Santri Takhassus Nurul Ulum

Santri Takhassus Nurul Ulum

Share

Ngaji Sekolah,
Sekolah Ngaji. Fanspage Media Pondok Pesantren Nurul Ulum

19/08/2026
14/08/2026

*Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok: Entitas Pendidikan Islam, Penjaga Aswaja dan NKRI*:

Mertak Tombok, Praya Lombok Tengah - Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok kembali menunjukkan perannya sebagai entitas pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguatan ilmu keagamaan, tetapi juga aktif merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan “Nurul Ulum Berdzikir, Berdoa dan Bersholawat”, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ke-1501 sekaligus Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat IKSANU (Ikatan Santri Nurul Ulum) sebagai bentuk syiar Islam, penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, serta doa untuk keselamatan dan keberkahan bangsa Indonesia.

Kegiatan berlangsung pada malam Jumat Tgl. 13 Agustus 2026 di halaman Madrasah kompleks santri putri Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan terasa sejak awal acara. Hadir dalam kegiatan tersebut para Umana Ma’had, para asatidz Nurul Ulum, santri putra dan putri, serta jamaah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mendapatkan keberkahan dari majelis dzikir, doa dan shalawat.

Acara dimoderatori oleh Ustadz Ahmad Fiqhul Fahmi, M.Pd, M.Ag yang juga merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat IKSANU. Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasul, sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan kepada Allah SWT melalui wasilah para ulama dan orang-orang saleh.

Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan yang dipimpin oleh Kepala Madrasah Aliyah Nurul Ulum, Almukarrom Ustadz Lalu Mahsun, M.Ag.

Pembacaan ratib menjadi simbol kuat bagaimana Pondok Pesantren Nurul Ulum terus menjaga tradisi keislaman yang diwariskan para ulama. Dzikir, tawasul, ratib, doa, dan shalawat bukan sekadar rangkaian seremonial, tetapi menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang hidup di tengah kehidupan pesantren.

Sebelum pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan, disampaikan beberapa dawuh Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok, TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I.

Beliau menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diniatkan untuk berbagai hajat kebaikan, termasuk untuk NKRI dan Muktamar, dengan harapan agar bangsa Indonesia dan organisasi keagamaan tercinta mendapatkan pemimpin yang terbaik.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap agama dan kecintaan terhadap tanah air tidak ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dalam kehidupan pesantren.

Dalam dawuhnya, Almukarrom Shaikhuna TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I. mengingatkan pentingnya menjaga hubungan batin dengan keluarga, guru, para pendahulu, dan terutama Rasulullah SAW.

«“Ingat ke keluarga solah atau lengek, enget juk guru solah atau lengek, enget juk papuk balok solah atau lengek, apelagi enget juk Nabi.”»

Pesan tersebut mengandung ajaran sederhana namun mendalam: manusia hendaknya tidak melupakan orang-orang yang berjasa dalam kehidupannya. Semakin jauh seseorang mengingat guru dan para pendahulunya, semakin kuat p**a kesadarannya untuk mengingat Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama umat Islam.

Beliau juga mengingatkan agar generasi muda tidak meninggalkan shalawat:

«“Ye ntant tajah s*k guru gurut laek harust sekedik kedik besolawat, bukan sedikit bersholawat.”»

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri agar membiasakan diri bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Ulum juga memiliki pesan penting tentang bagaimana umat Islam mengekspres*kan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Dalam dawuhnya, pengasuh menyampaikan:

«“Niat bikin acara ini kita syiarkan ke seluruh dunia bahwa sudah masuk bulan kelahiran Nabi.”»

Kemudian muncul ungkapan sederhana yang sarat makna:

«“Masak bergembira dilarang?”»

Kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dipahami sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kegembiraan tersebut kemudian diarahkan kepada kegiatan yang bernilai ibadah: berdzikir, bershalawat, berdoa, membaca Al-Qur’an, serta mengingat perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW.

Dengan demikian, peringatan Maulid di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Ulum bukan hanya menjadi momentum budaya keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi para santri.

Setelah pembacaan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan shalawat sebanyak 1.000 kali.

Pembacaan shalawat tersebut diniatkan untuk berbagai hajat dunia dan akhirat. Ribuan lantunan shalawat yang dibaca bersama-sama menciptakan suasana spiritual yang khidmat. Para santri, asatidz, umana ma’had, dan jamaah bersatu dalam satu majelis, membawa berbagai harapan dan doa kepada Allah SWT.

Di sinilah terlihat karakter pesantren sebagai ruang spiritual sekaligus ruang pendidikan. Santri tidak hanya belajar melalui kitab dan kelas, tetapi juga belajar melalui dzikir, doa, shalawat, keteladanan guru, dan tradisi keagamaan.

Setelah pembacaan shalawat, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas dan dzikir yang dipimpin oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah Nurul Ulum, Almukarrom Ustadz Syamsul Hadi Sholeh, S.Pd.I.

Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok.

Doa menjadi penutup sekaligus puncak spiritual dari seluruh rangkaian kegiatan. Setelah melakukan ikhtiar melalui tawasul, ratib, shalawat, pembacaan Al-Qur’an dan dzikir, seluruh jamaah menyerahkan segala harapan kepada Allah SWT.

Dalam suasana peringatan Maulid dan HUT Kemerdekaan RI, doa juga menjadi bentuk kecintaan terhadap bangsa: memohon agar Indonesia senantiasa diberikan keamanan, persatuan, keberkahan, serta pemimpin yang mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok menunjukkan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merawat kecintaan terhadap NKRI.

Nilai Aswaja diwujudkan melalui tradisi tawasul, dzikir, ratib, shalawat, doa, penghormatan kepada ulama dan guru, serta kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sementara nilai kebangsaan diwujudkan melalui doa untuk NKRI, penghormatan terhadap kemerdekaan, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang disandingkan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-81 menjadi simbol bahwa keislaman dan kebangsaan dapat berjalan bersama.

Pesantren tidak hanya mencetak generasi yang memahami agama, tetapi juga generasi yang memiliki tanggung jawab terhadap tanah air. Santri dididik agar menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, menghormati ulama, mencintai Rasulullah SAW, serta memiliki komitmen terhadap persatuan dan keutuhan NKRI.

Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok adalah sebuah entitas pendidikan yang tumbuh dari tradisi keislaman masyarakat. Keberadaannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan formal dan pesantren, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan penguatan tradisi keagamaan.

Melalui kegiatan Nurul Ulum Berdzikir, Berdoa dan Bersholawat, pesantren kembali menegaskan jati dirinya: merawat tradisi Aswaja, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, menghormati para ulama dan guru, serta menjaga semangat kebangsaan dan NKRI.

Pesan yang diwariskan kepada para santri sangat jelas: jangan sampai generasi muda tercerabut dari akar tradisi keagamaannya. Ingat keluarga, ingat guru, ingat para pendahulu, dan terlebih lagi ingat kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Sebagaimana kalimat yang dibaca dalam rangkaian kegiatan:

«آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا قَالَ اللهُ، آمَنْتُ بِالرَّسُولِ وَبِمَا قَالَ الرَّسُولُ»

“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang difirmankan Allah. Aku beriman kepada Rasul dan kepada apa yang disabdakan Rasul.”

Kalimat tersebut menjadi refleksi bahwa kehidupan pesantren pada akhirnya berpijak pada iman, kecintaan kepada Rasulullah SAW, penghormatan terhadap ulama, dan pengabdian kepada umat serta bangsa.

Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah entitas pendidikan Islam yang berusaha menjaga warisan Aswaja, menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan membentuk generasi santri yang mencintai serta menjaga NKRI.

Dari dzikir lahir ketenangan, dari shalawat tumbuh kecintaan, dari doa lahir harapan, dari pendidikan lahir generasi, dan dari pesantren tumbuh kader-kader yang siap merawat Islam Aswaja dan Indonesia.
Wallahu A'lam.

Photos from Santri Takhassus Nurul Ulum's post 14/08/2026

Dokumentasi " Malam Jum'at Seribu Sholawat "

Photos from Santri Takhassus Nurul Ulum's post 09/08/2026

Kelas 7 B

08/08/2026

PRAYA – sabtu 8 agustus 2026.
Suasana penuh kehangatan dan khidmah menyelimuti Pondok Pesantren Manhalul Ulum Praya dalam agenda Kunjungan Silaturrahim RKH. Muhammad Ali Cholil.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturrahim antarkeluarga ulama, sekaligus meneguhkan kembali pentingnya sanad keilmuan dan estafet perjuangan para ulama, khususnya dalam khidmah Nahdlatul Ulama.
Acara diawali dengan pengantar dari Ketua IKMAL sekaligus Ketua MUI Kabupaten Lombok Tengah, TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I.
Dalam pengantarnya, beliau menyampaikan rasa syukur karena para jamaah memperoleh kesempatan untuk menerima dan menyambung sanad secara langsung.

“Alhamdulillah, kita mendapatkan sanad. Tidak semua orang mendapatkan keberuntungan seperti kita ini. Salah satu syarat mendapatkan sanad adalah bertemu langsung.”
Beliau kemudian mengaitkan perjalanan sejarah Syaikhona Kholil Bangkalan dengan lahirnya generasi penerus perjuangan ulama di Lombok. Wafatnya Syaikhona Kholil Bangkalan pada tahun 1925 dan lahirnya TGH. L. Muhammad Faishal pada tahun yang sama dipandang sebagai sebuah isyarat estafet perjuangan dan kesinambungan khidmah ulama.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa kunjungan RKH. Muhammad Ali Cholil ke Lombok memiliki tiga tujuan utama.

Pertama, sosialisasi penyerahan tongkat dan tasbih kepada setiap pengurus NU pada saat pelantikan pengurus NU di setiap tingkatan. Tongkat dan tasbih tersebut menjadi simbol yang mengingatkan warga NU terhadap sejarah perjuangan dan isyarah para ulama dalam proses lahirnya Nahdlatul Ulama.

Kedua, mengijazahkan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan kepada para jamaah sebagai bagian dari upaya menjaga dan meneruskan tradisi amaliyah serta sanad keilmuan para ulama.

Ketiga, membentuk kepengurusan IHSAN se-Nusantara sebagai bagian dari upaya memperluas silaturrahim, memperkuat jaringan, serta menyatukan langkah dalam menjaga tradisi dan khidmah keulamaan.

Setelah pengantar Ketua IKMAL, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video napak tilas isyarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
Para jamaah menyimak dengan penuh perhatian alur sejarah yang menggambarkan bagaimana lahirnya NU tidak terjadi secara tiba-tiba. Berdirinya NU merupakan hasil dari perjuangan panjang para ulama, ikhtiar lahir dan batin, doa, istikharah, serta kuatnya hubungan antara guru dan murid.

Kisah tersebut tidak dapat dilepaskan dari tiga tokoh penting, yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan KH. Raden As’ad Syamsul Arifin sebagai pembawa amanah dan isyarah.
Sekitar tahun 1924, Syaikhona Kholil Bangkalan mengutus santrinya, KH. As’ad Syamsul Arifin, untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
KH. As’ad membawa sebilah tongkat sebagai amanah dari gurunya, disertai pesan yang berkaitan dengan QS. Thaha ayat 17–23.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu isyarah penting dalam proses KH. Hasyim Asy’ari memohon petunjuk Allah SWT terkait rencana pembentukan sebuah jam’iyah sebagai wadah perjuangan para ulama.
Tongkat kemudian dapat dimaknai sebagai simbol kepemimpinan, tanggung jawab, keteguhan, dan amanah. Seorang pemimpin harus mampu membawa umat dengan ilmu, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.
Sekitar tahun 1925, KH. As’ad kembali diutus Syaikhona Kholil untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari. Kali ini beliau membawa tasbih dan pesan untuk mengamalkan Asmaul Husna:
يَا جَبَّارُ، يَا قَهَّارُ
“Ya Jabbar, Ya Qahhar.”
Tasbih dan wirid tersebut menjadi bagian dari isyarah yang semakin menguatkan hati KH. Hasyim Asy’ari dalam mengambil keputusan.
Tasbih mengajarkan pentingnya dzikir, doa, tawakal, dan hubungan spiritual kepada Allah SWT dalam setiap perjuangan.
Kisah perjalanan KH. As’ad juga memberikan pelajaran mendalam tentang kuatnya hubungan guru dan murid.

Dengan penuh ketaatan dan kesungguhan, KH. As’ad menjalankan amanah Syaikhona Kholil. Perjalanan tersebut menjadi simbol ketaatan, keikhlasan, kesabaran, penghormatan kepada guru, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah.
Setelah melalui proses ikhtiar, istikharah, musyawarah, dan berbagai pertimbangan, akhirnya Nahdlatul Ulama berdiri pada 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan 31 Januari 1926.
NU kemudian menjadi wadah perjuangan para ulama dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, memperjuangkan kemaslahatan umat, serta berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Dari napak tilas tersebut, jamaah diajak mengambil sejumlah nilai penting, di antaranya ketaatan kepada guru, pentingnya istikharah dan doa, keikhlasan dalam perjuangan, kepemimpinan yang amanah, kekuatan spiritual, kesabaran dan keteguhan, menjaga tradisi keilmuan, serta khidmah kepada umat dan bangsa.
Nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan NU bukan sekadar perjalanan organisasi, tetapi juga merupakan perjalanan ilmu, sanad, akhlak, spiritualitas, dan khidmah.

Usai pemutaran video napak tilas, kegiatan dilanjutkan dengan agenda utama, yaitu pengijazahan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan oleh RKH. Muhammad Ali Cholil.
Sebelum prosesi pengijazahan, beliau menyampaikan sejumlah informasi dan pandangan mengenai perkembangan IKN di Kalimantan Timur, yang insyaallah akan menjadi pusat pemerintahan mulai awal tahun 2028.

Selanjutnya, RKH. Muhammad Ali Cholil mengijazahkan Ratib Syaikhona Kholil Bangkalan kepada para jamaah.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga meminta agar Doa Shalawat Perjuangan Nahdlatul Ulama karya Syaikhona al-Maghfurlah TGH. L. Muhammad Faishal turut diijazahkan kepada beliau.
Doa tersebut telah ditashih oleh KH. Ali Maksum pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo. Berdasarkan catatan KH. Ali Maksum, doa tersebut seyogianya diamalkan dan dihafalkan sebagaimana Surah Al-Fatihah.

Momen tersebut terasa semakin istimewa karena mempertemukan dua zurriyah yang saling meneguhkan sanad keilmuan dan tradisi perjuangan ulama.
Doa Shalawat Annahdliyah kemudian diijazahkan secara langsung oleh putra almaghfurlah TGH. L. Muhammad Faishal, yaitu Al-Mukarrom Drs. TGH. Lalu Habiburrahman Faishal, MM.

Pertemuan tersebut bukan hanya menjadi ajang silaturrahim, tetapi juga menjadi momentum untuk menyambungkan kembali mata rantai sanad, tradisi keilmuan, amaliyah, dan perjuangan Nahdlatul Ulama lintas generasi.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa perjuangan Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh TGH. L. Habiburrahman Faishal dan doa pamungkas oleh RKH. Muhammad Ali Cholil.

Kegiatan silaturrahim ini meninggalkan pesan mendalam bagi seluruh jamaah bahwa menjaga sanad bukan sekadar menjaga hubungan keilmuan, tetapi juga menjaga amanah, adab, tradisi, dan nilai perjuangan para ulama.
Dari Manhalul Ulum Praya, silaturrahim tersebut menjadi pengingat bahwa estafet perjuangan ulama harus terus dilanjutkan dengan ilmu, dzikir, akhlak, persatuan, dan khidmah kepada umat serta bangsa.

Semoga sanad keilmuan dan perjuangan para masyayikh senantiasa tersambung, dijaga, dan diteruskan oleh generasi penerus Nahdlatul Ulama.
Wallahu a’lam bish-shawab.

08/08/2026

Lombok Timur, Sabtu, 8 Agustus 2026 , Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan mewarnai kunjungan silaturrahim KH. Muhammad Ali Cholil, cicit Syaikhona Muhammad Cholil Bangkalan, bersama jajaran pengurus PCNU Lombok Timur. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah, memperkuat jam’iyah Nahdlatul Ulama, sekaligus mengenang kembali sejarah dan sanad perjuangan para ulama NU. Dalam kunjungan tersebut, KH. Muhammad Ali Cholil didampingi oleh Ketua MUI Kabupaten Lombok Tengah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Mertak Tombok, TGH. Muhammad Nur Mukhtar, S.Pd.I.

Acara diawali dengan pengantar dari Ketua PCNU Lombok Timur. Dalam penyampaiannya, beliau menceritakan perjalanan perjuangan terbentuknya Kantor PCNU Lombok Timur, yang tidak terlepas dari proses rekonsiliasi antara Rais Syuriyah serta kerja keras para pengurus dan kader NU.
Beliau juga mengisahkan perjalanan NU dari masa lalu, masa sekarang, hingga harapan NU di masa yang akan datang. Dengan penuh semangat, disampaikan p**a tekad untuk terus berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama hingga akhir hayat.
Dengan gaya khas yang diselingi guyonan, suasana pertemuan menjadi semakin cair, akrab, dan penuh kekeluargaan.
Dalam kesempatan tersebut juga Hadir Rais Syuriyah PCNU Lombok Timur yang merupakan cicit dari Tuan Guru Umar Kelayu, yang semakin memperkaya mata rantai sejarah dan tradisi keulamaan di Lombok Timur.

Dalam sambutannya, KH. Muhammad Ali Cholil mengungkapkan rasa syukur dan bahagia karena dapat bersilaturrahim secara langsung dengan seluruh pengurus NU Lombok Timur.
Beliau menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama kunjungan tersebut adalah sosialisasi tentang harapan adanya kegiatan penyerahan tongkat dan tasbih pada setiap pelantikan pengurus NU di seluruh tingkatan.

Tongkat dan tasbih tersebut bukan sekadar simbol, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar untuk mengenang sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama serta menjaga kesinambungan perjuangan para ulama.
Beliau juga mengisahkan tentang tiga komite yang memiliki keterkaitan dengan zuriyah Bangkalan, Situbondo, dan Tebuireng, sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan mata rantai keulamaan yang terus dijaga.
Silaturrahim tersebut juga membawa gagasan besar untuk membangun sebuah “rumah bersama”, melalui pembentukan IHSAN (Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Nusantara).
Gagasan tersebut diharapkan menjadi wadah yang dapat mempertemukan para santri dan alumni dari berbagai daerah, memperkuat hubungan antargenerasi, serta menjaga nilai-nilai keilmuan dan tradisi pesantren.
Dengan semangat tersebut, silaturrahim tidak hanya dimaknai sebagai pertemuan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyatukan langkah, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan perjuangan para masyayikh.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Ratib Syaikhona Cholil Bangkalan serta pengijazahan yang disampaikan oleh KH. Muhammad Ali Cholil.
Ijazah tersebut disampaikan sebagai bagian dari mata rantai keilmuan yang bersambung dari generasi ke generasi, yakni:
KH. Muhammad Ali Cholil → ayah beliau, Kiai Cholil → ayah beliau, Kiai Yasin → ayah beliau, Syaikhona Cholil Bangkalan.
Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian yang sangat khidmat dalam rangkaian silaturrahim, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga sanad keilmuan, tradisi ulama, dan keberkahan hubungan antara guru, santri, dan para penerus perjuangan NU.
Kunjungan silaturrahim KH. Muhammad Ali Cholil ke PCNU Lombok Timur menjadi momentum berharga bagi seluruh pengurus yang hadir.

Pertemuan tersebut tidak hanya mempertemukan tokoh dan pengurus NU, tetapi juga mempertemukan sejarah, sanad, perjuangan, dan harapan masa depan Nahdlatul Ulama.
Semoga silaturrahim ini menjadi wasilah keberkahan, mempererat ukhuwah Islamiyah, menguatkan jam’iyah Nahdlatul Ulama, serta melanjutkan perjuangan para ulama untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Silaturrahim mempererat ukhuwah, menguatkan jam’iyah, dan menjaga sanad perjuangan para ulama.
اللهم انفعنا ببركاتهم وعلومهم، ووفقنا لخدمة الدين والوطن والأمة. آمين.

06/08/2026

Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 WAWAN SAPUTRA, Majhulul Hal, Safruddin Habibi, Halim Azam, Dian Alhada, Din Naim, Ahmad Yani, Yuliana Kartini, Haikal Imron, Maulana Fathan, Mae Mei

Beri komentar untuk menyambut mereka di komunitas kita, berat

Want your school to be the top-listed School/college in Praya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Mertak Tombok Desa Mertak Tombok Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah/NTB
Praya
83511