07/03/2025
“Keberkahan di Piring Sahur”
Malam itu, Adit terbangun lebih awal dari biasanya. Perutnya keroncongan, tapi di dapur hanya ada sebutir telur, sebungkus mi instan, dan sedikit nasi sisa buka puasa kemarin. Dompetnya kosong, dan warung terdekat sudah tutup.
Dengan sedikit kecewa, ia mulai memasak seadanya. “Yah, sahur kali ini cuma begini,” gumamnya, mencoba tetap bersyukur.
Saat hendak makan, terdengar suara ketukan pelan di pintu kosannya. Ia membuka pintu dan mendapati Pak Udin, tukang becak yang sering mangkal di depan gang.
“Maaf, Mas Adit, ganggu malam-malam. Saya tadi lihat lampu masih nyala. Ada makanan lebih, Mas? Saya belum makan dari sore,” kata Pak Udin dengan senyum lelah.
Adit menelan ludah. Ia menoleh ke piringnya—satu-satunya makanan yang ia punya untuk sahur.
Sejenak ia ragu, tapi akhirnya ia tersenyum. “Bentar ya, Pak.”
Adit membagi makanan di piringnya jadi dua dan menyajikannya untuk Pak Udin. “Mari, Pak. Kita makan bareng.”
Pak Udin terkejut, tapi menerima dengan mata berkaca-kaca. “Mas Adit baik sekali. Semoga rezekinya lancar.”
Mereka makan bersama dengan obrolan ringan. Meskipun porsinya lebih sedikit dari yang ia harapkan, Adit merasa perutnya kenyang dengan cara yang berbeda—ada kebahagiaan yang menghangatkan hati.
Keesokan paginya, saat Adit bersiap untuk berangkat kerja, tetangga kosnya mengetuk pintu.
“Adit, ini ada makanan dari ibu kos buat kamu. Katanya tadi malam beliau masak lebih, takut ada yang belum makan sahur,” katanya sambil menyodorkan sekotak nasi dengan lauk lengkap.
Adit tersenyum haru. Ia baru saja memberi sebagian dari sedikit yang ia punya, tapi Allah membalasnya dengan berkah yang lebih besar.
Saat itu, ia benar-benar memahami arti keberkahan sahur: bukan tentang seberapa banyak makanan yang kita punya, tapi seberapa ikhlas kita berbagi.