06/04/2015
Grosir Baju Anak Perempuan Fashion Branded
Bahannya adem, nyaman dan aman buat si buah hati ^^
•►CS1/WA 082385855555 CS2/WA 0896 35 654321.
•►PIN BBM CS1 : 74ea24e0 BBM CS2 : 7ecf1296
jual baju anak branded asli import
06/04/2015
Grosir Baju Anak Perempuan Fashion Branded
Bahannya adem, nyaman dan aman buat si buah hati ^^
•►CS1/WA 082385855555 CS2/WA 0896 35 654321.
•►PIN BBM CS1 : 74ea24e0 BBM CS2 : 7ecf1296
28/03/2015
5 Kecerdasan Bayi yang Sangat Mengejutkan
Pernahkan Anda merasakan bahwa kecerdasan bayi Anda lebih dari yang Anda kira?
Bersiaplah untuk terkejut membaca beberapa hasil riset yang ditulis pada buku 70 Essential Parenting Tips Based on Science, karangan Tracy Cutchlow berikut:
1. Bayi menghindari hal yang buruk/negatif
Kepada bayi-bayi berusia 6 dan 10 bulan diperlihatkan adegan mainan A sedang membantu mainan B untuk menaiki bukit. Lalu datanglah mainan C mendorong kembali mainan B sehingga turun kembali ke bawah.
Ketika selesai, mainan A dan C diberikan kepada bayi-bayi tersebut agar mereka dapat memainkannya. Rata-rata bayi memiliki mainan A si penolong, bukan mainan C. Bayi memiliki naluri untuk memilih yang terbaik dan menghindari yang buruk.
2. Bayi dapat memprediksikan sesuatu
Ketika bayi 9 bulan meraih suatu benda, area motorik di otak mereka teraktivasi. Ketika mereka melihat orang dewasa meraih benda yang sama, area motorik tersebut juga teraktivasi.
Lalu ketika ia melihat orang dewasa melakukannya sekali lagi, area motorik otak teraktivasi sebelum tangan si peraga menjangkau benda tersebut. Kesimp**annya, bayi dapat memprediksikan suatu tindakan.
3. Bayi dapat membuat perkiraan berdasarkan probabilitas
Dua buah lolipop, pink dan hitam ditunjukkan kepada bayi-bayi 10-12 bulan. Mereka masing-masing diminta memilih lolipop pink atau hitam. Lalu, bayi-bayi itu diperlihatkan 2 toples berisi banyak lolipop pink dan hitam. Toples A isinya didominasi lolipop pink sedangkan toples B sebaliknya, didominasi lolipop hitam.
Lalu, dari toples A diambil sebuah lolipop pink dan dari toples B diambil sebuah lolipop hitam. Setelah itu, kedua lolipop tersebut ditutupi dengan cangkir sehingga si bayi tidak dapat melihat lagi isinya.
Ketika kedua cangkir tersebut disodorkan kepada bayi-bayi tersebut, 80% dari mereka memilih cangkir yang isinya lolipop dengan warna yang mereka pilih di awal percobaan. Kesimp**annya, bayi dapat memprediksi berdasarkan probabilitas.
4. Lakukan sesuatu sekali saja dan ia dapat menirunya
Bayi 14 bulan dapat meniru apa yang Anda lakukan seminggu setelah ia melihatnya, asalkan dalam konteks yang sama.
Peneliti membuat sebuah boks yang dapat menyala bila disentuh. Peneliti memperlihatkan kepada bayi-bayi 14 bulan dan para bayi tersebut menirunya dengan cara menyentuhkan jidat mereka ke boks tersebut.
Seminggu kemudian kelompok bayi yang sama dites lagi, dan 2/3 di antara mereka masih ingat. Peneliti mencobanya pada minggu-minggu berikutnya, dan beberapa bayi masih ingat hingga pada bulan ke-4.
5. Bayi tahu selera Anda
Bayi 18 bulan dapat mengerti bila yang Anda minta berbeda dengan yang ia s**ai. Di hadapan bayi 18 bulan, diletakkan brokoli dan biskuit. Peneliti juga memegang brokoli dan biskuit lain.
Lalu peneliti memakan brokoli dan berkata "Enak!", dengan ekspresi wajah yang mendukung. Kemudian dilanjutkan dengan memakan biskuit sambil berkata, "Yakh!" dengan ekspresi wajah tidak s**a dengan biskuit tersebut.
Setelah melakukannya, peneliti menjulurkan tangan dan berkata kepada bayi,"Ayo berikan lagi kepada saya." Hasilnya, bayi 18 bulan memberikan brokoli. Ia tahu mana yang dis**ai oleh peneliti. Namun bila percobaan ini dilakukan kepada bayi 15 bulan, rata-rata si bayi memberikan biskuit, menuruti seleranya sendiri.
Parents, semoga ulasan di atas menambah pengetahuan kita.
23/03/2015
Anak Minder Berlebihan, Apa Penyebabnya?
Kompleks inferior, atau minder berlebihan, mengapa terjadi?
Kalau istilah ini terlalu ‘berat’ untuk Anda pahami, bagaimana dengan kata ‘minder’? Pasti Anda sudah pernah mendengarnya ‘kan?
Ya, Parents. Kompleks inferior adalah nama lain dari rasa minder, rendah diri, atau rasa malu, grogi, gugup untuk tampil di hadapan orang banyak.
Anak (dan orang dewasa) yang mengalaminya merasa dirinya tidak atau kurang sempurna dibandingkan orang lain. Maka tidak heran jika mereka yang mengalami gangguan kompleks inferior juga memiliki masalah dengan rasa percaya diri.
Siapa saja yang bisa mengalami rasa minder yang berlebih ini?
Tiada asap tanpa api. Anda boleh berlega hati karena gangguan kompleks inferior pada anak tidak muncul sekonyong-konyong.
Gangguan ini berpotensi muncul pada anak yang mengalami goncangan hebat dalam kehidupannya dan bisa menetap seumur hidup jika tak ditangani.
Berikut adalah beberapa peristiwa yang bisa memicu timbulnya kompleks inferior pada anak.
1. Pemerkosaan atau pelecehan seksual
Anak atau remaja yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan seksual merupakan golongan yang paling berpeluang mengalami rasa minder berlebihan. Para korban kekerasan seksual menganggap dirinya kotor, rendah dan hina karena sudah tidak ‘suci’ akibat area pribadi sudah disentuh secara paksa.
Mereka yang telah menganggap dirinya tidak berharga otomatis akan beranggapan menjaga dirinya sendiri dari perbuatan tercela seperti perilaku seks bebas atau penyalahgunaan narkotika adalah sesuatu yang sia-sia.
2. Bullying
Tayangan media yang kurang bermutu tentang kecantikan atau ketampanan membuat masyarakat mudah mengolok-olok seseorang yang tidak sempurna secara fisik.
Seorang anak yang terlalu gendut atau kurus, misalnya, akan menjadi bulan-bulanan di sekolah dan merasa minder dengan keadaan dirinya.
3. Perceraian atau kematian orangtua
Kehilangan sosok yang dicintai akibat perceraian atau kematian juga bisa membuat anak minder.
Mereka merasa dirinya berbeda karena hanya mempunyai seorang ayah/ ibu dan merasa tidak sanggup menjalani kehidupan karena tidak didampingi oleh ayah/ ibu mereka.
4. Kondisi ekonomi
Anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan penghasilan pas-pasan juga berpeluang mengalami rasa minder atau kompleks inferior.
Apalagi jika mereka banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara televisi yang banyak mengekspos kehidupan glamor anak-anak selebritis.
Dan juga penyebab lainnya di halaman berikut:
5. Kurang bersosialisasi
Anak dengan kehidupan ‘baik-baik saja’ dan keluarga berkecukupan pun juga berpeluang mengalami kompleks inferior atau minder berlebihan jika mereka tak pernah bersosialisasi dengan kawan-kawan seusianya.
Karena tidak pernah bergaul, seorang anak tidak memiliki referensi tentang berbagai karakter teman dan selalu merasa khawatir dirinya tidak cukup ‘cool‘ di mata teman-temannya.
Selesaikan sebelum terlambat
Cinta, cinta dan cinta, hanya dengan itulah kita bisa membongkar kompleks inferior pada anak-anak kita.
Karena cinta Anda tidak malu membesarkan seorang anak yang pernah menjadi korban kejahatan seksual. Dan karena cinta p**a Anda tak kehilangan semangat untuk memberikan dukungan dan dorongan agar anak lebih sering bergaul serta tampil di depan umum.
Adalah suatu hal yang luar biasa jika Anda ‘memerintahkan’ anak untuk terlibat banyak kegiatan di lingkungan RT, mengikuti aneka lomba yang sesuai dengan minatnya atau menemani Anda menghadiri acara-acara keluarga.
Jangan biarkan anak nge-game terlalu lama, Bunda. Daripada menghadiahkan perangkat game konsol di hari ulang tahunnya, minta ia mengadakan pesta ulang tahun dan berbagi keceriaan dengan mengundang semua temannya ke rumah.
Bagaimana contoh lainnya untuk menghilangkan minder yang berlebihan tersebut? Ulasannya ada di halaman berikut:
Rasa minder bisa ditaklukkan
Desi (nama samaran), seorang pengguna narkoba yang telah bertobat, berbagi kisah hidupnya pada theAsianParent.com (baca juga: Jauhkan Anak dan Remaja Dari Bahaya Narkoba Dengan Cinta).
“Saya selalu merasa diri saya tidak penting dan tidak berharga, sampai seorang kakak kelas secara tiba-tiba mengajak saya bergabung bersama band-nya. Ada rasa bebas yang tiba-tiba muncul ketika saya tampil bersama mereka, bernyanyi bareng penonton (yang sebagian besar adalah teman-teman saya sendiri).
Ketika tampil di panggung, semua kekhawatiran, ketakutan, dan rasa benci pada diri saya sendiri mendadak hilang. Dan saya merasa bahagia.”
Parents, kita tidak bisa membebaskan anak dari kompleks inferior atau minder seperti kita memberi obat untuk menyembuhkan sakit batuk anak kita. Hanya diri si anak sendirilah yang bisa mengalahkan gangguan psikologis ini.
Sama seperti yang dilakukan bandmates Desi, yang bisa kita lakukan adalah memberinya senjata/ pegangan untuk mengenyahkan rasa minder untuk selamanya.
Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.
20/03/2015
Pentingnya Teladan Bagi Anak
Teladan adalah bagian terpenting dalam proses pendidikan anak. Terutama pada anak usia balita.
Like father, like son. Atau ungkapan seperti “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, begitu yang sering kita dengar. Sekalipun tidak seluruhnya benar, namun sebagian besar akan melihat kebenaran dari ungkapan tersebut. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Kunci jawabannya terletak pada rule model, atau sering kita sebut dengan keteladanan. Di sinilah peranan orangtua menjadi amat penting dan menentukan warna kepribadian anak-anaknya.
Kita sering melihat, anak-anak akan memberikan respon berbeda terhadap satu peristiwa sesuai dengan contoh atau teladan yang diterimanya dalam keseharian.
Misalnya, ketika melihat seorang anak menangis akibat terjatuh. Anak yang satu akan berinisiatif membantunya dan mengusap-usap kepala anak yang terjatuh, sementara anak yang lain akan berteriak-teriak memarahi anak yang menangis.
Bisa jadi kita akan terkekeh geli melihat cara mereka bicara dan melihat mereka bersikap. Namun, sadarkah kita, bahwa sesungguhnya, itu adalah cerminan dari apa yang telah kita lakukan
Menurut DR. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Pendidikan Anak Dalam Islam, keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi membuktikan bahwa 75 persen proses belajar didapatkan lewat penglihatan dan pengamatan. Sementara 13 persennya melalui indera pendengaran.
Hal ini dikarenakan pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru anak.
Sebagai orangtua, kita adalah figur yang paling dekat dengan anak. Apapun yang kita lakukan, akan menjadi model bagi pendidikan anak-anak kita. Mereka akan menyerap seluruh tindak-tanduk kita. Pada masa-masa awal (golden age), anak-anak adalah peniru yang sempurna dari orangtua atau orang terdekatnya.
Saya teringat pada peristiwa belasan tahun lalu. Suatu hari saya amat kesal pada anak kedua saya yang ketika itu baru berusia 2 tahun. Rasa kesal yang memuncak dan beban pekerjaan yang tak juga berkurang membuat saya melemparkan barang yang sedang saya pegang. Apa yang terjadi kemudian?
Mata anak lelaki saya itu terbelalak. Ia ketakutan. Sesaat ia berhenti menangis. Dengan rasa menyesal kemudian saya memeluknya. Ia pun menjadi tenang. Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di situ.
Buntut dari peristiwa itu adalah, setiap kali marah, anak saya itu akan melempar benda apapun yang ada di tangannya. Persis seperti apa yang pernah saya lakukan. Sekalipun HANYA SEKALI, namun itu terekam dengan amat baik.
Saya telah memberi teladan yang salah dan buruk pada anak. Seperti apapun penyesalan yang terbit kemudian, tidak akan banyak menolong.
Perlu upaya keras untuk menghilangkan kebiasaannya melempar barang ketika sedang marah. Dan ketika kebiasaan buruk itu sudah berhasil dihilangkan, anak saya telah terbentuk menjadi anak yang emosional dan kurang dapat mengendalikan emosi.
Dari pengalaman ini, saya belajar banyak. Salah satunya adalah bahwa apa yang anak lihat jauh lebih membekas dan berperan dalam membentuk kepribadiaan anak daripada nasihat-nasihat baik yang kita sampaikan setiap waktu.
Parents, mendidik anak pada hakikatnya adalah mendidik diri sendiri. Sejauhmana kita mampu mendidik diri kita untuk menjadi pribadi yang menyenangkan, sejauh itu p**a hasil yang akan kita peroleh. Semua itu tecermin dari sikap yang anak-anak kita munculkan.
Selamat menjadi teladan yang baik ya Parents….
18/03/2015
Trauma Masa Kecil Mempengaruhi Kesehatan Saat Dewasa
Tidak ada yang lebih menyeramkan dari trauma yang dialami pada masa kanak-kanak, dan dampaknya pada kesehatan di masa dewasa.
Berikut akibat-akibat trauma masa kecil dan pengaruhnya pada kesehatan orang dewasa serta bagaimana membantu anak-anak tumbuh dan mengatasi pengalaman traumatis tersebut.
Definisi trauma masa kecil
Trauma masa kecil didefinisikan sebagai pengalaman-pengalaman traumatis yang terjadi pada anak-anak, dan umumnya terjadi pada tahun-tahun pertama dalam kehidupan mereka (The National Child Traumatik Stress Network, jaringan nasional stres traumatis anak, Amerika).
Kejadian-kejadian yang mengakibatkan stres traumatis kebanyakan adalah kejadian yang tidak diduga-duga, secara sengaja (dengan motif kebencian) dan berulang-ulang.
Pengalaman-pengalaman traumatis tidak hanya terjadi secara fisik, verbal atau berupa pelecehan seksual saja, tapi juga termasuk hal-hal yang berpengaruh kuat, seperti : anak merasa terbuang (diabaikan) atau terancam. Pengalaman-pengalaman semacam ini terbukti menghasilkan kerusakan emosi dan psikologis yang lama.
Dalam presentasinya, Dr. Nadine Burke Harris, dokter anak terkemuka dan CEO pendiri CYW (Center for Youth Wellness) San Fransisco, mendefinisikan trauma masa kecil akut sebagai “ancaman-ancaman yang begitu parah atau meresap sehingga mereka merasuk ke dalam diri kita dan merubah fisiologis kita: hal-hal seperti pelecehan atau pengabaian, atau tumbuh dengan orangtua yang berjuang melawan penyakit mental atau ketergantungan obat-obatan”
Apa saja akibat kejadian traumatik di masa kecil? Bacalah ulasannya di halaman berikut:
Trauma masa kecil dan akibatnya
Banyak di antara kita yang merasa bahwa anak-anak belum memikirkan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Tetapi pada kenyataannya, pikiran mereka yang lembut lebih rentan terhadap efek-efek merusak dan bersifat menetap yang disebabkan oleh trauma.
Sistem respon “Fight-or-flight” (Lawan atau kabur) dalam tubuh kita menjadi aktif ketika kita menghadapi bahaya, mengakibatkan tubuh kita mengalami stres.
Ketika sistem respon ini terpicu berulang kali, ia berubah dari penyelamat kehidupan menjadi perusak kesehatan. Oleh karena tubuh anak-anak sedang berkembang, mereka lebih peka terhadap stres berulang ini, dan menanggung bagian yang terberat dari sistem respon ini.
Menurut Dr. Harris, trauma masa kecil mempengaruhi hal-hal berikut :
Perkembangan otak;
Sistem kekebalan tubuh;
Sistem hormon;
Cara membaca dan menuliskan DNA, hal ini akan mempengaruhi perkembangan dan penampilan genetis, misalnya : beruban sebelum waktunya (red.) ;
Nucleus Accumbens (NAc) , pusat kesenangan dan penghargaan otak yang terlibat dalam ketergantungan obat-obatan;
Prefrontral Cortex, yang dibutuhkan untuk mengendalikan impuls dan fungsi pelaksanaan, area yang penting untuk pembelajaran; dan
Pusat respon takut di otak, yang menyebabkan seseorang mengambil tindakan yang berisiko tinggi manakala menghadapi tekanan.
Jadi, tidaklah mengejutkan apabila korban-korban trauma masa kecil bergulat dengan emosi-emosi amarah, kenangan-kenangan menakutkan, penyakit, dan depresi di masa dewasa.
Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.
15/03/2015
Mengenal Cacing Kremi yang Sering Menyerang Anak-Anak
Orangtua jaman dulu sering mengatakan, kalau anak kurang nafsu makan dan kurus namun perutnya buncit, maka si anak sedang ‘cacingan’. ‘Cacingan’ ini sebenarnya mengacu pada hewan parasit yang bernama cacing kremi.
Cacing kremi ini tidak hanya menyerang ma**sia saja melainkan juga menyerang hewan. Pada ma**sia, umumnya cacing kremi menyerang anak-anak dan perkembangbiakannya terjadi di dalam usus.
Cacing kremi ini bisa masuk ke tubuh anak melalui makanan, pakaian, maupun lingkungan sekitar yang kotor, misalnya seperti sprei, sofa, karpet dan semacamnya.
Cacing kremi pada anak-anak pada umumnya bisa ditemukan di sekitar a**s dan membuat daerah ini terasa gatal sehingga anak-anak menggaruknya.
Kemudian telur cacing kremi akan menular pada anak-anak lain melalui jari tangan si-anak yang digunakan untuk menggaruk tersebut. Akhirnya telur-telur tersebut dapat berpindah melalui pakaian, mainan, maupun makanan yang sudah di pegangnya.
Anak-anak pada umumnya s**a memasukkan mainan ke dalam mulutnya, dan dengan mudah larva dari cacing kremi tersebut masuk ke dalam mulut dan berpindah ke dalam usus.
Proses pematangan terjadi selama 2-6 minggu. Selanjutnya cacing kremi betina yang sudah siap bertelur akan bergerak menuju a**s untuk menyimpan telur-telurnya di dalam lipatan kulit a**s.
Telur-telur cacing kremi ini bisa bertahan selama 3 minggu atau lebih cepat. Kemudian cacing-cacing tersebut akan bergerak masuk ke dalam usus bagian bawah untuk melanjutkan perkembangbiakannya.
Sebagai orangtua, sebaiknya Anda kenali tanda-tanda adanya cacing kremi pada anak-anak agar Anda bisa segera memberikan penangan yang tepat. Tanda-tanda saat anak terserang cacing kremi bisa ditengarai dari beberapa ciri ini:
Anak sering menggaruk daerah a**s karena telur cacing disimpan pada daerah ini sehingga timbul rasa gatal.
Anak akan terlihat susah tidur karena pada umumnya cacing betina akan mulai bergerak dari usus menuju a**s untuk menyimpan telurnya di malam hari.
Pada anak-anak perempuan bisa terjadi peradangan pada v***a dan va**na karena cacing-cacing ini bisa masuk melalui v***a ke dalam va**na sehingga menyebabkan area tersebut menjadi gatal. Bahkan cacing-cacing ini juga bisa terus bergerak menuju bagian luar lubang uterus yang dapat mengakibatkan terjadinya vulvovaginitis.
Nafsu makan anak terlihat menurun, hal ini dikarenakan di dalam usus sudah terlalu banyak cacing yang sudah berkembang biak, dan akhirnya anak-anak mengalami penurunan berat badan drastis. Gangguan lain yang bisa menyerang anak adalah terkena penyakit tipus.
Jika tanda-tanda di atas tampak terjadi pada anak-anak Anda, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat
Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.
13/03/2015
Arinda Kids Fashion Adalah Satu Toko Online yang ber tempat di Pekanbaru , Menjual Berbagai jenis dan merk baju anak-anak berkualitas / import, Original No kw-kw an ^_^, Harga Paling Murah dan Pelayanan Terbaik , jujur 100% no tipu-tipu
Info Contact Admin :
0823 85 855555
0823 86 866666
0823 35 654321
0896 35 654321
74EA24E0, 7ECF1296 ,
What's App = 0823 85 855555 , 0896 35 654321
NB : Open Reseller Bagi Bunda / Sista yang hoby jualan
10/03/2015
Cara Mendidik Anak Tanpa Teriak
Tak mudah mengaplikasikan cara mendidik anak tanpa teriak. Tapi hal itu sangat mungkin dilakukan!
Berteriak atau memaki bukanlah cara mendidik anak yang benar. Tentu Anda pernah mengatakan bahwa hal ini adalah teori tak beralasan. Padahal dengan berteriak saat anak bersikap sangat bandel, justru membuat anak semakin ingin menunjukkan ‘eksistensinya’.
ini yang HARUS DILAKUKAN sebelum memberi konsekuensi atas kesalahan anak
Menurut pakar pendidikan anak, Leah Koenig, marah dan menghukum anak tanpa ada tujuan apapun bukanlah cara mendidik anak untuk disiplin. ‘Hukuman’ yang diberikan harus dapat membuat anak memahami bahwa kedisiplinan harus dilakukan. Tapi, singkirkan dulu amarah. Emosi berlebihan membuat orang tua cenderung memberi hukuman yang justru akan menyakiti perasaan anak
Berpelukan
Kakak beradik yang bertengkar sih, lumrah. Tapi mendamaikannya pun sedikit susah. Pisahkan mereka dan tempatkan mereka pada dua tempat terpisah dalam ruangan untuk menenangkan suasana. Setelah itu hadapkan keduanya untuk saling meminta maaf dengan mengucapkan :
Maaf ya, aku sudah (minta mereka berdua mengucapkan kesalahan yang telah dilakukan)
Aku melakukannya karena (minta mereka berdua menjelaskan mengapa ia jadi marah)
Lain kali aku akan (minta mereka berjanji untuk bertindak semestinya)
Setelah itu, minta keduanya berpelukan. Mungkin terkesan aneh, tapi mereka akan kembali bercanda lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Kalau nakal, Bunda panggil pak polisi ya..
Polisi dan satpam adalah dua profesi yang ‘disalahgunakan’ oleh orang tua untuk menakuti anak-anaknya. Meski mereka takut, tapi percayalah tidak akan ada manfaatnya menakuti mereka dengan cara seperti ini. Tapi, peran pak polisi bisa kita terapkan. Coba gunakan ‘surat tilang’. Tuliskan kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan dan konsekuensinya. Nah, saat mereka sudah selesai dengan hukumannya, minta mereka untuk menggantikan tugas orang tua sebagai polisi. Beri mereka tugas ‘mengawasi penjahat’ dan menemukan pelanggaran yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya.
Hukuman fisik masih perlu…tapi yang seperti apa?
Masih ingat saat orang tua kita memberi hukuman dengan menyuruh kita berdiri berjongkok di sudut sementara menyeimbangkan buku? Patutkah dicoba? Daripada kita mencubit atau memukul mereka, lebih baik memberi mereka ‘hukuman’ seperti itu. Bagi orang dewasa, melakukan hal tersebut tidaklah lama. Tapi bagi anak-anak, 5 menit = 5 jam!
Biarkan mereka membereskan mainannya sendiri
Mereka mungkin tidak keberatan saat membereskan mainannya sendiri. Tetapi jika mereka membuat rumah berantakan dengan menumpahkan sesuatu, maka mereka pun tetap harus membereskannya sebagai konsekuensi. Katakan dengan tegas tanpa amarah, bahwa mereka telah membuat rumah berantakan, sehingga mereka pun harus bertanggung jawab untuk itu. Sanksi ini diberikan supaya mereka paham bahwa membereskan rumah cukup melelahkan. Jangan khawatir, si kecil s**a kok diberi tugas seperti ini karena ia merasa dirinya sudah ‘dewasa’.
Memanfaatkan Waktu
Menghukum secara fisik atau dengan menyuruh anak untuk berdiri di sudut ruangan mungkin masih sering kita lakukan. Meski ada sedikit efek jera, tetapi lebih baik memanfaatkan ‘waktu hukuman’ dengan mengerjakan PR, mengerjakan puzzle atau apapun yang membuatnya asyik. Cara ini menenangkan pikiran si anak, sekaligus menggiringnya ke kegiatan yang positif.
Nah bunda, hindari sebisa mungkin untuk mendidik anak tanpa teriak, jangan di marahi , tapi di arahkan dengan benar, semakin di marahi semakin anak akan menunjukkan existensinya ^_^
10/03/2015
3 Kebiasaan untuk Mengajarkan Anak Kesehatan
Mengajarkan tentang kesehatan pada Si Kecil memang jadi tantangan. Anak yang pasalnya selalu meniru, gerak-gerik orangtua, membuat kita harus lebih berhati-hati dalam memberi contoh.
Bicara tentang kesehatan, ini dia beberapa langkah mudah mengajarkan anak untuk melakukan kebiasaan hidup sehat mulai dari sekarang. Ini berguna agar anak terbiasa menjaga dan peduli terhadap kesehatannya, terutama saat besar nanti.
Ajarkan dengan contoh
Ini jadi kesalahan kebanyakan orangtua pada umumnya, kita terlalu banyak menasihati tanpa memberikan contoh nyata. Cobalah dengan mencotohkan Si Kecil dengan melakukan olahraga setiap pagi atau saat hari libur, juga dalam menjaga pola makan. Lalu, mulai ajak anak untuk berolahraga bersama. Meluangkan waktu untuk melakukan olahraga bersamanya akan mendorongnya untuk semangat berolahraga, lho!
Belanja bersama
Menghabiskan waktu bersama keluarga ketika mempersiapkan makanan bisa jadi salah satu cara, mengajarkan Si Kecil tentang menjaga kesehatan. Ajak juga Si Kecil saat kamu berbelanja bahan makanan ke supermarket sehingga mereka dapat memilih apa yang akan mereka makan. Ini juga akan membantu Si Kecil belajar mengenai makanan yang mereka harus makan atau tidak. Kamu juga bisa merekomendasikan dan menjelaskan hal-hal mengenai kandungan gizi dalam makanan.
Makan Bersama
Ini yang nggak kalah penting. Jangan pernah lewatkan makan bersama ya, walupun terkadang kesibukan kita nggak bisa dikompromi. Coba untuk biasakan sarapan bersama ya. Membiasakan ini, sangat baik untuk memulai hari yang bebas dari stres dan akan lebih berenergi dalam menjalankan akivitas. Sehingga Si Kecil akan terbiasa terus untuk melakukan sarapan, setiap paginya.Selain sarapan, biasakan juga makan bersama dalam setiap kesempatan dan coba untuk bertanya tentang aktivitas Si Kecil hari itu.
09/03/2015
Dari Seledri hingga Kemiri, 3 Bahan Alami untuk Rawat Rambut Bayi
Kemiri
Kandungan lemak, vitamin B1, dan asam lemak pada kemiri sudah dikenal sejak dahulu kala untuk membantu memperkuat, menghitamkan, serta menyuburkan rambut. Ambil beberapa butir kemiri, bakar/sangrai secukupnya, dan tumbuk sampai halus. Minyak dan abu yang dihasilkan dari proses inilah yang bisa langsung digunakan ke area rambut dan juga alis agar tumbuh lebih subur dan hitam. Namun, sekarang juga sudah banyak minyak kemiri yang siap pakai di beberapa toko bayi sehingga kamu nggak perlu repot menyangrai kemiri sendiri.
Lidah Buaya
Lidah buaya sudah dikenal luas untuk menyuburkan dan membuat rambut terlihat lebih hitam gelap. Yang perlu kamu lakukan adalah mengambil satu batang lidah buaya dan membaginya menjadi beberapa bagian. Selanjutnya, cukup oleskan getah daun lidah buaya tersebut pada area kulit kepala. Dengan kandungan vitamin A, B, C, E, asam golat, kalsium, zat besi, seng, dan magnesium, lidah buaya juga dianggap bisa memperkuat akar rambut, sehingga membantu mengatasi rambut rontok.
Seledri
Sayuran hijau ini mengandung protein, lemak, kalsium, zat besi, serta vitamin A, B, dan juga vitamin C. Selain dianggap membantu merangsang pertumbuhan rambut, seledri juga dipercaya mampu membuat rambut menjadi lebih hitam, lho! Getah seledri didapatkan dengan cara meremas-remas daun seledri yang telah dicampur dengan sedikit air. Getahnya lalu dioleskan pada kulit kepala untuk menghitamkan dan menyuburkan rambut. Semudah itu!
Nah itu dia bunda, 3 bahan alami untuk tumbuhkan rambut si adek ^_^ ketika masih usia dini jangan di berikan yang kimia2 dulu ya bunda ^_^
07/03/2015
Tips untuk Ayah, Cara Mendekatkan Diri dengan Anak
Ya, kesibukan ayah seringkali membuat anak kurang memiliki kedekatan. Padahal, menurut Dr. Ratna Megawangi, M. Sc., nggak hanya ibu yang perlu terlibat untuk memperhatikan tumbuh kembang anak. Manfaat ayah dekat dengan anak, ternyata bisa membuat anak memiliki karakter positif, lebih percaya diri bahkan lebih cerdas. Berikut hal yang bisa kamu lakukan bersama anak.
Aktivitas Fisik
Melakukan aktivitas fisik sudah pasti sangat dis**ai para ayah. Mulai dari main gulat, lari-lari dan melompat. Nah, kenapa kamu nggak mencoba melakukan ini bersama anak. Ajak anak untuk ikutan melakukan aktivitas fisik seperti main sepeda, main kejar-kejaran di taman atau melompat di atas trampolin. Seru pastinya! Nggak hanya itu saja, kamu juga bisa mengajak anak untuk membantu mencuci mobil atau melakukan hobi bersama, seperti bermain futsal, renang atau main basket.
Intelektual
Ternyata ayah itu dianggap sebagai guru pertama anak dalam kehidupannya. Nggak cuma soal melakukan aktivita fisik, ayah juga bisa bermain soal akademis. Misal, dengan mengenalkan tentang ibukota berbagai negara dan membuat games tebak-tebakan. Jangan lupa untuk menyisipkan reward kecil kalau anak berhasil menjawab semua pertanyaan dari kamu ya, Ayah.
Interaksi Sosial
Mengajak anak untuk ikut dalam acara gathering kantor atau olahraga bersama teman, juga salah satu kegiatan yang bisa mendekatkan bonding. Selain itu, saat bersama dengan orang baru kamu juga bisa mengajarkan anak agar lebih percaya diri dan berinteraski dengan orang lain. Bagaimana, mau mencoba untuk mempraktikkan kegiatan tersebut? Mudah lho!
06/03/2015
Dampak Buruk Menjewer Telinga pada Anak
Sering menjewer telinga anak, ketahui dampaknya
Orangtua seringkali menjewer telinga anak untuk memberikan efek jera saat mereka melakukan sebuah kesalahan ataupun kenakalan.
Berdasarkan penelitian, ternyata menjewer telinga anak ataupun kekerasan lainnya dapat memberikan dampak buruk pada anak.
Berikut ini beberapa dampak buruk yang bisa menjadi pertimbangan bagi orangtua sebelum bertindak.
1 Menjadi pribadi penakut dan tertutup
Anak-anak diciptakan dengan karakter yang berbeda-beda, Bagi anak yang cenderung pendiam, perlakuan Anda menjewer telinga anak bisa menjadikannya berkembang sebagai anak yang penakut, karena dia berpikir bahwa apa yang dia kerjakan akan membuatnya dijewer, sehingga dia takut untuk bertindak apapun.
Sebagai orangtua Anda pasti tidak ingin anak Anda menjadi penakut dan tertutup, karena justru kepribadian seperti ini membuat Anda tidak akan pernah dapat memahami anak-anak Anda sendiri.
Lebih berat lagi saat anak-anak sudah mulai beranjak remaja dan Anda bahkan tidak dekat dengan mereka karena ada rasa takut pada diri anak untuk bahkan hanya sekedar curhat pada Anda.
2 Merusak kesehatan mental anak
Secara tidak langsung, menjewer telinga anak bisa merusak kesehatan mental. Karena meskipun hal ini tidak akan meninggalkan bekas luka namun jeweran Anda bisa merusakkan beberapa jaringan syaraf yang vital. Apalagi telinga letaknya dekat dengan otak.
Tentunya sebagai orangtua jika terjadi sesuatu terhadap anak Anda, yang repot dan menyesal adalah Anda sendiri.
3. Anak semakin membangkang
Jika anak Anda termasuk tipe pemberani, dampak menjewer telinga bisa membuatnya semakin nakal dan menjadi pembangkang.
Hal ini sebagai penyangkalan atas rasa malu mereka pada sekitar saat Anda menjewernya.
Mereka bisa menjadi anak-anak yang tidak lagi menghormati Anda sebagai orangtua atas rasa dendam yang mereka simpan di dalam hatinya.
Anda perlu ingat bahwa anak-anak memiliki memori yang tajam yang bisa dia ingat hingga kelak mereka dewasa.
4 Membentuk mental pembohong pada anak
Menjewer telinga anak bisa membentuk kepribadian pembohong dan pengecut pada diri mereka, karena anak-anak berpikir bahwa jika Anda tidak menyukai sesuatu yang dikerjakan oleh mereka maka Anda akan menjewer telinganya.
Untuk menghindari kena jeweran dari Anda mereka akan berusaha menutupi kesalahan perbuatan mereka.
Mereka akan tumbuh menjadi seorang pengecut kelak karena terbiasa untuk menutupi kesalahan perbuatannya sejak masih usia dini.
5. Pemikiran negatif terhadap orangtua
Dampak menjewer telinga anak bisa membuat anak-anak memiliki pemikiran negatif terhadap orang dewasa.
Mereka akan berpikir bahwa orang dewasa pasti benar dan kelak saat mereka dewasa, mereka akan menganggap bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah solusi untuk menunjukkan power mereka.
Jadi sebaiknya Anda bisa memberikan pengertian kepada anak-anak dalam menegur mereka saat mereka melakukan kesalahan.
Berikan nasihat yang baik dan Anda juga bisa memberikan sebuah contoh kasus jika si anak melakukan apa maka akan berakibat pada apa.
Hal demikian akan lebih membuat anak tumbuh menjadi pribadi positif dan bijaksana.
Jadi buat para bunda, apa2 jangan s**a nge jewer telinga anak ya ^_^