22/06/2021
Hafalan Dalam sudut pandang Taksonomi Bloom..
_____
Bloom Meletakan Menghafal atau Hafalan pada level terendah dan banyak orang keliru
Memaknai peletakan itu. Mereka mengira Bloom telah keliru dan memaknai peletakan itu bahwa hafalan menjadi hirarki pengetahuan paling rendah dan paling tidak penting.
Seperti itulah kurang lebih kritikan yang dilontarkan para pengkritik taksonomi bloom seperti Doug Lemov dan yang lainnya.
Doug Lemov berkata :
Ironically this is exactly the opposite of what people interpret Bloom’s to be saying.
Generally when teachers talk about “Bloom’s taxonomy,” they talk with disdain about “lower level” questions.
They believe, perhaps because of the pyramid image which puts knowledge at the bottom, that knowledge-based questions, especially via recall and retrieval practice, are the least productive thing they could be doing in class.
No one wants to be the rube at the bottom of the pyramid.
Ironis Sekali, ini benar-benar berlawanan dengan penafsiran orang banyak mengenai teori bloom yang pernah mereka sampaikan.
Secara umum ketika seorang guru berbicara Taxonomi Bloom mereka berbicara dengan Cibiran yang mempertanyakan pembagian bloom di bagian Level Terbawah yaitu (Konowledge)
Mereka percaya, boleh jadi hal itu terjadi karena bloom meletakan Knowledge (Pengetahuan) pada level terbawah. Padahal pengetahuan itu terbentuk dari pertanyaan baik dengan metode Recall (Menanyakan untuk Mengingat) atau Retrieval (Perbaikan ingatan)
Tidak ada satupun orang Yang ingin menjadi Dungu disebabkan pembagian Bloom pada level terbawah itu.
Padahal maksud Bloom sebenarnya adalah :
"Mampu mengingat dan menyebutkan ulang fakta atau informasi sebagai pondasi yang tidak mungkin mendapatkan lapisan di atasnya tanpa itu".
Jadi, menghafal itu penting dan tidak hina, termasuk menurut Benjamin Bloom itu sendiri. Menghafal tanpa mau mengerti atau memahami, malas menganalisa, itu yang buruk. Jangan ada lagi dikotomi palsu, dan bodoh.
Kedua, Berkenaan dengan metode menghafal. Apakah menghafal tersebut dilakukan secara secara Lafadz (Verbatim) atau Makna?
(ver·ba·tim /vérbatim/ adalah kata demi kata; menurut apa yang tertuang dalam tulisan)
Menghafal yang dimaksud bloom sendiri tidak harus secara verbatim, sebab meminjam kata bloom, "recall" dan "restate" itu tidak harus secara verbatim atau dengan kata lain menghafal itu bisa cukup "Bil ma'na" atau dengan Makna, arti. Sementara kita saat ini sangat terpaku dengan menghafal secara lafdzy misalnya menghafal al Quran dan hadits dan teks kitab.
Bloom sendiri tidak terlalu membahas pembedaan ini, kita ambil contoh anak kelas 2 atau 3 SD yang menghafal secara Lafdzy perkalian sampai 100 dengan anak SD yang tidak menghafal secara verbatim, tapi dia memahami secara makna konsep perkalian.
Ketika keduanya diadu ternyata kecepatan penyelesaian pada soal yang sedikit lebih kompleks dan membutuhkan sintesis tetap lebih cepat dia yang menghafal Verbatim
Artinya yang menghafal juga mampu melakukan sintesis, keduanya sama-sama benar tapi yang pertama lebih cepat.
Jadi jenis pengetahuan tertentu memang membutuhkan hafalan secara verbatim. Misal ketika kompleksitas bahasa menuntut kedetilan sangat tinggi. Atau kebutuhan sintesis yang kompleks. Dalam hal ini hafalan quran dan hadits secara verbatim akan mempercepat dia melakukan qiyas atau tatbiq pada bidang-bidang baru, yang tak lain merupakan jenis pengetahuan tertinggi menurut bloom yaitu sintesis.
Bayangkan p**a betapa beda kualitas pengacara yang mampu memukau karena kecepatan dan ketepatannya menukil dengan pengacara yang bicara terlalu umum dan penuh dengan kata "seingat saya..." dan "secara umum undang-undang itu mengatur yang benar begini" dst,
Inilah beda antara kepakaran dengan common sense dalam bidang-bidang dimana bit informasi atau fakta itu penting meskipun secara ukuran dia kecil sekali tapi setiap keping puzzle tingkat keakuratannya sangat penting dalam menyusun bangunan kompleks pengetahuan.
____
Ustadz Khudori