22/04/2026
(2) Suamiku menjerit histeriz begitu aku memb4kar rumah dan juga tenda resepsi mewah yang aku biaya menggunakan jeri payahku, tapi akan dia pakai dengan wanita yang diam-diam dia nikahi sebelum menikahiku.
βAku hanya mengembalikanmu ke setelan pabrik, Mas. Setelan miskin. Karena sebelum memakai uwangku, sebutan m iskin pun terlalu mewah untuk pria sepertimu!β
ππππ
βBuaaarrrr!β
Dalam sekejap, api menguasai rumah maupun dekorasi pernikahan dan awalnya Melati kira untuknya.
Rumah hasil keringatnya bekerja selama sepuluh tahun menjadi TKW di Hongkong. Juga, dekor pernikahan nan mewahβbahkan tak sembarang orang di kampung mereka mampu menyewanya. Tentunya, lagi-lagi semua itu masih memakai uwang Melati. Sebab di setiap akan mengurus pengeluaran, Bagus selalu punya alasan agar Melati yang mengurusnya. Sampai-sampai, kini uwang Melati tak tersisa lagi.
βRumahku! Resepsiku!β Bagus menjeri t histeris, mencoba memadamkan api dengan tangan kosong, tapi hawa panas mem-ukulnya mundur.
Melati berdiri tegak di tengah kekacauan itu, jilbabnya berkibar tertiup angin panas. Tak sedikit pun ia menyesali keputusannya memb-akar semua itu. Terlebih ia sadar, pria seperti Bagus yang sudah mengandalkan agama dan derajat sebagai tameng dosa, tak mungkin mampu memberinya keadilan.
βLebih baik rumah hasil jeri payahku terb-akar. Karena kalau masih ada, kamu tak mungkin mampu mengembalikannya!β
βAku hanya mengembalikanmu ke setelan pabrik, Mas. Setelan mi-skin. Karena sebelum memakai uangku, sebutan mi-skin pun terlalu mewah untuk pria sepertimu!β
Pelan tapi pasti, setiap ocehan Melati membuatnya menoleh. Ia menatap wanita yang telah memb1ayai hidupnya, dengan am-arah menyala. Kedua tangannya mengepal kencang, bahkan Bagus nyaris kehilangan kesabaran kala Melati berkata, βLihat di pojok belakang rumah yang kamu bangun menggunakan keringatku!β
Napas Bagus memburu. Ia tahu, apa yang sedang Melati maksud. Itu sisa bangunan rumah lamanya yang memang berupa gubuk d-erita. Bahannya masih kayu tua dan sebagiannya sudah dimakan rayap.
βAku hanya memb4kar yang menggunakan uwangku. Rumah lama sekaligus rumah aslimu, tak sedikit pun aku s3ntuh.β
βJadi, kalau mau pamer rumah apa dekor, pam3rkan saja yang tersisa!β
βKarena kalau kamu berpikir aku kecintaan ke kamu, ... kamu salah besar!β
βTerlebih kamu sudah berani mengh1na ibuku. Sumpah demi apa pun, aku bisa lebih j4hat kepada siapa pun yang berani mengh1na ibuku!β
βJangankan kamu, orang paling disegani pun akan aku lawan jika mereka berani mengvsik Ibuku!β
Di bawah langit malam yang memerah karena api, Melati berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Dalam diam, Bagus yang sebenarnya sangat kesal kepada Melati, menatap kepergian wanita itu dengan tatapan penuh em0si.
Tak ada lagi kes0mbongan maupun keangkuhan yang menyertai seorang Bagus. Apalagi ketika kedua orang tuanya terbirit-birit menyelamatkan diri, keluar dari rumah megah yang sepenuhnya terb-akar.
Bagus pikir, Melati akan t-unduk kepadanya karena ia begitu yakin, Melati sangat mencintainya. Ditambah lagi, usia Melati tak lagi muda dan bisa disebut per4wan tua. Belum lagi, penampilan Melati yang Bagus yakini sudah bu_rik, pe0t, dan jauh dari layak, hingga wanita itu memilih memakai pakaian syari lengkap dengan cadar.
Namun yang ada, ... Bagus sungguh salah besar.
βLelah mengalah. Sekarang, giliran aku yang menentukan kapan kalian boleh bernapas dengan tenang, begitu kalian berani mengusikku apalagi mer3ndahkan ibuku!β batin Melati.
Tak lama kemudian, riuh k4bar keb4karan seketika mengguncang kesunyian dini hari di kampung mereka tinggal. Tetangga tergopoh-gopoh keluar melakukan pertolongan layaknya kehilangan akal.
βMel, itu ada kentongan bunyi. Rame pada bilang keb4karan. Apa yang keb4karan?β ucap Ibu Mirna yang tengah berusaha duduk dari tempat tidur.
Alih-alih menjawab, Melati yang baru sampai rumah justru menatap sendu sang ibu. Karena kecer0bohannya percaya sepenuhnya kepada Bagus, ibunya harus menghabiskan waktunya dengan komplikasi yang meny1ksa.
Kaki kanan ibu Mirna sudah nyaris bvsuk, dan sudah seharusnya ditangani secara intensif. Kaki itu harus di4mputasi dan f4talnya, Melati tak lagi memiliki uwang untuk membi4yainya.
Pesangon sekaligus bonus terakhir dari bosnya, Melati tr4nsfer semua ke Bagus. Ia hanya memegang untuk 0ngkos. Sementara meminta balik semua uwangnya kepada Bagus, rasanya mustahil kembali.
βAku benar-benar minta maaf, Bu. Aku salah. Tak seharusnya aku percaya kepada Bagus,β ucap Melati sesaat bersi mpuh di kaki ibu Marni.
βBagus? Kamu dan Bagus kenapa? Bagus mana? Kamu pulang sendirian? Sudah sana ke rumah Bagus. Kalian sudah menikah, Ibu bisa kok sendiri di rumah. Kamu enggak boleh begitu, Mel!β ucap Ibu Marni yang masih berpikir begitu positif seperti biasa.
Sungguh, Melati nyaris tak kuasa menahan air matanya. Bahkan andai tidak m4lu pada keb0dohannya, ia ingin melepas emosinya, menangis meraung-raung. Namun Melati sadar, itu tidak akan mengubah keadaan, apalagi membuat ibunya sehat bugar layaknya ketika ia tinggalkan, 10 tahun lalu. Yang ada, Melati akan terlihat lemah bahkan b0doh.
βDetik ini juga aku tegaskan, h4ram air mataku jatuh karena Bagus maupun semua keb0dohanku di masa lalu. Bismillah, ikhlas. Bismillah, Allah kasih aku rezeki dari segala arah!β batin Melati yang kemudian menyuruh ibu Marni tidur.
βTapi itu rame kebakaran-kebakaran, Mel.β
βUdah, santai saja Bu. Ibu tidur, jangan banyak pikiran biar g ula d4rah Ibu enggak naik. Kita aman kok, enggak mungkin keb4karan.β Melati terus meyakinkan, dan sebisa mungkin tak membuat ibunya kepikiran. Kesehatan ibu Marni bisa dr0p jika wanita itu kepikiran.
βMaafkan aku dengan segala keb0dohanku ya, Bu. Mulai sekarang, aku janji akan lebih fokus mengurus Ibu. Pokoknya, bagaimanapun caranya, Ibu harus segera ber0bat!β ucap Melati.
βKenapa kamu bicara begitu? Dan kenapa juga kamu nangis?β
Sementara itu di tempat berbeda, dan hanya berjarak sekitar seratus meter, Bagus layaknya patung yang menyaksikan ke b akaran rumahnya.
Kedua orang tua Bagus m eraung-raung di halaman rumah, mempermasalahkan tanggapan besannya yang dari pondok pesantren. Karena memang, keduanya dengan Bagus sama saja. Keduanya dengan sadar memilih meng o rbankan Melati.
βKatanya yang b a k ar si Melati. Lihat, botol bekas b ensinnya sebanyak ini keliling rumah. Pantas saja langsung ludes hangus. Untung saja tendanya bisa kita selamatkan walau hanya sebagian.β
Bisik-bisik tetangga yang sudah pasrah tak sibuk memadamkan api lagi, sampai ke telinga Bagus dan orang tuanya. Di saat itu juga, ibu Painemβdan tak lain wanita yang telah melahirkan Bagus, menatap Bagus dengan tatapan begitu t a j a m.
βKenapa Melati sampai melakukan ini? Bosan h i d u p wanita itu? Kenapa kamu hanya diam, Gus? Cepat l4porkan Melati ke p o l i s i!β ucap ibu Painem meledak-ledak. Tetangga yang masih berkumpul, langsung kaget.
ππππ
Cerita lengkapnya di KBM
Judul : Membuang Ustadz Benalu, Aku Dinikahi Pengacara Kaya