Semua akan NU pada waktunya...
Sholawat Nariyah
Sholawatnariyah.com adalah situs keaswajaan bagi pecinta dan pengamal sholawat nabi khususnya sholaw
14/07/2018
Al-Azhar, Unversitas Syiah yang Jatuh ke Tangan Sunni Sebagai perguruan tinggi tertua di dunia, umat muslim patut berbangga terhadap Universitas al-Azhar. Namun banyak yang tak tahu jika al-Azhar al-Syarif awaln...
JANGANLAH BERLEBIHAN DALAM MENCINTAI DAN MEMBENCI PARTAI POLITIK
Asy-Syahid Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi pernah diajak untuk membuat Partai Islam oleh Presiden Hafez Asad. Beliau ditanya:
“Anda adalah pemuka Islam yang dis**ai rakyat Suriah. Kenapa tidak membuat partai berbasis Islam supaya aspirasi Muslim tersalurkan, karena mungkin mereka tidak s**a partai sekuler seperti partai Baath?”
Syaikh al-Buthi menjawab:
“Oke, mungkin saya istiqamah pada Islam, mungkin saya bisa jadi teladan yang baik dalam berpolitik, dan saya yakin dalam setahun saya bisa mendapat jutaan pendukung. Tapi, apa saya bisa memastikan orang-orang yang mengikuti partai Islam saya benar-benar mencerminkan akhlak Islam? Kalaupun ketika saya hidup, mereka menjadi seperti saya, apa Anda bisa yakin kalau saya sudah mati, mereka tetap seperti itu? Kalau mereka berbuat salah, Islam yang dibawa-bawa, padahal Islam bukan diwakili oleh partai.
Kemudian, kalau saya menjadi ketua partai, saya akan merasa mendzalimi umat Islam lainnya yang tidak masuk partai saya. Kalau suatu saat anggota partai saya berbuat salah, orang partai lain menghujat anggota partai saya, saya pastinya akan mendukung anggota saya dan membelanya. Sedangkan saya tahu dia salah dan orang partai lain yang benar. Tapi karena dia orang partai saya, saya membela dia. Saya jadi sangat dzalim!
Biarlah saya berdakwah seperti ini, tanpa bawa-bawa partai. Kalau mau berdakwah, jangan sampai kamu dipolitiki. Kalau mau berpolitik kamu harus tahu agama, tapi jangan dekati mimbar.”
Sumber: http://www.elhooda.net/2014/04/mempertanyakan-labelisasi-partai-dakwah-atau-partai-islam
Namanya Risky Jumiati asli Bima Penanae. Finalis MTQ Mataram 2016 golongan disabilitas ini merupakan muslimah dengan suara yang indah dalam melantunkan ayat suci alquran.
09/06/2018
Ketika Aisyah ra menghidangkan makanan kes**aan Rasulullah yaitu paha domba (kambing), Rasulullah bertanya:
”Wahai Aisyah, apakah sudah engkau berikan kepada Abu Hurairah tetangga kita ?
Aisyah menjawab:
“Sudah ya Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah bertanya lagi:
”Bagaimana dengan Ummu Ayman?”
Aisyah kembali menjawab:
“Sudah ya Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah bertanya lagi tentang tetangga-tetangganya yang lain, adakah sudah di beri masakan tersebut, sampai Aisyah merasa penat menjawab pertanyaan-pertanyaan Rasulullah.
Tanda Rasulullah tidak pernah bosan untuk memberi dan tidak pernah kesal dan marah saat diminta.
‘Aisyah kemudian menjawab:
"Sudah habis ku berikan, Ya Rasulullah... yang tinggal apa yang ada di depan kita saat ini..."
Rasulullah tersenyum dan dengan lembut menjawab:
”Engkau salah Aisyah, yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan."
(HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda:
"Kelak di hari akhirat manusia akan berkata, 'Inilah harta bendaku! Padahal tidak ada harta benda yang di perolehnya di dunia kecuali tiga hal:
* Apa yang ia makan akan keluar dari tubuhnya menjadi kotoran.
*Apa yang ia pakai akan menjadi rusak.
*Dan Apa yang di sedekahkan akan menjadi kebaikan yang kekal baginya."
(HR. Muslim)
Semoga kisah mulia ini menjadi inspirasi buat kita semua, karena di dalam rezeki kita ada hak mereka.
28/05/2018
Komentar pers Inggris menggambarkan Mohamed Salah sebagai pemain besar yang bergaya hidup baik dan rendah hati. Ia tak pernah sekali pun nongkrong di bar-bar melewatkan malam dengan bercinta dengan foto model-foto model setempat. Di dalam pesawat, di setiap perjalanan p**ang ke Inggris setelah laga kemenangan ia tak berulah seperti rekan-rekannya yang mabuk-mabukan. Di dalam pesawat, ia membaca kitab suci Al-Qur'an sambil ditemani secangkir kopi susu panas. Demikian juga setiap acara kunjungan dari para istri atau teman wanita _("s*x bomb" )_ di hotel, Mohamed Salah selalu dikunjungi istrinya Magi yang selalu tampil cantik berhijab dan anaknya Makka (4 tahun).
Maka para fans Liverpool tidak hanya memuji Mohamed Salah sebagai penyerang hebat. Tapi mereka juga menyatakan diri bakal menjadi memeluk agama Islam dan ikut aktif bersama Mohamed Salah di masjid _(TEMPO_, 4/3/2018).
Bahkan pelatihnya sekarang, Juergen Klopp, mengatakan bahwa Mohamed Salah adalah pemain bintang, yang membaca kitab suci agamanya dan konsisten mengamalkan tuntunannya.
Di Mesir, Mohamed Salah menjadi idola anak-anak muda. "Aku ingin seperti Mohamed Salah ketika besar nanti," ujar Mohamed Abdel, bocah berusia 12 tahun dari desa Nagrig. Dan berkat bola, Mihamed Salah mampu membangun rumah sakit modern di desanya Nagrig serta memberikan bantuan untuk pendidikan kaum papa di desa asalnya Nagrig dan Mesir.
Di Inggris, para fans Liverpool dengan riang berteriak bersama-sama: _Assalamu'allaikum_, Salah, _we need you!_
Sebuah dakwah riil, nyata, konkrit, membumi.
Manakala dakwah dengan sikap dan tindakan lebih dibutuhkan dari pada dengan lisan dan tulisan,
*maka, dakwah dengan ahlak dan adab yang luhur bisa mengalahkan 1.000 majelis ilmu (teori) tentang ahlak* Orang menyebutnya sebagai keteladanan. Satu teladan, bisa jadi akan lebih efektif dari seribu penataran. Membangun citra Islam dengan prestasi dan reputasi. Mari .... !!!
Repost
27/05/2018
Orang yang telah kuasa menunaikan ibadah haji namun tak segera menunaikannya hingga ia jatuh miskin sehingga tak mampu untuk berangkat haji maka ia tetap menanggung wajibnya berhaji. Adapun orang yang menunda-nunda atau enggan menunaikan haji padahal ia kuasa untuk menunaikannya maka jika ia mati dalam keadaan belum berhaji, Allah memberinya pilihan mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Na'dzubillahi min dzalik...
Tag orang terdekatmu yang sudah berlimpah materi namun tak segera mendaftar untuk berangkat haji!
GUS DUR & SANTRI NAKAL PENCURI KUTANG
Setelah menempuh pendidikan pesantren di Tegalrejo, Magelang. Gus Dur diminta pamannya Kiai Abdul Fattah Hasyim, untuk membantu mengurus Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang pada 1959. Usia Gus Dur saat itu sudah hampir 20 tahun.
Setelah mendapat restu dari Kiai Chudhori, Gus Dur membantu Kiai Fattah mengurus pesantren sebagai kepala keamanan pondok. Kisah ini pernah diceritakan oleh KH Anwar Zahid, Bojonegoro, Jawa Timur.
Tugas Gus Dur sebagai kepala keamanan saat itu cukup sederhana. Yakni menindak santri yang melanggar peraturan, bahkan kalau perlu menghukum secara langsung. Dalam bahasa santri "di-takzir”.Di pondok itu ada satu santri yang luar biasa nakal.
“Saya geregatan sama santri nakal itu,” kata Gus Dur.
Hal itu bahkan sampai membuat Gus Dur “niteni” atau mengincar setiap kesalahan yang diperbuatnya karena begitu jengkel.
Bagaimana tidak jengkel, jika kulit bedug di pesantren Tambakberas sering dipotong sedikit demi sedikit sampai membuatnya berlubang-lubang?
“Siapa ini ada orang berani-beraninya mencuri kulit bedug masjid?”, kata Gus Dur.
Setelah diselidiki oleh bagian keamanan, akhirnya terjawab kenapa kulit bedug ini bisa hilang. Kulit bedug masjid yang terbuat dari kulit sapi asli ini dicuri salah satu santri.
Setelah ketahuan siapa yang mencuri si santri dipanggil untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Kenapa kamu mencuri kulit bedug?”, tanya Gus Dur,
"Kamu jual ya? Biar dapat duit?”, lanjut Gus Dur.
Santri itu menunduk diam saja. Setelah didesak berulang kali akhirnya si santri menjawab:
“Anu, Kang, digoreng buat lauk makan, jadi krecek.”
Sontak saja Gus Dur malah tertawa mendengar alasan si santri mencuri kulit bedug masjid. Dengan alasan itu, Gus Dur tidak mentakzir berlevel keras. Si santri tetap dihukum, tapi masih pada level-level ringan.
Bukannya kapok, si santri ini tetap nakal. Salah satu bentuk kenakalannya adalah ia sering masuk ke kompleks pondok putri. Mengintip para santri putri.
Masalahnya tidak pernah bisa ditemukan bukti-bukti yang bisa digunakan untuk melaporkannya kepada Kiai Fattah. Karena pelanggaran yang dilakukan adalah pelanggaran tingkat tinggi. Dan hukuman yang menanti pun tingkatnya ada di level tertinggi p**a, yaitu diusir dari pondok pesantren.
Karena selalu gagal dalam melakukan “operasi tangkap tangan”, Gus Dur akhirnya memilih cara alternatif untuk bisa menangkap santri nakal ini dengan bukti serta alasan yang cukup kuat.
Dalam kesimp**an Gus Dur, jika s**a mengintip perempuan, itu berarti pikiran bocah ini pasti mesum. Dan karenanya pasti ada sesuatu di dalam lemarinya yang menunjukkan kemesuman itu.
Akhirnya Gus Dur melakukan razia ke lemari-lemari santri putra. Benar saja, dalam lemari santri yang dimaksud, ditemukan sebuah kutang yang setelah diselidiki memang salah satu kutang dari pondok putri. Gus Dur senang, karena dengan ini si santri akan mendapatkan hukuman tertinggi sesuai dengan hukum yang berlaku di pesantren.
Dengan senang Gus Dur pun menghadap Kiai Fattah sambil membawa kutang sebagai alat bukti. Begitu sudah sampai ndalem (kediaman) Kiai Fattah, Gus Dur mengeluarkan kutang curian tersebut.
“Itu apa, Dur? Kenapa kamu bawa kutang kemari?”, tanya Kiai Fattah heran.
“Pak Kiai, ini hasil curian salah satu santri putra. Namanya Fulan bin Fulan. Dia sering ngintip ke pondok putri. Di dalam lemarinya saya temukan bukti ini,” kata Gus Dur,
“Saya sama teman-teman dari keamanan pondok sepakat, agar santri ini bisa segera dikeluarkan.”
“Oh, begitu,” kata Kiai Fattah.
“Santri ini nakal banget, Kiai,” kata Gus Dur kepada pamannya.
“Lho, santri nakal, kok, dilaporkan ke aku? Mau dikeluarkan lagi,” kata Kiai Fattah,
"Kalau lapor ke aku, lapor santri yang sudah baik, sudah pintar, biar aku keluarkan dari pondok. Orang tua santri itu berharap anaknya p**ang dari pondok biar jadi makin baik, bukan malah jadi tambah nakal,” tambah Kiai Fattah.
Mendengar jawaban itu, Gus Dur heran.
“Lha.. terus gimana ini Kiai?” tanya Gus Dur.
“Begini saja. Aku hargai musyawarah para pengurus keamanan. Karena kalian sudah sepakat untuk mengeluarkannya, ya sudah aku ya sepakat,” kata Kiai Fattah.
Gus Dur tersenyum senang mendengarnya.
“Keluar dari pondok, lalu masuk ke sini saja,” kata Kiai Fattah menunjuk kediamannya sendiri.
Gus Dur terkejut mendengarnya.
“Maksudnya, Kiai?”
“Iya, dipindahkan ke sini. Ke ndalem. Rumahku. Kamu aturlah sama teman temanmu. Pokoknya mulai hari ini santri itu dipindah ke sini,” kata Kiai Fattah menunjuk kediamannya sendiri.
Meski bingung dengan perintah pamannya, pada akhirnya Gus Dur tetap menurut. Mengeluarkan si santri dari pondok, tapi malah memasukkannya ke ndalem Kiai Fattah.
“Bukannya dikeluarkan, malah naik pangkat ini santri,” komentar teman-teman si santri.
Pada akhirnya, karena kamarnya dekat dengan kamar Kiai Fattah, si santri jadi orang pertama yang selalu ditemui Kiai Fattah ketika bangun tidur, berangkat ngaji, sampai dengan salat tahajud.
Ketika Kiai Fattah mengajar ngaji, si santri disuruh membawakan kitab dan menandai halaman-halamannya. Hal itu tanpa sadar membuat si santri mau tidak mau ikut mengaji tanpa bisa membolos satu kali pun. Karena sering harus menandai bagian yang akan dimulai dan yang diakhiri, ia jadi belajar membaca kitab kuning.
Selain itu, setiap Kiai Fattah akan salat, santri ini disuruh mempersiapkan tempat salat. Entah itu salat wajib atau pun sunah. Dengan pola seperti itu, akhirnya si santri dengan terpaksa mengikuti laku hidup Kiai Fattah selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, diawali dengan terpaksa, si santri jadi terbiasa dan benar-benar menjadi santri yang saleh.
“Baik secara syariat, akhlak, maupun aturan pondok pesantren, ngintip ke dalam pondok putri adalah pelanggaran yang tidak bisa dibiarkan,” kata Gus Dur.
Dari segala aspek hukum apapun si santri ini jelas salah. Dan keputusan Kiai Fattah benar-benar memberi pelajaran berharga bagi Gus Dur. Jika Kiai Fattah hanya ikut apa kata hukum saat itu, si santri memang benar harus diusir, pesantren jelas tidak akan rugi, Kiai Fattah tidak akan repot. Hanya saja santri tersebut akan kehilangan peluang untuk bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Dengan langkah sederhana, Kiai Fattah menunjukkan bahwa ada yang lebih penting daripada sekadar mengikuti nalar hukum, yaitu mengikuti nalar kemanusiaan.
“Ternyata di atas hukum, masih perlu adanya rasa kemanusiaan,” kata Gus Dur.
Dari cerita versi KH. Anwar Zahid, santri ini kemudian menjadi kiai yang punya santri cukup banyak. Dan suatu ketika, Gus Dur dan santri ini bertemu. Dengan akrab Gus Dur pun bertanya,
"Yang kamu curi dulu warnanya apa, Nda?”
Keduanya pun tertawa terpingkal-pingkal. Tanpa menyadari, bahwa dari sanalah kemanusiaan untuk negeri ini lahir beberapa dekade tahun kemudian saat si kepala keamanan naik pangkat jadi kepala negara.
Tag Teman Pondok mu Dulu di sini..... 😂
21/05/2018
Hikmah Puasa
WALI TANPA NAMA DAN TANPA GELAR
Suatu hari aku bertemu dengan orang gila (Al-majnuni Murokab) tak jauh dari makam seorang wali. Ia ngoceh gak jelas seperti sedang bicara dengan seseorang, dia berbicara seperti ini:
"Andaikan mereka tahu bahwa ada wali tanpa nama tanpa gelar" yang memiliki kemampuan seperti Wali Quthb niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa nama tanpa gelar tersebut minta di do'akan hajatnya, jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo'a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada ALLAH MAHA PENGAMPUN atas dosa-dosa mereka selama ini. Andaikan mereka tahu jika mereka sami'na wa athona kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya ALLAH SWT akan angkat derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang".
Aku yang dengar ocehannya kaget dan bergumam "hahhh??? ada wali tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti Wali Quthb? Siapakah wali tersebut?"
Dengan sedikit rasa takut-takut aku dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut?
lalu terjadi dialog:
Aku: "Maaf mbah tadi saya dengar mbah ada mengoceh panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai Wali Quthb?"
Orang gila tersebut menoleh kearahku dan matanya sedikit melotot lalu berkata :
"Sampeyan siapa? Kamu nguping omonganku ya? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang wali tanpa nama?"
Ucapnya dengan nada agak tinggi, Mendengar ucapan suaranya yang agak bernada tinggi terkesan kasar membuat aku sedikit takut dan gentar, lalu berkata:
"Maaf mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya bolang, saya seorang muhibbun pecinta para wali-wali ALLAH, kadang-kadang saya dan teman-teman seperti M Darjo Huda, Naja Suluk, Ahmad Nawan Nyel berziarah ke makam para wali, saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah?"
Orang gila itu tertawa terbahak-bahak dan berkata: "HA HA HA HA HA HAA ..... dasar bocah goblog, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya, kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog yach, HA HA HA HA HA"
JLEEB, terasa menusuk sekali perkataannya dia menyebut aku anak bodoh dan goblog, wajahku merah padam menahan sedikit emosi, sepertinya aku salah sangka kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi nyatanya dia sebut aku bocah goblog, yach aku memang goblog namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar jadi siapa yang tahu nama wali tersebut? siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut tanpa gelar?, ach sudahlah sebaiknya kutinggalkan saja dia, aku pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang gila tersebut,
"Hai Fikri mau kemana sampeyan, sampeyan ini bagaimana sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, baru diejek begitu saja sudah bermuka masam, apakah mursyidmu yang seorang wali qutb tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi? Apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hinaan?"
Langkahku terhenti, astaghfirullah .... betul sekali, aku tadi lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan dan aku juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, dan tak kusangka dia menyebut mursyidku seorang Wali Quthb, sepertinya dia mengenal mursyidku.
Kemudian aku kembali menghampirinya dan berkata "Assalamu'alaikum wr. wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf" (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya). Orang gila itu menepis tanganku seraya berkata "Wiss suda, cukup bilang minta maaf dan tak perlu cium tangan segala".
Aku jadi salah tingkah, tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit, aku diam dan diapun diam suasana serasa seperti di kuburan.
"Ngapain kamu masih disini?"
Hannnnccur... mukaku rasanya merah padam, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang gila tersebut, dengan rasa sedikit menahan malu aku tetap memberanikan diri untuk bertanya :
"Maksud saya adalah ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar"
Orang gila bertanya "Kamu ini gak pinter pinter juga, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf/spritual?"
Aku menjawab "Sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah" lalu orang gila itu berkata sambil menepuk pahanya:
"Sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak mengasih tahu?"
Aku menjawab "Saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah, tapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar, dan guru sayapun tidak pernah menyebutkan siapa wali tersebut?"
Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata "Sebenarnya gurumu ada menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya hanya saja kamu aja yang ga faham-faham dengan maksud gurumu, lagi p**a sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar jelas gurumu tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu"
Aku bergumam dalam hati "Apaaa??
Aku mengenal wali tersebut? Siapa dia?
Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh "he .. he ... he ... wali tanpa nama dan tanpa gelar itu adalah orangtuamu sendiri, nah sekarang aku tanya kamu memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu? yach aku mana tahu"
Aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya
"Orangtuaku? maksud mbah orangtuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? mengapa bisa begitu mbah?"
Orang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu berkata :
"Apakah kau tidak tahu tentang Uwaisy al-Qorni, salah satu tabi'in yang tidak pernah bertemu nabi secara fisik dan juga seorang wali? Apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau dibumi tak ada seorangpun mengenalnya? Kau tahu??!!
"Uwaisy al-Qorni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo'akannya: "Anakku Uwaisy aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu NABI MUHAMMAD SAW, namun kini kau datang padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui ROSULULLOH SAW dan kau memilih segera p**ang karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku ibumu ini nak , dan aku ridho padamu, YA ALLAH kau MAHA TAHU, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridho pada anakku, maka terimalah ridho ku ya ALLAH dan ridhoilah anakku Uwaisy",
Dan apa kau tidak kau tahu bahwa SHULTONUL AWLIYA SYEIKH ABDUL QODIR JAILANI , dimasa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata SYEIKH ABDUL QODIR JAILANI? beliau berkata "ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu ibuku berpesan "anakku .. bila engkau bertemu dengan siapapun maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau harus kehilangan kejujuranmu"……
"Lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dirimu dalam perutnya? apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk menginginkan kau lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kau terlahir sehat dan selamat?? apakah kau pernah memikirkan hal ini ??
Itu kekuatan ALLAH SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui RAHMAN dan RAHIM NYA , ini adalah sumber kekuatan para AWLIYA"
Aku diam seribu bahasa rasa hati ini ingin menangis sejadi-jadinya, aku serasa dihakimi dalam hari perhitungan ...
Lalu orang gila itu berkata lagi " KAU BANGGA DAN TAKJUB DENGAN KAROMAH PARA WALI TAPI, PERNAHKAH KAU BANGGAKAN DAN TAKJUB DENGAN KAROMAH IBUMU YANG ALLOHU SWT anugerahkan kepadamu?
PERNAHKAH KAU BANGGA DAN TAKJUB DENGAN KAROMAH IBU YANG MENGAJARKAN BERKATA-KATA KETIKA KAMU MASIH BAYI ??
tidurnya sedikit karena kau selalu nangis dan rewel sebagaimana para AWLIYA yang tidurnya sedikit karena memikirkan ummat NABI MUHAMMAD SAW yang banyak berkeluh kesah..
Apakah kau tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu?, tidakkah kau pernah mendengar kalimat ini
" Ridho orangtua adalah ridho nya ALLAH, para awliya mereka menjadi Wali Quthb dikarenakan ridho dari orangtua mereka, tidakkah kau sadar bahwa do'a dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan Wali Quthb?"
Astaghfirullooh... ampuuunnn... mendengar celotehan orang gila tersebut seakan petir menyambar seluruh tubuhku, badanku rasanya hancur binasa ... ingin sekali aku rasanya menangis sekuat-kuatnya.
Orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk kearahku ;
"Lihat dirimu, kelak kau akan jadi seorang BAPAK, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu, ketika kau kecil dirimu melakukan kesalahan dialah orang yang paling depan membelamu, ketika kau dalam bahaya dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu dipundaknya walau kian rapuh dia tetap berusaha menopang, tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang MUJAHID FISABILILLAH ? yang setiap hari dia berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun, dia bapakmu adalah MUJAHIDIN kebanggaanmu"
Ya ROBB, aku seperti hancur lebur mendengar ocehan orang gila tersebut, bahkan ternyata selama ini aku yang gila bukan dia, aku melupakan siapa sesungguhnya orangtuaku sendiri, aku melupakan semua yang mereka beri padaku, bahkan aku sering takjub akan pesona dan karomah wali tapi aku tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, ...
Sesaat kemudian orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun .... aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu kemana dia pergi ... ternyata dia mendatangi 2 gundukan tanah, dan dia duduk disana .... mulutnya komat kamit seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti aku tidak tahu apa yang dia ucapkan, lalu sesaat kemudian dia tertawa kebahak-bahak sambil senyam senyum dihadapan 2 gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, tapi aku tak tahu kuburan siapa itu namun aku berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali jadi aku pikir itu kuburan seorang wali ....
Tiba-tiba setelah selesai dia tertawa, dia diam .... suasana menjadi hening .... kemudian kulihat dia mulai menangis meneteskan airmata dengan suara terisak-isak, tangisan begitu pilu sampai serasa menyayat hatiku untuk turut menangis ... aku tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah, sambil tangannya mengelus - elus kuburan itu, tangisan kian jadi bahkan meraung, aku sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya ... namun akhirnya aku mengerti mengapa dia meraung-raung menangis dikuburan yang kusangkakan seorang wali, ditengah isak tangisnya aku mendengar dia mengucapkan kalimat "mbok ... " , lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata "mbah ... " , aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya .... ternyata itu kuburan orangtuanya, ternyata itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar ...
Kini aku baru faham mengapa orang-orang mulai menganggap gila, sebab dia sering tertawa, menangis meraung, dan bercakap - cakap sendiri di kuburan ... seandainya aku jadi dia mungkin aku akan sama dengannya menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang paling yang disayangi ...
aku membalikkan badanku ... bergegas ingin p**ang kerumah untuk menemui kedua orangtuaku yang masih hidup. Dan aku merasa beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup ....
Sepanjang jalan aku berdoa: "robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shogiroo.."
Repost
02/04/2018
#212
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Sidogiri
Pasuruan
67101