pendidik.generasi

pendidik.generasi Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from pendidik.generasi, Education, Jalan Samari 2. Gang Barokah. Madurejo, Pangkalan Bun.

08/04/2025

Alhamdulillah, Idulfitri telah mengisi hati kita dengan kemenangan dan kebahagiaan! Kini, saatnya menyambut lembaran baru dengan semangat baru untuk kembali ke sekolah!

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11).

Yuk, manfaatkan berkah Idulfitri untuk:
✅ Semangat menuntut ilmu dengan ikhlas.
✅ Mengisi hari dengan prestasi dan kebaikan.
✅ Menjadi generasi cerdas yang bermanfaat.

Selamat kembali ke sekolah, para pejuang ilmu! Raih pahala dengan belajar dan terus tumbuh bersama Khoiru Ummah.

08/04/2025

Kisah Abu Muslim bersama istrinya memberikan hikmah yang luar biasa bagi kita, yakni pentingnya menjaga lisan.

--
Abu Muslim Bersama Istrinya

https://muslimahnews.net/2025/04/05/35904/
--

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Saat p**ang dari masjid ke rumahnya, Abu Muslim al-Khaulani biasa mengucap takbir di depan pintu rumahnya. Kemudian istrinya juga menyambutnya dengan kalimat takbir. Suatu hari, Abu Muslim p**ang dari masjid dan bertakbir seperti biasanya di depan rumahnya. Namun, tidak ada yang menyambut takbirnya. Ketika ia berada di ruang tengah rumahnya, ia kembali bertakbir, tetapi tidak ada yang menyahut. Demikian p**a saat ia masuk rumah, biasanya istrinya yang mengambil surban dan alas kakinya, lalu menyediakan makanan untuknya.

Ia pun masuk kamar, tetapi gelap. Saat itu, ia mendapati istrinya sedang duduk termenung melihat ke tanah sambil memegang tongkat. Abu Muslim pun bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Istrinya menjawab, “Engkau mempunyai kedudukan di hadapan Muawiyah dan kita tidak memiliki pembantu. Kalau engkau meminta kepadanya, niscaya ia akan memberikan pembantu untuk kita.”

Abu Muslim menjawab, “Ya Allah, buatlah buta mata orang yang merusak keluargaku.” Sebelumnya, telah datang seorang perempuan ke rumahnya. Perempuan itu berkata kepada istrinya, “Suamimu mempunyai kedudukan di mata Muawiyah. Sebaiknya engkau katakan kepada suamimu agar ia meminta kepada Muawiyah agar diberikan pembantu yang membantu pekerjaanmu di rumah. Niscaya ia akan memberikannya dan kalian hidup lebih nyaman.”

Ketika perempuan itu sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba ia merasakan matanya gelap. Ia berkata, “Mengapa lampu rumah kalian dipadamkan?” Orang-orang berkata perempuan itu pun menyadari kesalahannya. Ia segera mendatangi Abu Muslim sambil menangis dan meminta mendoakannya agar Allah mengembalikan penglihatannya. Mendengar permintaan tersebut, Abu Muslim merasa iba. Ia pun berdoa kepada Allah agar penglihatan perempuan tersebut kembali seperti semula. Allah mengabulkan doa Abu Muslim sehingga penglihatan perempuan tersebut kembali seperti sedia kala. (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah).

--
Hikmah
--

Kisah tersebut memberikan hikmah yang luar biasa bagi kita, yakni pentingnya menjaga lisan. Lisan ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan untuk menebarkan kebaikan, seperti menyampaikan ilmu, berdakwah, menasihati dalam kebaikan, akan menjadi kebaikan bagi pendengar atau orang-orang di sekitarnya. Namun, jika digunakan untuk melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti memfitnah, bergosip, dan menyebarkan ujaran kebencian, akan mengantarkan kepada dosa besar.

Allah Swt. mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam berbicara karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan. Allah Swt. berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).

Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Beliau ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lisan juga yang membuat pikiran seseorang bisa berubah. Seperti halnya perempuan yang memengaruhi pemikiran istri Abu Muslim yang semula baik-baik saja dengan kehidupan sederhana, tiba-tiba rasa syukurnya berkurang dengan permintaan yang ia ajukan kepada suaminya. Dari satu lisan dan satu kalimat, seseorang bisa dihinggapi rasa tidak puas atas nikmat Allah Taala.

Hari ini betapa banyak konten di media sosial yang menjerumuskan kehidupan rumah tangga harmonis. Ada yang terbawa perasaan karena terlalu sering menonton nikmat orang lain. Tanpa mempertimbangkan kemampuan nafkah suami, si istri meminta berbagai hal sebagaimana standar hidup yang dijejali dalam konten tersebut. Rasa syukur berkurang, keharmonisan hilang, dan akhirnya memicu pertengkaran.

Inilah sebabnya sebagai seorang muslim kita membutuhkan iman sekaligus ilmu untuk menjaga pemikiran dan perasaan kita agar tetap berada di jalur yang benar, yaitu mengikuti standar Allah Taala dalam menjalani roda kehidupan, bukan standar manusia yang berubah-ubah. Semoga kisah tersebut memberi pelajaran berharga untuk kita semua. [MNews/CJ-YG]

19/07/2024

Para pejuang Islam berani menghadapi segala ujian yang mengadang dalam perjuangan. Demi Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak gentar menghadapi para pembenci dan musuh Islam.

--
Menghadapi Ujian dalam Perjuangan

https://muslimahnews.net/2024/07/19/30947/
--

Muslimah News, NAFAIS TSAMARAT — Al-Hakim telah mengeluarkan dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata, “Hadis ini sahih, memenuhi syarat Muslim.” Adz-Dzahabi menyetujuinya dalam kitab Al-Talkish dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw. menghampiri Amar dan keluarganya yang sedang disiksa. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, “Bergembiralah wahai keluarga Amar dan keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah surga.”

Saat ini para pejuang Islam seperti keluarga Amar dan Yasir masih ada. Mereka berani menghadapi segala ujian yang mengadang dalam perjuangan. Demi Allah dan Rasul-Nya, mereka tidak gentar menghadapi para pembenci dan musuh Islam. Meskipun berpisah dari keluarga dan ada air mata yang membasahi kedua p**i ayah dan bunda, tetapi itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berada dalam jalan dakwah. Masyaallah. [MNews/RY-YG]

08/03/2023

Perbaiki Hubungan dengan Allah


-- Abu Nu’aim rahimahullah dalam kitabnya, Al-Hilyah, menyebutkan suatu riwayat dari Abdullah bin Aun rahimahullah bahwa dahulu para ahli fikih saling berpesan dan mengirim surat di antara mereka dengan,

“Barang siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan memberi kecukupan bagi kehidupan dunianya.
Barang siapa yang memperbaiki urusan pribadinya dengan Allah, Allah akan memperbaiki apa yang tampak darinya.
Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Facebook : https://www.facebook.com/GuruMuslimahInspiratif/
Telegram : t.me/GuruMuslimahInspiratif

07/03/2023

Syakban adalah bulan berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ karena ayat-ayat selawat dan salam atas Rasulullah ﷺ, yaitu Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 56 turun pada bulan Syakban.
-

Syakban Adalah Bulan Berselawat kepada Nabi ﷺ

https://muslimahnews.net/2023/03/06/18207/
-

Penulis: Ustaz Yuana Ryan Tresna

Muslimah News, NAFSIYAH — Di antara keistimewaan bulan Syakban adalah bahwasanya pada bulan tersebut diturunkan ayat selawat dan salam atas Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, yaitu Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 56.

Imam Ibnu Shaif al-Yamani menyebutkan bahwasanya bulan Syakban adalah bulan berselawat kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam karena ayat di atas turun pada bulan Syakban.

Imam Syihabuddin al-Qusthulani menyebutkan sebuah pernyataan dari sebagian ulama bahwasanya bulan Syakban merupakan bulan berselawat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan riwayat dari Abu Dzar al-Harawi bahwasanya perintah selawat kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dengan QS Al-Ahzab: 56 adalah pada tahun kedua hijriah, dan ada yang menyebutkan bertepatan dengan malam Isra Mikraj Nabi. [MNews/Rgl]

Sumber: Sayyid Muhammad bin Alawi al-Malaki, dalam Madza fi Sya’ban.

05/03/2023

☆☆☆☆☆

Part 2

☆☆☆☆☆

04/03/2023

☆☆☆☆☆☆

Masyaa Allah, barakallahu fiikum

Ini adalah video dokumentasi kunjungan juga ke Natai Baru dalam rangka mengenal lebih dekat potensi lokal yaitu anyaman dari daun purun. Kali ini kelas 8 nih yang diminta menjadi pengisi videonya.

Berangkat bersama dengan Penyuluh dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kotawaringin Barat dan wartawan Borneo News. Siswa Kelas 8 Homeschooling Grup Insan Khoiru Ummah ikut nenikmati keseruan pembelajaran muatan lokal hari itu. Seperti penuturan Samsul Ma'arif siswa kelas 8 di https://www.borneonews.co.id/berita/293784-kph-kobar-bantu-fasilitasi-potensi-usaha-di-desa-natai-baru

Yuk simak dan nantikan video lanjutannya

☆☆☆☆☆☆

04/03/2023
02/03/2023

☆☆☆☆☆

Alhamdulillah.. pada Rabu, 1 Maret 2023 kemaren. Siswa Homeschooling Grup Insan Khoiru Ummah Setara SMP yaitu kelas 7 dan 8 melakukan kunjungan ke Natai Baru untuk mrmpelajari pemanfaatan daun purun untuk menganyam berbagai benda.

Yuk ikutan terus perjalanannya



☆☆☆☆☆

25/01/2023

Banyak orang beranggapan sekaligus berangan-angan hidupnya masih lama. Apalagi jika ia merasa usianya masih muda. Jarang yang membayangkan bahwa esok atau lusa mungkin saja ajalnya tiba.
-

Angan-Angan

https://muslimahnews.net/2023/01/24/16980/
-

Penulis: Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Angan-angan berbeda dengan harapan. Angan-angan adalah segala macam keinginan manusia yang mustahil terwujud. Sebaliknya, harapan adalah segala bentuk keinginan yang mungkin terwujud.

Ada yang berharap suatu saat jadi kaya, padahal saat ini dalam keadaan miskin. Ada yang berharap sukses dalam karier, padahal saat ini ia hanya seorang pengangguran. Ada yang berharap meraih gelar pendidikan tinggi, padahal ekonomi kedua orang tuanya morat-marit. Ada yang berharap bisa naik haji, padahal untuk makan sehari-hari saja susah setengah mati.

Meski demikian, semua harapan ini mungkin terwujud dengan cara yang tidak diduga karena banyak orang yang berhasil mewujudkannya meski awalnya tampak mustahil.

Berbeda dengan angan-angan. Misalnya, ada yang berangan-angan hidup seribu tahun. Ini jelas mustahil bagi umat Rasulullah saw.. Sebabnya, Rasulullah saw. sendiri tegas menyatakan, “Umur umatku rata-rata mencapai 60—70 tahun. Sangat sedikit dari mereka yang melampaui umur tersebut.” (HR Ibnu Majah).

Ada juga yang berangan-angan tetap awet muda meski usia makin menua. Ini juga mustahil karena penuaan organ-organ tubuh manusia akan terjadi seiring usianya yang makin menua. Bagaimanapun, orang yang berusia 100 tahun misalnya, mustahil secara fisik akan seperti orang yang berusia 17 atau 20 tahun.

Oleh karena itu, berangan-angan adalah hal yang sia-sia, kecuali angan-angan yang berasal dari rasa takut kepada Allah Swt. sehingga memacu dan memicu untuk makin taat kepada-Nya. Itulah yang antara lain ditunjukkan oleh Sayidina Abu Bakar ra..

Diriwayatkan, Sayidina Abu Bakar ra. pernah melewati seekor burung yang sedang hinggap di suatu pohon. Beliau lalu berkata, “Berbahagialah engkau, wahai burung. Engkau terbang lalu hinggap di pohon, kemudian makan buahnya dan selanjutnya engkau terbang lagi; sementara engkau tidak akan dihisab dan diazab oleh Allah Swt.. Duhai, andai saja aku seperti dirimu…” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Imaan, 2/228; Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 7/91).

Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga (HR Ahmad dan at-Tirmidzi). Namun begitu, beliau memiliki rasa takut yang luar biasa terhadap azab Allah Swt. sehingga berangan-angan menjadi seekor burung saja agar tidak ada peluang untuk dihisab dan diazab di Akhirat.

Di sisi lain, beliau termasuk orang yang pendek angan-angan sebagaimana banyak sahabat Nabi saw. yang lain. Dalam hal ini, Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Banyak sahabat Nabi saw. menunaikan salat witir pada awal malam (sebelum tidur, pen.).

Di antara mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra., Utsman bin Affan ra., Abu Hurairah ra., Abu Dzar, dan Abu ad-Darda ra.. Mereka melakukan demikian karena khawatir meninggal saat tidur (sehingga tidak sempat menunaikan salat witir, pen.). Mereka benar-benar pendek angan-angan (tidak pernah membayangkan esok-lusa masih tetap hidup, pen.).” (Ibnu Hajar, Fath al-Baari, 9/161).

Sikap para sahabat Nabi saw., khususnya Abu Bakar ash-Shiddiq ra., tentu berbeda dengan kebanyakan orang saat ini. Banyak orang beranggapan sekaligus berangan-angan hidupnya masih lama, apalagi jika ia merasa usianya masih muda. Jarang yang membayangkan bahwa esok atau lusa mungkin saja ajalnya tiba.

Oleh karena itu, saat malam tiba, sebelum beranjak tidur, sebagian orang merencanakan sejumlah hal untuk esok harinya. Tentu karena merasa yakin bahwa esok atau lusa masih tetap hidup.

Memang tidak ada yang salah dengan merencanakan banyak hal untuk kehidupan duniawi agar senantiasa hidup sesuai target dan bisa lebih baik dari waktu ke waktu. Namun demikian, jangan p**a dilupakan, saat kita merencanakan banyak hal duniawi, kematian boleh jadi datang lebih awal daripada banyak hal yang sudah kita rencanakan.

Itulah mengapa, banyak sahabat Rasulullah saw. sering membayangkan esok hari, bahkan membayangkan saat mereka tidur pada malam hari, tiba-tiba ajal datang kepada mereka. Demikian sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di atas.

Di sinilah pentingnya kita untuk sering-sering mengingat mati (dzikrul maut). Semoga kesadaran bahwa setiap saat kita “diintai” oleh kematian makin mendorong kita untuk selalu waspada.

Semoga kewaspadaan kita akan datangnya kematian secara tiba-tiba senantiasa mendorong kita untuk banyak bertobat, meninggalkan ragam maksiat, dan memperbanyak amal saleh untuk bekal di akhirat. Semua itu harus kita lakukan dengan istikamah hingga akhir hayat sehingga kita mati dalam keadaan husnul khatimah.

Jika tidak demikian, kita pasti akan menyesal saat kematian menghampiri; saat jasad kita telah dikubur; saat alam barzakh menjadi tempat penantian panjang kita; menanti datangnya hari kiamat. Saat itu pun semua orang yang mati, termasuk kita, akan berangan-angan.

Dalam hal ini Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Sungguh orang-orang yang telah diwafatkan semuanya berangan-angan bisa hidup kembali meski hanya sesaat saja agar bisa bertobat dan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan. Padahal, hal demikian adalah mustahil bagi mereka.” (Ibnu Rajab, Lathaa’if al-Ma’aarif, hlm. 727).

Bagi orang kafir, di akhirat nanti penyesalan mereka amat dalam. Oleh karena itu, angan-angan mereka di akhirat pun amat luar biasa. Di dalam Al-Quran Allah Swt. menggambarkan bagaimana penyesalan dan angan-angan mereka di akhirat.

Allah Swt. berfirman, “Itulah hari (Kiamat) yang pasti terjadi. Karena itu siapa saja yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. Sungguh Kami telah memperingatkan kalian (orang-orang kafir) dengan azab yang dekat. Pada hari itu manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Lalu orang kafir berkata (berangan-angan), “Alangkah baiknya andai dahulu aku menjadi tanah saja.” (QS An-Naba’ [78]: 39—40).

Mereka berangan-angan di dunia menjadi tanah tentu agar di akhirat mereka tidak dihisab dan diazab oleh Allah Taala.

Walhasil, marilah kita segera bertobat sebelum ajal mendekat. Mari kita bersungguh-sungguh taat kepada Allah Swt. mumpung kita masih hidup. Sebelum di akhirat nanti kita menyesal dan berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa bertobat dan taat. Padahal tentu saja angan-angan tersebut mustahil terwujud. Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh. [MNews/Nsy]

25/01/2023

Dispensasi Nikah Alasan Hamil, Konsekuensi Logis Pendidikan Sekuler Liberal

Oleh : Trisnawaty Amatullah, S.Pd, M.Pd

-- Bagaikan jamur di musim hujan, ratusan pelajar jenjang SMP dan SMA di Kabupaten Ponorogo, mengajukan dispensasi nikah ke pengadilan setempat. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Anwar Solikin mengatakan yang mengajukan dispensasi nikah mayoritas hamil diluar nikah (Rebublika, 14/1/2023).

Tidak hanya di Ponorogo, Pengadilan Agama (PA) Bandung mencatat permohonan dispensasi menikah di tahun 2022 mencapai 143 kasus, ada enam permohonan dispensasi, untuk tahun 2023 sampai per hari tanggal 17 Januari 2023, Ujar ketua PA Bandung Asep M Ali Nurdin kepada Wartawan Selasa (detik.com, 17/1/2023).

Data dari PA Kabupaten Luwu Timur di 2022 lebih dari 150 pemohon dispensasi. Rata-rata pengakuan pemohon adalah hamil diluar nikah.(sulsel.kemenag.go.id). Tentu angka yang sangat drastis, bahkan tak dipungkiri ini fenomena gunung es.

Banyaknya siswi mengajukan dispensasi nikah alasana hamil di luar nikah mendapat perhatian dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Ia menuturkan fenomena ini sebagai tanda gagalnya pendidikan.

“Fenomena ini adalah tanda gagalnya mendidik anak-anak Indonesia untuk memiliki akhlak dan budi pekerti baik. Kesalahan ini tidak bisa dipikul sendirian oleh pihak sekolah dan orang tua, melainkan kepada masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Konsekuensi Logis Pendidikan Sekuler Liberal

Krisis pendidikan hari ini terjadi karena secara mendasar asas pendidikan kita sudah bermasalah. Akibatnya, tujuan pendidikan menjadi salah arah. Saat ini, pendidikan kita diasaskan pada sekularisme sehingga agama tidak dilibatkan dalam pendidikan, kecuali aspek ritual dan moral bersifat individual.

Akibatnya, tujuan pendidikan bukan untuk menghasilkan insan cerdas bertakwa, melainkan sekadar untuk memenuhi standar kebutuhan industri dibangun para kapitalis. Visi-misi dan program pendidikan, bermuara kapitalisasi pendidikan. Semuanya soal cuan. Hal ini diperparah dengan adanya kurikulum merdeka belajar.

Plus fenomena kegagalan pendidikan ini disebabkan konsep Hak Asasi Manusia (HAM) yang meliberalisasi anak. Kapitalisme mengedepankan liberalisme, yaitu hidup serba bebas. Seseorang boleh melakukan apa pun selama tidak merugikan orang lain. Paham ini kemudian menyebabkan anak tidak lagi punya rambu-rambu benar dan salah.

Selama sesuai keinginan, semua yang dilakukan itu dianggap boleh. Dengan dalih hak asasi anak bergaul bebas sementara orang tua tidak tegas terhadap anak dengan alasan akan melanggar hak mereka. Ini adalah akibat pendidikan ala kapitalisme sekuler liberal. Kapitalisme sekular bagaikan racun ular berbisa mengalir dalam darah dan merusak tubuh manusia. Bisa melumpuhkan hingga mematikan.

Pendidikan dalam Islam

Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan puncak pencapaian penanaman dan penjagaan tsaqafah Islam. Pencapaian penguasaan sains dan teknologi terkini. Lahir dari paradigma Islam tentang pendidika. Dalam Islam (khilafah), negara berkewajiban mengatur segala aspek berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan.

Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan aqidah Islamiyah. Mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun.

Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam serta membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Negara menyediakan perpustakaan, laboratorium dan sarana ilmu pengetahuan lainnya. Termasuk gedung-gedung sekolah dan universitas.

Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh warga dengan cuma-cuma (Syeikh Taqiyuddin, Nizhomul Islam).

Dikutip dari buku Struktur Negara Khilafah, ‘Dalam masalah pendidikan, Rasulullah Saw menetapkan tebusan orang-orang kafir yang menjadi tawanan perang badar dengan mengajari sepuluh orang anak-anak kaum muslim (membaca dan menulis). Hal itu menggantikan harta tebusan yang termasuk ghanimah dan menjadi milik kaum muslim.

Dengan demikian, pendidikan merupakan salah satu kemaslahatan kaum muslim. Memberi kesempatan untuk melanjutkan penelitian dalam berbagai cabang pengetahuan seperti fiqh, ushul fiqh, hadits dan tafsir.

Dibidang ilmu murni, kedokteran, teknik, kimia, penemuan-penemuan baru (discovery and invention) sehingga lahir ditengah-tengah umat sekelompok besar mujtahidin dan para penemu. Dan hasilnya, para insan akademik benar-benar berada dalam kemuliaan yang Allah janjikan, Maha benar Allah Swt dalam firmannya

‘Niscaya Allah Swt akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberap derajat . (QS Al-Mujadalah [58]:11).

Wallahu a'lam bishowab.

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Facebook : https://www.facebook.com/GuruMuslimahInspiratif
Telegram : t.me/GuruMuslimahInspiratif

11/01/2023

Pemuda Politisi dan Saintis

-- Pemuda hari ini terbagi dalam dua arus besar. Pertama, yang tidak tahu jati dirinya, menghabiskan waktu untuk hal tidak berguna, bahkan terjerumus sebagai pelaku tindak kriminal. Kedua, yang serius mengejar mimpi dan cita-citanya, tetapi potensinya "disia-siakan" akibat kesalahan terbesar negara yang kehilangan visi politik Islamnya.

Saat ini dunia membutuhkan sistem pendidikan tinggi yang mampu memajukan peradaban dunia sekaligus memuliakan manusia. Sistem pendidikan tinggi Khilafah Islam mampu mewujudkan integrasi ilmu dan agama yang sangat dibutuhkan dunia, serta menghasilkan politisi dan saintis.

-Hj. Nida Saadah, S.E., Ak., M.E.I.-

Sumber : https://m.facebook.com/MuslimahNewsCom/posts/2368616136649521






==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Facebook : https://www.facebook.com/GuruMuslimahInspiratif/
Telegram : t.me/GuruMuslimahInspiratif

Address

Jalan Samari 2. Gang Barokah. Madurejo
Pangkalan Bun

Opening Hours

Monday 07:00 - 14:00
Tuesday 07:00 - 14:00
Wednesday 07:00 - 14:00
Thursday 07:00 - 14:00
Friday 07:00 - 14:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when pendidik.generasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category