01/11/2012
Pon.Pes Banat I Nurul Huda
Pondok pesantren Banat I Nurul Huda pertama kali didirikan oleh Kh. Abdul Ghofur bin Thoyib pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia tepatnya tahun 1941. Yang berlokasikan di Desa Bendungan, Kec. Kraton Kab. Pasuruan. Awalnya beliau bersama Ibu Nyai Hj. Khotijah (Istri Kh. Abdul Ghofur) Memberikan pengajaran agama pada tetangga sekitar rumah, kemudian lama-kelamaan meluas ke desa-desa tetangga hingga pada akhirnya ke luar kota. Pada masa itu kebanyakan dari para santri mengkaji ilmu agama (baca/tulis Alqur’an) berangkat dari rumahnya masing-masing, setelah selesai pengajaran mereka kembali pulang kerumahnya,dan begitu seterusnya, ada juga sebagian kecil dari santri tersebut yang mukim di pondok. Metode pembelajarannya pun sangat sederhana yaitu Santri di usahakan bisa baca/tulis Alqu’an di samping pembekalan moral dan sikap jujur serta nilai-nilai luhur agama yang lainnya.
Seiring dengan perjalanan waktu, santri yang berdatangan menimba ilmu semakin banyak dan beragam. Kenyataan tersebut telah mendorong Kh. Abdul Ghofur untuk membangun beberapa asrama tempat mukim para santrinya supaya mempermudah dalam menuntut ilmu Agama. Disamping itu Pondok Pesantren Banat I Nurul Huda beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Sebagaimana pesantren-pesantren pada zaman pendiriannya, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah metode sorogan (santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning di hadapan guru), serta metode weton atau bandongan atau halqah (kyai membaca kitab dan santri memberi makna). Semua bentuk pengajaran tersebut tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang khatam (selesai) dikaji dan diikuti santri. Materi pelajarannya pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at dan yang lainnya.
Setelah Kh. Abdul Ghofur Wafat kepemimpinan pesantren di ambil alih oleh Kh. Abdullah putra Kh. Abdul Ghofur. Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan oleh Kh. Abdullah bin Abd Ghofur pada tahun 1960-an yaitu dengan penerapan sistem madrasi (klasikal) dengan mendirikan Madrasah Salafiyah Diniyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni Ibtidaiyyah dan Tsanawiyah.
Dengan tujuan sebagai berikut:
1. Dengan adanya sistem yang sederhana (Madrasah/klasikal) dapat meningkatkan mutu pendidikan.
2. Menyesuaikan pada tingkat kebutuhan dan kemampuan para santri.
3. Lebih intensif dalam mendidik dan membentuk kepribadian santri.
Dengan harapan tidak semata-mata ditujukan untuk memperkaya pikiran santri (murid), tetapi meninggikan moral (akhlak), melatih mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan mempersiapkan para santri untuk hidup sederhana serta bersih hati. Setiap santri dibiasakan agar menerima etika agama di atas etika-etika lain.
Kemudian perubahan terjadi lagi pada masa kepemimpinan Kh. Abdul hayyi Abdullah bersama para saudaranya(putra/putri Kh. Abdullah) beliau meneruskan perjuangan Kh. Abdullah dalam mengelola pesantren Banat I Nurul Huda. Dengan beberapa system pendidikan yang lebih disiplin serta menambahkan lagi jenjang pendidikan salafiyahnya yang dulunya hanya 2 jenjang yaitu tingkat ibtidaiyah dan Tsanawiyah menjadi tiga jenjang dengan penambahan Tingkat Aliyah, serta musyawarah fathul Qorib dan Fathul Mu’in
Sekitar tahun 2006 kembali dilakukan pembaharuan, yaitu dengan dimasukkannya pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pengajaran. Diantaranya Adalah PAUD (Pendidikan Anak Usia dini) , TPQ (Metode Qiro’ati) , Wajar Dikdas 9 Tahun yaitu tingkat ula dan wustha(setara SD dan SMP), serta kejar paket C ( setara SMU) dan ekstrakurikuler lainnya seperti belajar computer dll.. Dengan tujuan agar Santri tidak hanya mengusai ilmu agama saja melainkan juga menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang di kira dibutuhkan bagi para lulusan pesantren sebagai tuntutan zaman, Namun tetap tidak meninggalkan ke Salafiyahan Pondok pesantren..