MS NET TV

MS NET TV

Share

Didalam halaman ini kita akan brlajar bersama tentang bagaimana membaca alquran sampai fasih dan lan

19/05/2023

Gelombang 2 Telah Dibuka Pendaftaran Peserta Didik Baru MA NW Yanju Puyung Waker

17/03/2023

Murottal Santriwati Kelas XI Program Khusus Tahfizh Al-Qur'an MA Jihadul Ummah Nahdlatul Wathan Waker Puyung Oleh Silvia Yolanda Dari Mapong Desa Jurang Jaler Kec. Praya tengah, Kabupaten Lombok Tengah

18/09/2022

Inilah Kump**an Pilihan Terbaik lagu lagu perjuangan Nahdlatul Wathan
nahdlatul wathan

16/08/2022

Suatu hari salah satu kyai besar Nahdlatul Ulama (NU), KH. Ma’shum Ahmad Lasem, ayahanda KH. Ali Ma’shum Krapyak, bersilaturrahim ke seorang kiai di Lombok.

Dilansir dari instagram Menjelang waktu Maghrib kiai asal Lasem itu sampai di sana. Saat dijamu oleh tuan rumah, Mbah Ma’shum (panggilan akrab KH. Ma’shum Ahmad) mengetahui betapa ramainya pesantren sang kiai. Hiruk-pikuk para santri yang melakukan aktifitasnya sangat tampak. Segenap santri terlihat mengaji dan berdzikir.

“Alhamdulillah, pesantren Tuan sudah maju. Santrinya banyak. Semoga mereka bisa jadi pemimpin kaumnya,” kata Mbah Ma’shum.

Setelah mengamini doa temannya itu, sang tuan rumah hanya tersenyum penuh arti.
Akan tetapi keesokan harinya, tiba-tiba saja pesantren itu mendadak sepi. Tak seorang pun santri yang terlihat berlalu lalang. Dan di tempat itu hanya ada sang kiai saja, yang bersama keluarga rumahnya berada di tengah-tengah pelataran pesantren. Lalu Mbah Ma’shum bertanya kepada sang tuan rumah: “Ke mana gerangan para santrinya?”

Lalu kiai itu pun menjelaskan bahwa santri-santrinya itu adalah segenap jin. Sang kiai itu memang sangat alim, tangguh dan memiliki banyak kekeramatan, sehingga umatnya tidak saja manusia.

Kekeramatannya yang lain adalah air dari buah-buah kelapa yang tumbuh di lingkungan pesantrennya. Air kelapa itu sangat mujarab untuk menyembuhkan banyak penyakit. Mbah Ma’shum ketika berpamitan pun diberi bawaan (oleh-oleh) berupa beberapa biji buah kelapa itu.

Kiai dari Lombok itu bernama Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1356 H atau bertepatan dengan tahun 1936 M.

Pertemanan Mbah Ma’shum dengannya berawal ketika keduanya masih sama-sama belajar di Makkah. Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Majid belajar di Makkah, dalam didikan Syaikh Hasan bin Muhammad al-Massyath al-Makki, salah seorang ulama terkenal di Hijaz pada eranya.

Beliau sangat akrab dengan Mbah Ma’shum, dan keduanya sama-sama saling menghormati meskipun dalam hal organisasi keduanya berbeda jalan.***

Wahai Ibu dan Bapak Bacakan Anakmu Doa Ini Agar Sholeh, Cerdas dan Penurut 07/08/2022

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Wahai ibu dan bapak bacakan selalu Doa ini dalam sujud terakhir sholatmu
Agar anak menjadi sholeh, penghapal alquran dan sunah, menjaga sholatnya, cerdas, lembut hatinya dan penurut.

Wahai Ibu dan Bapak Bacakan Anakmu Doa Ini Agar Sholeh, Cerdas dan Penurut 3 doa mustajab agar anak sholeh sholehah, penghapal alquran, menjaga sholatnya, penurut, lembut hatinya dan cerdasAda 3 doa dan serta cara pengamalan nya S...

31/07/2022

Mari mengamalkan sholawat yg luar biasa ini
Minimal setiap selesai sholat.

Sholawat Nahdlatain Adalah Kunci Dari Segala Rahasia Menurut Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Foto Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengungkapkan dalam kitabnya bahwa "Kunci segala rahasia bersumber pada bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW". Dalam hal ini maka warga Nahdlatul Wathan patut bersyukur kepada Allah SWT, karna telah ditinggalkannya warisan oleh Maulana Syeikh Selaku pendiri NWDI, NBDI & NW. Warisan yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan sesuatu apapun, yaitu warisan mengamalkan Sholawat setiap kali melakukan kegiatan apapun khususnya membaca Sholatun Nahdlatain, kenapa? karena Sholawat Nahdlatain sendiri adalah Sholawat yang dikarang oleh pendiri Nahdlatul Wathan. Beliau mengarangnya di depan makam baginda Rasulullah SAW. Sholawat ini diberi nama Nahdlatain karena di dalam sholawat ini terdapat do'a yang diperuntukkan untuk dua buah lembaga yang didirikannya yaitu NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah) dan NBDI (Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah).

Sholawat ini berisikan sholawat terkhusus kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian kepada semua para nabi dan rasul dan para keluarga serta sahabat mereka. Kemudian dilanjutkan dengan doa untuk NWDI & NBDI, setelah itu dilanjutkan lagi dengan doa untuk kemaslahatan semua pihak, untuk semua kaum muslimin dan muslimat.

Shalawat ini disusun pada tahun 1947/1366 H, ketika beliau mendapat tugas dari pemerintah untuk menjadi Amirul Hajj dari NIT (Negara Indonesia Timur). Proses penyusunan shalawat Nahdlatan ini berawal dari inspirasi yang muncul pada diri beliau ketika berada di Rhaudhah ( makam Rasulullah SAW) di Madinah. Pada saat itu ada beberapa ulama yang berasal dari Mesir, Baghdad, dan lain-lain, ramai-ramai membaca berbagai model dan variasi shalawat yang dipersembahkan kepada Rasulullah SAW. Melihat seperti itu, maka beliau terinspirasi p**a untuk membuat sebuah kenang-kenangan dalam bentuk shalawat, beliau kemudian mengambil secarik kertas untuk mengorek bunyi atau lafazh shalawat tersebut. Sambil berdiri, duduk, berdiri, duduk mengoreksi dan meluruskan kalimatnya, maka dalam waktu singkat itu tersusunlah shalawat tersebut dengan rapi.

Sekembalinya dari Raudhah, beliau membawa dan menyodorkan susunan shalawat tersebut kepada gurunya Syeikh Hasan Muhammad Al-Masysyath. Begitu teks shalawat itu diterima, sang guru spontan tersenyum, merasa senang dan gembira melihat hasil karya dari murid kesayangannya.

Menurutnya, tersenyumlah Syeikh Hasan Al-Masysyath melihat shalawat ini, merasa kagum terhadap untaian shalawat tersebut, yang di dalamnya terdapat tiga hal penting.

Pertama, di dalam shalawat ini terdapat kalimat “Bika” (dengan berkat kebesaran-Mu). Jadi, dengan secara langsung bertawasshul kepada Allah SWT tanpa perantara yang lain.

Kedua, dalam shalawat ini, bershalawatnya untuk seluruh Nabi dan Rasul, tidak hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW saja, dengan kalimat yang mengatakan “Wa ‘Alaa Saairi al-Anbiyai Wa al-Mursaliin” (seluruh Nabi dan Rasul).

Ketiga, dalam shalawat ini TGKH Muhammad Zanuddin Abdul Madjid tidak lupa mendo’akan perjuangannya dengan kalimat yang mengatakan “Wa an Tu’ammira Nahdlah al-Wathani Wa Nahdlah al-Banati bi Furu’ihima Ila Yaumiddin” (Semoga Engkau waha Allah SWT berkenan memakmurkan NWDI dan NBDI, serta cabang-cabangnya sampai hari kemudian).

Selain ketiga hal yang menjadi kekaguman Syeikh Hasan Muhammad Al-Masysyath di atas, shalawat ini juga berisikan sejumlah permohonan (baca: do’a) kepada Allah SWT, yakni permohonan akan pertolongan Allah dalam menghadapi segala macam problematika kehidupan, terbukanya rahmat dan berkah dari Allah SWT, memohon rizki yang banyak, pemeliharaan dari segala macam bala atau bahaya, serta ampunan (maghfirah) dari Allah SWT atas segala noda dan dosa, sehingga pada saat meninggalkan dunia yang fana ini seseorang dapat meninggal dalam keadaan bersih

Sungguh begitu indah dan mempesona sebuah susunan shalawat yang telah ia susun dalam rangka mendo’akan segala yang memiliki keterkaitan dalam kehidupan baik dalam alam nyata maupun kasat mata. Terbukti bahwa seorang maha guru yang amat sayang kepadanya tersenyum kagum terhadap shalawat yang telah ia persembahkan untuk Allah SWT, Seluruh Nabi dan Rasul, dan untuk perjuangannya beserta cabang-cabangnya di mana saja berada hingga hari kiamat.

Arti dari do'a solawatun nahdatain:

Artinya : “ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu dengan keagungan dan kemuliaanmu, sampaikanlah sholawat dan salam kepada junjungan kami nabi muhammad dan kepada semua para nabi dan rasul dan keluarga serta sahabat mereka. Dan subur makmurkanlah nahdlatul wathan & nahdlatul banat beserta cabang-cabang keduanya sampai hari kiamat. Dan bantulah kami, bukakanlah kami pintu rahmat, berikanlah kami rezeki, peliharalah kami, dan ampunilah kami beserta semua orang islam. Ya allah ya tuhan yang maha hidup dan mengurus sekalian mahluknya, tidak ada tuhan selain engkau.

Semoga Bermanfaat bagi Nahdliyyin Nahdliyyat Semua.

31/07/2022

Adz-Dzikrol Hauliyah Ma'had Darul Qur'an Wal Hadist Nahdlatul Wathan di Anjani dilaksanakan pada hari Ahad, 14 agustus 2022

10/07/2022

Saya Muhamad Suriadi beserta keluarga mengucapkan minal aidzin walfaizin walmakbuliin mohon maaf lahir dan batin

04/07/2022

Something Just Like This - Coldplay And The Chainsmokers

03/07/2022

REUNI AKBAR MUTAHARIJIIN MUTAHARIJAT MA'HAD DARUL QURAN WAL HADIST NW ANGKATAN 1-56 DI ANJANI

Want your school to be the top-listed School/college in Praya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Praya