SMKN 1 Badegan

SMKN 1 Badegan

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from SMKN 1 Badegan, School, ponorogo, Ponogoro.

27/05/2020

Persaingan Saudara Kandung

Sudah kesekian kali aku menyaksikan runyamnya sebuah keluarga akibat persaingan saudara kandung.
Mereka yang menjalani, rata2 tidak sadar bahwa persaingan tersebut disemai ketika mereka masih sangat kecil.
Oleh orang tua mereka sendiri.
Efeknya sangat luar biasa ketika masing-masing mereka telah menikah dan punya anak.
'Kaca pembesar' menjadikan persaingan semakin besar.

Semua bermula ketika orang tua mulai membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain, tanpa menyadari bahwa masing-masing anak punya kelebihan dan kekurangan sendiri.
Yang ada hanyalah tabungan sakit hati yang disimpan bertahun-tahun.
Dipetik ketika dewasa, mereka tak bisa saling dukung dan saling kasih.
So sad.

Jikalau orang tua tahu sedari awal akan sifat, bakat, potensi anak (bisa ditrack dengan berbagai metode, Herrmann brain dominance, Bazi, dll)
Maka kata-kata membandingkan tidak perlu terucap.
Ada anak yang super rajin, ada anak yang super malas.
Bisa jadi anak yang super malas hanya butuh motivasi supaya rajin.
Tapi bisa p**a itu anak memang tipe yang super malas, mau dicontoin kayak apapun ya tetep aja malas. Tapi dibalik itu bisa saja tersembunyi bakat yang luar biasa, orang tua hanya perlu sedikit lebih cerdas untuk menemukannya, jangan lagi fokus ke sifat malasnya 😆

Tak ada yang terlahir sempurna, yang ada adalah temukan potensi yang bisa dioptimalkan, dan berdamai dengan sisanya 💖

shihab

24/05/2020

Sebait kata dalam cerita.

Minal aidzin wal fa idzin, mohon maaf lahir bathin untuk semua.

Wahai Sesama Millenial, Apakah Kalian Juga Merasa Lebaran Tidak Seasyik Masa Kecil Dulu?
Jadi dewasa dengan segala tekanan sosial membuat momen Idul Fitri tak sesederhana zaman kita kecil. Apalagi kalau kita ingat, ada banyak persoalan sosial membuntuti momen lebaran.

Setelah berulangkali memikirkannya, aku sampai pada kesimp**an ini: “Ada yang salah dari momen lebaran di masa sekarang." Aku tidak lagi merasa bahagia, seperti saat dulu diajak orang tua bertemu kakek-nenek dan sepupu jauh sesudah salat Ied. Seiring bertambahnya usia, getaran kegembiraan pada permulaan bulan Syawal seperti menghilang. Rasanya, merayakan lebaran jadi tidak menyenangkan, katakanlah dibanding masa 90'an dulu.

Opornya masih ada. Sungkeman terus berlanjut. Tradisi bagi amplop juga tetap dipertahankan (walaupun aku sudah enggak dapat lagi sesudah lulus kuliah). Apa yang salah ya?

Dari tahun ke tahun, momen lebaran justru membuatku jadi lebih sebal pada banyak hal. Memang lebarannya yang salah? Bukankah semestinya lebaran membawa keriaan dan kebahagiaan?

Faktor yang kuduga jadi biang keroknya: merayakan lebaran sebagai orang dewasa rupanya menyebalkan. Apalagi jika kamu mengadopsi nilai yang sudah berbeda dari orang tuamu. Bagaimanapun, aku adalah bagian dari generasi millenial. Kami salah satu generasi yang dibesarkan dengan kemudahan akses teknologi dan informasi, serta sejak kecil dipaksa siap "menghadapi" globalisasi. Tapi harga yang harus kami bayar dengan semua itu adalah stagnasi gaji. Kami generasi pertama di negara ini yang terbiasa dengan sistem kerja outsource (bikin sebagian dari kami tidak menikmati uang lembur ataupun THR layak). Kami juga selalu disalahkan generasi sebelumnya, sebagai anak muda yang boros karena tak becus menabung dan s**anya jalan-jalan sambil ngopi.

Oke. Kalau memang kami semenyedihkan itu dalam hal kemampuan pengelolaan keuangan harusnya generasi millenial diajari untuk berhemat. Rasional membelanjakan uang. Nyatanya? Tiap tahun kami diminta menghormati tradisi buat mudik. Aktivitas yang jelas-jelas menghabiskan uang.

Jujur aja, aku males banget mudik p**ang kampung ke rumah kakekku di Purwakarta, yang jaraknya sebetulnya hanya 1,5 jam saja dari Jakarta andai tol tidak macet. Di kota itu aku nebeng tumbuh besar bareng kakek nenekku.

Begini. Aku bukanya malas bertemu keluarga. Tapi selain soal biaya tadi, aku baru menyadari bahwa di balik mudik, muncul segudang ekspektasi yang tercipta dari kep**angan kita ke kampung halaman dari banyak orang. Ya kalian tahu lah, pasti muncul semua pertanyaan klise yang bahkan sekarang memenya tak lucu lagi itu. Ada yang sibuk saling membandingkan. Mulai dari siapa yang paling cepat lulus, yang paling melesat karir dan kemapanan, hingga semua pertanyaan yang diawali "kapan..."

Belum lagi kalau sudah ada famili membawa-bawa debat agama di sela makan opor. Awalnya mungkin cuma nasehat berkedok nasehat, “kapan pakai hijab?”, atau “kapan hijrah?”. Ujung-ujungnya kembali membicarakan perkara dua kubu politik yang tak kunjung berakhir setelah pilpres itu.

Aku mencintai kampung halamanku. Aku s**a bertemu keluarga besar. Tapi benarkah harus di momen Idul Fitri saja, dengan semua tekanan sosial itu? Aku justru merasa keluarga dan kawan masa kecil yang kutemui jadi lebih tulus ketika ditemui di luar momen lebaran.

Selain tekanan akibat percakapan basa-basi, aku capek bertemu kenalan yang menganggap semua perantau di kota besar otomatis bergelimang harta dan kesuksesan. Atau minimal dianggap punya lebih banyak duit dibandingkan mereka yang bekerja di desa.

Mendengar keluarga membanggakan anak-anaknya yang merantau ke Jakarta membuatku sedih. Aku membayangkan, cerita tentangku—yang terkesan keren karena sukses bertahan jadi buruh media, padahal realitasnya selalu pusing setelah tengah bulan lewat akibat berbagai cicilan—bisa saja direspons keliru oleh tetangga di kampung. Ada berapa banyak anak muda yang bernasib sama sepertiku? Dianggap panutan hanya karena terpaksa menggadaikan keahlian di Jakarta?

Tugas kami yang sebenarnya adalah jadii trofi di kampung halaman, role model abal-abal, yang akhirnya membuat jumlah pemudik di Tanah Air terus meningkat. Pada 2017, jumlah pemudik meningkat menjadi 18,16 juta orang. Setahun berikutnya, total pemudik berjumlah 19,5 juta orang.

Jujur aja nih. Merantau untuk cari kerja di Jakarta bukan perkara role model. Realitasnya, kami sulit bertahan di kampung halaman. Aliran uang negara ini nyaris semua terserap ke Ibu Kota. Pemerintah pun menyadarinya. Apa yang heroik ketika jutaan sarjana millenial di negara ini harus mengalami nasib yang sama? "Buang cita-cita membangun kampung halaman, jika kau ingin meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Pergi dulu ke Jakarta, p**ang setelah sukses, baru kau bangun kampung halaman."

Ketika kami terserap di industri padat modal, mulai terbiasa menikmati secangkir machiato tiap p**ang kerja, gym, tempat nongkrong yang melimpah— di titik itulah kami tercerabut dari tanah kelahiran.

Di tengah rasa frustrasi karena karir gini-gini aja (karena status karyawan selalu diperpanjang sebagai PKWT melulu), kami lantas diminta tidak egois. Baiklah. Maka, selama Ramadan kalian melihat anak muda berdesakan mencari baju diskonan, berburu tiket kereta atau pesawat yang mahalnya enggak ketulungan. Plus, harus menyisihkan uang yang tak seberapa itu untuk ponakan-ponakan. Tidak aneh jika sekarang kita mendapati ada orang yang memilih tidak p**ang saat lebaran, karena malu tak bawa uang banyak di kampung.

Aku s**a p**ang. Tapi aku tak s**a diharuskan p**ang di saat penuh tekanan macam ini.

Aku membayangkan, kapan ya lebaran bisa menjadi semenyenangkan dulu. Tapi mungkin saja lebaran di mata orang tua kita sejak dulu juga tidak semenyenangkan itu, karena p**ang kampung tak semurah itu—baik untuk kantong maupun mental.

Saat masih anak-anak, kita tak paham soal iri dengki, pamer harta, dan semua tekanan sosial. Kita menikmati opor, salam tempel, dan bermain bersama sepupu. Menjadi dewasa, lalu menyadari bermacam konsekuensi dari ritual tahunan ini merenggut semua kepolosan dan rasa naif memandang dunia.

Mungkin yang kita bisa lakukan sekarang adalah bagaimana membuat lebaran yang akan datang menjadi berkesan bagi anak anak kita sehingga mereka merasakan kerinduan akan datangnya lebaran seperti yang dulu pernah kita rasakan bersama.

Kerinduan kita pada masa lalu setidaknya jadikan sebuah cerita nostalgia yang bisa kita ceritakan bersama saat berjumpa kelak dengan kawan, saudara serta keluarga yang sama sama pernah merasakannya.

Hari ini tanggal 24 mei 2020 adalah hari lebaran yang dimana karena adanya virus corona / covid 19,sebagian dari kita tidak bisa berjumpa serta berkumpul dengan sanak saudara. Semoga ke depannya hal ini segera lekas berlalu serta semoga dengan adanya hal tersebut membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aamiin

Surabaya, 24 mei 2020

Copas + edit from

Kemenpan: Pemerintah Buka 238 Ribu Formasi CPNS di Tahun 2018 17/09/2018

Lowongan Kerja September 2018
========================

Pemerintah Buka 238 Ribu Formasi CPNS di Tahun 2018
Info: https://bit.ly/2oLbSsF

Penerimaan CPNS 2018 Dibuka, 19 September 2018, Portal SSCN BKN Siap Diakses Pelamar
Info: https://goo.gl/6swXWs

Lowongan Kerja Carterpillar.Inc.
Deadline: 19 September 2018
Info: https://bit.ly/2O230JS

Lowongan Kerja PT Brantas Energi
Deadline: 19 September 2018
Info: https://bit.ly/2wRzxfk

Lowongan BUMN PT Sucofindo
Deadline: 12 September 2018
Info: https://bit.ly/2BNeu2m

Lowongan PT Adaro Energy Tbk
Deadline: 26 September 2018
Info: https://bit.ly/2LG1GhX

Lowongan BUMN PT Adhi Persada Properti
Deadline: 18 September 2018
Info: https://bit.ly/2NV5o5l

Lowongan BUMN PT Istaka Karya
Deadline: 5 Oktober 2018
Info: https://bit.ly/2lTUu3h

Lowongan Kerja BUMN PT Telkom Indonesia
Deadline: -
Info: https://bit.ly/2ty5HKv

Lowongan Astra Credit Companies (ACC) Semua jurusan
Deadline: -
Info: https://bit.ly/2NWU09d

Lowongan BUMN PT Pelindo Daya Sejahtera Lulusan SMA/Sederajat
Deadline: 11 September 2018
Info: https://bit.ly/2CsM9in

Lowongan PT Akebono Brake Astra Indonesia
Deadline: 27 September 2018
Info: https://bit.ly/2NtE5zo

Lowongan PT Bhanda Ghara Reksa
Deadline: -
Info: https://bit.ly/2wge93a

Lowongan Kerja PT Pegadaian
Deadline: 14 September 2018
Info: https://bit.ly/2wr3DVP

Lowongan BUMN PT Sucofindo
Deadline: -
Info: https://bit.ly/2BNeu2m

Penerimaan Calon Perwira Prajurit Karir TNI
Deadline: 31 Oktober 2018
Info: https://bit.ly/2PLYh0o

Lowongan Kerja PT Surya Toto Indonesia
Deadline: 14 September 2018
Info: https://bit.ly/2MpL2Vf

Lowongan PT. Bank Mandiri Taspen Pos (Mantap) Lulusan SMK/Sederajat
Deadline: -
Info: https://bit.ly/2KzMp2r

Lowongan BUMN PT Asuransi Jiwasraya
Deadline: 15 September 2018
Info: https://bit.ly/2ttmVsq

Lowongan PT Pelat Timah Nusantara
Deadline: 11 September 2018
Info: https://bit.ly/2MIs6AW

Lowongan Kerja BUMN PT Surveyor Indonesia Lulusan SMK/Sederajat
Deadline: 29 September 2018
Info: https://bit.ly/2KUguGo

Lowongan BUMN PT Kimia Farma (Persero) D3 Semua Jurusan
Deadline: 14 September 2018
Info: https://bit.ly/2Pobrzt

Lowongan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lulusan SMK/Sederajat
Deadline: 16 September 2018
Info: https://bit.ly/2Na6eOk

Lowongan BCA Insurance Semua Jurusan
Deadline: 28 September 2018
Info: https://bit.ly/2N5jGD7

Lowongan PT Suzuki Indomobil Motor
Deadline: 16 September 2018
Info: https://bit.ly/2LIzwis

Lowongan Metro TV Semua Jurusan
Deadline: 17 September 2018
Info: https://bit.ly/2CcMJk1

Lowongan Bank BTPN Semua Jurusan
Deadline: 29 September 2018
Info: https://bit.ly/2ozqxH7

Lowongan PT Pegadaian (Persero)
Deadline: 14 September 2018
Info: https://bit.ly/2wr3DVP

Lowongan PT Mandiri Tunas Finance
Deadline: 2 Oktober 2018
Info: https://bit.ly/2v2adl4

Lowongan PT Sigma Caraka
Deadline: 30 September 2018
Info: https://bit.ly/2I8w3I5

Lowongan PT CG Power System Indonesia
Deadline: 4 Oktober 2018
Info: https://bit.ly/2NJC6qd

Lowongan PT Nippon Shokubai Indonesia
Deadline: 18 September 2018
Info: https://bit.ly/2PBDFab

Lowongan Kerja Shell Indonesia
Deadline: 30 September 2018
Info: https://bit.ly/2LYoB4m

Lowongan PT Bumitama Gunajaya Agro
Deadline: 22 September 2018
Info: https://bit.ly/2NgWYZ4

Lowongan Bank DKI Jakarta Semua Jurusan
Deadline: 22 September 2018
Info: https://bit.ly/2CmIIcZ

Lowongan PT Sarihusada Generasi Mahardhika
Deadline: 13 September 2018
Info: https://bit.ly/2KLV9Tu

Tolong dishare ya, semoga dengan memudahkan urusan orang lain maka urusan kita juga dimudahkan... Aamiin...

Kemenpan: Pemerintah Buka 238 Ribu Formasi CPNS di Tahun 2018 Pemerintah akan melaksanakan pengadaan CPNS Tahun 2018. Fokus perencanaan dan rekrutmennya diarahkan untuk meningkatkan daya saing ba...

Photos 14/09/2018

INFO LOWONGAN UT SCHOOL
1.UT SCHOOL membuka kelas angkatan 26 tahun ajaran 2019/2020 Prodi MEKANIK ALAT BERAT untuk alumni SMK/SMA tahun 2016/2017/2018 jurusan TKR/TSM/TAB, Mesin Produksi, Listrik Arus Kuat (TITL) dan IPA (mohon disediakan candidate (calon) minimum 50)
2.UT SCHOOL membuka kelas angkatan 27 dan 28 tahun ajaran 2019/2020/2021 Prodi MEKANIK DAN OPERATOR ALAT BERAT untuk siswa SMK/SMA yang masih duduk di kelas 3 (IJON) jurusan TKR/TSM/TAB, Mesin Produksi, Listrik Arus Kuat (TITL) dan IPA.
Dengan kriteria jenis kelamin laki-laki, tinggi badan minimum 164 CM, Tidak berkacamata, Tidak Bertato, Tidak Butawarna, Tidak Bertindik serta Sehat Jasmani dan Rohani.
Adapun pelaksanaan test adalah:
Hari, tanggal : Kamis dan Jum’at, 25 dan 26 Oktober 2018
Waktu : 07.00 sampai selesai
Tempat : Aula SMK PGRI 2 Ponorogo
Bagi siswa yang akan ikut test di harap 30 menit sebelumnya sudah harus berada di tempat
Peserta test diperbolehkan dari SMK Negeri maupun Swasta atau SMA baik Negeri maupun Swasta baik dari Kabupaten/Kota Ponorogo maupun dari Kabupaten/Kota sekitarnya.
Pendaftaran langsung di BKK SMK PGRI 2 Ponorogo Jl.Soekarno hatta, Kertosari, Babadan, Ponorogo atau sms dengan format
UTS/NAMA LENGKAP/TEMPAT TGL LAHIR/ TINGGI BADAN/BERAT BADAN/JURUSAN/ASAL SEKOLAH/ALAMAT RUMAH/ NO HP/ TAHUN LULUS
Bisa di sms salah satu nomor :
P.Yoni 085.785.875.579
B.Ana 081.335.217.296
B.Prita 085.785.920.900

26/08/2018

SEBENARNYA SIAPAKAH ISTERI?
Orang selalu berkata, "ada bekas istri/suami, tapi tidak ada bekas anak atau bekas orangtua". Seorang Profesor melakukan riset kecil kepada mahasiswa2nya yang sudah berkeluarga. Dia lalu meminta 1 orang mahasiswa untuk maju ke depan papan tulis.
Professor : "Tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu."
Lalu mahasiswa itu menulis 10 nama, ada nama tetangga, orgtua, teman kerja, istri, anaknya, saudara, dst.
Profesor : "Sekarang silahkan pilih 7 orang diantara 10 nama tsb yang kamu benar2 ingin hidup terus bersamanya."
Mahasiswa itu lalu mencoret 3 nama.
Profesor : "Silahkan coret 2 nama lagi." Tinggalah 5 nama tersisa.
Profesor : "Coret lagi 2 nama."
Tersisalah 3 nama yaitu nama ibu, istri & anak.
Suasana kelas jadi hening. Mereka mengira semuanya sudah selesai & tak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba2 Profesor itu berkata : "Silahkan coret 1 nama lagi!"
Mahasiswa itu tertegun untuk sementara waktu. Lalu ia dengan perlahan mengambil pilihan yang amat sulit itu dan mencoret nama ibunya.
Profesor : "Silahkan coret 1 nama lagi!"
Hati sang mahasiswa makin bingung. Suasana kelas makin tegang. Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yg terbaik.
Mahasiswa itu kemudian mengangkat spidolnya & dengan sangat lambat ia mencoret nama anaknya. Pada saat itulah sang mahasiswa tidak kuat lagi membendung air matanya, ia menangis.
Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang kuliah. Setelah suasana lebih tenang, Sang Professor akhirnya bertanya kepada mahasiswa itu, "Kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu, tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu; kenapa kamu memilih istrimu? Toh istri bisa dicari lagi kan?"
Semua orang di dalam ruang kuliah terpana menunggu jawaban dari mulut mahasiswa itu. Lalu mahasiswa itu berkata lirih, "Seiring waktu berlalu, orang tua saya harus pergi & meninggalkan saya. Demikian juga anak saya. Jika dia sudah dewasa lalu menikah.
Artinya dia pasti meninggalkan saya juga. Akhirnya orang yang benar2 bisa menemani saya dalam hidup ini, bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya saat tertatih dan terseok2 berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk meraih karir hanyalah ISTRI saya".
Setelah nenarik nafas panjang dia melanjutkan, "Orangtua & anak bukanlah saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan. Sedangkan isteri? Saya sendirilah yang memilihnya dari sekian milyar wanita yang ada di dunia".

Photos 09/08/2018

Berikut ini Kuliah WA dari pak Iwan Novarian:

Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Sukses dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?

Ada anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.

Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.

Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.

Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 mengeluhkan tentang penghasilannya yang katanya tidak mencukupi. Ketika saudaranya yang masih dalam lingkup satu institusi dinaikkan sementara saudara lainnya tidak naik. Gelombang protes muncul dimana-mana. Muncul istilah-istilah yang terkadang membuat kening ini berkerenyut. Anak Tiri, Bawang Merah – Bawang Putih atau istilah lainnya yang membuat kita tersenyum sendiri.

Setidaknya ada tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu. Yaitu : The Power of Kepepet , The Darkness of Gengsi dan The Magic of Street Smart.

Faktor # 1 : The Power of Kepepet.

Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.

Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.

Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya

mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.

Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.

Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk ZONA NYAMAN (COMFORT ZONE). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati. Itulah sebabnya tidak banyak PNS yang berani Resign untuk mengambil keputusan besar meraih kesuksesan YANG LEBIH BESAR. Karena COMFORT ZONE telah merasuk kedalam jiwa dan sanubarinya yang paling dalam. Jadi PNS saja sudah alhamdulillah. Gak usah neko-neko. Nggolek dunyo gak ono entek e. Nek metu juga durung karuan. Nek gak nduwe duit yo nyilih koperasi sih entuk. Bank-Bank juga gelem karo SK PNS kok. He he he he... Hidup itu pilihan. Itulah bahasa penolakan yang sering kita dengar.

Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun –untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.

Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi.

Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan. Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.

Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.

Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling kepasar-pasar
jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah,bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).

Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.

Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.

Faktor # 3 : The Magic of Street Smart.

Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku. Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – KECERDASAN JALANAN yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.

Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelanpelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski Cuma lulusan SMP.

Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).

Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orangorang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.

Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih sukses dibanding lulusan S1 dan S2 :

The Power of kepepet,
The Darkness of gengsi dan
The Magic of street smart.

Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Selamat Pagi.
Selamat Beraktivitas.
Semoga Segala Aktivitas kita hari ini bernilai ibadah disisi Nya. Amiiiin.

06/08/2018


Untuk Bahan Ngepos Buat Hari Senin , Sekilas Lowongan Kerja masih Berlaku Untuk Seminggu Mendatang ..
Melalui Jasa Pengantar Dokumen ( POS Indonesia )
PT Santos Jaya Abadi
Kawasan Industri Surya Cipta ,
JL Surya Madya Kav 1-18. BC , Kutamekar , Ciampel , Karawang , 41361
PT Astra Daihatsu Motor (Assembling Factory )
JL Gaya Motor III , No 5. Sunter II , Jakarta , 14350
PT YTK Indonesia
Kawasan Industri MM2100,
Jalan Irian XIV , Blok QQ No 8, Cikarang Barat , Bekasi , 17520
PT TRAD Indonesia
Kawasan Industri Jababeka I ,
JL Jababeka II , Kav C-8 , Cikarang , Bekasi , 17530
PT Bellsonica
Kawasan Industri Greendland International Industrial Center , Blok AC No 01, Kota Deltamas , Cikarang Pusat , Bekasi , 17330
PT Fukoku Tokai Rubber Indonesia
Kawasan Industri Jababeka II , Blok GG No 6A - F , Pasirsari , Cikarang , Bekasi , 17530
PT Mondelez International Manufacturing
Kawasan Industri Jababeka I
JL Jababela VII , Blok K-2 , Cikarang Utara , Bekasi , 17530
PT Hi-lex Indonesia
Kawasan Industri Delta Silicon 2
JL Trembesi , Blok F 16-1 , Cikarang Selatan , Bekasi , 17550
PT Skyworth Indonesia ( Toshiba Electronic )
East Jakarta Industrial Park, Plot 5G , JL Citanduy Raya , Cikarang Selatan , Bekasi , 17530
Semuanya Masih Berlaku , Untuk Kriteria Perusahaan Masing Masing Berbeda ,
Semoga membantu

06/08/2018


Untuk Bahan Ngepos Buat Hari Senin , Sekilas Lowongan Kerja masih Berlaku Untuk Seminggu Mendatang ..
Melalui Jasa Pengantar Dokumen ( POS Indonesia )
PT Santos Jaya Abadi
Kawasan Industri Surya Cipta ,
JL Surya Madya Kav 1-18. BC , Kutamekar , Ciampel , Karawang , 41361
PT Astra Daihatsu Motor (Assembling Factory )
JL Gaya Motor III , No 5. Sunter II , Jakarta , 14350
PT YTK Indonesia
Kawasan Industri MM2100,
Jalan Irian XIV , Blok QQ No 8, Cikarang Barat , Bekasi , 17520
PT TRAD Indonesia
Kawasan Industri Jababeka I ,
JL Jababeka II , Kav C-8 , Cikarang , Bekasi , 17530
PT Bellsonica
Kawasan Industri Greendland International Industrial Center , Blok AC No 01, Kota Deltamas , Cikarang Pusat , Bekasi , 17330
PT Fukoku Tokai Rubber Indonesia
Kawasan Industri Jababeka II , Blok GG No 6A - F , Pasirsari , Cikarang , Bekasi , 17530
PT Mondelez International Manufacturing
Kawasan Industri Jababeka I
JL Jababela VII , Blok K-2 , Cikarang Utara , Bekasi , 17530
PT Hi-lex Indonesia
Kawasan Industri Delta Silicon 2
JL Trembesi , Blok F 16-1 , Cikarang Selatan , Bekasi , 17550
PT Skyworth Indonesia ( Toshiba Electronic )
East Jakarta Industrial Park, Plot 5G , JL Citanduy Raya , Cikarang Selatan , Bekasi , 17530
Semuanya Masih Berlaku , Untuk Kriteria Perusahaan Masing Masing Berbeda ,

Photos 04/07/2018

* R E N U N G A N *

Akte lahir...adalah kertas

Ijazah...juga kertas

Akte nikah...kertas

Paspor...kertas

Surat kepemilikan rumah...juga kertas

UANG...juga kertas

Kehidupan kita layaknya hanya dikelilingi kertas-kertas

Seiring waktu berlalu, dirobek

Kemudian dibuang dan dibakar

Berapa banyak orang bersedih karena "kertas-kertas" yg dimilikinya.
dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan "kertas-kertas" yg dimilikinya.

Tetapi...

Ada 1 (satu) lembar kertas yg tidak mungkin dilihat oleh manusia itu sendiri yaitu, "AKTE KEMATIAN"nya sendiri!

Maka manusia itu ada batasnya yg tak mungkin dia mampu menjangkau waktu.

Ada 2 (dua) hal yg tidak akan selamanya ada dalam diri seseorang :
~Masa Mudanya
dan
~Kekuatannya.

dan 2 (dua) hal yg berguna untuk setiap orang:
~Hati yg mulia
dan
~Hati yg mengampuni.

juga 2 (dua) hal p**a yg akan mengangkat derajat seseorang :
~Sikap rendah hati
dan
‌~Berbagi kasih

Belajarlah punya prinsip hidup 💪

Ada 3 (tiga) fase hidup yg tampak dari kita:

1. Masa puber kita punya waktu dan kekuatan tetapi tidak punya "UANG".

2. Masa bekerja kita punya uang dan kekuatan, tetapi tidak punya "WAKTU".

3. Masa tua kita punya uang dan punya waktu, tetapi tidak punya "KEKUATAN" lagi.

Manfaatkan kesempatan hidup sebaik-baiknya selagi masih bisa bernapas.

Kita selalu yakin bahwa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita.
Dan orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita jauh lebih baik darinya.

Hal itu terjadi dikarenakan kita melupakan 1 (satu) hal terpenting dalam hidup, yaitu:
Bersikap "MENSYUKURI APA YANG SUDAH KITA MILIKI "

Oleh sebab itu...

Nikmati hidup, sebelum hidup tidak bisa di nikmati.
Dan selalu bersyukur atas segala nikmat & karunia hidup.

Tidak capek pun perlu istirahat,
Tidak kaya pun perlu bersyukur.

Sadarlah hidup itu pendek,
Pasti ada saatnya finish.

Jangan tertipu dengan usia muda,
Karena syarat mati tidak harus tua.

Jangan terpedaya dengan tubuh & badan sehat,
Karena syarat mati tidak mesti sakit.

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasehat baik.
Teruslah berbagi dalam kebaikan meskipun tidak banyak orang yang bisa memahimu.

Kebaikan akan membawa kebahagiaan,
Kebahagiaan akan membawa berkah.

Keburukan akan membawa malapetaka,
Malapetaka akan membawa penderitaan.

Photos 20/06/2018

KATAK DAN AIR MENDIDIH
Tempatkan Katak ke dalam panci di atas kompor, isi dengan air dan mulai panaskan air.
Saat suhu air mulai meningkat, Katak menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air. Katak terus menyesuaikan suhu tubuhnya dengan meningkatnya suhu air. Hanya ketika air akan mencapai titik didih, Katak tidak dapat menyesuaikan lagi. Pada titik ini, Katak memutuskan untuk melompat keluar.
Katak mencoba untuk melompat, tetapi tidak dapat melakukannya, karena telah kehilangan semua kekuatannya saat menyesuaikan diri dengan suhu air yang terus meningkat. Akhirnya Katak mati.
Apa yang membunuh katak?
Pikirkanlah!
Saya tahu banyak dari kita akan mengatakan air mendidih. Tapi sesungguhnya yang membunuh Katak adalah ketidakmampuan dirinya untuk memutuskan kapan harus MELOMPAT keluar.

Photos 11/06/2018

CATATAN SEORANG BAPAK DI SAAT HARI TUANYA

Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.

Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong.

Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.

“Dik hendak ke Jogja juga?”
“Saya ke Blitar via Malang, Pak.
Bapak ke Jogja?”
“Iya.”
“Bapak sendiri?”
“Iya.” Senyumnya datar.

Menghela napas panjang. “Dik kerja dimana?”
“Saya serabutan, Pak,” sahut saya sekenanya.
“Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan tapi
jiwanya serabutan."
Saya tertegun. “Kok begitu, Pak?”

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.

Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi.

Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua.

Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa p**ang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia.
Sibuk.
Iya, sibuk sekali….

Sementara anak bungsu saya mengabari via BBM bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa p**ang...

"Bapak, Bapak yang sabar ya….”Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.

Ia tersenyum kecut. “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik...
Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali.Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki...Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya…."

Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat abah saya. Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, bertimbun-timbun bagaipermadani putih.

Semua manusia sungguh semata hanya sedang menunggu giliran dijemput maut. Manusia sama sekali tiada nilainya, tiada harganya, tiada pengaruhnya bagi jagat raya ini. Sangat nisbi, naif, dhaif, fana, sumir, kerdil, sebutir debu, senoktah hikayat...

*Copy Paste dari FP Pengusaha Muda Sukses

Want your school to be the top-listed School/college in Ponogoro?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Ponorogo
Ponogoro
63455