*CERITA SEORANG TEMAN, DIASPORA DI AMRIK, YG BEKERJA DI CHEVRON, CALIFORNIA*
(sebuah catatan, yg mungkin bagus utk anak-anak Indonesia dan kita sendiri di lingkungan pekerjaan kita).
********************
*COMPETITION* vs *_COOPERATION_*
Jumat lalu, kedua anak saya menerima *Report Card* dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School (rapor kalau di Indonesia).
Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum *info tentang rangking?*,
Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya...
*“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”*
Dia balik bertanya, *“Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”*
"Wah, salah apa saya ini....?" kata saya dalam hati.
Dia melanjutkan bicara, *“Anda kok sangat s**a sekali berkompetisi?"* katanya.
"Di level anak Anda, tidak ada rangking2an...!"
"Tidak ada kompetisi!" tambahnya.
*"Kami mengajari mereka tentang 'cooperation' alias kerjasama....!"*
"Mereka harus bisa bekerja dalam *'team work'"*
*"Dan mereka harus bisa cepat bersosialisasi dan beradaptasi."*
*"Mereka harus punya banyak teman!"*
*"Lebih penting bagi kami untuk mengajari mereka story telling dan bagaimana mengungkapkan isi pikiran dalam bahasa yang terstruktur dan sistematis!"*
*"Kami mengajari mereka "logika" dalam setiap kalimat yang mereka ucapkan!"*
Dari sini, rupanya kenapa teman2 saya di kantor mentalnya slalu *"How can I help you?* Hampir tidak pernah saya lihat mereka *jegal-jegalan.*
Dan, di Amrik hampir semua profesi mendapat penghasilan/penghargaan yang layak. *Tidak harus semua jadi dokter, insinyur atau profesi lain yang terlihat "terhormat" seperti di Indonesia...*
Semua orang boleh mencari penghidupan sesuai *passionnya,* sehingga semua bidang kehidupan berkembang maju, *karena diisi oranng2 yang bekerja dengan penuh gairah.*
Wah…saya jadi ingat, memang pendidikan di negeri saya sangat kompetitif.
Banyak orangtua yang narsis kemudian memajang prestasi anak-anaknya di sosmed. *Wow!*
*Tanpa disadari sebagian dari mereka nanti akan tumbuh menjadi orang-orang yang terlalu s**a berkompetisi dan lupa bekerjasama.*
Kiri-kanannya dianggap *saingan* bahkan sangat mungkin sebagai *musuhnya?*
*Dirinya harus menjadi yang terbaik!*
Mending kalau si anak bisa mengembangkan dirinya supaya menang persaingan. Yang ada, kadang mereka justru menunjukkan kebaikan dirinya dengan *cara menungkapkan kejelekan2 temannya ataupun orang lain...*
*"Kalo bukan kita siapa lagi?"* begitu jargonnya…
Wuih..., betapa arogannya, seakan-akan fihak lain tidak ada yg bisa! *Hanya dia sendiri yang mampu!*
*Kemudian yg ada adalah menjadi sakit mentalnya….*
*"Aku menang.....aku menang....!"* begitu suara anak-anak dari sebuah gang di ibukota...
Entah permainan apa yang mereka menangkan?
*Entah kapan dia sadar, bahwa hidup bukan melulu soal menang atau kalah!*
*(Bakersfield USA*)
The magic words is *"How can I help you...”*
Sekolah Harapan Bangsa Pati
Sekolah Harapan Bangsa Pati
Jl. Supriyadi III Bendan - Pati 59114. Telp/Fax: (0295) 384520/386430
E-mail: [email protected]
Contact Person :
Kelompok Bermain
Otniel Lumowa, S.Th 08156529984
Taman Kanak – Kanak
Nanik Mardiastuti, S.Pd 081325854732
Sekolah Dasar
Siferawati, S.Pd 08157792000
Anak Tak S**a Pelajaran Matematika, Ini Penyebabnya!
Tentang matematika sebagai bakat, seorang Papa bernama Antono, bercerita bahwa anaknya, Kyan (8) pernah ikut tes olimpiade matematika di usia belia. Untuk ukuran anak seusia Kyan yang duduk di kelas 3, kemampuannya setara dengan anak kelas 6 SD. Betulkah Kyan jago matematika karena ikut les? Menurut Antono,“Sebelum Kyan ikut les, dia sudah bakat matematika. Ceritanya, sewaktu masih di TK, Kyan cepat sekali belajar matematika dasar. “Guru TK-nya waktu itu menyarankan Kyan untuk ikut les Kumon.
Mengikuti saran guru, setelah masuk Kumon, perkembangannya makin pesat. Kyan tembus tes Klinik Pendidikan Matematika (KPM), lalu ikut kursus training center di KPM itu,” ujar Antono, yang setiap harinya rutin memberi Kyan sejumlah soal yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Antono menambahkan, dengan anak keduanya Kei, ia memberi perlakuan seperti Kyan, memberi drill matematika setiap hari, akan tetapi, ternyata cara tersebut tidak berhasil. “Memang kuncinya harus karena anaknya s**a. Pada adik Kyan, karena dia tidak s**a matematika, dia jadi kepayahan,” tutur Antono.
Anak seperti Kyan bisa dibilang langka di Indonesia. Ini buktinya. Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) yang diadakan oleh OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains dalam bentuk tes yang diberikan kepada siswa berusia 15 tahun. Di tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara. Tahun 2015, peringkat Indonesia malah turun jadi 69 dari 76 negara. Padahal, 5 peringkat teratas ditempati oleh negara-negara Asia, yakni, Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Taiwan. Ironis!
Fakta ini menjelaskan, kenapa kita -dan mayoritas generasi kita- hingga sekarang ke anak-anak kita, sulit ‘berdamai’ dengan matematika, bahkan cenderung fobia. Mengenai hal ini, pengamat pendidikan, Weilin Han, berpendapat, hal ini disebabkan karena masih ada kekeliruan cara mengajar matematika, anak tidak dikenalkan pada konsep dari awal. “Ketika mengenalkan matematika, anak langsung dikenalkan dengan simbol bilangan. Tidak diajarkan konsep yang konkret,” ujar Weilin, yang juga sering menjadi pembicara training untuk para pendidik serta konsultan pendidikan.
Konsep dasar ini, menurut Weilin, penting karena nantinya konsep bilangan itu akan terbawa terus. “Setiap operasi dalam matematika, nanti akan ketemu dengan pengurangan, penjumlahan, perkalian, dan pembagian. Itulah kenapa konsep angka dalam benda yang konkret harus kuat.” Pendapat Weilin ini sejalan dengan pendapat yang diungkap Jo Boaler, profesor pendidikan matematika dari Universitas Stanford dan pendiri Youcubed, aplikasi belajar matematika. Menurutnya, ‘kegagalan’ konsep pengajaran matematika ini juga terjadi di negara maju, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Pelajaran Matematika mendapat image yang menakutkan di mata para siswa. Ia membandingkan, ketika seorang anak belajar bahasa, untuk bisa memahami sebuah karya sastra, baik itu novel maupun puisi, seseorang harus menghapal banyak kata-kata. “Tapi, toh, guru bahasa kita tidak mengajarkan bahasa dengan cara menyuruh kita menghapal dan menyodorkan soal-soal yang harus dikerjakan dalam waktu yang ditentukan? Seharusnya pengajaran matematika juga diperlakukan seperti itu,” tuturnya, dalam tulisannya berjudulFluency Without Fear: Research Evidence on the Best Ways to Learn Math Facts di www.Youcubed.org
Kita tidak dapat memungkiri bahwa matematika ada dalam segala segi kehidupan kita. Weilin memberi contoh, “Ketika kita bicara sejarah, misalnya, Belanda menjajah kita selama 350 tahun, di situ kita bicara angka. Berapa lama Soekarno memimpin? Kita bicara soal uang, fisika, di situ ada matematika,” tuturnya. Bahkan dalam ilmu sosial, kita akan menemukan data-data statistik matematika untuk bisa memecahkan masalah sosial. “Ketika konsep dasar tidak kuat, bisa saja anak pintar matematika dengan cara menghapal dan latihan drill, tapi lantas apakah dia bisa menerapkannya dalam pemahaman ilmu terapan. Bukankah tujuan sebuah ilmu adalah mengubah perilaku. Kita tidak hanya mengharapkan anak kita menjadi robot yang pintar, tapi kita harus ingat, tujuannya mencerdaskan bangsa,” kritik Weilin.
Sumber:
Horas, selamat pagi, met beraktivitas. Jbu. Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.
Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar. Pada setiap kali perperangan itu, pas**an musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.
Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan ulama.
Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu. Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.
Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.
Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama adalah dengan cara melibatkan mereka ke dalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.
Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para ulama dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.
* * *
Di adaptasi dari tulisan Jarred Diamond, penulis yg memperoleh penghargaan pulitzer. Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.
Perlunya Mengenal Ciri-Ciri Anak Cerdas Secara Spiritual.
Kecerdasan spiritual (SQ) sering dianggap sebagai kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Memiliki kecerdasan spiritual (SQ) berarti Anda berusaha menjadi orang dengan tingkat yang lebih baik. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) adalah orang yang telah mampu mengerti makna kehidupan. Namun di masyarakat, cerdas spiritual lebih sering diartikan dengan rajin beribadah, rajin sembahyang, dan hal-hal yang berhubungan dengan agama. Padahal, kecerdasan spiritual itu adalah kemampuan seseorang untuk memberi makna dalam kehidupan.
Berbudi pekerti baik pada dasarnya sudah melekat pada manusia sejak ia masih kecil. Hanya lingkunganlah yang membuatnya menjadi jahat seperti yang tidak kita inginkan. Misalnya saja adalah ketika di sekolah, temannya kelupaan membawa pensil. Maka dengan sigap dia akan meminjamkan pensilnya kepada temannya tersebut tanpa banyak pertimbangan. Perilaku seperti ini biasanya tidak datang secara tiba-tiba, tapi sudah menjadi karakter si anak. Jadi, proses pembentukannya sudah dilakukan sejak kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan.
Berikut ciri-ciri anak cerdas secara spiritual yang perlu Anda kenali:
1. Senang berbuat baik dan s**a menolong
Orang yang baik akan disayang Tuhan. Nah, salah satu kebiasaan yang terlihat dari anak yang cerdas secara spiritual adalah senang berbuat baik dan s**a menolong. Cara terbaik untuk menumbuhkan sifat yang seperti ini adalah dengan cara "modelling" yang artinya memberikan contoh atau teladan yang diberikan oleh orang tuanya. Orang tua yang sering memberikan contoh perilaku s**a menolong dan berbuat baik, akan direkam oleh anak sehingga anak pun akan ikut melakukan perilaku tersebut.
2. Memiliki selera humor yang baik
Setiap anak yang memiliki selera humor yang baik, selain cerdas secara bahasa, ternyata juga memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Hal ini terkait dengan kemampuannya untuk berpikir positif dan menghindari hal-hal yang negatif. Rasa humor yang muncul bisa muncul ketika seorang anak berpikir secara positif. Dia akan lebih banyak tertawa dibandingkan dengan bersedih hati. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut memiliki kecerdasan spiritual yang baik.
3. Menemukan jalan hidupnya
Menemukan jalan hidup berarti mampu memahami jati dirinya sebagai manusia. Ada pepatah yang mengatakan bahwa "Barangsiapa yang kenal Tuhannya, pasti dia akan kenal dirinya". Kata-kata tersebut bermakna ketika seseorang telah mengenal siapa Tuhannya sehingga ia akan memahami jati dirinya. Lebih jauh lagi, dia akan memahami tujuan hidupnya di dunia ini sebagai apa. Nah, anak-anak yang mampu memahami konsep ini, berarti si anak sudah cerdas secara spiritual. Dalam tahap perkembangan manusia, menemukan jati diri ini harus dimulai sejak masih anak-anak.
4. Percaya pada Tuhan dan nilai-nilai keagamaan
Tugas orang tua adalah mengarahkan anaknya sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan percaya pada Tuhan. Entah beragama Islam, Nasrani, Hindu, Budha atau agama lainnya. Setiap orang tua berkewajiban untuk mengarahkan anaknya pada satu agama. Jangan sampai anak tidak percaya pada Tuhan atau biasa disebut dengan Atheis. Nah, anak yang sudah percaya kepada nilai-nilai keagamaan dan percaya kepada Tuhan, berarti anak tersebut memiliki kecerdasan spiritual yang baik.
5. Memahami bahwa bekerja adalah amal dan ibadah kepada Tuhan
Anak yang dapat memahami bahwa setiap pekerjaannya yang telah dilakukannya termasuk amal ibadah kepada Tuhan, dialah anak yang cerdas secara spiritual. Akan tetapi tentu saja untuk menanamkan pemahaman anak akan hal tersebut tidaklah mudah. Karena anak masih dalam tahap berpikir konkret yang artinya harus disertai wujud nyata.
Kalau ada anak Anda yang memiliki ciri-ciri di atas, itu artinya bahwa anak Anda memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Sebagai orang tua, dukung terus ciri-ciri anak cerdas spiritual ini. Semoga bermanfaat.
Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)
20/12/2015
Cara SD Harapan Bangsa sambut Natal 2015..
sumber:
25/09/2015
retret kelas 6 harba di bandungan 23-24 September 2015..
lihat albumnya klik disini
16/08/2015
Acara 17an TK Harapan Bangsa 15-8-2015.. lihat albumnya klik
Tolong jangan bilang anakku “pintar”...
Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama. Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?
Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).
Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak: satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual. Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama. Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.
Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??
Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)
Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya s**ai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.
Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.
Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”
Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.
Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih s**a frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.
Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.
Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.
Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:
a. Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.
b. Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”
c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya s**a upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”
d. FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”
e. FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).
f. FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.
g. Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.
h. Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.
i. Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.
Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka.
Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.
Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan.
Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang s**a tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “ots**aresamadesh*ta” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.
oleh: Arum Budiani
Referensi:
1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.
2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise.
http://nymag.com/news/features/27840/ #
3. Teaching To Promote A Growth Mindset. Center For Research on Girls at Laurel School.
18/06/2015
wisuda TK-KB Harapan Bangsa Pati 16 Juni 2015
17/06/2015
pelepasan siswa sd harapan bangsa angkatan pertama 15 juni 2015
11/06/2015
ibadah syukur lulusan perdana sd harapan bangsa 10 juni 2015
lihat albumnya klik disini
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Telephone
Address
Jalan Supriyadi III Bendan/Pati
Pati
59114