02/05/2024
Selama ini mungkin imajinasi kita tentang fokus belajar adalah hanya terpaku berada di ruang kelas, duduk rapi dengan tangan dilipat melihat ke arah papan tulis seraya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan penjelasan guru. Sedangkan suasana belajar yang riuh, dipenuhi gelak tawa dengan suguhan permainan-permainan menarik dalam konteks mempelajari topik/materi tertentu belum dianggap sebagai belajar yang sesungguhnya.
Padahal, Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, mendirikan sebuah sekolah pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta yang dinamainya dengan Nationaal Onderwisj Institut Taman Siswa. Berdirinya sekolah ini dilatarbelakangi dengan filosofi yang sederhana sekali, menjadikan ruang pendidikan sebagai taman bermain dan tempat belajar yang menyenangkan bagi siswa.
Pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam membangun dan mengembangkan Taman Siswa ini dipengaruhi oleh dua tokoh pendidikan dunia lainnya; Maria Montessori di Italia dan Rabindranath Tagore di India. Dalam konteks pendidikan yang mereka kembangkan di negara masing-masing, keduanya meyakini bahwa pendidikan adalah untuk mengembangkan kodrat anak, memfasilitasi anak, menekankan pada kemandirian dan keaktifan anak dengan konsep pembelajaran langsung melalui praktik dan permainan kolaboratif, serta mendorong mereka menjadi manusia dewasa.
Oleh karena itu, tidak tepat rasanya ketika ruang pendidikan malah menjauhkan peserta didik dari apa yang mereka senangi.