14/08/2026
*Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok: Entitas Pendidikan Islam, Penjaga Aswaja dan NKRI*:
Mertak Tombok, Praya Lombok Tengah - Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok kembali menunjukkan perannya sebagai entitas pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguatan ilmu keagamaan, tetapi juga aktif merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan “Nurul Ulum Berdzikir, Berdoa dan Bersholawat”, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ke-1501 sekaligus Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat IKSANU (Ikatan Santri Nurul Ulum) sebagai bentuk syiar Islam, penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, serta doa untuk keselamatan dan keberkahan bangsa Indonesia.
Kegiatan berlangsung pada malam Jumat Tgl. 13 Agustus 2026 di halaman Madrasah kompleks santri putri Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan terasa sejak awal acara. Hadir dalam kegiatan tersebut para Umana Ma’had, para asatidz Nurul Ulum, santri putra dan putri, serta jamaah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mendapatkan keberkahan dari majelis dzikir, doa dan shalawat.
Acara dimoderatori oleh Ustadz Ahmad Fiqhul Fahmi, M.Pd, M.Ag yang juga merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat IKSANU. Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasul, sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan kepada Allah SWT melalui wasilah para ulama dan orang-orang saleh.
Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan yang dipimpin oleh Kepala Madrasah Aliyah Nurul Ulum, Almukarrom Ustadz Lalu Mahsun, M.Ag.
Pembacaan ratib menjadi simbol kuat bagaimana Pondok Pesantren Nurul Ulum terus menjaga tradisi keislaman yang diwariskan para ulama. Dzikir, tawasul, ratib, doa, dan shalawat bukan sekadar rangkaian seremonial, tetapi menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang hidup di tengah kehidupan pesantren.
Sebelum pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan, disampaikan beberapa dawuh Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok, TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I.
Beliau menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diniatkan untuk berbagai hajat kebaikan, termasuk untuk NKRI dan Muktamar, dengan harapan agar bangsa Indonesia dan organisasi keagamaan tercinta mendapatkan pemimpin yang terbaik.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap agama dan kecintaan terhadap tanah air tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dalam kehidupan pesantren.
Dalam dawuhnya, Almukarrom Shaikhuna TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I. mengingatkan pentingnya menjaga hubungan batin dengan keluarga, guru, para pendahulu, dan terutama Rasulullah SAW.
«“Ingat ke keluarga solah atau lengek, enget juk guru solah atau lengek, enget juk papuk balok solah atau lengek, apelagi enget juk Nabi.”»
Pesan tersebut mengandung ajaran sederhana namun mendalam: manusia hendaknya tidak melupakan orang-orang yang berjasa dalam kehidupannya. Semakin jauh seseorang mengingat guru dan para pendahulunya, semakin kuat p**a kesadarannya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama umat Islam.
Beliau juga mengingatkan agar generasi muda tidak meninggalkan shalawat:
«“Ye ntant tajah s*k guru gurut laek harust sekedik kedik besolawat, bukan sedikit bersholawat.”»
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri agar membiasakan diri bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Ulum juga memiliki pesan penting tentang bagaimana umat Islam mengekspres*kan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dalam dawuhnya, pengasuh menyampaikan:
«“Niat bikin acara ini kita syiarkan ke seluruh dunia bahwa sudah masuk bulan kelahiran Nabi.”»
Kemudian muncul ungkapan sederhana yang sarat makna:
«“Masak bergembira dilarang?”»
Kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dipahami sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kegembiraan tersebut kemudian diarahkan kepada kegiatan yang bernilai ibadah: berdzikir, bershalawat, berdoa, membaca Al-Qur’an, serta mengingat perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW.
Dengan demikian, peringatan Maulid di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Ulum bukan hanya menjadi momentum budaya keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi para santri.
Setelah pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat sebanyak 1.000 kali.
Pembacaan shalawat tersebut diniatkan untuk berbagai hajat dunia dan akhirat. Ribuan lantunan shalawat yang dibaca bersama-sama menciptakan suasana spiritual yang khidmat. Para santri, asatidz, umana ma’had, dan jamaah bersatu dalam satu majelis, membawa berbagai harapan dan doa kepada Allah SWT.
Di sinilah terlihat karakter pesantren sebagai ruang spiritual sekaligus ruang pendidikan. Santri tidak hanya belajar melalui kitab dan kelas, tetapi juga belajar melalui dzikir, doa, shalawat, keteladanan guru, dan tradisi keagamaan.
Setelah pembacaan shalawat, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas dan dzikir yang dipimpin oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah Nurul Ulum, Almukarrom Ustadz Syamsul Hadi Sholeh, S.Pd.I.
Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok.
Doa menjadi penutup sekaligus puncak spiritual dari seluruh rangkaian kegiatan. Setelah melakukan ikhtiar melalui tawasul, ratib, shalawat, pembacaan Al-Qur’an dan dzikir, seluruh jamaah menyerahkan segala harapan kepada Allah SWT.
Dalam suasana peringatan Maulid dan HUT Kemerdekaan RI, doa juga menjadi bentuk kecintaan terhadap bangsa: memohon agar Indonesia senantiasa diberikan keamanan, persatuan, keberkahan, serta pemimpin yang mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok menunjukkan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merawat kecintaan terhadap NKRI.
Nilai Aswaja diwujudkan melalui tradisi tawasul, dzikir, ratib, shalawat, doa, penghormatan kepada ulama dan guru, serta kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sementara nilai kebangsaan diwujudkan melalui doa untuk NKRI, penghormatan terhadap kemerdekaan, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang disandingkan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-81 menjadi simbol bahwa keislaman dan kebangsaan dapat berjalan bersama.
Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang memahami agama, tetapi juga generasi yang memiliki tanggung jawab terhadap tanah air. Santri dididik agar menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, menghormati ulama, mencintai Rasulullah SAW, serta memiliki komitmen terhadap persatuan dan keutuhan NKRI.
Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok adalah sebuah entitas pendidikan yang tumbuh dari tradisi keislaman masyarakat. Keberadaannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan formal dan pesantren, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan penguatan tradisi keagamaan.
Melalui kegiatan Nurul Ulum Berdzikir, Berdoa dan Bersholawat, pesantren kembali menegaskan jati dirinya: merawat tradisi Aswaja, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, menghormati para ulama dan guru, serta menjaga semangat kebangsaan dan NKRI.
Pesan yang diwariskan kepada para santri sangat jelas: jangan sampai generasi muda tercerabut dari akar tradisi keagamaannya. Ingat keluarga, ingat guru, ingat para pendahulu, dan terlebih lagi ingat kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Sebagaimana kalimat yang dibaca dalam rangkaian kegiatan:
«آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا قَالَ اللهُ، آمَنْتُ بِالرَّسُولِ وَبِمَا قَالَ الرَّسُولُ»
“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang difirmankan Allah. Aku beriman kepada Rasul dan kepada apa yang disabdakan Rasul.”
Kalimat tersebut menjadi refleksi bahwa kehidupan pesantren pada akhirnya berpijak pada iman, kecintaan kepada Rasulullah SAW, penghormatan terhadap ulama, dan pengabdian kepada umat serta bangsa.
Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah entitas pendidikan Islam yang berusaha menjaga warisan Aswaja, menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan membentuk generasi santri yang mencintai serta menjaga NKRI.
Dari dzikir lahir ketenangan, dari shalawat tumbuh kecintaan, dari doa lahir harapan, dari pendidikan lahir generasi, dan dari pesantren tumbuh kader-kader yang siap merawat Islam Aswaja dan Indonesia.
Wallahu A'lam.