10/01/2024
[TOPONIMI DAERAH PESISIR KUNO BEKAS SELAT MURIA]
Nama tempat (Toponimi) biasanya memiliki arti tertentu yang diambil dari suatu peristiwa atau ihwal penting yang terjadi di suatu tempat. Biasanya toponimi diambil dari nama - nama tanaman (contoh: Kunir, Lempuyang, Keben, Turi, Kepoh, Turus, Winong, Gayam, P**e, dll). Terkadang profesi mayoritas masyarakat penghuni daerah tertentu dengan penambahan akhiran -an di belakangnya seperti Dalangan, Gamelan, Pagendisan, Patehan, Tamanan, dsb. Tidak sedikit p**a yang diambil dari nama tokoh pendiri atau pembuka lahan awal suatu kampung dengan penambahan akhiran -an di belakang seperti Rogowangsan, Jiwanalan, Penjaringan, Mertokusuman, Dipokusuman, Suryatmajan, dsb.
Wilayah - wilayah bekas selat Muria juga menyisakan toponimi - toponimi yang erat terkait dengan aktivitas kegiatan olah Mina (perikanan). Meskipun kondisi geografis sekarang tidak lagi menjadi daerah perairan. Penggunaan toponimi yang terkait dengan kehidupan nelayan menjadi salah satu bukti peradaban pesisir Selat Muria kuno. Selain toponimi, didukung dengan bukti konkrit peninggalan yang masih dapat dilihat hari ini.
Toponimi perairan di bekas Selat Muria dapat dijumpai di wilayah Pati sisi selatan sepanjang pegunungan kendeng, tersebar di Kecamatan Pucakwangi, Tambakromo, dan Kayen.
1. Prahu:
Termasuk dalam wilayah administrasi Desa Kepohkencono, Kecamatan Pucakwangi. Perahu merupakan sarana paling vital untuk menunjang kegiatan nelayan. Dilengkapi dengan berbagai tinggalan kuno di Selatan Desa (belum terekspos)
2. Tambakromo
Merupakan salah satu Desa sekaligus Pusat Kecamatan Tambakromo. Hal ini menunjukkan bahwa dahulu merupakan wilayah tambak untuk urusan peternakan ikan. Namun terdapat cerita tutur yang meyakini bahwa Tambakromo berarti bendungan yang dibangun oleh Rama dalam wiracarita Ramayana episode pengerahan pasukan wanara untuk membendung laut guna menjadi jembatan pasukan tempur Rama menuju Alengka. Menurut penulis, hal ini merupakan alegori sibuknya jalur perdagangan Selat Muria kala itu untuk saling terhubung dengan memanfaatkan perahu dan Selat Muria yang tenang dalam menunjang perdagangan. (Lanjut kolom komentar)
21/12/2023
[PERADABAN PESISIR KUNO PATI]
Bagi masyarakat Pati, khususnya wilayah tengah (Juwana, Jakenan, Jaken, sebagian Pucakwangi, Kayen, Sebagian Winong, dan Gabus) menggantungkan sumber air tanah dalam untuk kebutuhan sehari-hari, pasalnya air tanah dangkalnya sebagian besar terasa asin untuk dikonsumsi. Ketika menggali sumur, sering dijumpai pasir pada kedalaman yang relatif dangkal. Fakta tersebut merupakan bukti tak terbantahkan yang menunjukan bahwa wilayah yang disebutkan di atas dulunya adalah perairan, yang akrab disebut selat Muria. Selat tersebut mengalami pendangkalan masif pada abad 16 dan menyisakan Sungai Juwana Sekarang.
Bukti budaya yang dapat dilihat adalah adanya tinggalan arkeologis periode klasik (Hindu - Budha) yang pada peta ditandai dengan titik merah. Tidak dimungkiri bahwa dahulu Selat Muria menjadi jalur penting perdagangan untuk kegiatan perbandaran. Situs - situs Klasik yang admin temukan antara lain:
1. Struktut Bata di Tegalbale, Winong.
2. Candi Kayen.
3. Situs Langgar Bubar di Pucakwangi.
4. Punden Mbah Setan Kober di Pucakwangi.
5. Situs Sawah Candi di Sidokerto.
6. Situs Ponakan Ajar di Tlogowungu.
7. Struktur Bata di Makam Mbah Anggur, Kembang, Dukuhseti.
Sekarang lokasi situs tersebut jauh dari garis pantai, kecuali Situs Pomahan Ajar yang memang terletak di Lereng Tenggara Gunung Muria. Tetapi apabila melihat overlay peta di atas menunjukan bahwa situs tersebut dulunya terletak di area pantai. Hal tersebut merupakan dampak dari sibuknya jalur perdagangan di Selat Muria kala itu.
Sumber:
1. Overlay peta Geologi Lembar Surabaya dan DEMNAS lembar Muria Raya.
2. Survey lapangan untuk mendapatkan koordinat situs.
3. Peta RBI skala 1:25.000 milik Badan Informasi Geospasial.
***rbudaya
23/11/2023
[BATIK BAKARAN: WUJUD TULUS DALAM TULIS]
Menjadi ikonik sekaligus kebanggaan Kabupaten Pati, Batik Bakaran begitu melegenda di masyarakat Pati dan sekitarnya, setiap pegawai pemerintahan, mesti memiliki setidaknya satu koleksi baju Batik Bakaran sebagai salah satu seragam yang dipakai salam satu minggu.
Disebut Batik Bakaran karena berasal dari Desa Bakaran yang terdiri dari Bakaran Wetan dan Bakaran Kulon, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Ratusan pengrajin batik akan ditemui di desa ini, dan sebagian besar masih mempertahankan image Batik Bakaran sebagai Batik Tulis.
Hal ini diakui oleh Almarhum Cak Diqin (penyanyi campursari kenamaan) yang juga menciptakan lagu khusus untuk Batik Bakaran dengan judul "Batik Bakaran" yang menyampaikan bahwa Batik Bakaran adalah batik tulis kebanggaan orang Pati.
Keterampilan membatik Pertamakali orang Bakaran di perkenalkan oleh Nyai Sabirah di awal kerajaan Demak dan terus turun - temurun sampai sekarang.
Penulis selaku pengamat batik, melihat warna - warna Batik Bakaran dapat dimasukan pada periode pertengahan (Pajang - Mataram Islam awal). Hal ini tampak penggunaan warna - warna dasar seperti hitam, putih, dan soga (cokelat tua). Warna ini dapat membedakan antara motif batik bakaran klasik dan kontemporer. Batik Bakaran klasik hanya menggunakan ketiga warna dasar tersebut, sementara kontemporer lebih gumebyar (mencolok) seperti hijau, merah, biru, kuning, dll sebagaimana karakter Batik Bakaran sebagai batik pesisiran yang lebih luwes dan dinamis menerima berbagai pengaruh luar.
Karena masih mempertahankan tradisi batik tulis dan memiliki motif khas berdasarkan identitas daerah, Batik Bakaran telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2021 dengan nomor registrasi 202101458.
Batik bakaran mengenal berbagai macam motif baik klasik maupun kontemporer. Berikut beberapa motif khas Batik Bakaran:
1. Motif Gandrung (slide 2): Gandrung berarti kasmaran, motif ini identik untuk urusan pernikahan, tanda X menjadi ciri motif Gandrung yang berarti berpadunya Dua garis sebagai lambang manusia. (Lanjut kolom komentar).
17/06/2023
[RAGAM TEMUAN LEPAS DI BAGENG]
Sekian lama tidak ngonten karena berbagai macam kesibukan, akhirnya mimin kembali dengan membawa info menarik.
Mungkin disini ada warga Bageng?, sebuah desa di Lereng Tenggara Gunung Muria yang terkenal dengan Jeruk Pamelo-nya. Selain itu ternyata Bageng juga punya potensi tinggalan arkelogisnya lho. Untuk tahu tinggalan apa saja yang ditemukan di Bageng, silahkan simak slide - slide di postingan ini.
***rbudayaindonesia
24/11/2021
[Pati Heritage Luru Volunteer]
kanggo sedulur putra - putri Pati, yukk daftar dadi volunteer Pati Heritage. Dadi Volunteer, pada Karo Melu nguri - uri tinggalane eyang jaman semana. Nglestarekno tinggalane eyang jaman semana wes dadi kewajibane awak dhewe minangka anak - putu. Tinggalan dilestarekake kanggo pasinaon ing jaman sing arep teka.
Gabung Ning kene mung butuh wong - wong sing gelem nyinaoni, lan ora ketang sithik nduweni kesenangan bab Heritage. Ojo tidha - tidha, ayo go ndang daftar.
Ojo lali waca kriteria luweh dhisik, nek wes rumongso klebu kriteria Kuwi, isinen form Iki:
bit.ly/VolunteerPatiHeritage
Pendaftaran bakal ditutup nalika slote wes kebak.
Nek iseh Ono pitakonan mangga iso takon Karo Mas Admin kanthi lumantar: 081249344933 (Jo).
23/11/2021
[Bangunan Polsek Juwana]
Bangunan Polsek Juwana terletak di Jalan Silugonggo Nomor 11. Sepanjang jalan tersebut merupakan deretan rumah - rumah etnis Cina yang masih menampakkan sisa - sisa kekunoannya, tak terkecuali bangunan Polsek Juwana yang sebagian besar masih asli, kecuali bagian belakang Gandok tĂȘngĂȘn (kanan) yang sudah ditambah toilet baru untuk keperluan sekarang.
Fungsi asli dari bangunan Polsek Juwana adalah rumah tinggal, yaitu rumah seorang Letnan etnis Cina yang bernama Go Tat Thiong. Pada masa setelah kemerdekaan, rumah ini kemudian dialih fungsikan sebagai Kantor Kepolisian Sektor Juwana sampai sekarang.
Bangunan memiliki tipe Indis - Empire, sebuah gaya arsitektural yang populer dengan memadukan arsitektur Jawa, Eropa dan Roma (Apabila dilihat dari bentuk tiang dan kemuncak atapnya).
Terdapat hiasan flora dan fauna pada rijjplank bangunan induk dan Gandok kanan - kiri. Hiasan fauna yang ikonik pada bangunan ini adalah hiasan Angsa Terakota yang terletak di puncak atap, baik bangunan utama maupun Gandok kanan dan kiri.
Ciri khas tata ruang rumah tradisional Cina juga tidak ditinggalkan dalam arsitektur bangunan yang sudah tersentuh budaya Eropa, hal tersebut tampak pada adanya Gandok (bilik) kanan dan kiri rumah yang sekarang menjadi ruang staff - staff polsek Juwana. Gandok biasanya berfungsi sebagai kamar untuk anak dan cucu, sedangkan para tetua (sesepuh) tinggal di ruang utama. Etnis Cina memang sangat menghormati status kekeluargaan seseorang.