Membongkar Pemikiran Aswaja Sekular

Membongkar Pemikiran Aswaja Sekular

Share

Rajin, Ramah, Terdidik, Berakal dan Berakhlaqul Karimah

11/11/2025

*KRISIS SUDAN DAN URGENSI KEPEMIMPINAN ISLAM GLOBAL*

Buletin Kaffah Edisi 418 (16 Jumada al-Ula/7 November 2025)

Sudan berdarah-darah. Perang saudara menewaskan ribuan warga sipil di sana. Konflik antara Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti dari pas**an Rapid Support Forces (RSF) menjadi perang besar di sejumlah wilayah.

Padahal sebelumnya Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Mohamed Hamdan Dagalo adalah sekutu. Keduanya bekerja sama mengkudeta pemerintahan transisi pada tahun 2021. Lalu pada bulan April 2023 keduanya berseteru karena perebutan kekuasaan. Perang besar terjadi dan berubah menjadi pembantaian terhadap warga sipil.

Namun, di balik krisis perebutan kekuasaan di Sudan ada peran asing (Barat) di dalamnya. Barat, khususnya AS dan Inggris, berupaya mengadu-domba rakyat Sudan. Tujuannya demi mengokohkan hegemoni mereka sambil menguras kekayaan alam Sudan. Barat menggunakan proxy untuk memelihara kepentingan mereka di Sudan.

*Sudan Negeri Islam*

Benua Afrika secara mayoritas adalah bagian dari negeri-negeri Muslim di era Kekhilafahan Islam. Dakwah Islam ke benua Afrika dimulai pada tahun 641 M, yakni masa Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. Saat itu Mesir ditaklukkan oleh Panglima Perang ’Amr bin al-’Ash ra. Selanjutnya, pada era Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan ra., ia mengutus Panglima Perang ’Uqbah bin Nafi ra. untuk menyebarkan dakwah Islam ke bagian selatan; menembus Lembah Nil menuju Nubia, wilayah yang kini menjadi bagian dari Sudan utara.

Lalu pada era Khilafah Utsmaniyah, setelah kekuatan Khilafah melemah di Afrika, satu-persatu negeri-negeri di Afrika jatuh ke tangan penjajah Barat: Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, Jerman, Italia, Portugal dan Belgia. Inggris adalah pemilik jajahan terbesar di Afrika, disusul Prancis, Belgia dan Portugal. Merampas kekayaan alam di wilayah Afrika adalah motif utama semua negara kafir penjajah Barat. Mereka melihat Afrika sebagai bagian dunia yang tertinggal, tetapi berlimpah kekayaan alamnya.

Sudan adalah negara yang memiliki kekayaan luar biasa. Cadangan minyaknya lebih dari 3 miliar barel. Cadangan emasnya mencapai 1.550 ton. Sudan juga memproduksi getah Arab (gum arabic) yang digunakan dalam industri makanan dan kimia. Kawasan Pegunungan Nuba di Sudan juga kaya akan cadangan uranium.

Posisi geografis Sudan juga amat strategis sebagai jalur perdagangan. Terletak di timur laut Afrika, Sudan berbatasan dengan tujuh negara, yakni: Mesir, Libya, Chad, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, Etiopia, dan Eritrea. Sudan menjadi penghubung utama antara Afrika Utara, wilayah Sahel dan Afrika Sub-Sahara.

Sudan juga memiliki garis pantai yang signifikan di sepanjang Laut Merah. Tepat di seberang Jazirah Arab dan dekat Selat Bab al-Mandeb, salah satu titik kunci maritim paling penting di dunia. Hampir 10% minyak dunia diangkut melalui Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab.

*Pertarungan Dua Negara Penjajah*

Sudan direbut Inggris dari tangan Khilafah Islam pada tahun 1898. Selain bertujuan melumpuhkan kekuatan Khilafah Utsmaniyah, Inggris bertekad untuk mengamankan kendali atas Mesir dan Sungai Nil, yang merupakan salah satu dari dua jalur perdagangan ke koloni-koloninya di India dan Afrika Selatan.

Konflik yang terjadi di Sudan adalah rekayasa Inggris. Setelah berkuasa di Sudan, Inggris mempertahankan kekuasaannya dengan melakukan taktik klasik: devide et impera (adu domba dan kuasai), baik secara etnis maupun agama. Komunitas yang lebih “Arab” di utara diberdayakan atas komunitas yang lebih “Afrika” di barat dan selatan. Pemerintah Inggris membagi negara itu menjadi dua wilayah yang berbeda: Sudan Utara dan Selatan. Melalui proses yang disebut “Kebijakan Selatan”, Sudan Selatan dikelola secara terpisah dari wilayah Utara yang lebih maju secara ekonomi.

Di wilayah selatan yang menganut kepercayaan agama animisme, kegiatan misionaris Kristen pun dimulai. Dampaknya, Sudan Selatan modern yang memisahkan diri dari Sudan pada 2011 terdiri dari 60% Kristen, 34% animisme dan 6% Muslim. Ini adalah pembagian suku yang telah menjadi pemecah-belah selama dua hingga tiga dekade terakhir.

Namun, dominasi Inggris di Sudan melemah setelah Amerika Serikat melalui PBB mendesak negara-negara Eropa agar memerdekakan negara-negara jajahan mereka. Usai deklarasi kemerdekaan Sudan pada tahun 1956, AS mulai mengokohkan hubungan diplomatik dan pengaruh politiknya di Sudan. Meski sempat mengalami pasang surut, kekuatan AS di Sudan semakin menggeser pengaruh Inggris.

Pihak Washington menguasai dan menggunakan militer dengan kejam terhadap pihak yang dianggap menghalangi ambisi mereka. Dulu AS menguasai Sudan Selatan melalui agennya, John Garang. Kini Amerika berupaya menempatkan Darfur di bawah kendali agennya, Hemedti. Secara praktis, seluruh Darfur telah dikuasai RSF, kecuali kantong-kantong di El Fasher yang masih bertahan. Sebenarnya Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dari militer Sudan (SAF) juga komprador Amerika Serikat di Sudan dari kubu yang berbeda.

Maka dari itu, konflik yang hari ini terjadi adalah siasat jahat Amerika Serikat dengan sejumlah tujuan: Pertama, membersihkan sisa-sisa pengaruh Inggris di Sudan baik secara politik maupun militer. Amerika Serikat menyokong RSF untuk melakukan pembersihan terhadap kelompok-kelompok yang pro-Inggris di Sudan, terutama di Darfur.

Kedua, AS membentuk kuartet kekuatan politik bersama Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir untuk mencegah masuknya pihak ’asing’ dalam menangani konflik Sudan. Hal ini disampaikan oleh Penasihat Senior Presiden AS untuk Urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos pada 25 Oktober 2025. Dengan begitu maka tertutup bagi negara lain, termasuk PBB dan terutama Inggris, ikut campur tangan dalam konflik di Sudan. Hal ini makin mengokohkan dominasi AS di Sudan.

Ketiga, memecah-belah Sudan serta memelihara konflik agar terus berlangsung sehingga Sudan terus melemah dan mudah dikuasai. Amerika Serikat melalui RSF berusaha menguasai Darfur dan menjadikan Darfur kawasan terpisah. Sebabnya, secara geostrategis Darfur adalah jalur yang menghubungkan Sudan menuju Chad, Libya dan Republik Afrika Tengah. Darfur juga kaya akan cadangan berbagai jenis mineral, termasuk logam mulia seperti emas, logam dasar seperti tembaga, serta mineral industri seperti batu kapur dan tanah liat.

Keempat, Amerika Serikat–juga Inggris–mempunyai kepentingan politik yang sama di Sudan. Tidak lain menghentikan kebangkitan Islam yang bisa menjadi ancaman atas penjajahan mereka di sana. AS memainkan isu terorisme dan radikalisme untuk mencegah kebangkitan Islam. AS juga memecah-belah wilayah Sudan dan mengadu-domba berbagai kelompok militer, suku dan agama di sana. Tujuannya untuk melemahkan kekuatan kaum Muslim Sudan.

*Urgensi Persatuan dan Khilafah*

Wahai kaum Muslim, setelah Myanmar, Uyghur, India dan Gaza, kini Sudan menyusul menjadi kawasan penderitaan umat. Pas**an sokongan negara kafir Amerika Serikat menari-nari di atas darah kaum Muslim. Bahkan mereka juga merusak kehormatan banyak kaum Muslimah di sana. Padahal tak ada nyawa yang paling mahal nilainya di sisi Allah SWT melainkan nyawa seorang Mukmin. Nabi saw. bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Hancurnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan seorang Mukmin tanpa haq (HR Ibnu Majah).

Ironinya, para pemimpin Muslim hari ini justru bersekongkol dengan negara-negara Barat penjajah menyembelih kaum Muslim. Mereka malah menyokong tindakan jahat Amerika Serikat di Sudan, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Gaza. Ironinya, sebagian umat tidak menyebut mereka sebagai pengkhianat, tetapi sebagai orang mulia. Padahal tindakan mereka telah menyalahi sunah Rasulullah saw.:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu (disakiti) (HR al-Bukhari).

Kejadian menyakitkan ini tidak akan pernah terjadi seandainya umat masih memiliki pelindung yang ditakuti oleh para penjajah. Itulah Khilafah Islamiyah. Khilafah adalah junnah (perisai) yang melindungi dan menjaga umat. Demikian sebagaimana sabda Nabi saw.:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiadaan Khilafah sebagaimana hari ini telah menyebabkan rangkaian penderitaan umat seolah tanpa akhir. Anehnya, umat masih saja berharap kepada pihak-pihak asing yang sebenarnya merekalah penyebab derita ini menimpa umat.

Saatnya umat bersatu dalam ukhuwah islamiyyah di bawah institusi pemerintahan Islam global (Khilafah). Saatnya umat Islam sedunia bersama-sama membangun kekuatan sebagaimana perintah Rasulullah saw. Tidak lain dengan mengangkat seorang khalifah yang akan melindungi umat sedunia dari ancaman dan penderitaan. Semoga Allah SWT menyegerakan pertolongan kepada umat ini agar Khilafah Islamiyah segera tegak. Dengan itu kehormatan agama dan umat ini dapat terjaga.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

---*---

*Hikmah:*

Nabi saw. bersabda:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ. قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ». فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir saja berbagai umat mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Kemudian seseorang bertanya, ”Apakah karena kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi, kalian hanyalah seperti buih yang terbawa banjir. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’wahn’. Kemudian seseorang bertanya, ”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata, ”Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud). []

---*---

*GENOSIDA YANG BELUM BERHENTI: PALESTINA MASIH DIJAJAH, GAZA MASIH DIBOMBARDIR*

Gencatan senjata yang diumumkan dunia ternyata hanyalah ilusi semu. Di balik kata “damai”, dentuman bom masih terdengar di langit Gaza, dan darah anak-anak Palestina terus mengalir di jalanan yang hancur. Penjajah yahudi masih melancarkan serangan dan menahan bantuan, sementara dunia kembali bungkam menyaksikan babak baru genosida yang belum berhenti.

Kementerian Kesehatan Palestina – Gaza: Angka yang Membawa Duka

Dalam 24 jam terakhir saja, empat warga Palestina gugur — tiga martir baru dan satu yang baru ditemukan dari reruntuhan. Tujuh orang lainnya terluka, dan masih banyak yang belum tertolong karena ambulans tak mampu menembus puing-puing bangunan yang rata oleh serangan.

Sejak dimulainya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, tercatat:
• 240 martir,
• 607 luka-luka,
• 511 orang berhasil pulih.

Namun, jika dihitung sejak agresi besar pada 7 Oktober 2023, jumlah korban mencapai 68.872 syahid dan 170.677 terluka.

Di balik angka itu ada wajah-wajah keluarga yang kehilangan rumah, ibu yang kehilangan anak, dan anak-anak yang kehilangan seluruh keluarganya.

Sumber: Kementerian Kesehatan Palestina – Gaza (facebook.com/MOHGaza1994)

________________________________________

*Kekejaman yang Terus Berulang*

Al Jazeera melaporkan bahwa serangan Penjajah yahudi di Gaza dan Tepi Barat masih terus berlangsung. Rumah-rumah dibombardir, pengungsian penuh sesak, dan bantuan yang dijanjikan dunia tak pernah benar-benar sampai kepada rakyat yang kelaparan.

Pemukim Penjajah yahudi kembali menyerbu Masjid Al-Aqsa dengan perlindungan ketat dari tentara.
Sementara itu, Penjajah yahudi menunjuk jaksa militer baru setelah skandal memalukan — video tentara yang memperkosa tahanan Palestina bocor ke publik.

PBB mencatat:
• 1 dari 5 rumah tangga di Gaza hanya makan sekali sehari,
• 43% keluarga mengurangi porsi makan,
• dan pasokan pendidikan untuk ratusan ribu anak diblokir sepenuhnya.

Di Tepi Barat, penindasan tak kalah kejam:
• seorang remaja berusia 17 tahun ditembak mati di Nablus,
• enam warga ditangkap dalam penggerebekan,
• pemukim membakar kendaraan dan menulis slogan-slogan rasis di tembok-tembok desa yang mereka hancurkan.

Bantuan yang sempat masuk ke Gaza pun tak mampu mencukupi kebutuhan dasar ribuan keluarga pengungsi yang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal.

Sumber: Al Jazeera Online, 5 November 2025

________________________________________

*Kenyataan yang Tak Terbantahkan*

Gencatan senjata ini tidak pernah benar-benar berlaku.

Gaza masih dikepung, dibombardir, dan dilaparkan — sebuah genosida yang berjalan di depan mata dunia. Tepi Barat pun terus dilanda penangkapan, pembunuhan, dan teror oleh pemukim bersenjata. Palestina masih dijajah. Gaza masih diserang. Dan dunia masih diam.

Bergeraklah para tentara kaum Muslimin bebaskan Gaza dengan jihad fi sabilillah!

07/11/2025

•MENGENAL HIZBUT TAHRIR, KENALILAH PENDIRINYA (AL-'ALLAMAH SYAIKH TAQIUDDIN AN-NABHANI)
_____________________________________________
Oleh: Arief B. Iskandar
....
Ada pepatah berhikmah mengatakan:
العالم لا يعرفه الا العالم
Ulama hanya bisa dimengerti oleh ulama.

Artinya, yang betul-betul bisa memahami keulamaan seseorang hanyalah ulama.

Siapa ulama? Selain seseorang yang mumpuni dalam keilmuan Islam, yang lebih penting, ulama adalah orang yang paling memiliki rasa takut kepada Allah SWT (Lihat: QS Fathir [35]: 28).

Lalu apa hubungannya dengan urusan mengenal Hizbut Tahrir (HT)?

Tidak lain karena HT didirikan oleh seorang ulama, bahkan seorang ulama besar, yakni Al-'Allamah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, yang juga memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah SWT, yang sanggup menghilangkan rasa takutnya kepada para penguasa lalim dan keji.

Kebesaran keulamaan Syaikh Taqi tidak hanya diakui oleh murid-murid dan para pengikut beliau di HT, tetapi juga oleh para ulama lain yang sejawat dan sezaman dengan beliau. Bahkan ada ulama yang menilai Syaikh Taqi sebagai seorang mujaddid dan mujtahid zaman kini. Hal ini tidak aneh. Ulama manapun yang mukhlis dan jujur yang meneliti karya-karya Syaikh Taqi yang lebih dari 30 kitab, akan menemukan betapa karya-karya Syaikh Taqi sangat luar biasa, sangat mendalam dan luas pembahasannya, yang mencerminkan kecemerlangan pemikirannya.

Wajar saja karena, sebagaimana dituturkan oleh putranya, beliau menamatkan lebih dari 30 ribu kitab, trmasuk tentu buku-buku karya para pemikir Barat yang banyak beliau kritik secara mendasar. Seluruh karya dan pemikiran beliau inilah yang diwarisi oleh HT yang beliau dirikan. Karena itulah, seluruh pemikiran mutabannat HT nyaris merupakan buah karya pemikiran Syaikh Taqi, pendiri sekaligus amir pertamanya.

Karena kedalaman, keluasan dan kecemerlangan pemikirannya yang di atas rata-rata, sebagai seorang mujtahid dan sekaligus mujaddid, tidak jarang Syaikh Taqi s**a disalahpami, terutama oleh orang-orang yang juga disebut "ulama" tetapi kualitas pemikirannya masih sangat jauh di bawah Syaikh Taqi, terutama yang tidak memahami ijtihad, apalagi oleh orang-orang kebanyakan meskipun mungkin ia digelari "ustadz" di masyarakat.

Karena itu p**a, untuk bisa memahami HT, tentu harus dipahami dulu seluruh pemikiran Syaikh Taqi. Tanpa itu, siapapun akan gagal memahami HT. Tidak aneh jika kemudian muncul banyak tudingan pada HT--yang berarti secara tidak langsung mengarahkan tudingannya kepada Syaikh Taqi sebagai pendirinya--sebagai sesat atau menyimpang. Padahal sang penuduh sendiri gagal memahami hakikat pemikiran-pemikiran HT (baca: Syaikh Taqi).

Namun demikian, tulisan berikut tidak hendak memaparkan hakikat pemikiran HT atau Syaikh Taqi. Sebabnya, siapapun yang memang tulus dan berniat lurus hendak memahami hakikat pemikiran HT tinggal mendalami puluhan kitab-kitabnya sekaligus mengklarifikasinya kepada--atau mendialogkannya dengan--pihak-pihak yang paling memahami kitab-kitab tersebut di kalangan para aktivisnya. Tanpa itu, siapapun bisa dipastikan akan gagal memahami HT karena pasti "berbicara tanpa ilmu".

Tulisan berikut--sebagaimana pernah dinukil dan ditulis oleh Ustadz Dodiman Muhammad Ali--hanya ingin menukil sebagian kecil komentar dari para ulama yang memahami betul kredibilitas Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai pendiri dan sekaligus amir pertama HT.

1. Komentar Al-Ustadz (Profesor) Zahir Kahalah-Direktur Administratif Fakultas al-'llmiyah al-lslamiyah (Al-Azhar asy-Syarif).

Beliau ini selalu menemani Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sejak menginjakkan kakinya di dunia fakultas. Beliau menceritakan tentang sifat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Kata beliau:

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang yang jujur, mulia, bersih, ikhlas, bersemangat, bergelora dan merasa pedih atas apa yang menimpa umat Islam akibat dari ditanamnya institusi Israel di dalam jantung mereka.

Beliau adalah seorang yang sedang perawakannya, kuat fisiknya, penuh semangat, berapi-api, pandai dalam perdebatan, yang jika berargumentasi mematikan, dan tegas dengan sesuatu yang diyakininya benar. Beliau berjenggot sedang bercampur uban serta selalu berpakaian dengan pakaian para ulama: jubah, qufthan (pakaian panjang dipakai di atas jubah), dan sorban.

Beliau seorang yang berkepribadian kuat, bicaranya menyentuh, dan argumentasinya menyakinkan. Beliau sangat benci dengan perbuatan yang sia-sia, kurangnya percaya diri, serta ketidakpedulian terhadap kemaslahatan umat. Beliau juga sangat membenci seseorang yang hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri dan tidak beraktivitas untuk kebaikan umat. Beliau mengkritik para ulama Syam yang hanya tenggelam dengan emosi-emosi keagamaan dan tidak bergerak dalam lingkaran aktivitas-aktivitas politik Islam (Lihat. Hizb at-Tahrir al-lslami, hlm. 51)

2. Komentar Syaikh Muhammad Mutawali asy-Sya’rawi.

Sebagaimana dikutip oleh salah seorang anggota Hizbut Tahrir Sudan, dalam tayangan Youtube yang diupload oleh Mazin Abdul Adhim, Syaikh Asy-Sya'rawi memberikan komentar yang positif tentang Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Cuplikannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

When he was asked, ”What do you know about Taqiyuddin An Nabhani?” “He said, ”He was a Sahabi who was delayed to an era that was not his.” “He had long silences, and if he spoke, his words were pearls.” “His proofs were powerful, he was convincing and was firm in the opinions he believed in”. ”This sheikh, Taqiyuddin An Nabhani, while we reviewed our studies in Al Azhar, he would be reading news about the Muslims and their affairs.” “So he had those characteristics.”

(Ketika beliau ditanya, “Apa yang Anda ketahui tentang Taqiyuddin An Nabhani?” Beliau menjawab, ”Dia adalah sahabat [Nabi saw.] yang tertunda ke masa yang bukan miliknya. Beliau banyak diam dan jika bicara, kata-katanya adalah mutiara. Hujjahnya kuat, meyakinkan dan tegas pada pendapat yang beliau yakini. Syaikh ini, Taqiyuddin an-Nabhani, sementara kami persiapan ujian pelajaran di Al Azhar, ia akan membaca berita tentang kaum Muslim dan urusan mereka. Itulah karakteristik dia).”

Dalam kitab Ahbabullah (Para Kekasih Allah), seorang aktivis senior Hizbut Tahrir, Muhammad Hatim Mishbah Nashiruddin, menulis memoar dakwahnya sebagai berikut:

Saya menyebutkan di awal tulisan “Seorang laki-laki Alma’iy Mujaddid Abad Kedua puluh”. Terhadap kata “Alma’iy” ini ada kisah terkenal yang diketahui oleh sahabat Syaikh Taqiyuddin saat belajar di Al-Azhar yang sezaman pada saat itu, di antaranya Syaikh Mutawali asy-Sya’rawi. Syaikh asy-Sya'rawi berkata: "Sungguh, Syaikh Taqiyuddin mengumpulkan kertas dari berbagai surat kabar dan menyimpannya. Beliau memperhatikan apa yang tertulis di dalamnya mengenai masalah politik. Ajaib, sungguh kedudukan dia paling utama di antara kami."

(Kata al-alma’iy, merujuk kembali ke Kamus Al Muhith [III/82] al alma’a – al alma’iy – al yalma’iy = adz-dzakiy al-mutawaqqid =orang yang cerdas dan bersinar... yakni seorang pemikir cerdas dan berpikir cepat. Terletak di dinding Al-Azhar asy-Syarif lembaran yang tertulis, “Seorang yang cerdas dan bersinar sejak tiga ratus tahun adalah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani”. Namun, tulisan tersebut dihilangkan sama sekali oleh penguasa Mesir saat itu, Gamal Abdul Nasser, setelah
Syaikh Taqi mendirikan Hizbut Tahrir).

3. Komentar Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Masari.

Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Masari, tokoh ulama, pendiri Tanzhim At-Tajdid al-Islamiy dalam halaman persembahan kitab, “Tha’atu Ulil Amri”, memberikan apresiasi khusus kepada Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Beliau menyatakan:

“Kepada Mujaddid abad ini dan teladan ulama aktivis: Al-'Alim Al-Mujahid al-Imam ar-Rabbaniy Abu Ibrahim Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri “Hizbut Tahrir” yang telah meletakkan batu pondasi bagi pemikiran Islam kontemporer yang agung dan pergerakan yang mukhlish dan berkesadaran tinggi. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para nabi, shiddiqiin, syuhada dan orang-orang shalih.”

4. Komentar Asy-Syahid Sayyid Qutb (Tokoh Terkemuka Ikhwanul Muslimin).

Al-Ustadz Ghanim Abduh – salah seorang anggota Hizbut Tahrir senior yang terkenal – menceritakan bahwa Sayyid Qutb rahimahullah menyanjung dan memuji Syaikh Taqiyudin an-Nabhani di salah satu forum ilmiyah yang beliau pimipin.

Sanjungan dan pujian beliau ini merupakan bentuk penolakan atas sikap banyak orang yang mulai menyerang dan merendahkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Di antara pernyataan Sayyid Qutub terkait Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, “Sesungguhnya Syaikh ini – yakni Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani—dengan kitab-kitabnya telah sampai pada derajat ulama-ulama kita terdahulu.” (Muhammad Muhsin Rodhi, Tsaqofah dan Metode Hizbut Tahrir dalam Mendirikan Negara Khilafah, hlm. 81).

5. Komentar Syaikh Yusuf Badarani.

Dalam buku Ahbabullah (Kekasih-kekasih Allah) karya Syaikh Thalib Awadallah, Syaikh Yusuf al-Badarani mengungkapkan sosok Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai berikut:

"Allah SWT telah mengistimewakan kaum Mukmin dengan karunia sehingga kita mengetahui sistematika kaidah-kaidah tersebut sebagai bagian dari karunia Allah yang diberikan kepada kita melalui tangan seorang jenius, faqih luar biasa. Seorang yang huruf dan kata-kata tidak cukup untuk memujinya atau menggambarkan pribadinya. Oleh karena itu, cukup aku tunjukkan orang itu, seseorang yang aku panggil 'Abu Ibrahim' yaitu asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah.”

6. Komentar Syaikh Hasan al-Bana (Pendiri Ikhwanul Muslimin).

Pendiri Ikhwanul Muslimin ini memberikan komentar kepada Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani: “Sungguh saya mendapatkan as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani seorang yang alim, cerdas, serius dan bersungguh-sungguh.”

7. Komentar Syaikh Muhammad Dawud Audah (Anggota Majlis Palestina).

Muhammad Dawud Audah menceritakan bahwa Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang yang fakir dan beliau wafat dalam keadaan fakir. Beliau tinggal di lantai lima pada sebuah apartemen. Beliau dengan rendah hati menaiki apartemennya dengan jalan kaki, sebab di apartemen itu masih belum ada lift.
(Lihat. Program Syahid 'ala al-Ashr, channel al-Jazirah, pada Sabtu sore 16 April 2005).

Di luar itu, Syaikh Taqi memiliki sejumlah kejeniusan yang luar biasa.

Beliau, sebagaimana pernah dinukil oleh Ustadz Irvan Abu Naveed, memiliki kemampuan intelektual antara lain sebagai berikut:

• Syaikh Taqiyuddin telah dikaruniai hapalan Eidetic yang membuat beliau bisa mengingat kembali semua yang beliau inginkan, dengan sekali membaca buku.
• Putra beliau, Syaikh Ibrahim an-Nabhani berkata, “... Hapalan beliau yang luar biasa membuat beliau sanggup menghapal banyak hal.”
• Al-Soori berkata, “... Ingatan yang sangat luar biasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata...”
• Kebanyakan buku-buku beliau dikarang/ditulis dari ingatan beliau tanpa satu pun rujukan di tangan (hanya mengandalkan hapalan).
• Syaikh Sabri al-Aroori berkata, “Kebanyakan buku beliau telah dihasilkan dengan rujukan yang sedikit.”
• Putra beliau, Syaikh Ibrahim berkata, “Beliau pernah menghapal segala-galanya (dan menggunakan itu).”
• Jumlah fatwa, Soal-Jawab, dan analisis yang beliau keluarkan mencapai ribuan.
• Syaikh Sabri al-Arouri meriwayatkan, Syaikh Taqiyuddin mengarang “Mafahim Hizbut Tahrir” dari ingatannya.
• Putra beliau, Syaikh Ibrahim meriwayatkan, “... Saya tidak akan sampai separo halaman, sampai saya diberi halaman berikutnya..."
• Syaikh Sabri al-Aroori meriwayatkan, “... Beliau menulis selama dua jam tanpa henti untuk menulis kitab Mafahim Hizbut Tahrir itu...”
• Kitab Syakhsiyyah Islamiyyah Juz III (salah satu masterpiece beliau di bidang Ushul Fiqih), ditulis hanya dalam waktu 3 hari.

Al-’Allamah Prof. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi memberikan pengakuan:

• “Beliau adalah seorang sahabat [Nabi] dari zaman yang berbeda ...”
• “Informasi ini tidak mengherankan, karena kami pernah belajar di Universitas al-Azhar pada masa itu... “
• “Beliau banyak diam, tetapi ketika beliau bercakap, bicaranya adalah mutiara; hujah yang kuat, meyakinkan, tegar pada pendapat yang beliau yakini.”

Suatu ketika, Syaikh Ahmad Da’oor berkata:

• “Kami telah mencari ulama dalam bahasa Arab, dan yang lain dalam Usul, dan yang lain dalam fiqh atau politik atau di seluruh bidang ilmu yang berbeda, tetapi mempunyai seorang yang merangkumi semua itu sekaligus mengetahui realitas politik.., kita tidak menemukan yang lain seperti Abu Ibrahim (Syaikh Taqiuddin) yang merangkumi semua itu.”

Syaikh Sayyid Sabiq:

• “... Beliau berkata dan banyak memuji kecerdasannya, dan mengatakan, bahwa beliau mengunjunginya di Palestina setelah tahun 40-an, ketika Syaikh Taqiuddin menjadi Qadhi ...”

• “... Bagi Syaikh Sayid Saabiq, beliau memuji Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai orang yang jenius, yang mahir dan banyak mengambil perhatian tentang Islam ketika beliau menyedarinya hanya 5 tahun sebelum beliau mendirikan HT itu.”

Khatimah

Itulah sekelumit komentar dari sedikit ulama tentang kekagumannya pada sosok Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, seorang ulama besar abad ini.

Karena itu siapapun yang merendahkan dan melontarkan ragam tudingan palsu pada HT yang Syaikh Taqi dirikan--yang mewarisi seluruh pemikiran beliau--hendaknya membuktikan kebenaran tudingannya. Jika tidak, hendaknya ia segera memohon ampunan kepada Allah SWT karena kebodohannya tentang HT dan tentang Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagai pendiri sekaligus amir pertamanya.

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

31/10/2025

HTI BUKAN ORMAS TERLARANG, HTI MEMILIKI HAK KONSTITUSIONAL UNTUK BERDAKWAH MENYERU KEPADA ISLAM.

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua Koalisi Advokat Penjaga Islam
Kornas Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

Sebagaimana diketahui, Pemerintah melalui Kemenkumham telah mencabut status badan hukum Ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui keputusan Nomor AHU-30.AH.01.08, tanggal 19 Juli 2017.
Atas keputusan tersebut, HTI melalui kuasa hukumnya Ihza & Ihza Law Office mengajukan Gugatan Sengketa Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, terdaftar dengan Nomor Perkara 211/G/2017/PTUN.JKT.
Diluar konteks persidangan, Pemerintah berusaha membangun narasi publik dengan opini sesat yang seolah ingin menyimpulkan HTI telah dibubarkan dan dianggap sebagai organisasi terlarang.

Pemerintah mulai melakukan gerakan persekusi, dengan menyisir sejumlah Aparat Sipil Negara dan Insan Civitas Akademika untuk mempersekusi (memburu) anggota HTI. Beredar luas, daftar nama tokoh dan anggota HTI berikut alamat serta institusi tempat bekerja yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

Kemendagri mengeluarkan surat telegram dan menurunkan beberapa kebijakan teknis untuk mengawasi aktivitas anggota HTI di daerah, bahkan Surat Telegram Kemendagri telah beredar jauh sebelum keputusan pencabutan SK BHP HTI diterbitkan Kemenkumham.

Berbagai elemen tokoh dan masyarakat yang menyuarakan kritisme terhadap jalannya pemerintahan di stigma sebagai "Kroni HTI". Di Semarang, Kapolres Kota Semarang sempat melarang aktivitas masyarakat yang ingin melakukan kegiatan menyampaikan pendapat dimuka umum (demo) dengan dalih "Mereka Kroni HTI".

Beberapa kajian Islam para ustadz dan ulama yang terindikasi atau dekat dengan HTI dihalangi, bahkan jika sudah terjadi dibubarkan. Aparat penegak hukum kadangkala menggunakan dalih "ada komplain masyarakat" untuk menghalangi pengajian atau kadangkala jika kehabisan akal langsung menggunakan jurus "kewenangannya" untuk menggagalkan. Ust Felix Shiau, salah satu anggota HTI yang paling puas mengalami pembatalan dan/atau pembubaran kajian.

Perburuan kepada anggota dan simpatisan HTI dilakukan layaknya perburuan eks PKI. Masyarakat diajak untuk ikut "horor" dan meneror aktivis HTI. Padahal, HTI tidak pernah memberontak seperti PKI. HTI tidak pernah mengganti ideologi negara seperti PKI. HTI tidak pernah melakukan kekerasan dan pembunuhan dalam aktivitas dakwahnya layaknya PKI. HTI dalam berdakwah murni menggunakan pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik.

HTI TIDAK PERNAH DIUMUMKAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG

Jika berbicara status hukum HTI, maka publik perlu merujuk pada status hukum yang dilekatkan pada HTI dan bukan merujuk pada yang selainnya.

Merujuk Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0028.60.10.2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkump**an Hizbut Tahrir Indonesia, tanggal 19 Juli 2017, Diktum keputusan limitatif dan tegas hanya menyebutkan :

“MEMUTUSKAN :- Menetapkan : PERTAMA : Mencabut Keputusan Menteri Hukum Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-00282.60.10.2014 tanggal 02 Juli trahun 2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkump**an Hizbut Tahrir Indonesia, berkedudukan di Jakarta Selatan.
KEDUA : Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.
Dalam Diktum keputusan, tidak ada satupun redaksi keputusan yang menyebut HTI dibubarkan dan/atau HTI dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Proses hukum terhadap HTI hanya sebatas pencabutan status badan hukum, tidak menerangkan pembubaran Ormas HTI tidak p**a menyatakan HTI sebagai organisasi terlarang.

Satu-satunya hak HTI sebagai organisasi adalah hilangnya status subjek hukum selaku badan hukum (rechtperson), artinya HTI tidak dapat melakukan hubungan hukum, menuntut hak dan melaksanakan kewajiban sebagai badan hukum ormas yang terdaftar di kemenkumham.

Sementara itu, sebagai organisasi massa biasa, anggota HTI tetap memiliki keseluruhan hak dan tanggung jawab warga negara yang dijamin konstitusi. HTI baik secara kelembagaan maupun individu tetap memiliki hak untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat, sebagaimana dijamin konstitusi.
Dalam ketentuanpasal 28 E ayat (3) UUD 1945 disebutkan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat."
Bahkan dalam pasal 28 UUD 1945 ditegaskan: “kemerdekaan berserikat dan berkumpul , mengeluarkan pikiran denagn lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Hak konstitusi berupa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat adalah hak yang melekat pada setiap individu warga negara dan tidak boleh dicabut oleh siapapun termasuk oleh negara.

Keluarnya keputusan Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017, tidak dapat mencabut hak konstitusional warga negara untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Keputusan a Quo hanya mencabut status pengesahan Badan Hukum Perkump**an HTI dan tidak dapat merampas hak konstitusional anggota dan pengurus HTI sebagai warga negara.

Kasus HTI berbeda jauh dengan kasus Partai Komunisme Indonesia (PKI). PKI telah dibubarkan oleh Pemerintah berdasarkan TAP MPRS RI NO. : XXV/MPRS/1966, TENTANG PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI
TERLARANG DISELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNIS/MARXISME-LENINISME.

Dalam TAP MPRS No. XXV/1966, jelas menyebut PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Tidak sebatas itu, dalam ketentuan pasal 2 ditegaskan p**a larangan mengembangkan ajaran atau paham komunisme, marxisme dan leninisme sebagai atribut ideologi yang melekat pada PKI.

Pembubaran dan pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang sangat tepat, karena PKI terbukti telah melakukan kudeta, melalui jalan kekerasan dan angkat senjata, dimana jumlah korban pembunuhan PKI sudah tidak dapat ditolerir oleh akal dan jiwa yang berperikemanusiaan.

Alhasil, adalah tidak berdasar dan menentang logika akal jika ada narasi publik yang diarahkan untuk menstigma HTI sebagai ormas yang terlarang. HTI dalam berdakwah selalu mengedepankan hikmah, pemikiran, tanpa pemaksaan, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. HTI juga tidak pernah masuk dalam daftar organisasi terlarang.

Aktivis dan kader HTI selalu hadir bersama ditengah-tengah umat untuk mengajak umat kembali kepada nilai-nilai Islam, berakhlak Islam, berperilaku secara Islam, membentuk kepribadian Islam serta selalu berjuang mengajak kepada segenap umat untuk kembali hidup secara Islam.

Satu-satunya tudingan yang diarahkan Pemerintah kepada HTI adalah HTI memperjuangkan Khilafah. Sementara itu, telah berulang kali ditegaskan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Telah banyak bukti yang dihadirkan di persidangan, termasuk keterangan ahli yang menyebut Khilafah adalah ajaran Islam.

Sekali lagi penulis tegaskan, HTI tidak pernah dibubarkan dan bukan organisasi terlarang. HTI tetap memiliki hak konstitusional untuk berserikat, berkumpul dan mengemukakan pendapat. Setiap anggota dan/atau pengurus HTI tetap memiliki hak untuk berdakwah amar ma'ruf nahi munkar, dakwah melanjutkan kehidupan Islam dan dakwah menyeru umat agar segera menegakkan Khilafah. [].

Want your school to be the top-listed School/college in Pasuruan?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Address


Pasuruan