15/12/2021
THE HAWNAN LEADER
Oleh: Ustaz Rendy Saputra
Kejadiannya sekitar dua tahunan yang lalu, pertengahan 2019, saya menemani Kiyai safar dakwah di Jakarta. Waktu itu beliau ada seminar, saya ikut, namun sorenya saya ada undangan komunitas, beliau dengan rendah hati malah gantian nemanin saya.
Waktu itu saya sudah akad untuk support gerakan beliau, gerakan Infaq Beras. Jadi sengaja bawa kiyai ke forum, siapa tahu dapat slot untuk ngisi, dan memperkenalkan infaq beras. Jadi saya edifikasi lah ke panitia, bahwa ada Kiyai saya nih, apa gak sekalian naik?
Ya di tahun itu ya, beliau ndak happening kayak sekarang. Raihan ya belum ada 850 ton beras kayak sekarang, belum ada Rubicon, belum ada vellfire yang jemput, ya jadi belum dianggap siapa-siapa.
Gak ada itu namanya duduk di barisan ustadz nasional, gak ada itu artis-artis mendekat, belum, belum ada waktu itu. Ya jadi gak dianggap.
Tapi waktu itu saya ingat betul, beliau gak masalah sama sekali kalo beliau gak dianggap. Beliau duduk dibelakang, pakai topi, mencatat bahasan yang disampaikan pembicara.
Tetap senyum, tetap good mood, menyapa banyak orang, bahagia, tanpa ada beban sama sekali. Saya yang malah beban waktu itu, kiyaiku kok gak dianggap. Tapi ya sudah lah, kiyaiku saja tenang.
***
Sebuah event dakwah besar dihelat, saya tahu Kiyai ngisi. Di forum itu bertaburan ustadz nasional, kiyai ku follower IG nya paling dikit, dianggap ustadz daerah, jadi ya forumnya panel. Kiyai cuma dikasih waktu 15 menit bicara di panggung.
Da'i yang lain dikasih waktu sejam, sejam setengah, kami para santri sedikit keki sih waktu itu, kenapa kok Kiyai kami kayak gak dianggap. Tapi beliau tetap perform, gak marah, gak kesal, gak menunjukkan aura kekecewaan sama sekali.
Tetap menyapa sahabat, tetap bahagia, tetap tenang, tetap menebar aura positif. MasyaAllah.
Saya sempat emosi dan kepancing juga,
"Kiyai, afwan ini orang gak kenal antum, gak tahu sepak terjang antum di Kalimantan Barat. Kesel juga saya kiyai, masak antum dibeginikan."
Beliau dengan tenang dan tulus,
"Ya gak papa, memang kita bukan siapa-siapa kok, gak papa direndahkan, ya memang kita rendah, Hamba Allah, hina. Ndak papa."
Ndak papa nya, ndak papa beneran. Itu yang saya ingat.
***
Tepatnya bulan lalu, saya menemani safar dakwah Kiyai di Sulawesi Selatan. Alhamdulillah diijinkan jadi supir, nyupirin kiyai, bahkan ditugaskan sekamar sama kiyai, khidmat. Mijetin, ngurusin kebutuhan kiyai, jaga jadwal aktivitas kiyai.
Btw, Terima kasih nih sama Wakil Pengasuh Indonesia Timur, Kiyai Syahid Fii Sabilillah , yang udah bolehin saya nyupirin kiyai dan khidmat.
Saya tahu betul Kiyai lelah, dari subuh SMK sampai tengah malam non stop. Tapi beliau selalu tersenyum dalam lelahnya, selalu menyapa hangat jejaring PASKAS yang ada. Berkenan mendoakan, bikin video dukungan untuk tiap chapter. Satu persatu.
Saya iseng nanya kiyai, "yai, gak capek kah? Udah yai, bilang aja break ke panitia, balik ke hotel dulu."
Kiyai langsung jawab,
"Jangan, ini saudara kita PASKAS jauh-jauh datang dari mana-mana, ke Barru ini, mereka juga pasti dananya terbatas, tapi mau berkorban. Maka tugas saya melayani, membesarkan hati, mendoakan, biarlah saya layani teman-teman."
Mellow saya...
***
Suatu momen, Kiyai memutuskan berkunjung ke Balai Sajinya Kak Nirwana Tawil di Balikpapan. Balai Saji ini entitas Prasmanan Gratis untuk masyarakat. Siapapun boleh makan.
Kiyai langsung spontan minta apron, lalu melayani tamu yang datang satu persatu. Dipake terus sampe saat makan.
Beliau serius ngambilin makanan satu persatu. Membahagiakan tamu yang datang, menyemangati ibu-ibu yang masak. Haru sekali.
Balai Saji bukan Yayasan Kiyai, beliau punya gerakan Infaq Beras, tapi mau merendah ngedukung gerakan orang lain.
Kiyai selalu bilang ke saya,
"Saya ini pengasuh, saya Ayah dari semua anak-anak gerakan, saya Abang dari antum semua. Mau beda bendera, beda logo, beda yayasan, sama saja amal sholih, insyaAllah membesar bertumbuh bersama."
Meleleh saya.
***
Saya s**a bertanya ke Kiyai, gimana cara Kiyai mimpin PASKAS, apa rahasia bisa menggerakkan 850 ton beras setiap bulannya, gimana kok bisa ngasuh Masjid Kapal Munzalan yang happening dimana-mana.
Saya s**a nanya cara, tips, strategi, tapi jawaban yang bikin saya hancur berkeping-keping adalah ,
"Saya juga tak tahu, macem mane semua ini terjadi, ndak bisa masuk di akal, akal sudah saya sujudkan jauh-jauh hari. Semua ini Allah saja yang berkehendak, Allah yang hebat, bukan saya yang hebat."
Itulah kepemimpinan hawnan yang saya rasakan nyata. Atas semua pencapaian kasat mata yang ada,
Hampir seratus unit kendaraan wakaf,
Belasan cabang Masjid Munzalan,
Puluhan cabang Baitul Maal,
Seratu lebih chapter gerakan PASKAS,
Belas milliar ziswaf per bulan,
Ratusan ribu penerima manfaat beras,
Ratusan hektar tanah wakaf,
Ratusan M asset wakaf,
Kiyai tetap tidak pernah merasa bahwa itu adalah kerja kepemimpinan beliau. Nggak sama sekali.
***
Beliaulah Kiyai Luqmanulhakim
Kiyai kami yang setia membesarkan hati santrinya setiap pagi di SMK.
Kiyai kami yang selalu penuh maklum atas khilaf dan salah santri-santrinya.
Kiyai kami yang selalu bersangka baik atas santri-santrinya, ditengah beliau juga tahu aib besar masing-masing santrinya.
Kiyai kami yang selalu mendoakan baik santri-santrinya, dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk memperbaiki kehidupan setiap HambaNya.
Kiyai yang malah memutuskan menolak undangan panggung-panggung besar, memutuskan untuk turun panggung, malah memilih masuk ke pedalaman, hulu sungai, kep**auan terpencil, mengurusi ratusan guru ngaji pedalaman.
Kiyai yang gak pernah kecewa walau direndahkan. Gak pernah marah walau ditunjuk-tunjuk, gak pernah dendam walau disakiti, memutuskan merasa menjadi Hamba Allah saja, ketimbang disebut aneka ragam predikat.
Kiyai yang selalu merasa dirinya bukan siapa-siapa, gak melakukan apa-apa, maka selalu beliau ulang-ulang "We Are Nothing, Allah is everything".
Kiyai Hawnan, Kiyai Kepemimpinan Lembah.
URS - Coach Masjid Billionaire
www.masjidbillionaire.id
Daftar Seminar ๐
bit.ly/backtomasjid
# # #
Apa itu hawnan?
ููุนูุจูุงุฏู ุงูุฑููุญูู
ูฐูู ุงูููุฐููููู ููู
ูุดููููู ุนูููู ุงููุงูุฑูุถู ููููููุง ูููุงูุฐูุง ุฎูุงุทูุจูููู
ู ุงููุฌูฐูููููููู ููุงููููุง ุณูููฐู
ูุง
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Q.S Al-Furqan [25] : 63