09/10/2016
~Visit Monisa, TK Tunas Bangsa
Outing Class merupakan kegiatan yang masuk dalam alokasi belajar tahunan, yang telah disusun oleh TK tunas Bangsa TA 2016-2017.
Dimana perencanaan belajar keluar dari lingkungan sekolah diadakan setiap 2 bulan sekali. Dengan tujuan memberi pengalaman baru, berinteraksi dengan masyarakat dan menghindari dari kejenuhan belajar hanya dilingkungan sekolah.
Agenda Outing Class kunjungan ke Monisa sekaligus dalam rangka memperingati tahun baru islam 1434 H, menilik sejarah islam pertama sekali masuk di Asia Tenggara di Negeri Peureulak, membuka wawasan anak-anak tentang ke sejarahan daerahnya, untuk menumbuhkan rasa cinta akan tanah kelahiran sejak dini.
Sebelum berangkat semua keperluan sudah dipersiapkan terlebih dahulu, para bunda berbagi tugas, bunda Idawati, bunda Ruwaida dan Bunda Ina menyiapkan keperluan belajar dan konsumsi. Sedangkan saya melakukan survey sekaligus memasukan surat izin ke Kepala desa paya Meligoe, serta mengurus transportasi demi kenyamanan anak-anak melakukan perjalanan.
Setelah sempat tertunda sehari, tanggal 6 hari kamis kamipun menuju lokasi dengan sukacita menggunakan minibus Dinas Perhubungan. Mereka bernyanyi nyanyi sambil memandang keluar jendela bus, melihat hamparan sawah yang mulai menguning. Ada yg duduk tapi sebagian anak banyak yang berdiri memandang jalan dan keluar jendela. Ada 2 orang anak yang tidak ikut dikarenakan sakit dan harus keluar daerah, ananda Azmi dan saif. Kami menuju lokasi pertama yaitu bekas bangunan Museum Monisa, yang sekarang sudah dipindahkan ke Kota Peureulak, bangunan tersebut sekarang sudah menjadi rumah tinggal hanya tersisa plank namanya saja. Tidak lama disitu, kamipun beranjak ke Monumen Monisa dimana disana terletak Makam Sultan Alaidin Said Abdul, pendiri kerajaan Peureulak.
Monumen Monisa adalah tempat yang sakral, kami mengkondisikan paket kegiatan. Di lokasi tersebut terdapat sebuah Bale-bale yang berukuran cukup untuk kami semua. Kami mulai dengan melakukan kegiatan awal, membaca doa dan surat-surat pendek membuat maket mesjid, kami kerjakan dalam 3 kelompok dan makan bekal bersama
Selesai itu, kami tidak langsung pulang, seperti biasa. Setiap selesai kegiatan kami melakukan operasi semut membersihkan sampah-sampah yang berada disekitar makam. Yang namanya anak-anak energi mereka sepertinya bisa lebih dari sehari. Terlebih lagi ananda kami oya sebutan untuk nurkamalia, Aan sebutan untuk Asyar Muskyira, Nouval dan Kamaruzzaman. Energi mereka tak habis-habisnya, antusias berlarian kesana kemari. Sepertinya lelah mengumpulkan sampah diakhir kegiatan? Fikir kami.. tidak bagi mereka. Sampah yang dikumpulkan masih kurang hingga daun kering juga mereka pungut, sampah yang sudah dikumpulkan temannya direbut-rebut
Pukul 11 siang, kami balik kanan.. beberapa wali murid sudah menelefon, menanyakan kepulangan kami yang belum kunjung tiba. Hari itu mnjadi sangat sempit. Anak-anak antusias, menikmati dan bergembira.
Apresiasi dan terimakasih kami kepada Kepala Desa Paya Meulogoe dan Penjaga Monumen MONISA yang memberi izin untuk kunjungan sekolah kami. Ini mematahkan ketakutan sebagian masyarakat peureulak bahwa membawa anak-anak ke Desa Meuligoe bakal tidak diizinkan, karena desa tersebut rawan dan dulu bekas konflik, apalagi membawa anak-anak ke makam. Selain dan kami juga merasa sangat senang karena sudah dilakukan beberapa pemugaran dan pembangunan. Terdapat dua bale-bale baru kecil, gapura yang sudah dicat baru berwarna merah, dan beberapa bangunan yang sednag dikerjakan. Semoga sekolah yang lain dapat menyusul melakukan kegiatan yang sama. Agar sejarah negri ini tetap terjaga dan tersampaikan ke anak dan cucu kelak. Agar MONISA bergairah karena banyak yang mengunjunginya.