01/06/2014
Taujih Spesial Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf Lc Al-Hafizh
RQ Humaira
Sesungguhnya nikmat Al Qur'an yg kita rasakan saat ini tidak lepas dari jasa tabi- tabi'in, ustadz-ustadzah kita.
Jadi aktifnya saat ini berinteraksi dengan al Quran baik tilawah dan menghafal, inshaa-allah akan dirasakan p**a manfaatnya kelak untuk orang orang setelah kita di tahun 2015, 2020, 2025, dll.
Demikianlah amal orang beriman selalu sambung menyambung, keshalihan orang beriman dampaknya juga pada orang-orang setelah kita.
Hadits yang mengatakan barang siapa yang menghidupkan kebiasaan baik dan diikuti oleh masyarakat, maka dia akan mendapat pahala seperti yang diikutinya. Jadi, orang yang aktif dengan Al-Qur'an seperti berinvestasi di bank syariah misalnya 10 milyar, walaupun dirumah tidak kerja, bisa mendapat 40 juta/bulan.
Tapi ini kan investasi dunia.
Kata Allah investasi dunia "qaliil" kecil dan tidak kekal. Kalau tidak banknya yang hancur, investornya yang hancur.
'Ala kulli hal, manusia itu sangat berusaha untuk investasi dunia yang kecil dan fana' ini,padahal ada investasi yang kekal tidak berkerugian itulah investasi hidup bersama Al-Qur'an.
Itulah investasi yang tak akan pernah merugi.
Entah kita mengajarkan cara bacanya, isinya, menghafalnya maka itu adalah investasi yang tak akan pernah rugi.
Membaca Al-Qur'an itu sebenarnya adalah pengulangan-pengulangan huruf.
Orang yang masih terbata bata adalah jam terbangnya yang masih kurang bersama dengan Al-Quran (Q.S.Fathir: 29).
Alangkah besarnya nikmat Allah bagi orang yang kita ajari Al-Quran selama 40, 50 atau 60 tahun. Maka selama itu p**a pahalanya mengikuti kita.
Bahkan Allah akan menambah lagi dengan karunianya yang lain, diampuni Allah p**a karena memiliki khasanah seperti ini
Allah sifatnya 'Syakuur', Rabb yang sangat mudah memberi apresiasi terhadap hamba-hambanya.
Beda dengan makhluk yang cuek, s**a kritik.
Maka berakhlaqlah dengan akhlaq Allah sekecil apapun selalu mengapresiasi.
Misalnya di W.A jam berapa nanti ketemuannya? teman jawab jam 8, lalu dijawab 'jazaakillah'. Cukup jazaakillah saja, tapi itulah bentuk apresiasi kita, sekecil apapun perbuatan baik itu.
Dalam Al-Qur'an Surah Faathir ayat 32, Allah berfirman:
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (p**a) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
*Tipe pertama: Kelompok Dzaalimu li nafsihi, manusia yang menganiaya dirinya.
Tentu keburukan ini bertingkat-tingkat.
-Ranking 1 orang yang tidak beriman.
-Rangking 2 orang yang sudah beriman tapi berimannya setengah-setengah,tergantung kepentingan, jika menurut dia enak dia beriman, jika tidak enak, tidak beriman.
Contohnya: pentingnya berpolitik, tapi masyarakat sekarang masih sulit menerimanya, di kritik jangan bawa-bawa agama ke politik.
Padahal tidak bawa-bawa politik, tapi terbawa dengan sendirinya.
Contoh lain, ada yang baca Qur'an hanya di Ramadhan, ada yang baca Qur'an tapi tidak paham maknanya, ada yang sudah paham tapi memutar balik ayat, ada yang baca Qur'an sebulan, sebulan berikutnya libur.
Sampai yang tidak mau tadabbur itu juga Dzalimu li nafsihi.
Jadi luar biasa ketika Allah mengistilahkan dengan semua sikap manusia, dengan menganiaya dirinya. Setiap sesuatu yang dianiaya pasti ada rasa sakit, jadi siapapun yang menganiaya dirinya, pasti akan merasakan sakit pada dirinya.
Seluruh yang ada di alam semesta ini termasuk jasad diri kita itu, aslinya bagian dari jagad raya yang "aslama" tunduk pada ketentuan-ketentuan Allah swt. Badan kita juga bagian dari aslama, ginjal, paru-paru, dll, tidak pernah kita minta istirahat tapi dia bekerja.
Kenapa? Karena dia sudah aslama, menyerah pada Allah.
Tapi berbeda dengan manusia, jiwanya diberi kebebasan, bisa tunduk/ tidak.
Maka ketika kita tidak mau tunduk, maka tidak akan harmoni.
Kalo saja jasad manusia itu bisa bicara, pasti akan berkata;
wahai manusia, kenapa jiwamu tidak mau tunduk kepada Allah?
Nah, fisik yang terus menerus mengalami menyalahi fitrahnya maka itulah jadi penyakit.
Baik pelanggarannya syar'iyah atau sunnah kauniyah, misalnya sakit karena pola makannya tidak benar, cara makannya tidak benar, apakah karena terlalu banyak makan/makan terburu-buru.
*Tipe kedua yaitu kelompok manusia yang berada di pertengahan 'muqtashid' bersama Al-Qur'an.
*Tipe ketiga, yaitu orang-orang yang 'Saabiqun bil khairat', bersegera kepada kebaikan.
Artinya Al-qur'an yang diturunkan, digunakan dengan sempurna. contoh: punya HP smartphone tapi semua fasilitasnya digunakan, berbeda dengan punya smartphone tapi hanya untuk sms & telepon.
Kalau urusan akhirat tidak boleh irit, urusan kebaikan harus kuat. Contohnya hari ini sebenarnya bisa 3 juz tapi menurut dia 1 juz saja. Saabiqun bil khairat adalah orang yang selalu bersemangat, terdepan dalam kebaikan, di kalangan sahabat sampai mengeluh karena seluruh khairat sudah dilaksanakan semua, inilah dampak Qur'an yang luar biasa.
Dan tentu orang yang Saabiqun bin khairat, punya keberkahan waktu yang luar biasa, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat baik.
Allah-lah yang akan meng'handle' kehidupan orang orang yang shalih.
Inilah yang harus menjadi cita-cita kita, yang harusnya diperjuangkan dalam hidup kita, menjadi Saabiqun bil khairat
Karena dampak Al-Qur'an maka ia akan mendapat karunia yang besar.
Maka selalulah berhusnudzan, agar kondisi fisik dan jiwa kita jadi baik, jangan pikirannya selalu negatif.
Apapun yang terjadi pada diri kita, Allah itu masih sangat baik pada kita.Maka berdo'alah dengan tawakkal,bukan memaksa.
Agar kita menjadi Saabiqun bil khairat:
1. Perbaikilah hubungan kita dengan Allah SWT, saat kita berinteraksi dengan Al-Qur'an akan menjadi Saabiqun bil khairat, kalau yang kita inginkan hanyalah Allah SWT, yang kita targetkan hanya Allah Ghayatuna. Akan lelah jika memikirkan saat hafal, kapan nempel, akhirnya kesel, lalu memvonis dirinya, sepertinya saya memang tidak bakat. Itu namanya su'udzan kepada Allah.
Jadi, parameternya Allah ghoyatuna, saat kita menghafal Qur'an apakah kita kesal?
Kalau masih kesal, maka 'Allah Ghayatuna' nya belum sempurna.
Maka kuatkan Allah Ghoyatuna, susah nempel, pujilah Allah, lupa lagi, pujilah Allah, niscaya itu membuat kita lebih banyak membaca Qur'an, banyak dzikir pada Allah, karena target menghapal itu banyak membaca, otomatis banyak dzikir, maka intensitasnya dengan Allah semakin banyak. Orang yang membaca Qur'an 3 jam, dengan nonton 3 jam pasti interaksi dengan Allahnya berbeda.
Maka menyikapi dengan alhamdulillah,karena ingin hafal, maka baca yang banyak, rela harus mengulang-ulang.Warzuqnaa Tilaawatahuu Aana Allaili wa Aana Annahaar, berikanlah kami kemampuan membaca Qu'ran yang banyak.
Tujuan menghafal Qur'an itu agar lebih dekat dengan Allah, bukan cepat tidaknya menghafal.
Ulama kita dulu 2000-3000x khatam sebelum wafat, bagaimana bisa kemampuan luar biasa ini ada, karena rasa rindunya pada Allah, akhirnya selalu membaca.
Nah, semangat- semangat seperti inilah yang membuat kita 'Saabiqun bil khairat'.
2. Harus selalu sadar betul dengan fungsi Al- Quran, kita harus selalu ingin tahu apa yang diinginkan Allah melalui ayat itu, kalo tidak tahu, selalu ingin cari tahu, setelah paham, maka masuk tadabbur, dari sinilah kita bisa menikmati nikmatnya per ayat itu
Jadi, tidak capek fisik, capek perasaan, tidak berpikir kapan 1 juz, kapan 1 juz, berhenti hanya untuk menghitung berapa halaman lagi.
Kalau tadabbur, konsentrasinya habis ini Allah mau bicara apa lagi? mau memberi petunjuk apa lagi, nikmat membacanya, tidak berpikir kapan khatamnya, ingin baca lagi, baca lagi.
Bahkan 1 ayat bisa ia ulang berulang-ulang, karena ayatnya menyentuh hatinya.
Jadi hilangkanlah perasaaan yang tidak sehat tadi.
3. Ayat ayat itu harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari sehari, apakah diamalkan dalam kehidupannya, diamalkan dengan menyebarkan nilai nilainya, apakah yang terkait di bidang sosial politik, semangatnya adalah Al-Qur'an, sehingga cara berpikir politiknya juga dengan cara pikir Al-Qur'an.
Karunia besarnya adalah masuk surga, dengan perhiasan, gelang-gelangnya, pakaian yang mewah.
Orang-orang yang Saabiqun bil khairat, ada juga yang mengalami perjuangan, sedih, tapi di surga tak ada lagi kesedihan.
Orang yang berinteraksi dengan Al-Qur'an pasti lelah, tapi nanti di surga tak ada lagi rasa lelah. Sebaliknya, mereka yang tidak 'Saabiqun bil khairat', selalu menganiaya dirinya. Maka pasti di akhirat akan mengalami kesedihannya yang tidak akan berhenti, lebih dahsyat lagi, tetapi kalau Saabiqun bil khairat kesedihannya hanya sampai sakaratul maut, setelah di kubur dan di akhirat nikmat lagi.
Berbeda dengan yang jauh dengan Al-Qur'an, di dunia lelah, di kubur lebih lelah lagi, di neraka lebih lelah lagi.