02/02/2012
♥ƸӜƷ ♥ Tasbih Cinta Untuk
Istriku♥ƸӜƷ
(¯`*•.¸(¯`*•.¸_..ƸӜƷ.._¸.•*
´¯)._¸.•*´¯)
Bismillahir-Rahmanir-Rahim ...
Lelaki itu terpekur diatas
sajadahnya. Hatinya begitu
gelisah.Air mata masih terus
meleleh membasahi wajahnya
yang selalu bersinar karena air
wudhu.Berat rasanya
melakukan semua ini. Bayang
bayang sang istri
tercinta,menari nari di benak
nya.Tapi semua memang
harus dilakukan demi kebaikan
keluarga dan kedua buah
hatinya. Ia bukan sosok lelaki
pengobral cinta,juga bukan
lelaki yang s**a menghianati
istrinya. Sama sekali bukan.
Justru ia adalah sosok lelaki
yang yang sangat shaleh dan
santun dalam kesehariannya.Ia
hanya berusaha melakukan
yang terbaik untuk kedua
buah hatinya,bukan
menghianati istrinya.
Laki laki itu meraih sebuah
foto perempuan yang sangat
dicintainya.Sejenak,ia
memandangi foto itu dan
membelainya dengan airmata
yg masih terus mengalir.Ia
terus menangis atas
keputusan yang telah
diambilnya.Hatinya sedikit
bimbang,apakah ini benar atau
salah.Hatinya berbisik
mesra,seolah tengah berkata
pada istri tercinta.
“ Duhai kekasih,tak kan hilang
dirimu dalam
hatiku.Kupastikan nama dan
segala kenangan tentang
dirimu kan selalu hidup dalam
sanubariku.Walau pada
saatnya nanti keadaan
meniscayakan seseorang
menempati posisimu dalam
kehidupanku,cintaku pada mu
akan selalu terjaga dalam
taman kasih sayang
Nya..Sungguh..dari awal kita
berjumpa,aku memang
sangat mencintaimu karena-
NYA.
Jangan kau menuduhku
mengkhianati cinta kita
berdua,dan akupun tidak
sedang berkata bahwa aku
tak sepenuhnya mencintai
dirinya.Aku berharap kau
mengerti,dan aku yakin
kaupun memahami.Cinta kita
adalah milik kita berdua,
cintaku
dengannya….ah…..kuharap kau
melakukan hal yang sama.
Bukan atas nama
penghianatan,tapi atas nama
penjagaan diri,keluarga dan
kehormatan. Bukankah ini
yang dulu telah kita ikrarkan?”
===00===
Pagi yang cukup cerah, pagi
dimana sepuluh tahun yang
lalu lelaki itu mengucapkan
janji suci meminang
perempuan yang amat
dicintainya.Pagi dimana
sepuluh tahun yang lalu
keduanya mengikat janji
untuk selalu menjaga cinta
dan kesetiaan mereka.Kicauan
burung dan hembusan angin
yang sepoi-sepoi,seolah turut
mengantarkan lelaki itu
berjalan menuju sebuah
tempat yang teramat sangat
istimewa. Setidaknya bagi
dirinya. Karena disana,ia bisa
bermesraan sepuasnya
dengan istri tercinta.
Bercakap-cakap
berdua,tentang masa lalu
mereka,tentang kisah cinta
mereka,dan tentang
kemesraan yang terjadi
antara mereka berdua.
“ Qabiltu nikahaha wa
tazwijaha,Alifa binti Hamzah
Assidiqi liy nafsiy bimahril
madzkuur haalan.”
Saat itu, sepuluh tahun yang
lalu,semuanya terasa begitu
tenang. Tak ada sedikitpun
awan yang menutupi
megahnya biru langit-NYA.
Mataharipun tersenyum
manja dengan tidak terlalu
menampakkan sinar
panasnya,dan angin
berhembus
tenang,menggerakkan
dedaunan dan rerumputan
yang seolah terlihat bagai
balerina dengan gerakannya
yang memesona. Semua
seolah ingin menyaksikan
sebuah perjanjian yang
terucap untuk mengikat dua
manusia berbeda jenis untuk
menjadi satu. Sebuah
perjanjian yang setara dengan
perjanjian Rabb dengan
Rasulnya. Miitsaqan Ghaliidza.
Lelaki itu terus berjalan
menuju tempat itu untuk
menemui istri tercinta.Tak
kuasa ia menahan airmata.
Ada rasa bersalah atas apa
yang telah ia putuskan ini,Tapi,
demi kebaikan kedua buah
hatinya,ia harus tetap
melakukannya. Airmata terus
membanjiri matanya setelah
ia hampir sampai di tempat
tujuannya.Bayangan istri
tercinta semakin tampak
jelas di benaknya.
Kaki lelaki itu bergetar tatkala
ia telah sampai di tempat
tujuannya.Begitu juga dengan
hatinya yang turut merasakan
getaran itu. Ini tak seperti
yang biasa ia rasakan ketika ia
datang ke tempat ini untuk
menemui istri tercinta. Hampir
setiap hari ia mendatangi
tempat ini,dan perasannya
selalu membuncah
bahagia.Tapi rupanya tidak
untuk hari ini,karena ia
membawa segunung beban
yang harus ia sampaikan pada
istri tercinta. Lelaki itupun
terpekur tempat itu, tempat
dimana perempuan yang
sangat dicintainya tertidur
untuk selamanya…!! Tempat
yang menjadi
peristirahatannya,setelah ia
syahid karena berjuang
melahirkan anak kedua
mereka tiga tahun lalu. Lelaki
itu tertunduk pilu,dihadapan
gundukan tanah kuburan
istrinya. Ia kembali menangis.
Hatinya kembali
berbisik,seolah kembali
berkata dengan sosok istri
tercinta.
“Duhai istriku..hari ini aku
datang bersama kedua buah
hati kita yg sangat
berharga.Sekarang Alif sudah
besar..Meskipun ia tak sempat
merasakan kasih sayangmu,
tapi ia tahu bahwa kau sangat
menyayanginya.Lihatlah itu
Sayang… Alif tengah
tersenyum manja.Dan
senyumannya itu,sama persis
dengan senyumanmu ketika
kau tengah merajuk manja
padaku. Aku masih
ingat,Sayang….Saat aku
tengah berkutat lembur
dengan tugas –tugas kantor
di depan laptopku,kau selalu
merajuk manja dengan
meminta tidur di pangkuanku
sampai aku selesai dengan
semua itu..Kau bilang,kau tak
bisa tidur sendirian
tanpaku.Ah…kau memang
manja,tapi aku menyukainya.
Dan pada akhirnya,kau pun
terlelap di pangkuanku dan aku
harus menggendongmu
karena kau tak pernah mau
berjalan sendiri ketika aku
telah selesai dan
membangunkanmu untuk
pindah ke ranjang kebesaran
kita.
Mungkin dirimu bertanya,
siapa sosok yang sedang
menggendong dan bercanda
dengan Alif..Dia adalah…ah..
sebetulnya aku tak sampai
hati mengatakannya padamu
karena aku tak mau
melukaimu..Tapi…. maafkan
aku,Sayang…
Hari ini kami datang, di atas
batu nisan
peristirahatanmu,berdoa demi
keselamatanmu,dan
keselamatan kami
semua.Mungkin bukan
restu,tapi kami ingin
memberitahumu bahwa
beberapa hari lagi kami akan
menikah.Dan anak-anak kita
akan kembali merasakan
kehangatan,kasih sayang,dan
cinta seorang ibu.Ya..
Perempuan berjilbab biru itu
sebentar lagi akan menjadi
istriku. Jangan
cemburu,Sayang….Lihatlah
airmataku yang terus meleleh
ini. Ini tanda bahwa
sesungguhnya aku merasakan
beratnya beban yang kurasa
dari keputusan yang kuambil
ini.Kumohon..jangan anggap ini
sebagai sebuah
penghianatan.Semua
kulakukan demi kebaikan..
Laki laki itu menarik nafas
panjang dan menghapus air
matanya yg masih terus
meleleh..
“Ketahuilah Sayang..Ini
keputusan terberat yang aku
ambil selama aku
mengenalmu.Tapi aku ingat
janji yang kita buat dulu saat
malam pertamaku
bersamamu.Saat itu kita
berjanji untuk membina
sebuah keluarga yang penuh
cinta dalam keimanan dan
ketaatan pada NYA. Ada satu
kalimatmu yg melatariku
mengambil keputusan ini.Kau
sudah membuatku berjanji
untuk melakukan segala yang
terbaik untuk kebahagiaan
keluarga kita berdua.
Sayang…Ini keputusan terbaik
yang bisa kubuat.Aku
bukannya sedang ingin
meminta ijinmu untuk
memulai sebuah kehidupan
baru tanpa
kehadiranmu.Bagiku,bagi buah
hati kita,dan baginya,kau
adalah bagian dari kami yang
tak pernah tergantikan,apalagi
dilupakan atau hilang..
Hari ini aku datang
memperkenalkan seorang
anggota baru dalam keluarga
kita berdua.Bagiku,dialah
pendamping kehidupanku
kini,pengganti tugasmu yang
telah usai karena kau telah
berpulang padaNYA.Dia adalah
sosok ibu dari anak anak kita
berdua sebagaimana insya
Allah,kaupun adalah ummi bagi
anak anak kami
nanti.Kumohon, anggaplah dia
sebagai adik bagimu.
Duhai istriku,tenanglah kau di
sisi-NYA.Usah kau gelisah
dalam tidur panjangmu.Kami
akan melanjutkan apa yang
pernah menjadi janji suci kita
berdua.Tenanglah kau
disana,nantikan kami hingga
saatnya nanti kita kembali
berkumpul bersama sebagai
keluarga yang bahagia di
syurga-NYA..”
Laki laki itu menghapus
airmatanya, dan beranjak
pergi dari sana bersama calon
istri dan kedua anaknya.
Hatinya kini lega,karena ia
tahu,pasti sang istri tercinta
juga setuju dengan keputusan
yang diambilnya.
Hatinya tiba-tiba berdesir.
Angin yang berhembus
tenang,menimbulkan perasaan
tenang dalam hatinya. Seolah
membisikkan kata,tentang
seuntai mutiara dari istri
tercintanya,sebagai jawaban
atas apa yang baru saja
disampaikannya.
“ Duhai suamiku tercinta..,aku
tahu bahkan sangat tahu
bahwa kau tak mungkin
menghianati cinta dan
kesetiaanku,karena cinta dan
kesetiaanmu padaku tak perlu
diragukan lagi..Aku sama sekali
tidak keberatan Sayang…Aku
justru bangga padamu..
Lakukanlah wahai lentera
hatiku, aku ihlas… aku ridha..
karena aku tahu,sampai
kapanpun hatiku dan hatimu
akan tetap menyatu..
Sayang….kaulah imam
terbaikku,dan sampai
kapanpun kau akan tetap jadi
imam kebanggaanku..
Kutunggu kau untuk
berkumpul lagi
bersamaku,bersama keluarga
baru kita,kelak di syurga-
NYA..”
Lelaki itu tersenyum penuh
arti. Bismillah…ia yakin untuk
melakukan keputusan ini.
Semesta seolah turut
bertasbih, seiring tasbih cinta
yang terpatri dalam
dada,untuk sang istri tercinta
yang kan selalu tetap
ada,meskipun ia telah tiada.
“ Terimakasih, Sayang…. “
Gumamnya pelan.
” Duhai pendampingku,
akhlakmu permata
bagiku..buat aku makin
cinta..Tetapkan selalu janji
awal kita bersatu..Bahagia
sampai ke syurga..”
Semoga bermanfaat dan
penuh Kebarokahan dari
Allah.....
^**Sumber : re-post note
lawas ...
Salam ukhuwah fillah