MI Ma'arif 1 Babadan

MI Ma'arif 1 Babadan Madrasah Ibtidaiyah dengan prgram unggulan kelas alam, pesantren dan keterampilan

Ngaji WagimanOleh: Dahlan IskanRabu 18-01-2023SETELAH kaya dan anaknya lulus SMA khusus menghafal Quran, Wagiman memutus...
18/01/2023

Ngaji Wagiman

Oleh: Dahlan Iskan
Rabu 18-01-2023

SETELAH kaya dan anaknya lulus SMA khusus menghafal Quran, Wagiman memutuskan untuk mulai belajar mengaji.

Guru ngajinya, anaknya sendiri. "Kalau panggil guru dari luar saya malu. Sudah tua baru belajar membaca Quran," ujar Wagiman, kini berusia 50 tahun.

Wagiman hanya lulus SD. Kala itu ia harus langsung bekerja. Serabutan. Ia harus membantu ibunya menghidupi tiga anak. Ayahnya hidup sangat miskin. Ia jadi buruh di sawah. Mencangkul, menanam padi, membajak, angon sapi, dan kambing.

Umur 16 tahun, Wagiman merantau ke Jakarta. Kerja apa saja. Sampai akhirnya berhasil jadi orang kaya: lahir batin.

Setelah belajar mengaji itu, Wagiman justru ingin bikin madrasah. Juga khusus untuk menghafal Quran. Ia memilih berafiliasi dengan pondok tempat anaknya sekolah dulu: Yanbu'ul Qur'an. Kudus. Yang kampusnya tidak jauh dari Menara Kudus.

Maka madrasah yang didirikan Wagiman itu diberi nama Yanbu'ul Qur'an 1 Pati. Lokasinya di km 5 antara Pati-Kajen.

Wagiman membeli tanah hampir 3 hektare di desa itu. Yang sudah dibangun baru 1,5 hektare: untuk masjid, madrasah, dan asrama. Serba 1000. Masjidnya bisa untuk salat 1000 orang. Madrasahnya untuk 1000 siswa. Asramanya juga untuk 1000 santri.

Awalnya Wagiman membuka SMP kelas 1. Lebih 40 persen gurunya hafal Quran. Kini sudah sampai tingkat SMA. Tahun ini wisuda pertama untuk lulusan SMA Yanbu'ul Qur'an 1 Pati.

Wagiman masih punya banyak rumah di Jakarta, tapi waktunya kini lebih banyak dihabiskan di Pati.

Ia kontrol sendiri kebersihan, pertamanan, dan kedisiplinan guru. "Semua guru wajib salat berjamaah di masjid. Saya kontrol sendiri. Bagaimana santri bisa disiplin kalau gurunya tidak memberi contoh," ujar Wagiman kemarin.

Meski tergolong baru Yanbu'ul Quran (berseminya Quran) sudah terkenal. Tahun ini pendaftarnya 300 orang. Yang diterima hanya 100 siswa. Padahal santri harus membayar uang sekolah Rp 1.500.000/bulan. Termasuk untuk makan tiga kali sehari.

Wagiman menghadirkan mutu, budi pekerti, dan fasilitas nyaman. Kelas SMA-nya pakai AC. Disediakan kolam renang. Lapangan sepak bola. Ruang makan untuk 700 orang.

Kini Wagiman gelisah. Tahun ini sudah ada siswa yang lulus SMA. "Akan ke mana mereka?" tanyanya. Setiap saat ia digoda oleh pertanyaan itu. Tepatnya: mereka yang hafal Quran itu akan jadi apa? Wagiman belakangan ini pergi ke mana-mana. Ke berbagai sekolah unggulan. Termasuk menemui saya. Ia belum puas dengan sistem di madrasahnya sekarang ini.

Wagiman masih mengumpulkan pembanding. Jelas, ia akan mengubah sistem yang ada di Yanbu'ul Qur'an tanpa menghapus kekhususan tahfidnya.

Lulusan SD ini punya kecerdasan ilmuwan: gelisah oleh perkembangan zaman, lalu mencari jalan baru. Tidak hanya mencari, ia juga akan melaksanakannya.

Begitu terkenalnya Wagiman di Pati sampai ada yang mengusulkannya menjadi calon bupati. Wagiman sempat tergoda. Soal dana ia punya. Tapi ijazah SMA tidak ada.

Akhirnya Wagiman ikut kejar paket B. Ikut ujian SMP. Lulus. Ikut p**a paket C. Ujian SMA. Lulus.

Setelah memiliki syarat formal itu Wagiman justru insyaf: untuk apa jadi bupati. Ia ingin mengurus madrasah yang ia dirikan sampai maju sekali.

Wagiman pun ambil putusan: batal mendaftar calon bupati. Saya ajak ia toss sampai tiga kali.

Waktu Wagiman masih kecil tidak ada satu pun masjid di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sedari Jaksa, di utara kota Pati itu.

Ia masih ingat langgar pertama di desa itu didirikan di dekat rumahnya. Itu pun karena tetangganya kawin dengan wanita dari Desa Sedan, Rembang, yang dikenal sebagai desa santri. Sang istri yang minta agar ada musala di halaman rumah mereka.

Sejak itu, Wagiman tidur di musala itu. Di langgar itu ia sempat belajar mengaji tapi tidak lama. Tidak sampai bisa beneran. Langgar itu lebih bagus dari rumah orang tuanya: dinding anyaman bambu, atap daun, dan lantai tanah. Ia kerasan di musala itu. Setidaknya untuk tidur.

"Di desa saya dulu tidak ada yang bisa mengaji," katanya. "Ayah saya sendiri tukang main judi," tambahnya.

Merantau adalah memutus mata rantai masa lalu. Pun ketika merantau itu hanya untuk menjadi pembantu rumah tangga. Wagiman pun akhirnya menjadi pembantu rumah tangga orang besar: Kepala Bulog. "Ketika ramai Bulog Gate di zaman Presiden Gus Dur itu saya jadi pembantu di rumah beliau," katanya.

Yang membuatnya berubah total adalah ketika menjadi pembantu rumah tangga di rumah seorang arsitek. Ia sering diminta membantu saat tuan rumah membuat desain. Ia diminta mengambilkan pensil, penghapus, dan penggaris. Lama-lama ikut membantu menggaris. Ia belajar menggaris. Hati-hati. Agar benar-benar lurus.

Sekian tahun kemudian si arsitek diminta mendesain proyek p***a bensin. Proyek itu perlu tanah. Wagiman diminta ikut mencari tanah. Dapat. Cocok. Lokasinya maupun harganya. Wagiman dapat komisi.

Itulah kali pertama Wagiman dapat uang besar.

Dari sang arsitek itu, Ir Arti Siswoyo, asal Solo, Wagiman belajar menangani proyek.

Gajinya sebagai pembantu ia kirim ke desa. Ia bangun rumah ibunya. Komisi besarnya dari pembelian tanah ia pakai menaikkan haji ayah dan ibunya.

Wagiman lulusan SD; tapi pemikirannya seperti arsitek dan pimpinan proyek. Ia pun menemukan takdirnya: jadi kontraktor. Ia selalu mendapat proyek membangun rumah perorangan. Kian banyak. Kian besar.

Meski sudah kaya, Wagiman terus menjaga hubungan dengan kampungnya di Pati. Ia kawini gadis desanya. Punya dua anak: laki-perempuan. Di desanya sudah ada masjid. Bahkan tiga. Lebih banyak lagi langgarnya. "Sekarang tiap RT punya musala," katanya.

Islamisasi jelas terjadi di desa-desa. Selama Orde Baru.

Rupanya kualitas bangunan proyek Wagiman selalu memuaskan bohirnya. "Saya tidak pakai pembukuan. Yang penting untung meski sedikit," katanya.

Tentu ia disalahkan teman-temannya. Ia pun mencoba membuat pembukuan. "Gara-gara pembukuan itu saya tergoda untuk mengurangi spesifikasi. Untuk menghemat. Akhirnya kualitas bangunan menurun," katanya. "Sejak itu saya kembali tidak pakai pembukuan. Sampai sekarang," tambahnya.

Kualitas bangunan masjid, madrasah, dan asrama Yanbu'ul Qur'an pun dibuat istimewa. Bagus dan indah "Ini sekolah atau hotel bintang empat," ujar Wagiman menirukan komentar tamu yang datang. "Tamannya pun saya buat bagus. Demikian juga kolam renang dan lapangan sepak bolanya," ujar Wagiman.

Tahun depan Wagiman ingin meneruskan impiannya: membangun sekolah yang sama untuk putri. Lokasinya di seberang jalan raya jurusan Pati-Kajen. Sisi timur pondok putra, sisi barat putri.

Sejak punya pesantren itu, para kiai di Pati minta agar nama Wagiman diislamkan. Masak punya pesantren namanya Wagiman. Maka Wagiman menjadi Ibrahim Wagiman. Justru agak wagu. Karena itu Wagiman tetap bernama hanya Wagiman di KTP-nya. (*)



Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 17 Januari 2023: Sobekan Irawan
Klik..

https://disway.id/read/679382/ngaji-wagiman

09/12/2022

Nilai itu hanya angka, bukan sebuah kepastian patokan kesuksesan. Jauh lebih penting adalah beretika dan berakhlak yg baik.👍👍

Mohon doa restu
05/12/2022

Mohon doa restu

30/10/2022

Save postingan ini, dan tunjukan videonya pada anak2 kita. Biar mereka faham trik ilmu matematika perkalian model garis

Tips mendidik anak laki-laki agar kelak menjadi pria yang bertanggung jawab
12/10/2022

Tips mendidik anak laki-laki agar kelak menjadi pria yang bertanggung jawab

Meski ingkar ingkar terhadap risalah kenabian. Namun karena kegembiraannya menyambut kelahiran keponakannya, dan bahkan ...
09/10/2022

Meski ingkar ingkar terhadap risalah kenabian. Namun karena kegembiraannya menyambut kelahiran keponakannya, dan bahkan memerdekakan budak, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa kubur, yakni pada setiap hari Senin.

Mengutip laman NU, menurut pakar tafsir Prof Quraish Shihab dalam kitab Sahih Muslim dikisahkan bahwa Nabi pernah bermimpi melihat Abu Lahab. Dalam penglihatan beliau, Abu Lahab tersiksa.

Namun, tiap hari Senin, Allah meringankan siksa karena Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Abu Lahab diceritakan oleh Al-Abbas, paman Nabi, bahwa beliau bermimpi melihat Abu Lahab. Dikatakan ‘bagaimana keadaanmu?’ Dia (Abu Lahab) berkata ‘saya seperti yang engkau lihat. Tersiksa. Tapi setiap hari Senin Allah meringankan siksa-Nya kepadaku karena aku bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad,” jelas Doktor lulusan Al-Azhar Kairo Mesir ini.

Shollu 'Alan Nabi Muhammad!

06/10/2022

Bapak yang (Menyebalkan) Selalu Minta di Idak-Idak

"Lee..."
"Dalem bapak!" Sahutku saat bapak memanggilku dari dalam rumah.
"Bapak badane pegal-pegal, coba idak-idak sebentar le"
"Njeh pak!", Sigap aku berlari kedalam rumah, menunaikan tugas dari bapak yang minta di idak-idak badannya, sekedar untuk sedikit meredakan rasa pegal setelah lelah bekarja seharian.
Tapi benarkah aku seberbakti dan sesigap itu? Selintas ingatan sontak melayang dalam fikiranku. Atas kenangan-kenangan tahun sembilan puluhan. Saat rumah-rumah penduduk desaku hanya diterangi lampu teplok minyak tanah seadanya.
Sudah menjadi rutinitas, setiap habis maghrib, setelah mengaji Turutan Juz ‘Amma di Mushola samping rumah, pasti bapak minta di idak-idak. Padahal inginku ketika itu habis ngaji segera nonton tivi, yang listriknya masih pake aki dan diseterek seminggu sekali.
Di Jawa, sudah umum para bapak minta di idak-idak anaknya, yakni memijit pakai kaki, berjalan pelan-pelan disepanjang punggung dan pinggang bapak hingga telapak kaki. Jadi bukan hanya akus aja, teman-temanku pun juga pasti memiliki rutinitas yang serupa.
Aku masih ingat betul, ketika itu mengidak-idak bapak adalah rutinitas yang setengah aku benci. Meskipun tetap saja kulakukan, tapi penuh dengan gerutuan dalam hati. Tentu saja juga sambil membatin, “Ayolah segera selesai, sebentar saja jangan lama-lama”.
Sampai tahun 2000an, saat aku sudah mulai kuliah di kota lain, rutinitas mengidak-idak bapak jadi jarang kulakukan. Paling hanya pada saat liburan pas aku p**ang kerumah saja, yang belum tentu sebulan sekali, juga masih tetap dengan gerutuan yang sama, mungkin malah lebih parah lagi.
Dalam batinku, "Huft... Sudah sebesar ini masih juga disuruh idak-idak!".
Hingga beberapa tahun kemudian, saat aku kuliah semester 6, bapak berp**ang dipanggil Yang Maha Kuasa. Sejak saat itulah entah kenapa kegiatan rutin mengidak-idak bapak adalah kegiatan yang paling aku rindukan, sampai sekarang saat aku sudah punya istri dan anak dua. Kenangan mengidak-idak bapak begitu tertancap dalam sanubariku.
Terkadang bahkan dengan sedikit meneteskan air mata disertai sesak didada, sungguh aku sangat rindu suara bapak yang memanggilku, "Lee .... Idak-idak bapak sebentar saja".
“Ah, bapak... Sekarang jangankan hanya sebentar, meskipun seharian berulang kali engkau suruh aku, engkau panggil aku dengan permintaan khas mu itu, aku akan langsung berlari, melakukan perintahmu dengan riang gembira dan bahagia, ikhlas sepenuh hati, tanpa gerutuan lagi.”
Kang Condro yang duduk dihadapanku, hanya mendengar tanpa berkomentar. Meresapi ceritaku sambil sesekali manggut-manggut. Entah apa yang dipikirkannya.
"Begitulah kang, baru akhir-akhir kemudian aku benar-benar bisa merasakan, dan memahami betapa hal-hal kecil, remeh temeh, terkadang justru sangat membahagiakan orang tua kita. Meskipun itu cuma sekedar idak-idak bapakmu, atau memijit punggung dan kaki ibumu."
"Njeh mbah", sahut Kang Condro yang sehari-hari memang setia menemaniku nyruput kopi tubruk sambil menghisap nikmatnya Djisamsu Premium kesukaanku.
“Apakah Mbah Ketro menyesal”, lanjut Kang Condro bertanya sambil menyeruput kopinya.
“Iya, benar-benar sesal yang mungkin dibawa mati”.
"Sayangnya, perasaan itu baru benar-benar terasakan saat bapaku sudah tiada, saat anakku sudah sebesar ini. Dan persis seperti ketika bapaku sering meminta idak-idak padaku, akupun sekarang setiap sore juga pasti minta di idak-idak anakku."
"Dan rasaku saat ini, mungkin sama bahagianya dengan ketika itu. Ketika bapak aku idak-idak, meski penuh dengan gerutu yang pasti sampai akhir hayatnya bapak tidak pernah tahu dan mendengarnya itu.", Sambungku sambil menghisap Djisamsu dalam-dalam.
"Loh, mau kemana kang?", Tanyaku saat melihat Kang Condro tiba-tiba saja bangkit, memasukkan Djisamsunya kedalam kantong saku bajunya.
"Anu Mbah, p**ang. Mau idak-idak bapak, biar kelak saya tidak punya sesal yang sama seperti Jenengan Mbah."
Tak berlama-lama, Kang Condro langsung bergegas setengah berlari menuju ke rumahnya yang memang tidak seberapa jauh.

*Reza As
Jamaah Angon Roso

06/10/2022

Tips & Trik perkalian sederhana

‏قال أنس بن مالك رضي الله عنه لما كان اليوم الذي دخل فيه رسول الله صلي الله عليه وسلم المدينة أضاء منها كل شيئ فلما كان ...
27/09/2022

‏قال أنس بن مالك رضي الله عنه لما كان اليوم الذي دخل فيه رسول الله صلي الله عليه وسلم المدينة أضاء منها كل شيئ فلما كان اليوم الذي مات فيه أظلم منها كل شيئ

صلي الله عليه

Anas bin Malik Ra berkata sepeninggal beliau Saw: "Tatkala dulu pd suatu hari Kanjeng Nabi Saw memasuki kota Madinah, segala sesuatu menjadi bercahaya dan tatkala pd suatu hari beliau Saw wafat, segala sesuatu menjadi gulita..."

ShallaLlah 'alaih....🥺🥺🥺

Selamat datang, bulan Maulid Nabi Saw. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan berkahMu kepada kami semua dengan barakah Kanjeng Nabi Saw di bulan agung ini. Amin....

22/09/2022

Step by step, tutorial langkah2 mudah menggambar hewan bagi anak.
Simpan video ini dan tunjukan pada anak kita.

*Credit video; Kids Art & Craft

05/09/2022

Salah satu proses pembelajaran outdor, di alam terbuka siswa/siswi MI Ma'arif 1 Babadan Ponorogo.
Proses seperti ini secara rutin dan terjadwal terus dilakukan, agar siswa tidak merasa bosan terus-terusan berada didalam ruangan, juga agar siswa mengenal dengan baik lingkungan/alam sekitarnya sehingga mampu membangun dan mengejawantahkan "Hablum minal 'Alam" dengan lebih baik.

Imam Syafi'i dan Santri LeletImam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, mengisahkan cara Imam Syafii, sebagai guru me...
03/09/2022

Imam Syafi'i dan Santri Lelet

Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, mengisahkan cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu santrinya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.

Santri itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, santri paling lelet. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Rabi’ tidak juga faham.

Setiap kali setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”
“Belum faham, ”jawab Rabi’.

Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali,
”sudah faham belum?", Dan tetap saja si santri menjawab "Belum." Bahkan berulang diterangkan hingga 39x pun Rabi’ tak juga paham.

Rabi' yang merasa telah mengecewakan gurunya dan juga malu, ia pun beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu tersebut.

Setelah selesai memberi pelajaran, Imam Syafii mencari Rabi’. Kemudian sang Imam berkata, ”Rabi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.

Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan santrinya tersebut, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Walhasil sang Imam pun mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum?" Dan ternyata Rabi’ bin Sulaiman masih juga belum paham.

Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,

”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”

Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.

Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.

Sang santri lelet kemudian bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar, berkat buah kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.

Berkaca dari kisah ini, seorang Guru haruslah memiliki kerendah hatian, bahwa pemilik ilmu sesungguhnya hanyalah Allah SWT, guru hanya sebatas saluran penyampaian.

Begitu juga sebagai murid atau santri, tekunlah berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai pemahaman atas ilmu yang sedang dipelajari. Jangan hanya berdoa mengejar rizki berupa kekayaan dan atau jodoh sesuai kehendak hatinya sendiri saja.

Address

Jln. Sido Makmur RT 006 Rw 001 Dukuh Karang Talok Desa Babadan Kecamatan Babadan
Ponorogo
63491

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MI Ma'arif 1 Babadan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category