PROFIL MAJELIS RASULULLAH SAW PEKALONGAN
Keberadaan Majelis Rasulullah SAW Pekalongan pada mulanya di rintis oleh beberapa orang saja. Namun dalam merintis majelis ini, kami tidak sembarang, maksudnya adalah kami tetap dalam jalur Majelis Rasulullah SAW Pusat yang ber Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Majelis Rasulullah SAW di ketuai oleh Ustadz Fahrul, beliau adalah murid langsung Habibana Mundzir
bin Fuad Al-Musawa. Sebelum beliau merintis Majelis Rasulullah SAW bersama teman-teman, beliau dulunya pernah menemani dakwah Habibana Mundzir, ketika Habibana dakwah di Tegal sekitar tahun 2001-2014. Awal ikut habibana 1999, saat itu Habibana memilih beliau untuk khidmat di Pondok Pesantren Darus Sa’adah, di Cipayung tempat Al Habib Umar bin Hud Al-Athos, bersama Habibana, beliau membantu dakwah di pondok selama beberapa bulan. Lantas Habibana dakwahnya yang semakin pesat di Jakarta. Lantas Habibana meninggalkan mahad, untuk fokus di Jakarta. Kemudian Habibana bersama beliau di daerah Pondok Gede di Jatiwaringin. Untuk memikirkan kemajuan dakwah, yaitu tentang kitab-kitab fiqih, hadits dan kitab-kitab salaf lainnya. Mulai tahun 2001, Habibana meluaskan dakwahnya di daerah-daerah, diantara beliau mendapat tugas di Jawa Tengah yaitu di daerah Tegal dan Slawi. Kemudian beliau meluaskan dakwah Habibana di Purwokerto bersama rekannya Muhammad Lagimi, yang kemudian semakin meluas di Cilacap, Pekalongan, dan Pemalang. Sampai akhirnya Habibana mendapat perintah dari guru mulia Al Musnid Al Alamah Al Arifbillah Al Habib Umar bin Hafidz untuk fokus di Jakarta tidak ke luar kota lagi. Seiring dengan berkembang pesatnya Majelis Rasulullah SAW baik di Pusat maupun di daerah-daerah, Habibana menyerahkan dakwah Majelis Rasulullah SAW yang ada di Kota Tegal, Pemalang, dan Pekalongan kepada beliau Ustad Fahrul. Alhadulilllah berkat kedekatan beliau dengan Habibana, beliau mendapat mandat langsung dari Habibana, terutama untuk dakwah di daerah-daerah yang Habibana buka selama ini. Berkat kedekatan dengan habibana p**a kemudian beliau bisa berangkat bersama keluarga habibana setelah wafat, disamping itu juga mengantar putra-putra Habibana untuk belajar di Hadraumaut. Kemudian beliau bersama keluarga Habibana berziarah ke makam Rasulullah SAW, untuk meminta restu kepada Beliau SAW guna meneruskan dakwah Habibana setelah Habibana wafat. Setelah dari sana beliau dan keluarga Habibana Alhamdulillah mendapat kesempatan umroh, juga berziarah ke Hadromaut, Zambal, Inan, ke makam Nabiyullah Hud, dan beberapa wali-wali besar disana . Walaupun dalam waktu yang cukup singkat beliau pernah belajar di Darul Musthofa, pimpinan Al Musnid Al Alamah Al Arifbillah Al Habib Umar bin Hafidz, beberpa kitab beliau kaji disana. Kemudian saat saat beliau dan keluarga Habibana p**ang juga mendapat restu dari Al Musnid Al Alamah Al Arifbillah Al Habib Umar bin Hafidz, untuk meneruskan dakwah Habibana Mundzir, dalam hal ini beliau dan keluraga Habibana diundang untuk makam malam. Setelah itu beliau dan keluarga Habibana p**ang ke Jakarta. Lalu beliau kembali meneruskan dakwah Habibana yang ada di daerah-daerah. Kemudian Ustadz Fahrul menegembangkan dakwahnya di Pekalongan, yang kebetulan Pekalongan adalah tempat dimana beliau domisili sekarang. Alhamdulillah sambutan dari teman-teman dan jama’ah Majelis Rasulullah SAW yang luar biasa antusias walaupun tidak secara langsung bisa hadir pengajian ataupun rutinan di pusat, yang hanya membaca dari website resmi Majelis Rasulullah SAW dan streaming dakwah Habibana. Dulu, rutinan Majelis Rasulullah SAW Pekalongan satu bulan sekali, dengan tempatnya berpindah dari rumah jama’ah ke jama’ah yang lain atau ke masjid-masjid dan musholla-musholla, dengan pembacaan kitab Maulid Adh-Dhiya’ul lami’ dan mauidhoh khasanah dari ustadz Fahrul. Seiring berjalannya waktu dengan intensitas waktu yan terlalu lama, kemudian rutinan kami persempit waktunya mejadi satu minggu sekali, yaitu setiap malam Ahad. Alhamdulillah setiap minggu jama’ah semakin bertambaj banyak, diantaranya dari Comal, Pemalang, Kota Pekalongan dan Kabupaten sendiri seperti Bojong, dan Wiradesa, juda dari Batang.