09/09/2014
Qurban: Kisah Haru sekaligus Teguran Bagi Kita
Oleh : Ust. Aidil Heryan
Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya. Di satu hari, Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya, ia tidak akan mampu membeli hewan qurban. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, "kalau yg itu brp Pak?”.
“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah……". “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.
Saya pun mengantar hewan qurban tersebut sampai ke rumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…", terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.
Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga dengan ibu dan puteranya di rumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.
Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.
Sang nenek amat kaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.
“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu, ”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar", kata saya.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….
Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.
===========================================================
Sobat SG, dimana pun berada. Semoga Allah terus memberkahi kita sehingga kita berkesempatan menjadi mulia dengan ibadah Qurban. Teruskan kisah jika dirasa menginspirasi dan bermanfaat.
Rekening BSM: 702 6964 328 a.n. Yayasan Kesma
Rekening BRI Syariah: 101 8698 702 a.n. Yayasan Kesejahteraan Nawell Madani
Kantor Layanan:
YAKESMA, Jl. Teluk Kumai No.51 Komp. AL Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telepon: (021) 782 8017
Mobile 24H: 0822-7333-3477 (Diah)
Qurban, Kisah Haru Sekaligus Teguran | Sahabat Guru
Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya. Di satu hari, Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya, ia tidak akan mampu membeli hewan qurban. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk…