19/09/2025
Pangkalan Bun, 18 September 2025 – Universitas Antakusuma (UNTAMA) kembali menorehkan langkah penting dalam bidang penelitian konservasi. Pada hari Jumat, 18 September 2025, dua dosen muda UNTAMA, Ade Pajar Pirdianto, ST., M.Eng. dan Hanung Anindito, S.Kom., M.Cs., berkolaborasi dengan Ruth Ella Linsky, BSc, AdvDip GIS, MSc, kandidat program PhD dari Simon Fraser University, Kanada, serta beberapa mahasiswa pilihan UNTAMA dalam kegiatan riset bertajuk “Improving Orangutan Census Techniques for Conservation with Thermal Drones and Density Maps”. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Kegiatan riset ini merupakan bagian dari kerja sama akademik antara Universitas Antakusuma dan Simon Fraser University yang telah terjalin sejak tahun 2022. Selain itu, riset ini juga melibatkan dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Orangutan Foundation International (OFI), Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), dan BKSDA Kalimantan Tengah, dengan partisipasi aktif dosen serta mahasiswa UNTAMA.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Antakusuma, Prof. Dr. M. Fatchurahman, M.Psi., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik internasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi mahasiswa UNTAMA untuk berpartisipasi dalam riset lapangan berskala global.
“Mahasiswa Universitas Antakusuma memiliki kesempatan yang sama untuk berperan aktif dalam penelitian ini, sehingga dapat menambah pengalaman serta memperkaya pengetahuan di bidang konservasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Kerja Sama UNTAMA, Ilham Koentarto, SE., M.M., Akt., CA, menyampaikan bahwa kolaborasi internasional ini menjadi wujud nyata implementasi kerja sama yang telah dirintis sejak 2022.
“Kami berharap ke depan akan semakin banyak program riset bersama, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan kapasitas yang melibatkan dosen maupun mahasiswa UNTAMA,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Ruth Ella Linsky menekankan pentingnya pelestarian orangutan melalui pendekatan ilmiah yang inovatif. Menurutnya, pemanfaatan teknologi drone termal mampu menghadirkan data populasi orangutan yang lebih akurat, sekaligus memperkuat strategi konservasi berkelanjut