Nazir Billionaire

Nazir Billionaire

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Nazir Billionaire, Educational Research Center, Pontianak.

27/06/2022
13/05/2022

SARAN

Para pekerja sosial (sociopreneur) sebaiknya menjadikan masjid sebagai basis aktivitas. Kenapa masjid? Karena Masjid itu bukan warung kopi. Di warung kopi, kopinya habis rapat bubar. Kontrakan warkop habis, tempat ngumpul ambyar.

Masjid adalah kawasan masajidalillah, tempat sujud milik Allah. Serahkan tanah dan bangunannya kepada Allah. Maka Allah yang akan menjaganya. Sebagaimana Allah menjaga Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, Masjid Nabawi, Masjid Al-Azahar, Masjid Demak, dan Berjuta kawasan masjid di seluruh dunia. Ia akan abadi.

Dengan demikian, lewat masjid, energi yang kita keluarkan hari ini akan dapat dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Dan apa yang kita korbankan hari ini tak akan sia-sia di esok hari.

Cara Memulainya?

Carilah tanah sepetak, dirikan bangunan untuk sujud kepada Allah. Bangun tradisi berjamaah sedari awal bersama anggota komunitas.

Jaga terus keberjamaahan di masjid dengan bertemu terus menerus dalam aktivitas ritual mensujudkan diri kepada Sang Pencipta (shalat berjamaah), berkomunikasi yang tulus dengan sesama, saling asah dan saling asuh, serta melakukan kerja-kerja sosial bersama yang sederhana dulu.

Mulailah dari 4-5 orang dulu. Cari yang sehati. Cari yang mau dididik. Cari yang mau dipimpin. Itu lebih dari cukup daripada berpuluh orang tapi tak sehati, tak mau memperkaya pengetahuan, tinggi hati, tak mau dipimpin dan tak becus p**a diberi kepercayaan untuk memimpin.

Kelak, pelan-pelan bangunan yang sempit diperbesar. Kelak, pelan-pelan wilayah kerja yang kecil diperluas. Kelak, pelan-pelan sumber daya manusia yang sedikit diperbanyak.

Pelan-pelan aja. Ga usah terburu-buru. Ga perlu ambisius. Nikmati prosesnya. Jangan pusingkan dengan hasilnya. Hadapi semua kemudahan dan kesulitan yang datang.

Dengarkan mas**an dari orang-orang yang tulus. Segera laksanakan jika dapat mendukung aktivitas yang diselenggarakan. Perbanyak silaturahmi dan hindari sikap merasa benar dan merasa hebat sendiri.

Jangan hirau dengan ejekan-ejekan dari orang lain. Percayalah, mereka yang s**a mengejek, pasti tidak lebih baik daripada yang diejek.

Natas, nitis, netes. Natas, hanya mengharap ridho dari yang di Atas. Nitis, jadilah individu dan komunitas yang rendah hati dan membumi. Netes, lakukan terus menerus walau hanya setetes kebaikan.

Setelah itu, Insyaallah masjid yang kecil itu akan dibesarkan sama Allah. Tanah yang sepetak, akan diperluas sama Allah. Orang yang sedikit akan ditambah sama Allah. Pekerjaan yang rumit akan dipermudah sama Allah.

Demikianlah yang saya saksikan dari guru-guru saya yang membangun aktivitas sosial berbasis masjid. Seperti Gurunda KH. Luqmanulhakim dan H.M. Nur Hasan melalui Masjid Kapal Munzalan Indonesia. Abangnda Kiai Syahid dengan Masjid Kurir Langit-nya, Abi Rendy Saputra dan Bunda Nirwana Tawil dengan Masjid Berkahboxnya. Abangnda Kiai dr.Andhyka Sedyawan dengan Masjidbillionaire-nya, dan puluhan sahabat lainnya yang aktivitas sosialnya sedang terus bertumbuh di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Lombok, dsb.

**

Yok sama-sama belajar menjadikan masjid sebagai basis aktivitas sosial dalam Pelatnas Masjidbillionaire Angkatan VI. Kita akan belajar bareng dengan para praktisi social-preneur berbasis masjid yang berpengalaman di bidangnya. Hubungi link berikut ini www.linktr.ee/masjidenterprise.id untuk mendapatkan informasi tentang Pelatnas ini.

Berkahselaloe
Beni Sulastiyo

Photos from Nazir Billionaire's post 27/01/2022

UAS Kunjungi Pondok Tani Masjid Kapal Munzalan

Hari Ahad, 23 Januari 2022, UAS mengunjungi Pondok Tani Masjid Kapal Munzalan di Pontianak, Kalimantan Barat.

Saat ini Pondok Tani mengelola lahan wakaf seluas 3 hektar yang dijadikan sebagai sentra pertanian, peternakan, dan perikanan. Hasilnya akan disuplai untuk memenuhi kebutuhan santri-santri penghafal Al-Qur'an dengan harga yang murah, bahkan beberapa produk nantinya akan diberikan secara gratis kepada pondok-pondok pesantren.

Mari kita support Pondok Tani agar dapat memberikan kemaslahatan yang semakin luas kepada umat.

Bagi Abang Kakak dan Ayah Bunda yang ingin beramal jariah untuk memberikan dukungan kepada Pondok Tani Masjid Kapal Munzalan Indonesia, silahkan transfer ke rekening:

Bank Syariah Indonesia (BSI)
8332306236
atas nama BMM Pondok Tani.

Untuk konfirmasi, silahkan hubungi:
Beni Sulastiyo +62 821 5786 9955 (WA)

MASJID BILLIONAIRE 28/12/2021

MASJID BILLIONAIRE Masjid Billionaire adalah program dari lembaga Masjid Enterprise yang berfokus membantu Masjid dalam pengetahuan dan keterampilan terkait tata kelola Masjid

15/12/2021

PAGI BERTANI, SORE MENGAJI
LULUS, PUNYA MESIN CETAK UANG SENDIRI

Kira-kira begitu konsep pendidikan di Pondok Tani Masjid Kapal Munzalan. Konsep pendidikannya tidak memisahkan antara wilayah mencari rezeki dan mencari ilmu.

Selama ini lembaga pendidikan kita selalu memisahkan keduanya. Walhasil pemuda dan pemudi kita punya ilmu yang luas, tapi rezekinya sempit. Belajar belasan tahun, nyari uang sejuta-dua juta sebulan ga mampu. :-) Begitulah realitasnya.

Padahal uang sejuta dua juta bisa dicetak pake mesin sendiri. Nama mesin cetaknya "tanah dan air". Untuk mencetak uang sebesar 2 juta sebulan misalnya, kita hanya perlu mesin cetak sebesar 3 x10 meter buat memelihara 300 ekor ayam kampung pedaging.

Dengan pemeliharaan yang benar, dalam 3 bulan, berat satu ekor bisa sekilo. Sehingga hasilnya 300 kg.

Kalau sekilo dijual 40 ribu, duitnya jadi 12 juta. 2/3 nya buat bibit dan pakan. Masih ada sisa 4 juta. Kalau dibagi 3 bulan, berarti pendapatan sebulan bisa sejuta lebih.

Itu kalau 300 ekor. Kalau 600 ekor berapa? Lumayan hasilnya.

Trus kalau mati gimana?

Makanya belajar. Belajar cara beternak, supaya bisa menekan resiko. Belajarnya harus serius, pagi, siang malam. Supaya bisa paham sedetail-detailnya. Bukan se jam - dua jam saja, bukan sekedar teori-teori saja. Hehee.

Disinilah pentingnya mondok di Pondok Tani. Para santri akan diajari berbagai ilmu bertenak dan bercocok tanam, secara langsung. Harapannya kelak para santri bisa punya ilmu, lalu bisa punya mesin cetak uang sendiri.

Agar kelak "mesin cetak uangnya" bisa semakin berkembang, kita perlu menjadi manusia yang jujur, amanah dan terpercaya. Punya keahlianpun kalau s**a nipu, kalau ga amanah, kalau ga bisa dipercaya, buat apa. Ga bakalan ada orang yang mau menjalin kerjasama dengan kita.

Maka ga cukup hanya punya keterampilan bertani saja. Tapi harus ditambah dengan aktivitas mengaji. Agar iman kita bertambah tebal serta jiwa kita dapat menjadi tempat bersemainya mentalitas para manusia agung seperti mentalitasnya (akhlaq) Rasulullah.

Di Pondok Tani, kita akan belajar keduanya. Pagi bertani, sore mengaji. Keduanya aktivitas yang tidak dipisahkan. Jadi satu.

Trus kalau mondok di Pondok Tani, ada biayanya ga?

Ya ada! Biayanya 12 juta setahun. Sudah termasuk biaya makan, biaya nginap, biaya belajar, dsb.

Tapi biayanya bukan santri yang tanggung. Insyaallah Masjid Kapal Munzalan yang akan menanggung semua.

Asssikkan?

Ga hanya itu, kalau nanti para santri tekun dan ulet, para santri juga akan disediakan dukungan usaha. Mulai dari lahan, modal, bahkan bantuan pemasaran hasil produksi.

Kurang apalagi, coba?

Silahkan daftarkan anak atau saudara kita belajar di Pondok Tani.

Untuk informasi tentang program ini silahkan hubungi nomor Kak Nurul Hidayat: 0895700980156

Berkahselaloe

Beni Sulastiyo
Pelayan Masjid Kapal Munzalan Indonesia
Teman Belajar Nazir Billionaire

*bantushare ya...

15/12/2021

PAGI BERTANI, SORE MENGAJI
LULUS, PUNYA MESIN CETAK UANG SENDIRI

Kira-kira begitu konsep pendidikan di Pondok Tani Masjid Kapal Munzalan. Konsep pendidikannya tidak memisahkan antara wilayah mencari rezeki dan mencari ilmu.

Selama ini lembaga pendidikan kita selalu memisahkan keduanya. Walhasil pemuda dan pemudi kita punya ilmu yang luas, tapi rezekinya sempit. Belajar belasan tahun, nyari uang sejuta-dua juta sebulan ga mampu. :-) Begitulah realitasnya.

Padahal uang sejuta dua juta bisa dicetak pake mesin sendiri. Nama mesin cetaknya "tanah dan air". Untuk mencetak uang sebesar 2 juta sebulan misalnya, kita hanya perlu mesin cetak sebesar 3 x10 meter buat memelihara 300 ekor ayam kampung pedaging.

Dengan pemeliharaan yang benar, dalam 3 bulan, berat satu ekor bisa sekilo. Sehingga hasilnya 300 kg.

Kalau sekilo dijual 40 ribu, duitnya jadi 12 juta. 2/3 nya buat bibit dan pakan. Masih ada sisa 4 juta. Kalau dibagi 3 bulan, berarti pendapatan sebulan bisa sejuta lebih.

Itu kalau 300 ekor. Kalau 600 ekor berapa? Lumayan hasilnya.

Trus kalau mati gimana?

Makanya belajar. Belajar cara beternak, supaya bisa menekan resiko. Belajarnya harus serius, pagi, siang malam. Supaya bisa paham sedetail-detailnya. Bukan se jam - dua jam saja, bukan sekedar teori-teori saja. Hehee.

Disinilah pentingnya mondok di Pondok Tani. Para santri akan diajari berbagai ilmu bertenak dan bercocok tanam, secara langsung. Harapannya kelak para santri bisa punya ilmu, lalu bisa punya mesin cetak uang sendiri.

Agar kelak "mesin cetak uangnya" bisa semakin berkembang, kita perlu menjadi manusia yang jujur, amanah dan terpercaya. Punya keahlianpun kalau s**a nipu, kalau ga amanah, kalau ga bisa dipercaya, buat apa. Ga bakalan ada orang yang mau menjalin kerjasama dengan kita.

Maka ga cukup hanya punya keterampilan bertani saja. Tapi harus ditambah dengan aktivitas mengaji. Agar iman kita bertambah tebal serta jiwa kita dapat menjadi tempat bersemainya mentalitas para manusia agung seperti mentalitasnya (akhlaq) Rasulullah.

Di Pondok Tani, kita akan belajar keduanya. Pagi bertani, sore mengaji. Keduanya aktivitas yang tidak dipisahkan. Jadi satu.

Trus kalau mondok di Pondok Tani, ada biayanya ga?

Ya ada! Biayanya 12 juta setahun. Sudah termasuk biaya makan, biaya nginap, biaya belajar, dsb.

Tapi biayanya bukan santri yang tanggung. Insyaallah Masjid Kapal Munzalan yang akan menanggung semua.

Asssikkan?

Ga hanya itu, kalau nanti para santri tekun dan ulet, para santri juga akan disediakan dukungan usaha. Mulai dari lahan, modal, bahkan bantuan pemasaran hasil produksi.

Kurang apalagi, coba?

Silahkan daftarkan anak atau saudara kita belajar di Pondok Tani.

Untuk informasi tentang program ini silahkan hubungi nomor Kak Nurul Hidayat: 0895700980156

Berkahselaloe

Beni Sulastiyo
Pelayan Masjid Kapal Munzalan Indonesia

*bantushare ya...

15/12/2021

THE HAWNAN LEADER

Oleh: Ustaz Rendy Saputra

Kejadiannya sekitar dua tahunan yang lalu, pertengahan 2019, saya menemani Kiyai safar dakwah di Jakarta. Waktu itu beliau ada seminar, saya ikut, namun sorenya saya ada undangan komunitas, beliau dengan rendah hati malah gantian nemanin saya.

Waktu itu saya sudah akad untuk support gerakan beliau, gerakan Infaq Beras. Jadi sengaja bawa kiyai ke forum, siapa tahu dapat slot untuk ngisi, dan memperkenalkan infaq beras. Jadi saya edifikasi lah ke panitia, bahwa ada Kiyai saya nih, apa gak sekalian naik?

Ya di tahun itu ya, beliau ndak happening kayak sekarang. Raihan ya belum ada 850 ton beras kayak sekarang, belum ada Rubicon, belum ada vellfire yang jemput, ya jadi belum dianggap siapa-siapa.

Gak ada itu namanya duduk di barisan ustadz nasional, gak ada itu artis-artis mendekat, belum, belum ada waktu itu. Ya jadi gak dianggap.

Tapi waktu itu saya ingat betul, beliau gak masalah sama sekali kalo beliau gak dianggap. Beliau duduk dibelakang, pakai topi, mencatat bahasan yang disampaikan pembicara.

Tetap senyum, tetap good mood, menyapa banyak orang, bahagia, tanpa ada beban sama sekali. Saya yang malah beban waktu itu, kiyaiku kok gak dianggap. Tapi ya sudah lah, kiyaiku saja tenang.

***

Sebuah event dakwah besar dihelat, saya tahu Kiyai ngisi. Di forum itu bertaburan ustadz nasional, kiyai ku follower IG nya paling dikit, dianggap ustadz daerah, jadi ya forumnya panel. Kiyai cuma dikasih waktu 15 menit bicara di panggung.

Da'i yang lain dikasih waktu sejam, sejam setengah, kami para santri sedikit keki sih waktu itu, kenapa kok Kiyai kami kayak gak dianggap. Tapi beliau tetap perform, gak marah, gak kesal, gak menunjukkan aura kekecewaan sama sekali.

Tetap menyapa sahabat, tetap bahagia, tetap tenang, tetap menebar aura positif. MasyaAllah.

Saya sempat emosi dan kepancing juga,

"Kiyai, afwan ini orang gak kenal antum, gak tahu sepak terjang antum di Kalimantan Barat. Kesel juga saya kiyai, masak antum dibeginikan."

Beliau dengan tenang dan tulus,

"Ya gak papa, memang kita bukan siapa-siapa kok, gak papa direndahkan, ya memang kita rendah, Hamba Allah, hina. Ndak papa."

Ndak papa nya, ndak papa beneran. Itu yang saya ingat.

***

Tepatnya bulan lalu, saya menemani safar dakwah Kiyai di Sulawesi Selatan. Alhamdulillah diijinkan jadi supir, nyupirin kiyai, bahkan ditugaskan sekamar sama kiyai, khidmat. Mijetin, ngurusin kebutuhan kiyai, jaga jadwal aktivitas kiyai.

Btw, Terima kasih nih sama Wakil Pengasuh Indonesia Timur, Kiyai Syahid Fii Sabilillah , yang udah bolehin saya nyupirin kiyai dan khidmat.

Saya tahu betul Kiyai lelah, dari subuh SMK sampai tengah malam non stop. Tapi beliau selalu tersenyum dalam lelahnya, selalu menyapa hangat jejaring PASKAS yang ada. Berkenan mendoakan, bikin video dukungan untuk tiap chapter. Satu persatu.

Saya iseng nanya kiyai, "yai, gak capek kah? Udah yai, bilang aja break ke panitia, balik ke hotel dulu."

Kiyai langsung jawab,

"Jangan, ini saudara kita PASKAS jauh-jauh datang dari mana-mana, ke Barru ini, mereka juga pasti dananya terbatas, tapi mau berkorban. Maka tugas saya melayani, membesarkan hati, mendoakan, biarlah saya layani teman-teman."

Mellow saya...

***

Suatu momen, Kiyai memutuskan berkunjung ke Balai Sajinya Kak Nirwana Tawil di Balikpapan. Balai Saji ini entitas Prasmanan Gratis untuk masyarakat. Siapapun boleh makan.

Kiyai langsung spontan minta apron, lalu melayani tamu yang datang satu persatu. Dipake terus sampe saat makan.

Beliau serius ngambilin makanan satu persatu. Membahagiakan tamu yang datang, menyemangati ibu-ibu yang masak. Haru sekali.

Balai Saji bukan Yayasan Kiyai, beliau punya gerakan Infaq Beras, tapi mau merendah ngedukung gerakan orang lain.

Kiyai selalu bilang ke saya,

"Saya ini pengasuh, saya Ayah dari semua anak-anak gerakan, saya Abang dari antum semua. Mau beda bendera, beda logo, beda yayasan, sama saja amal sholih, insyaAllah membesar bertumbuh bersama."

Meleleh saya.

***

Saya s**a bertanya ke Kiyai, gimana cara Kiyai mimpin PASKAS, apa rahasia bisa menggerakkan 850 ton beras setiap bulannya, gimana kok bisa ngasuh Masjid Kapal Munzalan yang happening dimana-mana.

Saya s**a nanya cara, tips, strategi, tapi jawaban yang bikin saya hancur berkeping-keping adalah ,

"Saya juga tak tahu, macem mane semua ini terjadi, ndak bisa masuk di akal, akal sudah saya sujudkan jauh-jauh hari. Semua ini Allah saja yang berkehendak, Allah yang hebat, bukan saya yang hebat."

Itulah kepemimpinan hawnan yang saya rasakan nyata. Atas semua pencapaian kasat mata yang ada,

Hampir seratus unit kendaraan wakaf,
Belasan cabang Masjid Munzalan,
Puluhan cabang Baitul Maal,
Seratu lebih chapter gerakan PASKAS,
Belas milliar ziswaf per bulan,
Ratusan ribu penerima manfaat beras,
Ratusan hektar tanah wakaf,
Ratusan M asset wakaf,

Kiyai tetap tidak pernah merasa bahwa itu adalah kerja kepemimpinan beliau. Nggak sama sekali.

***

Beliaulah Kiyai Luqmanulhakim

Kiyai kami yang setia membesarkan hati santrinya setiap pagi di SMK.

Kiyai kami yang selalu penuh maklum atas khilaf dan salah santri-santrinya.

Kiyai kami yang selalu bersangka baik atas santri-santrinya, ditengah beliau juga tahu aib besar masing-masing santrinya.

Kiyai kami yang selalu mendoakan baik santri-santrinya, dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk memperbaiki kehidupan setiap HambaNya.

Kiyai yang malah memutuskan menolak undangan panggung-panggung besar, memutuskan untuk turun panggung, malah memilih masuk ke pedalaman, hulu sungai, kep**auan terpencil, mengurusi ratusan guru ngaji pedalaman.

Kiyai yang gak pernah kecewa walau direndahkan. Gak pernah marah walau ditunjuk-tunjuk, gak pernah dendam walau disakiti, memutuskan merasa menjadi Hamba Allah saja, ketimbang disebut aneka ragam predikat.

Kiyai yang selalu merasa dirinya bukan siapa-siapa, gak melakukan apa-apa, maka selalu beliau ulang-ulang "We Are Nothing, Allah is everything".

Kiyai Hawnan, Kiyai Kepemimpinan Lembah.

URS - Coach Masjid Billionaire
www.masjidbillionaire.id

Daftar Seminar ๐Ÿ‘‡
bit.ly/backtomasjid

# # #

Apa itu hawnan?

ูˆูŽุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ูŠูŽู…ู’ุดููˆู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุงูŽุฑู’ุถู ู‡ูŽูˆู’ู†ู‹ุง ูˆู‘ูŽุงูุฐูŽุง ุฎูŽุงุทูŽุจูŽู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฌูฐู‡ูู„ููˆู’ู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ุณูŽู„ูฐู…ู‹ุง

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Q.S Al-Furqan [25] : 63

15/12/2021

Seminar Nasional Kemasjidan ๐Ÿ•‹
Segera Daftar โšกโšก
https://bit.ly/backtomasjid

Terbatas untuk 1000 peserta via ZOOM meeting ๐ŸŒ

13/12/2021

PERBEDAAN PESANTREN DENGAN SEKOLAH BERASRAMA (BOARDING SCHOOL)

Kementerian Agama RI mencatat, pada tahun 2021 terdapat 4.175.531 santri. Jutaan santri itu belajar di 27.722 pesantren yang ada di Indonesia. Dari empat jutaan santri itu, yang 1,4 juta diantaranya adalah santri mukim.

Pesantren adalah lembaga pendidikan khas nusantara. Walaupun termasuk lembaga pendidikan, tapi pesantren sangatlah berbeda jauh berbeda dengan sekolah berasrama (boarding school).

Salah satu faktor yang membedakan antara pesantren dan sekolah adalah keberadaan pemimpinnya. Di Pesantren, satu pemimpinnya tinggal di dalam kawasan Pesantren. Di kawasan itu, para pemimpin pesantren, tidaklah tinggal sendiri, namun bersama istri, anak dan keluarganya. Di samping rumah para pemimpin itu biasanya terdapat p**a rumah pengelola pesantren yang lain, seperti rumah ustaz senior.

Sementara pemimpin di sebuah sekolah, termasuk boarding school, biasanya tidak bermukim di area lembaga pendidikan. Yang bermukim di areal asrama biasanya hanyalah para pengajar dan atau kepala asrama. Kalaupun pemimpin sekolah tinggal di areal asrama, biasanya ia tidak tinggal bersama istri dan keluarganya

Peran Pemimpin kharismatik di dalam pesantren juga berbeda jauh dengan peran seorang kepala sekolah di sekolah berasrama. Salah satu aspek yang paling menonjol dari pemimpin di sebuah pesantren adalah para pemimpin di pesantren berperan layaknya seorang ayah. Karena berperan sebagai seorang ayah, para pemimpin pesantren sering dipanggil dengan panggilan Kiai, Buya, Abah, atau pengasuh. Sebagai seorang ayah, para pemimpin pesantren mengurusi anak asuhnya selama selama 24 jam sehari. Peran sebagai pengasuh ini biasanya dibantu oleh para santri senior dan ustaz/ ustazah.

Sementara di sekolah berasrama, biasanya tidaklah demikian.

Selain itu di pesantren, kawasan pebelajaran antara santri perempuan dan santri laki-laki biasanya selalu disetting terpisah. Baik aktivitas pendidikannya, aktivitas ibadah, maupun asramanya.

Pemisahan itu dilakukan dengan sangat ketat, misalnya dengan pembatas tembok yang tinggi dan dilengkapi p**a dengan gardu pengaman di bagian pintu masuknya dengan penjagaan selama 24 jam.

Di beberapa pesantren pemisahan ini seringkali dilakukan dalam jarak yang sangat jauh, beda desa, beda kecamatan, bahkan beda kabupaten.

Dengan karakter pesantrn seperti ini, resiko terjadinya pelanggaran norma sosial antara laki-laki dan perempuan, baik antara para santri, maupun yang dilakukan oleh pemimpin pesantren atau para pengajar, sangatlah kecil.

Kalaupun ada kasus-kasus seperti itu, biasanya kasus itu terjadi pada pesantren yang baru, atau pada pesantren informal yang dikelola oleh individu-individu yang tidak pernah mondok di Pesantren sebelumnya. Individu-individu itu lalu menerapkan sistem pembelajaran yang diadopsi dari Barat atau dari kawasan-kawasan yang mengembangkan aliran-aliran eksklusif yang nyeleneh.

Jadi sekali lagi, jangan ragu mendidik anak-anak kita di pesantren. Terlebih di pesantren-pesantren tua, pesantren yang umurnya jauh lebih tua dari umur negara kita. Di pesantren, insyaallah putra dan putri kita akan lebih aman-terjaga.

Tapi di pesantren lho ya, bukan Di boarding school kayak boarding school yang lagi viral ithuu . :-)

Berkahselaloe,
Beni Sulastiyo
Santri Iqro 5, Masjid Kapal Munzalan Indonesia

13/12/2021

HAWNAN LEADER, PERSPEKTIF BARU KEPEMIMPINAN DI ERA PANDEMI KEPALA BATU...

Temen-temen aktivis sosial dan para pengusaha muda, yang ingin belajar KEPEMIMPINAN, saya sarankan berguru dengan Guru saya ini, ustaz Rendy Saputra. Perspektif pengembangan kepemimpinan yang beliau sampaikan sangat berbeda dengan perspektif kepemimpinan yang dibangun oleh cendikiawan/praktisi berbasis keilmuan barat-ribawi.

Dengan perspektif kepemimpinan yang baru ini, konsep pengembangan jiwa kepemimpinan bisa lebih mudah diinstalasi dalam tatanan berpikir masyarakat nusantara yang sudah lelah dicekoki dengan mindset-mindset para dewa.

Dan yang terpenting, perspektif baru ini insyaallah dapat memecahkan kebekuan berpikir di era pandemi kepala batu 30 tahun terakhir. :-)

Di bawah, saya lampirkan tulisan beliau yang berjudul Hawnan Leadership. Pasti bermanfaat!

Berkahselaloe..

***

HAWNAN LEADERSHIP
By Ustadz Rendy Saputra

14 abad yang lalu dunia dikejutkan oleh kepemimpinan Nabiullah Muhammad shalallahu'alaihi wassalam. Dalam kurun waktu 20 tahunan lebih sedikit, Beliau berhasil membangun komunitas kaum muslimin yang nantinya efektif memimpin dunia.

Tak berselang kurang dari 10 tahun sepeninggalan Nabi, peradaban Islam membebaskan puluhan juta kilometer persegi di area Romawi dan Persia. Sebuah kejutan besar, karena peradaban bersinar ini dimulai dari area gurun, tak bersumber daya, tertinggal dan tidak diperhitungkan.

Bangsa Romawi dan Persia itu terhentak kaget. Mereka kira pembebasan yang dilakukan oleh kaum muslimin itu dikomandoi oleh istana megah dan penuh persenjataan, ternyata berawal dari sebuah masjid yang sederhana. Bahkan tanpa atap, tanpa kubah, tanpa ornamen apa-apa.

Mereka kira kaum muslimin dipimpin oleh seorang Raja yang bersinggasana emas, berjubahkan sutra, duduk diatas permadani. Ternyata kaum Muslimin sedari awal dipimpin oleh Nabiullah Muhammad shallallahu'alaihiwassalam. Sosok yang bisa ditemui siapa saja, sosok yang tak bersinggasana, sosok yang hidup bersama orang lemah.

Pun setelah khalifah kedua Umar bin Khattab RA, Umar Radhiyallahu'anhu juga tetap sederhana, memberi komando ke seluruh kaum muslimin dari bawah pelepah kurma atap Masjid Nabawi. Sesederhana itu para pembebas dunia ini.

Inilah Hawnan Leadership, adalah manifestasi dari karakter seorang Hamba,

ูˆูŽุนูุจูŽุงุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ูŠูŽู…ู’ุดููˆู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุงูŽุฑู’ุถู ู‡ูŽูˆู’ู†ู‹ุง ูˆู‘ูŽุงูุฐูŽุง ุฎูŽุงุทูŽุจูŽู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฌูฐู‡ูู„ููˆู’ู†ูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ุณูŽู„ูฐู…ู‹ุง

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. --- Q.S Al-Furqan [25] : 63

Mari kita berfokus ke kalimat ini :

ูŠูŽู…ู’ุดููˆู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุงูŽุฑู’ุถู ู‡ูŽูˆู’ู†ู‹ุง

Mereka berjalan diatas muka bumi ini dengan rendah hati. Hawnan. Ha wa na. Tenang, anteng, gak petantang petenteng.

Inilah refleksi kepemimpinan yang kemudian dijalankan Nabiullah Muhammad Shallallahu'alaihi wassalam, dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin setelahnya.

Seorang pemimpin yang bersedia memberikan orang buta. Seorang pemimpin yang memikul gandum untuk ummatnya. Seorang pemimpin yang selalu hadir di Masjid Nabawi, mendengarkan keluh kesah warganya. Seorang pemimpin yang gemar bermusyawarah, merendah, berkenan menyimak pendapat saudaranya.

Pada kepemimpinan merendah inilah, terhimpun berbagai kemuliaan. Berhimpunnya dukungan, berhimpunnya sumber daya, berhimpunya keberkahan.

14 abad yang lalu, kepemimpinan merendah ini terbukti berhasil memimpin dunia, menjadi sinar kepemimpinan peradaban, yang akhirnya menarik Romawi Timur dan Persia untuk masuk dalam ruang pelayanan kaum muslimin.

***

Hari ini jargon leadership terkadang mendewa-dewakan ketinggian. Bos yang serba bisa, bos yang mulia, bos yang tidak ada salahnya, bos yang harus dituruti. Kepemimpinan dengan basis ego tinggi ini sebenarnya biang dari segala masalah.

Owner bisnis yang sok tahu, sulit mendapatkan mas**an. Dunia yang sudah berubah pun terus disangkal. Imajinasinya masih berkutat di masa lalu. Dikasih mas**an gak bisa.

Pemimpin bisnis yang meninggi susah dijangkau. Terkadang gak menjejak ke bumi. Tim dibawah sudah babak belur, imajinasinya masih saja melayang-layang gak menjejak, akibat jarang turun ke bawah, merasa spesial, merasa istimewa, sehingga hidup dalam penjara eksklusifitas. Kehilangan data valid.

Pengusaha yang merasa tinggi akan kehilangan kerendah hatian. Suasana hubungan yang humble akan sulit terasa. Ini yang akan membuat sumber daya menjauh, dukungan menjauh, karena aroma arogan dan dominan ketinggian egonya tercium keras di para mitra.

Pemimpin yang memutuskan hidup di puncak gunung memang akan tidak punya apa-apa dan kesepian. Di puncak gunung memang tidak ada apa-apa. Oksigen kurang, tumbuhan jarang, apalagi pemukiman. Pemimpin ego puncak akan nestapa.

Berbeda dengan Pemimpin Hawnan, pemimpin yang memutuskan hidup di lembah rendah. Pemimpin seperti ini akan penuh sumber daya, penuh saya dukung, penuh pertemanan. Karena di lembahlah semuanya terhimpun.

Dalam lembah yang rendah itu, air di gunung pun jatuh ke bawah, binatang gemuk pun hadir ke lembah, minum ke sungai. Tanaman pun subur-subur, penuh biji-bijian dan buah-buahan.

Inilah kunci rahasia Hawnan Leadership. Sudah saatnya kita dengungkan kembali konsep kepemimpinan Nabi yang melembah, bukan memuncak.

***

Masjid Kapal Munzalan bisa jadi salah satu masjid modeling terbaik di negeri ini. Dengan raihan ziswaf 10M lebih per bulan, dan memiliki jaringan Baitul Maal serta gerakan di lebih dari 100 kota, saya insyaAllah gak berlebihan jika menobatkan masjid ini sebagai masjid terdepan di negeri ini.

Masjid yang kemudian memotori hadirnya 850 beras bagi ribuan pondok penerima manfaat dari Infaq Beras. Gerakannya ya dimulai dari Masjid ini.

Dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun, Masjid Kapal Munzalan menjelma menjadi "Masjid Franchise" pertama yang ada di negeri ini. Tiba-tiba ada puluhan titik Masjid Kapal Munzalan di negeri ini. Jakarta, Bogor, Jogja, Balikpapan, Bone, Pinrang, Pare-pare, dan menyusul di berbagai kota lainnya.

Jika kita mencoba untuk bermukim di Masjid Kapal Munzalan Pontianak dalam dua pekan saja, setidaknya hampir setiap pekan hadir wakaf tanah dan wakaf kendaraan. Non stop. Silih berganti.

Maka cobalah lihat bagaimana Kepemimpinan Masjid Kapal Munzalan ini dijalankan. Silakan disimak bagaimana rendah hatinya sang Founder Masjid, Tok Ya, Abangda Muhammad Nur Hasan . Yang saking rendah hatinya menyerahkan pengasuhan masjid yang beliau wakafkan ke Kiyai Luqman

Dan lihatlah Kiyai Luqmanulhakim, yang dengan kerendah hatiannya meleburkan gerakan infaq berasnya ke Masjid Munzalan. Meleburkan gerakannya, meleburkan dirinya, bahkan ridho menurunkan nama Ashabul Yamin sebagai gerakan awal beliau.

Melihat kepemimpinan Masjid Munzalan, Anda hanya menemukan kerendah hatian dari para pemimpinnya, itu yang membuat mereka besar. Mereka adalah pemimpin yang memutuskan melembah, mendengarkan, menghargai, memuliakan orang lain. Jauh dari tabiat meninggi.

***

InsyaAllah senin malam 13 des ini saya akan mengisi Evapora Talk Series 28, dengan topik Hawnan Leadership.

InsyaAllah pada sesi zoominar senin malam nanti, semoga Allah mengijinkan saya untuk membedah konsep kepemimpinan hawnan ini. Sebuah karakter kepemimpinan yang seharusnya dimiliki oleh seorang Hamba Allah.

Disaat dunia mendengungkan Aku Hebat, Aku Bisa, Aku Segala-galanya, ijinkan esok kita akan sama-sama jujur melihat ke Al Quran, bahwa merendah adalah jalan kemuliaan, bukan meninggi.

Bagi sahabat yang berkenan untuk menghadiri zoominar senin malam nanti, silakan simak kolom komen ya.

URS - Mentor Quranic Management Series

12/12/2021

MASAJADILLAH, PLATFORM BAGI NAZIRBILLIONAIRE

Masajidallah adalah tempat sujud kepada Allah. Tempat sujud itu bukan sekedar di satu bangunan saja, tapi bisa mencakup berbagai bangunan dan aset yang hak miliknya diserahkan kepada Allah.

Di tempat-tempat milik Allah itulah kita bisa menghancurkan kesombongan. Kesombongan atas kepemilikan harta, kesombongan atas kepemilikan kuasa.

Saat kesombongan surut, potensi energi manusiapun bertumbuh, lalu berhimpun dalam pusaran energi illahiah yang tak berbatas.

Masajidallah bukan sekedar sebuah bangunan berkubah (baitullah), tapi juga bangunan yang dapat mengkonsolidasikan energi berpikir ummat (baitul Quraan), bangunan yang dapat mengkonsolidasikan harta energi sosial ummat (baitulmaal), dan bangunan untuk mengkonsolidasikan aktivitas ekonomi masyarakat (baitulmuamalah).

Seluruh sumber yang terkonsolidasi kemudian ditahan (waqf) kepemilikanya, dari kepemilikan pribadi kepada kepemilikan Sang Pemilik Sejati, Allah Azza wajalla. Sementara yang mengelolanya adalah nazir.

Karena ditahan, tidak dijual dan tidak dipindahtangankan, maka sumber-sumber itu akan abadi. Karena nazir hanya berfokus pada pengelolaan, maka sumber-sumber itu kemudian bertumbuh. Sumber-sumber kemakmuran yang telah bertumbuh itu kemudian diwariskan pengelolaannya kepada anak cucu dan generasi selanjutnya. Yang diwariskan adalah pengelolaannya, bukan kepemilikannya.

Anak cucu dan generasi selanjutnya akan fokus mengelola dan menumbuhkembangkan sumber-sumber itu, lalu bertumbuh. Maka anak cucu kita dan generasi selanjutnya akan berada pada kondisi yang lebih makmur dari generasi sebelumnya.

Inilah yang disebut dengan "kemakmuran yang terus bertumbuh". Sebuah kondisi masyarakat yang dari hari ke hari dari waktu ke waktu dan masa ke masa, dapat semakin makmur berkah berlimpah.

Pertanyanya, dari mana kita memulainya? Lalu siapa yang memulainya?

Pertanyaan pertama, sudah dijawab di bagian awal tulisan. Jawabannya adalah dimulai dari MASJID. Sementara pertanyaan kedua dimulai dari individu yang mau berperan sebagai NAZIR PERINTIS. Dari nazir perintis ini, insyallah nazir-nazir selanjutnya akan mengelola sumber-sumber kemakmuran yang lebih banyak dan lebih bermanfaat.

Lalu bagaimana menjadi Nazir Perintis? Yok belajar bareng di WAG NAZIRBILLIONAIRE lewat link berikut ini:

https://bit.ly/nazirbillionaire1

**

Sahabat-sahabat sekalian,
Dunia ini bukanlah tempat tinggal. Tapi tempat meninggal. Maka, mari kita pastikan sebelum kita semua meninggal, kita semua dapat meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Berkahselaloe
Beni Sulastiyo
Temanbelajar Nazirbillionaire

Ajak keluarga dan sahabat kita bergabung dalam grup pembelajaran yang Insyaallah sangat bermanfaat ini..

Want your school to be the top-listed School/college in Pontianak?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Website

Address


Pontianak
78112