05/05/2021
Mengapa Mesti Ada Beragam Bacaan/Qiraat?
Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA
Pada mulanya bacaan Al-Qur'an yang diajarkan Nabi Muhammad adalah bacaan yang sesuai dengan dialek suku Quraisy yaitu suku yang mendiami kota Mekah dan sekitarnya, di mana Nabi pertama kali menyampaikan Al-Qur'an dan dakwahnya kepada mereka. Namun, Nabi sangat paham bahwa bangsa Arab bukanlah terdiri dari suku Quraisy saja. Masih ada puluhan suku lagi yang terpencar di semenanjung Arabia. Dialek mereka satu sama lainnya berbeda. Perbedaan dialek ini kadang kala tajam, kadang kala juga ringan dan sedikit.
"Fenomena Imalah"
Ada kabilah yang dalam bahasa kesehariannya banyak memakai "e" sebagaimana banyak digunakan oleh suku Tamim, suku Badui di sebelah timur semenanjung Arab. Inilah yang akhirnya menjadi bagian dan fenomena "Imalah" pada bacaan Al-Qur'an. Sementara bangsa Quraisy jarang menggunakannya, walaupun ada.
"Fenomena Takhfif Hamzah"
Begitu juga jika mengucapkan Hamzah. Suku Tamim mengucapkannya dengan tekanan yang kuat, karena jarak di antara rumah mereka saling berjauhan sehingga memerlukan tekanan-tekanan tertentu dalam pengucapan, agar bisa didengar oleh temannya. Sementara Suku Hijaz yaitu kabilah yang berada di sepanjang jalur Mekah dan Madinah lebih cenderung melunakkan hamzah, dengan bermacam cara pelunakan, seperti memindahkan harakatnya ke huruf mati sebelumnya atau menggantikannya dengan huruf mad, atau membuangnya, atau lainnya. Inilah yang akhirnya menjadi bagian dan fenomena bacaan "Tashil baina baina", "Ibdalul hamzati biharfi mad", "Idkhal alif bainalhamzatain", "Hadzful hamzah", "Naql harakatil hamzah ilassakin qablaha" dan sebagainya.
Orang-orang Mekah memang orang kota yang tidak lagi memerlukan penekanan dalam pengucapan hamzah. Sebab, menurut pakar bahasa, jarak pemukiman antara mereka sudah demikian dekat dan umumnya tingkat pergaulan orang kota sudah demikian halus sehingga dalam bercakap pun demikian, tidak lagi berkeras-keras.
"Fenomena Idgham"
Fenomena bacaan Idgham juga demikian. Orang badui seperti suku Tamim cenderung meringkas ucapan dengan cara mengidghamkan atau melempit huruf ke dalam huruf lainnya agar lidah tidak banyak kerjaan, mengingat jarak rumah mereka yang berjauhan memerlukan peringkasan yang demikian itu. Tidak demikian dengan suku Quraisy yang tidak perlu tergesa-gesa dalam pengucapan huruf. Mereka mengucapkan huruf apa adanya dan pelan, dan berbagai fenomena dialek lainnya.
Nabi sangat memahami adanya ragam dialek tersebut. Nabi sangat paham bahwa bangsa Arab akhirnya banyak yang akan masuk Islam. Jika mereka masuk Islam, maka menu spiritual yang akan mereka konsumsi adalah membaca Al-Qur'an. Jika mereka dipaksa harus membaca Al-Qur'an dengan menggunakan dialek suku Quraisy maka yang terjadi adalah kendala dalam membaca Al-Qur'an. Seorang yang sedari kecilnya menggunakan satu dialek tertentu tidak mudah baginya untuk beralih ke dialek lainnya.
Nabi juga memahami bahwa umatnya sangat beragam, mulai tingkat pengetahuannya, ada yang "ummi" (tidak bisa membaca dan menulis), ada yang karena faktor umur tidak bisa mengucapkan kata-kata yang pas seperti orang tua dan anak-anak. Melihat latar belakang itu semua, Nabi Muhammad yang sangat penyayang kepada umatnya memohon kepada Allah melalui Malaikat Jibril agar Allah memberikan peringanan dalam cara membaca al-Qur'an. Allah mengabulkan permintaan Nabi ini dan menyuruhnya untuk membaca Al-Qur'an kepada umatnya dengan "Tujuh Huruf". Sesuai dengan bunyi salah satu hadis. Kata "membacakan" menunjukkan arti bahwa seluruh ragam bacaan Al-Qur'an haruslah berasal dari Nabi Muhammad, bukan dari orang per-orang.
Banyak segi positif dengan turunnya Al-Qur'an dengan "Tujuh Huruf" ini, di antaranya: Pertama, dengan adanya keleluasaan ini, bangsa Arab yang mendiami Jazirah Arab dengan mudah membaca Al-Qur'an sesuai dengan apa yang mudah bagi mereka. Kedua, dengan pemberlakuan ini, bangsa Arab merasa memiliki Al-Qur'an, karena dialek mereka diakomodasi oleh bacaan Al-Qur'an yang sah. Dengan demikian, sosialisasi Al-Qur'an semakin intensif dan membawa hasil guna yang besar. Dakwah Islam juga bisa meluas secara cepat.
Di samping dua hal di atas, satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya: pembacaan Al-Qur'an dengan “Ahruf Sab'ah” berarti mengabadikan dan merekam berbagai macam dialek suku-suku Arab pada waktu Al-Qur'an diturunkan. Bagi seorang peneliti, rekaman sejarah ini menjadi bahan yang sangat berguna untuk berbagai kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
(Syaikh Dr. Ahsin Sakho Muhammad, "Membumikan Ulumul Quran", hal. 22-24)
___
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag