12/05/2014
[PATCH 1 FROM MINANG]
PETIKAN LEGENDA
Banyak anak minang yang tidak tahu asal usul daerahnya sendiri, baik itu yang asli tulen minang, yang blasteran, yang rantauan, dll...
sangatlah disayangkan apabila suatu anak tidak tahu tempat tinggalnya....
walaupun asal-usul minang itu adalah hal yang tentu benarnya juga karena setiap sejarah tidak ada yang jelas tertulis hingga hari ini kecuali sejarah islam, akan tetapi apa salahnya kita untuk mengatuhinya saja, mungkin ada benarnya juga dalam sejarah tersebut sebagai penambah pengetauhan kita.
oke.!!!!!
kita mulai saja.
( Bahan bacaan dan sumber: Tambo Minangkabau, Tatanegara Madjapahit (Prof.M.Yamin), syair indang Pariaman (lisan), Hulubalang Radja (AM Dt. Madjoindo))
diambil dari blog: http://zainal-paracermat.blogspot.com/2011/10/minangkabau-cara-mudah-mempelajari.html
---------------------------------------------------------
PETIKAN LEGENDA MINANG
Tibo di langik taburito, tibo di bumi jadi kaba. Sampai ke langit menjadi berita, tiba di bumi menjadi cerita. Ya, begitulah perumpamaan yang dipakai dalam menggambarkan suatu riwayat dalam budaya Minang.
Tersebutlah kisah tentang tiga orang pangeran dari Maharaja Iskandar Zulkarnain yang diutus untuk mencari tanah baru di bagian tenggara Samudera Hindia dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya. Kepada ketiganya sang bapak berpesan agar di tanah baru nanti mereka mendirikan kerajaan taklukan Maharaja. Untuk pertanda, sang bapak membekali mereka dengan sebuah mahkota emas (mangkuto ameh) yang memakai lambang kemaharajaan. Sebuah kapal mengangkut ketiga pangeran yang ditemani oleh para pengawal yang berupa (bernama?) hewan: Kuciang Siam merupakan (bernama?) kucing, Harimau Campo merupakan (bernama?) harimau, Cati Bilang Pandai merupakan (bernama?) tupai, Kambiang Hutan merupakan (bernama?) kambing, dan Anjiang Mualim berupa (bernama?) anjing. Ada cerita bahwa para pengawal dan ajudan tersebut benar-benar hewan, sehingga penulis memberi sisipan "merupakan (bernama?) dalam mengidentifikasikan para pengawal tersebut.
Singkat cerita, dalam pelayaran di Samudera Hindia tersebut terjadi pertengkaran antara ketiga pangeran dalam menentukan siapa yang berhak memakai mahkota. Akibat pertengkaran itu mahkota emas terjatuh kedalam laut. Semua pengawal disuruh menyelam untuk mengambilnya, namun ternyata mahkota digulung oleh "ula bidai" (ular naga?) sehingga tak ada yang berani mengambilnya. Ajudan si bungsu dari para pangeranlah yaitu (tupai) Cati Bilang Pandai yang mendapat akal. Dengan kecerdikannya, ula bidai mau melepaskan mahkota itu dan ditangkap oleh Cati Bilang Pandai. Oleh karena ajudan pangeran yang bungsu yang punya kemampuan mendapatkan kembali mahkota, maka kedua kakaknya mengalah.
Yang satu bernama Maharaja Alif berlayar dengan kapal lain ke arah barat, mendarat di negeri Rum dan menjadi raja disana. yang ke dua bernama Maharaja Dipang berlayar ke timur, mendarat di negeri Cina dan menjadi raja di Cina dan Jepang. Si bungsu yang membawa mahkota bernama Maharaja Diraja.
Selanjutnya menurut legenda itu, setelah berlayar berhari-hari, kelihatanlah daratan. Dan itu adalah puncak gunung Marapi yang masih sebesar telur ayam. Akhirnya mendaratlah kapal yang membawa cikal bakal orang Minang di kaki gunung Marapi. Tempat tinggal dibuat dengan sebutan taratak, menjadi kampung dan nagari. Rakyat disuruh manaruko, membuka lahan dari hutan yang masih lebat.
-------------------------------------------------
(bersambung di PACTH 2 ----->>>>)