04/03/2024
𝗚𝗜𝗡𝗧𝗜𝗡𝗚 𝗠𝗔𝗡𝗜𝗞 𝗠𝗘𝗥𝗚𝗔𝗡𝗔 (𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟭: 𝗔𝘄𝗮𝗹 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗦𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮𝗻𝘆𝗮)
Oleh: Bastanta P. Sembiring....
Alangkah terkejutnya Ginting Manik 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 melihat 𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 yang dia sayangi tergeletak di jalan bersimbah darah dengan tarikan nafas terbata-bata. Bukan main gejolak yang timbul di hatinya. Spontan dia berlari dan menghampiri. Mengangkat tubuh 𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨nya ke atas pengkuannya hingga ajal menjemput turangnya tersebut, 𝘣𝘦𝘳𝘶 Ginting Manik.
Tepat di samping jasad 𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨nya yang baru saja menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya, sesosok tubuh yang tidak asing juga tergeletak dengan bersimbah darah. Oh, dia masih bernafas, walau tampak berat.
Sedih bercampur benci, spontan Ginting Manik mencabut 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘥𝘢-nya dan membenamkannya ke perut tubuh Perangin-angin 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 sambil berkata: “𝘌𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘵 𝘬𝘰!”
Atas kejadian ini, Ginting Manik 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 dijatuhi hukuman penjara dan pembuangan ke Pulau Nusa Kambangan di Cilacap, Jawa Tengah.
Sudah kehilangan saudari kesayangannya dan harus menjalani hukuman bukanlah hal yang biasa bagi Ginting Manik yang selama ini dikenal ramah dan baik hati, serta sangat menjunjung tinggi adat istiadat Suku Karo.
* * * *
Di sebuah 𝘒𝘶𝘵𝘢 yang disebut Namo Kelawas, Karo Jahé, di sanalah Ginting Manik 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 beserta keluarga besarnya tinggal. Dia adalah 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘣𝘶𝘣𝘶 𝘚𝘪𝘮𝘢𝘫𝘦𝘬𝘬𝘦𝘯 𝘓𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 dari 𝘚𝘪𝘵𝘦𝘱𝘶 𝘔𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 yang adalah 𝘴𝘪𝘣𝘪𝘢𝘬 (bukan/bedakang dengan 𝘚𝘪𝘣𝘢𝘺𝘢𝘬) 𝘬𝘶𝘵𝘢; artinya, kaum utama oleh karena leluhur mereka adalah 𝘴𝘪𝘮𝘢𝘯𝘵𝘦𝘬𝘪 (pendiri) 𝘬𝘶𝘵𝘢 itu.
Tanah yang subur memberi hasil yang melimpah; udara sejuk, air mengalir jernih di sungai, ternak-ternak subur, serta dipimpin oleh seorang penghulu yang adil dan bijaksana membuat kehidupan di 𝘬𝘶𝘵𝘢 itu tampak sempurna.
Sudah menjadi tradisi dalam 𝘫𝘢𝘣𝘶 (keluarga) Ginting Manik 𝘔𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢, setiap generasi pasti ada seorang gadis dari 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢 mereka yang kecantikannya melebihi rata-rata gadis seusiannya. Membuat semua mata tertuju kepadanya.
Keceriaan di wajah seorang gadis 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘶𝘥𝘢 (anak paling kecil) di usia beranjak dewasa, membuat hati Ginting Manik 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 sedikit terobati setelah ditinggal mati kedua orangtuanya. Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, otomatis dia harus menggantikan tugas orangtuanya menjaga, mendidik dan membesarkan keempat adiknya.
Sumpahnya dihadapan pusara kedua orangtuanya: “𝘓𝘢𝘣𝘰 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘦𝘳𝘫𝘢𝘣𝘶 𝘰 𝘯𝘢𝘯𝘥é, 𝘰 𝘣𝘢𝘱𝘢, 𝘈𝘥𝘪 𝘢𝘨𝘪-𝘢𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘦𝘬𝘪 𝘫𝘢𝘣𝘶𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘬-𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘬!”
Hal ini membuat gadis pujaannya 𝘣𝘦𝘳𝘶 Sembiring Kembaren pun duluan dipersunting seorang jaksa Belanda di Kota Medan.
Kejujuran, keadilan, dan kasih menjadi pedoman hidupnya. Hal demikian juga diterapkannya mendidik adik-adiknya. Dia merupakan teladan, bukan hanya bagi adik-adiknya, tetapi juga bagi banyak orang. Sehingga dia pun sangat dicintai banyak orang.
* * * *
Amir, seorang sahabat Melayu Deli di Medan mengirim pesan kalau dia akan berkunjung dalam waktu dekat. Namun, seminggu kemudian, kembali sahabat tersebut mengirim pesan.
“Maaf, saya tidak bisa memenuhi janji karena sedang sakit. Namun, seorang sahabat yang tertarik dengan perdagangan 𝘨𝘶𝘭𝘢 (gula merah/aren) dan kembiri di 𝘬𝘶𝘵𝘢 kita akan datang. Dia 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢 Perangin-angin, seorang putera saudagar dari Karo Bingé. Kuharap 𝘬𝘢𝘮 dapat membantunya,” kata Amir dalam pesanya melalui sepucuk surat yang dikirim lewat para pedagang.
Selang beberapa hari kemudian, orang yang dimaksudkan oleh Amir telah tiba di kuta.
“𝘔𝘦𝘫𝘶𝘢𝘩-𝘫𝘶𝘢𝘩, 𝘪𝘮𝘱𝘢𝘭,” katanya kepada Ginting Manik 𝘮𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢.
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦 𝘯𝘪𝘯𝘢 Amir é 𝘦𝘳𝘴𝘶𝘳𝘢-𝘴𝘶𝘳𝘢 𝘯𝘨𝘦𝘯𝘦𝘩𝘦𝘯 𝘨𝘶𝘭𝘢 𝘳𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘪 𝘯𝘥𝘢𝘪,” sambungnya lagi.
Percakapanpun terjadi antara dua pria ini.
Seminggu kemudian setelah kunjungan pertamanya, Peranginangin kembali dan memulai aktifitas berdagangnya.
Di Medan, Peranginangin dan Amir, serta beberapa orang lainnya memiliki firma bernama Poetra Karo – Deli yang bergerak dalam bidang ekspor komoditi lokal Sumatera Timur ke Singapura dan ke seluruh Semenanjung Malaya. Kwalitas 𝘨𝘶𝘭𝘢 dan kemiri di Namo Kelawas sudah terkenal bagus, sehingga permintaan ekspor pun meningkat. Hal ini membuat pengusaha lainnya pun bergerak ke Namo Kelawas.
Untuk menjaga pasokan barang tetap terpenuhi, Peranginangin terpaksa harus sering datang ke Namo Kelawas.
Aktifitasnya yang kian sering di Kuta Namo Kelawas, serta tentunya Amir selalu menitipkan sesuatu untuk diberikan kepada Ginting Manik 𝘔𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢, membuat perangin-angin pun sering singgah di rumah Ginting Manik.
Satu sore, saat hendak kembali ke Medan, Peranginangin singgah di rumah Ginting Manik untuk menyampaikan titipan dari Amir. Saat itu Ginting Manik belum sampai di rumah, dan hanya 𝘣𝘦𝘳𝘶 Ginting 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘶𝘥𝘢 yang didapati di rumah. Peranginangin pun bergegas pergi tanpa masuk ke rumah dan hanya meninggalkan titipan Amir.
Itulah pertemuan pertama Perangin-angin 𝘔𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘢 dan 𝘣𝘦𝘳𝘶 Ginting Manik.
Dan, sebulan ke depan baru mereka bertemu kembali.
𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗯𝘂𝗻𝗴...
𝗦𝗲𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁𝗻𝘆𝗮 (𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟮) 𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁 𝗗𝗜 𝗦𝗜𝗡𝗜 https://www.facebook.com/share/p/ETzShqnhRGAUxUb1/?mibextid=oFDknk