12/06/2026
Salah satu piranti dalam klarifikasi ilmu Kalam versi Ahlusunnah wal Jamaah yang wajib diimani adalah Sam‘iyyāt, yaitu segala klarifikasi mengenai sesuatu yang hanya dapat diverifikasi melalui kabar (naql). Pembahasan ini umumnya diuraikan setelah bab Ilahiyyāt (ketuhanan) dan Nabawiyyāt (kenabian)[1]. Namun, dalam referensi lain, bab sam‘iyyāt masih diklasifikasikan kembali menjadi dua bagian, yakni Kauniyyāt dan Ghaibiyyāt, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ramadhan al-Buthi dalam kitab Kubral-Yaqīniyyah al-Kauniyyah. Menurut beliau, Kauniyyāt didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diketahui melalui metode yang mengantarkan pada kepastian dan keyakinan bahwa sesuatu tersebut termasuk perkara yang benar-benar ada. Pembahasan ini mencakup seluruh perkara yang memiliki eksistensi, baik yang bersifat abstrak maupun konkret, seperti manusia, jin, malaikat, dan lain sebagainya. Adapun Ghaibiyyāt didefinisikan sebagai segala sesuatu yang hanya dapat dijelaskan melalui kabar yang meyakinkan, sebab perkara tersebut tertutup dari pengetahuan manusia dan hanya diketahui oleh Allah ﷻ, seperti kepastian hari kiamat, kematian, dan sebagainya.
Artikel ini akan menjelaskan sekelumit dari bab Kauniyyāt yang berkaitan dengan selain ketuhanan dan kenabian. Namun demikian, penulis tidak akan memperluas klarifikasi bab ini karena cakupannya yang sangat luas dan memerlukan waktu panjang untuk menguraikannya secara menyeluruh. Oleh sebab itu, pembahasan kauniyyāt akan dipersempit pada satu objek, yakni jin, makhluk yang memiliki kemiripan dengan manusia, tetapi hidup dalam dimensi yang berbeda.
Esensi dan Eksistensi Jin
Mengapa pembahasan ini berfokus pada jin? Sesungguhnya terdapat banyak alasan yang melandasi dan memotivasi kajian ini. Namun, alasan yang paling rasional adalah bahwa jin merupakan satu-satunya makhluk yang menyerupai manusia, tetapi bertempat di dimensi yang berbeda. Kesamaan antara manusia dan jin terletak pada status keduanya sebagai makhluk yang mukallaf oleh syariat Islam. Artinya, jin memiliki kewajiban dan larangan sebagaimana manusia.
Kesamaan lainnya adalah bahwa jin dan manusia sama-sama memiliki akal dan hasrat. Secara umum, makhluk yang ada dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok:
Makhluk yang hanya memiliki akal, seperti malaikat.
Makhluk yang hanya memiliki hasrat, seperti hewan ternak dan sejenisnya.
Makhluk yang memiliki akal sekaligus hasrat, seperti manusia dan jin.[2]
Dengan demikian, manusia pada hakikatnya memiliki banyak kemiripan dengan bangsa jin. Perbedaannya terletak pada dimensi tempat tinggal masing-masing. Akibat perbedaan dimensi tersebut, manusia tidak dapat melihat jin.
Eksistensi jin telah ditegaskan oleh Allah ﷻ melalui firman-Nya. Bahkan, terdapat satu surah dalam al-Quran yang secara khusus dinamai Surah al-Jin. Jin diciptakan oleh Allah ﷻ dari api yang tidak berasap, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ar-Rahman [55]: 15[3]. Sebagaimana manusia, jin juga dikenai taklif syariat Islam. Namun, menurut konsensus ulama, jin telah dikenai taklif sejak awal penciptaannya. Hal ini berbeda dengan manusia yang baru dikenai taklif setelah mencapai usia baligh, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama fikih.
Menurut pendapat yang masyhur, makhluk jin pertama yang diciptakan adalah Iblis, dan ia telah dikenai taklif karena pernah mendengar kalam Allah ﷻ. Adapun keturunannya dapat dikenai taklif melalui tiga sebab, yaitu: mendengar kalam Allah ﷻ, diberi ilmu yang bersifat aksiomatik (ḍarūrī), atau menerima dakwah rasul dari kalangan manusia[4].
Dari segi anatomi, bentuk dan struktur tubuh jin belum dapat diketahui secara jelas, karena jin merupakan makhluk yang hidup di dimensi berbeda dengan manusia. Oleh karena itu, jin bersifat abstrak dan tidak dapat dijangkau oleh pancaindra manusia. Kendati demikian, jin tetap dapat melihat manusia, karena sifat penciptaannya yang berasal dari api. Sebagai analogi, apabila sebuah apel diletakkan di dalam satu ruangan sementara kita berada di ruangan lain yang berdampingan, tentu apel tersebut tidak dapat kita lihat. Namun, jika di ruangan itu terdapat kobaran api, kita dapat mengetahui keberadaannya melalui sinar dan panas yang ditimbulkannya, meskipun tidak melihat api secara langsung. Api memiliki kemampuan menembus materi tertentu. Oleh karena itu, jin dapat merasakan atau melihat manusia, sementara manusia tidak memiliki kemampuan serupa karena tercipta dari tanah yang tidak memancarkan cahaya maupun panas[5].
Secara individual, jin juga memiliki karakter yang beragam, sebagaimana manusia. Ada jin yang unggul dalam intelektualitas, ada yang memiliki moralitas, dan ada p**a yang tidak memiliki moralitas sama sekali. Bahkan, Imam as-Suddī menjelaskan bahwa jin juga memiliki berbagai sekte sempalan, seperti Rafidhah, Khawarij, Murji’ah, dan Qadariyyah sebagaimana yang terdapat di kalangan manusia[6].
Oleh karena itu, tidak ada alasan rasional untuk menolak eksistensi jin hanya karena manusia tidak mampu melihat mereka. Penolakan semacam ini umumnya bersumber dari pemikiran Barat yang hanya mengakui eksistensi sesuatu yang bersifat empiris dan menolak keberadaan hal-hal yang tidak dapat diindra. Ideologi semacam ini berpotensi melahirkan dua kesimp**an berbahaya:
Mengingkari perkara yang telah diketahui secara aksiomatik oleh agama.
Menganggap bahwa kabar yang disampaikan oleh Allah ﷻ adalah kebohongan.
Kedua kesimp**an tersebut dapat berujung pada hilangnya iman kepada Allah ﷻ dan seluruh perkara yang wajib diimani[7].
Referensi:
[1] Baijuri, 1444 H, Ibrahim bin Muhammad, Tuhfatul-Murid syarhu Jauharatit-Tauhid, Hlm:62, Cetakan DKI
[2] Klarifikasi Mentoring oleh K.H. Muhibbun Aman Aly
[3] Mahalli, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad, Tafsirul-Jalalain, Juz:2, Hlm:203, Cetakan Maktabah Madinah, Jombang
[4]Tuban, Abul-Fadhl as-Sanuri, Durrul-Farid fi syarhi Jauharatit-Tauhid, Hlm:19, Cetakan Maktabah al- Anwariyah
[5] Sya’rawi, Tafsiru wa Khawathirul-Imam Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Juz:17, Hlm:169, Cetakan Darul-Islam, Irak
[6] Bantani, Muhammad bin Umar Nawawi, Mirahul-Labid li Kasyfi ma’nal-Qur’an al-Majid, Juz:2, Hlm:571, Cetakan DKI
[7] Buthi, Dr. Muhammad Said Ramadhan, Kubral-Yaqiniyyah al-Kauniyyah Wujudul-Khaliq wa Wadzifatul-Makhluq, Hlm:280, Cetakan Darul-Fikr al-Mu’ashir
Baca juga artikel seputar akidah lainnya hanya di website resmi Annajah Center Sidogiri
AnnajahSidogiri.id
09/06/2026
09/06/2026
08/06/2026
07/06/2026
04/06/2026
02/06/2026
31/05/2026
25/05/2026