17/04/2023
*LAILATUL QADAR DAN KERAHASIANNYA.*
Lailatul qadar menurut ibnu hajar al-Haitami Tidak tertentu pada hitungan Ganjil saja di setiap sepuluh akhir di bulan Ramadhan seperti apa yang dikemukakan oleh kebanyakan ulama', Bahkan bisa terjadi di waktu² tanggal Genap, seperti tanggal 22,24,26 dan seterusnya. Menurut Ibnu Hajar al-Haitami Lailatul qadar itu setiap tahunnya bisa berubah, dengan artian bisa jatuh pada tanggal Ganjil seperti tanggal 21,23 dan seterusnya atau jatuh pada tanggal Genap.
Pendapat ini juga di ikuti oleh kebanyakan ulama' seperti Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam muzanni dan ulama² lainnya.
Bedahalnya dengan pendapat Imam syafi'i dan sebagian ulama' lainnya, bahwa lailatul qodar itu tertentu pada malam² Ganjil tidak berubah, terutama pendapatnya Ubai Bin ka'ab bahwa lailatul qadar bisa di pastikan terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan.
Itulah diantara perbedaan para Ulama' dalam menentukan Lailatul Qadar.
*Terus apa Hikmah dibalik disembunyikannya lailatul Qadar?*
Salah satu hikmah disembunyikannya lailatul Qadar, Selain berlomba² untuk Mencarinya, juga kata Imam ar-Razy dalam tafsirnya, adalah untuk memberi keringanan kepada mereka yang jatuh pada dosa dan kelalaian.
Sebagaimana yang kita tahu, setiap pengetahuan dan terangnya kebenaran, akan berbanding lurus dengan ancaman hukuman yang lebih berat apabila pengetahuan itu diabaikan.
Contoh, ketika Al-Quran Sudah menjelaskan ada empat bulan yang dimuliakan, maka ia ditutup dengan peringatan _"falaa tudzlimuu fiihanna anfusakum, jangan dzalim disitu"_. Kata Ibnu Abbas, berbuat dosa di bulan² Mulya yang empat, dosanya lebih besar daripada di bulan² yang lainnya.
Maka kalau seandainya lailatul Qadar itu dapat diketahui oleh semua orang, lalu diantara orang yang tahu itu terjerumus dalam kemaksiatan, maka dosanya lebih besar dibandingkan orang yang tidak tahu Turunnya lailatul Qadar. Nah...! Itu hikmah rahmat Allah dari terhijabnya lailatul Qadar.
Contoh kedua, Suatu ketika Rasulullah saw. masuk masjid. Lalu menjumpai seseorang yang sedang tidur. Lalu beliau menyuruh sayyidina Ali untuk membangunkan dan menyuruhnya berwudhu. Sayyidina Ali lalu bertanya, "Ya Rasulallah, bukankah sampian selalu yang paling Awal dalam urusan kebaikan, mengapa sampian menyuruh aku yang melakukan?". Rasulullah saw. menjawab, "Aku takut ketika aku membangunkan dia, dia mengabaikanku. Yang karena itu dosanya akan menjadi lebih besar karena mengabaikanku".
Hal ini Berarti, kalau yang diabaikan adalah sayyidina Ali, Orang itu tidak terkena dosa. Karena tidak masuk kriteria mengabaikan Utusan Allah.
Begitulah kelembutan nabi Muhammad saw. _Keistimewaannya dibungkus dengan rahmat dan kebijaksanaannya_.
Kisah di atas dicontohkan oleh Imam ar-Razy tentang hikmah disembunyikan lailatul Qadar,
Bahwa mengabaikan/bermaksiat di Lailatul Qadar dengan tak tahu kalau malam itu adalah lailatul qadar, maka konsekuensi dosanya itu berbeda.
Mudah-Mudahan kita khususnya yang ada di Grup ini dosa²nya diampuni, dan amal²nya diterima dan dapat menjalani ibadah puasa Ramadhan khususnya di akhir² Ramadhan ini, dengan penuh keimanan dan Terhujani Rahmat dan Ridha Allah swt. Dan dapat dipertemukan dengan Rasulullah saw. Nantinya Disurga.🤲🤲🤲