Rukainiyyah Indonesia

Rukainiyyah Indonesia

Share

Rukainiyyah Indonesia adalah cabang dari Thoriqoh; AlQur'aniyyah AsSunniyyah alMuhammadiyyah ArRukainiyyah. ini berpusat di Negara Sudan.

Thoriqoh yang didirikan oleh alImam alMujaddid AsSyaikh Muhammad Ahmad ArRukain pada tahun 1436 H.

18/10/2024

Shalat... shalat... shalat...

Amma ba'du, wahai hamba-hamba Allah...

Apakah kalian melihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana menjadikan makanan sebagai nutrisi bagi tubuh? Dengannya, fungsi tubuh tetap terjaga, kekuatannya meningkat, kemampuannya terwujud, dan kehidupannya berlanjut. Demikian juga shalat, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai makanan bagi ruh. Dengan shalat, ruh menjadi aktif dan kuat, hidupnya berlanjut, dan ruh menjadi segar serta sehat. Keduanya adalah dua jenis makanan; makanan yang Allah karuniakan kepada manusia untuk tubuhnya, tanpanya tubuh akan mati dan hancur, dan makanan lainnya adalah untuk ruhnya, yaitu shalat. Tanpa makanan ini, ruh akan mati, mengering, dan berubah menjadi wujud yang sia-sia tanpa makna.

Shalat ini, wahai saudara-saudaraku, sebelum menjadi kewajiban yang Allah Azza wa Jalla tetapkan bagi hamba-Nya, adalah kehormatan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan kepada setiap hambaNya dan mengangkat derajat mereka ke peringkat yang paling tinggi.

Apakah kalian melihat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengundang hamba-hamba-Nya untuk masuk ke hadirat-Nya, berdiri di hadapan-Nya, dan berbicara serta bermunajat kepada-Nya, dan Allah pun membalas perkataan mereka? Apakah kalian melihat panggilan ini, apakah itu kehormatan atau kewajiban?

Sesungguhnya itu adalah kehormatan yang sangat besar, sebelum menjadi kewajiban. Ketika saya melihat panggilan untuk berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla setiap saat, saya merenungkan panggilan ini, memikirkan jauhnya diri saya dari Allah Azza wa Jalla, dan betapa tebalnya penghalang-penghalang berupa kelalaian, maksiat, dan jauh dari Allah Azza wa Jalla. Namun demikian, Allah tetap memanggil saya untuk berdiri di hadapan-Nya dan memasuki hadirat-Nya, menembus semua penghalang ini. Ketika saya membayangkan kehormatan Ilahi ini, seharusnya saya meleleh dalam rasa malu kepada Allah.

Siapakah kita di dunia ini sampai Allah Subhanahu wa Ta'ala mendapatkan undangan untuk berdiri di hadapan-Nya? Hingga saya bermunajat dan berbicara kepada-Nya? Allah Azza wa Jalla mengangkat saya ke tingkat di mana saya dapat berbicara kepada-Nya dan berdiri di hadapan-Nya. Renungkanlah makna yang agung ini, saudara-saudaraku. Ya, itu adalah kewajiban dari kewajiban yang terbesar, namun selain kewajiban, shalat adalah undangan kehormatan yang paling mulia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Lihatlah, saudara-saudaraku, itulah hikmah mengapa Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya mengundang orang-orang beriman kepada kehormatan ini setelah mereka menjadi mukmin. Allah tidak memanggil orang-orang yang tidak beriman untuk melaksanakan shalat, sebagaimana firman-Nya:
"إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا"
"Sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

Mengapa hanya orang yang beriman saja yang mendapatkan perintah untuk shalat? Karena orang-orang yang belum mendapat kehormatan iman, belum layak masuk ke dalam hadirat Allah Azza wa Jalla, belum layak berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jika kita memahami kebenaran ini, saudara-saudaraku, marilah kita bertanya: Bagaimana mungkin seseorang yang beriman kepada Allah, yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang mengakui dirinya sebagai hamba Allah, dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai Tuhannya, bagaimana mungkin ia berpaling dari kehormatan ini? Bagaimana mungkin ia berpaling dari kewajiban ini, yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah anugerahkan kepadanya?

Ketika kita meyakini bahwa kita adalah hamba Allah dan Allah adalah Tuhan kita yang menguasai seluruh alam, yang dari-Nya asal mula kehidupan kita dan kepada-Nya kita akan kembali, ketika kita beriman demikian, dan kemudian kita mendapati bahwa Allah Azza wa Jalla, sebagai bentuk penghargaan dan kehormatan-Nya kepadamu, mengundangmu ke hadirat-Nya, bagaimana mungkin kamu berpaling dari panggilan-Nya?

Betapa istimewanya panggilan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk berdiri di hadapan-Nya dalam salat. Allah memberikan kesempatan untuk bermunajat, berbicara, dan mengingat-Nya, suatu kehormatan yang besar bagi setiap orang yang beriman. Sebagai bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta, salat menjadi cara bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon petunjuk-Nya, dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Betapa manusia itu lemah dan sering kali lalai dalam menjalankan perintah Allah. Namun, kelemahan ini bukan alasan untuk meninggalkan salat. Bahkan, dalam kelemahan itu, Allah masih memanggil hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya melalui salat.
Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa meskipun manusia bisa tergoda untuk berpaling dari salat karena hawa nafsu atau kelalaian, yang lebih mengherankan adalah jika seseorang mencegah orang lain untuk salat atau bahkan tidak menanggapi panggilan Allah ini dengan baik. Karena pada akhirnya, salat adalah "tiket" kita di hadapan Allah di hari kiamat, yang akan menjadi tanda ketaatan kita sebagai hamba.

Salat adalah jaringan penghubung terkuat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Betapa pentingnya menjaga hubungan kita dengan Allah, melalui salat. Jika kita menjaga jaringan ini, kita akan meraih kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat, dan Allah akan memberikan kekuatan serta keselamatan kepada hamba-Nya.
Wahai hamba-hamba Allah, jagalah jaringan ini, yaitu salat. Jika kita menjaga jaringan komunikasi kita kepada Allah dengan sebaik-baiknya, ketahuilah bahwa kita adalah umat yang akan meraih kemenangan, bahwa kita adalah umat yang Allah muliakan dengan persatuan, bahwa kita adalah umat yang Allah karuniai dengan kekuatan dan kemenangan. Jaringan komunikasi ini adalah salat. Jangan sampai ada institusi, lembaga, atau tempat—baik sipil maupun militer—yang terputus dari jaringan ini. Wasilah penghubung kita dengan Allah adalah salat, jaringan kasih yang kita harapkan menjadi syafaat bagi kita di hadapan Allah SWT, meskipun kita penuh dengan dosa. Jaringan kasih yang kita harapkan akan menjadi syafaat bagi kita di hadapan Allah SWT adalah salat ini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menghalangi kita dari kehormatan ini. Shalat adalah kehormatan sebelum menjadi kewajiban. Allah berfirman: "Dan hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku berikan, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi."

29/09/2024

JARINGAN KOMUNIKASI HAMBA KEPADA TUHANNYA

Apakah kalian pernah melihat sekelompok prajurit yang tersebar di padang yang luas, tersebar di sana-sini di setiap sudutnya, dan mereka diberi tugas penting? Tidak diragukan lagi, keberhasilan mereka dalam melaksanakan tugas itu tergantung pada jaringan komunikasi antara mereka dengan pemimpin tertinggi mereka yang berada di ruang operasinya. Jika jaringan komunikasi ini ada dan berfungsi, maka keberhasilan mereka dalam menjalankan tugas terjamin. Namun, jika jaringan itu terputus, tidak diragukan lagi bahwa akhir mereka akan berakhir dengan kegagalan, bahkan mungkin kehancuran.

Ada satu jaringan komunikasi yang harus tersedia antara hamba-hamba Allah Ta'ala di bumi dengan Tuan dan Pencipta mereka yang tidak terikat oleh waktu atau tempat. Jika jaringan ini ada, dan hubungan antara hamba-hamba Allah Ta'ala dan Tuan serta Pencipta mereka terwujud, maka mereka akan meraih kemenangan, kebahagiaan, dan akan dianugerahi oleh Allah Ta'ala dengan keamanan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat mereka. Namun, jika jaringan ini terputus, maka tidak diragukan lagi bahwa akhir mereka adalah kerugian.

Tapi apa jaringan ini? Jaringan ini hanyalah satu hal, yaitu Shalat. Betapa seringnya Allah Ta'ala dalam Al-Quran mengingatkan kita akan pentingnya jaringan ini dan betapa besar peranannya. Kita semua membaca kitab Allah Ta'ala, dan melewati banyak ayat yang menegaskan pentingnya rukun ini, bahkan pentingnya jaringan yang menghubungkan hamba-hamba Allah Ta'ala yang tersebar di bumi dengan Tuan dan Pencipta mereka. Tidakkah cukup firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [An-Nisa: 103]?

Atau tidakkah cukup firman Allah Ta'ala: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."_ [Al-Baqarah: 45]? Bahkan, tidakkah cukup firman Allah Ta'ala: "Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku." [Tha-Ha: 14]? Dirikanlah shalat agar menjadi awal ingatanmu kepada-Ku, dirikanlah shalat agar menjadi awal ingatan-Ku kepadamu.

Betapa herannya aku dengan seseorang yang mengaku beriman kepada Allah, mengaku memuliakan-Nya, dan mengaku mencintai-Nya, tetapi ketika diingatkan tentang jaringan ini, jaringan yang menghubungkannya dengan Tuhan yang ia cintai, ia berpaling darinya. Bahkan, mungkin ia mengajak orang lain untuk menjauh darinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah teladan kita, beliau bersabda "Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat." Bagaimana bisa ada seorang Muslim yang jujur dalam imannya, tetapi malah merasa nyaman menjauh dari shalat?

Marilah kita jagalah jaringan ini. Karena dengan menjaga jaringan ini, kita akan menjadi umat yang menang, umat yang dimuliakan Allah dengan persatuan, kekuatan, dan kejayaan. Jaringan komunikasi antara kita dan Allah adalah shalat, dan hendaknya tidak ada institusi atau lembaga yang terputus dari jaringan ini. Semoga shalat menjadi syafaat bagi kita di hadapan Allah Ta'ala.

06/09/2024

Kita berada di awal bulan Rabiul Awal, bahkan di bulan yang penuh cahaya ini, di mana kita merayakan peringatan yang sangat berharga bagi kita semua, yaitu peringatan kelahiran makhluk terbaik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan yang paling dicintai oleh-Nya, Sayyidina Muhammad bin Abdullah ﷺ. Dalam kesempatan ini, mari kita manfaatkan momen ini untuk meresapi kenangan yang indah ini, dan memperkuat cinta kita kepada Rasulullah, meningkatkan ikatan kita dengannya, merindukannya, dan mengikuti petunjuk serta syariatnya dengan penuh keikhlasan.

Wahai hamba-hamba Allah, ketahuilah bahwa Rasulullah ﷺ masih bersama kita, masih bersama kita dengan perhatian dan kasih sayangnya kepada kita, dengan kerinduannya dan doanya untuk umatnya. Kebersamaan ini adalah kenyataan yang harus kita yakini tanpa keraguan. Mungkin ada yang bertanya: bagaimana mungkin Rasulullah masih bersama kita padahal beliau telah wafat? Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman:
**"Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati p**a"** [Az-Zumar: 30].

Lalu di mana kebersamaan dengan orang yang telah wafat di antara kita? Apakah beliau tidak seperti manusia lainnya yang hidup selama beberapa waktu kemudian wafat? Jawaban yang harus kita berikan kepada mereka adalah penjelasan dari Allah Azza wa Jalla terlebih dahulu, dan kemudian penjelasan serta penegasan dari Rasulullah ﷺ. Allah Ta'ala berfirman:
**"Dan ketahuilah bahwa di antara kalian ada Rasulullah"** [Al-Hujurat: 7].
Dan juga firman-Nya:
*"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman. Bagaimana kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."* (Ali Imran: 100-101).

Tidak diragukan lagi bahwa seruan Al-Qur'an yang berbunyi *"Wahai orang-orang yang beriman!"* ditujukan kepada seluruh orang beriman di sepanjang masa hingga hari kiamat. Setiap kali firman Allah berbunyi *"Wahai orang-orang yang beriman!"*, itu adalah seruan untuk seluruh umat beriman. Maka, Allah عز وجل berfirman kepada kita dan kepada generasi-generasi yang akan datang: *"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi kitab..."* yang dimaksud dengan mereka, sebagaimana disepakati oleh para mufassir, adalah kaum Yahudi. *"Bagaimana kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?"* Maka, Kitab Allah عز وجل berkata kepada kita bahwa Rasulullah berada di antara kita. Itulah bukti pertama.

Bukti kedua adalah penjelasan dari Nabi Muhammad ﷺ tentang firman Allah عز وجل, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang semua perawinya adalah perawi yang sahih, dan juga oleh Ibn Sa'ad dan Ibn Ishaq dengan jalur lain, dari Nabi ﷺ yang bersabda: *"Hidupku adalah baik bagi kalian, dan kematianku juga baik bagi kalian. Ketika aku hidup, aku menetapkan syariat untuk kalian, dan ketika aku mati, amal-amal kalian akan dipaparkan kepadaku. Apabila yang aku lihat baik, aku memuji Allah karenanya, dan apa yang aku lihat buruk, aku memohon ampunan untuk kalian."*

Setelah penjelasan yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ ini, apa lagi yang perlu dijelaskan? Katakanlah kepada mereka yang mengatakan bahwa hubungan kita dengan Nabi Muhammad ﷺ telah terputus, dan bahwa tongkat yang digunakan seseorang untuk menggiring ternaknya lebih baik daripada Nabi Muhammad ﷺ yang telah meninggalkan kita. Katakan kepada mereka, mengapa kalian duduk dalam shalat kalian saat membaca tasyahhud sambil mengucapkan, *"Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi."* Bagaimana kalian mengucapkan salam kepada seseorang yang telah terputus hubungannya dengan kita dan tidak lagi ada, seakan-akan dia hanyalah seperti tongkat yang digunakan penggembala untuk menggiring domba-dombanya? Ya, benar.

Wahai hamba-hamba Allah: Para sahabat Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan dan juga mereka yang melihatnya, bahkan dari kalangan orang-orang musyrik, adalah teladan dalam kecintaan kepada Rasulullah. Mereka adalah contoh dalam keterikatan yang mendalam dengannya, mereka tidak tahan berpisah dari beliau bahkan untuk sesaat hingga mereka kembali dan duduk bersamanya. Kisah-kisah ini sangat menyentuh, dan pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri dan kepada kalian semua: Berapa bagian dari cinta kepada Rasulullah yang kita miliki? Berapa bagian dari kerinduan kepada Rasulullah yang kita miliki? Berapa bagian dari keterikatan kepada Rasulullah dan tuntunannya yang kita miliki? Mungkin ada yang mengatakan: *"Tapi para sahabat melihat Rasulullah, duduk bersamanya, dan mendengar langsung darinya, maka sudah sewajarnya mereka mencintainya dan terikat dengannya. Namun kita tidak berkesempatan untuk melihatnya, kita tidak memiliki kesempatan untuk duduk bersamanya atau mendengarnya, jadi dari mana cinta dan keterikatan kepada Rasulullah bisa timbul dalam hati kita?"*

Saya katakan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah, sebagai jawaban atas pernyataan ini: Sebaliknya, logikanya adalah justru sebaliknya. Seorang pecinta yang sering duduk bersama kekasihnya, yang selalu melihatnya dan mendengarnya, seharusnya merasakan dinginnya api kerinduannya. Seharusnya, dalam keadaan ini, perasaan kerinduan ini mereda, karena biasanya kerinduan lebih dirasakan oleh mereka yang jauh. Seharusnya para sahabat Rasulullah, yang selalu duduk bersamanya, merasakan pendinginan api kerinduan mereka. Namun kita, yang hanya mengenal Rasulullah ﷺ melalui pelajaran sejarah hidupnya, yang telah mengetahui akhlaknya, dan telah mengenal sifat-sifatnya yang dicintai oleh para sahabatnya, yang telah mengetahui semua itu dan tidak diberi kesempatan untuk melihatnya, seharusnya merasakan nyala api kerinduan yang membara di dalam hati kita. Seharusnya kita merasakan gejolak hasrat untuk melihatnya, untuk mendengarnya.

Ya, wahai hamba-hamba Allah, mata kita mungkin tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ, tetapi hati kita telah melihat semua yang dilihat oleh para sahabat Rasulullah ﷺ dalam dirinya. Hati kita telah melihat dalam diri Rasulullah ﷺ, yang menjadi teladan bagi seluruh umat manusia dalam akhlak yang luhur, yang menjadi teladan dalam cinta kepada umatnya, yang menjadi teladan dalam kelembutan dalam berinteraksi, yang menjadi teladan dalam sopan santun yang tinggi. Semua itu adalah hal-hal yang membuat hati jatuh cinta kepada pemilik sifat-sifat ini.

Ya, mata kita mungkin tidak pernah melihat Rasulullah, tetapi hati kita telah melihat semua keindahan itu dalam dirinya. Jadi, bagaimana mungkin kita tidak mencintainya? Bagaimana mungkin kita tidak merindukannya? Seolah-olah ada yang bertanya: Apa saja sifat-sifat yang Anda bicarakan itu? Mungkin mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari sejarah hidup Rasulullah. Ini sungguh menyedihkan. Haruskah saya menyajikan contoh-contoh dari sejarah hidup Rasulullah yang dapat membangkitkan cinta dalam hati kita? Waktu terbatas, tetapi saya akan menyebutkan beberapa contoh dengan cepat yang dapat menggerakkan hati untuk merindukan dan mencintai Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ selalu melihat para sahabatnya bekerja keras, dan beliau adalah yang paling pertama bekerja keras. Beliau melihat mereka lapar, dan beliau adalah yang paling pertama merasakan lapar, bahkan yang paling sering lapar. Dalam Perang Khandaq, ketika para sahabatnya berlomba-lomba menggali parit, beberapa dari mereka meminta izin untuk p**ang ke rumah mereka sesaat untuk beristirahat atau makan sesuatu, sementara Rasulullah tidak pernah berhenti bekerja. Beliau juga menggali, memindahkan tanah, dan telah mengikatkan batu di perutnya karena lapar.

Ketika Sayyidina Jabir melihat kondisi Rasulullah yang membuatnya sangat prihatin, beliau mengundang Rasulullah secara diam-diam bersama sedikit sahabat lainnya untuk makan di rumahnya. Hanya seekor kambing kecil, tetapi Rasulullah ﷺ bersikeras untuk mengundang semua kaum Anshar dan Muhajirin ke rumah Jabir. Rasulullah ﷺ masuk ke rumah sayyidina Jabir, bukan sebagai yang pertama makan, tetapi sebagai pelayan. Beliau duduk di belakang periuk makanan, melayani mereka, meskipun perutnya sendiri terikat dengan batu karena lapar yang sangat.

Beliau meminta piring demi piring diisi dengan kuah daging dan roti, dan berkata: *"Berikan kepada kelompok ini."* Beliau mengisi piring lainnya dan berkata: *"Berikan kepada kelompok yang lain."* Rasulullah ﷺ merasa senang melihat mereka makan. Mengapa beliau melakukan itu? Beliau khawatir makanan itu tidak cukup untuk semua orang dan sebagian dari mereka akan tetap lapar, jadi beliau lebih memilih mereka daripada dirinya sendiri dan bersikeras menjadi orang terakhir yang tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi Allah lebih mulia daripada semua nabi dan rasul. Bukankah Dia yang menanamkan kemurahan hati, cinta, dan kasih sayang di dalam hati Rasulullah? Rasulullah bangkit dari periuk makanan, dan sayyidina Jabir berkata: *"Demi Allah, Rasulullah ﷺ berdiri sementara periuk kami masih mendidih dengan daging, dan adonan roti kami masih diuleni. Beliau berkata: 'Makanlah dan bagikanlah kepada orang lain, karena orang-orang sedang menderita kelaparan.'"* Bagaimana mungkin aku tidak mencintai Rasulullah? Bagaimana mungkin kalian tidak mencintai Rasulullah?
Setelah penaklukan Makah, tak lama setelah itu, kebanggaan keturunan terbesar dari suku-suku Arab, Bani Hudzail, bangkit dan datang untuk berperang melawan Rasulullah ﷺ di lembah Hunain. Saat itu, ada sekitar dua ribu orang dari penduduk Makah yang baru saja masuk Islam, dan mereka ikut serta bersama Rasulullah untuk pertama kalinya dalam perang Hunain. Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin, dan Rasulullah ﷺ memberikan hadiah lebih banyak kepada mereka yang baru saja masuk Islam daripada yang lain, sesuai dengan perintah Allah عز وجل untuk menghormati mereka yang baru saja masuk Islam. Sekelompok Anshar berkumpul dan berbicara secara diam-diam di antara mereka, mengungkapkan ketidakpuasan terhadap Rasulullah dengan berkata, "Semoga Allah mengampuni Rasulullah, dia memberikan kepada kaum tertentu dan meninggalkan kami, padahal pedang kami baru saja meneteskan darah mereka kemarin." Rasulullah mendengar perkataan ini, lalu mengumpulkan kaum Anshar saja, tanpa orang lain, di sebuah lembah dan menyampaikan kata-kata berikut kepada mereka—saya berharap setiap dari kalian menghafalnya, saya berharap setiap dari kalian mengulanginya untuk merasakan denyut cinta, kelembutan, dan kehalusan -Rasulullah memuji Allah kemudian berkata, "Wahai kaum Anshar, apakah kata-kata ini sampai kepadaku dari kalian? Bukankah aku datang kepada kalian saat kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberi petunjuk melalui aku? Bukankah kalian terpecah-pecah, lalu Allah menyatukan kalian melalui aku? Bukankah kalian miskin, lalu Allah mengayakan kalian melalui aku?" Setiap kali Rasulullah mengatakan hal itu, mereka menjawab, "Ya, bagi Allah dan Rasul-Nya lah karunia dan keutamaan." Rasulullah kemudian diam, lalu berkata, "Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?" Mereka berkata, "Apa yang harus kami katakan, wahai Rasulullah? Karunia dan keutamaan adalah milik Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah berkata lagi, "Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar?" Mereka menjawab lagi, "Kami telah menjawabmu, wahai Rasulullah, karunia dan keutamaan adalah milik Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah berkata, "Mengapa kalian tidak menjawabku, wahai kaum Anshar? Demi Allah, jika kalian mau, kalian bisa berkata dan kalian akan berkata benar, 'Kau datang kepada kami sebagai orang yang terusir, lalu kami memberikan tempat tinggal kepadamu; kau datang kepada kami sebagai orang yang ditolak, lalu kami menolongmu; kau datang kepada kami sebagai orang yang didustakan, lalu kami membenarkanmu; kau datang kepada kami sebagai orang yang miskin, lalu kami membantumu.' Katakanlah, tetapi mereka menjawab, 'Tidak, karunia dan keutamaan adalah milik Allah dan Rasul-Nya.' Kemudian Rasulullah berkata kepada mereka, 'Apakah kalian merasa tidak puas, wahai kaum Anshar, karena sejumput harta yang aku berikan untuk memenangkan hati kaum tertentu agar mereka masuk Islam, sementara aku menyerahkan kalian kepada Islam kalian sendiri? Tidakkah kalian puas bahwa orang-orang p**ang dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kalian p**ang dengan membawa Rasulullah? Demi Allah, apa yang kalian bawa p**ang lebih baik daripada apa yang mereka bawa p**ang. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, aku akan menjadi salah satu dari kaum Anshar. Orang-orang adalah selimut luarku, sedangkan kaum Anshar adalah pakaian dalamku. Jika orang-orang menempuh suatu lembah, dan kaum Anshar menempuh lembah lain, aku akan mengikuti jalan kaum Anshar. Maka bersabarlah, kalian akan melihat keistimewaan setelah aku tiada. Bersabarlah sampai kalian bertemu denganku di telaga (al-Haudh). Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.'"

Apakah kalian melihat kepribadian yang luar biasa ini, yang bersinar melalui kata-kata ini? Apakah kalian melihat kehalusan ini? Apakah kalian melihat cinta ini? Ya, itulah Rasulullah. Benar bahwa kita tidak melihatnya, tetapi kita melihat sifat-sifat ini dengan mata hati kita, dan kita melihat bagaimana dia merindukan kita. Ya, bukankah dia berkata dalam hadits yang shahih, 'Aku sangat ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.' Seorang sahabat bertanya, 'Bukankah kami saudara-saudaramu, ya Rasulullah?' Rasulullah menjawab, 'Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum datang.' Saya berharap dan memohon kepada Allah agar saya, kalian, dan semua kaum Muslim yang bersabar terhadap ketidakadilan yang terjadi setelah Rasulullah dan tetap teguh di jalan Allah, dituliskan sebagai saudara-saudaranya yang dia rindukan."

01/09/2024

Ketika wahyu turun dengan Al-Qur'an, ia ditulis tanpa titik (seperti ini ىلا حاحه لها كما ىرى). Namun, ketika semakin banyak orang non-Arab masuk Islam, muncul kebutuhan untuk menambahkan titik dan harakat pada mushaf. Ketika perhatian terhadap tajwid mulai melemah, muncul p**a kebutuhan untuk menjelaskan hukum-hukum tajwid, serta aturan-aturan mengenai cara membaca, sambung, dan berhenti sebagaimana yang kita lihat dalam mushaf kita saat ini.

Ketika umat Islam semakin sibuk dengan urusan dunia, diadakanlah berbagai kompetisi Al-Qur'an, baik di tingkat lokal maupun internasional, untuk memotivasi umat agar menghafal, memperbaiki tajwid, serta memahami dan memperhatikan Al-Qur'an. Semua itu adalah amal kebaikan yang termasuk dalam firman Allah:
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
*{Dan berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung}*.

Demikian p**a dengan peringatan maulid Nabi ﷺ, kebutuhan akan hal itu muncul ketika perhatian terhadap penyelamat umat ﷺ mulai melemah, ketika umat Islam menjadi sibuk dan pengetahuan tentangnya, sifat-sifatnya, serta sirah dan sunnahnya semakin berkurang. Memperhatikan Nabi ﷺ lebih utama karena beliau adalah pembawa Al-Qur'an dan yang bertugas menjelaskan. Tanpa beliau, Al-Qur'an tidak akan turun, dan surga tidak akan dimasuki.

29/08/2024

Mengetahui mana yang benar dan paling benar membutuhkan pandangan yang menyeluruh dan wawasan yang mendalam, karena sudut pandang yang sempit akan mengabaikan hal-hal penting dan berpengaruh. Ketika seseorang hanya bergantung pada standar material dan mengabaikan aspek spiritual, moral, atau etika, atau bahkan tidak tahu atau menolak hal-hal tersebut, maka ia akan merusak di saat ia mengira sedang memperbaiki;
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ
{Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar}.

Oleh karena itu, akal seorang muslim yang terdidik oleh seorang mursyid lebih sadar dan lebih luas pemahamannya daripada akal seorang muslim yang tidak terdidik. Karena akal seorang yang tidak memiliki guru pembimbing terbatas pada pengetahuan material empiris yang dapat dirasakan, dan kekurangan dalam hal pengetahuan spiritual, etika, serta hal-hal gaib yang dapat dipahami melalui akal dan pemikiran, bukan hanya melalui pengalaman dan indera. Maka, siapa pun yang mengikuti setiap tesis peradaban dan budaya Barat tanpa pertimbangan akan tersesat dan jatuh ke dalam perilaku dan praktik yang tidak pantas bagi manusia yang dimuliakan dengan akal, bukan hanya dengan otak.

29/08/2024

Tidak ada kedudukan yang diambil oleh Rasulullah ﷺ pada Hari Kiamat kecuali itu adalah kedudukan yang terpuji, yang membuat makhluk iri dan menuntutnya.

Dimulai dari keluarnya beliau sebagai orang pertama yang dibangkitkan, memimpin mereka menuju tempat berkumpul, berbicara kepada mereka, memberi kabar gembira dan menenangkan mereka ketika mereka dikuasai oleh ketakutan, hingga syafaat beliau yang agung untuk memulai penghitungan (amal), dan seruan beliau dengan suara lantang "Umatku, umatku" sementara yang lainnya berbisik pelan dan tidak berbicara kecuali dengan izin dari Yang Maha Keras Siksaan-Nya.

Beliau membawa panji pujian, di bawahnya semua nabi dan rasul serta ahli kitab, dan beliau diberikan telaga alkautsar yang airnya mengalir dari sungai di surga, yang dengannya Rasulullah ﷺ menyambut tamu-tamu dari umatnya.

Umatnya akan dihisab pertama kali meskipun mereka adalah umat terakhir, dan mereka akan masuk surga sebelum semua umat. Beliau ﷺ akan dianugerahi dengan al-Wasilah dan derajat tertinggi di surga, serta berbagai keutamaan lainnya yang tidak dapat dihitung. Pada hari itu, kunci-kunci dan kemuliaan berada di tangan beliau ﷺ.

Bershalawatlah kepada Nabi, wahai orang-orang yang tercinta, dan berbahagialah dengan syafaat beliau ﷺ.

28/08/2024

Ilmu-ilmu Islam banyak sekali, di antaranya adalah ilmu bahasa Arab, ilmu Al-Qur'an, hadits, akidah, fikih, muamalah, dan lain-lain. Setiap ilmu tersebut memiliki spesialisasi dalam aspek tertentu dari agama agar mudah dipelajari dan diperdalam.

Tasawuf adalah ilmu yang berfokus pada penyucian jiwa, perilaku, penyempurnaan diri, penyembuhan hati dari penyakit-penyakitnya, serta pemurnian hati dalam perjalanan menuju Allah SWT hingga terbuka baginya hakikat tauhid dan pengetahuan tentang Allah yang sebelumnya tertutup oleh kelalaian, kebodohan, dan nafsu.

Tasawuf adalah ilmu yang didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah, dan para perintisnya adalah ulama salaf seperti Hasan Al-Basri, Fudhail bin 'Iyadh, Bishr Al-Hafi, dan lain-lain. Dasarnya adalah berpegang teguh pada syariat yang lurus, dan bangunannya adalah amal sholih, baik itu amal anggota tubuh maupun amal hati seperti cinta karena Allah.

Puncak tasawuf adalah akhlak; siapa yang melebihi kita dalam hal akhlak, maka dia telah melebihi kita dalam tasawuf. Siapa saja yang mengklaim bertasawuf maka harus diukur dengan timbangan syariah, jika sesuai maka diterima, jika tidak maka ditolak.

Want your school to be the top-listed School/college in Pati?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


KH. Abdul Manan Rt. 01 Rw. 04
Pati
59154