Majalah Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak

Majalah Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak

Share

Majalah ALMUNAWWIR adalah majalah 3 bulanan yang diterbitkan oleh pengurus pusat Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Majalah ALMUNAWWIR (bisa juga diakses di http://www.munamagz.blogspot.com ) merupakan salah satu media pemberdayaan dan pengembangan potensi intelektualitas dan kreativitas civitas akademika Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta dalam hal tulis menulis. Yakni melalui berbagai aktivitas yang dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan, seperti artikel, telaah kitab, masalah keagamaan, sastra

30/09/2018

ISLAM NUSANTARA, ANTI ARAB?

Sebetulnya sudah terlalu sering dijawab oleh banyak orang tentang ini. Tapi karena masih ada yang bertanya, baiklah saya jawab melalui status fb di sini.

Menganut Islam, sudah pasti harus berpedoman pada al-Qur'an dan al-Hadits. Kedua sumber Islam ini berbahasa Arab. Tidak mungkin seorang muslim bisa membaca dan memahami al-Qur'an dan al-Hadits dengan baik tanpa mahir bahasa Arab.

Oleh karena itu, jika Anda belajar di Pondok Pesantren--lembaga pengusung Islam Nusantara--pertama yang diajarkan adalah bahasa Arab. Mulai dari cara menulis Arab yang benar (khath, imla'), melafalkan al-Qur'an sesuai dg tajwid dan makharijul huruf, hingga belajar gramatika Arab (nahwu), morfologi Arab (sharaf), semantika Arab (balaghah), leksikologi Arab (mu'jamiyat), bahkan juga sastra Arab (badi', bayan, ma'ani, qawafi, 'arudl, dll).

Kitab-kitab kuning berbahasa Arab tentang ilmu-ilmu bahasa Arab ini, jika belajarnya dari dasar, tidak habis dipelajari dalam waktu 5 tahun.

Dalam waktu yang sama, para santri juga belajar ilmu-ilmu keislaman, yang semua sumber belajarnya berbahasa Arab. Bidang kajiannya beragam. Ada ilmu fiqh (hukum Islam), ilmu ushul fiqh (metodologi hukum Islam), ilmu qawa'id fiqhiyah (prinsip-prinsip yurisprudensi), tafsir al-Qur'an, Hadits dan syarahnya, 'ulumul Qur'an, 'ulumul Hadits, tarikh (sejarah), ilmu falak, dll. Sekali lagi, semua sumber ilmu ini juga berbahasa Arab.

Jika Anda cermati p**a, sebagian besar nama-nama kyai dan santri pengusung Islam Nusantara beserta keluarganya juga menggunakan nama Arab. Tulisan mereka di Pesantren juga menggunakan bahasa Arab atau Arab pegon. Bahkan, nyanyian nasionalisme Indonesia yang sekarang ini marak didengungkan setiap ceremoni juga berbahasa Arab. Yakni, mars Yalal Wathon.

Sampai sini, terang benderang bahwa Islam Nusantara tidak anti Arab. Malah, mereka ahli berbahasa Arab, baik dalam tulisan maupun ucapan.

Adalah persepsi yang salah bahwa Islam Nusantara anti Arab dan alergi dengan Arab. Pun fitnah yang keji, sebagaimana video yang diviralkan, menuduh bahwa sholat muslim Nusantara menggunakan bahasa non-Arab. Jangankan ibadah sholat yang jelas disyariatkan, doa, sholawatan, bahkan lagu nasionalisme Indonesia juga berbahasa Arab.

Nah, meski muslim Nusantara mencintai bahasa Arab, tapi tidak Arabis. Bukan penganut Arabisme. Di sini bedanya.

Muslim Nusantara menguasai bahasa Arab digunakan sebagai sarana ibadah, alat untuk memahami al-Qur'an, al-Hadits, dan pendapat para ulama di masa lampau yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Selebihnya, digunakan untuk alat komunikasi dan pengantar studi yang membutuhkan bahasa Arab.

Dalam implementasi dan amaliah budaya, Islam Nusantara sepenuhnya menggunakan nalar dan praktik kebudayaan Nusantara. Lebih spesifik kebudayaan Indonesia. Bukan kebudayaan Arab. Kami tidak Arabis dan bukan penganut Arabisme.

Bahasa sehari-hari kami menggunakan bahasa Indonesia. Cara berpakaian, berperilaku, dan bermu'amalah, semuanya menggunakan kebudayaan yang berlaku di Indonesia. Termasuk dalam berbangsa dan bernegara, kami mengikuti kesepakatan nasional (ijma' wathoniy) yang sudah lazim. Yakni berideologi Pancasila, berkonstitusi UUD 1945, berprinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI bentuk final (harga mati, tidak bisa ditawar-tawar lagi).

Namanya saja Islam Nusantara, maka aqidahnya jelas Islam, berpedoman pada al-Qur'an, al-Hadits, Ijma' dan Qiyas. Tapi dasar kebangsaan kami adalah Pancasila dan UUD 1945. Praktik kebudayaannya adalah kebudayaan yang berlaku dan berkembang di Indonesia.

Di sini memang dibutuhkan kecerdasan nalar untuk memilah mana ajaran Islam dan mana kebudayaan Arab. Sebagai ajaran Islam, tentu wajib diikuti dan diamalkan oleh setiap muslim. Tapi sebagai kebudayaan, tentu tidak harus diikuti dan tidak boleh dipaksakan untuk diterapkan. Karena Indonesia punya lanskap kebudayaannya sendiri, yakni kebudayaan Nusantara. Di sini ada budaya Jawa, budaya Sunda, budaya Minang, budaya Aceh, budaya Makassar, budaya Batak, budaya Sasak, budaya Papua, dan sebagainya.

Dengan penjelasan ini, tampak jelas bahwa Islam Nusantara bisa memilah dan sekaligus mendamaikan antara aqidah, kebangsaan, dan kebudayaan. Atau, antara keislaman dan keindonesiaan dalam satu nafas kehidupan.

Bangsa Arab pun tidak berkepentingan bahwa menjadi muslim harus berbudaya Arab. Mereka memahami, nama agama dan mana budaya. Sebagai kebudayaan Arab, bangsa Arab pun tentu tidak akan memaksakan untuk diikuti. Mereka tidak akan memaksakan kita harus menjadi Arabis, atau penganut Arabisme.

Atas pemahaman ini, maka Islam Nusantara tetap berhubungan baik dan bekerjasama dengan negara manapun, termasuk negara-negara Arab. Banyak sekali anak-anak muslim Nusantara belajar bertahun-tahun di negara-negara Arab. Mereka mahir bahasa Arab, menguasai ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, tapi tetap berkebudayaan Nusantara.

ITULAH ISLAM NUSANTARA.
Islam yang selama ini kita praktikkan di Indonesia.

Semoga penjelasan singkat ini bisa memberikan jawaban atas kegalauan mereka tentang anti Arab.

KA Senja Utama Yogya, 29/09/2018.

23/09/2018

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki berkata :

أغضب من الطالب الذی لا یحترم أستاذه ولوکان الأستاذ صاحبه

“Aku murka terhadap penuntut (ilmu) yang tidak menghormati ustadznya, meskipun ustadz tersebut adalah temannya sendiri”.

Imam Nawawi berkata :

ینبغی للمتعلم ان یتواضع لمعلمه ویتأدب معه وإن کان أصغر منه سنا وأقل شھرة ونسبا وصلاحا ؛ لتواضعه یدرک العلم

“Seyogyanya bagi seorang pelajar tawadlu' (rendah hati) kepada gurunya dan menjaga tata krama ketika bersamanya, meskipun gurunya tersebut lebih muda, tidak begitu terkenal, nasabnya lebih rendah dan (mungkin) keshalehannya kalah dengan muridnya. Dengan tawadlu' (rendah hati), niscaya ilmu akan ia dapatkan”.

Beliau juga berkata :

عقوق الوالدین تمحوه التوبة وعقوق الأستاذین لا یمحوه شیئ ألبتة

“Dosa durhaka kepada kedua orang tua bisa dihapus dengan bertaubat, sedangkan dosa durhaka kepada guru sedikitpun tidak akan bisa dihapus”

Al-habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad berkata :

وأضر شیئ علی المرید تغیر قلب الشیخ علیه، ولو اجتمع علی إصلاحه بعد ذلک مشایخ المشرق والمغرب لم یستطیعه إلا أن یرضی عنه شیخه

“Yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati guru kepada muridnya (dari yang semula ridlo menjadi murka). Andai saja semua guru dari timur dan barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan si murid tersebut, maka mereka tidak akan mampu kecuali gurunya tersebut telah ridho kepadanya”.

Perkataan-perkataan di atas sebagai bahan renungan bagi kita semua yang notabene masih berstatus murid. Jika kebetulan kita sebagai guru, maka jangan sekali-kali kita berharap untuk dihormati.

Semoga kita semua bisa benar-benar berbakti kepada guru-guru kita dan semoga kita mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat, baik di dunia maupun di akhirat.

Amin Ya Rabbal 'Alamin

---------------------
Source: Suluk Matan

26/07/2018

TIPS "NYALEG" ala KITAB ALFIYAH IBNU MALIK

"Farfa’ bidzamin wa anshiban fathan wajur # kasran kadzikrullahi abdahu yasur.."

Sebenarnya, sepenggal nazam Alfiyah di atas sedang menerangkan tentang penanda perubahan kalimat (i’rab) dalam bahasa Arab. Lantaran, konsens kitab ini memang membahas tata bahasa Arab yang sarat dengan perubahan bunyi di setiap akhir kalimatnya. Masyarakat pesantren menyebutnya, ilmu nahwu.

Yang menarik, tamsil kalimat yang diunggah sang pengarang melulu tidak bersifat nganggur. Hampir di setiap percontohan, terselip pesan bahkan kode yang bisa diterjemahkan ke dalam banyak bidang. Salah satunya, politik.

Baca selengkapnya >>
>>> http://www.ponpesalikhlaspatikota.com/2018/07/tips-nyaleg-ala-kitab-alfiyah-ibnu-malik.html?m=1

22/07/2018

TAHAPAN MENGAJI AL-QUR'AN

Bagi umat muslim, al-Qur'an adalah kitab suci yang menjadi tuntunan dalam kehidupan. Bahkan membacanya merupakan ibadah. Selain membutuhkan sanad, mengaji al-Qur'an membutuhkan tahapan agar bacaannya benar dan menjadi ibadah.

"Mengaji Quran musti dimulai dengan tahqiq, yakni mengenali dan menunaikan hak-hak huruf hijaiyah. Mengerti bedanya ض ظ ط ذ د dan seterusnya. Setelah itu tahap tajwid, yaitu memperbagus bacaan dengan mempelajari hukum-hukum bacaan, seperti nun sukun, ghunnah, idzhar, idgham, iqlab, dan mad." Demikian, Zia Ul Haq memulai uraiannya.

Baca selengkapnya
>>> http://www.ponpesalikhlaspatikota.com/2018/07/mengaji-al-quran-dengan-benar-begini.html?m=1

Photos 18/05/2017
Photos 08/03/2016

MENGINGAT ALLAH DAN BERPIKIR TENTANG CIPTAAN ALLAH
Oleh: KH Munawwir Abdul Fattah*

Hal yang akan kami sampaikan pada kesempatan ini ialah hal yang paling mengesankan bagi Siti Aisyah. Suatu ketika sahabat Ibnu Mardiwaih dan Atha' mengunjungi Siti Aisyah, kemudian ia bertanya, “Wahai Aisyah, apakah yang paling mengesankan bagimu tentang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam?”

Yang ditanya hanya menangis tersedu. Jawab Aisyah, “Semua yang diperbuat Rasulullah teramat mengesankan bagiku. Kalau aku harus menyebutkan yang paling berkesan adalah pada suatu malam, yakni malam giliranku, beliau tertidur berdampingan denganku. Kulitnya menyentuh kulitku. Kemudian beliau minta ijin untuk shalat; Wahai Aisyah, ijinkan aku untuk shalat.” Dijawab oleh Aisyah, “Demi Allah, aku senang berada di sampingmu wahai Rasulallah. Tetapi aku juga senang bila engkau beribadah dan ‘menemui’ Tuhanmu.”

Allahu Akbar. Jawaban yang jujur dan indah.

Sejenak kemudian Rasulullah mendirikan shalat. Apa yang terjadi kemudian? Selama berjam-jam Rasulullah hanya mendapatkan dua rakaat, dan itu diisi dengan tangisan-tangisan yang sangat merisaukan hati beliau. Sampai-sampai di dalam hadits diterangkan janggutnya basah, kemudian bersujud, lantainya basah. Tida kurang-kurang juga, bajunya basah. Allahu Akbar. Sampai-sampai tiba adzan subuh tidak beliau dengar juga. Masih juga beliau terkesima dan sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga Bilal menjemput beliau di rumah Aisyah itu.

Kemudian Bilal bertanya kepada beliau, “Tidakkah dosa-dosamu telah diampuni, baik yang lalu maupun yang akan dating, wahai Rasulullah?” Ternyata pertanyaan itu salah prediksi. Yang ditangisi Rasulullah bukanlah itu. Bukan dosa-dosa yang ditangisi Rasulullah, akan tetapi, “Beginilah wahai Bilal,” jawab Rasulullah, “Tadi malam turun kepadaku ayat yang indah:

Inna fii kholqis samaawaati wal ardhi wakhtilaafil layli wan nahaari la-aayaatil li ulil albaab; Sesungguhnya ciptaan Allah, ada langit dan bumi, bulan dan bintang, serta bolak-baliknya malam dan siang, semestinya menjadi perhatian bagi ilmuwan, bagi orang-orang yang berakal. Alladziina yadzkuruunallooha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junubihim. Seharusnya mereka itu mau mengingat Allah tidak hanya waktu shalat saja, tetapi juga saat berdiri, duduk, dan berbaring, harus selalu ingat kepada Allah. Wa yatafakkaruuna fii kholqis samaawaati wal ardh; dan ulul albab itu hendaknya mau berpikir tentang kejadian langit dan bumi. Kalau bisa begitu, maka mereka akan mengucapkan; Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa; wahai Allah, apa yang Engkau jadikan tidaklah sia-sia. Subkhaanaka fa qinaa ‘adzaabannaar. Mahasuci Engkau Ya Allah, maka jagalah kami dari siksa neraka.

Allahu Akbar. Masih saja ditambah Rasulullah mengatakan kepada Bilal, “Celaka bagi orang yang membacanya namun tidak mau berpikir.”

Dari ayat ini, kita dapat memahami; pertama, wahai orang-orang yang mempunyai akal, ilmuwan, cendekiawan, kiai, santri, ustadz, mestinya harus selalu ingat kepada Allah, kapan saja dan dimana saja, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Yang kedua, mestinya ulul albab mau berpikir tentang ‘kejadian malam dan kejadian siang’ dan tentang ciptaan-ciptaan Allah yang lain. Kemudian yang ketiga, laa budda fiihil ‘ilm; pasti di sana akan kita temui adanya ilmu, hikmah, dan Allahlah yang menciptakannya. Dan pasti kita akan mengatakan pada akhirnya; robbana ma kholaqta hadza bathila.

Demikian juga, 9 Maret yang akan datang. Akan ada kejadian alam yang melewati provinsi-provinsi di Indonesia; yakni gerhana matahari. Keindahannya, apa hikmahnya, apa ilmunya, semestinya kita bisa berpikir tentang itu, indah, indah sekali. Tentang kesejajaran matahari dalam perputaran bumi dan bulan. Tentang bulan yang mengelilingi bumi dalam sebulan. Tentang bumi yang mengelilingi matahari sehingga jadilah tahun. Dan semua ini sudah berlangsung selama bermilyar-milyar tahun. Bahkan dalam suatu artikel ilmiah, disebutkan sekitar 12 milyar tahun tidak ada perubahan sama sekali. Kita akan mengucapkan; robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa.

Oleh karena itu, obyek zikir memang Allah. Tetapi obyek pikir adalah kholqullah, makhluk-makhluk Allah, ciptaan-ciptaan Allah. Berpikirlah mengenai makhluk Allah, dan kita akan ‘menjumpai’ Allah di sana. Tafakkaruu fii kholqillaah, walaa tatafakkaruu fii dzaatillaah.

Hanya saja setelah saya lihat, para mufassir tidak banyak mengungkap kenapa Rasulullah sampai sesenggukan menangis saat itu. Apakah sebab berpikir tentang alam, ataukah sebab zikir kepada Allah. Tetapi pada hadits-hadits yang lain kita temukan bahwa Rasulullah biasanya menangis karena memikirkan umatnya, bukan memikirkan diri sendiri. Allahu Akbar.

Dengan demikian, kita harus meniru Rasulullah bagaimana berzikir sebaik-baiknya, dan bagaimana berpikir sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. []

*Artikel ini merupakan saduran dari khutbah yang disampaikan KH Munawwir Abdul Fattah pada Jum’at 24 Jumadil Ula 1437 (1/3/2016) di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Ditulis kembali oleh tim redaksi almunawwir.com [Zia]. Bisa juga dibaca di: www.almunawwir.com/2016/03/mengingat-allah-dan-berpikir-tentang.html

Photos 06/03/2016

MARI LAKSANAKAN SHALAT GERHANA MATAHARI, RABU 9 MARET 2016 PUKUL 06.30 DI MASJID PESANTREN AL-MUNAWWIR KRAPYAK YOGYAKARTA

Photos 05/03/2016

DIALOG REMAJA DAN SANTRI:
"PERAN SENI DAN BUDAYA DALAM PERADABAN ISLAM"
Bersama Habiburrahman El-Shirazy

Selasa, 8 Maret 2016, 08.00 wib - selesai
Di Aula Komplek Q Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta

HTM: 5K
Daftar: Nama_Instansi/Komplek kirim ke 0856 4943 5448 (Axel)

Daftarkan dirimu sekarang juga! Tempat terbatas lho

Photos 26/02/2016

NASIONALISME KAUM MUSLIMIN
Oleh: KH Hilmy Muhammad*

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, masih banyak yang memiliki pemahaman keliru tentang nasionalisme. Nasionalisme kita kaum muslimin mestinya tidak sekedar cinta tanah air yang dilandaskan pada daerah, domisili, atau kawasan yang bersifat geografis. Juga tidak sekedar didasarkan pada hubungan kekeluargaan, kekerabatan, suku dan bangsa.

Nasionalisme yang demikian sesungguhnya nasionalisme yang sempit, yang akan menjadikan seseorang memiliki fanatisme buta dan akibatnya bertindak sewenang-wenang dan semau-maunya. Ini seperti fanatisme yang ditunjukkan oleh presiden Amerika kala itu, John F. Kennedy, ketika mengatakan; “Right or wrong is my country. Benar atau salah, adalah negaraku.”

Ungkapan ini jelas salah, karena yang dijunjung tinggi bukan kebenaran dan keadilan, tetapi kawasan yang bersifat geografis. Yaitu apapun, asal itu negaranya, mbuh itu benar atau salah, maka harus dibela. Nasionalisme yang begini ini sama dengan nasionalisme kehidupan suku-suku dan qabilah-qabilah jaman jahiliyyah pra-Islam. Mereka juga memiliki adagium yang mirip dengan Kennedy, yaitu; “Unshur akhooka, dzooliman aw madzluuman. Belalah dan tolonglah temanmu, baik ia dalam keadaman zalim atau dizalimi.

Nasionalisme yang seharusnya kita usung adalah nasionalisme dalam arti yang lebih luas, yang mendasarkan pada kebenaran tauhid dan akidah islamiyah. Artinya, rasa kebangsaan kita seharusnya didasarkan pada kecintaan kita kepada Allah. Dan kecintaan kita kepada siapapun yang menyatakan diri dengan ‘Laa ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasuulullaah’. Hal ini bermakna, siapapun yang menyatakannya maka ia adalah sahabat dan saudara kita, walaupun ia berasal dari suku Batak, Bugis, Melayu, atau yang lainnya. Atau dia berasal dari kawasan yang disebut dengan Afrika, Eropa, atau Amerika.

Dan adalah keharusan kita membela siapa saja yang menyatakannya (syahadatain, red.) dan menjalankan agamanya dengan benar sesuai dengan tuntunan-tuntunannya dimanapun ia berada. Sebaliknya, pernyataan tersebut mengharuskan kita prihatin dengan siapapun mereka yang sedang dalam keadaan galau, gelisah, miskin, dan dizalimi tanpa daya. Meskipun mereka berada di Irak, Yaman, Birma, atau di Palestina.

Lalu apakah nasionalisme kebangsaan kita yang didasarkan pada keindonesiaan adalah salah? Tentu saja tidak. Akan tetapi, yang harus kita pahami, nasionalisme kaum muslimin tidak sekedar itu. Tapi sudah menyangkut, mencakup, kebaikan kaum muslimin dimanapun mereka berada, dan itu tidak sekedar ada di Indonesia. []

*Artikel ini merupakan saduran dari khutbah yang disampaikan KH Hilmy Muhammad pada Jum’at 17 Jumadil Ula 1437 (26/02/2016) di Masjid Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Ditulis kembali oleh tim redaksi almunawwir.com [Zia].

17/02/2016

Malam ini peringatan haul almaghfurlah KH Ali Maksum di halaman Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Sudah dimulai dengan rangkaian sima'an Al-Qur'an kemarin, kemudian ziarah maqbarah dan khotmil Qur'an sore ini di Dongkelan, dan dipuncaki dengan pengajian umum bersama Habib Umar al-Muthohar nanti malam.

Want your school to be the top-listed School/college in Pati?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Pati