلُ مَا صِيْدَ بِهِ بِشَرْطِ التَّسْمِيَّةِ بِهِ عَنْدَ ( الرَمْيِ ) فَإِنْ تَرَكَهَا سَهْوًا لَمْ يَضُرَّ.
Dan haram secara pasti menembak binatang buruan dengan senapan yang sudah biasa sekarang ini, yaitu apa yang diletakkan dengan besi dan dilemparkan dengan api karena senapan itu membakar dan menghancurkan dengan cepat pada umumnya. Ucapan mushonnif secara pasti artinya tanpa ada perbedaan pendapat diantara kitab berbeda dengan melempar, menembak dengan senapan tanah dalam hal ini ada perbedaan pendapat yanga akan datang. Madzhab Maliki berpendapat mengenai kebolehan menembak dengan senapan timah yang telah diketahui sekarang ( senapan angin ) dan halal memakan apa yang diburu dengannya dengan syarat membaca basmalah pada waktu menembak, jika meninggalkan bacaan basmalah karena lupa tidak berbahaya. Khasyiyah ad-Dasuqi Juz II hal:
103 اَلْحَاصِلُ أَنَّ الصَّيْدَ بِبُنْدُقِ الرَّصَاصِ لَمْ يُوْجَدْ فِيْهِ نَصٌّ لِلْمُتَقَدِّمِيْنَ لِحُدُوْثِ الرَّمْيِ بِهِ لِحُدُوْثِ الْبَارُوْدِ فِيْ وَسَطِ الْمِائَةِ الثَّامِنَةِ وَاخْتَلَفَ فِيْهِ الْمُتَأَخِّرُوْنَ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ بِالْمَنْعِ قِيَاسًا عَلَى بُنْدُقِ الطِّيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ بِالْجَوَازِ كَأَبِيْ عَبْدِ اللهِ الْقُوْرِيْ وَابْنِ الْمَنْجُوْرِ وَسَيِّدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْفَاسِيْ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْإِنْهَارِ وَالْإِجْهَازِ بِسُرْعَةٍ الّذِيْ شُرِعَتِ الذَّكَاةُ لِأَجْلِهِ وَقِيَاسُهُ عَلَى بُنْدُقِِ الطِّيْنِ فَاسِدٌ لِوُجُوْدِ الْفَارِقِ وَهُوَ وُجُوْدُ الْخَرْقِ وَالنُّقُوْدِ فِي الرِّصَاصِ تَحْقِيْقًا وَعَدَمُ ذَالِكَ فِي بُنْدُقِ الطِّيْنِ وَإِنَّمَا شَأْنُهُ الرَّضُّ وَالْكَسْرُ وَمَاكَانَ هَذَا لَا يُسْتَعْمَلُ لِأَنَّهُ مِنَ الْوَفْدِ الْحَرَامِ بِنَصِّ الْقُرْأَنِ ِ.ا ه.
Pada hasilnya bahwa berburu dengan senapan angin tidak didapati padanya nash/ketetapan hukum daripada ulama terdahulu karena menembak dengan senapan angin itu adalah hal yang baru karena kebaharuan bahan peledak pada pertengahan abad kedua. Dalam hal ini ulama' mutaakhir berbeda pendapat, diantara mereka ada yang berpendapat dengan kebolehan seperti Abu Abdillah al-Fauri Ibnul Manjur, Sayyid Abdur Rohman, Abdul Qodir al-Fasi, karena dalam peluru timah tersebut ada pengaliran darah dan pembunuhan yang cepat yang penyembelihan disyariatkan karenanya. Pengqiasan peluru timah dengan peluru tanah adalah rusak (tidak benar) karena wujud perbedaaan yaitu wujud lubang dan pecah pada peluru timah secara nyata dan ketiadaan hal tersebut pada peluru tanah. Hanyasanya kepentingan peluru tanah adalah meremukkan dan apa yang ada seperti ini tidak boleh dipergunakan karena peluru tanah itu melemparkan benda yang diharamkan menurut nash al-Qur'an. Syarah Shohih Muslim Fi Hamisy Irsyad as-Sari Juz II Hal: 136
وَقَالَ مَحْكُوْلٌ وَالْأَوْزَعِيِّ وَغَيْرُهُمَا مِنْ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيِّ بِحِلٍّ مُطْلَقًا كَذَا قَالَ هَؤُلاَءِ وَابْنُ أَبِيْ لَيْلَى أَنَّهُ يَحِلُّ مَاقَتَلَهُ بِالْبُنْدُقَةِ. إلخ
Makhqul, Auzai'i dan selainnya berkata tentang kehalalan secara mutlak demikian p**a pendapat mereka dan Ibnu Abi Laila bahwa sesungguhnya halal memakan binatang yang dibunuh dengan peluru. Al-Bujairimi alal Iqna' Juz IV hal:
275 وَأَفْتَي ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ بِحُرْمَةِ الرَّمْيِ بِالْبُنْدُقِ وَبِهِ صَرَحَ الدَّخَائِرُ لِكَيْ أَفْتَي النَّوَاوِيْ بِجَوَازِهِ---إِلَى أَنْ قَالَ---وَهَذَا كُلُّهُ بِالنّسْبَةِ لِحِلِّ الْمَرْمَى الَّذِيْ هُوَ الصَّيْدُ فَإِنَّهُ حَرَامٌ مُطْلَقًا.
Ibnu Abdis Salam telah memberi fatwa tentang keharaman menembak dengan peluru, dengan keharaman tersebut Ad-Dakhoir menjelaskan agar imam Nawawi memberi fatwa dengan kebolehannya, sampai katanya ini seluruhnya dibangsakan kepada kehalalan menembak. Adapun dihubungkan dengan kehalalan binatang yang ditembak yaitu binatang buruan maka binatang itu adalah haram secara mutlak.
Wollohu a'lam
JENIS BURUNG YANG HARAM DAN HALAL DIMAKAN
- Diharamkan dari jenis burung:
Babaga: yaitu burung berwarna hijau yang memiliki kemampuan kuat dalam menirukan suara dan menerima pengajaran.
Penjelasan: Yang dimaksud adalah burung beo/nuri.
Tawus: yaitu burung yang s**a membanggakan diri, bersikap sombong, dan mengagumi bulunya sendiri.
Penjelasan: Yang dimaksud adalah burung merak.
Rakhamah: yaitu burung yang bentuk penciptaannya menyerupai burung nasar.
_Penjelasan_: Burung ini pemakan bangkai, dikenal juga dengan nama burung hering mesir.
Bugatsah: burung berwarna putih, terbangnya lambat, ukurannya lebih kecil daripada elang, memiliki cakar yang lemah.
Penjelasan: Termasuk jenis burung pemangsa kecil, tetapi karena makanannya bangkai maka diharamkan.
Khuththaf: yaitu burung yang punggungnya hitam, perutnya putih, dan s**a bersarang di rumah-rumah pada musim semi.
Penjelasan: Yang dimaksud adalah burung layang-layang/walet.
Khuffasy, disebut juga dengan wathwath: yaitu binatang kecil yang bisa terbang, tidak memiliki bulu, bentuknya menyerupai tikus, terbang pada waktu antara magrib dan isya.
Penjelasan: Yang dimaksud adalah kelelawar.
Referensi
ب- يحرم من الطيور:
الببَّغا: وهو طائر أخضر، له قوة حكاية الأصوات، وقبول التلقين.
والطاووس: وهو طائر: يحبّ الزهو بنفسه، والخيلاء، والإعجاب بريشه.
والرَّخَمَة: وهي طائر يشبه النسر في الخلقة.
والبُغَاثة: طائر أبيض بطئ الطيران أصغر من الحدأة، له مخلب ضعيف.
والخُطَّاف: وهو طائر أسود الظهر، أبيض البطن يأوي إلى البيوت في الربيع.
والخُفَّاش، ويقال له الوطواط: وهو طائر صغير، لا ريش له، يشبه الفأرة، يطير بين المغرب والعشاء.
[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ٧٣/٣]
- Dihalalkan dari jenis burung:
1. Na‘āmah: yaitu burung unta.
Penjelasan: Burung darat terbesar, tidak mempunyai cakar untuk menerkam mangsa, makanannya biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan sehingga disepakati kehalalannya.
2. Bath: yaitu bebek.
Penjelasan: Termasuk jenis unggas air jinak. Tidak memiliki cakar pemangsa dan makanannya bukan bangkai.
3. Iwaz: yaitu angsa.
Penjelasan: Sejenis bebek namun berukuran lebih besar. Sama-sama unggas air jinak yang halal dimakan.
4. Dajāj: yaitu ayam.
Penjelasan: Unggas peliharaan yang umum dikonsumsi. Makan biji-bijian dan tidak menerkam dengan cakar.
5. Ghurāb az-Zar‘: yaitu gagak pemakan tanaman.
Penjelasan: Jenis gagak yang makanannya berasal dari biji-bijian dan hasil tanaman, bukan bangkai. Ini yang membedakannya dengan gagak abqa‘ atau gagak biasa pemakan bangkai yang haram.
6. Qathā: yaitu burung qatha.
Penjelasan: Burung padang pasir yang bentuknya menyerupai merpati. Hidup berkelompok dan makan biji-bijian. Tidak ada padanan nama Indonesia yang umum, sehingga biasanya tetap disebut qatha.
7. Hajal: yaitu ayam hutan.
Penjelasan: Burung darat sejenis puyuh tetapi berukuran lebih besar. Tidak memiliki cakar untuk berburu mangsa.
8. Hamām: yaitu merpati — dan yang dimaksud dengannya adalah setiap burung yang minum dengan cara mengisap dan menderum.
Penjelasan: Ciri “‘abba wa hadara” = mengisap air ketika minum tanpa mematuk-matuk, dan mengeluarkan suara derum. Termasuk di dalamnya: tekukur, balam, perkutut, dan semua jenis merpati.
9. Burung yang bentuknya seperti burung pipit, meskipun berbeda warna dan jenisnya: seperti ‘andalīb, zurzūr, bulbul, dan lain-lain.
Penjelasan:
- ‘Andalīb = burung bulbul.
- Zurzūr = burung jalak.
- Bulbul = dalam penggunaan Indonesia sering diartikan burung murai/kacer.
- Kaidah: semua burung kecil pemakan biji-bijian yang tidak memiliki cakar untuk menerkam, hukumnya halal dimakan apapun warna dan jenisnya, seperti gereja, kenari, gelatik, dan sejenisnya.
Referensi
ا- ويحلّ: النعامة، والبط، والإوَز، والدجاج، وغراب الزرع، والقطا، والحجل، والحمام ـ وهو كل ما عَبَّ وهَدَر ـ وما على شكل عصفور، وإن اختلف لونه ونوعه: كعندليب، وزرزور، وبلبل، وغيرها.
[مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ٧٣/٣]
Wallahu a'lam
RIBAKAH HUTANG DENGAN JANJI MENGEMBALIKAN LEBIH BANYAK ?
PERTANYAAN :
mau tanya kan Ada orang Minjam duit terus janji mau ngasih lebih waktu mengembalikan. Terus orangnya yang meminjamkan pengin terus meminjakan karena dikasih lebih itu bagaimana hukumnya ?
JAWABAN :
kalau janji tersebut disebutkan dalam aqad / transaksi maka hukumnya riba / harom, akan tetapi bila janji tersebut tidak disebut ketika aqad maka hukumnya halal tapi makruh bila si penghutang memang mengharapkan lebih. :
إذ القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض،هذا إن وقع في صلب العقد، فإن تواطأ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.بغية المسترشدين ص : ١٣٥ وفسد اى الإقراض بشرط جر نفعا للمقرض كرد زيادة الى أن قال ومعلوم أن محل الفساد اذا وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد، قوله بشرط جر منفعة أى جرها بشرط أما جرها بغير شرط فلا.حاشية الجمل ٣/٢٦١ والأوجه أن الإقراض من تعود الزيادة بقصدها مكروه. ترشيح المستفيدين ص : ٢٣٣
itu aturan agama bila dalam aqad simpan pinjam tidak boleh dengan aqad mengambil keuntungan, memberi syarat lebih dalam aqad tapi kalau inisiatif si peminjam dan tidak disebut dalam aqad maka itu yang justru disunahkan.
Wollohu a'lam
DIANTARA KETENTUAN MEMILIH IMAM SHOLAT
Dalam memilih imam sholat itu hendaknya yang paling cantik istrinya dipilih setelah tidak ada yang lebih ganteng.
Kenapa cantik istri juga “mu'tabar” (menjadi acuan)?
Jawabannya: Karena jika istri sudah cantik pak Imam tidak akan noleh-noleh pada yang lain, sehingga shalat lebih khusyuk, tidak kepikiran pada istri tetangga ataupun janda pirang.
Ibarotnya:
Titik tekan فالأحسن زوجة hehe.
📚 نهاية الزين - (ج ١ /ص ١٣١)
ﺛﻢ ﺇﺫا اﺟﺘﻤﻊ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻤﻦ ﻓﻴﻪ ﺃﻫﻠﻴﺔ اﻹﻣﺎﻣﺔ ﻳﻘﺪﻡ ﻣﻨﻬﻢ اﻷﻓﻘﻪ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﺎﻷﺻﺢ ﻗﺮاءﺓ ﻓﺎﻷﻛﺜﺮ ﻗﺮﺁﻧﺎ ﻓﺎﻷﺯﻫﺪ ﻓﺎﻷﻭﺭﻉ ﻓﺎﻟﻤﻬﺎﺟﺮ ﻓﺎﻷﻗﺪﻡ ﻫﺠﺮﺓ ﻓﺎﻷﺳﻦ ﻓﻲ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﺎﻷﺷﺮﻑ ﻧﺴﺒﺎ ﻓﺎﻷﺣﺴﻦ ﺫﻛﺮا ﻓﺎﻷﻧﻈﻒ ﺛﻮﺑﺎ ﻓﺒﺪﻧﺎ ﻓﺼﻨﻌﺔ ﺃﻱ ﻛﺴﺒﺎ ﻓﻴﻘﺪﻡ اﻟﺰاﺭﻉ ﻭاﻟﺘﺎﺟﺮ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻓﺎﻷﺣﺴﻦ ﺻﻮﺗﺎ ﻓﺎﻷﺣﺴﻦ ﺧﻠﻘﺎ ﺑﻔﺘﺢ اﻟﺨﺎء ﺑﺄﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺳﻠﻴﻢ اﻷﻋﻀﺎء ﻣﻦ اﻵﻓﺔ ﻣﺴﺘﻘﻴﻤﺎ ﻓﺎﻷﺣﺴﻦ ﻭﺟﻬﺎ ﺃﻱ الأﺟﻤﻞ ﺻﻮﺭﺓ ﻓﻬﻮ ﻏﻴﺮ اﻷﺣﺴﻦ ﺧﻠﻘﺎ ﻛﻤﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﻓﺎﻷﺣﺴﻦ ﺯﻭﺟﺔ ﻓﺎﻷﺑﻴﺾ ﺛﻮﺑﺎ ﻓﻴﻘﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﻻﺑﺲ ﻏﻴﺮ اﻷﺑﻴﺾ ﻭﻳﻘﺪﻡ اﻷﺑﻴﺾ ﻭﺟﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﺈﻥ اﺳﺘﻮﻳﺎ ﻭﺗﺸﺎﺣﺎ ﺃﻗﺮﻉ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ.
Wallahu a'lam
HUKUM MENIKAHI WANITA DALAM MASA 'IDDAH
PERTANYAAN
Bagaimana status pernikahan dengan wanita yang masih dalam masa iddah..?
JAWABAN :Tidak sah..!!
الموسوعة الفقهية (29/ 346) :
اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز للأجنبي نكاح المعتدة أيا كانت عدتها من طلاق أو موت أو فسخ أو شبهة ، وسواء أكان الطلاق رجعيا أم بائنا بينونة صغرى أو كبرى . وذلك لحفظ الأنساب وصونها من الاختلاط ومراعاة لحق الزوج الأول ، فإن عقد النكاح على المعتدة في عدتها ، فُرّق بينها وبين من عقد عليها ، واستدلوا بقوله تعالى : ( ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ الكتاب أجله ) والمراد تمام العدة ، والمعنى : لا تعزموا على عقدة النكاح في زمان العدة ، أو لا تعقدوا عقدة النكاح حتى ينقضي ما كتب الله عليها من العدة
Artinya:
Para ahli fiqih sepakat bahwa seorang laki-laki lain tidak boleh menikahi wanita dalam masa 'iddahnya. Apa pun sebab 'iddahnya, baik karena cerai, suami wafat, fasakh, dan semisalnya. Baik talak raj'iy (1 dan 2), atau talak ba'in shughra atau kubra. Hal ini dalam rangka menjaga nasab dan tercampurnya benih, serta menjaga kehormatan suaminya yang pertama. Maka, pernikahan saat wanita masih di masa 'iddah mesti dipisahkan antara dirinya dan status akad nikahnya itu. Dalilnya berdasar firman Allah Ta'ala:
وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ
Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa idahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)
Maksudnya sempurna masa iddahnya. Maknanya janganlah melakukan akad pernikahan di masa Iddah, atau jangan lakukan akad nikah sampai Allah tetapkan kehendak-Nya kepada wanita itu atas iddahnya.
Haram dan tidak sah. Ulama ahli fiqih telah sepakat bahwa : Tidak sah bagi seorang pria menikahi wanita yang masih menjalani masa idah.Baik idahnya idah tholaq atau idah wafat atau idah fasakh dan idah wathi syubhat. Sama saja idah dari tholaq roj'i atau tholaq bain (bain shughro atau bain kubro). Alasan atau ilatnya adalah karena melindungi nasab dari tercampurnya air mani dan menjaga hak suami pertama. Jika terjadi pernikahan seorang pria dan mu'tadah karena si pria tidak mengetahuinya karena umpama si wanita menyembunyikan statusnya,maka ketika diketahui hakim wajib membatalkan status pernikahannya.
نهاية الزين ص ٣٠٢ ومن عدة من غيره فلا يصح نكاح المعتدة من غيره لتعلق حق الغير بهما بخلاف المعتدة من الناكح لأن الماء له سواء كانت العدة عن وفاة مطلقا أو عن طلاق بعد الدخول أو عن وطء شبهة كأن ظنها أمته.جاء في الموسوعة الفقهية" (29/ 346) : اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز للأجنبي نكاح المعتدة أيا كانت عدتها من طلاق أو موت أو فسخ أو شبهة ، وسواء أكان الطلاق رجعيا أم بائنا بينونة صغرى أو كبرى . وذلك لحفظ الأنساب وصونها من الاختلاط ومراعاة لحق الزوج الأول ، فإن عقد النكاح على المعتدة في عدتها ، فُرّق بينها وبين من عقد عليها ، واستدلوا بقوله تعالى : ( ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ الكتاب أجله ) والمراد تمام العدة ، والمعنى : لا تعزموا على عقدة النكاح في زمان العدة ، أو لا تعقدوا عقدة النكاح حتى ينقضي ما كتب الله عليها من العدة ... وفي الموطأ : أن طليحة الأسدية كانت زوجة رشيد الثقفي وطلقها ، فنكحت في عدتها ، فضربها عمر بن الخطاب وضرب زوجها بخفقةٍ ضربات ، وفرق بينهما ، ثم قال عمر : أيما امرأة نكحت في عدتها فإن كان الذي تزوجها لم يدخل بها فرق بينهما ، ثم اعتدت بقية عدتها من زوجها الأول ، ثم إن شاء كان خاطبا من الخطاب . وإن كان دخل بها فُرق بينهما ، ثم اعتدت بقية عدتها من الأول ، ثم اعتدت من الآخر ، ثم لا ينكحها أبدا " انتهى
Wollohu a'lam
03/04/2026
HUKUM MENANAM POHON DI KUBURAN
Apa hukumnya menanam tumbuhan / pohon di kuburan?
Jawaban
Ditafsil:
a. Untuk tumbuhan yang kecil batang dan akarnya seperti rumput dan bunga², hukum nya sunah.
b. Untuk tumbuhan / pohon yang bisa besar dan ber akar keras, maka sebagaimana keterangan dalam kitab “Bughyatul Mustarsyidiin” , hukum menanam “Syajar” (pohon yang bisa besar dan berakar keras) diatas kuburan, hukumnya diperinci:
– Jika tumbuhan tersebut berpotensi akarnya merusak mayit, maka harom.
– Jika tidak berpotensi merusak mayit, maka sangat dimakruhkan (ada juga yang mengatakan tetap harom).
Referensi
[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,2/136]
قوله: للاتباع) هو ما رواه ابن حبان عن أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: كنا نمشي مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فمررنا على قبرين، فقام، فقمنا معه، فجعل لونه يتغير حتى رعد كم قميصه، فقلنا: مالك يا رسول الله؟ فقال: أما تسمعون ما أسمع؟ فقلنا: وما ذاك يا نبي الله؟ قال: هذان رجلان يعذبان في قبورهما عذابا شديدا في ذنب هين - أي في ظنهما، أو هين عليهما اجتنابه - قلنا: فبم ذاك؟ قال: كان أحدهما لا يتنزه من البول، وكان الآخر يؤذي الناس بلسانه، ويمشي بينهم بالنميمة.
فدعا بجريدتين - من جرائد النخل - فجعل في كل قبر واحدة.
قلنا يا رسول الله: وهل ينفعهم ذلك؟ قال: نعم يخفف عنهما ما دامتا رطبتين.
(قوله: ولأنه الخ) معطوف على للاتباع.
(وقوله: يخفف عنه) أي عن الميت.
(وقوله: ببركة تسبيحها) أي الجريدة الخضراء، وفيه أن اليابسة لها تسبيح أيضا، بنص: * (وإن من شئ
إلا يسبح بحمده) * فلا معنى لتخصيص ذلك بالخضراء، إلا أن يقال إن تسبيح الخضراء أكمل من تسبيح اليابسة، لما في تلك من نوع حياة.
(قوله: وقيس بها) أي بالجريدة الخضراء.
(وقوله: ما اعتيد من طرح نحو الريحان الرطب) اندرج تحت نحو كل شئ رطب، كعروق الجزر، وورق الخس واللفت.
وفي فتاوى ابن حجر ما نصه: استنبط العلماء من غرس الجريدتين على القبر: غرس الأشجار والرياحين، ولم يبينوا كيفيته.
بغية المسترشدين ٢٠٢
وأما غرس الشجر على القبر وسقيها فإن أدى وصول النداوة أو عروق الشجر إلى الميت حرم ، وإلا كره كراهة شديدة ، وقد يقال يحرم
قاموس المعاني العربي
الشَّجَرُ : (معجم الوسيط) : (معجم الوسيط) الشَّجَرُ : نباتٌ يقوم على ساقٍ صُلبة.
02/04/2026
APAKAH RUMAH DAN MOBIL WAJIB DI ZAKATI?
Fulan adalah orang kaya. Ia memiliki rumah besar, mobil mewah, dan berbagai fasilitas lainnya. Semua harta itu sudah dimiliki selama satu tahun dan nilainya juga banyak.
Namun, harta seperti rumah, mobil, dan fasilitas yang dipakai sendiri tidak wajib dizakati. Karena harta tersebut bukan untuk diperjualbelikan (untuk dagang), tetapi hanya untuk dipakai, berbeda jika barang-barang itu dijadikan barang dagangan maka wajib dizakati jika setelah sampai nisab dan satu tahun.(Fiqh az-Zakah Hlm 327)
فَلَيْسَ كُلُّ مَا يَشْتَرِيْهِ الإِنْسَانُ مِنْ أَشْيَاءَ وَأَمْتِعَةٍ وَعُرُوضٍ يَكُوْنُ مَالَ تِجَارَةٍ. فَقَدْ يَشْتَرِي ثِيابًا لِلبسِهِ أَوْ اثاثالِبَيْتِهِ أَوْ دَابَةً أَوْ سَيَّارَةً لِرُكُوْبه فَلَا يُسَمَّى شَيْئً مِنْ ذلِكَ عَرْضَ تِجَارَةٍ بَلْ عَرْضَ قِنْيَةٍ بِخِلافِ مَا لَوْ اشْتَرَى شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ بقصد بَيْعِهِ وَالربح مِنْهُ. (فقه الزكاة صـ٣٢٧)
Diriwayatkan dari Isa bin Numailah rodhiyallohu anhu :
ﻋَﻦْ ﻋِﻴﺴَﻰ ﺑْﻦِ ﻧُﻤَﻴْﻠَﺔَ، ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻨْﺖُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﺑْﻦِ ﻋُﻤَﺮَ ﻓَﺴُﺌِﻞَ ﻋَﻦْ ﺃَﻛْﻞِ ﺍﻟْﻘُﻨْﻔُﺬِ، ﻓَﺘَﻠَﺎ } ﻗُﻞْ ﻟَﺎ ﺃَﺟِﺪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻣُﺤَﺮَّﻣًﺎ { ﺍﻟْﺂﻳَﺔَ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺷَﻴْﺦٌ ﻋِﻨْﺪَﻩُ : ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺃَﺑَﺎ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﺫُﻛِﺮَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺧَﺒِﻴﺜَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺒَﺎﺋِﺚِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺑْﻦُ ﻋُﻤَﺮَ : ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﻬُﻮَ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻧَﺪْﺭِ
Diriwayatkan dari ‘Isa bin Numailah, dari ayahnya, ia berkata : Dahulu saya pernah berada di sisi Ibnu ‘Umar, lalu ia ditanya tentang landak, maka dia menjawab dengan membacakan ayat 145 surat Al-An’aam (yang artinya) Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan …..sampai akhir ayat”. Maka orang tua yang berada di situ berkata : Saya pernah mendengar Abu Hurairah berkata : Ada seorang yang bertanya tentang hukumnya landak kepada Nabi sholallohu alayhi wasallam maka beliau bersabda, “Sesungguhnya landak itu salah satu diantara binatang yang kotor”. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Jika Rosululloh sholallohu alayhi wasallam telah bersabda demikian, maka landak itu sebagaimana yang beliau sabdakan yang tadinya kami belum tau”.
(HR Dawud)
Para ulama’ yang menghalalkannya menyatakan bahwa hadits diatas adalah hadits yang dho’if (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum pelarangan mengkonsumsi landak. Karena itu hukumnya kembali pada hukum asal, dimana hukum asal semua binatang adalah halal selama tak ada dalil yang mengharomkannya.
Imam Nawawi menjelaskan :
Halal hukumnya memakan kelinci, yarbu', rubah, landak, biawak padang pasir, hyrax, ibn 'irs.
Dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat kecuali dalam landak dan hyrax.
Untuk keduanya ada yang mengharomkan akan tetapi mayoritas ulama mantap mengatakan keduanya hukumnya halal.
Dalam darul Ifta Al mishriyah Dijelaskan :
Bagaimana secara hukum syar’i mengenai hukum makan daging landak, musang dan hiena.
Tidak masalah dalam madzhab kami makan daging landak, musang dan hiena.
Hal ini karena hewan-hewan termasuk hewan thoyyibat atau baik untuk dimakan dan juga telah dianggap baik oleh orang Arab.
Alloh subhanahu wa ta'alaa berfirman: Mereka bertanya kepadamu (Muhammad): Apakah yang dihalalkan bagi mereka.
Katakanlah: Yang dihalalkan bagimu adalah makanan yang baik-baik.
Apa yang dianggap baik oleh orang Arab dalam kebiasaannya maka hukumnya halal, dan apa yang dianggap menjijikkan maka hukumnya harom.
Ini karena Al Quran turun dengan bahasa mereka, dan karena itu pengertian mereka dalam menafsirkan firman Alloh ‘al-thoyyibat’ adalah hukum.
Ibaroh :
(أما) الأحكام فيحل الأرنب واليربوع والثعلب والقنفذ والضب والوبر وبن عرس ولا خلاف في شيء من هذه إلا الوبر والقنفذ ففيهما وجه أنهما حرام والصحيح المنصوص تحليلهما وبه قطع الجمهور
(Al Majmu' juz 9 halaman 13)
ما الحكم الشرعي في أكل لحم كلٍّ من: القنفذ والثعلب والضبع
الجواب:لا حرج في مذهبنا في أكل كلٍّ من: القنفذ، والثعلب، والضبع؛ لأنها من الطيبات التي تستطيبها العرب، وقد قال الله تعالى: يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ. فما استطابته العرب في عادتها كان حلالاً، وما عدوه خبيثاً فهو محرم؛ لأن القرآن نزل بلغتهم، فكان عرفهم في تفسير قوله تعالى: (الطيبات) هو الحكم
(Darul Ifta Al mishriyah)
( الحكم ) قال الشافعي يحل أكل القنفذ لأن العرب تستطيبه.
(Hayatul hayawan juz 2 halaman 266)
20/03/2026
Ummu Khilda
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Praya